Disclaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K. Rowlings. Penulis tidak mengambil keuntungan material dalam penulisan fanfic ini
Warning: AU, OOC, OC, slash, typo, etc.
Rating: T
Genre: Adventure, General
Pairing: LMNM, DMHP, etc
THE LOST DRAGON
By
Sky
Draconis Lucien Malfoy adalah anak yang sangat istimewa. Dalam usianya yang baru saja menginjak angka tujuh ia bisa dikatakan sudah memiliki semuanya, dimulai dari orangtua yang sangat menyayanginya, berasal dari background keluarga terhormat, kekayaan yang tak ternilai, serta di atas dari semua itu ia juga berasal dari keluarga penyihir berdarah murni. Bisa dikatakan semuanya seperti mimpi yang terkabul dalam kehidupan nyata untuk anak-anak seusianya, ia memiliki segalanya yang patut membuat iri anak-anak lainnya. Hanya saja kekayaan adalah bentuk materi yang bagi seorang bocah berusia tujuh tahun tak ada artinya, karena pada umumnya anak-anak dalam usia itu mereka hanya akan mementingkan bermain serta ketertarikan pada hal yang tak nyata.
Meski Draco itu bisa dikatakan sebagai anak yang beruntung, maupun anak normal yang memiliki ketertarikan pada sebuah permainan seperti yang lainnya, ia itu bukanlah anak yang biasa. Bukan karena ia berasal dari keluarga penyihir berdarah murni maupun sihir selalu mengelilingi hidupnya sejak ia bayi, ia bisa dikatakan tidak biasa karena ketertarikannya akan suatu hal tidak normal. Draco menyukai api, ia suka akan sebuah ledakan serta menghancurkan sesuatu yang ia lihat dan katakan menarik untuk dibakar. Baik Lucius maupun Narcissa tidak tahu darimana ketertarikan anak itu bermula, namun yang jelas setelah ulangtahunnya yang keempat, Draco suka sekali membakar sesuatu sampai benda yang ia bakar tersebut hanya menyisakan abu saja.
Salah satu korban yang sering sekali Draco bakar untuk dijadikan kesenangan adalah beberapa pohon besar yang tumbuh di taman rumah besar keluarga Malfoy. Entah bagaimana caranya Draco bisa mengambil tongkat sihir milik Lucius maupun Narcissa, anak itu pasti menggumamkan incendio dan membakar habis pohon besar yang tumbuh di sana. Dan meskipun Narcissa kembali menanam pohon tersebut serta menggunakan sihir untuk melindunginya, Draco berhasil membakarnya berkali-kali banyaknya sampai Narcissa berpikir kalau Draco memiliki sebuah dendam sama pohon tersebut. Selain pohon besar yang menjadi sasaran ulah Draco, ia juga hobi meneror peri rumah dengan memberikan ledakan pada teko teh ketika peri rumahnya tengah menyajikan teh.
Draco bukanlah anak yang nakal karena ia tak pernah mengolok-ngolok maupun memberikan komentar buruk kepada orang lain, namun hobinya yang aneh itu membuatnya sering dijuluki sebagai anak nakal meski baik Lucius dan Narcissa tak pernah mempermasalahkannya.
Pyromania adalah istilah dari para muggle untuk menggambarkan kondisi Draco, namun Lucius yang tak menyukai istilah itu tak menganggap ketertarikan putera sematawayangnya itu aneh, meski Lucius sendiri tahu kalau hobi sang anak yang suka membakar pohon serta memberikan ledakan di sana-sini terkesan tidak lazim untuk dimiliki oleh anak-anak seusianya. Menurut Lucius yang berada dalam katageri penyangkalan, Draco itu kuat karena diusianya yang baru menginjak usia tujuh tahun tersebut mampu menggunakan mantera incendio yang terkadang orang dewasa sendiri susah untuk mengaplikasikannya dengan sempurna.
"Bombarda Maxima!" dan Lucius yang tengah bermonolog ria pun langsung terlonjak kaget saat ia mendengar suara Draco mengucapkan matra sihir berbahaya sebelum ledakan yang lumayan besar pun terjadi, sepertinya anak itu lagi-lagi meledakkan taman milik Narcissa.
