Disclaimer: BTS di bawah naungan BigHit Entertainment, seluruh karakter yang muncul di ff ini adalah milik Tuhan Yang Maha Esa dan orangtua masing-masing, saya hanya pinjam nama.

Ficlet Min Family © Kaizen Katsumoto

Warning: OOC, AU, Typo, BL, M-Preg, bad language.

.

Summary: Min Yoongi dan Min Jimin. Ficlet YoonMin

.

.

.

Mohon periksa penerangan dan jaga jarak mata anda dari layar saat membaca fanfic ini. Bagi yang punya phobia homo bisa meninggalkan tempat ini.

Enjoy!

.

Kisah keluarga tak selamanya indah, tak juga selalu suram, hanya saja kadang bahagia kadang tidak. Semua itu hal wajar. Normal. Tidak perlu dilebihkan atau dikurang. Dua unsur itu memang wajib ada, melekat selama dua insan masih ingin mengikat diri satu sama lain. Tentu mudah bicara, tapi jelas sukar dilakukan. Butuh pengorbanan, kerja keras, serta rasa saling percaya untuk mempertahankan segalanya. Selama tidak ada kata putus asa, semua pasti ada jalan.

Jimin tak tahu sudah berapa lama ia menutup rapat mulutnya. Tak ingat kapan terakhir kali ia tak membisu pada sekitar, bahkan lupa kapan Yoongi bertutur kata padanya. Hari sudah berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Waktu berjalan lambat di dunia seorang Min Jimin. Namun ingatannya pada hari itu bahkan masih segar di memori.

Menghitung jari, hari ini adalah tepat satu bulan Jungkookie harusnya dilahirkan ke dunia. Menghirup udara segar, merasaka pelukan hangat Jimin, dan bercanda-ria seperti bayi lain, harusnya. Jimin benci mengingat, jika bisa ingin ia merobek memori otak, menenggelamkannya jauh sampai ke dasar palung.

Jimin bingung. Sendirian. Terlunta di keramaian jalanan kota Seoul. Jimin tak tahu kemana tungkainya membawa, ia hanya ingin melangkah, berjalan terus kemana pun kaki menginjak bumi, tanpa sadar tiba di depan sebuah baby shop mungil di tepi jalan.

Jimin terpaku.

Toko depan itu memiliki jendela kaca yang besar. Memantulkan bias mainan warna-warni, baju berenda, pernak-pernik lucu memikat mata membuat Jimin mengigit bibir dalamnya keras seraya menggeram halus. Ia menggeleng kecil. Tungkainya melaju cepat menjauhi baby shop. Matanya penuh genangan air yang sukar untuk ditangiskan. Uap-uap hangat berhembus seirama deru napas dihela serta derap langkah yang mengencang.

Jimin berhenti. Suara mengaduh saat tubuhnya membentur sesuatu. Ia mencoba membuka matanya yang terasa semakin panas. Seorang pria tinggi tampak menggeram seram seakan ingin menerkamnya saat itu juga. Jimin bergidik ngeri, setidaknya sampai seorang pria lain datang sambil mencubit lengan pria tinggi itu.

"Namjoonie, apa yang kau lakukan?" Omel pemuda-yang menurut Jimin cantik- tersebut, terasa tidak asing untuknya. Helai pirangnya tak terlalu terang, disisir agak berantakan, berponi menutupi dahi.

Namjoonie mengerang kesakitan, tangannya mengusap lengan bekas cubitan si pirang. "Dia menabrakku, Jin hyung." Adunya tak terima seraya menunjuk Jimin sadis, namun Jin malah terlihat melotot tak suka. Membuat Namjoon menghela napas pasrah dan memutuskan melenggang pergi menyisakan kedua pemuda lainnya.

Saat itu trotoar sedang senggang. Bahkan hanya ada Jimin dan Jin yang masih berdiri kaku ditemani deru mesin di jalan raya tak jauh asalnya, lampu penerangan berkedip sekali. Jin mengulas senyum di atas bibir penuhnya, membungkuk formal pada Jimin seolah merasa sangat menyesal.

"Maafkan Namjoon, dia memang sering uring-uringan akhir-akhir ini." Ujar si pirang masih menundukkan kepala sopan. Jimin sontak menggeleng cepat.

"T-tidak. Itu salahku karena aku yang tak melihat jalanan." Elak Jimin cepat.

Jin tampak mendesah pasrah. "Tidak. Ini semua pasti karena ulahnya, urusan pengangkatan anak kami akhir-akhir ini mempengaruhi emosinya, membuat orang terluka seperti ini juga bukan yang pertama dalam minggu ini."

Jimin terdiam. Tidak sadar sejak kapan tangan Jin sudah membawa sebuah sapu tangan merah muda untuk menghapus air mata di pipi chubby. Jin tersenyum tipis sangat lembut dan hangat. Membuat Jimin rindu akan sesuatu.

