Title : Thank's God

Cast : Kibum, Kyuhyun, Other member SJ, etc.

Lenght : Chaptered

Gendre : Brothership, Sad, Friendship, Hurt/Comfort, etc.

Summary : Sungguh mereka merasa menjadi orang paling bodoh di dunia karena tidak pernah menyadari sebelumnya. / "Jika saja aku bisa mencegah Shiyoon, aku sudah membiarkan seseorang pergi. Mianhae hyungie." / Benda kecil kotak itu jatuh seketika dari genggamannya.

WARNING : TYPO HARAP MAKLUM KARENA INI FF LANGSUNG TANPA EDITAN, GAJE, ANEH BIN AJAIB :D

Jeongmal gomawoyo buat kalian yang udah selalu setia dengan FF ini. Mianhae karena udah membuat kalian menunggu lama. Waktu itu eomma author masuk rumah sakit jadi FF ini tertunda. Tetap terus dukung ne~

DON'T COPAS TANPA IZIN

DON'T BE SILENT READER

DON'T LIKE DON'T READ

KEEP REVIEW

LET'S ENJOYED

Preview

"KYUHYUN SEKARAT!" Teriak namja itu frustasi.

Semua orang yang ada disana langsung merasakan kelemasan di seluruh tulang mereka. Bahkan kebanyakan dari mereka tidak mengerti kenapa ada seorang namja yang datang memukul hyung tertua mereka dan mengatakan dongsaeng terkecil mereka sedang berada diantara jurang hidup dan mati.

Hanya Leeteuk yang kemudian mengeluarkan air matanya dengan deras dan terisak begitu dalam. Keadaannya bahkan sudah tidak dapat dideskripsikan kembali. Sementara namja tadi kemudian berlalu.

"Aku tunggu kedatanganmu Jungsoo-ssi. Kau harus bertanggung jawab. Karena dalam 48 jam Kyuhyun tidak juga membuka matanya...

.

.

.

.

.

.

- maka kematianlah yang menantinya."

.

.

.

.

.

Namja itu berlalu dengan langkah cepat seperti menahan amarah yang sangat luar biasa di dalam dirinya. Seluruh member Super Junior masih diam terpaku mencerna semua yang telah terjadi. Apa yang baru saja namja itu katakan? Kyuhyun sekarat? Bahkan kemarin mereka masih bersama dengan magnae evil mereka tersebut. Namun jika ini hanya mimpi kenapa rasa perih di hati mereka sangat terasa nyata.

Heechul mencoba mengembalikan kesadarannya. Meski dirinya memang terkaget dengan apa yang terjadi dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Perlahan Heechul mendekati Leeteuk yang sedang terisak dengan kerasnya. Dia yakin leader-nya ini mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh member lainnya

.

Heechul menatap Leeteuk. "Jelaskan pada kami Jungsoo mengenai apa yang kau tahu?"

Leeteuk masih membiarkan air matanya yang menetes. "Kyuhyun..."

"Berbicaralah yang jelas Teukie hyung." Yesung menambahkan.

"Apakah ini semua ada hubungannya dengan sikapmu terhadap Kyunnie hyung?" Siwon menambahkan pertanyaan.

Mata Ryeowook berkaca. "Jungsoo hyung jebal..."

"Kau tahu hyung kami seperti orang tolol yang tak tahu apa-apa." Kangin menyesali.

"Jungsoo jelaskan!" Tegas Heechul.

Leeteuk menahan nafasnya sejenak. "Kyuhyun sakit. Dia menderita hemothorax akibat komplikasi dari operasi yang dilakukan saat kecelakaan dulu. Bahkan keadaan Kyuhyun lebih buruk dari waktu itu sekarang. Paru-parunya sudah terhimpit oleh semua gumpalan darahnya sendiri."

Heechul mengepalkan kedua tangannya. "Kau tahu hingga sejauh itu, lantas kenapa kau tidak memberi tahu kami hah?! Apa menurutmu karena kami bodoh, kau menyembunyikannya?"

Siwon mendelik. "Jadi kau sudah tahu? Mengapa kau malah memperlakukan Kyunnie dengan kejam?! Aku mengerti kenapa namja itu begitu marah. Karena sikapmu Kyunnie sekarat. Karena kau Kyunnie berada dalam hidup dan mati!"

"Siwon hyung aku mohon tenanglah." Ryeowook mencoba menenangkan Siwon.

Leeteuk membalas dengan nada menantang. "Kalian tidak mengerti. Jika hyung tidak melakukannya Kyuhyun tidak akan mau meninggalkan Super Junior. Pengobatan Kyuhyun semakin lambat dan hal itu malah akan membuat Kyuhyun semakin cepat meninggalkan kita. Aku tidak ingin bersikap sama seperti Kibum!"

"Apa kau baru mengatakan Kibum?" Heechul memicingkan matanya.

"Bahkan dia terlebih dahulu dibandingkan aku." Leeteuk menyahut singkat.

Heechul menggeram. "Kau tahu Jungsoo saat ini aku benar-benar ingin meremukkan semua tulangmu. Tidak ada lagi Jungsoo yang bijaksana yang ku kenal. Aku akan bergegas ke rumah sakit bersama yang lainnya. Lalu aku tidak ingin orang sepertimu datang hanya untuk sekedar melihat dongsaeng kecilku."

"Kami pamit hyung." Ryeowook pamit dengan canggung.

Kangin berlalu tanpa mau melihatnya. Leeteuk kemudian menatap Yesung dengan penuh harap. "Sungie..."

