o0o
Rosaline Jeanine Weasley, Musim Gugur.
Bunyi peluit menderu memasuki kedua cuping telingaku, seiring kepulan asap kereta api merah yang mulai membumbung ke angkasa, penanda keberangkatan Hogwarts Express, sarana transportasi yang akan membawaku kabur ke dunia terasing sana. Dunia yang hanya dianggap dongeng, yang tak pernah diakui keberadaannya, bagi mereka yang bukan pewaris rahasia. Ya, dunia ini benar-benar tak lebih dari sekedar rahasia. Semua makhluk-makhluk gaibnya, semua kilat cahaya dari tongkat kayu lapuknya, semua sihir—
Sihir.
Bisa dibilang aku adalah salah satu dari sekian banyak penyihir yang hidup di muka bumi ini. Aku adalah salah satu dari mereka yang ditakdirkan untuk bergelut dengan mantra serta hal magis, tidak seperti kaum manusia normal di bagian dimensi yang lain. Aku memang berbeda, dan aku tahu itu.
Hari ini tanggal satu September. Tahun keempatku di kastil Hogwarts akan segera dimulai. Kastil di mana aku menempuh jalur pendidikan yang sangat istimewa. Pendidikan untuk menjadi seorang penyihir sungguhan, bukan sekedar remaja konyol dengan tongkat sihir di tangan.
Mum mengecup lembut puncak kepalaku, menepuk pelan kedua bahuku, kemudian mulai bicara.
"Sudah saatnya."
o0o
Time Capsule
GinevraPutri
.
Harry Potter © J.K. Rowling
o0o
DUA
Home, for me and for you
"Jaga dirimu, Mum." Aku mengangguk dan memeluknya erat-erat.
"Aku yang harusnya bilang begitu, sayang." Mum tertawa. "Jaga dirimu, Rossie. Jadilah yang terbaik untukku."
"Dan untukku, Rose, aku tidak menuntut apapun. Hanya pastikan kau mengalahkan murid-murid Slytherin dalam setiap pelajaran, oke?" celetuk Dad, tiba-tiba saja muncul dengan menggandeng Hugo.
Mum memukul lengan Dad pelan. "Ron! Kau mungkin punya masalah dengan mereka, tapi tidak berarti kau harus menurunkan dendammu pada putri kita, kan?"
Dad mencibir kesal. "Oke, oke! Tapi, Rose—"
"Jangan dengarkan ayahmu, dear," sela Mum sengit. "Ayo, ayo, Rose, ajak Hugo masuk ke kereta."
"Hei, aku belum memeluknya!" protes Dad. "Kemari, kau, gadis kecil Weasley!"
"Daaad," aku mengerucutkan bibir. "Berhenti memanggilku begitu atau aku tidak akan pulang natal nanti."
Dad tertawa sebelum memelukku erat-erat. "Jaga dirimu."
Mum ikut tersenyum dan ganti memberikan wejangan pada Hugo. "Setelah upacara seleksi selesai, ikuti saja kakakmu, oke? Jangan mengacau, jangan berbuat onar, tidak boleh berduel—"
"Kau memberinya ide, Mum." tawaku kecil.
Hugo nyengir. "Kapan aku diperbolehkan berduel, Mum?"
Mum menggeleng tegas. "Kau hanya boleh berduel jika sudah paham aturannya, Huggie."
"Jaga dia, Rose. Kau tahu adikmu bisa berbuat macam-macam, sekalipun di tahun pertamanya," ucap Dad geli.
"Hugo, kau harus menuruti semua yang kakakmu katakan. Oke?"
"Oh tidak, Mum—"
"Asyik!"
"Rose, jangan semena-mena—"
"Dia akan membunuhku, Mum! Ya amp—"
"Hei, hentikan!"
"Aku tidak akan membunuh—"
"Arrgh, ini mengerikan!"
"Hermione, itu mereka," ucap Dad tiba-tiba, menghentikan perdebatan konyol ketiga Weasley lainnya.
