Title : Thank's God
Cast : Kibum, Kyuhyun, Other member SJ, etc.
Lenght : Chaptered
Gendre : Brothership, Sad, Friendship, Hurt/Comfort, etc.
Summary : Perlahan Kimbum mendekatinya ingin memastikan apakah ini nyata atau bukan. / "Akan ada banyak yang berubah. Dan perubahan pertama adalah kakiku tidak bisa bergerak appa." / "Aish kau ini dengan cara seperti ini mungkin aku akan lebih cepat bisa berjalan." / 'Mungkinkah Super Junior benar-benar akan bubar?' / "Bahkan setelah semua, kau masih belum bisa menemuiku hyung."
WARNING : FF ANEH, JELEK YANG PERNAH ADA :'v WKWKKWKW, TYPO EKSIS KARENA INI ADALAH FF LANGSUNG TANPA PENGEDITAN. TIDAK SUKA DENGAN CERITA SAYA SILAHKAN PERGI! :D
Mianhamnida karena sudah lama author tidak meneruskan FF ini. Banyak yang terjadi selama dua bulan terakhir. Dimulai dari author yg kena radang gnjal sampai skit hmpir 3 minggu dan smpai author hrs khilangan eomma author utk selamanya yg otomatis author menjadi yatim piatu. Smga trusan dri ff ini tdak mengecwakan klian dan tetap keep review ok ;)
DON'T COPAS TANPA IZIN
DON'T BE SILENT READER
DON'T LIKE DON'T READ
KEEP REVIEW
LET'S ENJOYED
Preview
Sang uisa memasukki kamar tersebut secara pelan. Ditatapnya namja yang dia anggap sebagai dongsaeng-nya sendiri dengan senyum. Memeriksa semua keadaannya. Namun ada satu hal yang membuat sang uisa terkejut. Secara perlahan-lahan mata yang tertutup rapat tersebut mulai terbuka. Dan kini mulut yang terbungkus oksigen tersebut mulai mengatakan sesuatu meski secara pelan.
.
.
.
.
.
-Kibummie hyung."
.
.
.
.
.
Seoul International Hospital
Kimbum menajamkan pendengarannya. Banyak suara yang dia dengar. Menandakan dia memang tidak tuli, dan suara tadi adalah suara yang memang berasal dari namja yang kini terbaring lemah. Perlahan Kimbum mendekatinya ingin memastikan apakah ini nyata atau bukan.
Mata yang sudah lama terpejam itu menatap Kimbum masih dengan binarnya yang dahulu. Satu senyuman bahkan berhasil didapatkannya dari namja yang kini telah terbangun dari tidur panjangnya. Pada akhirnya Kimbum memanggil rekan tim medis yang lainnya untuk memeriksa kesehatan dari namja ini.
Khawatir karena trauma mereka mulai mengetes satu per satu fisik dari namja ini. Namja ini masih bisa mengeluarkan suaranya, mengenali orang-orang yang memang dikenalnya, juga menggerakkan kedua tangannya. Saat pengetesan untuk syaraf kakinya entah mengapa Kimbum merasa ragu sejenak. Dia memukul kaki dari namja ini namun sama sekali tidak ada respon, lebih keras lagi dan hasilnya tetap sama.
Sebagai seorang dokter dia sudah yakin hal yang terjadi adalah suatu yang tak diinginkan. Namun dari hasil pemeriksaannya hal tersebut sudah dipastikan akan terjadi. Dia menatap namja yang masih lemah itu.
"Kyu apa saat tadi kupukul sakit?" Tanya Kimbum kepada namja itu 'Kyuhyun.'
Kyuhyun hanya menggeleng lemah.
Kimbum kembali memukul lebih keras. "Apa sakit?"
"Aniyo..." Ucap Kyuhyun lemah.
Kimbum menghela nafasnya/ "Bisa kau angkat kakimu sebentar saja?"
Aneh Kyuhyun sama sekali tak bisa menggerakkannya. "Hyung..."
"Mian... Kyu... mian..." Kimbum mengepalkan kedua tangannya.
