Title : Thank's God

Cast : Kibum, Kyuhyun, Other member SJ, etc.

Lenght : Chaptered

Gendre : Brothership, Sad, Friendship, Hurt/Comfort, etc.

Summary : Jadi inilah alasan mengapa semua yang terjadi sulit dimengerti olehnya. / "Benar-benar kau dongsaeng yang sangat menyusahkan!"/ Dan tiba-tiba saja suasana yang canggung itu kembali dirinya rasakan. / "Kau kembali seperti dulu hyung..." /

WARNING : TYPO SELALU EXISSSSS WEHHH :D... kayak sinetron menyebalkan and begitu-begitu aja :p

Jeongmal gomapseumnida untuk semua reader aktif maupun tidak aktif yang selalu mengikuti kelanjutan dan memberikan review kepada FF aneh yang author buat ini. Big hug deh buat kalian semua :*

DON'T COPAS TANPA IZIN

DON'T BE SILENT READER

DON'T LIKE DON'T READ

KEEP REVIEW

LET'S ENJOYED

Preview

"Keadaan Kyuhyun masih belum stabil..." Jelas Kimbum sembari menurunkan maskernya.

Orang tersebut memandang Kimbum tajam. "Katakan apa yang kalian sembunyikan dariku?"

"Tidak ada... Kyuhyun hanya collapse saja." Bohong Kimbum.

"Kelelahan? Apakah ada orang kelelahan harus dioperasi hah?!" Bentak orang tersebut.

"Ini rumah sakit Teukie hyung, jagalah attitude-mu." Peringat Kimbum.

Leeteuk tidak percaya Kimbum masih mempertahankan kebohongannya. "Aku memang tidak pintar, tapi kau juga tidak bisa membohongiku!"

"Apa yang kau maksud?" Kimbum berpura-pura tidak mengerti.

"APA YANG KAU DAN KYUHYUN SEMBUNYIKAN?! APAKAH ADA SEORANG YANG SAKIT BIASA DIOPERASI KEMUDIAN DIMASUKKAN KE RUANG ICU?! Aku juga mengerti pengertian dari dua ruangan tersebut!" Leeteuk sudah tidak dapat lagi menahan emosinya.

"..." Kimbum terdiam.

Seorang namja tiba-tiba saja datang menghampiri mereka berdua. "Teukie hyung?"

.

.

.

.

Seorang namja dengan kulit seputih susu tiba-tiba saja menghentikan percakapan serius diantara Kimbum dan Leeteuk. Pandangan mata Leeteuk menatap tidak percaya melihat sosok yang sudah sangat lama dirinya tidak jumpai. Bahkan wajah khas dari namja itu masih sama ketika saat dirinya meninggalkan mereka semua.

Sebenarnya niatan namja ini adalah untuk melihat keadaan Kyuhyun, yang dia dengar keadaannya parah lagi. Namun ditengah perjalanannya namja ini melihat sosok Leeteuk dan Kimbum yang sepertinya sedang bersitegang. Tak ingin melihat perkelahian disana tanpa kemauannya namja ini memang harus menyapa salah satu dari mereka berdua.

Namja itu bingung melihat tatapan Leeteuk yang terus memandangnya serius. Tak tahukah bahwa Leeteuk sebenarnya memendam begitu banyak amarah padanya. Meski hanya singkat, tapi goresan luka yang ditinggalkan oleh namja ini benar-benar begitu membekas di benaknya. Akhirnya Leeteuk membuka suaranya.

"Sudah sangat lama sekali, akhirnya kau menyebutku sebagai hyung lagi." Sinis Leeteuk.

Namja itu tersenyum. "Gerae... Harusnya kita bersapa sebagai orang lain bukan?"

"Bukankah kau memang menganggap kami semua sebagai orang lain?" Tanya Balik Leeteuk.

Namja tersebut menggelengkan kepalanya. "Aku kira kalian masih menganggapku keluarga."

Leeteuk mendecih. "Bukankah kau sendiri yang menghapuskan hubungan itu...Kibum-ssi?"

"Ah ne. Karena sibuk sepertinya aku menjadi pelupa." Sahut Kibum.

"Urusan apa kau mulai menyapaku lagi?" Tanya Leeteuk selidik.

Kibum memandang ruangan tempat Kyuhyun berada. "Hanya memastikan."

"Memastikan apa?" Leeteuk mulai penasaran.

"Tak ada..." Sahutnya singkat. Kemudian berlalu.

Leeteuk memejamkan matanya. "Sudah lama bukan?"

Kibum menghentikan langkahnya.

"Sejak kau menyebut kami sampah dan pergi dengan angkuhnya..." Kalimat itu seakan menohok.

Flashback On

Sekelompok namja yang berjumlah sepuluh orang sedang mengerumuni seorang namja yang lain yang tengah duduk di hadapan mereka semua. Suasana disana entahlah... mungkin bisa dikatakan akward. Bagaimana tidak namja ini tadi langsung membereskan pakaiannya tanpa berkata sepatah katapun kepada semua member yang langsung menganga melihatnya.