"Aniyo Teukie hyung. Bahkan aku sendiri bingung harus bersikap apa padamu." Akhirnya Yesung berlalu meninggalkan Leeteuk.

'BLAM' Pintu dorm tersebut tertutup menandakan bahwa beberapa namja tadi sudah meninggalkan dorm ini. Leeteuk kembali terduduk lesu saat mengingat bahwa magnae-nya kini kembali berada dalam jurang hidup dan mati. Leeteuk menangis, dia menyesal sangat menyesal dengan semua yang telah dilakukannya.

Seharusnya Leeteuk merangkul Kyuhyun saat dia menangis bukan membentaknya. Seharusnya dirinya menenangkan Kyuhyun disaat dia ketakutan bukan mengejeknya. Seharusnya dirinya menyeka keringat Kyuhyun saat dia mengeluarkan keringat dingin karena rasa sakitnya yang kambuh. Seharusnya Leeteuk melindungi Kyuhyun disaat Kyuhyun akan jatuh.

Tapi apa yang dilakukannya? Dia malah membentaknya, mengejeknya, mengacuhkannya, menjatuhkannya. Seharusnya dirinya sadar bahwa dongsaeng-nya itu namja yang kuat yang tidak akan pernah tumbang dan jatuh dengan cara apapun. Isakan yang tadi berhenti sejenak itu kini kembali meluncur dari bibir Leeteuk. Dia merasa menjadi hyung yang sangat kejam.

Sementara itu Heechul, Yesung, Kangin, Siwon, dan Ryeowook sedang berada di dalam mobil van Super Junior. Mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat sang magnae sedang berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Hujan yang mendadak turun semakin menambahkan kesedihan di hati mereka masing-masing.

Sungguh mereka merasa menjadi orang paling bodoh di dunia karena tidak pernah menyadari sebelumnya. Padahal mereka selalu bersama-sama setiap harinya. Namun tak pernah ada hal yang mereka sadari mengenai kesakitan yang tengah dirasakan oleh dongsaeng terkecil mereka. Sakit sekali sungguh sakit, hari ini tanpa sebelumnya ada badai telinga mereka harus mendengar kembali bahwa sang dongsaeng terkecil tengah berjuang dalam hidup dan mati.

"Tapi jika aku penyebab semua itu akan terjadi lagi?"

Siwon mengingat pertanyaan magnae tersebut beberapa waktu lalu. Akhirnya Siwon dapat mengerti mengapa dongsaeng-nya tersebut pada saat itu menangis. Mengapa pada saat itu dongsaeng-nya tersebut memeluknya begitu erat. Mengapa saat itu dongsaeng-nya tersebut bertanya hal tersebut. Kini semua jawaban sudah dapat Siwon simpulkan sendiri. Dongsaeng-nya memang cerdas. Tapi mengapa dia harus membuat puzzle yang jika digabungkan akan memberikan jawaban yang begitu menyakitkan seperti ini?

Siwon menangis dalam diam. Kyuhyun sudah seperti dongsaeng kandungnya sendiri begitu juga dengan hyung dan dongsaeng-nya yang lain. Semua di Super Junior menyayangi Kyuhyun. Tidak...bahkan semua orang menyayangi magnae evil tersebut atau mungkin lebih tepatnya terlalu mencintainya.

"Kyuhyunnie kau pasti bisa saeng pasti bisa. Dan kau harus tahu Kyuhyunnie tidak akan ada satu orang pun yang membencimu. Mereka semua terlalu menyayangimu. Tuhan selamatkanlah dongsaeng-ku." Do'a Siwon dalam hatinya.

Seoul International Hospital

Seorang uisa dari departemen thorax yang ada di rumah sakit ini terlihat sedang memeriksa keadaan seorang namja yang terbaring lemah. Memantau semua peralatan medis yang diharapkan dapat sedikit membantu namja ringkih itu untuk dapat mempertahankan hidupnya.

Uisa yang diketahui bernama Kimbum tersebut tersenyum sendu melihat keadaan namja yang sudah dianggap dirinya sebagai dongsaeng kandungnya sendiri. Meski dia adalah seorang uisa dan terbiasa akan hal seperti ini namun berbeda ceritanya jika sudah menyangkut dengan dongsaeng kecil.

Dulu dia adalah orang yang sangat jarang dan hampir tidak bisa dibuat menangis oleh siapapun. Tapi dongsaeng kecilnya ini berhasil meruntuhkan ketegaraanya. Buktinya kini Kimbum sedang terisak dalam keadaan diam menyaksikan keadaan sang dongsaeng yang begitu menyedihkan. Dongsaeng kecilnya ini benar-benar ajaib karena dia mampu mengalahkan sikap dingin dari seorang Sun Kimbum.

Kimbum mengelus rambut dongsaeng-nya dengan lembut. Takut-takut sentuhan yang agak keras akan semakin merapuhkan keadaan dari sang dongsaeng.

"Kyuhyunnie... dapatkah...dapatkah kau bertahan lebih lama lagi sayang?" Kimbum berbicara dengan penuh pengharapan.

Kimbum menegadahkan kepalanya ke atas. Tiba-tiba saja dirinya teringat kembali dengan kejadian di masa lalu, dimana dirinya harus kehilangan dongsaeng satu-satunya.

.

.

.

.

.

Seorang namja remaja yang masih berusia belasan tahun tiba di apartemen yang ditinggalin bersama salah satu hyungnya. Namja remaja ini menatap kecewa ruangan apartemen tersebut. Selalu seperti ini ketika dirinya pulang dia tidak pernah bisa bertemu dengan hyungnya. Selain hanya lima menit di malam hari dan lima menit di pagi hari. Setelah itu sang hyung pasti pergi meninggalkannya bekerja.