"Morgana, Draco," Lucius menghela nafas singkat ketika ia mendengar kerusuhan yang dilakukan oleh putera satu-satunya tersebut. Ini sudah yang ketiga kali anak itu membakar dan meledakkan taman milik Narcissa. Kalau saja Lucius tidak tahu akan sifat puteranya tersebut, ia pasti akan menduga kalau Draco memiliki dendam pada taman itu sehingga ia memiliki niat untuk menghencurkannya berapa kali pun ia dan Narcissa memperbaiki tempat tersebut.
Berdiri di hadapan pohon yang terbakar adalah penerus dari keluarga Malfoy. Ia melihat bagaimana api yang ia buat setelah meledakkan pohon yang baru saja Narcissa perbaiki itu membumbung tinggi, berwarna oranye sedikit putih serta memberikan aura panas yang begitu mencekam. Besarnya api itu membuat anak kecil yang baru saja menginjakkan usia pada angka tujuh tersebut terpana, bahkan sedikit aneh ketika mereka semua bisa melihat bagaimana kedua mata silver kebiruannya berkilat pelan kala ia menatap api besar tersebut. Hasrat untuk melihat api, membakar apapun yang ia sentuh, serta menghancurkannya menjadi berkeping-keping sudah berada dalam dirinya sejak malam ulangtahunnya yang keempat terjadi.
Ibunya berkata kalau api itu sangat berbahaya dan ia tak boleh bermain api baik itu secara nyata maupun harfiah saja, namun ia tak memiliki pengendalian diri akan hasratnya sendiri ketika ia melihat api. Tangannya selalu gatal ingin mengambil korek api maupun tongkat sihir kedua orangtuanya untuk membuat api, baik secara muggle ataupun menggunakan sihir ia tak peduli asalkan Draco bisa melihat api. Pada usianya yang ketujuh tahun ini ia tahu kalau kebiasaannya itu tidak baik, mungkin kata yang pas adalah aneh serta tak wajar untuk dimiliki oleh orang, terlebih anak kecil seperti Draco Malfoy ini. Pernah sekali ia menahan dirinya untuk tidak membuat ledakan, namun usahanya ini hanya bertahan paling lama selama dua jam sebelum dirinya mengambil korek api yang ia sembunyikan di bawah bantalnya dan membakar kebun bunga mawar milik ibunya, untuk yang kesekian kalinya. Kesimpulannya, apapun usaha yang Draco lakukan untuk mencegah hasratnya untuk membakar pasti selalu menemui kegagalan, oleh karena itu ia pun tak lagi melakukannya.
"Api itu terlihat sangat indah, begitu kuat dan juga berbahaya," gumam anak itu pada dirinya sendiri.
Melihat api yang membara di hadapannya itu tiba-tiba membuat Draco teringat pada sebuah api cantik yang membakar sebuah ruangan besar di dalam kastil, ia melihat bagaimana dirinya bersama seorang pemuda terbang di atas sapu sihir untuk menghindari api itu sebelum mereka berdua mampu dikonsumsi oleh dahsyatnya lidah api abadi. Adrenalin yang terpacu, bau kekuatan api membuat tubuh Draco merinding, dan anak itu pun langsung memegang kepalanya dengan tangan kanannya saat bayangan aneh tersebut muncul di dalam kepalanya. Ini aneh, ia tak pernah pergi ke dalam kastil yang terbakar maupun bertemu pemuda berambut hitam itu, bagaimana bisa ia mendapatkan bayangan seperti itu?
"Sial, itu pasti mimpi aneh yang sering kulihat. Dan hebatnya sekarang muncul secara tiba-tiba," runtuk Draco dengan nada sedikit sarkatis di dalamnya.
Anak itu mengambil nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya seraya memejamkan kedua matanya. Seiring hasratnya untuk melihat api muncul, ia pun juga mendapatkan mimpi yang aneh. Ia melihat perang, ia melihat bagaimana dirinya memiliki peran penting di sana, ia pun juga melihat dirinya sendiri membunuh beberapa orang yang menjadi musuhnya dengan sadis. Dirinya yang terlihat di dalam mimpinya itu adalah Malfoy yang berusia belasan tahun, begitu sombong, serta menebarkan teror di mana-mana di bawah asuhan sang Pangeran kegelapan. Di dalam mimpi itu Draco melihat bagaimana dirinya masuk menjadi murid asrama Slytherin, dan ia pun juga ingat bagaimana kedua orangtuanya tidak memiliki ikatan khusus seperti yang orangtua Draco sekarang miliki. Mereka menikah karena perjanjian keluarga, bukan karena cinta yang terjadi di antara mereka. Apa yang Draco lihat di dalam mimpi dan apa yang terjadi sekarang ini sangatlah berbeda, dan Draco sangat yakin kalau apa yang ia lihat dalam benaknya ini adalah mimpi yang tak bisa terjadi di kehidupan nyata.
