.
.
.
okay..so..halo? maaf udah lama banget gak ngelanjutin fanfic ini...aku juga gak bisa menjamin chapter ini bakal memuaskan...
karena aku merasa bersalah, aku usahain bakal double update karena bonus chapternya aku bagi dua, dan smutnya aku pisah...
maaf sekali lagi..
selamat membaca!
.
.
.
Taehyung berusia delapan tahun ketika dia pertama kali melihat seseorang yang seimut bayi perempuan dalam pelukan ibunya yang dilihatnya kemarin di taman. Matanya menatap bingung ke arah seseorang itu, mulai dari puncak kepala hingga ujung sepatunya.
"Dia…laki-laki cantik atau perempuan tomboy?"
"Namaku Park Jimin, senang bertemu dengan kalian," dengan tangan terlipat di depan perutnya, dia membungkukkan badannya 90 derajat.
"Nah, Jimin kau bisa duduk di sebelah Jungkook," sebelum Jimin bisa bertanya siapa Jungkook itu, seorang laki-laki dengan gigi kelincinya tersenyum ke arah Jimin dan melambaikan tangan.
"Sini! Sini!"
Jimin berlari menuju bangku di belakang Taehyung. Ya, Jungkook duduk di baris belakangnya. Dan tentu Taehyung memanfaatkan itu untuk melirik ke belakang.
"Senang bertemu denganmu Jungkook!"
Dengan suara dan juga senyum yang sekarang menghiasi wajah bayi milik Jimin membuat Taehyung semakin bingung.
"Jadi…laki-laki cantik atau perempuan tomboy?"
Semakin penasaran dia akhirnya memutar badannya menciptakan keributan di kelas, tipikal seorang Kim Taehyung. Seluruh kelas memfokuskan perhatiannya ke Taehyung sebelum terkejut mendengar pertanyaan terkonyol diantara pertanyaan-pertanyaan konyol yang sering dilontarkan laki-laki bermarga Kim tersebut.
"Hei, kamu itu laki-laki cantik atau perempuan tomboy?"
Jimin berusia delapan tahun ketika dia pertama kali diajukan pertanyaan yang sangat konyol. Beruntunglah dia orang yang suka berpikir positif, mungkin karena namaku yang seperti perempuan.
"Jim—"
"Kim Taehyung! Perhatian ke depan, pelajaran akan dimulai!"
Ingin rasanya Jimin tertawa melihat Taehyung yang memutar kembali badannya dengan cepat. Tidak disangka laki-laki konyol di depannya sangat patuh dengan perintah guru.
Saat Jimin hendak mengeluarkan crayonnya, teman sebangku, Jungkook berbisik padanya.
"Jangan pedulikan Taehyung, dia memang aneh dan konyol."
...
Jimin berusia sembilan tahun kurang sebulan ketika dia mengetahui bahwa tidak hanya aneh dan konyol, Kim Taehyung juga menyebalkan.
"Buktikan kalau kamu benar-benar laki-laki."
Sudah hampir tiga minggu Taehyung hanya mengganggunya dengan pertanyaan aneh tanpa menyinggung tentang jenis kelaminnya. Hanya sebatas, "pernah kah kamu mengganti popok kucingmu?" atau "gambar kartun apa yang ada di celana dalammu?" atau "bagaimana menurutmu kalau ikan memiliki kaki dan tangan?"
Entah apa yang membuat Taehyung kembali mengungkit masalah 'laki-laki atau perempuan'. Jimin memilih untuk mengabaikan dan terus mewarnai bukunya.
"Aku yakin kamu bahkan tidak bisa memukul seseorang dengan tangan kecilmu itu."
Oke, sudah cukup. Dengan tangan yang masih menggenggam crayon, Jimin mengepalkan tangan kanan, mengarahkannya ke wajah Taehyung dan tepat bertemu dengan hidung mancung Taehyung.
"Ow!"
"Oww!"
Rupanya bukan hanya Taehyung yang meringis kesakitan, Jimin sambil meniup tangan yang tadi dipakainya untuk memukul Taehyung mulai mengeluarkan air mata. Saat melihat hidung Taehyung yang mengeluarkan darah, Jimin akhirnya menangis terisak.
"M-maafkan J-jimin!"
...
Taehyung berusia sembilan tahun kurang tiga bulan ketika dia pertama kali melihat orang yang memukulnya menangis.
Tangannya meraih beberapa lembar tisu di atas meja guru, memakainya untuk menahan darah yang keluar dari hidungnya dan kembali menuju Jimin untuk menenangkan teman kelasnya itu. Belum sempat Taehyung mengatakan satu kata pun, wali kelas mereka dan segera memeriksa keadaan mereka.
