Disclaimer: BTS di bawah naungan BigHit Entertainment, seluruh karakter yang muncul di ff ini adalah milik Tuhan Yang Maha Esa dan orangtua masing-masing, saya hanya pinjam nama.

Ficlet Min Family © Kaizen Katsumoto

Warning: OOC, AU, Typo, BL, M-Preg, bad language.

.

Summary: Min Yoongi dan Min Jimin. Ficlet YoonMin

.

.

.

Mohon periksa penerangan dan jaga jarak mata anda dari layar saat membaca fanfic ini. Bagi yang punya phobia homo bisa meninggalkan tempat ini.

Enjoy!

.

Ini adalah kisah sepasang lelaki dan keluarga binaan mereka—Min Yoongi dan Min Jimin. Yoongi adalah pemuda yang tidak mau repot, sementara Jimin adalah pihak yang selalu merepotkan. Mereka bagai api dan air, berlawanan namun juga saling melengkapi.

Pagi itu Jimin bangun, menyingkirkan kaki Yoongi yang menindih pahanya. Pemiliknya masih bergelung dalam lautan mimpi diiringi dengkuran halus. Jimin mendesah, mencondongkan tubuhnya untuk berbisik, "Selamat pagi, Yoongi ya..." sangat lembut.

Yoongi mengerang sebagai bukti kesadaran, walau kelopak matanya masih berat, ia justru menarik suaminya agar kembali berbaring di sisinya.

"Yaa! Cepat bangun, babo! Ini sudah hampir siang!"

"Sebentar lagi, chagiya..." berguman, pemuda perak itu tetap memerangkap Jimin ke dalam pelukannya nyaris seperti guling pengganti.

"Kau bau, Yoongi ya." Jimin bergumam.

"Biarkan."

"Aku ingin bangun, jadi lepaskan aku."

"Tidak akan." Yoongi malah bergeser turun hingga mencapai pinggang Jimin, memeluk serta mencium perut suaminya lembut. "Pagi, kecil. Kapan kau keluar?" Tanyanya pada si perut gembul.

Jimin terkikik. "Dia akan keluar kalau sudah waktunya..."

"Kapan itu? Aku sudah tidak sabar main kuda-kudaan lagi." Kata Yoongi yang langsung dihadiahi jitakan penuh kasih.

Jimin segera bangkit setelah Yoongi melepaskan pinggangnya untuk mengusak kepala yang ditumbuhi benjolan berdenyut sambil mengaduh. Berjalan memasuki kamar mandi diiringi debaman pintu lumayan kencang. Sementara Yoongi menghela napas, kemudian ambruk lagi di atas kasur empuk untuk kembali menyapa alam bawah sadarnya.

Pagi di hari Minggu selalu berjalan biasa. Sangat normal. Sangat, kecuali lengkingan empat oktaf Jimin yang memekakkan telinga. Di ruang tengah, dan Yoongi juga berada di sana. Tv masih menyala, sebuah acara drama diputar. Seorang pelayan mengenakan seragam maid menjadi sorotan dalam layar kaca.

Jimin berkacak pinggang, memakai sweater rajut berpola sewarna lebah madu dan celana hitam panjang kedodoran yang pas untuk kondisinya, sedang menatap nyalang suaminya. Yoongi tak mau kalah, berbalik menyipitkan mata setengah menahan amarah.

"Yoongi yaaa~ aku maauu~" Jimin menggunakan senjata andalannya—merajuk seperti anak kecil, salah satu hal merepotkan yang tidak ingin Yoongi temui di awal hari Minggu yang cerah.

"Tidak." Suaminya menjawab cepat.

"Yoongi yaaaa~" kini Jimin menghilangkan raut kesalnya, berubah memohon disertai kedua pipi gembul yang semakin mengembang, bibir penuhnya mencebik.

Bagaimana Yoongi bisa tahan dengan cobaan dunia bernama Park—ralat, Min Jimin jika seperti ini akhirnya. Ayolah, Yoongi punya harga diri setinggi langit yang membuatnya harus menolak mentah-mentah permintaan-permintaan aneh suaminya. Ya. Jimin sedang dalam keadaan ngidam dan Yoongi tak pernah menyangka bila situasi Jimin ngidam begitu amat merepotkan.

Dihitung semenjak dua jam lalu—setelah ia menyelesaikan mandi pagi. Yoongi menghampiri suaminya yang tengah menikmati drama pagi rutin. Di sana seorang aktrisnya sedang melayani pelanggan sebuah cafe dengan balutan kostum maid. Bisa kalian tebak apa yang diinginkan Jimin-nya?

Benar. Jimin menginginkan agar Yoongi mengenakan pakaian maid dan melayani Jimin seharian. Gila. Konyol. Menggelikan. Yoongi tak pernah sekalipun membayangkan dirinya memakai baju berenda khas seorang babu. Yoongi itu orang yang sejak lahir harus dilayani, melayani itu bukan style-nya. Sedang di sudut lain, Jimin semakin merajuk, menggunakan air mata sebagai teror terbesar dalam kehidupan Min Yoongi, sukses besar membuat suaminya bergerak resah tidak tenang. Diikuti helaan napas pasrah, akhirnya sang mantan preman sekolah mengangguk lemah.

"Hanya kali ini. Tidak lebih."

Sebuah sorakan disertai pelukan membuat Yoongi sedikitnya menaikkan sebuah kurva senyum. Ia membalas pelukan Jimin, mengecup pipi chubby, saling melekatkan dahi hingga sepasang hidung bisa saling bersentuhan intim. Jimin akan tersenyum lebar sampai maniknya lenyap tertelan kelopak berbulu lentik. Bagi Yoongi kebahagiaan Jimin adalah kebahagiaannya, sebaliknya kesedihan Jimin adalah racun untuk Yoongi.

