Ghost

.

Kyung Soo

Kim Jong In

Park Chan Yeol

Byun Baek Hyun

And many others

.

Genderswitch, Saeguk,Hasil Imajinasi terlalu tinggi

.

Inspired from Korean drama Arang and The Magistrate and Webtoon Possessed

.

sangjoonpark present

.

Kyungsoo melebarkan matanya tak percaya mendengar ucapan sang dayang barusan, seperti dugaannya, "A-apa?, kacang merah?, Yijin-a, bagaimana bisa kau malah menghidangkan bubur kacang merah bukannya rebusan nanas seperti yang kukatakan padamu?"

Mata dayang muda itu melebar tak percaya mendengarnya, "A-ani, nyonya, kau tidak pernah mengatakan makanan apa yang harus kubawakan untuk nona Byun, kau juga-", "Aku sudah mengatakan untuk bertanya dahulu padaku!, bagaimana bisa kau malah melakukan hal ini?!"

Membuat Kyungsoo yang memperhatikan menyipitkan matanya curiga, tidakkah ini terlalu berlebihan?, semua mengalihkan pandangannya saat sekertaris Yoon berdiri dan menunduk dalam lalu mulai berbicara "Kalau begitu bukankah semua ini sudah jelas tuan?, semua adalah kesalahan dayang ini"

"Tidak tuan, aku tidak bersalah, mohon maafkan aku, aku mohon tuan", ketua dayang itu memalingkan wajahnya dan menahan air matanya "Yijin-a, aku tidak percaya kau melakukan semua ini-", "Tidak!, semua ini tidak benar!, aku tidak bersalah!"

Chanyeol memejamkan matanya mencoba menjernihkan pikirannya sebelum kembali membuka mulutnya "Aku akan biarkan Baekhyun yang memberi keputusan, dia adalah korban yang sebenarnya disini" lalu mengalihkan pandangannya pada Kyungsoo yang menatap ketua dayang penuh selidik

"Kalau begitu rapat hari ini selesai, rapat akan dilanjutkan saat kondisi nona Byun membaik, dokter Kyung, kira-kira kapan nona Byun bisa bersaksi untuk dua kasusnya?" namun yang ditanyai sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari ketua dayang yang tampak shock

"Dokter Kyung?" Sekertaris Yoo memanggil gadis itu sedikit lebih keras, membuat Kyungsoo mengalihkan pandangannya pada Chanyeol, "Aku akan bersaksi" gumamannya membuat ketua dayang langsung menatapnya tak percaya

Gadis bermata bulat itu mengarahkan pandangannya kembali pada ketua dayang lalu menatapnya tepat di matanya, "Aku akan bersaksi untuk kasus nona Byun" ulangnya lagi, membuat keterkejutan nampak di mata ketua dayang, "Ne?" kali ini Chanyeol yang mengulang

Kyungsoo tersenyum tipis lalu mengarahkan pandangannya kembali pada Chanyeol, "Aku sudah tahu siapa pelaku sebenarnya, tapi aku tidak akan bersaksi sekarang" Chanyeol mengerutkan dahinya tak mengerti, "Apa maksudnya-"

"Maafkan aku tuan, tapi aku keputusanku, aku akan bersaksi saat waktunya sudah tepat" menunduk dalam lalu berjalan menuju pintu keluar, namun dua pengawal menghadangnya dengan dua bilah pedang yang disilangkan tepat di hadapannya, menghalangi jalannya

Tidak mengalihkan pandangannya bahkan saat didengarnya sang bangsawan bangkit dari kursinya, "Kenapa tidak kau beritahukan sekarang?" membuat Kyungsoo melirik ketua dayang yang juga menatapnya tajam lalu tersenyum kecil, "Aku masih ingin memberi kesempatan baginya untuk mengaku"

Lalu menerobos begitu saja meninggalkan seluruh ruangan yang berbisik-bisik, Chanyeol menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh dengan kedua tangan yang menggenggam kuat mencoba menahan amarah, tidak, itu adiknya, dan dia hanya perlu bersabar, Kyungsoo tidak mungkin berkhianat

...