"Astaga! Apa yang terjadi denganmu Kim Taehyung?! ," wanita yang menjadi wali kelas mereka juga memeluk Jimin erat, "Jimin sayang kenapa menangis?"
"J-jimin m-mukul Taehyung," punggung tangan Jimin menghapus air mata yang tidak henti-hentinya keluar, "m-maafkan Jimin.. Jimin j-jadi orang jahat..Jimin salah..."
"Tidak.. Jimin tidak salah.. Jimin hanya membuktikan kalau yang kukatakan tadi salah."
Tisu yang masih menutup hidung Taehyung membuat suaranya terdengar sedikit aneh.
"B-benarkah?"
Taehyung menganggukkan kepalanya dan tersenyum, berharap tisu di hidungnya tidak menghalangi senyumannya. Melihat itu, Jimin segera memeluk Taehyung yang lebih pendek sedikit darinya.
...
Taehyung berusia sembilan tahun kurang tiga bulan ketika dia bersyukur hidungnya mengeluarkan darah dan membuat hubungannya dan Jimin semakin dekat.
Laki-laki bermarga Kim yang baru saja menginjak usia sepuluh tahun itu pertama kali tidak menyukai orang lain ketika melihat teman dekatnya, Jimin, bermain bukan dengan dirinya.
"Hei Jungkook!"
Jungkook dan juga Jimin memghentikan kegiatannya membuat istana pasir saat melihat Taehyung berjalan mendekati mereka. Senyum Jimin sangat indah menyambut Taehyung, namun senyumnya tidak bertahan lama, Taetae…marah?
Taehyung menarik tangan Jimin, membuat pemilik pipi chubby bagai bayi itu hampir kehilangan keseimbangan.
"Jimin temanku, carilah orang lain untuk menjadi temanmu, Jungkook!"
Jungkook hanya memutar matanya malas seakan sudah menebak apa yang akan Taehyung katakan sejak mendengar namanya dipanggil. Dia menepuk tangannya lalu berjalan meninggalkan kedua orang yang tingginya sama itu, tidak lupa dia tersenyum ke arah Jimin.
"Taetae…tapi Jungkook teman Jimin."
Secara otomatis, mata Taehyung membulat mendengarnya. Dia tidak percaya Jimin sudah tidak menganggap Taehyung temannya.
"Jadi…Jimin mau mengakhiri pertemanan kita?," dengan nada sedih dia bertanya.
Taehyung mengubah caranya berbicara kepada Jimin setelah insiden 'hidung berdarah' sekitar setahun lalu. Dan tentu Jimin menyukai hal itu.
"Bukan begitu! Jungkook itu teman Jimin, kalau Taetae itu sahabat Jimin!," senyum Jimin sembari mengatakan hal tersebut membuat ujung-ujung bibir Taehyung juga terangkat membentuk senyum kotak.
"Jimin juga sahabat Taehyung."
...
Jimin berusia sebelas tahun ketika dia pertama kali bertemu dengan orang tua Taehyung.
Untuk kesekian kalinya Jimin menunggu bersama Taehyung. Namun, hari itu berbeda, hari itu pertama kalinya orang tua Taehyung yang menjemput.
"Oh? Siapa anak manis ini?"
Seorang pria dewasa dengan bahu lebar menghampiri Taehyung dan Jimin yang dengan refleks bersembunyi di belakang sahabatnya.
"Kenalkan dia Jimin, sahabatku, Pa," Taehyung tersenyum lebar sembari menarik tangan kanan Jimin untuk mengulurkannya pada Papanya.
"Jimin? Nama yang manis, sama seperti orangnya."
Mendengar pujian tersebut, wajah Jimin memerah. Pada hari-hari biasa, bocah Park itu tentu saja akan memarahi siapapun yang mengatakan sesuatu padanya seakan dia perempuan, seperti 'manis', 'cantik', 'imut', dan lainnya. Namun, entah kenapa mendengar orang dewasa mengatakan hal seperti itu membuatnya malu.
Jimin menundukkan wajahnya ketika Papanya Taehyung menggenggam tangannya. Ketika mereka melepaskan tangan, Jimin mengira dia sudah bisa menghilangkan rona merah di wajahnya, ternyata salah.
"Wah! Sepertinya uri Taehyung pintar memilih teman, Jimin sangat menggemaskan," seorang pria dewasa tinggi, menggunakan kacamata, yang Jimin yakin adalah Papa Taehyung yang lain, ikut memuji.
Ah, lihatlah wajah bocah berpipi chubby itu semakin merah. Seseorang tolong selamatkan dia.
