Disclaimer: BTS di bawah naungan BigHit Entertainment, seluruh karakter yang muncul di ff ini adalah milik Tuhan Yang Maha Esa, orangtua, dan diri mereka masing-masing, saya hanya pinjam nama.

Ficlet Min Family © Kaizen Katsumoto

Warning: OOC, AU, Typo, BL, M-Preg, bad language.

.

Summary: Min Yoongi dan Min Jimin. Ficlet YoonMin

.

.

.

Mohon periksa penerangan dan jaga jarak mata anda dari layar saat membaca fanfic ini. Bagi yang punya phobia homo bisa meninggalkan tempat ini.

Enjoy!

.

Ini hanya segelintir kisah dari keluarga kecil milik Min Yoongi dan Min Jimin, telah lama menjalani hidup berdua, melewati suka-duka bersama. Mereka sama-sama bertahan walau sudah banyak rintangan membentang serta halangan menghadang. Ya. Bertahan. Bertahan. Bertahan. Persis yang dilakukan Yoongi saat ini—sang kepala keluarga Min sedang bertahan. Bertahan agar tidak keceplosan mengutuk semesta dan seluruh isinya.

Berita dari sang dokter di pagi buta, membuat moodnya memburuk. Ada keanehan pada kandungan Jimin menjelang kelahiran anak pertama mereka—sebut saja pertama dan terakhir. Bebeberapa bulan sebelumnya dokter sudah memberitahu Yoongi mengenai lemahnya kondisi fisik Jimin selama mengandung anak mereka.

Tanpa pemberitahuan dari dokter pun Yoongi sudah menyadari keganjilan tingkah laku Jimin yang biasanya terlihat hiper-aktif menjadi sedikit pasif. Tak jarang Yoongi mendengar suaminya mengeluh kelelahan saat bangun tidur. Bukan kelelahan akibat melakukan pergulatan ranjang, bahkan Yoongi rela menahan diri berbulan-bulan agar tidak membahayakan kondisi Jimin.

Jangan kira Yoongi cuma diam setelah mengetahui semua itu, justru pemuda Min semakin protektif pada Jimin. Di tengah kesibukan kantor, selalu menyempatkan diri membawa Jimin untuk pemeriksaan rutin walau orang yang dikhawatirkan malah menggerutu saat disuruh bolak-balik ke rumah sakit seminggu sekali.

"Merepotkan."-begitu katanya.

Tapi Yoongi bisa jauh lebih keras kepala bila sudah menyangkut kesehatan Min Jimin-nya. Biarlah ia dianggap menyebalkan selama bisa melihat senyuman Jimin semua sudah cukup. Katakanlah Jimin satu-satunya alasan keberadaan Yoongi. Seperti secercah cahaya di tengah kegelapan, Jimin adalah matahari kecil-nya yang terus bersinar memberi Yoongi kehidupan, semangat untuk melawan terjalnya hidup. Sosok menawan paling merepotkan sebagai pelengkap kehidupannya yang terasa monoton dan membosankan.

Namun saat sang dokter kembali mengajak Yoongi berbicara empat mata setelah sekian lamanya, iabenar-benar dibuat murka—tepatnya ia bingung, tak tahu harus marah, kesal, atau malah sedih. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, duduk tenang dalam kesunyian ruang. Pria setelan jas putih menjelaskan segalanya secara rinci mengenai hasil diagnosa Jimin.

"Ini adalah kasus M-preg yang unik." Sang dokter mengawali, memandang wajah datar Yoongi. "Normalnya bila kandungan pria sudah mencapai sembilan bulan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi mengenai proses persalinan. Tapi keadaan Jimin ssi justru semakin memburuk bahkan dari hari-hari sebelumnya, anda sendiri mungkin sudah tahu betul sebagai suaminya. Hasil pemeriksaan yang kami dapatkan menunjukkan bahwa keadaan Min Jimin tidak memungkinkan untuk melakukan persalinan. Dokter khususnya juga pasti sudah memberi tahu anda mengenai krisis kesehatannya."

Bergeming.

M-Preg. Sudah menjadi rahasia umum jika dari 100 M-preg hanya 5-10% yang berkemungkinan melahirkan dengan selamat.

Yoongi paham betul akan keadaan Jimin. Ia juga paham ketika sang dokter memberitahukan semua hasil pemeriksaan Jimin padanya setiap Minggu. Lalu jika ia memang menyayangi Jimin, kenapa ia membiarkan lelaki itu dalam bahaya seperti ini—

"Yoongi ya, untuk kali ini saja... kumohon, biarkan aku melakukan kewajibanku. Aku ingin Jungkook lahir ke dunia. Aku menjadi orangtuanya. Aku ingin menjadi orang pertama yang melihat senyumannya. Aku ingin melihatnya tumbuh dan memanggilku ayah."

—atau justru karena rasa sayang itulah yang kini menjebak Yoongi sampai di titik membingungkan?

"Maafkan kami, Yoongi ssi. Bukan maksud kami menyudutkan anda. Tapi dalam persalinan ini kemungkinannya kami hanya bisa menyelamatkan salah satu diantara mereka, Jimin ssi atau calon bayinya."

