Warning: BL!, Super OOC!, Typo(s),
a/n: ada sedikit author note disana, jadi tolong dibaca sampai habis :''D /ditabok

-Chapter 2: Tell me!-

"ugh..." Shinichi perlahan membuka kelopak matanya, menoleh kanan-kiri melihat sekeliling dan teringat oleh kejadian yang kemarin. Teringat apa yang dilakukan KI—Kaito kepadanya, dan membuat Shinichi langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.

Ia berusaha bangkit dari kasur itu, tapi ia tak bisa. Badannnya sakit semua. Meskipun tidak di borgol, bagaimana caranya ia bisa keluar dari ruangan itu apabila badannya sakit semua? Shinichi hanya bisa menghela nafas panjang.

Tak lama kemudian, seseorang memasuki ruangan itu dan membuat mata Shinichi fokus kepadanya.

"saya Jii, pelayan Kaito-bocchama." Pria paru baya itu membungkukkan badannya.

"kemana perginya Kaito?" Shinichi bertanya kepada pria paru baya itu.

"Kaito-bocchama, sedang pergi dengan temannya." Jawab Jii.

"kapan Kaito pergi?" lagi-lagi Shinichi bertanya.

"saya akan menjawab pertanyaan Anda yang terakhir."

"apa maksudmu tera—?!" pertanyaan Shinichi dipotong oleh sebuah pistol yang kini menodong ke arahnya.

"saya sudah bilang, bahwa yang tadi itu pertanyaan terakhir." Seperti di slowmotion tangan Jii secara perlahan menarik pelatuknya.

'Kaito, kumohon cepatlah kembali, kumohon.'

Suara pintu terbuka membuat kedua pasang bola mata itu langsung melihatnya. Kini Kaito sedang menyenderkan bahunya disisi pintu.

"Jii-chan, tolong hentikan. Letakkan pistol itu." Kaito menatap Jii dengan tatapan serius.

"Tapi bocchama, gara-gara Kudo Shinchi Anda ha—" "JII-CHAN!" perkataan Jii yang dipotong oleh teriakan Kaito membuat Jii mau tak mau harus menghentikan perkataannya.

"Jii-chan Kumohon, sekarang pergilah. Tinggalkan aku dengan Shinichi." Ekspresi Kaito yang tadi terlihat marah, sekarang berubah menjadi ekspresi sebuah kesedihan.

"baiklah bocchama. Maaf sudah membuat keributan."

Kini, di kamar itu, hanya terdapat Kaito dan Shinichi. Kaito berjalan mendekati Shinichi.

"Syukurlah kau datang tepat waktu, aku kira aku bakal mati tadi." Tapi Kaito menghiraukan perkataan Shinichi dan tetap terus berjalan mendekati Shinichi.

"Ka-Kaito, kau kenapa?" ucapan itu keluar dari bibir Shinichi saat Kaito secara tiba-tiba merobohkan Shinichi ke kasur lalu memeluknya.

"Hei! Kaito! Kau kenapa?" Shinichi masih terus menyakan hal itu, tapi Kaito tetap diam.

Sudah sekitar sepuluh menit Kaito terdiam sambil memeluk Shinichi. Dan juga sudah sepuluh menit Shinichi terdiam di posisi itu. Ia tak tau harus bagaimana, jadi ia membiarkan Kaito memeluknya hingga Kaito angkat bicara.

"Shinichi, cium aku." Pertama kalinya Kaito angkat bicara, ia berkata seperti itu. Secara spontan Shinichi langsung mendorongnya yang membuat Kaito mau tak mau melepaskan pelukannya.

Kini mereka saling menatap, Shinichi terkejut melihat ekspresi sedih yang dipasang Kaito. Sadar bahwa Shinichi menatap Kaito dengan intens, Kaito langsung mencium Shinichi. Shinichi berusaha tuk mendorong-dorong Kaito tapi dengan keadaan tubuhnya yang masih terasa sakit, usahanya sia-sia.

