.

.

.

this chapter is like 2k words of smut.

karena ini smut, banyak kata vulgar dan mungkin excessive dirty talk, jadi yang kurang nyaman jangan baca...

yg nyaman nyaman aja, selamat membaca!

.

.

.

"Kau yakin membiarkan Jimin bersama Taehyung, hyung?"

Jiyoung berdiri dari kursinya berniat untuk meninggalkan restoran. Kedua tangan dimasukkan dalam saku trousersnya.
"Bukannya kau sendiri yang membujukku untuk melakukannya, Namjoon?"

"Ya, tapi tidak setelah kau mendengar itu."

"Sudahlah. Akan lebih canggung kalau aku melihat Jimin sekarang. Dan seharusnya aku tidak menerima Taehyung sebagai tunangan Jimin dulu, mengetahui dia adalah anakmu," kata Jiyoung sarkas lalu berjalan meninggalkan kedua pasangan Kim tersebut.

Dahi Namjoon berkerut. Jika saja mereka tidak berada di tempat umum, dia bisa saja berteriak pada Jiyoung, karena 'hey, mana kutahu kalau kebiasaanku bisa menurun ke anakku.'

"Jiyoung hyung benar, Joon. Kemesuman Taehyung seperti itu karena dia anakmu," Seokjin beranjak dari tempatnya setelah meninggalkan beberapa lembar uang untuk membayar semua yang mereka pesan dan mungkin jumlahnya terlalu banyak but who cares.

"Hey! Dia kan anakmu juga!"

...

Cengkeraman Jimin semakin kuat pada pundak Taehyung saat lidah yang lebih tinggi semakin dalam mendominasi rongga mulut Jimin. Kedua kaki Jimin melingkar pada pinggang Taehyung. Tangan kanan Taehyung menyelimuti punggung pria mungil yang terus mendesah dipelukannya, sedangkan tangan kirinya berada di pinggul Jimin.

"Ahh~!," desahan merdu itu keluar dari mulut Jimin karena pria berambut merah menggerakkan pinggul agar penisnya yang masih tertutupi oleh kain trousers berada tepat di depan lubang Jimin -oh, pria mungil itu juga masih menggunakan trousersnya- "Taehyung nnhh... jang-ahh! jangan di sini."

Jimin dan Taehyung masih berada di tempat yang sama. Setelah Jiyoung menutup panggilannya, Taehyung segera menyerang tunangannya. 'Bukan salahku kalau tunanganku terlihat sangat menggoda kan?'

Taehyung sedikit menjauhkan wajahnya dari Jimin untuk mengagumi malaikat yang berada di depannya. Bibir yang bengkak, kedua pipi merah, mata yang masih terpejam, Jiminnya terlihat sangatmenggiurkan.

"Baiklah...kita pulang sekarang. Lagipula aku punya sesuatu yang harus kau coba," kata Taehyung yang menekankan pada kata 'harus', membuat kedua bola mata yang dia suka menatapnya dengan tatapan...gugup?

'Tuhan... apa lagi yang direncanakan orang aneh ini?,' batin Jimin sembari menelan salivanya -well, mungkin sedikit menyatu dengan saliva milik Taehyung.

Kedua kakinya terasa lemas saat Taehyung menurunkannya lalu menarik Jimin dengan semangat keluar dari toilet umum tersebut. Wajah tampan Taehyung memang benar-benar cocok dengan seringai yang sekarang menghiasi.

'Kau pasti akan menyukainya, my kitten.'

...

Tentu tidak mudah bagi Taehyung untuk mengendarai mobilnya tanpa tergesa-gesa. Penisnya semakin menegang membayangkan apa yang akan dia lakukan pada pria imut dan mungil miliknya itu. Sulit untuk berkonsentrasi, ditambah dengan Jimin yang duduk di sebelahnya dengan kedua tangan menutupi bonernya yang terlihat menggemaskan itu membuat Taehyung beberapa kali kehilangan fokus.

Keberuntungan sedang berada di pihak pria bermarga Kim itu, dia berhasil tiba di mansionnya tanpa harus mengalami kecelakaan. Taehyung membuka pintu mobil untuk Jimin, dia membiarkan Jimin keluar sebelum mengangkatnya sehingga wajah yang lebih pendek bertemu dengan punggung Taehyung - fireman carry.