Kami langsung berpaling ke arah yang ditunjuk Dad. Lima figur tampak melangkah menghampiri kami. Oh ya, keluarga Uncle Harry.
Butuh beberapa lama untuk saling menyapa dan memeluk satu sama lain.
Aku langsung menjajari Albus, sepupu seangkatanku. "Hei, Al."
Al tersenyum sumringah. "Oh, kau, Rose. Bagaimana musim panasmu?"
"Seperti biasa." Aku mengangkat bahu. "Sudah siap?"
Al mengerucutkan bibir. "Ya ampun, aku tak percaya kita sudah ada di kelas empat. Waktu benar-benar berjalan dengan cepat."
"Sangat cepat," Aku menyetujui. "Kau sudah menyelesaikan tugas Proffes—"
"Merlin, Rossie!" sela Al keberatan. "Tahun ajaran belum dimulai, jadi berhentilah membahas tugas-tugas laknat itu!"
Aku memutar mata. "Yeah, terserahlah."
"Oh ya, Hugo akan bergabung bersama kita, ya?"
"Kau benar," Aku mendesah frustasi. "Aku mencemaskannya."
Al mengangguk setuju. "Hugo sangat mirip dengan James, kau tahu."
"James—" Aku mencebik. "Mereka berdua bisa membuat komplotan kriminal Hogwarts, Al!"
Al tertawa nyaring. "Sudahlah, Rose. Jangan terlalu memikirkannya. Banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan. Seperti Pesta Dansa Natal tahun ini, misalnya."
"Astaga, Albus— aku baru ingat! Kita sudah diperbolehkan menghadiri pesta itu, ya?"
"Tentu saja, mengingat kita sudah berhasil naik ke kelas empat, Tuan Filch benar-benar tak punya alasan lagi untuk menahan kita di tempat tidur!" Al nyengir.
"Ckckck—" Aku menggeleng-geleng. "Sepupuku ini rupanya sudah mulai memikirkan gadis-gadis, ya?"
Al terbahak. "Ya ampun, lihat dirimu! Bahkan kau punya barisan mantan kekasih yang—"
"Hei, hei, kecilkan suaramu, Al! Dad akan langsung membunuhku di tempat jika mendengar perkataanmu tadi!" gerutuku pelan.
Al malah makin tenggelam dalam tawanya. "Oke, oke, sepupuku tersayang. Kira-kira, kau akan menggandeng berapa cowok saat pesta nanti?"
Aku memasang death glare. "Tentu saja," penuh penekanan, "satu."
Al mengacungkan ibu jarinya dengan tatapan jenaka. "Oke, Rose!"
"Hei, sepupuku tercinta!" Bahuku mendadak terasa berat dengan lengan James mengalunginya. "Rindu padaku?"
Aku mendengus bosan. "Minggir, James, aku mau naik kereta saja."
Peluit terakhir kereta mendadak berbunyi nyaring sekali lagi. Murid-murid Hogwarts dengan segala pernak-pernik bawaan mereka mulai bergerumbul memasuki kereta. Begitu pula denganku yang menggandeng Hugo, diikuti James, Al, dan Lily.
Kami berlima menduduki salah satu kompartemen yang masih kosong dan mulai mengenakan jubah hitam seragam Hogwarts. Lambaian tangan Mum dan Dad terlihat dari balik jendela transparan di sisi kompartemen. Aku membalasnya, tersenyum cerah, walau sebagian hatiku merasa haru, harus meninggalkan mereka di rumah kami yang sepi. Apalagi sudah tidak ada Hugo yang biasanya mencipta tawa itu.
Selanjutnya, Hogwarts Express mulai menderu dan bergerak. Perlahan, meluncur melalui jalur, menembus kabut dunia sihir yang sudah menanti kami. Uap putihnya menebal dan menghalangi pandanganku, ketika Mum dan Dad benar-benar lenyap dari jangkauan mata kami.
Aku menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
Saatnya kisah baru dimulai.
o0o
Scorpius Lucius Malfoy, Musim Gugur.