"Ka—" Kaito melumat bibir Shinichi sekarang. Ya, ini kesalahan shinchi karena berusaha tuk berbicara. Dan dengan mudahnya, Kaito memasukkan lidahnya.

Shinichi yang tak bisa apa-apa hanya mengikuti alur permainan Kaito, tapi semakin lama-kelamaan permainan ini membuat Shinichi sedikit... muak. Sudah tiba-tiba memeluk, lalu mencium.. kini tangannya jalan-jalan menelusuri tubuh Shinichi. Shinichi tak dapat melontarkan protes apapun, karena sampai saat ini bibirnya masih dikunci dengan bibir Kaito.

Tangan itu masih berjalan, mulai menuju ke arah belakang tubuh Shinichi, meremas dua buah dibelakang itu, dan dengan cepat memasukkan 2 jarinya. Shinichi terkejut, dan spontan menampar Kaito. Dan tanparan itu menyadarkannya dan langsung menarik dua jarinya.

Yang dilihat pertama kali oleh Kaito setelah tersadar adalah wajah shock dari Shinichi.

"Shi-Shinichi..." Kaito hanya menatap Shinichi dengan tatapan bersalah, ia takut bahwa shinchi marah kepadanya.

Tapi pemikiran Kaito berubah seratus delapan puluh derajat. Yang ia kira Shinichi akan marah kepadanya, tapi ia malah mendapat pelukan dari Shinichi. "Shi-Shinichi..."

"kau kenapa, Kaito? Oh, atau kah ini sisi lemah dari seorang pencuri tingkat internasional?" terdengar seperti mengejek, tapi Kaito tersenyum dibalik pelukan itu.

"sekarang aku tidak apa-apa! Terima kasih Shinichi!" Kaito melepaskan pelukan itu, seakan-akan hal tadi tidak pernah terjadi.

"aku akan mengambilkan mu makan, tetaplah disini, Shi—" ujar Kaito yang akan berajak dari kasur itu.

"aku ikut." Ucap shincihi memotong pembicaraan Kaito sambil menarik tangan Kaito.

"tetaplah disini, kumohon. Aku tak ingin bertindak kasar lagi, Shinichi." Kaito memasang wajah memelasnya. Sungguh ia tak ingin menyakiti Shinichi lagi.

"kalau aku pergi dan selama kau ada disamping ku, aku takkan bisa kabur bukan? Jadi biarkan aku pergi mengelilingi rumah seorang pencuri internasional." Ucap Shinichi yang kini masih memegang tangan Kaito.

"okay." Kaito hanya bisa berkata itu, dan mengajak Shinichi menuju dapur.

Apa yang kulakukan? Seharusnya seorang detektif yang disekap berusaha kabur! Tapi mengapa aku malah berkata 'takkan bisa kabur?' bodoh. Dan demi apa aku berkata selama dia berada disampingku? Sebenarnya ada apa denganku?, Shinichi merutuki perbuatannya sambil melirik tangannya yang kini digandeng oleh Kaito yang berada persis disebelahnya.

Sibuk merutuki dirinya sendiri, Shinichi tak sadar bahwa sekarang ia sudah berada didapur.

"mau makan apa?" tanya Kaito kepada Shinichi.

"terserah." Jawabnya dengan nada ketus. Tentu saja, Shinichi masih kesal terhadpa dirinya kan?

"minumnya?"

"kopi hitam."

"duduklah disofa, nanti akan kubawakan kesana. Kalau kau bosan, nyalakan saja tv nya." Ucap Kaito, Shinichi hanya mengangguk dan melakukan apa yang dikatakan Kaito.

Tak lama, Kaito datang membawakan sebuah makanan dan kopi hitam yang diminta Shinichi.

"ini." Ucapnya sambil memberikan itu kepada Shinichi. Lalu duduk disebalah Shinichi.

"sankyuu." Ucapan terima kasih Shinichi hanya dibalas dengan senyuman oleh Kaito.