Jimin berusaha melepaskan diri dari sang suami yang semenjak tadi terus membawanya ke dalam pelukan—kebiasaan memang. Selepasnya, Jimin langsung menarik lengan Yoongi memasuki kamar, memberinya sebuah pakaian maid hitam putih berenda. Yoongi sampai heran darimana suaminya mendapatkan baju seperti itu, ketika ditanya Jimin hanya akan diam seribu bahasa. Jadi Yoongi mulai curiga Jimin mungkin punya hobi crossdressing ketika ia tidak ada di rumah.

Kita bahas hobi Jimin lain waktu, beralih pada Yoongi yang sudah siap menjadi seorang babu—coret—maid sehari demi suami tercinta. Kalau saja Yoongi adalah artis Boyband Korea beraliran hip hop mungkin sekarang ia akan berkata: "Hip hop is dead."

Berjalan ngakang dengan sepasang sepatu berhak lima senti, ia hampir jatuh keseleo dan menumpahkan nampan berisi cake. Mengumpat dalam bisikan kala menemukan Jimin sedang duduk manis di sofa, sibuk memperhatikan gerak-gerik kaku Yoongi yang sedang meletakkan potongan cake di atas meja.

Jimin berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepala dan jari telunjuk. "Ck ck ck, itu tidak anggun sama sekali Yoongi ya." Katanya kalem.

Perempatan merah tak kasat mata berdenyut di kepala abu-abu. "Aku laki-laki Jimin ah, kalau kau lupa. Aku tidak bisa anggun selama masih ada penis yang menggantung di selakanganku." Ia menepuk tepat di tengahan kaki yang ditutupi rok hitam di atas lutut dan celemek putih berenda.

"Gyaah! Dasar cabul! Kata-katamu sangat kasar!" Jimin melengking, memalingkan muka yang memerah seraya menutup kedua telinganya rapat-rapat agar kuping calon anaknya tidak ikut ternoda. "Bagaimana kalau Jungkookie dengar? Aku tidak ingin dia menjadi mesum sepertimu!"

Yoongi merotasikan matanya, "Ya, ya. Dia anakmu tentu dia akan lebih mirip denganmu. Ini kuenya, tuan putri. Segera dimakan sebelum Jungkookie-mu ngiler di dalam sana."

Jimin menggembungkan kedua pipi chubby, mengerucutkan bibir, kedua tangan terlipat di depan dada. Pertanda bahwa ia sedang mode ngambek. "Aku tidak mau makan." Titik.

Yoongi melotot. "A-APA? Aku sudah membuatkannya susah payah, kau tahu?"

Jimin tetap teguh, "Itu kan kue yang kita beli kemarin." Mengingatkan.

Kini Yoongi menepuk jidatnya, kalau saja Jimin tidak dalam keadaan hamil dia mungkin sudah membanting meja sekali angkat. Beruntung dia masih mempunyai kendali diri agar tidak mengamuk, mengacak-acak rambutnya sendiri sampai berantakan sebagai pelampiasan.

Yang ngidam pun akhirnya sedikit iba setelah melihat suaminya frustasi. "Ekhem," si gembul terbatuk kikuk. "Baiklah, aku mau makan kuenya asal Yoongi ya mau meminta maaf." Katanya final.

Yoongi berdiam diri lumayan lama, lebih tepatnya tertegun. Kemudian ia menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya panjang-panjang. "Oke. Maafkan aku Jimin ah." Ujarnya tulus. Kali ini benar-benar tulus. Jimin tersenyum kecil, melihatnya saja cukup membuat Yoongi lupa akan kekesalan memakai pakaian wanita. "Kalau begitu cepat dimakan."

"Aku maunya disuapin." Jimin kumat manjanya dan Yoongi hanya bisa pasrah menerima sifat kekanakan suaminya. Kadang ia memang harus rela mumbunuh harga diri dan keegoisan sesaatnya demi Jimin. Hanya demi Jimin.

Maka Yoongi pun ikut duduk di atas sofa, meraih sepiring cake untuk disuapkannya pada Jimin. "Say aaang~" katanya seraya menaikkan sendok, Jimin melahap kue itu sangat rakus. Astaga, dasar anak kecil.

"Yoongi ya, kau tidak makan juga?" Tanya Jimin disela kunyahan.

"Kau ingin aku makan juga?" Yoongi bertanya balik yang langsung dijawab sebuah anggukan. Bibir tipis mengembangkan seringai kecil. "Selamat makan~"

Jimin membolakan mata, bibirnya dipagut tiba-tiba tanpa diberi sempat menghindar. Lidah Yoongi masuk tanpa prediksi, meminta jatah kuenya di dalam disertai kuluman nakal yang membuat Jimin meronta-ronta ketika Yoongi mulai menidurkannya di atas sofa, menindih namun tetap menggunakan tangan dan kaki untuk menopang tubuhnya agar tidak sepenuhnya menindih Jimin dan calon bayinya.

Tidak peduli rok hitamnya tersingkap karena gerak brutal penolakan Jimin, Yoongi kini beralih menciumi leher jenjang di bawahnya. Hanya mencium yang membuat Jimin melenguh pelan.

"Hen..tikanh, Yoon..." Jimin meremas helai abu-abu suaminya, berusaha menghentikan serangan si maid yang ternyata cukup berbahaya bila terus berlanjut.

"Ini hukuman karena kau sudah membuatku memakai pakaian seperti ini, chagiya." Yoongi berbisik, menggigit cuping Jimin sampai memerah.

"Aahh~"

.

.

.

Fin

.

.

.

A/n: Untuk yang pernah request Jimin ngidam, maaf kalau tidak sesuai. Terima kasih yang sudah membaca sampai sini, annyeong~