"Yaah! Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!"

"Tapi kaki pendekmu itu membuat jalanmu lambat."

"Kakiku tidak pendek, Kim Taehyung!," Jimin terus berusaha melepaskan diri dari tunangan tampannya. Namun, tangan kanan Taehyung sangat erat merangkul paha Jimin.

Taehyung menurunkan - lebih tepatnya 'melempar'- Jimin ke atas kasur. Belum sempat Jimin memarahi Taehyung yang tega melakukan itu, pria yang lebih tinggi langsung menahan kedua tangannya, kedua lututnya pun menahan gerakan Jimin dengan cara meletakkan di atas paha Jimin yang terbuka.
"Nah, sekarang bersiaplah kitten."

Jimin tidak tahu apa yang dimaksud Taehyung, namun satu hal yang pasti, dia harus mematuhi keinginan pria di atasnya. Genggaman tangan Taehyung pada kedua pergelangan tangan mungil semakin erat saat dia menurunkan lututnya dari atas paha Jimin agar dia bisa menggesek penisnya pada milik pria mungil. Membuat Jimin mendesah dengan nada yang sedikit tinggi.

"K-kau menyukainya, hm?," geram Taehyung tepat pada telinga Jimin lalu memberinya gigitan-gigitan kecil. Pinggulnya tidak berhenti bergerak, menciptakan kenikmatan untuk sepasang kekasih tersebut. Semua kenikmatan yang dirasakan Jimin membuatnya hanya bisa menjawab dengan lenguhan dan desahan. Namun, bukan itu jawaban yang ingin didengar oleh Taehyung.

"Mmhh... Ahhk~!," Taehyung menggigit telinga Jimin dengan sedikit lebih kasar. Lalu membiarkan bibirnya tetap pada telinga yang mungil agar dia bisa mendengar desahan yang juga keluar dari mulut Taehyung karena kenikmatan yang juga dirasanya. "Jawab dengan benar, Jiminie."

Suara serak dan berat yang langsung menyapa indra pendengarannya memberi dampak pada penisnya yang sudah mengeluarkan pre-cum.
"Eunngh... Y-yaa, daddy, aku menyukai...nya. S-sangathh."

Taehyung menggerakkan pinggulnya terakhir kali sebelum memisahkan tubuhnya dari atas tubuh Jimin. Kedua matanya mengagumi makhluk yang berada di bawahnya. Dada tunangan imutnya bergerak naik dan turun dalam tempo yang cepat, wajahnya hingga telinganya sudah sangat merah, terlihat lapisan tipis keringat yang juga menghiasi. 'Padahal aku belum melakukan apa-apa.'

"Strip, kitten."

Meskipun dengan kepala yang sedikit pusing - karena semua stimulasi yang dia rasakan - Jimin berusaha untuk menanggalkan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya. Sedikit mendesis saat melepaskan briefsnya. Penisnya yang dari tadi menegang pun 'menampar' perut bagian bawahnya.

"Sepertinya, ada yang bersemangat," Jimin mengangkat kepala, mendapat Taehyung dengan perlahan naik di atas king size bed miliknya. Tentu Jimin dapat melihat benda yang ada di tangan besar milik anak CEO BigHit Ent. tersebut. Sebuah handcuffs berwarna baby blue, cat ear headband dan tail plug berwarna hitam, serta botol lube dengan aroma strawberry. Pandangan Jimin beralih ke wajah tampan Taehyung, mungkin dia akan tersenyum dan bersyukur dalam hati karena memiliki tunangan sepertinya, jika saja mereka tidak dalam keadaan seperti ini, ditambah dengan benda-benda yang sekarang sudah di letakkan di tepi kasur itu. 'Hentikan seringai bodoh itu, Taetae.'

"Daddy membelikan itu untukmu, kitten. Koleksimu bertambah," kata Taehyung sembari mengelus pipi Jimin sayang. Sebenarnya mereka jarang menggunakan sex toys, hanya saja koleksi mereka bisa membuat orang-orang berpikir sebaliknya.