"ngomong-ngomong, kemana perginya umn... Jii-san?" tanya Shinichi.

"ah.. mengingat aku tadi mengusirnya sedikit kasar... kurasa dia akan merenungi perbuatannya agak lama... mungkin."

"mungkin..." ucap Shinichi sambil memasang wajah malasnya.

"hehe"

Setelah percakapan itu, mereka, Shinichi dan Kaito hanya makan dan minum sambil menonton tv. Tak ada percakapan apapun yang terlontar dari mulut mereka. Hingga Kaito menyelesaikan makannya.

"Shinichi..." shinchi yang merasa terpanggil menoleh kearah Kaito.

"mau membuat perjanjian?" perkataan Kaito hanya dibalas dengan kepala Shinichi yang sedikit miring.

"sekarang sudah hari ke-2 kau disini kan? Maukah kau disini selama 5 hari lagi?" Shinichi yang hendak menjawab tidak mau, melihat tangannya yang kini dipegang Kaito jadi mau tidak mau menjawab mau.

"tapi dengan satu syarat. Kau harus menjelaskan semua alasan dibalik perbuatanmu ini. Dan kau harus meminta maaf kepadaku!" ucap Shinichi.

"minta maaf?"

"iyalah! Kau telah melakukan i-itu padaku bukan?" ucap Shinichi dengan wajah yang sedikit memerah.

"ohhh, kau ingin meminta lagi, Shinichi? Apakah bermain dengan benda itu masih kurang bagimu? Atau kau ingin aku yang melakukannya?" ucap Kaito disebelah telinga Shinichi dengan nada seduktif. Yang berhasil membuat Shinichi mendorong tubuh Kaito dengan menundukkan kepalanya agar Kaito tak dapat melihat wajahnya yang memerah. Kaito hanya dapat tersenyum melihat reaksi Shinichi.

Kaito dan Shinichi kini hanya asyik memandangi televisi yang masih terus menyala itu. Canggung. Seperti itu keadaan mereka sekarang. Dan Shinichi benci keadaan ini.

"umn.. Kaito..." panggilan Shinichi berhasil membuat Kaito menoleh kearahnya.

"jadi, maukah kau menceritakan semuanya padaku?" Kaito hanya tersenyum dan mulai membuka mulutnya. "tapi sebelumnya aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Tolong jangan tanya kenapa. Karena aku pasti akan menceritakannya." Shinichi hanya menganggukkan kepalanya.

"apakah kau percaya dengan seorang penyihir Shinichi?" Shinichi yang mendengar perkataan Kaito langsung memasang ekspresi wajah yang menunjukkan tentu-saja-aku-tak-percaya.

"sudah kuduga kau tak percaya. Bagaimana kalau penyihir itu beneran ada?" ekspresi itu pupus dari raut wajah Shinichi.

"penyihir itu hanya ada di kisah dogeng, Kaito." Ucap Shinichi dengan nada sedikit malas.

"kalau begitu, apakah kau mengerti kisah putri tidur?" tanya Kaito.

"tentu saja, Penyihir yang jahat berusaha membunuh sang putri dengan memberikannya apel lalu ada seorang yang berusaha menyelematkan putri itu. Kurang lebih seperti itu. Aku tak tau detail ceritanya." Kaito menganggukkan kepalanya.

"Ngomong-ngomong sekarang tanggal berapa? Bulan apa?" tanya Kaito. "tanggal 8 Februari. Kenapa emangnya?" jawab Shinichi singkat.

"sekarang bagaimana kalau kisah itu kita gabungkan dengan tanggal dan bulan? Apakah kau mau mendengarkan kisahku ini?" Shinichi hanya menganggukkan kepalanya.

"jadi, aku memiliki teman seorang penyihir. Dia mengutukku, Cuma gara-gara aku menolak cintanya. Dan mungkin karena cemburu, akhirnya dia juga mengutuk orang kusukai. Dia akan membunuhku dan orang yang kusukai pada tanggal 14 februari. Lalu—" "lalu kau berusaha menolong orang yang kau sukai itu." Potong Shinichi. "ngomong-ngomong, bagaimana kau akan menyelamatakan orang yang kau sukai itu?" lanjutnya.