Kyuhyun menatap Kimbum dengan tidak percaya. "Aku? Lumpuh?"
Kimbum hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Kyuhyun hanya bisa menggigit bibirnya. "Bisa tinggalkan aku sendiri hyung."
"Tapi Kyu..." Kimbum ingin menolak.
"Kumohon..." Kyuhyun menatapnya dengan lemah.
Kimbum hanya bisa menurut. "Arrasseo."
Kimbum hanya bisa meninggalkan ruangan itu dan menutup pintunya dengan rapat. Perlahan air matanya jatuh menetes. Dia benar-benar merasa gagal. Dia ingin menangis banyak sebelum Tuan Cho menepuk pundaknya. Tuan Cho memberikan senyuman ramahnya seperti biasa.
Bukannya masuk ke dalam ruangan sang putra yang memang baru tersadar dari komanya. Tuan Cho lebih memilih untuk mengajak Kimbum berjalan-jalan sebentar. Kimbum yang tidak mengerti hanya bisa mengikuti apa yang diinginkan oleh Tuan Cho. Mereka akhirnya berhenti dan masuk ke dalam caffe di dalam rumah sakit ini.
Tak banyak yang mereka bicarakan, selain memang Kimbum saat ini sedang memang tak ingin banyak mengeluarkan kata-kata. Dua gelas kopi yang mereka pesan akhirnya tiba. Tuan Cho langsung menyeruput kopi tersebut sementara Kimbum entahlah dokter muda ini hanya memandang minuman itu dengan kosong.
Tuan Cho mengibaskan tangannya di depan wajah Kimbum. "Kimbum uisanim...uisanim..."
"Ah ne?" Akhirnya Kimbum tersadar dari lamunannya.
Tuan Cho menatapnya dengan senyum. "Gwenchana?"
"Ye nan gwenchana." Kimbum menjawab dengan sedikit keraguan.
"Aku tahu Kyuhyun mengalami kelumpuhan kan." Tuan Cho mengeluarkan suaranya setelah Kimbum kembali terlarut dalam lamunannya.
Kimbum menatap Tuan Cho kaget. "Mianhamnida... aku masih ragu untuk memberitahukannya."
"Sudahlah Kimbum-ah. Lagipula aku memang harus siap bukan? Perlahan aku akan kehilangan saat Kyuhyunnie bisa berjalan, saat Kyuhyunnie melambaikan tangan, saat Kyuhyunnie tersenyum, dan saat Kyuhyunnie melihatku." Tuan Cho memejamkan matanya sesaat.
Kimbum merasa sangat bersalah. "Tuan aku yakin Kyuhyun akan selamat."
Tuan Cho tersenyum simpul. "Ck..ck..ck.. Aku bukan lagi anak kecil Kimbum-ah. Apakah aku bisa percaya dengan kata-katamu? Saat kau bilang begitu ekspresimupun sangat tidak yakin."
"Mian." Kimbum menundukkan kepalanya.
Tuan Cho memegang tangan Kimbum dan membuat Kimbum menengadahkan kepalanya. "Aku sudah tahu. Cepat atau lambat aku harus siap menerima semuanya. Harus siap saat Kyuhyun akan meninggalkanku ke tempat yang lebih baik. Tapi aku berterima kasih Kimbum-ah kau sudah mau membuat waktu anakku menjadi lebih lama, kau selalu ada untuknya, kau bahkan menyayangi bocah manja itu. Kau tak perlu kecewa kau bahkan sudah menjadi dokter yang terhebat. Sekali lagi nan jeongmal gomapta."
"Mianhae...mianhaeyooo...mianhae...." Kimbum pada akhirnya bisa mengeluarkan isakannya juga.
Tuan Cho tersenyum dan memeluk dokter yang selalu sok kuat itu.
Seorang namja bertopi rupanya mendengarkan perbincangan mereka sedari tadi. Air matanya ikut menetes saat mendengarkan pembicaraan mengharukan itu. Dia merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia. Mengapa dengan begitu mudahnya dia mengambil keputusan untuk mengakhiri semuanya. Mengakhiri mimpi yang sangat dirinya inginkan dan semua dongsaeng-nya.
