Saat itu, tepat saat dirinya masih kecil dan lucu. Ia dipindahkan sekolah lagi karena ayahnya yang bekerja mengharuskan berpindah dari satu tempat ketempat yang lain. Dari satu negara ke negara lain.

Berbicara tentang masa lalu Sehun yang terlampau wah dan penuh tantangan, sebenarnya jika boleh dikatakan dia pertama kali bertemu Luhan —Mama Haowen dan Zhiyu yang lebih wah dari masa lalunya dan kelewatan nyentrik— bukanlah dirumah sakit, seperti yang Luhan ingat, teman-temannya saksikan, dan orangtua mereka tahu.

Dimana saat itu Luhan yang pendek dan malas mengeja salah mengambil obat, pria itu tetaplah pendek bahkan ketika ia sudah berjingkit dan mendongkrak. Putus asa mengenai tinggi badannya, itulah motivasinya menggapai gapai meja kaca diapotek rumah sakit tanpa melihat dan mengambil obat sembarangan diatas meja tanpa membaca obat apa itu dan untuk siapa. Itu obat yang ternyata adalah milik ayah Sehun.

Obat bisulan Luhan tertukar dengan obat jantung ayahnya Sehun, dan lucunya bisulan anak aneh itu sembuh setelah meminum obat yang tertukar itu.

Seharusnya para ilmuan meneliti tentang ini, apakah obat jantung bisa menyembuhkan bisulan, seperti itu.

Tapi Sehun mengerti, ada lebih banyak penelitian yang lebih bermanfaat daripada itu, dan para peneliti bisa menundanya ditahun tahun mandatang, Sehun akan sabar menunggu.

Oke, lupakan cerita dirumah sakit. Itu konyol dan yang ini lebih konyol.

Seperti yang Sehun bilang, Sehun kecil hingga remaja adalah Sehun yang suka berpindah pindah tempat seperti kutu loncat. Kadang ia tinggal diberlin, lalu ditahun depan ia ada London, dan seterusnya hampir separuh tempat didunia mungkin sudah pernah ia singahi, dan Sehun juga sudah mengatakan bukan jika pertemuan pertamanya dengan Luhan bukanlah dirumah sakit dengan tragedi tertukarnya obat bisul dan jantung.

Tapi lebih tepatnya pertemuan mereka yang pertama kali adalah dichina.

Sungguh, Sehun masih sangat ingat kronologinya. Dimana saat itu ia tidak sengaja melihat seseorang mandi disebuah aliran sungai. Sehun baru pulang dari aktivitas menuntut ilmunya disekolah daerah beijing yang membosankan.

Jalan masihlah setapak, terdiri dari tanah yang disusun kerikil dan batu-batu kecil, bukanlah aspal panas atau semen yang datar seperti sekarang.

Tak ada bis ataupun alat transportasi sejenisnya dan jalanan yang kecil juga tak memungkinkan mobil melewatinya tanpa menabrak apapun. Banyak semak, udara yang bersih dan pohon yang teduh.

Perjalan pulang sekolah selalu melewati sebuah aliran sungai yang panjang dan mengalir, airnya bersih dan ada beberapa petani mengambil air untuk mengairi ladang dan kebun disana.

Pemandangan yang berkali-kali Sehun lihat, dan membosankan.

Tapi sesuatu yang berbeda ada disana, semacam penghibur dan menyemangat untuk matanya yang mengeluh karena terus-terusan melihat pemandangan yang sama.

Hari ini Sehun disuguhi pemandangan yang demi apa, baru kali ini ia tertarik pada sesuatu yang ada dichina.

Seorang anak yang sedang mandi.

Rambutnya cokelat terang ikal, badannya kecil, ah mungkin dia berumur 6 tahun. Saat itu sehun baru tahun pertama disekolah menengah pertamanya, umurnya sekitar 14 tahun. Walaupun masih anak anak tapi Sehun sudah mengerti bahwa kegiatan mengintip adalah kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan.

Sehun melakukannya. Dihari itu dan hari hari berikutnya.

Sehun selalu pulang dengan cepat. Ia pulang setelah sekolah usai dan berlari kencang, seperti orang yang dikejar kejar debt collector hanya untuk melihat pemandangan Luhan mandi tersebut setiap hari.

Sehun selalu mensyukuri tanah beijing yang subur sehingga semak semak tumbuh dengan tinggi dan bisa membuatnya bersembunyi dengan aman, nyaman, dan sentosa.

Pertemuan manis yang berbunga dengan perkenalan yang tak kalah manisnya.