Bukannya namja remaja ini tidak ingin tinggal bersama hyung yang satunya, hanya saja dirinya ingin merasa lebih dekat dengan hyung yang menurutnya sangat dingin itu. Namja remaja itu 'Shiyoon' berjalan menuju ruang televisi dan menyetel PS untuk sedikit menghilangkan rasa jenuhnya.

Tiga puluh menit hampir berlalu. Memainkan game Shiyoon merasa masih jenuh, alhasil dirinya membanting stick Plays stationnya tersebut. Shiyoon mulai mengenakan jaket untuk pergi ke suatu tempat. Dirinya tidak ingin mengambil resiko, cuaca hari ini memang sangat dingin.

Shiyoon melangkah keluar dari apartemen dengan berjalan kaki. Mungkin jika hyungnya tahu dirinya sama sekali tidak diperbolehkan berkeliaran di cuaca buruk seperti ini. Kadang dirinya berpikir mengapa hyungnya tersebut selalu memperlakukannya seperti orang yang sangat lemah.

Ah lemah. Shiyoon sadar dirinya memang tidak memiliki fisik sekuat namja remaja pada umumnya. Terkena sedikit angin dirinya akan langsung masuk rumah sakit. Terkena sedikit panas bisa dipastikan bahwa dia akan menginap di ruang ICU. Sungguh orang yang merepotkan dirinya ini benar bukan? Ketika berhenti di sebuah taman Shiyoon mengistirahatkan dirinya sejenak dan duduk di bangku taman.

Di sebuah rumah sakit terlihat seorang uisa yang sedang berkonsentrasi menangani seorang pasien yang masih dalam keadaan koma. Uisa ini dengan telaten memeriksa pasien dan terus memonitoring semua peralatan penunjang pasien. Tanpa ekspresi uisa muda tersebut melakukan semuanya. Seolah hal yang dilakukannya ini adalah hal yang sudah biasa dan menjadi kehidupan sehari-harinya.

Satu pergerakan dari sang pasien membuat uisa ini agak sedikit terkejut. Mata pasien yang ditanganinya itu perlahan-lahan mulai terbuka. Iris caramelnya menandakan kebingungan yang luar biasa seolah si pasien ingin bertanya sebenarnya dia berada dimana. Sang uisa segera menghubungi tim dokter lain untuk membantunya menangani pasien.

Uisa dingin itu tertegun melihat keadaan pasien yang langsung bersikap ceria meski keadaannya bisa dipastikan malah lebih parah dari sebelumnya. Pasien tersebut menatap sang uisa dengan mata yang berbinar.

Pasien itu mencoba memanggil sang uisa. "Uisanim."

"Kau memanggilku?" Tanya sang uisa dengan dingin.

Sang pasien mengangguk antusias. "Ne uisa! Aku ingin tahu nama uisa."

"Tidak ada pentingnya untuk memberitahukan namaku padamu." Uisa tersebut berlalu dengan angkuhnya.

"Aish jinjja uisa jelekkk..." Jengkel sang pasien.

Uisa yang diketahui bernama Kimbum kini mempersiapkannya dirinya untuk pulang ke kediamannya. Kimbum adalah orang yang tidak pernah banyak bicara, sudah sejak delapan tahun lalu sikap Kimbum seperti ini. Tak ada alasan yang bisa diketahui oleh semua termasuk semuanya terkecuali hanya dirinya sendiri.

Kimbum menekan angka-angka sebagai password masuk apartemennya. Hingga akhirnya pintu tersebut terbuka menampakkan ruangan apartemen yang ditinggalinya bersama seseorang yang ia katakan mirip sebagai dongsaengnya tersendiri. Begitulah menurutnya, tapi bukankah orang yang disebut mirip itu terlahir dari ayah dan ibu yang sama dengannya?

Kimbum melangkahkan kakinya masuk, mengambil satu botol bir hendak membukanya sampai meneguknya hingg habis. Dia meneliti dan menelaah semua sudut ruangan, sayangnya Kimbum tidak juga menemukan seseorang yang selama ini tinggal bersamanya. Tak ingin mengambil resiko Kimbum kemudian melangkah pergi dengan mengendarai mobilnya.

Kimbum mengamati seluruh sudut jalanan, akhirnya dia menemukan orang yang sedari tadi dicarinya. Kimbum turun dari mobil dan mengamati orang yang sedang tertidur tersebut. Nafas dari orang ini sangat berat, Kimbum menyadari akan sesuatu. Dibawanya orang tersebut oleh Kimbum menuju ke suatu tempat. Ternyata sebuah rumah sakit.

Kimbum sendirilah yang menangani orang ini dengan telaten. Hingga akhirnya nyawa dari seseorang ini bisa kembali diselamatkan. Tak ada ekspresi di wajah Kimbum. Beberapa menit setelahya orang tersebut tersadar. Dirinya menatap sekitar dan orang yang pertama kali dirinya lihat adalah hyungnya sendiri.

Orang tersebut berusaha untuk duduk. "Hyung menemukanku?"

"Pabbo..."Jawab Kimbum dingin.

Pasien Kimbum 'Shiyoon' menundukkan kepalanya. "Mianhae..."

"Kenapa kau tidak sekalian enyah saja?" Tanya Kimbum dingin.

"Hy...hyungie... wae?" Shiyoon tidak percaya dengan perkataan Kimbum.

Kimbum menatap kosong Shiyoon. "Kembalikan dongsaengku yang sebenarnya."

"Hyung aku dongsaengmu!" Tegas Shiyoon.