Namja ini melangkah pergi dengan gontai meninggalkan rumah sakit. Dia sedikit lega karena tahu bahwa kini sang dongsaeng yang sangat disayanginya sudah dapat membuka kedua matanya meski memang ada kenyataan pahit yang diterimanya. Malam ini dia memutuskan untuk tidak kembali pulang.
Sementara itu Kyuhyun yang sedang berada di dalam ruangan rawatnya hanya menatap jendela luar dengan pandangan kosong. Kehilangan kakinya? Itu seperti kehilangan nyawanya sendiri. Bukankah berada diatas panggung dia harus bisa menari? Lalu bagaimana caranya dia menari jika menggerakkan kaki saja sudah tidak bisa.
Kyuhyun mengeluarkan air matanya. Terbukalah sudah topeng ketegaran yang selama ini dirinya kenakan. Kehilangan kemampuan berjalan bagi seorang penyanyi dan penari sepertinya adalah suatu malapetaka yang sangat besar. Dia tidak peduli lagi dengan rasa sakit di dadanya yang terasa menghimpit paru-parunya sendiri. Seandainya saja dia tidak lemah seperti ini mungkin mimpinya tak akan pernah hancur.
Sekarang bagaimana caranya agar dia bisa kembali kepada hyungdeul-nya yang lain? Berjalan saja dia sudah tidak mampu. Atau mungkin jika dia kembali itu hanya akan membuatnya mempermalukan hyungdeul-nya yang lain. Meski mendengar seseorang memasuki ruangannya Kyuhyun hanya tetap membiarkan dirinya menangis begitu banyak.
"Bocah manja yang sok kuat ini akhirnya menangis juga." Orang itu berkata dengan seenaknya.
Kyuhyun hanya menjawab dengan lirih. "Biarkan aku saat ini appa."
Appa Kyuhyun mengangguk paham. "Appa tau ini sangat berat bagimu."
"Tak pernah sebelumnya aku berpikir bahwa cobaan itu begitu berat appa. Aku selalu bersyukur appa selalu. Dan apakah aku harus tetap bersyukur kepada Tuhan dengan apa yang terjadi denganku sekarang?" Kyuhyun bertanya dengan derai air matanya.
Tuan Cho mengelus rambut putranya dengan sayang. "Semua jawaban ada pada dirimu sayang."
"Kau tahu appa. Setelah ini akan ada banyak hal yang berubah." Lirihnya.
"Apa saja yang akan berubah?" Tuan Cho mencoba tegar.
Kyuhyun kemudian menjawab dengan sendu. ""Akan ada banyak yang berubah. Dan perubahan pertama adalah kakiku tidak bisa bergerak appa."
Tuan Cho hanya bisa membawa putra satu-satunya itu ke dalam pelukannya.
16 April 2015
Super Junior Dorm
Leeteuk melangkahkan kakinya dengan gontai masuk ke dalam dorm. Saat dibuka pintu, nampaklah seluruh dongsaeng-nya yang sedang berkumpul bersama. Mereka semua memberi Leeteuk berbagai tatapan aneh. Bahkan Shindong, Donghae, Eunhyuk, dan Sungmin pun masih disini masih enggan untuk kembali ke camp militernya.
Leeteuk mendudukkan dirinya ke atas sofa yang terlihat masih kosong. Tepat disitu Heechul terduduk, melihat Leeteuk yang duduk mau tak mau karena kesal dia beranjak dari tempatnya duduk. Mereka seolah tak saling mengenal satu sama lain. Hanya pandangan mata yang saling mereka lemparkan tanpa mau mengeluarkan sepatah katapun.
Manajer Super Junior masuk ke dalam ruangan tersebut. Dirinya menggelengkan kepala melihat apa yang terjadi dihadapannya kini. Mungkin untuk jauh ke depannya dia harus terbiasa setiap hari melihat kelakuan anak asuhnya yang seperti ini.
"Kalian ini mau sampai kapan begini?" Manajer Hyun mendudukkan dirinya disamping Leeteuk.
Tak ada jawaban.
