Ghost
.
Kyung Soo
Kim Jong In
Park Chan Yeol
Byun Baek Hyun
And many others
.
Genderswitch, Saeguk,Hasil Imajinasi terlalu tinggi
.
Inspired from Korean drama Arang and The Magistrate and Webtoon Possessed
.
sangjoonpark present
.
Baekhyun meletakkan buku yang dibacanya saat mendengar suara ketukan di pintu kamarnya "Nugu?", senyum manis terulas di wajahnya saat mendengar nama Kyungsoo disebut dari arah luar, "Masuklah"
Membenahi posisi duduknya dan meletakkan bukunya saat melihat Kyungsoo masuk dengan beberapa obat-obatan di tangannya, "Selamat pagi dokter Kyung, semoga harimu baik" menyapa dengan senyum cerah di wajahnya
Kyungsoo balas tersenyum lalu mengambil tempat di hadapan wanita cantik itu dan membongkar obat-obatan yang dibawanya, "Selamat pagi juga nona Byun, boleh aku memeriksa lukamu?" mengangguk lalu mengulurkan lengannya
Memeriksa dengan teliti, sesekali menyentuh daerah di sekitar luka sekedar memeriksa kemajuan penyembuhan kekasih bangsawan Park tersebut, lalu tersenyum sambil membubuhi luka gadis itu dengan dedaunan baru "Lukamu sudah membaik nona, aku rasa nanti sore kau sudah bisa berlatih berjalan"
Membuat senyum lebar tersungging di wajah cantik Baekhyun "Benarkah?, aah aku sangat senang!, terima kasih dokter", Kyungsoo menarik beberapa anak rambutnya yang berantakan ke belakang telinganya dan balas tersenyum
"Dokter Kyung, apa aku boleh bertanya?" membuat pekerjaan gadis itu terhenti, "Aku tidak tahu ini perasaanku saja atau bagaimana, tapi.., tidakkah kau merasa risih dengan rambut panjangmu yang terurai bebas seperti itu?, tidakkah itu menganggu?"
Bertanya dengan nada polos membuat senyum kecil tersungging di bibir hati Kyungsoo, "Ani, karena seseorang akan selalu ada untuk mengepang rambutku, jadi aku akan selalu menunggunya untuk duduk di belakangku dan mengepang rambutku"
Senyum muncul di bibir mungil Baekhyun mendengar jawaban Kyungsoo barusan, "Astaga dokter Kyung kita benar-benar jatuh cinta hum?" membuat pipi gadis itu memerah, tawa kecil keluar dari bibir Baekhyun pada akhirnya
"Baiklah-baiklah kau tak perlu menjelaskannya, semua orang akan mengerti kalau kau sedang jatuh cinta hanya dengan melihatmu saja" godanya membuat bibir hati gadis bermata bulat itu sedikit dimajukan, merajuk, "Nona~"
Tawa puas menguar dengan bebasnya, menambah intensitas rajukan dari gadis dengan peralatan obat-obatan di tangannya, "Geurae geurae, aku menyerah, astaga" mengambil nafas panjang-panjang mencoba mengendalikan tawanya walau gagal pada akhirnya
"Nah berhubung aku sedang tidak ada kegiatan sama sekali, duduklah di hadapanku dan aku akan mengepang rambutmu" Baekhyun menawarkan diri sambil tersenyum manis, namun kali ini Kyungsoo tidak membalas senyumannya
"Bangsawan-bangsawan itu.., tadi mereka melihat bekas lukamu"
"Mulai sekarang rambutmu tidak boleh dikepang lagi"
Mulutnya terkunci rapat tak mampu berkata apapun, matanya berputar gelisah mencari objek pandang lain, otaknya berputar keras mencari alasan masuk akal untuk menolak ajakan Baekhyun barusan, "Kalau tidak mau juga tidak apa-apa, aku tidak memaksa"
Berkata dengan senyum yang begitu rapuh membuat nurani gadis itu sedikit terluka, tapi bagaimanapun dia juga harus mengingat peringatan Jongin, "Um.., aku rasa akan ada seseorang yang cemburu jika kau mengepang rambuku, jadi bagaimana dengan hanya mengikatnya?"