"setidaknya aku harus menjaga orang itu sampai tanggal 14, aku takkan memperbolehkan orang itu keluar dari rumahnya, soalnya penyihir ini sama skali tidak bisa menepati janji. Aku takut ia akan membunuh orang yang kusayangi itu sebelum tanggal 14." Kaito mengatakan hal itu sambil mengenggam tangannya erat. Shinichi yang melihat tangan Kaito seperti itu meresa yakin bahwa Kaito KID benar-benar tak ingin kehilangan orang yang ia sayangi.

"apakah tidak ada cara lain?" tanya Shinichi.

"ada 2 cara. Pertama, kami harus saling mencintai." Jawab Kaito sambil menundukkan kepalanya.

"kami? Kau dengan penyihir itu?" tanya Shinichi lagi.

"Bukan! aku dengan orang yang kusukai lah! Ya meskipun sedikit mustahil untuk membuat orang yang kusukai jatuh cinta kepadaku." Kaito lalu menghela nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya.

"lalu cara yang kedua adalah salah satu dari kami harus mati. Aku atau orang yang kusukai." Lagi-lagi Kaito menundukkan kepalanya.

"dan kau pasti memilih untuk mati demi melindungi orang yang kau sukai ya kan, Kaito? Kisahmu ini benar-benar seperti seperti sebuah dogeng kau tau." Nada bicara Shinichi sedikit sarkas diakhir kalimat.

"itu terserah kamu saja, mau percaya atau tidak. Tapi ini yang sedang kualami, Shinichi." Kaito hanya tersenyum dihadapa Shinichi. Oh Shinichi tau itu hanya fake smile yang dibuat oleh Kaito.

"Ehem ehem, lalu siapa orang yang kau sukai, Kaito? " lanjut shinchi menghilangkan rasa canggung diantara keduanya.

Kaito hanya menghela nafas panjang ketika mendengar pertanyaan dari Shinichi. Kaito kini memegang tangan Shinichi, dan menatap mata Shinichi dengan intents.

"Setelah semua hal yang yang telah kulakukan dan kuceritakan padamu, apakah kau masih belum sadar juga, Shinichi?" Ingatan Shinichi tentang semua hal yang telah dilakukan Kaito padanya terulang. Ingatan-ingat itu Shinichi gabungkan dengan semua apa yang Kaito bicarakan tadi. Tak butuh waktu lama bagi Shinichi yang seorang detektif hebat tuk memahami perkataan Kaito. Dan kini ia sadar bahwa sebenarnya orang yang disukai Kaito adalah dirinya sendiri, Kudo Shinichi. Dan itu membuat wajah Shinichi memerah seperti tomat sekaligus membuat Kaito tersenyum melihat ekspresi Shinichi.

Shinichi yang sadar bahwa Kaito sedang menatapnya, langsung menarik tangannya dan berpura-pura batuk.

"tapi, Kaito! Kalau kau benar-benar me-menyukai ku, aku tak setuju kalau kau mati begitu saja!" Shinichi menaikkan satu oktaf nada bicaranya, hal itu membuat Kaito sedikit terkejut sekaligus bahagia karena ia tau bahwa Shinichi mengkhawatirkannya.

"bukankah itu justru lebih baik? Tidak ada percuri yang merepotkan para polisi, dan orang yang menemukan mayatku yang pertama kali ada kau, meitantei. Namamu akan melambung dan—" perkataan Kaito dipotong dengan tamparan yang Shinichi berikan di pipinya.

"apa-apaan itu?! Bukannya masih ada cara yang lain?! Kita gunakan itu saja! Lagian aku menjadi detektif bukan untuk menjadi orang famous ya! Camkan itu!" ucap Shinichi sambil menunjuk Kaito dengan jari telunjuknya.