"Dongsaengku...bukanlah orang yang lemah sepertimu. Dongsaengku selalu berjanji akan menemaniku." Kembali hanya ekspresi kekelaman di wajah Kimbum.

Shiyoon menunduk sedih. "Sampai kapan hyung? Sampai kapan kau lari dari kenyataan?"

"Kau...kau bukanlah Shiyoon. Kau hanya seorang yang mirip dengannya." Kimbum menggelengkan kepalanya.

Air mata Shiyoon perlahan menetes. "Aku tahu hyung, aku sudah menjadi orang terjahat di dunia ini. Bahkan hyung sudah tidak mau melihatku lagi bukan? Hyung tahu permintaan terakhirku sebelum aku pergi? Aku ingin senyum hyung kembali seperti dulu. Jika memang hyung menginginkan aku enyah aku akan enyah sebentar lagi hyung."

"..." Kimbum hanya dia dan kemudian berlalu meninggalkan Shiyoon sendirian.

'BLAM' Pintu ruang rawat tersebut akhirnya Kimbum meninggalkan dongsaengnya di dalam sana sendiri. Kimbum memegang dadanya yang terasa sakit. Entah mengapa mendengar ucapan Shiyoon tadi membuatnya sangat tertohok dan perih. Bisa dipastikan dirinya tidak akan pernah sanggup untuk kehilangan dongsaeng yang sangat disayanginya. Bukan maunya untuk lari dari kenyataan namun kenyataan yang diterianya ini sangat menyakitkan.

Seorang namja remaja menghadang langkah Kimbum. Uisa muda tersebut heran sekaligus kaget dengan apa yang dilakukan namja remaja ini. Dengan seenak hatinya namja remaja ini menarik tangan Kimbum dan membawanya ke suatu tempat. Kimbum yang geram melepaskan tarikan tangan dari namja remaja ini.

"Apa yang kau lakukan?" Nada Kimbum terdengar membentak.

Namja remaja ini menyilangkan tangannya di depan dada. "Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan pada dongsaengmu hingga dia menangis?"

"Kau...menguping?" Kimbum heran dengan kelakuannya.

Namja remaja ini menggaruk tengkuknya. "Aku tidak sengaja dengar. Emm tapi mengapa..."

"Anak itu menderita Leukimia dan Ataksia. Sementara dongsaengku sama sekali tidak." Kimbum langsung memotong pertanyaan namja remaja.

Namja remaja ini bisa mengerti. "Waeyo? Dia adalah dongsaeng kandungmu uisa. Mengapa kau tidak bisa menerima kenyataan?"

Kimbum tersenyum sinis. "Tapi bagiku ini terlalu menyakitkan."

"Kau tahu uisa aku yakin sebenarnya dongsaengmu lebih tersakiti. Di sisa hidupnya yang seharusnya bisa dinikmati bersama orang-orang yang disayangi, tapi mereka malah menghindarinya. Terkadang takdir itu tidak selalu menyenangkan, namun kita harus bisa menjalaninya. Aku yakin Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatnya. Ck ck...ck... kau kan uisa yang hebat setidaknya cari cara untuk menyembuhkan dongsaengmu bukan malah menyakitinya." Nada namja remaja ini terdengar menceramahi.

Kimbum sedikit tersentuh dibuatnya. "Kau ingin menceramahi seseorang yang lebih tua?"

Namja remaja ini menghentakkan kakinya. "Aish dasar tidak mengerti."

"Sudahlah cepat kembali ke ruang rawatmu. Atau kau tidak akan pernah kubiarkan pulang dari sini." Ancam Kimbum padanya.

Dengan langkah yang terpaksa namja remaja ini kembali menuju ruangan rawatnya. Kimbum sedikit dibuat tersenyum dengan tingkah lakunya. Mengingat apa yang tadi diucapkan namja remaja tadi, Kimbum mulai menyadari sesuatu.

'Hyung jadilah uisa yang hebat...'

'Kenapa kau menginginkan hyung sebagai uisa eoh?'

'Agar kau bisa memberikan kesembuhan kepada semua orang juga untukku.'

'Ne benar jika kau sakit maka hyung yang akan menyembuhkanmu.'

'Aku pegang janjimu hyung.'

Janji itu. Mengapa dirinya sampai lupa dengan janji yang diucapkannya saat itu. Seharusnya dia tidak bersikap seperti anak kecil begini. Apa yang namja remaja tadi katakan memang benar. Seharusnya dia dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk dongsaengnya Shiyoon yang mungkin hidupnya tidak akan lama lagi

-SKIP-

Shiyoon mencabut selang infus yang tertancap di tangannya secar paksa. Darah segar mengalir begitu saja dari lengan kurusnya. Dirinya mencoba berdiri, ini sudah menjadi keputusannya untuk pergi selama-lamanya. Pergi atau tak pergi Shiyoon merasa hanya akan selalu memberikan kesedihan kepada seseorang yang ada di sekitarnya.

Sementara itu seorang namja remaja yang sedang mencoba tidur sedari tadi tidak dapat untuk tertidur. Entahlah namja remaja ini merasakan sesuatu hal yang aneh, akhirnya namja remaja ini memutuskan untuk keluar dari ruang rawatnya. Namja remaja ini berjalan hanya mengikuti arah angin dan membawanya ke atap rumah sakit.

Namja remaja ini memicingkan matanya saat melihat siluet seseorang yang sedang terduduk di tepi atap. Namja remaja ini ingat bahwa orang itu adalah dongsaeng dari si uisa dingin tersebut. Ekspresi yang ditunjukkan oleh Shiyoon sungguh tidak bisa dipahami oleh sang namja remaja. Shiyoon yang sadar akan kehadiran si namja remaja perlahan mendekatinya.