Namja ini atau kita panggil Kibum mulai menautkan kedua tangannya. Menandakan bahwa dirinya sudah bulat untuk melakukan langkah ini. Entahlah jika bersama mereka dirinya menjadi seperti orang bodoh yang tidak mampu menyadari sesuatu hal yang sedang terjadi seharusnya. Yah mereka adalah Super Junior.

"Beritahu aku bahwa sekarang adalah April mop." Heechul mengeluarkan suaranya.

Hangeng mengelus pundak Heechul. "Sayangnya ini bukan bulan April."

"Kibummie... k...kau mau kemana?" Tanya Donghae takut-takut.

Kibum menjawab dengan singkat. "Pergi..."

"Apa kau akan liburan? Berapa hari memang?" Tanya Yesung yang belum paham.

"Jika aku katakan selamanya?" Oh sungguh retoris.

Kangin menatap Kibum tajam. "Jaga ucapanmu pada yang lebih tua."

"Tenanglah hyung." Sungmin menenangkan Kangin.

Siwon mengeluarkan pertanyaannya. "Apa maksudmu kau akan pergi meninggalkan kami?"

"Tepat seperti yang kau pikirkan hyung." Kibum memberikan senyum paksa.

"Ani...Kibum-ah kau tidak mungkin melakukan itu bukan?" Eunhyuk berharap cemas.

Shindong menatap pada bola mata Kibum. "Aku rasa dia memang serius Hyuk."

"Hiks...hiks...wae?" Ryeowook yang melankolis mulai menangis.

Leeteuk menatap Kibum dalam. "Apa alasanmu?"

"Aku hanya merasa menjadi seperti orang bodoh jika bersama kalian." Jawab Kibum.

Heechul geram mendengarnya. "Apa kau bilang?!"

"Kalian tahu... kalian hanya sekedar sampah yang bisa diinjak oleh seseorang. Tapi aku bukan lagi, karena aku telah membalikkan orang yang menginjakku." Jelas Kibum.

"Kim Kibum!" Bentak Kangin.

Kibum mendecih. "Sudahlah... aku hanya membuang waktu. Annyeong chariseo."

Kejadian ini benar-benar cepat dan sulit sekali untuk dicerna oleh seluruh member Super Junior. Seorang Kim Kibum baru saja melewati pintu dorm mereka. Yang artinya tidak akan pernah datang lagi kepada mereka semua. Semua member nampak shock dengan apa yang Kibum katakan tadi. Kibum tidak pernah seperti itu sebelumnya. Terlihatlah begitu banyak air mata yang terjadi dari sepuluh orang namja yang tersisa disana.

Sementara itu Kibum yang sudah berada di dalam mobilnya membenamkan wajahnya ke dalam dua lengannya. Jarang sekali terjadi. Seorang Kim Kibum yang dijuluki si namja es mulai meneteskan air matanya dan menangis. Bukan maunya... sungguh dia sangat menyesal telah mengatakan kalimat tidak pantas tersebut. Tapi mungkin dengan cara itulah Kibum bisa membuat mereka membencinya. Sehingga tidak akan ada seorang dari mereka yang menangis karena merindukannya.

Flashback Off

Sakit sekali rasanya jika Kibum harus kembali mengingat kejadian tersebut. Tapi tidak ada yang lebih sakit dibandingkan dengan orang-orang yang telah ditinggalkannya. Kibum tahu dan dirinya sadar akan hal itu. Tapi saat ini dia memang belum bisa untuk mengakui semuanya, jujur dan bertindak menerima kenyataan. Lagi-lagi Kibum hanya bisa melangkah pergi.

"Kau datang untuk kesekian kalinya. Tapi suatu kenyataan tetap tak bisa kau terima Kibum-ah." Kimbum memberikan kalimatnya.

Kibum menoleh. "Dia bukan dongsaeng-ku, karena dongsaeng-ku bukan seorang pembual."

Setelah memberikan jawabannya Kibum benar-benar menghilang dari hadapan Kimbum dan Leeteuk. Saat Kimbum akan beranjak juga dari posisinya, tiba-tiba Leeteuk menahan kepergian Kimbum.

"Kau pikir aku lupa dengan pertanyaanku." Ucap Leeteuk.

Kimbum menarik nafas dalam. "Gerae... akan aku jelaskan semuanya."

"Aku harap tidak ada kebohongan lagi nanti." Sinis Leeteuk.

"Ikutlah bersamaku hyung." Ajak Kimbum

"Arra..." Sahut Leeteuk singkat.

Kini Kimbum dan Leeteuk sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian steril. Mereka memasukki ruang ICU yang memang sudah seharusnya bersih dari apapun. Leeteuk begitu tertohok melihat keadaan magnae-nya yang begitu lemah. Peralatan medis rumah sakit seakan sangat cantik untuk menghiasi kulit pucat itu.