Luhan terpeleset oleh batu yang licin, Sehun bisa tebak bahwa pria kecil itu tak terlalu mahir berenang dengan melihat Luhan yang hampir terbawa arus dan hendak menangis.

Sehun dengan cepat menanggalkan pakaiannya. Hanya menyisakan celana pendek dan melepaskan tas punggungnya, dengan cepat ia menceburkan diri keair yang dingin berarus deras itu. Sehun lupa kapan terakhir kali ia berenang. Tapi demi apapun itu, dia juga tak bisa membiarkan Luhan kecil terbawa arus dan direbut neptunus.

Jadi dengan modal nekat dan nyali yang besar dengan motivasi menyelamatkan calon ibu dari Haowen dan Zhiyu dimasa sekarang, Sehun menggapai Luhan dan memegang tangannya erat setelah harus berkorban banyak dengan kemasukan air dihidungnya dan tertelan rumput.

Ia menarik anak laki-laki yang terlampau manis itu ketepian. Bahkan setelah berusaha dengan keraspun Sehun tak bisa menyelamatkan handuk kelinci berwarna pink matching yang hilang dibawa arus.

Bibir Luhan melengkung kebawah dan matanya mengeluarkan air mata, ada sedikit sesenggukan disana.

Sehun kira itu karena Luhan yang ketakutan sebab hampir terbawa arus dan tenggelam. Tapi ternyata itu gara-gara handuk kesayangannya yang hilang.

Sehun mengangga tak percaya.

Jadi, karena tak mungkin membiarkan Luhan pulang dengan bertelanjang dan hanya memakai celana dalam. Sehun memberikan seragamnya untuk ia pakai agar tak kedinginan dan sakit. Itu malah berakhir dengan dirinya yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana sekolah yang basah.

Sehun juga meminta Luhan menggendong tasnya, dan kemudian ia menggendong Luhan dipunggungnya dan mengantarkan anak itu pulang dengan utuh.

Luhan menjelaskan kejadian itu sejelas-jelasnya dengan heboh, dan untuk mengapresiasi aksi heroik Sehun pada putranya Mama Luhan mengundang keluarga Sehun untuk makan malam.

Sangat menyenangkan dan berkesan. Tetapi sayang seminggu setelah itu Sehun terpaksa diseret ayahnya untuk ikut pulang kekorea dan perpisah dengan Luhan untuk waktu yang sangat lama.

Mereka bertemu kembali dirumah sakit saat Luhan limabelas tahun dan Sehun dua puluh tiga tahun, Luhan saat itu ada dikorea karena pendidikannya, ia tinggal dengan paman dan bibinya yang baik.

Kemudian tujuh tahun yang panjang, dimata takdir memutuskan untuk mempertemukan mereka kembali dimana saat itu Sehun dengan semena-menanya diperintah oleh kakaknya Kris untuk menjemput putrinya Shopia dari taman belajarnya. Oh, mungkin Sehun harus bersujud dikaki bau Kris untuk berterimakasih yang mana berkat dirinya ia bertemu kembali dengan Luhan yang bekerja manjadi guru disana.

Ada tujuh milyar manusia dibumi yang Sehun pijak ini, dan bagaimana takdir memilih Luhan sebagai orangnya, adalah hal yang mengagumkan dan indah.

"Luhan, aku mencintaimu. Maaf, hanya tiga kalimat itu yang bisa kuucapkan. Mungkin terlalu biasa dan tak akan membuatmu memerah sampai berguling-guling dilantai karena malu. tidak akan juga membuatmu menangis tersedu-sedu karena terharu seperti saat kau mengupas bawang. Terimakasih karena sudah mau menemani sepak terjangku didunia yang kejam ini da—Aw Lu, kenapa mencubitku?! dan Zhiyu jangan ikut-ikutan mencubiti ayah, itu tindakan kriminal. Jangan tiru ibumu"

.

.

.

Habis dengan tidak elitnya, ini apa? Ini dimana? Saya siapa?/g. Saya gak tau gimana caranya balas review—astaga bodohnya orang ini— tapi, tapi, saya bener2 tersentuh sama reviewnya, terimakasih karena sudah membaca drabble fluff receh yang gak jelas ini. saking senangnya saya catat ulang dibuku. Seperti biasa, saya yang newbie perlu saran dan kritik 3, gomawo.

Oh ya! Nilai ulangan trigonometri saya 6,5 lho. Saya senang sekali soalnya saya yang paling tinggi HAHAHA (abaikan saja)