"Kau salah satu pasien hyungku?" Tanya Shiyoon.

Namja remaja menganggukan kepalanya. "Ne."

"Jika begitu, bisakah kau sampaikan sebuah pesanku untuknya?" Shiyoon bertanya penuh harap.

Sang namja remaja memiringkan kepalanya. "Mwo?"

"Katakan padanya bahwa aku sangat menyayanginya. Katakan bahwa Shiyoon yang mengatakannya." Shiyoon tersenyum.

"Lalu kau mau kemana?" Tanya namja remaja agak heran.

Shiyoon memejamkan kedua matanya. "Tempat yang sangat jauh, tempat dimana aku bisa melihat kalian semua."

"Aish kau berpamitan itu harus langsung tahu." Sang namja remaja menggeleng-gelengkan kepalanya.

Shiyoon dibuat tersenyum oleh tingkah namja remaja itu. "Kau tidak mengerti?"

"Apa yang tidak aku mengerti?" Heran kembali si namja remaja.

"Aku pergi..." Shiyoon melangkah mundur.

Namja remaja itu terdiam dengan apa yang dilakukan oleh Shiyoon. Ketinggian dari rumah sakit ini bisa dikatakan lebih dari 100 meter. Entahlah hipotesa itu langsung terlintas di pikiran sang namja remaja. Namja remaja ini langsung sadar mengenai suatu hal. Dirinya segera menarik lengan Shiyoon.

"Mwoya?! Kau pikir ini akan berakhir jika kau begini?!" Bentak sang namja remaja.

Shiyoon mencoba melepaskan diri. "Apa peduliku? Dengan begini tak akan ada lagi orang yang kusakiti."

"Jeongmal pabboya! Cepat kembali kesini, kau tahu banyak orang yang ingin lebih lama hidup. Namun kenapa kau memilih untuk pergi lebih cepat?! Dengan begini kau malah akan lebih menyakiti!" Namja remaja ini mulai terbakar emosi.

Shiyoon mendengus. "Aku akan mati cepat atau lambat lepaskan aku!"

Namja remaja ini mencoba menariknya. "Kimbum hyung menyayangimu."

"..."

Sang namja remaja tersenyum. "Kajja cepat naik."

.

.

.

.

Seorang uisa muda tengah memantau keadaan seorang pasien yang tadi mengalami masa kritis begitu hebat. Uisa tersebut telihat mencoba menghembuskan nafasnya beberapa kali, berharap agar pasien yang ada dihadapannya kini segera membuka kedua matanya yang terpejam erat.

Tak ada niat sedikitpun bagi uisa muda ini untuk meninggalkan sang pasien. Dia tidak peduli meski sekarang dua jam dia sudah menungguinya. Akhirnya pasien tersebut mulai membuka kedua bola matanya. Uisa muda tersebut mulai mendekati sang pasien dan memeriksa semua keadaannya. Hingga pasien tersebut menggumamkan sesuatu.

"Shi...shiyoon..."

Mendadak pergerakkan tangan dari uisa muda tersebut mulai terhenti. Rasanya tubuhnya kaku seketika saat mendengar gumaman dari pasiennya yang tersadar. Mencoba menahan perasaannya akhirnya dia mengatakan sesuatu.

"Dia meninggal..." Sang uisa menunduk.

Mata namja remaja mulai berair. "Mw...mwo?"

"Pendarahan yang dialaminya sangat hebat ditambah dengan kanker yang dideritanya. Aku sendiri yang bahkan mengoperasinya." Jelas sang uisa.

"Mianhae...mianhae..." Namja remaja itu mulai terisak.

Uisa muda tersebut menggeleng. "Sudahlah, ini adalah jalan yang diambilnya."

"Mianhae...jebal mianhaeyo..." Harap sang namja remaja.

Sang uisa tidak tega dan mulai mengusak rambut sang namja remaja. "Gwenchana...gwenchana..."

"Jika saja aku bisa mencegah Shiyoon, aku sudah membiarkan seseorang pergi. Mianhae hyungie." Isak sang namja remaja.

Uisa muda itu begitu tersentuh dan langsung memeluk sang namja remaja. "Gwenchana sayang... Hyung sudah merelakannya.."

"Mianhae..."

Apakah namja remaja ini sama sekali tidak memikirkan dirinya? Dia sendiri bahkan hampir mati karena kejadian itu, tapi mengapa dia harus memikirkan seseorang yang bahkan baru dikenalnya? Itulah pertanyaan yang sepertinya ada di dalam benak seorang Sun Kimbum. Dia terus mengelus punggung sang namja remaja berharap agar namja remaja itu bisa sedikit tenang dari isakannya.

.

.

.

.

.

Kimbum tersenyum sendu saat mengingat bagaimana pertama kali dirinya menjadi sangat menyayangi namja yang berstatus sebagai magnae Super Junior ini. Dibelainya dengan sayang rambut Kyuhyun oleh Kimbum. Kemudian dikecupnya dengan dalam kening namja yang sudah dirinya anggap sebagai dongsaeng kandungnya sendiri. Tiba-tiba dirinya ingat mengenai seseorang.

"Kau tahu jangan pernah kau menyesal sepertiku...'

.

.

.

.

.

-Kibum-ah."

.

.

.

.

.

Seoul International Hospital

Seluruh member Super Junior yang tersisa akhirnya tiba di depan sebuah rumah sakit. Rasanya langkah mereka sangat berat. Setelah sekian lama mengapa hal seperti ini harus terjadi kembali? Mereka berjalan sembari menundukkan kepalanya. Buliran air mata seakan berlomba-lomba ingin keluar dari sudut mata mereka.