Kedua orangtuanya, Lucius dan Narcissa Malfoy, adalah pasangan yang menikah karena cinta di dunianya. Mereka memiliki ikatan kuat yang dinamakan soulamte dan sangat jarang ditemui oleh orang manapun di dunia ini. Meski di mata publik mereka selalu bertingkah seperti keluarga sempurna dengan sifat dingin mereka, namun di belakang publik mereka adalah dua orang bodoh yang saling mencintai satu sama lainnya. Bahkan kalau Draco boleh berkata, dirinya dan sang Ayah hobi melakukan gulat antara Ayah dan anak di waktu luang Lucius, maupun bermain bersama-sama kalau mereka memiliki kesempatan. Di dalam mimpi Draco melihat dirinya mencintai kedua orangtuanya, namun mereka tak pernah bertingkah hangat seperti apa yang terjadi sekarang ini. Semuanya adalah mimpi, bunga tidur yang tidak penting dan tidak seharusnya mempengaruhi pendirian Draco karena semua itu tak nyata. Ia mengelak dan meneriaki dirinya yang bodoh karena menganggap apa yang ia lihat benar-benar terjadi, padahal itu semua tak lebih dari mimpi belaka.
Tapi, entah mengapa aku memiliki perasaan kalau apa yang aku lihat seperti bukan mimpi belaka saja. Tapi sebuah kenyataan masa depan yang terjadi di dunia lain yang begitu berbeda dari tempatku tinggal ini, pikir Draco yang menyangkal akan perintah akal sehatnya. Kepalanya menjadi semakin pusing bila memikirkan hal itu, ia hanyalah anak kecil yang berusia tujuh tahun dan tak seharusnya memiliki pemikiran-pemikiran dewasa seperti itu. Jadi tak heran kalau dalam beberapa tahun terakhir ini Draco telah hidup dalam sebuah penyangkalan.
Merasa sedikit kesal akibat pikirannya sendiri tengah mempermainkannya, Draco pun mengarahkan ujung tongkat sihir milik sang Ibu yang ia 'pinjam' ke arah pohon yang terbakar di hadapannya itu sebelum bibirnya menggumamkan sebuah mantra peledak yang pernah ia baca di buku serta ia lihat di dalam mimpinya.
"Bombarda Maxima!" dan ledakan besar pun terjadi, mengguncang kediaman besar keluarga Malfoy.
Kilatan penuh ketertarikan pun terbaca dengan jelas pada kedua matanya, bahkan secara jelas pula Draco memiliki senyuman di wajahnya ketika ia menciptakan sebuah ledakan hebat yang mengakhiri hidup pohon besar yang ada di hadapannya dengan asap serta api masih membumbung tinggi. Ia menghiraukan bagaimana para peri rumah yang bekerja pada keluarga Malfoy berbondong-bondong keluar serta mencoba untuk memadamkan api besar itu, yang jelas Draco hanya berdiri di sana tanpa melakukan apapun dengan senyum kecil terpatri di wajahnya.
Mungkin beberapa peri rumah yang tengah memadamkan api itu memiliki pemikiran betapa anehnya anak keluarga Malfoy ini, namun yang jelas asalkan mereka tidak menjadi sasaran Draco maka mereka pun tak akan merecoki hal tersebut. Mereka membiarkan bagaimana Draco masih berdiri di sana, melihat api yang ia buat sendiri dengan tongkat sihir milik Narcissa masih tergenggam di tangan kirinya.
"Draco!" suara Lucius dari kejauhan pun mencuri perhatian Draco, membuat anak kecil yang menginjak usia tujuh tersebut menoleh pada kepala keluarga Malfoy yang menghampirinya. "Apa yang kau lakukan dengan tongkat sihir Ibumu? Kau harus segera kembali ke dalam rumah, api besar seperti itu sangat berbahaya!"
Mereka berdua tahu kalau ucapan itu tak ada artinya untuk Draco, bahkan mereka pun tahu kalau Lucius berada dalam penyangkalan kalau tersangka pembakaran serta perusakan taman milik Narcissa adalah putera mereka satu-satunya, melihat Draco sendiri tak berusaha sedikit pun untuk menyembunyikan tongkat sihir milik Narcissa yang tengah ia genggam tersebut. Anak laki-laki berambut pirang platinum tersebut memberikan senyuman lugu kepada sang Ayah, bahkan tak jarang ia pun kembali melihat ke arah puing-puing pohon yang masih dipadamkan oleh para peri rumah dengan tatapan penuh kegembiraan.