Keadaan sang magnae tidak jauh berbeda dengan saat kecelakaan itu. Bahkan mungkin keadaannya kini lebih parah dari sebelumnya. Mata itu senantiasa selalu tertutup, Leeteuk merasa bahwa mata Kyuhyun sudah terlalu lelah hanya sekedar untuk membuka saja. Bunyi elektrokardiograf sangat nyaring terdengar di ruangan steril tersebut. Wajah Kyuhyun hanya nampak sebagian karena sebuah tabung oksigen besar ditempel secara silang di mulutnya agar tidak terlepas.

Selang-selang tersebut begitu terpasang rapih. Tak ada celah disana, bahkan pakaian yang Kyuhyun kenakan pun masih dengan pakaian bekas operasinya tadi. Leetuk perlahan mendekati ranjang dimana Kyuhyun terbaring. Perasaannya saat ini mulai tidak bisa dideskripsikan marah, sedih, kecewa ah sungguh banyak sekali.

"Kyuhyun menderita hemothorax." Kimbum memulainya.

"Sejenis penyakit paru-paru?" Tanya Leeteuk.

Kimbum menghembuskan nafasnya. "Penggumpalan atau bisa juga disebut dengan penumpukkan darah di dalam paru-paru..."

Leeteuk memotongnya. "Kau tidak perlu menjelaskan lebih lanjut. Setidaknya aku sudah paham."

"Keadaan Kyuhyun sangat berbahaya jika tidak diberi penanganan. Profesinya sebagai seorang public figure membuatnya sulit untuk melakukan pengobatan. Karena hal itulah keadaan Kyuhyun saat ini lebih parah dari sebelumnya." Jelas Kimbum panjang lebar.

"Apa maksudmu Kimbum-ah?" Tanya Leeteuk.

"Penggumpalan darah itu sudah terjadi seluruh ruangan paru-paru Kyuhyun. Yang paling parah paru-paru Kyuhyun yang dulu sobek karena kecelakaan akan kembali sobek bahkan melebar ke paru-paru sebelahnya." Kimbum kembali menjelaskan.

Leeteuk memandang Kimbum dalam. "Cukup... aku tidak mau mendengarnya lagi. Apakah Kibum..."

"Nde...Kibum sudah mengetahuinya sejak dulu." Sahut Kimbum.

Leeteuk membelalak tidak percaya. "Lalu kenapa dia..."

"Anak itu tidak bisa menerima kenyataan. Sehingga dia selalu menganggap Kyuhyun ini bukanlah Kyuhyun yang dikenalnya." Kimbum mendadak sedih jika mengingat itu.

Leeteuk menggumam. "Jadi apakah ini adalah alasan Kibum untuk..."

Tiba-tiba Kimbum memegang kedua pundak Leeteuk. "Hyung... aku mohon cukup Kibum yang seperti itu...jebal..."

"Kim...Kimbum..." Leeteuk sedikit tersentak dengan Kimbum yang memohon padanya.

"Jebalyo hyung..." Air mata itu jatuh begitu saja dari Kimbum.

Dua jam telah berlalu tapi Leeteuk masih setia untuk menunggui Kyuhyun di dalam ruangan kotak tersebut. Dirinya tidak memperdulikan kelelahan yang sedang dideritanya kini. Baginya menjaga sang magnae untuk tetap aman adalah hal yang paling diutamakannya kini. Dibelainya dengan sayang rambut halus yang dimilikki oleh dongsaeng bungsunya tersebut. Leeteuk tersenyum pahit. Jadi inilah alasan mengapa semua yang terjadi sulit dimengerti olehnya.

"Apakah ini alasanmu saeng? Alasanmu begitu banyak mengeluarkan air matamu ketika kau kehilangan eomma dan noona-mu yang cantik?"

Hide Story

Di sebuah rumah mewah terlihat dua orang yeoja yang sedang mengobrol asyik mengenai sesuatu hal yang terdapat di dalam sebuah majalah. Rupanya sebuah fashion terbaru eoh? Ah mereka tampak begitu akrab seperti seorang sahabat. Jarak umur yang jauh tidak menghalangi keakraban mereka berdua. Memang ada kalanya bukan dimana hubungan orang tua dengan anak harus bisa menjadi teman?

Obrolan mereka terhenti ketika dua orang namja menghampiri mereka berdua dan memberikan senyumannya. Majalah tadi ditutup dan langsung saja mereka berdua menyapa balik dua orang namja berbeda usia tersebut. Terlebih menyapa seorang namja remaja yang nampaknya masih terlihat pucat.

Sang noona memeluk namja remaja itu. "Kau sudah sembuh saeng?"

"Ne noona..lihat aku sudah sehat bukan." Jawab namja remaja penuh dengan nada ceria.