Beberapa langkah akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan yang ditunjukkan oleh salah satu ganhonsa di rumah sakit. 'ICU' Tercekatlah sudah seluruh tenggorokkan mereka semua. Apa ini mimpi? Benarkah magnae mereka kini sedang berada di dalam ruangan yang sangat dibencinya itu? Mereka ingin melangkah masuk ke dalam sana namun ada suatu perasaan yang menahan mereka semua.

"Hyung... apa benar Kyunnie ada di dalam?" Tanya si mungil Ryeowook.

Heechul tertawa hambar. "Aku rasa bukan, magnae kita sangat membenci tempat itu bukan?"

"Benarkah demikian? Tapi mengapa Kyunnie tidak berada di tengah kita." Kangin menunduk sedih.

"Hyung.. Kyunnie akan baik-baik saja aku yakin itu. Dulu saja dia bisa sangat berjuang untuk kembali lagi bersama kita." Siwon mencoba menghibur hyung dan dongsaeng-nya.

Yesung mengeluarkan suaranya. "Kajja kita masuk."

Mereka semua langsung memasukki ruangan tersebut dan menatap seseorang yang ada di balik kaca yang ada di dalamnya.

"Hiks...hiks...Kyuhyunnie..." Ryeowook sudah tidak dapat lagi membendung air matanya.

Kangin ternganga dengan pemandangan yang kini dilihatnya. "I...ini bohong kan?"

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Siwon bertanya sendiri.

"Kalian katakan padaku.. bahwa semua ini hanya mimpi." Air mata sudah muncul di sudut mata Heechul.

Ryeowook menangis. "Mengapa...mengapa harus Kyunnie?"

Yesung membuka suara. "Ini adalah kenyataan. Tapi mengapa sangat menyakitkan?"

"Apa yang kita lakukan selama ini? Mengapa kita tidak pernah menyadarinya?" Geram Siwon.

Heechul mengepalkan tangannya erat. "Kenapa magnae kenapa kau selalu menyembunyikan semuanya dari kami?"

Yesung mengelus pundak Heechul."Aku yakin hyung, Kyuhyun punya alasannya."

Sebuah suara mengintrupsi mereka...

"Untuk apa kalian kesini?" Tanya Kimbum dengan sinis.

Kangin menyahut. "Kami hanya ingin mengunjungi magnae kami."

Kimbum membalas dingin. "Pulanglah."

"Apa hak mu untuk melarang-larang kami?" Tuntut Heechul.

Kimbum tetap pada pendiriannya. "Aku bilang pulanglah."

"Kita pulang saja menuruti yang dikatakan uisa." Yesung menengahi.

Heechul tidak terima. "Yesungie!"

"Hyung!" Yesung menatap Heechul dengan tegas.

Tak ingin berdebat lebih jauh lagi akhirnya seluruh anggota Super Junior pergi meninggalkan rumah sakit. Di dalam mobil van pikiran mereka berkecamuk hingga bisa dipastikan semua yang ada di dalam mobil menangis bersama. Mereka tidak akan pernah sanggup jika harus kehilangan magnae yang sangat mereka sayangi.

Magnae yang selalu mengusili hyung-nya kini harus terbaring lemah dengan berbagai peralatan medis yang membantu dirinya agar bisa tetap untuk bernafas. Membantu dirinya agar bisa untuk terus berdetak mengenggam sedikit harapan hidup, meski sangat tipis yang didapatkannya. Ingin sekali mereka menggantikan magnae mereka.

Setibanya di dorm seluruh member hanya berdiam diri tanpa berniat untuk mengeluarkan sepatah katapun. Terlihat Leeteuk sudah menunggu mereka sedari tadi. Disana juga tersaji makanan yang sudah sengaja dirinya siapkan. Karena Leeteuk yakin para dongsaeng-nya belum makan dari tadi pagi. Dengan tersenyum Leeteuk mencoba menawarkannya.

"Kalian makanlah hyung sudah menyiapkan ini." Sapa Leeteuk pada semua member.

Siwon memandang Leeteuk dengan sinis. "Kau masih bisa makan di saat seperti ini?"

"Mianhae hyungie... aku malah lebih menginginkan Kyunnie sembuh dibandingkan makan." Ryeowook menyahut.

"Tapi jika seperti ini kalian bisa sakit." Leeteuk merasa tidak terima.

Kangin menunduk. "Bahkan jika kita sakit, magnae malah lebih sakit dari kita."

"Apa yang kalian bicarakan? Cepat makan." Tegas Leeteuk.

Heechul yang geram menarik kerah baju Leeteuk. "Kau bertanya apa yang kalian bicarakan? Kami berbicara mengenai magnae kami yang bisa dikatakan keadaannya tidak baik. Apa kau masih bisa makan di saat seperti ini Jungsoo?!"

"Apa aku salah? Aku hanya tidak ingin kalian sakit." Leeteuk menyahuti.

"Jungsoo kau benar-benar..." Heechul hendak melayangkan pukulannya.

Yesung menahan lengan Heechul. "Hyung hentikan! Dengan seperti ini apakah akan membuat Kyuhyun sadar?"

Heechul melepaskan tarikannya dan berlalu pergi.

"Hiks...hiks... jangan bertengkar..." Ryeowook mulai menangis.

Leeteuk menghembuskan nafasnya. "Biarkan Chullie, kalian makanlah."

"Silahkan makan sendiri hyung." Kangin berlalu pergi.