Lucius merasa kepalanya sedikit pusing karena itu semua, dan ia membutuhkan firewhisky untuk membuatnya baikan.
"Aku hanya ingin melihat betapa indahnya api yang aku buat tadi, tidakkah Ayah menganggap demikian?" Tanya Draco dengan nada yang sangat lugu, kedua matanya pun berpaling untuk menatap sosok Lucius lagi. "Karena aku sudah selesai dengan kesenanganku, ayo kita kembali ke dalam rumah, Ayah."
Draco tidak perlu menjadi seorang yang jenius untuk mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Lucius. Kentara sekali kalau Lucius sudah menyerah untuk menangani hobi aneh Draco tersebut, dan karena ia tak ingin bertambah tua sebelum waktunya tiba ia pun langsung menggiring Draco untuk masuk ke dalam rumah bersamanya, tentu saja setelah Lucius mengambil tongkat sihir milik isterinya dari tangan mungil sang anak.
"Draco, bagaimana kau bisa mengambil tongkat sihir milik ibumu?"Tanya Lucius saat ia menggandeng tangan Draco ketika mereka berdua berjalan memasuki rumah besar tersebut.
Anak kecil yang bernama Draco Malfoy itu menoleh ke arah sang Ayah dengan senyum kecil terpatri di wajah imutnya. "Aku mengambilnya dari dalam lemari Ibu."
Jawaban singkat yang Draco lontarkan itu membuat Lucius berhenti berpikir untuk beberapa saat lamanya sebelum ia menoleh ke arah Draco.
"Kau tahu kalau lemari pakaian milik Ibumu disegel oleh sihir dan hanya Ibumu saja yang bisa membukanya 'kan?" Tanya Lucius lagi, sedikit tertarik dengan bagaimana caranya anak itu mampu mengambil tongkat sihir milik Narcissa yang ia ketahui tersimpan dalam lemari pakaian sihir, hanya Narcissa sendiri yang mampu membuka lemari itu.
"Benarkah, Ayah? Pantas saja lemari tersebut susah sekali untuk dibuka dengan cara biasa," jawab Draco, kedua mata silver kebiruan miliknya terlihat begitu teduh kala keduanya sudah memasuki rumah kediaman mereka bersama dengan sang Ayah yang masih menggandeng tangannya. "Untung saja aku tahu bagaimana cara membuka lemari yang disegel menggunakan sihir dari buku milik Severus yang tertinggal di sini. Aku menggunakan kombinasi cara muggle dengan cara penyihir untuk membukanya, mengutak-atik segel serta memberikan sihirku sebagai umpan. Dan detik berikutnya lemari tersebut terbuka dengan lebar."
Lucius terlihat tengah berpikir keras, ia tak tahu harus merasa bangga karena Draco mampu menggunakan manipulasi sihir dengan baik meski harus membedah isi lemari milik Narcissa atau malah sebaliknya karena anak itu juga menerapkan cara muggle. Apapun konflik batin yang tengah Lucius miliki, ia merasa anak laki-laki satu-satunya itu memang jenius di usianya yang masih sangat muda, meski Draco memiliki hobi aneh karena suka bermain api. Kalau ia menanggapi kelakuan Draco secara serius, ia akan tua sebelum usianya mengijinkannya.
Melihat Ayahnya yang tak mampu berkata apapun untuk beberapa saat lamanya membuat Draco menaikkan alisnya, di dalam benak Draco dimana mimpinya berada ia merasa sangat bangga karena mampu membungkam Lucius Malfoy secara telak, namun di sisi lain yang paling dominan yaitu dirinya yang masih anak-anak mengelak akan hal itu dan malah menemukan sisi diam Ayahnya ini sangat aneh. Oleh karena itu tak heran Draco langsung menarik sang Ayah dimana ia tahu Narcissa tengah berada. Mereka berdua pun menuju ke ruang minum teh dimana Narcissa tengah bersantai sambil membaca buku, kelihatannya sudah tak terlalu peduli dengan keributan yang Draco lakukan karena itu sudah biasa terjadi.