Manajer Hyun menghela nafasnya. "Aku dapat telepon dari rumah sakit.."
"Apa yang mereka katakan?" Ryeowook kini mulai bersuara.
"Kyuhyunnie sudah sadar. Malam tadi dia sudah sadar dari komanya meski sekarang keadaannya masih lemah." Manajer Hyun menjawab dengan senyum.
Donghae mulai menangis. "Hiks...jeo..jeongmalyo?"
Manajer Hyun menatap Donghae. "Ne Donghae-ah."
"Kalau begitu kita harus segera mengunjungi Kyuhyunnie." Eunhyuk memberikan saran.
Shindong berdecak. "Pasti Kyuhyunnie sangat merindukan kita."
Kangin bertanya. "Kapan sebaiknya kita kesana."
"Sekarang saja hyung. Lebih cepat lebih baik." Siwon menyarankan.
Tiba-tiba saja Leeteuk mengeluarkan suaranya. "Tidak akan ada yang kesana baik sekarang ataupun nanti."
Heechul mendelik mendengar perkataan Leeteuk. "Apa yang kau maksud Jungsoo?!"
"Biarkan saja dia sendiri." Leeteuk menjawab dingin.
Yesung memegang pundak Leeteuk. "Hyung wae?"
Leeteuk hanya melangkah pergi meninggalkan mereka.
"Jungsoo-ssi..." Sungmin menghentikan langkah Leeteuk.
Leeteuk memandang Sungmin dengan sendu. "Kau akan mengerti Sungminnie. Mianhae."
Leeteuk kemudian kembali meneruskan langkahnya meninggalkan mereka semua. Sungmin sangat terperangah atas tatapan Leeteuk tadi. Hyung tertuanya tersebut memandangnya dengan tatapan yang penuh luka. Bahkan Sungmin bisa melihat air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Leader-nya itu hanya mencoba untuk menahannya saja.
Sejenak Sungmin berpikir apakah terjadi sesuatu hal yang buruk terhadap magnae-nya. Tunggu sebentar orang koma tidak akan pernah seratus persen pulih bukan? Akan ada keterbatasan-keterbatasan tertuntu yang akan dimilikki seseorang apabila dirinya baru tersadar dari koma yang cukup panjang. Ya seperti apa yang dialami dongsaeng bungsunya.
Namja bermantel dengan topi hitam dikepalanya menggertakkan giginya secara perlahan. Dia memang bisa mendengar berita yang cukup untuk membuatnya bernafas lega. Tapi sepertinya dia tidak akan bisa. Dia mengerti sangat mengerti hal apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ingin sekali rasanya namja ini ikut masuk ke dalam sana dan menenangkan semua hyungdeul-nya yang lain. Tapi apa? Itu hanyalah sebuah mimpi baginya. Bahkan semua orang di sana mungkin sudah tidak ada lagi yang menganggapnya ada. Semua ini karma, karma atas apa yang telah dilakukannya dahulu.
Namja ini memutuskan untuk kembali pergi. Dan bila nanti dirinya terlihat disana, hal itu hanya akan memperkeruh suasana yang terjadi. Apalagi semua yang ada di dalam sana memang sudah saling mematung seakan sudah tak mengenal satu sama lain.
Namja ini mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Perlahan-lahan air matanya menetes memikirkan kemungkinan apa yang terjadi terhadap dongsaeng satu-satunya. Dia memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah sakit. Saat berjalan di halaman rumah sakit dirinya melihat apa yang sedang tak ingin dirinya lihat.
Dongsaeng-nya mengenakan kursi roda. Dia ingin menepis semuanya, tapi kali ini dia tidak boleh seperti itu. Perasaannya semakin merasa sakit saat menatap sang dongsaeng yang terjatuh dari kursi rodanya karena tidak bisa untuk berdiri. Bulir-bulir air mata itu mengalir begitu saja dari kedua matanya. Mengapa rasanya sesakit ini. Sungguh ini sangat menyakitkan.