Senyum cerah kembali menghiasi wajah gadis berambut hitam legam itu begitu mendengar tawaran Kyungsoo, "Tidak masalah, ayo sini duduklah di hadapanku dan aku akan mengikat rambutmu dengan sangat cantik, percayalah padaku"
Tersenyum pasrah lalu bergerak perlahan membelakangi Baekhyun, mencoba menahan rasa bersalah yang menggerogoti hatinya, terdiam dengan semua gerakan Baekhyun dengan rambutnya, pikirannya hanya tertuju pada satu orang sekarang, "Jongin, mian"
"Rambutmu bagus sekali dokter, hitam dan panjang, aah aku benar-benar iri" bermonolog yang hanya dibalas Kyungsoo dengan senyum tipis, jemari lentik Baekhyun memilah dan menyatukan helai rambut panjang gadis itu dengan sangat cantik, gerakannya begitu cekatan
Sedangkan gadis yang membelakangi Baekhyun hanya terdiam dengan ekspresi wajah yang tidak dapat diartikan, hatinya terus menggumamkan maaf untuk Jongin dan tangannya tak berhenti meremas chima-nya, pertanda sedang gugup
"Ah dokter Kyung, apa pendapatmu tentang Chanyeol?" Baekhyun bertanya secara tiba-tiba membuat Kyungsoo tak bisa menyembunyikan ekspresi keterkejutannya "Ne?", terkekeh sejenak lalu menata rambut Kyungsoo lagi sebelum kembali bertanya "Apa pendapatmu tentang Chanyeol?"
Kyungsoo tersenyum canggung dan menjawab dengan malu-malu "Kenapa menanyakan hal seperti itu padaku?, ah aku tidak pantas berpendapat tentang tuan Park", Baekhyun menghentikan kegiatannya sejenak untuk menjawab gadis itu "Kenapa kau berpikir kau tak pantas?"
"Aku belum mengenal tuan Park dengan baik, jadi tidak seharusnya aku menilai tuan Park jika aku belum mengenalnya lebih dekat" membuat Baekhyun mengangguk-angguk paham, "Kau baik sekali ya, didikan orang tuamu pasti sangat bagus sekali"
Membuat nafas Kyungsoo seolah berhenti seketika begitu mendengar kata orang tua, lalu tersenyum kecil sebagai tanggapan atas pernyataan Baekhyun barusan, "Lalu bagaimana pendapatmu tentang orang tuamu?"
Pertanyaan Baekhyun barusan seolah melumpuhkan kerja tubuhnya, orang tua ya?, "Nona Byun, kau tahu kan kalau aku tidak suka berpendapat mengenai seseorang jika aku belum mengenalnya dengan dekat?" membuat pergerakan Baekhyun yang mengikat pita di rambutnya itu terhenti
Belum sempat Baekhyun mengeluarkan sanggahan pintu sudah diketuk dari luar, membuat Kyungsoo dengan cepat memalingkan wajahnya dan merapikan rambutnya, namun matanya menyipit tak mengerti ketika berhadapan dengan hantu yang menghilang begitu saja saat mendengar suara ketukan di pintu
Pandangannya mengitari ruangan Baekhyun dimana hantu-hantu itu mulai menghilang satu persatu, membuatnya menatap ke arah pintu dengan pandangan tak mengerti, "Ya masuklah" tanda tanya semakin membesar begitu seorang dayang masuk dengan nampan makanan di tangannya
"Apa itu?" tanya Kyungsoo tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan yang dihidangkan sang dayang di hadapan Baekhyun, membuat semua mata memandang ke arahnya dengan heran, "Aah, jangan salah paham, sebagai dokter pribadi nona Byun aku hanya ingin memastikan"
