Cast : GS!Min Yoongi. Park Jimin. Kim Taehyung. Kim Namjoon. Jung Hoseok.
Rate : M for harsh-word. Violent scene. Emm Sexual content.
Warning!
Cerita ini (lagi-lagi) remake. Kali ini Karya Terri Anne Browning. Novel Terjemahan yang sudah lama terkenal sekali ,salah satu best-selling. Disini Yoongi lebih muda 10tahun dari pada cast lainnya dan tentu saja GS yaa. Setting dan Nama cast ku rubah sesuai kebutuhan remake wkwk but alur tetap seperti apa adanya novel ini dibuat dan BIG WARNIG! Disini bener-bener dengan kehidupan liberal (minuman keras-one night stand-kalimat profokatif) ,so yang gak suka membayangkan member Bangtan jadi so-liberal ,get ur ass off babe!
Jadi ,pengen hidup bersama member Bangtan versi Rocker dan Band ? here we go~~
Bab 9
Sekarang saat aku duduk memakai sebuah baju rumah sakit, menatap pria yang kucintai setelah sebelumnya berteriak padanya bahwa ia adalah ayah dari anakku, aku tidak bisa mengatasi rasa malu yang melandaku. Aku mengambil keuntungan dari seseorang yang aku cintai, satu-satunya orang yang bisa memilikiku begitu menyeluruh.
Air mata mengalir di wajahku dan aku tak bisa menahan isakan pelan yang keluar dariku. Semua kemarahan tampaknya menguap dari Jimin. Dia jatuh dalam pelukan Hoseok, menyebabkan pria besar itu hampir menjatuhkannya.
"Apa?" Dia berbisik.
"Kau, Jimin." Isakku. "Kau adalah ayahnya."
"Tidak...aku..." Dia menggeleng. "―tidak..."
Hatiku lebih hancur lagi karena aku tahu bahwa dia tak akan pernah menjadi kekasihku jika dia tidak mabuk, jika ia tidak berpikir bahwa aku adalah orang lain. Ya Tuhan, aku orang yang hina. Tidak lebih baik dari seorang pemerkosa yang mengambil keuntungan dari seorang gadis yang mabuk. Aku menerima dia untuk berkata 'tidak'.
Dan aku tahu bahwa Jimin akan berteriak 'tidak' padaku kalau ia tahu bahwa aku adalah gadis yang berhubungan seks dengannya malam itu.
Aku menyeka wajahku, membenci air mataku. "Ya, Jimin."
"Ini adalah mimpi. Aku memimpikannya." Dia tersentak menjauh dari Hoseok, mendorong Taehyung yang menghalangi jalannya dan jatuh berlutut di sampingku. "―Benarkah?"
Menolak untuk menatap matanya aku menggeleng. "Maafkan aku, Jimin. Maaf aku mengambil keuntungan darimu. Tolong...tolong jangan membenciku." Kata yang terakhir keluar berupa bisikan serak.
Suasana di sekitar ruangan ini begitu hening bahwa kupikir mungkin yang lain telah meninggalkan kami dan aku tidak memperhatikannya. Tapi ketika Taehyung mulai terkekeh dan para saudara prianya segera bergabung aku tahu bahwa aku tidak mendapat keberuntungan. Aku memberikan tatapan paling dinginku pada mereka.
"Hal ini tidak lucu! Aku seperti memperkosanya."
Sekarang ini Jimin yang terkekeh dan aku ternganga, tidak dapat memahami bagaimana ini menjadi sesuatu yang lucu. Ketika ia melihat betapa kesalnya aku dia berhenti tertawa padaku dan menggelengkan kepalanya. "Ayolah, Yoongi. Tidak mungkin kau mengambil keuntungan dariku. Dan ini bukanlah pemerkosaan ketika itu hubungan suka sama suka, sayang."
"Kau tidak tahu itu aku. Kau berpikir bahwa aku adalah salah satu dari fans jalangmu." Air mata lebih banyak lagi mengalir di wajahku.
Matanya menyipit padaku. "Apa yang kau katakan! Aku mungkin mabuk, tapi aku tahu siapa dirimu, Yoongi. Aku telah bermimpi tentang hal itu jauh lebih lama dari yang seharusnya. Itu sebabnya ketika aku terbangun keesokan paginya aku hanya berpikir itu adalah mimpi. Sebuah mimpi basah, tentu saja, tapi masih hanya sebuah mimpi."
