Disclaimer: BTS di bawah naungan BigHit Entertainment, seluruh karakter yang muncul di ff ini adalah milik Tuhan Yang Maha Esa dan orangtua masing-masing, saya hanya pinjam nama.
Ficlet Min Family © Kaizen Katsumoto
Warning: OOC, AU, Typo, BL, M-Preg, bad language.
.
Summary: Min Yoongi dan Min Jimin. Ficlet YoonMin
.
.
.
Mohon periksa penerangan dan jaga jarak mata anda dari layar saat membaca fanfic ini. Bagi yang punya phobia homo bisa meninggalkan tempat ini.
Enjoy!
.
Min Yoongi dan Min Jimin. Sepasang insan yang disatukan oleh lilitan takdir keras. Tujuh tahun silam Jimin menyukai seorang lelaki, teman sekelasnya, dan itu bukan Yoongi karena Yoongi satu tingkat di atasnya.
Jeon Jungkook namamya, tampan dan manis di waktu bersamaan, dengan otot lengan serta garis rahang tegas. Jimin tak mampu menahan gejolak aneh yang terus meletup-letup tiap berada di dekat Jungkook. Sayangnya lelaki itu sudah menjalin hubungan dengan sahabat masa kecilnya, Kim Taehyung yang merupakan teman terdekat Jimin.
Jimin selalu terpuruk di beberapa saat. Ia menyendiri meratapi nasip.
Lalu Yoongi?
Yoongi bukan tipe orang lembut yang akan mendatangi Jimin dengan karangan bunga dan sekotak cokelat mahal. Bukan pula seorang penghibur yang memberi kata mutiara agar Jimin berhenti bersedih. Pemuda itu hanya akan lewat di depan Jimin, mengacak rambut hitam halus sampai berantakan, menyeringai seolah meremehkan Jimin, lalu pergi seenaknya. Membuat rasa sedih di relung terdalam itu hanyut berubah menjadi rasa kesal memuncak.
Min Yoongi bukan orang romantis tapi dia akan berusaha menjadi orang romantis demi kekasihnya—Park Jimin.
Dua tahun berlalu semenjak Jimin menangis sendirian karena seorang Jeon Jungkook. Kini ia tidak menangis lagi. Memandangi cincin perak melingkar di jari mungilnya, ia tersenyum cerah sampai membuat kelereng onyxnya tenggelam sempurna.
"Kau ingin menyaingi matahari, huh?" Yoongi bertanya dengan wajah datar, kembali setelah memesan menu di sebuah cafe. Menyebabkan senyuman di wajah Jimin memudar, berubah menjadi kerucutan bibir lucu.
Dua tahun berikutnya lonceng gereja didentangkan, burung merpati berterbangan menghias langit biru dengan gulungan awan seputih kapas. Jimin tersenyum bahagia begitu seikat bunga dia lemparkan ke angkasa. Yoongi mengait jemarinya penuh posesif dan Jimin akan menyandarkan kepalanya di bahu Sang Mempelai Pria. Mereka melakukan ciuman suci sebelum pergi meninggalkan gereja serta para tamu undangan menggunakan mobil pengantin.
Pernikahan mereka tidak berjalan mudah. Banyak sekali rintangan yang menerpa hubungan mereka mulai dari krisis kepercayaan hingga rasa cemburu berlebih. Namun begitu, mereka tetap mempertahankan ikatan suci hingga kini.
Jimin tersenyum memandang pantulan diri di depan bidang bening jendela. Melihat kelopak bunga sakura berguguran di pekarangan rumah. Bersamaan itu, rintik hujan mulai turun membasahi kaca. Mengalir jatuh dan melebat. Jimin tak bergeming, bibir penuhnya bergerak-gerak menciptakan senandung kecil sementara sebelah tangannya menggenggam mp3 player. Tangan lain memasang sebuah headset. Pemuda itu terus menyanyi walau tak mendengar lantunan lagu dari pemutar musik. Jimin terlalu hapal.
Forever we are young
Selamanya kita muda
Narineun kkoccipbi sairo
Di bawah kelopak bunga hujan turun
Hemaeeo dalline i miro
Aku berlari, sehingga hilang dalam labirin ini
Forever we are young
Selamanya kita muda
Neomeojyeo dachigo apado
Bahkan saat aku jatuh dan menyakiti diri sendiri
Kkeut eopsi dalline kkumeul hyanghae
Aku terus berlari menuju impianku
"Ni ggumeun mwoni?" (What's your dream?)
Jimin tersentak, menerima sebuah pelukan di leher. Sepasang tangan pucat membelit dengan dagu bertopang di pundak sebelah kiri. Seorang pemuda memandang lurus ke depan—tepat pada aliran air di jendela. Jimin perlahan melirik samping, Yoongi tidak menoleh seakan menunggu jawaban atas pertanyaannya.
Melemparkan pandangan ke depan seraya membenarkan posisi duduk karena kedatangan suami-nya, Jimin tersenyum kecil. Kini kelereng hitamnya jatuh ke perutnya sendiri yang membuncit, dimana sebuah headset terpasang apik. "Melahirkan Jungkook dengan selamat." Ia mengulas senyum tipis, "kurasa itu yang paling kuimpikan."