Dayang itu mengangkat kembali nampannya lalu menatap Kyungsoo dengan pandangan tak suka, "Aku tidak tahu, ketua dayang menyuruhku untuk memberikannya pada nona Byun" menjawab dengan sedikit sinis lalu menunduk sedikit
"Nona Byun akan mulai makan, bisakah anda keluar?" dayang itu menegur dengan ekspresi kesal membuat Kyungsoo tersenyum pahit, "Baiklah kalau begitu, aku akan keluar" lalu mengalihkan pandangannya pada Baekhyun dan tersenyum manis "Selamat menikmati makanannya, aku akan kembali untuk memeriksa keadaan anda nanti siang"
Menutup pintu kamar Baekhyun dengan ribuan dumelan yang menumpuk di hatinya, "Aish dayang itu menyebalkan sekali sih, bisa-bisanya dia mengusirku seperti itu?" namun kembali pikirannya terarah pada kejadian di kamar Baekhyun barusan
"Tapi.., kenapa semua hantu itu menghilang ya?, apa ada sesuatu?, atau ada jimat disana?, tapi kalau memang di kamarnya ada jimat mereka tidak akan berani mendekat" mendesis frustasi tanpa menghentikan langkah kaki mungilnya, "Apa mungkin.."
Perkataannya terhenti saat pandangannya bertemu dengan mata tajam Jongin di ujung koridor, "Apa yang mungkin?" Jongin bertanya sambil berjalan mendekati gadis bermata bulat itu, membuat Kyungsoo tiba-tiba merasa gugup ditatap seperti itu, "B-bukan, bukan apa-apa"
Senyum hangat yang ditujukan lelaki tan pada gadis manis itu lenyap begitu saja begitu sesuatu berhasil menarik perhatiannya, tangannya terulur menyentuh pita kuning yang mengikat rambut gadis itu menjadi satu dengan cantik, membuat Kyungsoo menghindari iris Jongin
"Kau.., menguncir rambutmu?" bertanya dengan lirih membuat Kyungsoo menelah ludahnya, menolak untuk menjawab, Jongin mengarahkan iris kelamnya pada mata bundar sang gadis lalu mengulangi pertanyaannya dengan nada keras "Kau menguncir rambutmu?!"
Nada keras yang keluar dari bibir yang semalam dikecupnya membuat emosi Kyungsoo seolah tak terkendali, "Eo, aku melakukannya!" jawaban menantang dari gadis bermata bulat itu membuat Jongin tertawa meremehkan, "Kau benar-benar cari mati huh?!"
"Ani, aku tidak melakukannya, menguncir rambutku tidak akan membuat semua orang tahu bahwa aku adalah Kyungsoo, sang jembatan komunikasi dengan arwah yang diincar semua orang!" Kyungsoo berkata dengan keras membuat Jongin menatapnya tak suka
Jongin meletakkan tangannya di pinggang, frustasi, "Siapa yang melakukannya?, nona Byun?, ataukah tuan Park?" kali ini Kyungsoo yang menatapnya tak suka, "Aku melakukannya sendiri, wae?, kau tak suka?" menghasilkan tawa meremehkan terucap sekali lagi
"Kau tidak mungkin melakukannya sendiri Kyungsoo, aku tau benar bagaimana dirimu, kau tidak-", "Kenapa aku tidak boleh melakukannya?" memotong perkataan Jongin dengan nada sarkatis, "Ini hidupku, aku berhak melakukan apapun yang ingin kulakukan, kenapa kau malah melarangku?"
Iris kelam itu menatap mata bundar yang juga balas menatapnya dengan tatapan berani, "Kyungsoo, kau lupa?, aku punya kewajiban untuk menjagamu, aku-", "Kenapa repot-repot melakukan itu?, kau hanya merasa berhutang budi pada uang yang diberikan hantu itu padamu kan?, jika tanpa itu kau tidak akan disini dan mengatur-ngatur hidupku seenakmu!"