"Anak itu semakin ikut campur" sebuah suara berat dari kegelapan menyahut dengan frekuensi pelan, membuat sang lawan bicara mengangguk setuju, "Kau benar, dia bisa jadi awan jika kau hanya membiarkannya begitu saja, dia harus disingkirkan secepatnya"

"Tidak perlu khawatir, aku akan mengeluarkan dua kartu as sekaligus, milikku, dan milik-nya"

...

Angin malam meniup rambutnya lembut saat gadis cantik itu berjalan-jalan di sekitar taman sendirian, "Ternyata kau benar-benar pergi" menghela nafas berat dan memfokuskan pandangannya pada kakinya yang melangkah pada bebatuan

"Siapa yang pergi?" membuat Kyungsoo seketika mengangkat kepalanya cepat, "Eoh, tuan, selamat malam" membungkuk dalam dengan cepat membuat Chanyeol terkekeh sedikit, "Ada apa?, kau ada masalah?" bertanya dengan penasaran membuat yang ditanya hanya tersenyum kecil dan menggeleng

"Tidak ada, aku hanya merasa kurang baik" menjawab dengan senyum canggung di wajahnya membuat sang bangsawan manggut-manggut paham, "Apa boleh aku bertanya?" Kyungsoo menatap pria jangkung itu lalu mengangguk perlahan, "Apa tentang pernyataanku tadi?"

Chanyeol mengangguk membuat Kyungsoo membuat wajah –sudah-kuduga-dia-akan-melakukan-hal-ini lalu menghela nafas panjang sebelum menjawab "Aku akan memberitahunya saat aku merasa tuan sudah pantas untuk mengetahuinya"

Pria itu mengerutkan dahinya tak mengerti "Apa maksudmu aku tidak pantas mengetahuinya?", Kyungsoo menghentikan langkahnya lalu menatap sang bangsawan tepat di matanya, "Aku akan bertanya, kenapa tuan merasa tuan pantas untuk mengetahuinya?"

"Tentu saja karena hal ini menimpa Baekhyun, kekasihku, apa yang salah jika aku mengetahui hal yang berkaitan dengan kekasihku sendiri?" membuat Kyungsoo tersenyum kecil, "Penilaianku benar, anda menyelidiki hal ini sebagai kekasih nona Byun bukan sebagai bangsawan Park"

Sukses membuat Chanyeol terdiam, benarkah dia seperti itu?, "Untuk kasus kuda itu, kau juga bertindak sebagai kekasih nona Byun, bukan sebagai bangsawan Park, kau tidak bertindak seperti seharusnya kau bertindak"

Kyungsoo menghela nafas entah yang keberapa kali lalu tersenyum pada bangsawan tampan di hadapannya, "Bertindaklah sebagai bangsawan Park dalam menyelidiki kasus ini, dan semua akan terbongkar dengan mudah" menunduk dalam lalu beranjak meninggalkan Chanyeol yang larut dalam pemikirannya

...

Gadis berhanbok biru-hijau itu berjalan menyusuri malam sendirian, dengan helaan nafas yang sesekali keluar, mengangkat kepalanya dan menemukan sebuah gazebo, gazebo yang sama dengan gazebo yang menjadi tempat Jongin menciumnya

Mengalihkan pandangannya saat kepalanya kembali dipenuhi dengan Jongin, Jongin, dan segala hal tentang lelaki itu, "Aku yang menyuruhnya pergi, tapi kenapa malah aku yang seperti ini?" memilih untuk berjalan mendekat dan mendudukkan diri di gazebo itu

Menatap bintang yang mewarnai langit malam itu dengan tatapan sendu, "Apa aku membuat keputusan yang salah?" bergumam sambil meraba bibirnya sendiri, merindukan rasa dari ciuman yang diberikan Jongin tempo hari