"apakah kau tak salah bicara Shinichi? Apakah kau yakin?" ucap Kaito sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Shinichi.

"tentu saja, aku yakin! Aku tak ingin kehilangan rival sejatiku." Ucap Shinichi sambil tersenyum. Sedangkan Kaito masih mendekatkan wajahnya dan meraih kepala bagian belakang milik Shinichi dengan tangan kanannya.

"jadi kau akan berusaha mencintaiku, Shinichi?" Shinichi yang baru saja sadar akan berkataan Kaito membuat wajahnya semerah tomat.

"terima kasih." Kaito pun langsung mencium Shinichi. Ciuman itu singkat, tapi Shinichi dapat merasakan kalau Kaito sedang bahagia.

~TBC~

Haloo~

Author yang kurang ajar ini telah kembali dari kegelapan! /ditabok

Maaf kan saya baru update padahal sudah ditagihin orang banyak ;;u;; /ditabok
disini saya mau buka sesi menjawab review~
sebenarnya saya lebih suka balas lewat pm, berhubung pada guest nih ya, jadi saya balas lewat sini~
sebelumnya, saya mau mengucapkan terima kasih karena telah mau membaca fanfic tiruan ini :''Da terima kasih banyak~
yuk kita mulai aja~

To: Qkaishin
hai~ kurang terperinci apa nih? Kalau kamu bilang kurang rinci gak kayak yang di doujinnya, mungkin memang sengaja saya lakukan. Soalnya saya tidak sepenuhnya persis dengan yang didoujin, cerita bakal saya ganti ^^

To: Kuzukira2312

Hahaha iya XD dan masih banyak lagi lho yang kayak gitu di chapter berikutnyaaaa /ditabok. Iya saya juga sadar kok, makasih ya sarannyaaa~ itu saya lupa edit karena terlalu bersemangat buat ngepost hehe, skali lagi terima kasih sarannya m(_ _)m

To: hikari18 dan kirei chan

Iya, saya bakal semangat kok, dan kayaknya saya bakal sering juga post pair ini... karena saya "TRASH" mereka :

To: Kyuushirou

Benar~! Ini dari doujinshi "Ao no Ao" milik Eternal's KID-san yang selalu jadi fav saya xDD
tapi menurutku ini adegan ratem nya masih kurang lho kyuu :''D /ditabok

To: Guest (?)

Wahhh, nanti tolong dibaca ya setelah ini :''D

To: spadexclover14124869

Hahaha xD gapapa xD
mungkin yang suka doujinshi sudah tau, kan Ao no Ao doujinshi legend XD /ditabok

cukup sekian yaaa~
mulai dari fic ini pasti kalian ngerasa saya ngepostnya gak lama kan? Saya minta maaf sebelumnya, meskipun ini Cuma fanfic tiruan tapi saya juga disibukkan dengan kegiatan rl saya yang faktanya saya sudah kelas 3 SMA, dan jadi jarang pengang laptop karena tugasnya bejibun ;;u;; dan sekalinya pengan laptop lebih sering dibuat kencan dengan ms. Word buat ngetik laporan blablabla sama buat ppt :''Da tapi apabila ada waktu kosong seperti... besok sekolah gak ada peer, itu baru saya akan berusaha menyicil sedikit demi sedikit, mengingat bahwa setiap hari ada tugas yang bejibun, jadi saya lebih sering ngehabiskan waktu untuk tugas :''D jadi mohon dimakhlumi m(_ _)m

Ini saja ngetik kebut semalem karena mumpung lagi liburan :''Da

Dan kebetulan idenya ngalir dengan cepat :''Da

Tapi sedikit banget ya?

Jadi yaaa umn...

HONTOU NI GOMENNASAI! *sujud

Ngomong-ngomong, terima kasih telah membaca :''D

Terima kasih telah bersabar :''D aku sayang kalian semua *tjium satu-satu /ditabok

-Reihika