"Dengarkan aku Kyungsoo!" balas berteriak membuat wajah kedua sejoli itu merah padam menahan amarah dengan nafas yang memburu, "Aku bertanggung jawab atasmu dan semua yang terjadi padamu, kita masuk bersama, maka-", "Siapa yang menyuruhmu melakukannya?"
Gadis itu menabrakkan matanya dengan milik Jongin sebelum kembali berkata "Aku tak pernah menyuruhmu untuk menjagaku atau bertanggung jawab atasku, aku juga tidak pernah menyuruhmu masuk bersama kesini, lalu apa urusanmu?"
Perkataan dingin itu seolah menembus dada Jongin, menghasilkan luka menganga yang besar disana, membuat pria itu mengalihkan pandangannya dan terdiam tanpa bantahan sedikitpun, "Pergilah Jongin, pergilah" gadis itu berkata dengan sangat lirih, "Aku tidak membutuhkanmu"
Bibirnya terkatup rapat, tak berminat untuk sekedar mengeluarkan sanggahan maupun teriakan seperti yang baru dilakukannya tadi, suasana menjadi hening diantara mereka, saling menghindari tatapan mata mencoba untuk tidak menambah kecanggungan
"Dokter Kyung!, dokter Kyung!" Kyungsoo menoleh saat seorang dayang memanggilnya dengan terhopoh, "Ada apa?, apa sesuatu terjadi?" dayang itu mengangguk sambil sesekali mencoba mengatur nafasnya, "Nona Byun pucat dan sedari tadi muntah-muntah, mohon anda segera memeriksanya"
Dengan tergesa berlari ke kamar Baekhyun melewati Jongin yang masih bergelut dengan pikirannya begitu saja, tanpa sekedar melirik maupun memberi senyuman, memperlebar luka di dada pria tan itu, "Kau benar Kyungsoo, aku harus pergi"
Kyungsoo masuk ke kamar Baekhyun dengan terburu-buru, dengan cekatan menggulung lengannya lalu memijat lembut tengkuk Baekhyun, mencoba membantu mempercepat muntahnya, lalu dengan perlahan menidurkan gadis itu kembali di kasurnya
"Pejamkan matamu dan tenanglah nona, kau akan baik-baik saja, atur nafasmu secara perlahan-", "Bisakah kau panggilkan Chanyeol?, hanya dia yang kubutuhkan sekarang" bergumam dengan sangat lirih membuat Kyungsoo mengangguk mengerti, ""Aku akan segera kembali nona"
Berlari menyusuri koridor dengan cepat, bahkan ia tak menyadari Jongin yang baru keluar kamar dengan pedang di pinggangnya, begitupula Jongin tak menyadari Kyungsoo sedang berlari dengan nafas terengah di seberangnya, entah apa yang akan terjadi diantara mereka selanjutnya
Setelah pertengkarannya dengan Kyungsoo pria tan itu berjalan dengan lesu memasuki kamarnya, lalu mendudukkan dirinya di dekat jendela dan menatap pagar luar dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, "Kau.., tidak membutuhkanku lagi kan?"