"Yah sayang... noonamu kok dipeluk sementara eommamu ini kau acuhkan." Cemburu sang eomma.

Sang namja remaja langsung menghambur memeluk eommanya. "Ini aku juga peluk eomma. Bahkan aku sangat rindu masakkan eomma."

Kepala keluarga itu hanya tersenyum. "Bagaimana sekarang kita suruh si bungsu ini istirahat dulu eoh?"

"Ah iya iya.." Sang eomma menuntun putra bungsunya untuk duduk dulu di sofa.

Sang noona memberikan nasehatnya. "Makanya saeng kau itu harus banyak makan sayur agar tidak masuk rumah sakit eoh."

Namja remaja mengerucutkan bibirnya. "Aish noona...sayur itu tidak enak."

"Tapi kalau kau makan sayur noona jamin tidak akan pernah masuk rumah sakit lagi." Sang noona berkacak pinggang.

"Hahahahaha... dengar nasehat noonamu itu..." Sang eomma tertawa puas.

"Emm yeobo... bisakah kau ikut denganku?" Sang appa berucap pelan pada istrinya.

Sang eomma mengernyit bingung. "Ne?"

Dua orang dewasa tersebut berlalu meninggalkan dua orang remaja yang masih saling menasehati. Eh mungkin maksudnya sang noona yang menasehati namdongsaengnya. Di sebuah kamarlah, sang appa memilih untuk berbicara secara empat mata dengan sang istri tercinta.

"Ada yang ingin kuberitahukan mengenai putra bungsu kita." Ucap sang Appa serius.

Sang eomma kembali bingung. "Memangnya ada apa?"

"Sebenarnya..." Rasanya sang appa sangat ragu untuk mengatakannya.

"Ada apa sebenarnya dengan uri magnae?" Sang eomma penasaran.

Sang appa menghembuskan nafasnya kasar. "Dia menderita penyakit hemothorax..."

"M...mw...mworago?!" Sang eomma tidak percaya.

"Mianhae..." Jawab sang appa lemah.

Sang eomma menggelengkan kepalanya. "Bukankah uri magnae tidak apa-apa? Bahkan operasi waktu itu berjalan dengan sangat lancar kan?"

"Yeobo hal ini memang bisa terjadi..." Menyerah sang appa.

"Uri Kyu..." Eomma itu menangis di dalam dekapan sang suami.

Berhari-hari telah berlalu keadaan magnae tetap sama. Tak ada sedikitpun perkembangan. Penyakitnya sering kambuh dan membuatnya sering keluar-masuk rumah sakit. Meski memang dia diberikan cuti oleh agency-nya tapi tidak ada yang tahu bahwa cuti yang dimaksud adalah berusaha membuat keadaan magnae ini bisa sedikit lebih baik.

Setiap kali melihat sang magnae air mata sang eomma tidak bisa untuk tidak mengalir dari kedua sudut matanya. Anak yang dia harapkan untuk tumbuh sehat dan bisa selalu tersenyum kini harus selalu menahan sakit. Apa mungkin ini karena kelalaiannnya? Mereka lebih sibuk mengurusi perusahaan dibandingkan mengurusi kedua orang putra-putinya. Apakah ini sebuah karma?

Berbeda dengan sang eomma yang selalu menangis, sebuah perasaan benci malah menguar di dalam hati sang noona. Karena kini sang eomma lebih memperhatikan sang dongsaeng dibandingkan dirinya. Seandainya saja noonanya tahu tentang alasan apa kenapa kedua orang tuanya lebih memperhatikan sang magnae.

Seperti saat ini sang dongsaeng kembali pingsan dan kini mereka semua tengah berkumpul di dalam kamar si bungsu. Air mata eommanya begitu mengalir setiap kali mendapati keadaan dongsaengnya yang seperti ini. Dan tak akan henti-hentinya sang eomma untuk memanjatkan doa bagi sang magnae.

"Kenapa sih jika bersamanya eomma selalu bersedih?" Tanya sang noona dengan kesal.

Sang eomma menggelengkan kepalanya. "Dia ini dongsaengmu..."

"Dia lemah... dia menyebalkan.. dan dia hanya bisa membuat appa dan eomma menangis!" Geram sang noona.

"Jaga ucapanmu!" Bentak sang eomma.

"Eo...eomma..." Sang noona tidak menyangka.

Sang eomma sadar kesalahannya. "Mi...mian eomma..."

"Cukup! Eomma jahat... eomma hanya memperdulikannya!" Sang noona pergi sembari membanting pintu.

-SKIP-

Hari ini seluruh keluarga Cho sedang mengunjungi sebuah panti asuhan. Mereka bekerja sama dengan Sikyung selaku pengelola dari panti asuhan ini. Banyak suntikkan dana yang diberikan oleh keluarga Cho untuk kelangsungan panti asuhan. Terlebih sang magnae yang sangat menyayangi semua anak yang ada di dalam panti asuhan.