Lalu tangannya menuju ke dadanya, mencoba mencengkram rasa sakit yang mendera namun sekuat apapun dia mencoba tidak ada perubahan sedikitpun, "Astaga apa yang sebenarnya kulakukan" bergumam sambil menggigit bibirnya menahan air mata yang menetes

Di lain tempat seseorang juga sedang melakukan hal yang sama, duduk di teras dan mengingat saat Kyungsoo pertama kali menggenggam tangannya dan menyelamatkannya dari hantu tempo hari, menghela nafas panjang saat tanpa sadar nama gadis itu kembali berputar di kepalanya

"Haah kenapa aku seperti ini, dia menyuruhku pergi dan sekarang aku pergi, apa yang salah dengan itu?" Jongin mendongakkan kepalanya menatap bintang di langit, Kyungsoo mencebikkan bibirnya kesal, "Eum, dia menyebalkan, kenapa malah pergi?"

Jongin memasang ekspresi sendu lalu berkata "Dia mengatakan padaku untuk pergi, dia juga mengatakan kalau dia tidak membutuhkanku lagi" lalu meletakkan dagunya di lututnya dan bergumam "Kalau begitu apa yang salah?"

Gadis bermata bulat itu mengalihkan pandangannya dari langit malam, "Aku memang membentak dan memarahinya, bahkan menyuruh pergi, tapi tidakkah seharusnya dia menunggu emosiku reda dan bukannya benar-benar pergi seperti ini?"

"Atau mungkin aku memang harus menunggu agar emosinya reda ya?" Jongin bergumam sambil kembali menatap langit, "Tapi apa hanya aku yang harus menunggu?", gadis itu berpikir sejenak lalu kembali menatap bintang

"Benar juga, tidak hanya dia yang harus menunggu, aku juga harus menunggu kan?" lalu tersenyum manis, "Kalau begitu, hanya harus saling menunggu satu sama lain kan?" senyum tipis terulas di bibir sang pria seiring dengan kata yang terucap

Dan begitulah mereka melewati malam mereka.

...

Melenguh pelan sebelum membuka kedua mata sipitnya yang cantik, hal pertama yang dilihatnya pagi itu membuatnya cukup keheranan, seorang pria tertidur di sebelahnya dengan posisi menyandar di tembok dan kepala yang tertunduk dalam menutupi wajahnya

Tangannya terulur perlahan menyentuh bahu pria itu lalu mengguncangnya hati-hati "Ch-chogi", suara halus yang keluar dari bibir mungil itu membangunkan sang pria, dan gadis itu terkejut mengetahui siapa sang pria yang sedang tidur di kamarnya itu, "Chanyeol?, apa yang kau lakukan disini?"

Yang dipanggil hanya tersenyum manis sambil merapikan pakaiannya yang berantakan, "Apa salah jika aku datang untuk memperhatikan seorang gadis cantik yang sedang tidur hm?" bertanya dengan nada menggoda membuat yang digoda tertawa kecil

"Posisimu sangat tidak nyaman, apa lehermu baik-baik saja?" mengulurkan tangannya untuk sekedar memijat leher belakang Chanyeol yang memang terasa kaku di tangannya, "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja" berusaha meraih tangan gadisnya di belakang kepalanya namun gadis itu tetap mempertahankan posisi tangannya

Merasa sang gadis sedang dalam mode keras kepala Chanyeol akhirnya mengambil langkah akhir, dengan cepat dia menjauhkan kepalanya lalu menarik pinggang gadis itu mendekat,membuat sang gadis terpekik sedikit saat mendarat di dada sang lelaki

"Baekhyun-ku yang cantik, sudah kukatakan aku baik-baik saja" tersenyum manis tepat di depan wajah gadisnya yang sedang merona parah karena jarak diantara mereka yang tidak bisa dikatakan jauh, "Kau mengerti?" bertanya lagi dengan nada menggoda