Taehyung mengambil handcuffs berbulu dengan warna kesukaan Jimin dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya meraih kedua pergelangan tangan Jimin dan menyatukannya di atas kepala pria berambut hitam. Dia lalu memasang handcuffs itu. Detak jantung Jimin semakin cepat karena ya, jujur saja dia bersemangat. Nafsu sudah menyelimuti pikirannya, dia akan pasrah dengan apa yang dilakukan Taehyung.

Setelah memastikan handcuffsnya terpasang dengan baik, Taehyung meraih botol lube dan mengeluarkan isinya pada jari-jari panjangnya. Aktor tersebut tersenyum melihat Jimin yang memerhatikan cairan dingin itu mengalir perlahan pada jari-jarinya tanpa berkedip. Pria mungil itu masih bisa terlihat menggemaskan di saat seperti ini. Tangannya beralih pada lubang Jimin, dapat dia rasakan lubang itu berkedut pada tepi jari tengahnya.
"Menginginkannya?"

Jimin menganggukkan kepalanya putus asa. Tangannya menggenggam kuat bantal di atas kepala. Dia merasa seperti pelacur karena lubangnya yang terus berkedut hanya karena sentuhan sederhana. Namun, dia tahu alasan sebenarnya kenapa tubuhnya bereaksi seperti itu adalah karena dia merindukan dan menginginkan Taehyung.

"Memohonlah, kitten," kata Taehyung masih dengan jari tengah yang bergerak melingkar pada lubang Jimin. Tangannya yang bebas mengambil cat ears lalu memakaikan di kepala Jimin. Benar-benar menggemaskan.

" D-daddy! Kumohon...a-aku menginginkan aahh~ jarimu. Eunghh~ Aku ingin merasakan jari-jarimu yang unnhh~ panjang memanjakan dindingku."

Okay, penis Taehyung tersentak di dalam briefsnya - ya, dia masih dalam pakaian yang lengkap. Celana Taehyung terasa semakin sesak. Sejak kapan mulut Jimin jadi sangat 'kotor' seperti itu. Akhirnya, Taehyung memasukkan jari tengahnya ke dalam lubang Jimin.
"Aaa-aahh~"

"That filthy little mouth of yours," kata Taehyung yang terdengar seperti erangan sebelum mengulum kasar bibir plump milik pria dengan kedua tangan yang diborgol.

"Mmhh..."

Tangan Taehyung terus bergerak maju dan mundur membuat jarinya masuk dan keluar dari lubang Jimin yang terasa sangat sempit. Temponya semakin cepat bersama dengan desahan dan erangan yang semakin keras.

"Another one..please ahhh~," jari manis Taehyung ikut masuk ke dalam lubang hangat itu dan melebarkannya agar memudahkan tail plug yang akan dia pakai. Setelah terasa tidak begitu sempit, Taehyung kembali menambahkan jari ketiga, jari telunjuknya.

Ketiga jari-jari Taehyung terus bergerak cepat, mengoyak dan menggesek dinding lubang Jimin. Jarinya pun menumbuk daging kenyal di dalam sana, yang dari tadi dihindarinya agar Jimin dapat bertahan lebih lama.
"Aakkhh~! Ahh! Ahh! Daddy uhhh~!"

Jimin menggerakkan pinggulnya berlawanan arah agar jari Taehyung terus menusuk prostatnya. Dada terangkat dari kasur membentuk busur, kepala mendongak ke atas, saliva yang mengalir deras keluar dari sela kedua bibir plump, pemandangan di bawahnya benar-benar menggoda Taehyung. Dia membuka ritsleting trousersnya untuk membebaskan penisnya yang sangat tegang.
"Fuck..."

Pre -cum yang banyak keluar dari penis Jimin menandakan dia sangat dekat dengan orgasme pertamanya malam itu. Dan dia berniat untuk merasakan orgasme itu secepatnya. Kedua tangan yang diborgol itu beralih ke penisnya, ingin segera menyelesaikannya. Namun, Taehyung dengan cepat menahan tangan tunangannya kembali ke atas kepalanya.
"Kau tidak kuizinkan untuk menyentuh penismu."

"Please...Aku sudahhnn tidak tahan...K-kumohonhh."