Melepaskan genggamannya dari Lucius ketika mereka sampai di ruangan tersebut, Draco pun membuka pintu sebelum dirinya masuk ke dalam. Dari sudut matanya Draco menemukan sosok anggun Narcissa tengah duduk di salah satu kursi dengan sebuah buku berada di atas pangkuannya, di hadapan wanita itu Draco juga melihat teko teh yang terbuat dari porselain berada di atas meja bersama dengan secangkir teh yang mengepul di sana.
"Ibu..." panggil Draco sebelum anak itu berjalan memasuki ruangan dan beranjak untuk mendekati sosok anggun Narcissa.
Mendengar namanya dipanggil oleh satu dari dua orang favoritnya tersebut membuat Narcissa pun mendongakkan kepalanya. Senyuman manis pun bertengger di bibirnya sebelum ia membentangkan kedua lengannya setelah ia meletakkan buku yang tadi ia baca di atas meja, untuk menerima pelukan yang Draco berikan setelahnya.
"Hallo, Draconis, apa kau cukup bersenang-senang siang ini?" Tanya Narcissa dengan kalem, kedua lengannya memeluk sosok sang anak dengan erat sebelum ia mengusap puncak kepala Draco dengan penuh kasih sayang.
Melihat ekspresi yang tertera pada wajah Lucius serta senyum lebar Draco sudah mampu membuat Narcissa untuk menebak apa yang terjadi di sana sebelumnya. Mendengar kegaduhan yang ada di luar saja sudah menjelaskan semuanya, ditambah dengan ekspresi penuh lelah yang Lucius berikan padanya beserta senyuman lebar Draco membuat Narcissa tak perlu berpikir dua kali untuk menebaknya. Satu hal yang pasti, Draco pasti membakar habis pohon yang ada di tamannya sementara para peri rumah yang terlihat panik langsung memadamkan api tersebut.
"Kau mengambil tongkat sihir milik Ibu lagi," ujar Narcissa dengan sabar.
Narcissa mengendurkan pelukan yang ia berikan kepada Draco, namun ia membiarkan sang anak bersandar pada pangkuannya untuk beberapa saat lamanya. Dari sudut matanya ia melihat ekspresi Draco yang sedari tadi diliputi oleh kegembiraan kini tergurat oleh ekspresi merasa bersalah.
"Maafkan aku, Ibu," gumam Draco dengan suara lirih. Anak itu pun membenamkan wajahnya pada pangkuan Narcissa kemudian, ia ingin merasakan kehangatan yang sang Ibu berikan.
Dengan tangan yang masih mengusap puncak kepala pirang platinum milik Draco, Narcissa pun tersenyum kecil.
"Tak apa, Draconis. Ibu tahu kalau lemari sihir saja tak akan mampu menahanmu untuk tidak mengambil tongkat sihir milik Ibu. Hanya saja aku sedikit penasaran bagaimana kau bisa mengambil tongkat sihir milik Ibu di dalam lemari itu?" Tanya Narcissa dengan nada yang mengisyaratkan kalau ia memang penasaran, ia pun menatap sosok Draco yang masih belum beranjak dari pangkuannya sebelum beralih pada Lucius yang kini tengah duduk di hadapan Narcissa, tongkat sihir milik wanita itu sekarang berada di atas meja.
"Dengan sedikit keberuntungan," sahut Draco singkat, ia pun memberikan senyuman lugu kepada sang Ibu yang mengakibatkan wanita itu mengerjapkan kedua matanya.
Balik memandang Lucius, Narcissa menemukan suaminya memutar kedua bola matanya dengan bosan. Wanita itu bukanlah orang bodoh untuk tidak menyadari kalau ucapan Draco tersebut hanya setengah benar, mengandalkan keberuntungan saja tak akan mampu membuka lemari pakaian miliknya karena Narcissa sudah menyegelnya menggunakan sihir rumit. Satu-satunya penjelasan yang ia miliki adalah Draco tahu caranya memanipulasi sihir sehingga ia bisa membuka kunci lemari pakaiannya, hanya saja penjelasan dari teori yang Narcissa miliki sedikit sulit untuk ia terima.
Draco masih kecil, ia belum masuk sekolah sihir untuk mengetahui caranya memanipulasi sihir. Pasti ada penjelasan yang masuk akan untuk menjelaskan semua ini.