Di tengah perbincangan mereka semua, tiba-tiba sang eomma menyadari bahwa ada seseorang yang hilang di tengah mereka. Menatap satu per satu, akhirnya dia sadar bahwa putra-putrinya sudah tidak ada lagi di tengah mereka.

"Yeobo... dimana anak-anak kita?" Tanya sang eomma panik.

Sang appa menggelengkan kepalanya. "Entahlah... aku juga tidak menyadari kepergiannya."

"NOONA!" Teriak sang magnae kencang.

Mendengar suara magnae yang berteriak dengan segera ketiga orang itu pergi menuju sumber suara. Takut-takut jika terjadi apa-apa dengan mereka berdua.

Sementara itu dongsaeng dan noona tersebut tengah berada di balkon panti asuhan. Dari raut wajahnya bisa dipastikan bahwa mereka berdua tengah terjadi perselisihan. Sang dongsaeng mencoba menahan noonanya yang sepertinya akan melakukan bunuh diri.

"Noona... kajimayo aku mohon..." Mohon sang dongsaeng.

Sang noona bersikeras. "Apa kau bilang? Lagipula sudah tidak ada yang memperdulikanku lagi."

"Aniyo noona... appa dan eomma sangat memperdulikanmu." Bantah sang dongsaeng.

"Apanya? Yang ada dalam pikiran mereka itu hanyalah dirimu!" Elak sang noona.

"Tidak noona ... tidak seperti itu..." Air mata sang dongsaeng mulai mengalir.

"Benar-benar kau dongsaeng yang sangat menyusahkan!" Bentak sang noona.

"Noona..." Nafas sang dongsaeng mulai tidak stabil.

"Biarkan aku mati!" Teriak sang noona.

Ketika sang noona akan meloncat dari sana sang eomma menghalanginya, sehingga membuat sang eomma harus terjatuh dari ketinggian itu. Sang magnae membelalakan matanya. Sang noona yang terkejut di tengah kelengahan langsung menjatuhkan dirinya juga. Sehingga kini dua yeoja terbanting ke tanah.

Sang appa langsung membawa sang magnae ke dalam pelukannya. Berusaha menutupi pemandangan yang terjadi di bawah sana. Sayang sekali eomma dan noonanya meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Hal itu benar-benar membuat trauma luar biasa bagi sang magnae.

Ketika acara pemakaman sang magnae sama sekali tidak mau keluar dari kamarnya. Di saat itu hyung tertuanya dari Super Junior menghampiri sang magnae yang terlihat begitu berantakkan. Tanpa berkata apapun, sang magnae langsung menerjang tubuh sang hyung tertuanya tersebut.

"Hyung hiks...hyung...hiks..." Magnae ini begitu terisak.

Sang hyung hanya bisa mengelus punggungnya. "Tenanglah saeng... tenang..."

"Aku jahat hyung...aku jahat..." Magnae tersebut makin menenggelamkan kepalanya dalam dekapan sang hyung.

"Tidak apa-apa sayang, masih ada kami.." Kembali kalimat penenang dikeluarkannya.

"Aku berjanji tidak akan membuat semua orang marah dan sedih lagi karenaku... biar aku saja yang merasakannya Tuhan." Gumam sang magnae yang nampaknya tidak bisa didengar oleh sang hyung tertua.

Akhirnya Leeteuk bisa menemukan jawaban dari semua hal yang telah terjadi. Dan dengan berat hati dirinya harus memilih jalan ini. Mungkin akan menyakiti perasaan sang magnae, tapi mungkin dengan cara inilah Leeteuk bisa membuat sang magnae untuk tetap bertahan. Meski dirinya juga tidak rela.

"Jika kau seperti ini...hyung yakin eomma dan noona-mu yang kau banggakan itu malah akan kecewa saeng."

.

.

.

.

- Noona-ku namanya Ahra dan dia sangat cantik hyung... dan aku rasa aku akan menjodohkannya dengan Kibum hyung si manusia es.

12 April 2015

10.00 AM KST

Tanpa diketahui oleh semua member Super Junior bahwa Kyuhyun kemarin sebenarnya berada di rumah sakit kini sudah ada di dorm kembali. Leeteuk memberikan alasan bahwa kemarin Kyuhyun menginap di apartemen Yonghwa karena kelelahan sehingga tidak memungkinkan baginya untuk pulang.

Dan hari ini adalah hari terakhir dimana keempat member besok akan mulai melakukan wajib militernya. Tak ada jadwal atau apapun yang mereka lakukan, karena mereka ingin menikmati waktu kebersamaan mereka sebelum besok akan dipisahkan selama dua tahun lamanya oleh kata yang bertajukkan wajib militer.