Yoongi bergumam menimbang jawaban pendamping hidupnya. "Kau tahu, Jimin? Lelaki spesial sepertimu hanya bisa melahirkan sekali dalam seumur hidup."
Tanpa bersuara, Jimin menganggukkan kepalanya singkat. Kerlip mata penuh ambisi itu seketika sendu. Ia tahu benar konsekuensi yang telah menantinya sebagai seorang Male-Pregnant. Lelaki dengan tekat kuat yang dianugerahi sebuah rahim, kemujuran sekaligus pedang bermata dua karena selain bisa memberi kesempatan hidup pada makhluk lain tapi kehidupannya sendiri menjadi taruhan.
Rumit memang, Male-pregnant adalah keadaan istimewa dimana seorang pria memiliki rahim wanita. Namun rahim itu hanya bisa digunakan sekali karena setelahnya rahim harus diangkat demi kebaikan pria tersebut. Penyebabnya karena setelah digunakan, rahim tunggal itu akan membusuk dan menyebarkan racun ke seluruh anggota tubuh. Jimin adalah satu dari seribu pria yang mendapatkan anugerah tersebut, menjadi seorang ayah sekaligus ibu dalam satu tubuh.
"Kalau kau takut, kau bisa menggugurkannya sekarang." Yoongi tidak merubah ekspresi. "Aku bisa terima dengan anak angkat." Lanjutnya melirih, berbisik pelan, tepat di telinga.
Jimin meneguk ludahnya kasar. "Aku takut." Jari-jari kecilnya mencengkeram erat lengan Yoongi di lehernya. "Sangat takut..." ia mengulang.
Yoongi mengelus surai-surai hitam penuh pengertian. "Semua akan baik, Jim." Menarik kepala itu masuk ke dalam pelukannya, Jimin terisak kecil dan Yoongi mengecup pucuk kepala suaminya.
Katakanlah Yoongi orang paling egois. Ia lebih memilih Jimin ketimbang buah hati—darah dagingnya sendiri. Ia menginginkan Jimin lebih dari apapun. Keselamatan Jimin lebih penting dari apapun. Maka jangan heran bila di saat seperti ini—saat nyawa Jimin dipertaruhkan, sebenarnya Yoongi-lah yang lebih takut dari siapapun. Kehilangan Jimin adalah sesuatu yang paling berat di dunia. Lalu siapa yang berani menyalahkan keegoisan Yoongi saat ini?
Pun begitu, benarkah tindakan yang diambil Yoongi? Banyak orang berpendapat egois adalah sifat dasar manusia—sikap buruk yang harus dihindari. Oleh sebab itu, di sana ada Jimin. Karena Jimin adalah pelengkap Yoongi. Maka dia ada untuk membenarkan segala sifat buruk suaminya.
"Tapi kau tidak keberatan kalau aku mencobanya kan, Yoongi ya?" Pertanyaan polos itu terlontar diikuti wajah Jimin yang mendongak mengunci tatapan. Menusuk bagai belati sepasang kelereng kembar. "Ini adalah kesempatanku menjalankan anugerah yang kumiliki. Aku tak bisa mengecewakanmu karena kau adalah orang pertama yang berteriak kencang ketika mengetahui aku hamil."
Yoongi terpaku sejenak. Ia menangkup pipi chubby Jimin hingga bibirnya maju beberapa senti. Pemuda mungil itu memandangnya tanpa protesan—pandangan lugu, ada kilat ambisi tersulut di dalamnya. Dimana Yoongi tak memiliki hal tersebut.
Ya. Jimin sangat kuat, lebih kuat dan teguh. Itulah hal favorit Yoongi semenjak dulu. Tekat kuat yang membuatnya harus mengalah untuk beberapa waktu. Maka Yoongi akan menundukkan kepalanya demi meraih bibir tebal suaminya, memberi serangan serta mengecap manis pemuda itu sampai mendesah tak karuan.
Lewat beberapa menit sampai persatuan lidah itu terlepas. Kini giliran Yoongi yang menawan Jimin melalui mata sipitnya, mengunci pandang pemuda itu dalam tatapan intens. Jimin bergeming. Menunggu.
"Aku tak akan memaafkan Jungkook kalau sampai terjadi sesuatu padamu." Katanya penuh keyakinan.
Jimin tersenyum riang, mencubit hidung Yoongi gemas. Bibirnya sekali lagi mengerucut. "Ancaman macam apa itu?" Tanyanya tak terima. "Jungkook itu kan anakmu sendiri."
Lalu Yoongi membisu, berbalik badan untuk pergi.
Begitulah Yoongi—mantan preman sekolah yang licik, egois, dan paling bodoh hanya sekedar menyatakan perasaannya. Di sisi lain Jimin sudah khatam akan sifat lelaki-nya. Ia paling senang menggodainya di saat seperti ini. Lalu Jimin akan berdiri memunguti alat pemutar musiknya, kemudian mengejar punggung Yoongi.
"Yaa! Tunggu aku, Yoongi ya!"
.
.
.
Fin
.
.
.
A/N: Yah, namanya juga ide, kadang muncul kadang ilang entah kemana. Ditemani Young Forever serta suara Jin dan Jimin, saya merasa kembali muda~ Terima kasih yang sudah membaca sampai sini. Anyeong~