Sebuah senyuman yang jarang dipamerkan kecuali untuknya. Sesosok pemuda yang selalu ada di sisinya—yang rela melakukan apapun untuk Jimin. Jimin merindukannya. Air matanya meleleh turun semakin deras, ia tidak terisak, tidak pula menangis, tapi sesuatu membuat air matanya terus jatuh tanpa henti. Jin memeluk tubuh pemuda ringkih itu prihatin.

"Apa yang membuatmu kalut seperti ini? Kita bisa berbagi cerita bila kau mau." Bisik si pirang lembut.

.

.

.

Kim Seokjin dan Kim Namjoon. Mereka sudah menikah sejak lima tahun yang lalu. Seokjin bukanlah seorang M-preg seperti Jimin, ia tak bisa menghasilkan keturunan. Satu-satunya jalan bagi mereka untuk mendapatkan keturunan hanya dengan mengangkat anak. Tapi nyatanya, mengangkat anak tak semudah menjentikkan jari. Beberapa pihak tak mengizinkan mereka mengangkat anak selain anak asli keturunan Namjoon, hal itu yang membuat Namjoon merasa uring-uringan dan Seokjin kewalahan akhir-akhir ini, sama seperti ucapan Seokjin sebelumnya.

Ditemani secangkir americano, Seokjin membawa Jimin dalam serangkaian percakapan ringan, berbagi pengalaman hidup, membina sebuah keluarga kecil namun kuat.

.

.

.

"Namjoon adalah anak tunggal, ia punya banyak beban di pundaknya, orangtuanya tidak pengertian. Kami dibuat kesusahan akan hal itu. Salahku juga yang nekat menikahinya padahal jelas-jelas aku tak dapat menghasilkan anak untuknya. Aku selalu menyesali perbuatanku, namun Namjoon tak pernah sekalipun menyalahkanku. Ia selalu menguatkanku, dia bilang anak adalah awal sebuah keluarga dan jika aku benar-benar mencintainya seharusnya aku tak boleh menyerah di sini, ini baru sebuah awal. Jika awal saja aku sudah menyerah sama artinya kata cinta-ku untuk Namjoon hanya omong kosong. Omong kosong atau bukan, tapi aku hanya ingin mendukungnya dan selalu berada di sisimya. Ia yang selalu ada untukku, membuatku juga ingin selalu ada untuknya. Terdengar muluk, tapi hanya Namjoon yang membuatku nyaman dan menjadi satu-satunya tempat dimana aku bisa bersandar. Walau sulit, aku tak ingin lebih banyak menambah beban di pundaknya. Dia juga manusia yang bisa jatuh kapan saja, jadi kurasa aku bisa menjadi sebuah tongkat yang akan membuatnya tetap tegak berdiri sekalipun ia dihempas banyak kesulitan. Kubilang, Namjoon adalah segalanya untukku. Jika ia dituntut harus mendapatkan keturunan, aku akan berusaha mendapatkannya. Seperti kata Namjoon ini baru awal. Jadi aku akan membantunya membuat awal yang indah, karena awal yang indah berkemungkinan lebih besar membuat akhir yang indah pula."

.

.

.

Jimin membuka pintu, ruangan gelap dingin menyapa pengelihatan membuatnya mengusap kedua pundaknya. Tempat yang ia sebut rumah kini hanya menyisakan kesunyian. Tempat biasa ia dan Yoongi saling berbagi kehangatan sekarang pun tak membekas. Sejak itu kehidupan Jimin berputar 180 derajat. Yoongi tak lagi ada untuknya, Jimin tahu Yoongi tak benar-benar pergi dari hidupnya, status mereka masih sah. Hanya saja lelaki itu terasa begitu nyata meninggalkannya; kehidupannya; Jimin sepi.

Pagi-pagi Yoongi akan berangkat kerja, ia pulang sangat larut di saat Jimin sudah terbuai dalam dunia mimpi lalu lelaki pucat itu akan berangkat sangat pagi dimana Jimin belum beranjak sejengkal pun dari kasur. Tidak meninggalkannya tapi terasa nyata meninggalkan Jimin. Sebelumnya Jimin tidak peduli, namun kali ini ia merasa ingin bertemu Yoongi—sangat. Jadi pemuda itu memutuskan pergi ke dapur, membuat secangkir kafein, duduk di meja makan dengan mata menatap lurus ke arah pintu depan.

.

.

.

Itu adalah cangkir ke-5 Jimin saat jam menunjuk pukul 02.15 dini hari. Yoongi menghela napas singkat sembari menaruh mantelnya di atas meja makan. Ia menyingkirkan bekas-bekas di atas meja ke wastafel. Kembali untuk mengangkat tubuh Jimin ke kamarnya, meninggalkan sebuah kecupan kecil sebelum akhirnya menutup pintu kamar dari luar.

"Maafkan aku, Jimin ah..."

.

.

.

Jimin tak mengerti, harusnya ia sudah memantapkan diri untuk menghadapi Yoongi. Tapi nyatanya ia tak sanggup bahkan sekedar bertatap muka langsung. Mengatupkan mulutnya rapat-rapat, Jimin kembali bisu, lebih memilih menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Terlelap bersama kelamnya malam serta isak tanpa suara.

.

.

.

Tbc

.

.

.