o0o

Rosaline Jeanine Weasley, Musim Gugur.

Oke, jadi dimana James ketika adik sepupu yang kelewat manisnya ini terancam mati kehabisan napas?

"Lepaskan. aku. Malfoy."

Kedua lengan itu justru mengerat. "Apa harus kita lakukan di sini? Atau di kamar saja supaya lebih bebas?"

Merlin. Aku benar-benar semerah kepiting rebus sekarang.

"Aku tidak akan mengulangnya lagi," berusaha tenang— sekaligus terdengar kuat. Tidak boleh ada gentar yang lepas ke dalam nada bicara, jadi aku harus mengontrol diri. "Lepaskan aku, sialan."

Scorpius Malfoy menyentak lepas kedua lengan yang tadinya melingkar di pinggangku. Aku berbalik secepat guntur, memberinya pandangan mengecam.

"Well," ia hanya mengangkat bahu. "Tidakkah menurutmu ini masih terlalu awal untuk mengumpat padaku?"

Hening.

"—karena, kupastikan, Rose sayang," aku bergidik mendengarnya, "kau akan punya banyak waktu untuk mengumpat padaku."

Scorpius Malfoy menyeringai. "Aku akan selalu di dekatmu, mulai sekarang."

Meraup udara sebanyak mungkin ke paru-paru, aku berdeham. "Kau sedang bercanda."

"Tentu saja aku sedang bercanda." Scorpius terkekeh dan merangkul bahuku. "Tapi, siapa tahu—" bibir itu meniup angin kecil yang menggelitik daun telingaku, ketika pita suaranya mulai bergetar, "—aku benar-benar akan berada di dekatmu."

o0o

Time Capsule

GinevraPutri

.

Harry Potter © J.K. Rowling

.

[I own some characters here.]

o0o

TIGA

What A Surprise

"Oh, tidak. Diamlah sebentar."

Memasuki Aula Besar, mataku sudah lebih dulu berputar enggan ketika akhirnya tubuhku mendarat di bangku Gryffindor. James sudah bertengger duluan di seberang meja, siap mengomel bak nenek sihir perihal keterlambatan adik sepupunya— maksudnya, aku.

"Kemana saja kau?" ocehnya sinis. "Beruntung aku belum menghabiskan kalkun panggangnya dan menyisakan tulang belulang untuk makan malammu."

Aku menghela napas. "Tak apa, James. Toh aku juga tidak begitu lapar. Cowok itu sudah menghilangkan nafsu makanku."

"Cowok yang mana?"

"Apa maksudmu dengan 'cowok yang mana'?"

James nyengir. "Pacarmu ada di mana-mana, Rose. Membuatku bingung saja."

—Merlin.

Satu pelototan tajam. "Aku tidak punya pacar, James sayang."

"Oh, sudahlah, jangan ganggu dia." Al yang baru saja menyelesaikan makan malamnya ikut nyengir. "Nanti kau dihajar salah satu dari sekian banyak pacarnya, James."

"Oh, ya ampun. Aku ketakutan."

Mereka terbahak.

Ah. Dasar Potter.

"Omong-omong, aku tidak melihat si pirang itu, Rose." James mengangkat wajah, menengok ke ujung Aula Besar. "Kemana dia?"

"Baru saja pergi setelah mengucapkan selamat datang," balasku sinis.

James tersedak. "Dia mengganggumu lagi?"

"Memangnya kau pikir siapa cowok yang menghilangkan nafsu makanku?"

"Kau baru saja sampai beberapa jam lalu di Hogwarts! Dia—"

"Serahkan padanya untuk merecokiku bahkan ketika aku baru menginjakkan jempol kaki di pintu gerbang kastil."

Al menggeleng-geleng penat. "Sudahlah. Omong-omong— nah, itu dia. Hai, Lils. Kemana saja kau?"

Lily Potter mengedikkan kepalanya ke arah atas— asrama Gryffindor, isyaratnya. "Hugo mencarimu, Rose. Dia tampak gugup di luar sana. Mereka sudah mau memasuki Aula Besar."

"Oh, Merlin, jangan biarkan makhluk kecil itu masuk asrama lain—" Aku menutup wajah dengan kedua telapak tanganku. "—atau aku bisa gila karena harus mengawasinya sepanjang waktu."

"Kau tidak harus seprotektif itu terhadap Hugo, kau tahu," celetuk Al. "Tahun pertamaku di sini, James sama sekali tidak peduli aku masuk asrama mana. Malahan dia memanas-manasiku satu musim panas penuh, katanya kemungkinan besar aku bakalan masuk Slytherin, mengingat nama tengahku adalah Sever—"

James berdecak. "Diamlah, Al. Sebentar lagi murid-murid baru akan masuk— bersama Proffesor Mcgonagall, dan kau akan membuat Gryffindor kehilangan 10 poin bahkan sebelum tahun ajaran dimulai berkat mulut pendiammu itu."

