Disclaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K. Rowlings. Penulis tidak mengambil keuntungan material dari penulisan fanfik ini

Warning: AU, OOC, OC, Slash, typo, etc

Rating: T

Genre: Adventure, General

Pairing: LMNM, DMHP, etc


THE LOST DRAGON

By

Sky


Suara bedebum yang sangat keras pun terdengar dari tempatnya berdiri, memberikan sinyal kalau benteng pertahanan mereka yang telah dibangun di sisi barat daya kota London telah dihancurkan. Sihir yang mengalun kuat di atmosfer pun memberitahunya, memberitahukan kalau bersamaan dengan hancurnya benteng pertahanan itu beberapa orang yang ia kenal ikut terbunuh dan tak akan kembali ke tempat perjanjian yang mereka semua sepakati untuk bertemu. Sudah berapa banyak orang-orang yang ia kenal baik tewas di medan pertempuran pun tak dapat ia hitung lagi, rasanya hatinya sakit dan ingin terkoyak keluar karena itu. Ia ingin menghentikan perang namun tetap saja ia tak bisa melakukan itu, karena bila pihak mereka menyerah di sini maka akan banyak lagi orang-orang yang akan tewas di tangan musuh. Peperangan masih akan berlangsung lebih lama, sampai salah satu dari ketiga sisi yang berbeda ini keluar sebagai pemenang dan mendominasi keduanya. Ia seharusnya berada di medan peperangan, membantu mereka semua keluar dari masa-masa sulit serta merebut kemenangan yang mereka impikan, bukannya bersembunyi layaknya tikus yang tak memiliki keberanian sedikit pun.

Pikirannya yang melayang bersama dengan angan-angan pun membuatnya tak mampu menyadari sebuah kehadiran dekat dengannya, menghampirinya secara perlahan sampai si pemilik aura tersebut berdiri tepat di belakang sosoknya. Pemuda berambut pirang platinum tersebut baru sadar kalau ada orang yang ada di dekatnya ketika ia merasakan sepasang lengan mungil namun kuat memeluk pinggangnya dari belakang, dan pemilik dari kedua lengan tersebut menenggelamkan wajahnya pada tengkuk pemuda itu.

Keduanya tak saling bersuara, mereka hanya diam membisu dengan menikmati keheningan yang tersaji di antara mereka. Angin malam yang menyapu sepi pun mulai membelai sosok keduanya, memberikan kenyamanan dalam dinginnya sentuhan itu, namun bukan berarti keduanya tak menghargai itu.

"Harry," gumam pemuda yang sedari tadi menatap horizon tersebut, ia pun mulai menoleh ke belakang saat ia merasakan tubuh remaja yang bernama Harry tersebut bergetar pelan layaknya orang yang tengah menangis dalam diam.

Pemuda itu tak berucap lagi, namun dirinya memutar tubuhnya sendiri di dalam pelukan Harry sebelum ia merengkuh tubuh Harry dan membiarkan remaja yang bernama Harry tersebut menangis dalam pelukannya. Untuk sementara waktu ia tak mengucapkan sepatah kata apapun, ia hanya diam disana dengan kedua tangannya memeluk sosok Harry serta memberikan kenyamanan pada remaja itu. Ia bisa merasakan jemari milik Harry mengerat pada kemeja yang ia kenakan bersamaan dengan kesedihan yang mendalam, semuanya menguar menjadi satu di dalam atmosfer, memberitahukannya kalau kesedihan yang terpancar dari diri Harry berasal dari perang yang selama dua tahun terakhir tidak segera berhenti.

Pemuda berambut pirang platinum tersebut memejamkan kedua matanya, dan untuk sekali lagi ia masih tak berucap meski ia mengeratkan pelukannya pada sosok Harry, membuat Harry semakin terbenam di dalam pelukannya. Ia tak peduli kalau kemeja yang tengah ia jenakan tersebut basah akibat air mata yang Harry keluarkan, biarkanlah penyihir itu mengeluarkan semua kesedihan yang telah bergulung di dalam tubuh mungil tersebut, ia tak akan menyalahkan Harry barang sedikit pun.