"Eh? Jiyoung hyung?," fokus kedua orang tua Taehyung yang semula ada pada Jimin teralih ke pria dengan setelan jas dan kacamata hitam. Dengan kacamata hitam sekalipun mereka tetap mengenali CEO YGEnt, senior sekaligus rekan bisnis mereka, Kwon Jiyoung. Apa yang Jiyoung hyung lakukan di sini?
"Daddy~!"
Jimin yang segera berlari menuju Jiyoung, dengan segera tuan CEO tersebut mengangkat Jimin dan memberikan kecupan di pipinya. "Daddy lebih cepat menjemput dari biasanya kan? Sesuai janji." Jimin mengangguk lucu, dia sangat senang hingga melupakan apa yang baru saja terjadi padanya.
Kedua orang tua Taehyung tidak lagi menatap bingung, mereka ingat Jiyoung pernah mengatakan bahwa dia mengadopsi anak sekitar tiga tahun yang lalu. Sedangkan Taehyung memanyunkan bibirnya, entah apa perasaan yang dia rasakan yang jelas dia tidak suka ketika ayah Jimin mencium pipi sahabatnya.
Setelah puas menatap anaknya yang menggemaskan itu, Jiyoung mengalihkan pandangannya pada rekannya lalu pada anak mereka. Dia tersenyum.
"Aku tidak menyangka anakku bersekolah bahkan berteman dengan anak kalian, Seokjin, Namjoon."
"Ya, aku juga."
"Dunia memang sempit."
Taehyung berusia sebelas tahun ketika dia melihat ayah Jimin untuk pertama kalinya. Dan mulai saat itu juga, kebiasaan baru muncul. Taehyung lebih sering bermain di rumah Jimin, begitu juga sebaliknya.
...
Di sini lah Jimin berdiri, di belakang sebuah panggung yang berada di dalam gedung indoor. Sejumlah orang menghadiri jumpa pers yang dijadwalkan oleh Tuan Kwon. Tujuan utamanya adalah mengenalkan anak adopsinya pada publik. Jujur saja, bocah Park itu sangat gugup. Meskipun pada umumnya dia orang yang ceria dan mudah mendapat teman, Jimin sering merasa gugup jika harus berhadapan dengan orang dewasa selain ayahnya. "Mereka semua terlalu tinggi", begitulah alasan mengapa dia gugup.
Lima bulan lagi dia berusia dua belas tahun ketika dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang hadir dalam jumpa pers tersebut.
"Tujuanku mengadakan jumpa pers adalah untuk mengenalkan anakku pada kalian... Park Jimin."
...
Taehyung dan Jimin berhasil masuk ke sekolah menengah pertama yang sama. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Mereka seperti kembar tidak identik yang selalu bersama, seakan kedua sahabat itu adalah magnet berbeda kutub yang terus saling tarik menarik.
Taehyung berjalan mengelilingi sofa di ruang keluarga dengan langkah yang begitu semangat. Senyum terus menghiasi wajah tampannya. Anak dari pasangan Kim Namjoon dan Kim Seokjin itu tidak bisa berhenti untuk memikirkan hadiah apa yang akan diberikan Jimin padanya. Ya, malam ini perayaan ulang tahun Taehyung yang ke-12 akan sedikit berbeda dari perayaan sebelumnya. Karena, malam ini Taehyung hanya mengundang Jimin dan ayahnya.
"Duduklah Taehyung, Dada pusing melihatmu," Namjoon menggerakkan tangannya, memberi tanda agar laki-laki bermarga Kim itu duduk di sebelahnya. Karena suasana hati Taehyung sedang baik, dia mengikuti perintah ayahnya tanpa protes satu kata pun.
Namjoon tentu saja menyukai anaknya yang selalu tersenyum seperti ini.
"Kau terlihat sangat senang, Tae."
"Tentu saja, Da! Kali ini hanya ada aku dan Jimin!"
Sebenarnya tidak cukup sulit memahami maksud dari perkataan Taehyung. Namjoon selalu memperhatikan anaknya, bahkan dia dan Seokjin pernah membahasnya sebelumnya. Mereka tahu bagaimana ekspresi Taehyung ketika melihat Jimin bermain dengan yang lain.
Namjoon hanya tertawa kecil mengingat ekspresi lucu anaknya. Tawanya terhenti ketika mendengar suara bel diikuti dengan suara Seokjin.
"Taehyung~! Jimin sudah datang~!"
.
.
.
To Be Continued
.
.
sekali lagi aku minta maaf...
kalau kalian butuh asupan vmin dan uke!jimin lainnya, bisa liat di akun wattpadku (133095z), reading listsnya uke!jimin.
oke! tunggu bonus chapter part 2 ya~!
review ya~! kritik dan saran selalu diterima