Para pria yang lain membuat kebisingan dan Taehyung memberi Jimin tatapan tajam. "Terlalu banyak info, bung. Terlalu banyak info. Kami tak perlu tahu apa-apa tentang itu."
Kata-katanya membuat aku syok. Jauh di lubuk hatiku, aku merasa dinding yang telah kubangun di sekeliling hatiku runtuh perlahan. Jimin tahu bahwa itu aku. Malam itu, malam indah itu yang telah menghantuiku selama berbulan-bulan saat dia bercinta denganku—bukan dengan salah satu jalang yang tak terhitung jumlahnya! Aku tidak bisa merangkai kata-kata, mulut dan pikiranku tak tahu bagaimana untuk bekerja sama saat ini. Jadi aku hanya duduk di sana di tempat tidur rumah sakit dan menatap dengan mata terbelalak pada ayah dari anakku.
"Yoongi..."
Pintu terbuka dan memotong apapun yang hendak ia katakan. Seorang perawat masuk mendorong kursi roda di depannya. Dia tidak terlihat senang. Dari kerutan permanen di sekitar bibir dan matanya kupikir wanita ini jarang tertawa dalam lima puluh tahun kehidupannya.
"Nah, karena semua teriakan telah berhenti saya pikir aman untuk masuk tanpa takut kehilangan anggota tubuhku. Apakah Anda membutuhkan bantuan untuk ganti pakaian Nona Min ?"
Aku menggelengkan kepala dan ia mengalihkan pandangan tajamnya pada para priaku. "Saya sarankan menempatkan mobil Anda di sekitar pintu masuk utama sehingga kita bisa memulangkan wanita muda ini."
Namjoon meringis. "Aku akan pergi memanggil taksi." Aku memberinya senyuman. "Terima kasih."
Perawat itu, aku menjulukinya Si Galak karena dia mengingatkanku pada kurcaci dari Kisah Putih Salju dengan rambut abu-abu dan perawakan pendeknya, mengusir yang lain keluar dari ruangan. "Dia perlu berpakaian. Saya tidak peduli apa hubungan kalian dengan, dia tidak mengganti pakaian dengan adanya kalian di sini."
Jimin memelototi wanita tua kecil itu dan aku tahu bahwa dia akan mungkin menggeram pada wanita itu jadi aku meraih tangannya dan sedikit meremasnya.
"―Tidak apa-apa. Aku akan keluar dalam beberapa menit."
Taehyung meletakkan tangannya di bahu Jimin. "Mari kita pergi, bung. Ada banyak waktu untuk bicara nanti. Dia tidak akan ke mana-mana.‖ Jimin dengan bahu tegang mengikuti Hoseok keluar pintu dengan Taehyung mengikuti tepat di belakangnya.
Di pintu Taehyung berhenti dan melirik ke arahku. "Kami akan berada di luar. Oke?"
Aku mengangguk dan menunggu sampai pintu ditutup di belakang mereka sebelum meraih pakaian yang kukenakan malam sebelumnya. Pakaianku terlipat rapi di lemari kecil yang juga sebuah nakas disamping tempat tidur kecil yang tidak nyaman. Perawat membantuku karena kakiku masih gemetar.
"Kamu perlu banyak istirahat, sayang." Kekasaran dalam suara Galaknya sudah hilang sekarang.
"Aku akan pergi untuk liburan hari ini. Aku berencana untuk tidak melakukan apapun selain berbaring di pantai di bawah sinar matahari yang hangat."
Perawat itu mengangguk. "Hanya saja jangan terlalu banyak terkena sinar matahari. Itu tidak baik untuk bayinya."
Aku terhuyung, menyadari bahwa aku tak tahu apa yang baik atau tidak untuk bayiku. Air mata segar menusuk di mataku. Aku tak ingin menyakiti bayi perempuanku dengan cara apapun, sama sekali. Setelah masa kecil yang aku alami di mana ibuku bertindak kejam padaku, aku bersumpah untuk memastikan bahwa anakku hanya tahu cinta dan kasih sayang. Aku menarik keluar foto yang teknisi berikan padaku malam sebelumnya dari saku celana jeansku di mana aku menyembunyikannya sehingga para priaku tidak akan melihatnya dan merapikan tepian foto itu.
