Last chapter
Disclaimer: BTS di bawah naungan BigHit Entertainment, seluruh karakter yang muncul di ff ini adalah milik Tuhan Yang Maha Esa dan orangtua masing-masing, saya hanya pinjam nama.
Ficlet Min Family © Kaizen Katsumoto
Warning: OOC, AU, Typo, BL, M-Preg, bad language.
.
Summary: Min Yoongi dan Min Jimin. Ficlet YoonMin
.
.
.
Mohon periksa penerangan dan jaga jarak mata anda dari layar saat membaca fanfic ini. Bagi yang punya phobia homo bisa meninggalkan tempat ini.
Enjoy!
.
.
.
Jimin melihat punggung mungil itu berlari menjauh. Laki-laki kecil dengan tinggi nyaris setara lututnya. Mengerjap, ia tahu bahwa sekarang dia sadar seutuhnya. Maka Jimin melangkahkan kakinya untuk mengejar sosok asing tersebut.
Detik-detik jam dinding berputar seperti adanya, jarum lambat menunjuk pukul 7 pagi, Jimin kesiangan, mungkin karena semalam terlalu larut. Ia mengusap matanya sebelum cekikikan tawa menerobos gendang telinga. Tubuh Jimin seketika menegak, berlari mencari sumber asal yang membimbingnya menuju ruang makan. Yoongi membawa sepiring sarapan, sedangkan duduk di kursi tinggi adalah bocah yang semenjak tadi ia cari.
Mata bulatnya melihat tepat kearah Jimin, sebuah senyuman kecil nan polos. "Appa, ayo sarapan!"
.
.
.
"Jimin."
Jimin terbangun dengan mata sipit yang basah. Yoongi sudah duduk di tepian ranjang, menunggunya sejak beberapa jam lalu. Pagi yang tak biasa, Jimin segera pergi menuju kamar mandi setelah Yoongi menyuruhnya.
Menyelesaikan rutinitas sarapan dengan teratur, kini mereka berdua terjebak dalam sebuah mobil. Jalanan kota Seoul tak berubah, semua sama semenjak ia menginjakkan kakinya kemari. Yoongi masih menyetir, suara speaker menjadi satu-satunya penghangat suasana ketika sang api padam oleh dinginnya es. Jimin bungkam, begitu pula Yoongi. Tak ada pertanyaan maupun tukar cakap berarti hingga mereka tiba di sebuah tempat penuh batu nisan.
Keduanya berdoa untuk si kecil Min. Kebiasaan kecil yang tak akan bisa diubah semenjak kejadian lama. Jimin akan menaruh sebuket bunga sementara Yoongi mengelus kasarnya batu nisan anak mereka. Jimin selalu menangis. Yoongi ada di sisinya, diam mematung sampai Jimin berhenti sendiri.
Satu tahun berlalu, hari ini adalah tepat setahun seharusnya Jungkook dilahirkan. Bermain, merangkak, juga belajar berbicara. Jimin menepis segala pemikiran mengenai angan semu. Dia tetap duduk di kursi ketika Yoongi pergi memesan sebuah cake. Kedatangan pemuda itu diikuti kereta makanan yang membawa sajian kue dua tingkat, sebuah lilin angka satu tertancap di puncak. Si pelayan menyalakan benda itu, pergi meninggalkan Jimin dan Yoongi untuk menyiapkan pesanan tamu.
Sepasang keluarga itu hanya diam memaku diri, menatap kobaran api menyulut. Suasana paling canggung selama pernikahan mereka setelah hampir beratus hari dihabiskan tanpa sapaan, kini mereka harus melewati satu momen yang seharusnya paling membahagiakan di dunia.
Deheman Yoongi merupakan solusi pemecah keheningan. Jimin sontak menatap pemuda itu, masih diam, membuat suaminya menghela napas. "Nyanyikan lagu ulang tahun untuknya."
Oh!
Jimin benar-benar nyaris lupa. Berdehem sejenak guna menghilangkan suara serak, pemuda itu kini siap.
Saengil chukha hamnida
Saengil chukha hamnida
Saranghaneun Min Jungkook
Saengil chukha hamnida…
Keduanya meniup lilin bersama untuk sang buah hati setelah mengucap permohonan masing-masing. Yoongi mengukir senyum melihat pemuda di depannya tampak sangat serius, di sisi lain Jimin malah tertegun dibuatnya. Ini kali pertama ia melihat wajah bahagia sang kepala keluarga Min setelah sekian lama. Membuatnya ikut menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
"Apa permohonanmu?" Yoongi angkat suara, Jimin mendelik, merasa harus merahasiaan permintaannya. Mengerti, Yoongi pun tak memaksa. "Aku punya hadiah untukmu, Jim. Tapi kau harus menutup matamu."
Jimin merasa bingung daripada terkejut, tak berbicara panjang lebar, pemuda itu segera memejamkan matanya. Merasakan sesuatu menggelitik telinga kanannya. "Jangan buka matamu sampai ada tanda." Bisikan Yoongi dibalas sebuah anggukan.
Suara derit kursi diikuti derap langkah menjauh memberitahu Jimin jika sekarang hanya ada dirinya. Terus bersabar, pemuda itu masih terpejam. Menunggu signal dari suaminya sekaligus berharap cepat kembali. Mengingat kini dirinya duduk seorang diri di sebuah resto membuatnya sedikit bergidik.
Tak lama terdengar suara decitan langkah terburu ke arahnya. Mungkin tamu atau pelayan lain datang menghampirinya karena dia bergeming sedari tadi. Namun kenyataan menampar keras saat menyadari udara kosong menyapa, tidak ada gerutuan maupun protes mengudara baik dari pelanggan lain maupun pelayan resto, justru malah ada deritan kursi pelan misterius. Sejauh ini semua aman terkendali. Jimin merasa semakin cemas. Bolehkah dia mengintip? Hanya sedikit?