"Aku lelah, Dray... sangat lelah," suara Harry bergetar, sedikit redup akibat tertutup oleh kemeja yang Draco kenakan karena sang penyihir berambut pirang platinum tersebut masih tak melepaskan sosok Harry dari pelukannya.

"Aku tahu, Harry," jawab Draco, ia meletakkan dagunya pada puncak kepala Harry seraya menatap lurus ke arah horizon yang tersaji di hadapannya. "Aku juga lelah, begitu pula dengan semua orang yang terlibat dalam perang ini."

"Kapan semua ini akan berakhir?"

Pertanyaan yang terucap dari mulut Harry adalah pertanyaan yang sering ditanyakan oleh semua penyihir yang menghuni negara Inggris, pun menjadi pertanyaan tersulit yang tak memiliki jawaban satupun sampai waktu yang tepat terjadi. Tak ada yang tahu kapan perang besar di Inggris ini akan berakhir, serta berapa lama lagi perang ini akan terus terjadi. Entah hari ini, besok, maupun lusa bisa saja perang tersebut berhenti, namun kenyataannya sampai dua tahun lamanya pun pihak Dumbledore dengan Voldemort masih berperang. Meski banyak korban yang berjatuhan serta bumi menangis, perang tak akan berhenti sampai salah satu dari kedua pihak keluar menjadi pemenang.

Draco pun menghela nafas panjang, ia merasa seperti orang gagal karena ia tak bisa menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan Harry. Ia sangat tahu betapa tersiksanya remaja yang tengah ia dekap ini, perang yang berkepanjangan tersebut seperti menghisap separuh jiwa milik Harry dan membuat remaja itu seperti mayat hidup yang tak bernyawa. Draco sama sekali tak menyukainya.

"Sebentar lagi," gumam Draco singkat. Ia membuat sebuah perumpamaan serta harapan kalau perang yang terjadi akan benar-benar berhenti sebentar lagi, tak hanya sebuah bualan sematan yang terucap dari mulutnya.

Meski mereka berdua tahu kalau ucapan Draco tadi tak lebih dari sebuah celetukan asal, namun hal itu sudah cukup untuk membuat Harry merilekskan tubuhnya. Isakan tangis yang Draco dengar pun meredup sampai Harry benar-benar meredakan tangisnya, dan tak ayal kemudian sang penyihir berambut hitam tersebut melonggarkan pelukannya dari tubuh Draco meski ia masih tak rela untuk melepaskan kehangatan yang mendekapnya tersebut. Untuk itu ia masih menempel pada sosok kuat seorang Draco Malfoy.

"Aku harap doamu benar-benar terkabul, Dray, aku benci kalau menemukan realita sangat menyakitkan," ujar Harry lagi.

Draco pun tersenyum sedikit ketika ia mendengar ucapan yang Harry lontarkan kepadanya. Kekasih mungilnya itu memang orang yang unik. Tanpa mengucap satu patah kata apapun, Draco pun membelai rambut hitam miliki Harry sebelum mengecup lembut puncak kepala Harry.

"Semoga saja."


Kedua mata yang sedari tadi tertutup di dalam kegelapan tiba-tiba langsung terbuka lebar, memperlihatkan sepasang iris berwarna silver kebiruan yang di dalamnya terdapat bermacam-macam emosi. Kesedihan, kemarahan, rasa cinta, serta kehilangan pun bercampur menjadi satu dan semuanya mampu terlihat begitu jelas dengan mata telanjang. Emosi-emosi yang terpancar di dalam matanya itu benar-benar berbeda dari apa yang sering ia tampakkan dalam kesehariannya. Anak itu tak berucap barang sedikit pun, ia masih menatap langit-langit kamarnya yang terlihat masih gelap sebelum ia memindah posisinya sehingga ia pun berbaring ke samping sebelum meraih sebuah guling yang kemudian ia peluk dengan erat.