Menghela nafas berat lalu menyambar pedangnya di meja dan mengalungkannya di pinggangnya, menatap jendela sejenak sebelum kembali berbisik lirih "Aku pergi Kyungsoo, jaga dirimu", lalu melangkah keluar dari pagar yang sedari tadi ditatapnya, dengan puluhan luka menganga di dada
Chanyeol membuka pintu dengan brutal lalu langsung saja duduk di samping Baekhyun yang terbaring lemah dan menggenggam tangannya erat, "Kau kenapa hm?, sesuatu terjadi lagi?" bertanya dengan sangat lembut membuat hati Kyungsoo sedikit berdesir, teringat akan seseorang
Menatap sang kekasih lalu tersenyum manis dan menggeleng pelan "Semua baik-baik saja, aku hanya butuh kau disini, dan semua akan kembali baik-baik saja setelahnya", Kyungsoo menghela nafas dan mengalihkan pandangannya, mencoba menghapus kehadiran seseorang itu di pikirannya
"Dokter Kyung, bisa kau jelaskan apa yang terjadi pada Baekhyun?" pertanyaan Chanyeol membuat kesadaran Kyungsoo kembali, "Aah, sepertinya nona Byun mengalami keracunan, dilihat dari muntahannya sepertinya makanan sudah cukup lama dikonsumsi namun belum dicerna secara baik"
Membuat semua mengerutkan dahinya tak mengerti, "Keracunan?, tapi keracunan apa?, makanan utama bahkan belum dihidangkan" Chanyeol bertanya dengan tangan yang terus mengelus rambut sang kekasih, "Saya rasa sepertinya makanan dikonsumsi sehari sebelumnya tuan"
"Kalau begitu segera, malam ini kita adakan rapat mengenai hal ini, dan dokter Kyung, anda adalah saksi kunci dari segala permasalahan ini" Kyungsoo menunduk paham, mencoba menyembunyikan beberapa fakta yang masih diragukan kebenarannya
Segera setelah gadis itu menutup pintu kamar Baekhyun, Kyungsoo menghela nafas panjang lalu berjalan tanpa semangat, "Hantu-hantu menghilang, nona Byun keracunan, makanan yang dimuntahkan sudah halus, haah semua ini benar-benar membuatku frustasi!"
Tanpa sadar kedua mata bulat itu melemparkan pandangannya pada kamar Jongin, yang tampak begitu sepi dan kosong, terdiam sejenak saat dadanya seolah digelitik oleh sesuatu, membuat air mata menumpuk begitu saja, lamunannya buyar saat setetes air mata jatuh menuruni pipinya
"Astaga kenapa aku menangis, nona Byun akan baik-baik saja" membalikkan badan lalu mengusap air mata di kedua matanya, mencoba menampik fakta bahwa dia menghawatirkan sang pemilik kamar, lalu menghela nafas panjang dan beranjak menjauh
...
Semua orang di dalam ruangan menunduk dalam saat bayangan Chanyeol sudah nampak di depan pintu, Chanyeol menghela nafas sebentar lalu melangkah lebar menuju tempat duduknya, mendudukkan dirinya dengan mata yang sama sekali tak terlepas dari seorang gadis dengan rambut panjangnya yang dikuncir
Kyungsoo mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan sambil sesekali menghela nafas saat orang yang dicarinya sedari tadi tidak ditangkap penglihatannya, "Apa dia benar-benar pergi?" bergumam kecil sambil memainkan tangannya
Pandangannya beralih pada sang bangsawan yang juga tengah menatapnya, membuat gadis itu sedikit terlonjak kaget lalu menunduk sedikit, mencoba memutus pandangan mata mereka, mengangkat kepalanya saat dirasanya bangsawan itu sudah mengalihkan pandangannya
Tangan kanannya beranjak ke belakang kepalanya, mencoba meraih pita kuning yang mengikat rambutnya, lalu menarik salah satu ujungnya, membuat rambut panjangnya kembali tergerai bebas menutupi bekas luka memanjang di lehernya
Gadis itu berdiri lalu menunduk sedikit sebelum mulai berbicara, "Pagi itu aku mengunjungi nona Byun untuk memeriksa keadaannya, tidak ada tanda-tanda luka atau mual, aku mengobrol sedikit dengannya dan aku mengatakan bahwa nanti sore dia akan bisa latihan berjalan"