Bukankah sudah pasti?

"Kami membutuhkan persetujuan anda sebagai suaminya juga calon ayah..."

Untuk apa bertanya hal yang sudah pasti?

Sang dokter sudah mengenal baik tabiat Yoongi. Ia tak perlu bertanya untuk hal semacam itu.

Suara ketukan pintu, datang seorang suster menginterupsi pembicaraan sang dokter, dibubuhi raut cemasnya. "Dokter, keadaan pasien bernama Min Jimin semakin tidak stabil. Lebih buruk, kini ia tak sadarkan diri, detak jantungnya sangat lemah begitu pula detak jantung janin-nya!"

Lalu di sinilah Yoongi harus dipaksa melepaskan kendali atas ego-nya.

Kutuklah dunia, Min Yoongi.

Kutuklah takdir yang sudah mempermainkan kalian.

Namun setelahnya, ambillah satu pilihan bijak.

Pria itu memandang sang dokter dengan tatapan kosong. Yoongi mungkin terlihat galak, namun di saat seperti ini ia tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran di kedua matanya. "Dok," sang dokter berhenti sebelum menutup pintu ruangan untuk memeriksa pasiennya, menoleh ke Yoongi yang masi terpaku di tempat.

"Ya, Yoongi ssi?"

Sebuah senyum simpul. "Walau apapun yang terjadi, tolong selamatkan Jimin. Walau itu berarti mengorbankan bayinya, selamatkan Jimin. Biarkan dia hidup, kumohon selamatkan... Jimin-ku."

Sejenak sang dokter terpaku di tempat—kehilangan kata-katanya, kemudian dapat kembali mengendalikan diri. "Kami akan berusaha semampu kami."

.

Yoongi tahu pilihannya salah. Dia memilih egois daripada bersikap bijak. Ia terlalu membutuhkan Jimin walau ia tahu Jimin sangat membutuhkan buah hati mereka. Yoongi memang si brengsek yang bodoh. Sangat bodoh sekedar mengendalikan napsu-nya. Yoongi paham mungkin ia tak akan bisa melihat senyuman dari bibir itu lagi. Persetan. Yoongi tak akan pernah menyesali pilihannya, seburuk apapun itu.

Yoongi menginginkan Jimin lebih dari apapun di dunia ini. Itulah Yoongi yang sesungguhnya.

.

Musim gugur ditandai dengan jatuhnya kelopak bunga sakura di depan halaman rumah, tak terasa momen itu sudah lewat beberapa bulan yang lalu. Sekarang musim dingin hampir habis dan seorang Min Yoongi hanya mampu menyaksikan sosok yang selalu dikaguminya kini hancur. Bukan keinginan Yoongi untuk menghancurkan makhluk rapuh itu.

Diam memandangi kaca jendela berembun, hujan salju turun lebat di luar sana. Jimin tetap bergeming ketika Yoongi menyelimuti bahunya dengan selembar selimut. Ditepis, Jimin kembali fokus pada jatuhnya bulir-bulir salju. Sudah lima jam ia begitu, seminggu berlalu semenjak ia kehilangan harapan kecilnya. Seminggu pula pemuda itu terus diam, membuat Yoongi semakin khawatir.

"Chagiya, kau bisa sakit kalau terus begitu." Kata Yoongi, tak menyerah membelitkan selimutnya. Jimin menolak, diam berlanjut. Yoongi menghela napas pasrah. "Aku minta maaf, Jimin."

"Aku tak butuh."

Ketus. Jimin-nya menjadi asing dan sangat dingin.

"Kenapa kau lakukan ini, Yoongi?" Pemuda itu bertanya, suara bergetar, "Kau tahu aku sangat menginginkannya tapi kenapa kau menghancurkannya? Kenapa kau tak memberikannya kesempatan? KENAPA?" Jimin terteriak dengan suara serak, kedua tangannya sudah mencengkeram kuat kerah kemeja Yoongi, penuh emosi tak tertahankan. Kedua maniknya merah membengkak, entah sudah berapa kali ia meraung sendirian di tiap malam. "Kau memang brengsek..." Sebuah isak kecil nyaris terlepas, meninggalkan suara parau menyayat. Kepalanya tertunduk lemas, bersandar di dada bidang lawan seakan tengah menyalurkan rasa frustasi.

Pada saat itu Yoongi berkeinginan kuat memeluk Jimin tapi tubuhnya membeku kaku, kedua tangan yang siap terulur kembali jatuh. Yoongi tak bisa melakukannya, ia tak pantas melakukannya setelah membuat keputusan yang salah. Menunduk dalam diam. Menerima segala makian Jimin yang terus mengalir deras secara suka rela.

Hinalah Yoongi,

Cercalah.

Bencilah.

Karena ia memang pantas mendapatkannya.

"Maafkan aku Jimin ah, hanya itu yang bisa kukatakan." pria itu berbalik setelah mengusap kepala Jimin sekali.

.

.

.

Tbc