"Semua tadi hanya mimpi," gumam anak itu dengan suara pelan. Peluh yang membanjiri tubuhnya tidak main-main, dan semua itu diakibatkan oleh mimpi yang ia miliki dari dalam tidurnya, sebuah mimpi yang entah kenapa terasa begitu nyata.

Ia bermimpi dirinya berada dalam situasi perang, mengamati pembantaian seraya berdiri di sana tanpa mampu melakukan apapun, hanya mengamati saja. Mimpinya itu sangat menakutkan yang sekiranya pantas disebut sebagai mimpi buruk ketimbang mimpi indah, namun semuanya itu tak ada apa-apanya dengan ketika bunga tidur tersebut menampakkan dirinya yang dewasa tengah memeluk seseorang yang bernama Harry dan memberitahu kalau perang akan segera berakhir.

Draco memejamkan kedua matanya lagi sebelum ia membenamkan wajahnya pada bantal yang ia gunakan untuk menyangga kepalanya tersebut. Mimpi yang ia miliki terlihat begitu nyata, seperti apa yang ia lihat adalah sebuah masa lalu dan ia pernah mengalaminya secara nyata. Otak Draco menolak kenyataan itu penah terjadi, ia tidak pernah berada dalam perang maupun memiliki seorang kekasih yang bernama Harry, karena ia masih seorang anak kecil bodoh yang tak tahu apa-apa. Hobinya saja masih membuat onar, tidak mungkin ia bisa ikut perang serta menjadi salah satu orang kepercayaan untuk memimpin batalion pasukan. Mimpi hanya mimpi dan tak akan menjadi kenyataan, terlebih lagi Draco bukanlah seorang seer yang memiliki kemampuan untuk melihat ke masa depan, atau seperti itulah yang anak itu pikirkan ketika ia tengah berada dalam penyangkalan.

"Morgana, apa yang terjadi denganku?" Tanyanya tidak pada siapapun, dan hanya kebisuanlah yang menjawab pertanyaan tersebut.

Merasa pikirannya terasa begitu penuh dan kepalanya begitu berat, sang pewaris dari keluarga Malfoy itu pun langsung beranjak dari tempat tidurnya. Kaki mungilnya yang tak beralaskan apapun menyentuh lembutnya karpet beludru yang terpasang di lantai kamarnya, sehingga ia pun tak menggigil kedinginan akibat sentuhan langsung dengan lantai dingin.

Hanya kekosongan yang ada di sana dan tak ada satupun derap suara yang terdengar kecuali suara yang berasal dari napasnya sendiri, Draco tahu kalau ia ada satu-satunya orang yang terbangung di tengah malam seperti ini karena baik kedua orangtuanya serta peri rumah yang mengurusi rumah besar keluarga Malfoy pasti masih terlelap dalam tidur mereka. Setelah mengambil mantel tidurnya dan mengenakan benda itu untuk menjaga dirinya agar tidak masuk angin, anak laki-laki berambut pirang platinum itu pun membuka pintu kamarnya dan keluar dari dalam kamar yang hangat. Dengan kaki yang tak beralaskan apapun ia tetap berjalan menelusuri koridor, sama sekali tak ia pedulikan bagaimana rumah besar yang telah ia huni selama hidupnya tersebut terlihat sedikit menakutkan di malam hari.

Draco bukanlah seorang pengecut yang akan takut pada gelap maupun cerita-cerita seram yang beberapa teman sepermainannya beritahukan padanya. Tidak, sebagai seorang penyihir sudah sewajarnya ia hidup dalam dunia seperti itu, bahkan hantu yang menurut cerita para muggle adalah roh penasaran dari manusia yang sudah mati dan menjadi makhluk yang sangat menakutkan pun tidak memberikan pengaruh besar bagi Draco. Karena sebagai seorang penyihir dan hidup dengan keabnormalan (namun normal untuk ukuran penyihir) ia sudah sering melihat hantu yang berkeliling di sebuah kastil, dan itu sama sekali tidak menakutkan bagi pewaris keluarga Malfoy tersebut.