Taehyung menggerakkan kepalanya tidak setuju, "baby, you'll cum untouched."

"Tidaak..ah ah aku tidak b-bisa."

"Kau bisa dan kau akan."

Entah apa yang ada dalam suara Taehyung yang membuat tubuh Jimin patuh. Matanya menutup erat saat orgasme pertama menyerangnya. Dan, jari-jari panjang tunangannya hilang dari holenya.

"Euunngh~!"

Taehyung tidak memberikan waktu yang lama bagi Jimin untuk beristirahat. Sesaat setelah pria bermarga Kim itu melepaskan semua pakaiannya dan pandangan Jimin kembali normal, Taehyung memasukkan tail plug ke dalam lubang sensitif Jimin yang tidak membutuhkan waktu lama untuk masuk sepenuhnya. Dan sukses membuat penis pria bermarga Park itu perlahan kembali menegang.
"Ouuh! Daddy~!"

"Turn around, kitten," Jimin mengikuti perintah Taehyung, menungging dengan wajah yang berada di depan penis Taehyung. Ukuran penis Taehyung tentu saja berbeda dengan miliknya. Milik pria berambut merah, lebih besar, panjang, dan berurat. Jimin dapat merasakan salivanya yang memenuhi rongga mulutnya. Dia selalu kagum dengan ukurannya, Taehyung tidak terlihat seperti orang yang memiliki ukuran penis seperti itu. Tangan Taehyung mengelus kepala Jimin yang tidak dihalangi oleh telinga kucing.

"Mau menyentuhnya?"

Jimin menganggukkan kepalanya semangat. Sebenarnya Taehyung tidak menyukai jika Jimin tidak menjawabnya dengan mulutnya-berbicara, namun pria mungil di hadapannya itu begitu menggemaskan dan juga Taehyung ragu dia bisa tahan lebih lama dari ini.

Handcuffs dilepaskan. Tangan mungil Jimin meraih penis Taehyung, jari-jari pendeknya tidak melingkar dengan sempurna pada organ yang sedang dia genggam. Naik dan turun, Jimin menggerakkan tangannya. Pre-cum yang mengalir dari kepala penis Taehyung membuat gerakan tangan mungil menjadi mudah.

"F-fuck...," tangan besar memaksa agar kepala Jimin semakin dekat dengan penisnya. Mungkin jika mereka masih baru pertama kali melakukan ini, Jimin tidak akan tahu apa maksudnya. Namun, bertahun-tahun bersama Taehyung cukup memberikan pengalaman padanya.

Mulut Jimin mengulum kepala penis Taehyung, sesekali mengisap untuk mengumpulkan cairan pre-cum di dalam mulutnya. Tangan Taehyung kembali menekan kepala Jimin agar penisnya bisa masuk lebih dalam. Beruntunglah Jimin tidak memiliki gag reflex yang memudahkan benda besar, panjang dan hangat itu mencapai tenggorokannya. Jari-jari pendek masih melingkar pada bagian penis yang tidak masuk.

"Mulutmu benar-benar ahh...nikmat," Taehyung meraih tail plug yang masih dengan manisnya berada di dalam Jimin. Dia menarik lalu kembali memasukkannya ke dalam Jimin dengan keras, berharap dia menusuk tepat pada prostat Jimin.

Saat Jimin mengerang dengan penis di dalam mulutnya, Taehyung tahu dia berhasil mengenai sasaran. Taehyung kembali mengulang mengeluar masukkan tail plug di dalam Jimin dan terus menerus menyiksa prostat pria mungilnya. Erangan Jimin tentu saja terasa nikmat di sekitar penisnya.

"Shit...terus lakukan itu, kitten, I'm so close..."

Jimin berusaha mempercepat gerakan kepalanya. Stimulasi yang terus diterima pada kedua lubangnya dan gesekan antara penisnya dan sprei membuat tubuhnya bergetar hebat. Dia bisa pingsan karena semua kenikmatan ini. Semen Jimin pun memaksa keluar dari penisnya dan menodai sprei. Desahannya tertahan oleh penis Taehyung yang terasa semakin besar, dan dengan kedutan yang semakin cepat, Jimin tahu sebentar lagi Taehyung akan orgasme.