Aku merasakannya. Tatapan penuh hasrat gadis-gadis yang memandangiku sepanjang lorong. Senyum dinginku perlahan mengembang, menikmati pemujaan mereka. Langkahku mengarah ke asrama Slytherin, tempat bawah danau yang mengesankan itu. Sudah tiga tahun aku menghuninya, dan selama tiga tahun itu pula aku menjalani hidupku di kastil Hogwarts, sekolah sihir berdebu ini.
Hidupku, yang luar biasa menggugah selera, cukup untuk meneteskan air liur remaja mana pun. Segalanya begitu sempurna. Well, aku adalah Scorpius Lucius Malfoy yang terpandang, putra tunggal pewaris tahta klan Malfoy. Aku disegani, dipuja, dihormati. Aku menikmati setiap detik waktuku di sini. Waktu yang kuhabiskan untuk memerintah murid-murid kelas satu yang masih lugu dan penurut, waktu yang kuhabiskan untuk menghangatkan ranjang bersama gadis-gadis bodoh itu, bahkan waktu yang kuhabiskan untuk menjahili si Weasley-Sok-Tahu-Segala. Oh ya, bicara soal gadis keras kepala itu, aku jadi tak sabar untuk memulai sesi mengacaukan hidupnya lagi. Gagasan menganggunya selalu terdengar menyenangkan. Bahkan ketika aku tengah dilanda emosi, dia benar-benar menjadi target pelampiasan yang memuaskan. Aku bersiul senang. Gadis Weasley itu memang cantik dan menarik hati, namun sayangnya, ia hanya seorang Gryffindor munafik. Ingin rasanya aku membuatnya memerah menanggung malu habis-habisan lagi, seperti musim semi lalu, ketika aku mencium pipinya dengan panas. Ah, sungguh momen yang menakjubkan.
Aku tertawa dalam hati. Memikirkan apa yang akan kulakukan jika aku bertemu dengan sosok cantiknya itu. Kemarin aku sudah mencium pipinya, mungkin sekarang, aku akan sekalian membawanya ke tempat tidur.
Oh, sial. Hormonku kali ini mulai bekerja. Membayangkan yang tidak-tidak mengenai Weasley membuatku tegang. Karena, serius, aku sendiri bahkan tak bisa memungkiri bahwa gadis itu memang— hot.
Aku mempercepat langkahku, sembari mengusir jauh-jauh pikiran kotor itu. Aku baru saja akan menuruni tangga lantai dua, ketika iris abu-abuku mendadak menangkap rambut cokelat kemerahan yang sedaritadi kubayang-bayangkan. Aku menyeringai tak sabar dan buru-buru menghampirinya.
Gadis itu membelakangiku. Tangannya masih mencengkram pegangan koper marun yang nampaknya sudah dimakan usia. Lehernya celingukan mencari sesuatu— atau seseorang. Aku bersiul pelan di cuping telinga kirinya sebagai ucapan selamat datang.
Tepat sebelum dia berbalik karena dilanda keterkejutan, aku melingkarkan lenganku di pinggang rampingnya, mendekap tubuhnya dari belakang punggung, dan menghirup—
"Oh, shit, Weasley. Aromamu benar-benar memabukkan."
o0o
To Be Continue
o0o
[about Time Capsule] Kalau boleh jujur, alasan utama saya merombak ulang fik ini bukan karena writer's block, tapi cenderung karena gaya penulisan saya yang mengalami revolusi or something :3 Apa perubahannya kentara? Saya harap sih enggak, soalnya kalau iya, ceritanya bakal kurang mengalir mengingat saya ngepos fik ini pas masih debut, dan baru ngerombak ulangnya sekarang. Lagipula, saat saya bilang rombak ulang, nggak sepenuhnya begitu kok. Mungkin lebih cocok disebut editing, karena saya masih nganu(?) ke plot awal. Terima kasih bagi yang sudah membaca sejauh ini!
[about me] –
Jangan segan-segan menitip review! :)
-GP