Mengarahkan pandangan matanya kearah para pejabat yang tampak berbisik-bisik satu sama lain, "Saat aku sedang mengobrol dengan nona Byun, seorang dayang datang membawakan sesuatu, aku tidak tahu apa isinya, saat aku bertanya dia juga menjawab tidak tahu, dia bilang ketua dayang menyuruhnya membawakan itu untuk nona Byun"
Semua pandangan kompak beralih pada ketua dayang yang tampak tenang, menunduk sedikit lalu berdiri, pandangan matanya tampak berani dan seolah tak terkalahkan, Kyungsoo bersumpah dia sempat melihat senyum tipis sang ketua dayang itu saat mata mereka bertabrakan sejenak
"Apa yang dikatakan dokter Kyung itu benar?" wanita paruh baya itu menunduk sebentar lalu menjawab dengan tegas "Ya tuan, itu benar", pembicaraan terhenti sejenak saat pintu utama dibuka dan seorang gadis dengan tangan yang diikat berjalan masuk, Kyungsoo mengenali gadis itu, gadis itu adalah dayang yang mengantarkan makanan untuk Baekhyun sebelumnya
Gadis itu langsung saja berlutut di hadapan Chanyeol dengan wajah penuh air mata "Tuan, tolong aku tuan, tolong aku, aku tidak bersalah, aku tidak melakukan apapun tuan aku mohon", gadis itu ditarik oleh para pengawal untuk didudukkan di kursi di tengah ruang rapat
Kyungsoo seolah tak bisa mengalihkan pandangannya dari dayang muda yang ketakutan dan berlinang air mata di hadapannya itu, air mata tak bisa berhenti mengalir dan gumaman 'aku tidak bersalah' terus terdengar dari bibir dayang itu, membuatnya mengingat masa lalu
...
Pagi itu Kyungsoo sedang berjalan-jalan sendirian di tepi hutan, sesekali matanya terarah pada tumbuhan liar yang menghalangi jalannya, "Eoh?, aah ini tanaman yang kubaca di buku kemarin, wuah aku beruntung sekali bisa menemukannya disini"
Berlari kecil mendekat untuk mengambil tanaman liar di tanah itu, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap tanaman yang diincarnya sudah hancur diinjak seseorang dengan sepatu hitam menyeramkan, hanya dengan melihat sekilas Kyungsoo tahu apa yang harus dilakukannya
Dengan segera berbalik dan berlari secepat yang dia bisa, namun langkahnya terhenti saat seseorang berbaju hitam dengan pedang di tangannya menghalangi jalannya, gadis itu semakin panik saat gerombolan orang berbaju hitam itu mendekat dengan pedang di tangan mereka masing-masing
Mengaduh kecil saat pantatnya mendarat di atas kursi kayu dengan cukup keras, darah mengalir dari pelipisnya dan tangan yang terikat membuatnya bahkan tidak bisa memeriksa apakah pendarahannya sudah berhenti atau belum, terdiam sambil sesekali mengarahkan pandangannya menyusuri ruangan itu
"Kau sudah datang ternyata" terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang, lalu dengan gerakan cepat gadis itu membalikkan kepalanya membuat matanya menangkap pria paruh baya yang tersenyum ke arahnya, oh, senyum yang sudah sering dilihatnya
Pria paruh baya itu mengabaikan tatapan mengintimidasi gadis itu dan membisikkan sesuatu pada pengawal di sampingnya, sesuatu yang sering didengarnya dan sudah diperkirakannya, "Siapkan upacaranya dan lakukan secepat mungkin"
Kyungsoo terdiam menurut, tidak berniat memberontak sedikitpun karena dia benar-benar tahu apa yang harus dihadapinya jika berani memberontak maupun menangis memohon, pukulan, tendangan, bahkan hunusan pedang di leher dan lengannya sudah pernah dirasakannya
Gadis itu menghentikan langkahnya begitu juga para pengawal dan sang bangsawan yang sedari tadi mengikutinya dari belakang, matanya tak beralih sedikitpun dari sesaji di hadapannya, perlengkapan yang disiapkan sang bangsawan baginya