Al memutar mata sebagai balasannya.

Aku menggigit bibir, mengetuk-ngetukkan jemari kaki yang berbungkus sepatu itu ke lantai kastil di bawah meja. Oh, Merlin, tolong aku sekali ini saja.

o0o

Scorpius Lucius Malfoy, Musim Gugur.

"Weasley, Hugo!"

Matthews Urquhart menyenggol lenganku pelan. "Another Weasley," bisiknya.

Aku mendengus. Ini dia adik si Weasley-Sok-Tahu-Segala. Aku menyaksikan cowok mungil berambut merah itu melangkah dalam diam ke arah kursi di dekat podium. Mcgonagall tua sudah siap sedia dengan topi kumal bodoh itu di tangannya. Ketika si topi akhirnya diletakkan di kepala Hugo-Hugo siapalah ini, aku menanti teriakan 'Gryffindor!' yang memuakkan disuarakan.

Namun bukan itu yang terjadi.

"SLYTHERIN!"

Hold—

on.

Rose Weasley sudah bangkit lebih dulu dari kursinya. Seisi Aula Besar menoleh heran dalam kasak-kusuk, yang akhirnya merambat— sebuah gosip besar.

Seorang Weasley.. di Slytherin?

Ini kiamat.

o0o

"Kau lihat wajah si Weasley tadi, Scorp?" Matthews terbahak. "Aku yakin dia pasti akan menangisi adik malangnya itu tujuh hari tujuh malam!"

Guyonan Matt disambut meriah oleh gerombolan pemuda Slytherin kelas empat lainnya. Aku memasang seringai tipis di sudut bibir. Ini terlalu luar biasa. Pertama kalinya dalam sejarah asrama Slytherin kedatangan seorang Weasley. Maksudnya, ya ampun, ini Weasley. Kendati bukan mustahil juga, mengingat keluarga jubah bekas itu keseluruhannya darah murni. Atau Gryffindor sudah terlalu penuh dengan mereka? Entahlah.

"Omong-omong, kau tidak berniat melakukan sesuatu dengan si Weasley junior ini?" Edward Hopkirk ikut bergabung.

Aku mengangkat alis. "Kenapa?"

Ia mengangkat bahunya, ringan. "Kau tahu siapa yang akan mati-matian melindunginya, Scorp."

Oh, ya. Jelas aku tahu.

"Oke, sepertinya Rose Weasley tidak akan senang kalau kalian menyentuh adiknya—" Veronica Nott mengedikkan kepala ke arah tangga masuk asrama, pada gerombolan kelas satu yang dipandu Prefek. "—yang benar-benar imut itu."

Aku mengikuti arah pandang Nic dan menemukan yang ia maksud.

Oh, lihat bocah yang baru saja masuk neraka itu.

o0o

Rosaline Jeanine Weasley, Musim Gugur.

"Jangan panik dulu. Kita pasti bisa temukan jalan keluar—"

"Jalan keluar apanya!" Aku menyela, frustasi. "Itu pilihan seumur hidup, kau tahu, dan Hugo masuk Slytherin! Apa yang akan Mum dan Dad katakan?"

"Hei, itu kan bukan salahmu, Rose." Al menginterupsi. "Lagipula Hugo akan baik-baik saja, di mana pun ia. Karena dia adik Rose Weasley, kan?"

James menyentuh bahuku. "Tenang, Rose, ini tidak seburuk kelihatannya, kok."

Aku menghela napas. Ini gila. Bagaimana mungkin seorang Weasley masuk Slytherin, kenapa, jika hal itu harus terjadi, kenapa terjadi pada Hugo? Sekarang jelaskan bagaimana bisa aku menjaganya.

Hugo, di bawah tanah sana, dikelilingi ular berbisa setingkat Malfoy.

Belum lagi apa yang bakal cowok itu lakukan pada adikku..

Oh, sial.

o0o

To Be Continue

o0o

[about Time Capsule] Satu hal yang pasti, sejauh ini saya rasa jumlah kata per bagian akan tetap sekitar 1k. Nggak tahu lagi jika suatu saat inspirasi meledak atau justru lenyap.-.

[about me] Um, hai. Halo. Maaf cuma ini yang bisa saya hasilkan dari tahun-tahun silam seriously saya stuck, i am soooo sorry. Doakan ide mengalir lagi, ya? Terima kasih untuk yang mau menunggu sampai hari ini!

Jangan segan-segan menitip review! :)

-GP