Baekhyun mengalihkan pandangannya menyadari dia mulai terlarut dalam godaan sang kekasih, "Kau menggodaku!" rajuknya, membuat lelaki itu tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan gadis itu, "Tidak kok, kau saja yang terlalu menyenangkan untuk digoda"

Mengembalikan kembali pandangannya pada Chanyeol sebelum menyahut "Bagian mana dari menggodaku yang menurutmu menyenangkan tuan Park?" membuat tawa lepas lelaki itu tak tertahankan, "Kau menggemaskan sekali sih"

Menyesap dan sesekali menjilat bibir sang kekasih gemas, tak menghentikan kegiatan menghisap bibir manis Baekhyun membuat gadis itu memukul bahu Chanyeol pelan, walau beberapa kali Baekhyun terlarut dengan melenguh tanpa sadar

Dikecupnya bibir bawah Baekhyun gemas sebelum akhirnya melepas tautan mereka, membuat gadis yang wajahnya sudah benar-benar merah tak terkendali itu bersembunyi di rengkuhan hangat lengan sang kekasih, "Kau benar-benar menyenangkan untuk digoda sayang"

Kompak menoleh saat mendengar suara ketukan pintu, "Chanyeol-a, ada yang datang, lepaskan aku" bergumam sambil meronta dari pelukan sang kekasih, membuat lelaki itu mengerucutkan bibirnya sebal, "Biarkan saja dia tahu, memangnya kenapa kalau kita berpelukan?"

Pintu dibuka dengan perlahan membuat sosok gadis cantik berambut panjang itu langsung menunduk begitu mengetahui ada Chanyeol di ruangan itu, "Eo, dokter Kyung?, apa sekarang sudah waktunya untuk periksa?" Baekhyun bertanya dengan nada ceria

"Iya nona, sekarang sudah waktunya periksa, dan setelah selesai sarapan akan dihidangkan untuk anda" menjawab dengan senyum di setiap katanya, "Aah, kenapa aku tidak sadar ya?, ish semua karenamu Chanyeol-a" membuat yang dimarahi menoleh tidak terima

"Kenapa malah jadi salahku?" bertanya dengan nada protes yang benar-benar ketara, "Tentu saja, kalau saja kau tidak tidur disini, lalu tidak menggodaku dan mencium-" perkataan gadis bermata sipit itu terhenti saat matanya menangkap raut malu dari Kyungsoo

Berdehem sebentar lalu mengalihkan pandangannya, "Ehm, lupakan saja, dokter Kyung, ayo kita mulai" berkata dengan sedikit gugup lalu mengulurkan tangannya pada Kyungsoo berusaha mengabaikan Chanyeol dan kekehannya

"Aigoo kau benar-benar menggemaskan Baekhyun-a" berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis dengan wajah merah di hadapannya, "Diamlah, dokter Kyung sedang memeriksaku" membuat Chanyeol dan Kyungsoo terkekeh bersamaan

"Keadaanmu sudah membaik nona, kau juga sudah tidak muntah dan pucat, besok anda akan mendapat ijinku untuk berjalan-jalan" membuat senyum Baekhyun seketika merekah lebar, "Benarkah?, aah aku benar-benar bahagia!, terima kasih dokter Kyung!"

Tersenyum lalu mengangguk sebagai balasannya, "Terima kasih juga sudah bertahan dengan kuat nona" membuat Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu, "Aah, omong-omong aku tidak melihat temanmu itu dua hari ini, apa dia sakit?"