Di ruangan tengah mereka semua tengah berkumpul untuk melakukan sebuah permainan truth or dare. Dimana jika memilih truth maka mereka harus menjawab pertanyaan apapun itu secara jujur. Sementara jika memilih dare maka mereka harus melakukan tantangan yang diberikan oleh member lain. Pemilihan korban dilakukan dengan memutarkan botol. Jika ujung botol mengarah kepada seseorang, maka dialah yang harus memilih. Putaran pertama dilakukan dan botol itu menuju ke arah Heechul.

"Truth or dare?" Tanya Eunhyuk dengan senyum jahil.

Heechul mendengus sebal. "Aish jinjja? Aku pilih dare saja."

Siwon dan Eunhyuk saling memandang. "Berdoalah pada Tuhan."

"Mworago? Kalian memang besekongkol." Heechul mulai memejamkan matanya dan berdoa.

Putaran botol kedua kini dilakukan. Dan arah dari ujung botol tersebut berhenti pada Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum aneh. "Ah aku pili truth."

"Ah tidak seru." Shindong tidak terima.

"Baiklah... apa yang tadi kau lakukan dengan sikat gigi Eunhyuk?" Tanya Sungmin.

Kyuhyun mengeluarkan smirk-nya. "Hanya menjadikan sebagai sikat sepatu putihku yang agak kotor."

Dan bisa dipastikan sebuah persimpangan kini muncul di sudut dahi Eunhyuk. Sementara member lain hanya bisa menggelengkan kepalanya. Putaran ketiga dan ini menuju ke arah Leeteuk. Benar saja arah ujung botol tersebut berhenti tepat di hadapan Leeteuk.

"Kau pilih apa hyung?" Tanya Donghae semangat.

Leeteuk menyahut singkat. "Truth..."

"Ja... pertanyaannya adalah..." Ucapan Yesung terpotong.

"Membuat seseorang pergi meninggalkan Super Junior." Semua yang mendengar tersentak kaget.

Kangin mengernyit bingung. "Hey leader kau hanya bergurau kan?"

Leeteuk memandang Kyuhyun. "Magnae ikut aku."

Menyadari atmosfer yang menjadi aneh Sungmin berinisiatif mencairkan kembali suasana dan mencoba mengalihkan perhatian member lain dari Kyuhyun dan Leeteuk. Sementara itu Kyuhyun kini sedang berjalan mengikuti Leeteuk untuk masuk ke dalam kamarnya. Setelahnya Leeteuk mengunci rapat pintu kamar tersebut.

"Wae gerae hyung?" Tanya Kyuhyun penasaran.

Leeteuk memberikan sebuah kalimat. "Peribahasa memang benar bukan? Sepandai-pandainya tupai melompat pasti suatu saat dia akan jatuh."

"Apa yang kau maksud hyung?" Kyuhyun tidak mengerti.

"Sepandai-pandainya orang menyembunyikan suatu kebohongan suatu saat nanti pasti terbongkar. Apa kau masih belum mengerti juga Kyu?" Tanya Leeteuk balik.

Kyuhyun menundukkan kepalanya. "Mianhata..."

Leeteuk menggelengkan kepalanya. "Kau menodainya Kyu...menodai semua ikatan ini."

"Hyung...aku..." Kyuhyun mulai kebingungan.

"Apakah kau pernah menganggap kami ada Kyu? Selama ini sebenarnya kau anggap kami apa?" Leeteuk sudah tidak dapat menahannya lagi.

"..." Kyuhyun tidak bisa menjawab.

Leeteuk menatap Kyuhyun. "Jadi maafkan aku, jika hyung akan membuatmu tidak nyaman saat ini."

Pandangan itu adalah pandangan mata Leeteuk dulu saat pertama kali dirinya masuk ke dalam Super Junior. Tatapan tajam dan sarat kebencian. Dan tiba-tiba saja suasana yang canggung itu kembali dirinya rasakan. Kecanggungannya dan ketakutannya terhadap leader Super Junior tersebut. Bersamaan dengan Leeteuk yang berlalu pun Kyuhyun sama sekali tidak berani untuk sekedar menatap balik hyung tertuanya tersebut.

Leeteuk benar-benar tidak main-main dengan ucapannya. Sifatnya yang dulu saat pertama kali melihat Kyuhyun kini kembali lagi. Tapi sepertinya seluruh member lain belum menyadari akan hal itu semua.

"Kyuhyun-ah bersihkan meja makan ini, kemudian cuci piringnya." Titah Leeteuk.

Ryeowook heran. "Bukankah sekarang giliranku?"

"Ah tida Wookie... hari ini adalah jadwalnya Kyuhyun." Sahut Leeteuk.

Tanpa bisa membantah Kyuhyun hanya bisa melakukan semua perintah Leeteuk. Entahlah apa yang hyung-nya ini rencanakan. Membuatnya meninggalkan Super Junior? Tidak... Kyuhyun tidak akan pernah mewujudkan impian hyung-nya tersebut. Setelah selesai dengan cucian piringnya Kyuhyun mencoba istirahat tapi...