Ryeowook mengikutinya. "Aku sedang tidak nafsu makan."

"Berikanlah makanan ini pada orang yang lebih membutuhkan." Siwon seakan mengejek.

Leeteuk kemudian menatap Yesung. "Sungie makanlah..."

"Gomawo hyung. Aku tahu kau menyiapkan semua ini karena tidak ingin kami sakit. Aku sangat menghargainya hyung. Kyuhyun bahkan sudah sakit hyung. Namun aku akan lebih menghargai ketika kau menyiapkan ini untuk Kyuhyun saat kemarin dia mengatakan ingin meminta jatah makannya. Tapi sayang Kyuhyun sudah tidak mau makanan hyung." Yesung berlalu sembari tersenyum sendu.

Leeteuk merasa tertohok dengan semua yang diucapkan oleh Yesung. Kenapa...kenapa disaat magnae-nya mengatakan dia lapar, dirinya malah sangat enggan untuk membuatkan makanan yang bisa mengenyangkan perut sang magnae. Kembali Leeteuk yang tadi mencoba untuk tegar kini kembali menjadi si cengeng. Tak tahukah mereka dirinya juga sangat merasa sakit dengan semua keadaan ini.

-SKIP-

Seorang namja paruh baya sedang menatap sendu sebuah foto keluarga yang bisa dipastikan adalah keluarga kecil yang dimilikinya. Tapi itu dahulu sebelum dua orang yeoja yang sangat berharga baginya pergi meninggalkannya dengan si magnae. Kini sang namja paruh baya memandang foto putra bungsunya tersebut.

"Kau sudah berjanji bukan untuk selalu menemani appa? Tapi jika memang kau sudah lelah appa tidak apa-apa sayang. Appa akan berusaha untuk tersenyum untukmu."

.

.

.

.

.

Hide Story

Seorang namja remaja tengah bermain bersama dengan uisa muda yang selalu setia menemaninya di taman rumah sakit. Namja remaja ini terlihat begitu bersemangat, sama sekali tidak menampakkan bahwa dirinya adalah seorang yang selalu menahan kesakitan yang luar biasa.

Mereka dengan riangnya bercengkerama. Tapi sepertinya namja remaja itulah yang paling riang. Karena dia selalu sukses menjahili hyung uisanya tersebut dan membuat uisa muda itu beberapa kali terlihat merengut karena kelakuan dongsaeng evilnya ini. Namun uisa itu malah selalu ikut tersenyum ketika namja remaja ini tertawa karena sudah berhasil menjahilinya.

Seorang namja paruh baya yang sedari tadi asyik hanya menonton kini perlahan mendekati mereka berdua. Uisa dan namja remaja itu kemudian menatap sang namja paruh baya dengan senang. Apalagi sang namja remaja dia menatapnya dengan mata yang berbinar-binar.

"Hari sudah sore, sebaiknya istirahat." Nasihat namja paruh baya.

Sang uisa menggaruk tengkuknya. "Aish jinjja mengapa aku lupa waktu?"

"Sepertinya hyung mulai tua karena sudah pikun." Ejek sang namja remaja.

Uisa tersebut menatap jengkel. "Evil...coba kau sebutkan lagi."

"Hahaha...sudah sudah.. lebih baik kita cepat kembali." Namja paruh baya menengahi.

Tiba-tiba sang namja remaja menggumam kagum. "Wuahhh appa...hyung uisa... mataharinya terbenam. Sangat indah?"

Sang uisa tersenyum. "Benar. Hari ini dia sudah lelah untuk memberikan sinarnya hingga memilih untuk tidur."

"Kalau begitu aku tidak akan lelah." Ucap namja remaja tiba-tiba.

"Apa maksudmu sayang?" Tanya namja paruh baya heran.

Namja remaja itu memasang pose berpikir. "Begini appa. Tadi hyung uisa kan bilang matahari terbenam itu karena dia sudah lelah untuk memberikan sinarnya. Nah aku akan selalu menemani appa sampai aku sangat lelah lalu barulah ketika lelah aku akan tidur. Tapi aku tidak akan lelah dulu. Benarkan appa?"

Sang namja paruh baya memeluk putra satu-satunya itu. "Ne sayang. Tapi jika kau lelah tidurlah dengan tenang."

Sang uisa muda hanya memalingkan pandangannya berusaha agar ayah dan anak itu tidak melihat air matanya yang menetes.

.

.

.

.

Namja paruh baya itu 'Tuan Cho' akhirnya bangkit dari duduknya untuk segera pergi menemui harta paling berharganya. Menghapus air matanya yang tadi terjatuh. Dia tidak ingin putranya melihat air matanya nanti. Karena sang magnae sangat membenci jika appa-nya menangis. Namun saat hendak membuka pintu handphone-nya berbunyi.

'Yobeseyo.' Sapa seseorang di seberang sana.

Tuan Cho tercekat mendengar suaranya. "Kau..."

'Sudah lama ahjussi. Entahlah hari ini aku ingin meneleponmu.' Jelas orang di seberang sana dengan canggung.

Tuan Cho tersenyum perih. "Jika begitu ini memang saat yang tepat."

'Maksud anda?' Orang tersebut bingung mendengar ucapan Tuan Cho.

Tuan Cho menghirup nafasnya secara dalam. "Kyuhyun..."

'Ya mengapa?' Orang itu mulai menggunakan nada serius.

Tuan Cho akhirnya berucap. "Putraku Kyuhyun sedang dalam ambang hidup dan mati. Dia sekarat."

'Tut...tut...tut...tut...'