Mengalihkan pandangannya pada sesuatu yang sedang mengawasi di ujung ruangan, oh wajahnya seperti yang dilihatnya di foto keluarga tadi, membuat Kyungsoo menyimpulkan itulah hantu yang harus ditemuinya, gadis itu menatap hantu itu tanpa gentar sedikitpun, lalu mengalihkan pandangannya dan berjalan mendekat ke arah tumpukan sesaji
Menghela nafas panjang sebelum memejamkan matanya dan memulai percakapannya "Apa yang kau inginkan?", "Kau harusnya sudah tahu" menjawab dengan nada sinis membuat sang bangsawan yang memperhatikan mengerutkan dahinya tak mengerti
"Apa yang kau-" perkataannya terhenti saat gadis itu mengangkat tangan kanannya, memberi kode pada sang bangsawan untuk tidak menganggu, "Gadis ini benar-benar.." salah satu pengawal menggeram marah lalu mengeluarkan pedang dari sakunya dan berjalan mendekat
Gadis itu membuka matanya saat dirasanya lehernya bersentuhan dengan sesuatu yang dingin, dan pemandangan yang ditangkap matanya menjelaskan semuanya, pengawal itu menjulurkan pedang panjangnya tepat di depan lehernya membuat beberapa tetes darah menuruni lehernya
Mengarahkan pandangannya pada sang bangsawan lalu menyahut "Aku belum menanyakan apapun, jadi kalau kau ingin membunuhku sia-sia silahkan, aku tidak keberatan" berkata dengan nada datar di tiap katanya, bangsawan itu menahan pengawalnya membuat sang pengawal memasukkan pedangnya dan berjalan menjauh
"Padahal aku berharap kau mati saja tadi" mendecih sedikit mendengar komentar hantu paruh baya dengan luka menganga di bahunya itu, "Bahkan jika aku harus mati disini aku tidak akan mati sendiri" berkomentar dengan nada datar membuat hantu itu tersenyum kecut
"Jadi apa yang kau inginkan dariku anak muda?", "Kau memintaku mengulanginya lagi?" hantu itu sedikit tersentak saat suara keras Kyungsoo sampai ke telinganya padahal dilihatnya gadis itu tidak membuka mulutnya sedikitpun, "B-bagaimana bisa.."
Gadis itu tersenyum kecil sebelum menjawab "Kau tahu sekarang kenapa kau harus mengatakannya padaku?, aku bisa melakukan apapun untuk membuatmu kembali ke dewa langit, jadi jangan macam-macam denganku dan katakan saja!"
Pikirannya kembali ke tempatnya saat mendengar namanya disebut oleh sang ketua dayang "Benar tuan, jika menurut dokter Kyung makanan itu dikonsumsi oleh nona Byun saat makan malam maka itu benar tuan, saya melihat dokter Kyung dan tuan Kim memasuki dapur malam itu"
Kyungsoo menelan ludah ketika kenangannya dengan Jongin muncul di kepalanya "Mohon maafkan aku tuan, tapi aku dan Jongin berada disana saat tengah malam, saat makan malam sudah selesai dihidangkan pada penghuni rumah" membuat ketua dayang menatapnya garang dan Kyungsoo bisa mendengar helaan nafas beratnya
Chanyeol mengarahkan pandangannya pada dayang yang masih diikat di tengah ruangan, "Makanan apa yang kau bawakan untuk Baekhyun?", Kyungsoo bisa melihat mata dayang itu bergetar lalu dengan suara yang juga bergetar dayang itu menjawab dengan pelan, "Bubur kacang merah, tuan"
.
Hello!, sangjoon imnida^^
Ugh mohon maaf untuk update yang sangat lama, karena saya memang benar-benar sibuk sekali di sekolah
Ada event dan saya sebagai ketuanya -hikseu- tapi saya tetap berusaha curi-curi waktu menulis di tengah kesumpekan event
Semoga chapter ini tidak mengecewakan!
Selamat menikmati double update!
Please stay tuned and support me!^^
Selamat membaca semoga suka, jangan lupa reviewnya ya:) ditunggu saran kritiknya
Bagi para silent reader saya tetap cinta kalian kok
Thank you!
DON'T LIKE DON'T READ