"Kyu hari ini kau yang harus membersihkan dorm... Bibi Jung aku biarkan pulang kampung." Kembali perintah Leeteuk keluarkan.

Heechul merasa aneh. "Apa kau menghukumnya?"

Leeteuk tersenyum. "Ani."

Menghembuskan nafasnya kasar akhirnya Kyuhyun kembali menuruti apa yang diperintahkan Leeteuk. Dirinya harus membersihkan dorm yang begitu besar seorang diri. Karena Leeteuk melarang semua member untuk membantu Kyuhyun. Jika ada yang membantah maka pekerjaan Kyuhyun akan dijamin lebih berat lagi.

Selama satu jam akhirnya pekerjaan membersihkan dorm pun selesai. Setidaknya kini dirinya bisa sedikit beristirahat. Jujur saja dia merasa sangat lelah. Ditambah lagi sekarang penyakit sialan itu mulai mencoba kembali menyerang dirinya. Untung saja Kyuhyun segera meminum obat penahan sakit dosis tinggi yang diberikan oleh Kimbum uisa kemarin.

Pandangan Kyuhyun melirik ke sebuah kalender. Bukankah hari ini hari terakhir keempat member Super Junior, yaitu Eunhyuk, Shindong, Sungmin, dan Donghae melakukan wajib militer. Harusnya Kyuhyun bisa menghabiskan waktu bersama mereka seperti member lain. Dengan hati-hati Kyuhyun mencoba mendekati seluruh member yang sedang berkumpul.

"Sungmin hyung, Donghae hyung, Shindong hyung, Hyukjae... bisakah kalian menunda wajib militer kalian?" Pinta Kyuhyun takut-takut.

Sungmin mengernyitkan keningnya bingung. "Waeyo? Apa ada yang sedang kau pikirkan saeng?"

"Aku...aku hanya takut tidak bisa bertemu kalian lagi." Kyuhyun menundukkan kepalanya sedih.

Heechul heran. "Mereka hanya pergi wajib militer bukan untuk medan perang."

"Kyuhyunnie... kau bisa mengunjungi kami kok." Donghae mengelus rambut Kyuhyun.

"Benar magnae... jadi jangan bersikap seperti ini." Hibur Eunhyuk.

"Ayo peluk kami.." Titah Shindong.

Dengan penuh semangat Kyuhyun memeluk keempat orang yang besok akan meninggalkannya tersebut. Seandainya saja Kyuhyun bisa jujur bahwa dirinya lah yang sebenarnya akan pergi meninggalkan mereka semua selamanya.

'Tuhan...bisakah kau izinkan aku untuk tetap bisa melihat mereka semua tersenyum meski aku sudah tiada.' Do'a Kyuhyun dalam hati.

Di tengah moment tersebut Leeteuk langsung menghentikannya. Dirinya menatap tidak suka dengan pemandangan yang terjadi. Perasaan takut akan kehilangan itu kembali menyelimuti hati Leeteuk.

"Apa yang kalian lakukan? Bereskan barang kalian untuk besok." Perintah Leeteuk tegas.

"Baik hyung." Sahut mereka berempat serentak.

Leeteuk menunjuk Kyuhyun. "Dan kau... berhentilah bertingkah seperti anak kecil!"

Pandangan ini... adalah pandangan Leeteuk pada waktu itu. Pandangan yang sukses membuat dirinya menangis. Leeteuk berlalu tanpa sepatah katapun. Apakah ini akan terulang kembali?

.

.

.

.

.

Leeteuk sedang memandang seorang namja remaja yang kini mempunyai status sebagai magnae baru di group yang dipimpinnya. Tatapan tidak suka sungguh terlihat dari bola matanya. Sungguh keterlaluan bukan memasukkan seseorang yang asing ke tengah group mereka yang sedang dilanda masalah.

"Buatkan aku mie ramen." Titah Leeteuk tegas.

Namja remaja itu menunduk. "Ta...tapi hyung aku tidak tahu bagaimana cara membuatnya."

"Bukankah kau pintar? Di belakang bungkus ada petunjuk untuk membuatnya pabbo." Jelas Leeteuk.

"Tapi bagaimana..." Sang namja remaja ragu.

Leeteuk mengacak rambutnya. "Cepat buat aku sangat lapar."

"Arrasseo." Jawab sang namja remaja dengan nada lemah.

Karena memang dirinya tidak mengetahui bagaimana cara membuat ramen, akhirnya dia hanya mengikuti petunjuk yang tertera di belakang bungkus ramen tersebut. Tapi yang bisa dilihat sepertinya namja remaja ini terlalu banyak memasukkan air ke dalam panci. Bahkan mie yang dibuatnya pun terlalu lembek.