"Jimin..!"

Cairan hangat dan kental mengalir memasuki tenggorokan Jimin. Namun, jumlah yang terlalu banyak membuat banyak semen yang berhasil keluar dari sudut bibirnya. Jimin menelan semen tunangannya lalu tersenyum sembari menatap kedua bola mata Taehyung yang ternyata melihatnya juga.
"Jimin...kau sangat cantik dengan cumku di wajahmu."

"Eunghh...," Jimin sangat menyukai semua pujian yang dikeluarkan Taehyung untuknya, ya, dia memiliki praise kink. Taehyung mengangkat tubuh Jimin agar duduk di pangkuannya sebelum menyerang bibir Jimin yang sudah bengkak. Mulut pria di pangkuannya terbuka menunggu lidah Taehyung untuk masuk agar dia bisa mengisapnya. Tangan besar Taehyung tidak tinggal diam dia meremas dua bongkahan kenyal lalu salah satu tangannya beralih untuk memainkan kembali tail plug di dalam lubang Jimin.

"Ahh! Akhh...Uuunhh...J-janganhh. Cukup, daddy...Ke-keluarkan ahh~!"

Sedikit membingungkan karena tidak biasanya Taehyung menuruti keinginan Jimin tanpa menggodanya. Tail plug berwarna baby blue itu terlantar di samping kasur. Jimin tentu tidak mengira kegiatan mereka akan berakhir dengan Taehyung yang mengalah. Namun, dia juga tidak siap saat pria yang lebih tinggi mulai menggesekkan penisnya di lubang Jimin.
"Daddy~!"

"Kau tidak berpikir kalau aku sudah selesai kan?,"Taehyung menyeringai.

"Tapi...," Jimin tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Sungguh, penisnya yang berada di antar perutnya dan perut Taehyung, kembali menegang. 'Dasar penghianat.'

"Aku bahkan belum menikmati lubangmu, kitten."

Dengan itu Taehyung langsung memasukkan organ hangat dan besar miliknya ke dalam Jimin.

"Akkhh! p-pelanhh... daddy~!"

"F-fuck...bagaimana bisa...k-kau masih...sempit."

...

Taehyung membuka matanya. Dia tersenyum saat mendapati wajah lelah Jimin, pria yang sangat dia sayangi dan cintai, tertidur dengan menjadikan lengan Taehyung sebagai bantal. Kamar calon CEO BigHit Ent. itu dipenuhi oleh aroma seks. 'Sebenarnya berapa lama kita melakukannya?'

Terlintas sedikit penyesalan, hanya sedikit, karena dia sudah membuat Jimin kelelahan, sangat lelah. Mungkin Jimin bisa pingsan semalam kalau Taehyung masih bersikeras melanjutkan. Bukan salahnya, dia jadi hilang kendali kan? Salahkan Jimin dan kecerobohannya menyebut kata 'Daddy' yang terdengar suggestive.

Meskipun Taehyung menyalahkan Jimin, sebenarnya dalam pikirannya dia berterima kasih, karena kalau itu tidak terjadi dia mungkin tidak bisa melihat wajah Jimin di pagi hari tanpa harus terburu-buru menyingkirkan bukti kegiatan mereka.

Taehyung berkali-kali membayangkannya. Bangun dengan melihat wajah tenang Jimin, mata terpejam, mulut sedikit terbuka mengeluarkan dengkuran halus. Lalu dia akan mengecup kedua kelopak mata itu, kemudian turun ke hidung, dan berakhir pada bibir plump. Membuat mata Jimin perlahan terbuka, saat bola mata indah Jimin menatapnya sayang, dia bisa berkata,

"good morning, love."

.

.

.

FIN

.

.

tapi msh ada chapter bonus untuk perkembangan hubungan taehyung dan jimin + smut (bakal slow update banget tapi), kalau pada minat sih...

jadi...bagaimana smutnya? maaf kalau kurang 'menarik'...ternyata susah nulis smut..

maaf kalau ada typo dan kesalahan grammar/?

oh iya! buat para vminist/? dan vmin authors ayo buat squad sama aku dan gobaek di twitter~!

jangan lupa review, kritik dan saran...