Sambungan telepon itu langsung terputus seketika. Seorang namja yang berstatus sebagai aktor kini tidak percaya dengan apa yang tadi di dengarnya. Benda kecil kotak itu jatuh seketika dari genggamannya. Telinganya tidak tuli kan? Orang tadi mengatakan mengenai sekarat? Apa...apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa disaat dia ingin memperbaiki segalanya semuanya terjadi? Namja itu dengan cepat pergi meninggalkan apartemenennya menuju tempat yang sudah sangat sering dia kunjungi.

.

.

.

.

.

-Mengapa kau menutup teleponmu Kibummie?

To Be Continue...

Jeongmal gomawo sekali lagi bagi kalian yang sudah selalu setia untuk memberikan review kalian di FF ini^^. Jangan pernah bosen ne

Cronos01 (ch8) : jeongmalyo? Huhuhu kasian

Kim nayeon (ch8) : crtanya Teukie ingin ngebuat si Kyu lelah sehingga Kyu gak tahan dan milih keluar dri SJ. Tapi pada knyataannya sih yah hahaha kmu jg tau sndiri.

Raein13 (ch8) : wuahhh ambil obat cepet kamu kena asma wkwkwkkw. Jeongmal? Hehehe pdahal bnyak loh :O ... soal berapa chapter lagi, author juga masih bingung sih hehe.

Hyunchiki : leeteuk tidak menghamili kyu kok :D... wehhh kasian dong klo dia dmarahin.

Mingyutae : disini sih author buat sadar dlu

Kliieff19 : wuaahhh aktingmu hebat sekali *PLAK*

Septianumrmalit : gimana nih udh lebih dri 48 jam nggk update, meweknya sgimana? Wkwkwkwk

Hyunnie02 : benar Leeteuk cepat segera nikahi kyu (eh?) wkwkwkwk jgn nahan nafas ntar gimana eoh?

Phn19 : kayaknya sebentar lgi END tapi gak tau mau berapa chapter lagi

Emon204 : Leeteuk emang udah tahu bkal kayak gini. Tapi menurutnya nggak ada pilihan lain. Makanya lebih baik dicoba daripada nggak sama sekali. Hahahaa itu sih menurutnya. Kibum ah masih bingung author mau ngapain Kibum

Kyuli99 : sudah^^

Dewidos : leeteuk juga ada alesan buat ngelakuinnya.

: da kyuhyun mah apah atuh? Hahahaha habis wjahnya emang menarik buat dibikin menderita. Wiih nangisnya kek bayi :p

Desviana407 : menyakitkan namun disukai ckckckckc :v... yah mau gmna lagi hahaha itulah takdir si Kyu

Liestie : kyumbul? Hahahaha apa krna emang si Kyu tmbah gendut eoh akhir2 ini?

Awaelfkyu : apapun makanannya minumnya teh botol s*sr* -weh ngiklan-

Nianaa29 : hehehehe mian baru update sekarang ne ^^. Oh benarkah bakal sperti itu?

Hulanchan : OMO! Bahaya nih kalau author berurusan dengan si evil :D

Sparkyubum : bisa kebayang tuh kekesalan kamu kaya gimana hahahaha :v

Kakagalau74 : hehehe bener skali chingu^^, over? Overdose? Hehehehe. Kaget lah orang dongsaeng kesayangannya koma hehe

Ladyelf1 : hehehehe gomawo

Mmzzaa : hahahaha mungkin author akan memilih tengah-tengahnya aja deh.

Yohey57 : hahahahaha jadi malu nih dipuji sama saeng^^. Ish eonni jga gkan mau kalo ini jdi knyataan hahahaha

Amanda : Tuhan selalu memberikan keajaibannya bukan ? waks :v

Kyuchoco : entahlah author masih bingung untuk menentukannya. Kalo enaknya sih ambil tengahnya aja.

Angel sparkyu : ini udah update^^

Hanna shinjiseok : leeteuk sih bakal mempunyai banyak penyesalan karena sdah mlakukan semua hal itu.

Alifia : hehehehehe gomawo

Ilmah : sbenarnya sih FF ini addalah bersifat langsung. Jadi ini langsung d publish dan tanpa pengeditan terlebih dulu. Mungkin inilah yang menyebabkan si TYPO selalu tersaji dalam FF. Haha mianhae... disitu author agak kehilangan ide. Meski Kibum berusaha lari tapi emang sebenarnya jauh di dlam lubuk hati Kibum dia sangat menyayangi dan gak mau kehilangan Kyu. Bisa dibilang dialah hyung yang paling menyayanginya. Leeteuk bahkan lebih dari kata menyesal chingu hahahaha,... aih author disalahkan hiks *nangisdipojokan* nah ini lanjutannya udah tiba. Ne itu Kimbum yang nolonginnya. Iya bener jadi pantes kan klo Kimbum sangat marah.

Xyz : hampir smua hyungnya sih lebih tepatnya

DelishaELF : pnyesalan kan selalu datang diakhir :v

Aya : hehehhehe mau gimana lagi Si Kyu emang pantes dijadikan kesedihan hahahaha :D

Citra546 : hehehehe udah cyiiiiiiiiin . si Kyu memang pantes dianiyaya :D

BIG THANKS FOR

Sparkyubum, delishaELF, kyuli 99, mpiwkim3022, phn19, , vicya merry, chairun, meimeimayra, yohey57, zhee614, , fitripratyy, Desviana407, KLiieff19

bintang15, bintang15, bright16, Emon204, Cloud the First Tsurugi, cronos01, Citra546, Kim Nayeon, Tiktiktik, beautyq, cronos01, dewisanti07900,

R

E

V

I

E

W