Leeteuk terbangun dari tidur singkatnya dan kemudian kembali menuju dapur, dimana dia menyuruh seseorang untuk membuatkannya sebuah mie ramen. Betapa terkejutnya Leeteuk melihat sebuah mangkuk besar yang seperti hanya berisikan air saja. Diambilnya sepasang sumpit oleh Leeteuk dan kemudian mencoba mengambil mie yang ada di dalam. Tapi hasilnya hanya air saja yang ada disana.

"Cho!" Panggil Leeteuk dengan nada kesal.

Seorang namja remaja langsung berlari menghampirinya. "Nde hyung?"

"Apa ini yang kau sebut ramen?" Tanya Leeteuk jengah.

Namja remaja itu menyahut. "Setidaknya aku sudah mengikuti prosedur yang tertera pada bungkusnya hyung."

Leeteuk yang kesal semakin kesal karena jawaban yang diberikan namja remaja itu padanya. Dilemparnya sepasang sumpit tersebut ke arah sang namja remaja. Untung saja lemparannya tersebut meleset, namun sukses membuat sang namja remaja shock. Member lain yang mendengar suara ribut-ribut segera menghampiri mereka berdua.

Lalu kini Leeteuk menjatuhkan ramen tersebut ke lantai. Terlihat sangat berantakkan sekali disana. Sumpit yang terlempar, mangkok, dan air yang berserakan. Perasaan sang namja remaja ini benar-benar terluka dengan apa yang terjadi. Sebelumnya dia memang tidak pernah memasak jadi wajar jika hasilnya akan sangat buruk.

"Bereskan semua kekacauan ini!" Titah Leeteuk dengan nada sinis.

"A...arrasseo..." Cicit sang namja remaja.

Leeteuk menatap seluruh member lain. "Dan kalian... tidak boleh ada yang membantu bocah ini. Ingat?"

Akhirnya Leeteuk bersama member lain berlalu meninggalkan sang namja remaja. Sementara sang namja remaja hanya mencoba untuk menahan air matanya yang akan segera mengalir dengan bebas. Tapi namja remaja ini bertekad untuk terus tetap bertahan sekuat apapun, agar dia bisa terus berada di Super Junior.

Ketika sudah membereskan semuanya, namja remaja ini mulai bisa mengembangkan senyumnya. Namun hal itu hanya terjadi beberapa saat karena orang yang sangat ditakutinya kembali menghampirinya. Siapa lagi jika bukan Park Jungsoo a.k.a Leeteuk sang leader Super Junior. dengan seenaknya Leeteuk menyenggol Kyuhyun dan membuat semuanya menjadi berantakkan kembali.

"Oh mian...aku tidak lihat." Bohongnya.

Sang namja remaja geram. "Aku yakin kau sengaja..."

Leeteuk menghentikan langkahnya. "Pergi dari Super Junior..."

Dirinya tercengang mendapatkan pandangan penuh kebencian dari sang leader Super Junior.

.

.

.

.

Dan kini Kyuhyun kembali mendapatkan tatapan itu...

.

.

.

.

"Kau kembali seperti dulu hyung..."

To Be Continue...

Sekali lagi jeongmal gomapseumnida buat semua yang udah meninggalkan jejak review kalian disini^^ jangan bosen-bosen ok

Yohey [ch6] : hehehe wajarlah kan dia angel without wings

Namie [ch6] : teuk bkan marah lebih tepatnya dia cari cara spaya Kyuhyun bisa fokus untuk kesembuhannya.

Kyuhae [ch6] : ini bakal jauh dari happy end saeng

Lita [ch6] : gomawo udah selalu muji FF ini hehehehe

Hulan [ch6] : yang manggilnya Kibum...akhirnya dtang jg**

Phn19 [ch6] : bner, sekarang Teuk udah tahu semua puzzle yang Kyu buat

Amanda[ch6] : lebih tepatnya sih dia kecewa besar

Kyuli99 [ch6] : ne akhirnya teuk nae bkin tau jga

Mr kyu [ch6] : hahaha gomawo

Nisa [ch6] : hebat bner kamu bisa nebakk

Guest [ch6] : jeongmal goampseumnida

Hyunchi[ch6] : iyeth itu semua emang Kibum kok... wahhhhh makasih kmu udah memberikan review di setiap chapter

Chairun[ch6] : lebih teparnya dia kecewa besar

Dewi [ch6] : hahahaha mna mungkin dong dia yang lagi terbaring langsung berdiri, itu Kibum saeng

Leeh [ch6] : cheonma... nae jga mau blang makasih^^

Cupid [ch6] : gimaana sneng nggk? Teukie udah tahu loh!

Liestie[ch6] : kan itu jga perintah si Kyu buat ngerahasiaiinnya

Septi [ch6] : karena dead chara otomatis sadd

Delisa [ch6] : wehh dari mna aja -_-

Mmzza [ch6] : gomawo jangan bosen2 yeth

Desvi [ch6] : evil yang menjelma menjadi angel hahahaha :v

R

E

V

I

E

W