Sepasang mata silver kebiruan milik bocah berusia tujuh tahun tersebut pun beredar dari satu sisi ke sisi lain, ia mau tidak mau menyunggingkan sebuah senyum kecil ketika melihat beberapa lukisan dari leluhurnya yang terpajang di dinding rumah besarnya tersebut mendengkur pelan, mereka pun sama dengan manusia dan membutuhkan untuk tidur sebelum melakukan aktivitas sehari-hari.

Mimpi buruk yang Draco lihat beberapa menit yang lalu adalah penyebab mengapa ia tidak bisa kembali tidur, mereka cukup menakutkan untuk ukuran bocah penyihir seperti Draco karena rasanya begitu nyata. Dalam hati Draco bertanya-tanya mengapa ia bisa memiliki mimpi seperti itu dan bagaimana mungkin mimpinya bisa terulang hampir setiap malamnya? Memang setiap malam ia melihat dirinya sebagai seorang dewasa yang cukup tangguh, scene yang terulang pun juga selalu berbeda setiap malamnya, namun inti dari cerita dalam mimpinya selalu sama yaitu ia berada dalam situasi perang dan dalam situasi hidup-mati. Sudah lama Draco bertanya-tanya apakah mimpinya hanya mimpi belaka yang diakibatkan oleh bunga tidur saja atau mungkin memiliki arti yang lain. Mimpi dan penglihatan dimasa depan itu sedikit mirip namun berbeda, namun biasanya selalu terjadi bagi mereka yang terlahir dalam garis keturunan keluarga seer yang kuat seperti keluarga Trelawney dimana Casandra Trelawney pernah terlahir pada abad ke-14, namun bagi keluarga Malfoy yang memiliki penglihatan dimasa depan adalah hal yang aneh dan tak bisa dijelaskan menggunakan logika, tidak ada seorang pun yang menjadi seer dalam garis keluarga Draco.

Lalu apa yang aku lihat dalam mimpi? Penglihatan masa depan 'kah? Atau mungkin ingatan masa lalu yang tidak aku sadari adanya? Draco menghentikan laju berpikirnya seraya menghentikan langkah kakinya ketika pertanyaannya yang terakhir muncul di dalam benaknya. Yang benar saja? Ingatan dari masa lalu? Tidak mungkin itu benar adanya mengingat aku hanya bocah yang baru menginjak usia tujuh tahun.

Menggelengkan kepalanya dan merasa seperti orang bodoh karena menanyakan hal itu pada dirinya sendiri, Draco pun kembali melanjutkan langkahnya dan menuruni anak tangga yang akan membawanya ke lantai dasar. Di dalam aula besar rumahnya itu ia melihat beberapa perabotan antik milik Ayah dan Ibunya, ia pun menghiraukan semua itu dan melangkahkan kakinya kembali untuk menuju ke sebuah benda besar yang bernama grandpiano berwarna putih yang terpasang di sana, tepat di samping sebuah pilar besar serta jendela yang tertutupi oleh gorden berwarna putih, menyembunyikan pemandangan luar dimana bulan sabit tengah bersinar di atas langit malam.

Draco tidak pernah tahu alasan Narcissa memiliki alat musik muggle yang bernama piano ini, namun anak itu tidak akan memberikan protes sedikit pun mengingat alat musik yang tersusun atas senar serta kunci berwarna putih dan hitam tersebut memberikan melodi yang lumayan menarik, dan dalam otak belianya Draco menginginkan dirinya untuk mampu memainkan alat musik ini sehingga tak jarang sang Ibu pun mengajarinya untuk bermain piano ketika sang Ibu memiliki waktu luang. Dan di sinilah ia berada saat ini, duduk di atas sebuah kursi di hadapan grandpiano berwarna putih itu ia pun mulai membuka penutup tuts piano sebelum meletakkan kedua jemari tangannya di atas kunci hitam serta putih grandpiano.