"Ada situs web yang tak terhitung jumlahnya yang dapat kau kunjungi untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada kehamilan pada setiap tahap."
Perawat menyarankannya saat dia membantuku duduk ke kursi roda. Entah bagaimana dia berhasil menahan pintu terbuka dan mendorongku keluar tanpa kesulitan apapun.
Aku mengeluarkan ponselku dan membuka internet, sudah mengetik kata kunci di mesin pencari sehingga aku bisa melihatnya nanti.
Para pria bersandar di dinding ketika kami keluar. Taehyung mengerutkan dahi ke arahku ketika ia melihat ponselku. "Sialan, jangan! Kau akan beristirahat, bukan bekerja."
Dia merebut telepon dari tanganku sebelum aku bisa mengatakan apa-apa dan mematikannya.
"Tapi aku tidak..."
"Apa itu?" Jimin mengangguk ke gambar yang telah tergenggam di tanganku.
Aku menyodorkannya pada Jimin saat yang lain melangkah ke sisiku sementara perawat mendorongku menuju lift. "―Ini gambar USG si bayi."
Aku menggigit bibir saat ia meraih foto mengkilap itu dengan tangan sedikit gemetar. Saat ia menatap untuk pertama kalinya gambar anak kami, aku mengamatinya dengan cermat. Dia tampak pucat, mata biru esnya berkaca-kaca, tapi aku melihat senyum kecil tersungging dibibirnya saat ia menatap pada foto di tangannya yang besar. "Indah." Bisiknya.
Semua orang diam saat lift turun ke bawah. Taehyung berdiri sebelah kiriku, jari-jarinya mengelus leherku untuk menenangkan sementara Hoseok menyandarkan kepala di dinding lift dan menutup matanya.
Jimin tampak asyik dengan gambar anaknya sambil terus menatap pada foto itu. Ketika perawat mendorongku keluar Namjoon sudah mendapatkan dua taksi yang menunggu kami. Dia menahan pintu yang pertama terbuka untukku.
Seolah-olah aku orang cacat Jimin melangkah maju saat aku mulai berdiri dan mengangkatku, menempatkanku di taksi dengan lembut sebelum meluncur di sampingku. Hoseok membuka pintu dan meluncur di sisi lainku meninggalkan Namjoon dan Taehyung untuk mengambil taksi kedua.
Perjalanan menuju hotel tampak seperti memakan waktu lama sekali dan karena bagi Chanyeol tidak butuh waktu lama untuk menempatkanku ke ruang gawat darurat malam sebelumnya. aku bertanya-tanya seberapa cepat dia telah mengemudi. Aku menggelengkan kepala memikirkan hal itu.
"Apa?" Tanya Hoseok.
"Tidak ada." Aku tahu lebih baik menyembunyikannya daripada menyuarakan pikiranku. Para priaku secara berlebihan melindungiku dan akan mengejutkan Chanyeol jika mereka tahu bahwa ia telah mengemudi seperti dalam balapan Indianapolis 500 sementara aku berada dalam kendaraan yang sama. Dan mungkin mereka tidak perduli bahwa aku dalam keadaan setengah sadar pada saat itu.
Tapi memikirkan keterampilan para rocker itu mengemudi membuatku bertanya-tanya apa yang telah terjadi padanya. Aku tidak melihat dia bahkan sebelum para pria tiba malam sebelumnya. "Dimana Chanyeol?"
Jimin mengangkat bahu. "Tidak tahu. Jangan pedulikan."
Hoseok mendesah. "Dia mendapat telepon dari Baekhyun dan mengatakan ia sedang menuju kembali ke Busan. Dia berpesan padamu bahwa dia berharap kau segera merasa lebih baik dan menghubunginya ketika kau sudah mampu."
Oh.‖Aku bertanya-tanya apakah Baekhyun menghubungi karena ada sesuatu yang salah dengan Kyungsoo. Aku ingin mengirimi pesan padanya untuk bertanya tapi tidak bisa karena Taehyung masih menyimpan ponselku. Raut wajahnya mengatakan padaku bahwa meminta Jimin agar aku bisa menggunakan ponselnya hanya akan membawaku dalam masalah, jadi aku mengepalkan tanganku dan mendesah.
TBC