Pertanyaan Baekhyun sontak menghentikan pergerakan tangan Kyungsoo yang sedang memeriksa luka di kaki sang gadis, menelan ludahnya berat sebelum menjawab "Anda tahu aku tidak suka memberikan pendapat jika aku tidak mengenal orang itu dengan baik" tanpa menatap si pemberi pertanyaan

"Aah jadi kau tidak tahu keadaannya ya?, padahal sebelumnya aku berpikir kalian benar-benar dekat" Baekhyun bergumam pelan membuat Kyungsoo menggigit bibir bawahnya sedikit mencoba menahan luka di dadanya yang kembali terbuka

"Baekhyun-a" menggeleng pelan memberi kode pada sang kekasih untuk tidak melanjutkan pertanyaannya barusan, membuat Baekhyun mengarahkan pandangannya pada Kyungsoo yang menunduk dalam dengan tangan yang masih sibuk mengganti perban di kakinya

Kyungsoo mengikat perban gadis itu perlahan lalu membereskan peralatannya, "Perbannya sudah diganti, nanti malam nona Byun sudah dapat belajar berjalan secara perlahan, saya sendiri yang akan mendampinginya" tersenyum kecil lalu menunduk

"Baiklah kalau begitu dokter Kyung, terima kasih" Chanyeol menjawab dengan wajah yang tak terlepas dari raut sedih gadis bermata bulat itu, atmosfer ruangan itu berubah dengan cepat seiring dengan sesosok pria berbaju hitam yang berbisik di telinganya 'apakah penjagamu sudah pergi, Kyungsoo?'

...

Mengadahkan tangannya untuk menerima sekantung uang dari sang lawan bicara lalu menimangnya sebentar, "Apa kau yakin ini jumlahnya 1000 nyang?, kalau jumlahnya kurang aku tidak akan mau bertindak"

"Tidak perlu khawatir, aku bahkan menambahkan 200 nyang di dalamnya, dengan uang sebanyak itu pekerjaanmu haruslah sempurna, kau tahu sendiri aku tidak menerima kesalahan" menjawab dengan nada sinis

Sang penerima uang mendesis sebentar lalu menjawab dengan nada yakin "Tidak perlu menghawatirkan hal itu, semua akan berjalan dengan sukses di tanganku, bahkan kematian gadis awan itu" menimang uang itu lagi lalu mengantonginya

Membuat sang pemberi uang tersenyum tipis, "Aku percayakan gadis awan itu padamu, dan aku yakin kau sudah tahu apa yang akan terjadi jika aku menerima kegagalan" sang lawan bicara tersenyum lalu menunduk, "Aku menjaminkan nyawaku untuk itu"

Lalu mereka berpisah di persimpangan jalan, saling menjauh satu sama lain dengan rencana matang yang sudah dibagi satu sama lain, dan senyum tipis yang terulas di wajah masing-masing, membayangkan keberhasilan rencana itu di kepala mereka

...

Sudah tiga hari sejak Jongin memilih pergi menjauh dari Kyungsoo dan segala pikiran tentang gadis itu yang sesekali mampir ke kepalanya, pagi ini pria tampan itu berkutat dengan beberapa tumpuk pedang dan belati yang dijual di pasar

"Agasshi, belati ini dengan yang ini mana yang lebih bagus?" bertanya sambil menunjukkan dua buah belati dengan ukiran cantik di lapisannya, "Aah, dua belati berukiran itu adalah belati pasangan, tidakkah kau baca ukirannya?, 'darah' dan 'jiwa' dua belati itu tidak bisa dipisahkan satu sama lain"

Membuat mata jernihnya memperhatikan tulisan di belati itu yang menarik perhatiannya, "Para pejuang biasanya memberikan salah satu belati ini untuk orang yang berharga untuk mereka sebagai kenang-kenangan sebelum pergi berperang, tapi karena sekarang sudah tidak ada perang, belati ini digunakan sebagai hadiah saja"

"Lalu apa makna dari ukiran ini agasshi?" bertanya sekali lagi dengan tangan yang merasakan halusnya ukiran itu, "Jika seseorang pergi berperang maka mereka akan meninggalkan belati 'jiwa' bagi yang ditinggalkan dan membawa belati 'darah' bersamanya"

Agasshi itu menatap mata Jongin dan melanjutkan "Itu berarti mereka meninggalkan jiwa mereka bersama orang yang ditinggalkan dan pergi tanpa jiwa, yang membuat mereka bisa membunuh musuh dengan belati 'darah' itu, dan membantu mereka memenangkan peperangan"

Jongin manggut-manggut mengerti lalu kembali menatap kedua belati itu, "Ukirannya benar-benar bagus, aku sering mendengar tentang belati pasangan ini tapi belum pernah tahu apa artinya, berapa harganya agasshi?"