"Yoongi ya? Kau sudah kembali? Boleh aku membuka mataku sekarang?"
Terjadi jeda beberapa detik, "Boleh~" sampai suara asing menyita perhatian Jimin.
Pemuda itu membuka matanya setelah mendapatkan izin. Membolakan manik kembarnya begitu menyadari sosok mungil sedang duduk menghadapnya. Helai hitam jatuh mengikuti arah gravitasi. Bentuk wajah bulat, mata sipit, dan senyuman manis membuat Jimin mematung.
"Kau menyukai hadiahnya?"
Jimin menoleh ke belakang. Yoongi berdiri tegap, tersenyum ringan seraya menunjuk si mungil dengan ujung dagunya. "S-siapa dia?" Jimin tergagap.
Menyeringai tipis, Yoongi hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban. "Kenapa kau tidak bertanya sendiri padanya?"
Jimin tidak tahu, tapi sesuatu di dalam dirinya merasa ingin meledak tidak sabar atas semua kemisteriusan buatan sang suami. Menatap bocah setinggi perutnya—mungkin, Jimin tersenyum—menahan diri agar tidak keluar terlalu banyak. "S-siapa namamu?" tanyanya mengulang lugu.
"Cihun." Si bocah menjawab cepat. "Min Cihun." Ulangnya membuat Jimin tidak berhenti mengulas senyuman lebar. "Appa, boleh aku makan kuenya sekalang?"
Di detik itu pula Jimin merasa es di hatinya meleleh bersama aliras bening yang telah merembes melalui kedua pipinya. Tepukan tangan Yoongi di pundak membuatnya sadar. Jimin segera mengangguk menjawab pertanyaan anak itu. Si kecil bersorak untuk mengambil potongan cake. Sedang Jimin sudah berdiri, menghambur sebuah pelukan ke dada suaminya.
Jimin ingin meraung sejadinya, melepas semua rasa sesal dan keras kepala yang menghantuinya setiap malam. Menyalurkan kebahagiaan terindah kepada Yoongi melalui rematan kuat di punggung pemuda lebih tua. Tak ada isakan maupun rengekan tapi Yoongi tahu betul apa yang dirasakan Jimin saat ini. Dia melayangkan sebuah kecupan singkat di atas kepala abu-abu jimin untuk menyambut sebuah awal dari kisah panjang keluarga binaan mereka.
.
.
.
FIN
.
.
.
Ekstra scen.
=Cihun=
Jimin tertawa melihat betapa lahapnya sang buah hati menyantap kue, wajahnya sampai belepotan tertutupi cream. Dia berinisiatif mengambil sebuah tisu basah untuk membersihkan wajah si bocah.
"Cihun, Cihun, sini biar appa bersihkan kue di mukamu." Ujarnya lucu.
Anak itu menurut, membiarkan gerakan hati-hati Jimin menyelesaikan kegiatannya. "Telima kasih, appa." Dihadiahi sebuah senyuman manis.
Ah, betapa bahagianya Jimin saat itu, sampai suara Yoongi membuatnya bungkam beberapa menit.
"Jim, namanya Jihun, bukan Cihun, lidahnya masih cadel tapi kau tidak usah ikutan."
.
.
.
=Age=
Jimin membuka berkas pengangkatan Jihun sebagai bagian dari anggota keluarganya. Sedaritadi matanya hanya berhenti pada satu titik, membuat Yoongi sedikit penasaran.
"Apa yang kau lihat?" tanyanya sembari membenarkan gendongan sang buah hati di punggungnya. Mereka bertiga sedang dalam perjalanan menuju parkiran mobil sekarang.
Jimin mengkerutkan alis—lebih serius dari anak SMA yang memilih mata pelajaran ujian UN. "Jadi Jihun sekarang sudah berusia lima tahun." Katanya mengawali, "Jadi dia lebih tua daripada Jungkook, tapi Jungkook hadir di kehidupan kita lebih dulu daripada Jihun."
"Lalu apa yang salah?"
"Tidak ada. Aku hanya bingung apa nanti Jihun memanggil Jungkook dengan sebutan kakak atau adik, ya?"
.
.
.
=Lama=
Pintu rumah terkunci, Jihun sudah ditidurkan ke kamar sementaranya, sedang Jimin masih tidak berhenti memandangi wajah terlelap putra barunya. Tangan Yoongi tiba-tiba melingkari pinggang Jimin, membisik dekat telinga.
"Ayo segera tidur, ini sudah jam 12 malam."
Namun Jimin bersikeras ingin melihat Jihun, menemani bocah itu sampai pagi menjemput. "Tidur saja duluan." Katanya kalem.
Lalu giliran Yoongi yang mulai kumat rasa egonya. "Jim, kau harus tahu keadaanku. Aku sudah lama tidak main kuda-kudaan denganmu."
.
.
.
a/n: Kali ini beneran selesai aka tamat. Kelanjutan kisah mereka silahkan imajinasikan sendiri sesuai keinginan pribadi masing-masih. Akhirnya~! Satu lagi ff multichapter saya tamat, masih ada beberapa hutang ff yang belum lunas, mohon bersabar, ini ujian. Ujian seorang author yang kebanyakan project. Terima kasih yang sudah mengikuti ff ini, bagi mereka yang bersedia meninggalkan review, fav, maupun foll di chapter-chapter sebelumnya, saya sangat berterima kasih. Annyeong~