Menghela nafas kecil, Narcissa pun menggelengkan kepalanya. "Baiklah, dengan keberuntungan yang besar kau bisa membuka lemari milik Ibu yang tersegel oleh sihir untuk mengambil tongkat sihirku," Narcissa mengulum senyum seraya mengikuti alur permainan Draco. Ia menghiraukan bagaimana Lucius yang terbatuk-batuk di sana karena mengetahui isterinya malah ikut bermain dengan sang anak. "Lalu apa yang kau lakukan dengan tongkat sihir milikku, Draconis?"
Draco mengendikkan bahu kecilnya secara kasual, ia pun segera berdiri dari posisinya bermanjaan di pangkuan Narcissa untuk mengambil tempat duduk di antara Narcissa dan Lucius di meja bunda tersebut. Kedua tangannya terlipat di atas pangkuannya seraya kedua matanya tersebut menatap Narcissa dengan serius, seolah-olah ada sebuah berita penting yang ingin ia sampaikan kepada sang Ibu.
"Aku menggunakan tongkat sihir Ibu untuk membuat taman depan menjadi lebih menarik," jawab Draco dengan serius.
Baik Narcissa dan Lucius saling berpandangan dengan satu sama lainnya, mereka mencerna kata "menarik" yang Draco lontarkan tadi. Bila membakar taman serta meledakkannya memiliki arti sebagai kata "menarik" dalam perbendaharaan kata Draco, maka keduanya meragukan kalau anak mereka memang tidak unik. Draco adalah anak yang sangat unik, jenius namun unik. Tapi orang jenius mana yang tidak memiliki keunikan tersendiri di dalam diri mereka?
Ambil contohnya dengan Merlin, ia adalah penyihir yang jenius dan terkuat pada zamannya, namun dia memiliki kebiasaan unik yaitu terobsesi mengumpulkan benda-benda muggle serta tergila-gila dengan cerita anak-anak. Lalu Albus Dumbledore, semua orang tahu kalau penyihir tua yang kini menjadi kepala sekolah Hogwarts itu adalah orang yang sangat kuat serta jenius, namun dia begitu unik dalam hal berbusana serta tergila-gila mengonsumsi manisan aneh. Semua orang jenius memiliki kebiasaan yang unik, dan mengingat fakta ini pasangan keluarga Malfoy tersebut semakin mengkhawatirkan nasib putera mereka satu-satunya. Dan jangan lupakan masa depan mereka juga.
"Baik, itu tadi sangat menarik," imbuh Lucius, ia sudah pasrah dengan sifat aneh atau unik milik Draco. "Dan Narcissa, ia mampu menggunakan mantera peledak tingkat kedua. Itu membuatku sedikit terkejut."
"Benarkah itu, Draconis?" Narcissa tampak terkejut mendengar apa yang Lucius beritahukan padanya. Anak mereka memang unik karena menyukai api dan ledakan, namun mereka tak tahu kalau Draco mampu menggunakan mantera peledak level kedua yang bernama Bombarda Maxima. Meski mereka akan jauh lebih senang kalau Draco tidak meledakkan apapun, namun mereka bangga pada Draco karena diusianya yang masih muda itu tidak hanya Draco bisa membobol lemari sihir milik Narcissa namun ia mampu menguasai sihir pemanggilan api serta dua level sihir peledak. Benar-benar anak unik yang Narcissa dan Lucius miliki.
"Iya, kurasa menggunakan mantera peledak level dua itu jauh lebih menarik daripada yang level pertama. Aku ingin bereksperimen bagaimana keindahan level dua itu dibanding yang pertama, harus aku akui kalau mantera sihir peledak level kedua jauh lebih indah," kata Draco dengan penuh semangat di sana. "Ayah, Ibu, boleh aku meminta sesuatu dari kalian?"
Anggukan kecil pun diberikan oleh kedua orangtua Draco, mereka memiliki firasat buruk karena ini.
Senyuman yang terpatri di wajah polos Draco pun bisa dikatakan semakin melebar setelah melihat bagaimana kedua orangtuanya memberikan anggukan. Ada satu hal yang ingin ia miliki selama ini.
"Aku ingin jalan-jalan ke dunia muggle, ada beberapa buku yang ingin aku baca hanya ditemukan di sana. Bolehkah?"
Dan permintaan yang Draco lontarkan itu sontak membuat Lucius tersedak teh panas yang ia minum sementara Narcissa membelalakkan kedua matanya. Anak mereka berdua itu sungguh unik, baik itu dari sifat maupun permintaannya. Semua terkesan aneh-aneh.
AN: Terima kasih sudah membaca serta memberikan review, memfollow, dan memfavoritkan fanfic ini
Author: Sky