Entah apa yang membuat Draco memulai sebuah permainan musik dengan membuat jemari tangannya menari di atas tuts piano, namun yang jelas tanpa ia duga permainan musiknya tersebut menciptakan sebuah melodi yang syahdu dan enak untuk didengar, begitu melankolis yang entah bagaimana menggambarkan perasaan anak itu sekarang ini serta mengalunkan sebuah kerinduan atas seseorang yang ada dalam benaknya. Draco pun terus memainkan piano itu, membuat suara anggun tersebut terus bergulir memenuhi ruangan sepi itu, dan tanpa ia sadari ia pun membuat kedua orangtuanya yang terbangun karena mendengar suara permainan musik Draco menatap satu sama lain dengan tatapan penuh tanda tanya. Ada apa dengan Draco Malfoy?


Dunia Muggle itu jauh lebih maju dan modern ketimbang dunia ilmu sihir yang terlihat seperti masih berada di abad ke 15, seperti itulah yang Draco pikirkan kala ia melihat beberapa kendaraan berlalu lalang di jalan raya dari tempatnya duduk di sebuah bangku panjang yang ada di taman. Keinginan Draco untuk mengunjungi dunia muggle pun pada akhirnya menjadi kenyataan, meskipun Draco harus mengambil dalih kalau ia ingin membeli sebuah buku mengenai perakitan bom yang pernah ia dengar dari Blaise sebelumnya. Kunjungan pertamanya di dunia muggle lumayan mengesankan, dan harus Draco akui kalau para muggle memiliki imajinasi yang begitu besar serta ambisi untuk ingin maju, betapa berbedanya kehidupan seorang muggle dengan penyihir. Muggle mungkin tidak memiliki sihir untuk membantu kehidupan sehari-hari mereka, namun mereka memiliki kemampuan tersendiri mengenai teknologi, dan rasanya Draco bisa bisa merasakan dirinya berliur ketika membayangkan bagaimana tangannya menyentuh komponen-komponen teknologi tersebut lalu menciptakannya sendiri.

Penyihir kecil yang memiliki nama lengkap Draconis Malfoy itu pun menatap ke salah satu sisi dari taman bermain tempatnya berada saat ini. Tempat itu sedikit lebih sepi dari apa yang ia kira, berbanding terbalik dengan jalan raya yang mana diisi oleh kendaraan-kendaraan hebat yang membuatnya sedikit kagum. Setelah ia menyeret Ibunya ke sebuah toko buku dan mencari beberapa buku yang ia inginkan, Ibunya pun membawa Draco untuk mengunjungi taman bermain ini. Kelihatannya dari buku bergambar yang ia temuka dari toko buku Draco sedikit tertarik mengenai taman bermain setempat, oleh karena itu ia pun berada di sini dengan tiga buah buku tebal berada di sampingnya.

"Ibu akan segera kembali 30 menit lagi, kalau ada apa-apa kau bisa menggunakan Dobby ataupun Misty untuk membantumu, dear. Ibu sedikit menyesal karena harus meninggalkanmu sendirian," ujar Narcissa untuk yang kesekian kalinya pada hari itu dan memastikan Draco tidak rewel karena ia harus meninggalkan putra sematawayangnya sendirian di taman bermain tersebut.

"Ibu, pergilah. Aku tidak apa-apa sendirian," jawab Draco dengan santai. Ia bukanlah seorang bayi yang membutuhkan pengawasan selama 24 jam berturut-turut, dan melihat Ibunya yang bersikap serasa dunia akan berakhir karena meninggalkan Draco sendirian di tempat itu membuat Draco ingin sekali memutar bola matanya.

Kalau Narcissa merasa khawatir terhadap Draco, bukankah lebih baik mereka segera pulang ke rumah lalu kemudian Narcissa bisa pergi sendirian tanpa harus khawatir akan siapa yang mengawasi Draco nanti? Sayang sekali Ibunya tidak memikirkan hal itu, dan tentu saja Draco yang pada dasarnya senang mengambil kesempatan dalam situasi apapun tidak memberikan tanggapan lain, ia masih ingin berlama-lama di tempat ini dan bila sang Ibu menawarinya sebuah kesempatan secara tidak langsung maka Draco pun akan mengambilnya.