Pria itu merogoh kantungnya untuk mengambil uang yang disebutkan si penjual itu, namun tiba-tiba seseorang menyenggolnya dari belakang membuatnya sedikit terhuyung, "Ah maafkan saya, saya sedang terburu-buru, sekali lagi mohon maafkan saya"

"Oh ya, tidak masalah, saya baik-baik saja" Jongin merapikan bajunya kembali sambil tersenyum canggung pada lelaki berbaju kumal yang sekarang sudah kembali berlari menjauh, "Dia benar-benar terlihat terburu-buru"

Menyipitkan matanya saat menangkap sesuatu yang tergeletak di tanah, "Eo?, bukankah ini milik agasshi tadi?" bergumam sambil menjulurkan tangannya untuk mengambil belati yang ada di depan kakinya, lalu memperhatikannya dengan seksama

Mempercepat larinya mencoba menyamakan langkahnya dengan lelaki kumal yang tadi menjatuhkan belatinya, namun langkahnya terhenti di ujung jalan saat tidak mendapati seorang pun disana, "Ini bayaranmu" menoleh saat mendengar suara dari balik bangunan

Berjalan mendekat perlahan tanpa melonggarkan kewaspadaannya sedikitpun, "Apa kau yakin ini jumlahnya 1000 nyang?, kalau jumlahnya kurang aku tidak akan mau bertindak" menyipitkan matanya saat mendengar pertanyaan bernada sarkastis dari balik tembok

"Tidak perlu khawatir, aku bahkan menambahkan 200 nyang di dalamnya, dengan uang sebanyak itu pekerjaanmu haruslah sempurna, kau tahu sendiri aku tidak menerima kesalahan" jawaban bernada yakin terdengar setelahnya. "Tidak perlu menghawatirkan hal itu, semua akan berjalan dengan sukses di tanganku, bahkan kematian gadis awan itu"

Membuat Jongin menajamkan pendengarannya lagi, dia mengenal suara ini, suara yang terdengar familiar di telinganya membuat pria tan itu mengumpulkan keberaniannya untuk mencari tahu sang pemilik suara di balik tembok

Jongin terbelalak mengetahui siapa dalang dari suara familiar yang didengarnya barusan, benar sekali, dia tidak salah mendengar sama sekali, dia tahu orang itu, orang yang berdiri angkuh dengan senyum sinis di wajahnya

Gadis awan?, siapa dia?, Jongin mengerutkan dahinya berpikir, apakah mungkin.., matanya kembali terbelalak menyadari kemungkinan itu, lalu dengan sembarangan melempar belati di genggamannya dan berlari menjauh, secepat yang dia bisa

.

Hello!, sangjoon imnida^^

Huaah chap 11 akhirnya selesai!, disaat kepergian Jongin rencana baru sang antagonis dan sang sosok hitam menghantui Kyungsoo ~

FF ini sudah tamat -di kepala saya- dan saya bahkan belum menentukan apakah happy end or sad end:(

Minta saran boleh?

Mohon maaf atas keterlambatan yang keterlaluan dari FF ini, tapi ini seriusan saya sedang sibuk sekali dan nulis ini nyicil sekali

Minta maaf sekali ya, semoga masih ada yang menunggu FF ini

Please stay tuned and support me!^^

Selamat membaca semoga suka, jangan lupa reviewnya ya:) ditunggu saran kritiknya

Bagi para silent reader saya tetap cinta kalian kok

Thank you!

DON'T LIKE DON'T READ