"Misty akan aku suruh untuk mengawasimu, dan kalau kau lapar panggil sa-"

"Aku akan memanggil Misty ataupun Dobby untuk menyiapkan makan siang, jadi Ibu tidak perlu khawatir lagi. Aku bisa menjaga diri, terlebih... hanya orang gila yang bodoh saja mau menculikku," potong Draco dengan senyum lugu terpancar di bibirnya.

Draco mengulum sebuah seringai kecil ketika ia melihat Narcissa berjengit sedikit atas apa yang Draco ingatkan tadi. Hanya orang bodoh yang tak waras saja mau menculik Draco. Draco mungkin seorang bangsawan serta penerus dari keluarga terpandang, namun ia sangat unik dimana keunikan yang ia miliki tersebut bisa dikatakan sangat membahayakan jiwa orang lain. Mereka mengatakan Draco memiliki potensi menjadi seorang teroris yang berbahaya, namun kedua orangtuanya yang sayang pada buah hati mereka tersebut membantah hal itu. Draco Malfoy hanya unik dan eksentrik, itu saja.

"Oh baiklah," ujar Narcissa singkat. Wanita cantik itu pun mencium kening Draco sebelum menyunggingkan senyum kecil. "Ibu tak akan lama perginya, urusan yang Ibu miliki hanya sebentar dan tanpa kau sadari Ibu akan segera kembali. Jangan pergi dari tempat ini, tunggu sampai Ibu kembali."

"Baik."

Narcissa bisa saja menjadi seorang ratu drama bila hal tersebut menyangkut pada masalah Draco, namun bocah laki-laki yang berusia tujuh tahun tersebut tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena pada dasarnya ia menyukai perhatian yang kedua orangtuanya berikan padanya. Sepeninggal Narcissa, Draco pun hanya duduk di bangku taman sendirian dengan sebuah buku (yang berjudul "Pengenalan Bom Sederhana untuk Pemula" oleh Tracy Antonny) terbuka di atas pangkuannya. Untuk membunuh waktu seraya menunggu Ibunya untuk kembali, anak laki-laki berambut pirang platinum itu pun memutuskan untuk membaca buku barunya.

Otaknya menyerap semua informasi yang ia terima dari dalam buku tersebut, dan Draco sendiri bisa membayangkan bagaimana dirinya merangkai komponen peledak secara sederhana dan mengombinasikannya dengan sihir. Mungkin ia bisa menciptakan api peledak yang sederhana, yang berkilap serta indah tentunya. Terlalu larut dalam pemikiran serta bahan bacaannya sendiri, Draco pun tidak sadar akan kehadiran seorang anak laki-laki seusianya menghampiri sosoknya dan kini berdiri di hadapan Draco. Anak laki-laki itu memiliki rambut pendek berwarna hitam legam dan sangat berantakan, sepasang mata hijau emerald yang kecermelangannya tidak tersembunyi meskipun berada di balik kacamata bundar yang ia kenakan, serta pakaian yang tiga kali lipat lebih besar dari ukuran tubuhnya ia gunakan.

Anak laki-laki itu terus berdiri di sana, menatap sosok Draco yang begitu terlarut dalam bacaan yang ada di atas pangkuannya. Ia terlihat sedikit gugup antara mau menyapa Draco atau tidak, sikapnya itu mirip sekali seperti seseorang yang hidupnya selalu dibully oleh orang lain, sangat mengkhawatirkan.

Perilaku gugup serta tidak yakin dari anak laki-laki berkacamata itulah yang membuat Draco memindahkan perhatiannya dari buku bacaaannya kepada anak itu. Dan ketika sepasang mata silver kebiruan milik Draco bertemu dengan sepasang mata hijau emerald yang begitu cemerlang milik anak itu, Draco merasakan napasnya tercekat dan dirinya membeku di tempat.


AN: Terima kasih telah menyempatkan diri untuk mampir dan membaca fanfik ini

Author: Sky