Yang paling membuatnya sakit adalah pandangan sang dongsaeng yang kini seolah redup tanpa ada harapan. Binar semangat yang selalu dikeluarkannya dahulu sama sekali tidak terlihat dan hanya pandangan sedih yang dongsaeng-nya tersebut keluarkan. Seolah sang dongsaeng memang sudah menyerah dengan apa yang dideritanya kini.
Namja ini kemudian mengerti bagaimana perasaan sang dongsaeng. Bagi seorang penyanyi dan penari sepertinya kehilangan kemampuan berjalan adalah hal yang sangat memuakkan. Seolah-olah separuh nyawanya sudah pergi entah kemana. Kehilangan kedua kaki sama saja dengan mati bagi seorang penyanyi dan penari.
17 April 2015
TVXQ Dorm
Namja tinggi yang kita ketahui sebagai Changmin tengah bersantai di atas sofa sembari memainkan PSP yang merupakan benda kesayangannya. Kebetulan akhir-akhir ini TVXQ memang sedang sepi jadwal dikarenakan sang leader Yunho sebentar lagi akan menjalankan wajib militernya.
Ketika sedang asyiknya bermain, suara ketukan mengganggunya. Namun Changmin mencoba untuk tidak memperdulikannya. Tapi semakin tidak dirinya pedulikan semakin keras juga orang yang mengetuk pintu tersebut. Dengan langkah kesal dan malas Changmin akhirnya mau untuk membuka pintu dorm-nya.
"Ya...aku buka.." Changmin membukanya dengan cepat.
Wajah Changmin terkejut melihat seseorang yang kini berdiri dihadapannya. Sungguh sudah lama sekali dia tidak melihat orang ini. Orang yang sedang berdiri itu hanya menatap Changmin dengan datar. Meski baru pertama bertemu lagi, sikap orang ini memang tidak pernah berubah. Seseorang yang selalu dijuluki sebagai manusia es... Kim Kibum.
"Apa aku mengganggumu?" Kibum bertanya dengan nada datar.
Changmin tersadar dari keterkejutannya. "Ah...ne... kami memang sedang libur."
"Yunho hyung?" Kibum hanya kembali bertanya singkat.
"Dia sedang pergi mengunjungi eomma-nya." Sahut Changmin.
Kibum menatap masuk ke ruangan. "Bisakah aku dipersilahkan masuk?"
"Ya ampun! Aku saking terkejutnya hingga lupa untuk menyuruhmu masuk." Changmin menepuk keningnya sendiri.
Kibum akhirnya masuk dan duduk dengan tenang di dalam disana meski tatapan matanya masih menyiratkan rasa sakit. Sementara Changmin dia sedang mempersiapkan makanan untuk sang tamu.
Namun yang dia bingungkan mengapa sahabat dekatnya dulu itu meminta dia untuk menyiapkan wine? Tidak biasanya di pagi hari seperti ini Kibum meminta hal begitu. Atau karena sudah lama tidak bertemu kebiasaan Kibum jadi berubah? Tapi saat Changmin menanyakan alasannya mengapa Kibum hanya diam dan menatap Changmin. Jadilah Changmin tidak bisa menolaknya.
Ketika sudah mempersiapkan minuman untuk sang tamu, Changmin langsung duduk disamping Kibum. Mata Changmin langsung membelalak ketika melihat Kibum langsung menghabiskan segelas wine itu dengan sekali teguk. Bahkan Kibum kini sudah meminum wine -nya yang ke-5. Sementara Changmin sendiri susu miliknya saja belum selesai dia habiskan.
Akhirnya Kibum mulai bicara. "Dulu aku pernah bilang menitipkan Kyuhyun padamu bukan?"
"Kyuhyunnie..?" Changmin agak heran mengapa sahabat evilnya itu disebut-sebut.
Kibum menatap Changmin dengan serius. "Apa kau menjaganya dengan baik?"
"Meski kami tak selalu bersama aku berusaha untuk melindunginya." Jawab Changmin dengan pasti.
Kibum tersenyum miris. "Oh ya... Lantas seberapa banyak kau tahu tentang Kyuhyun, Changmin-ah?"
"Aku hanya mungkin sebagian aku tahu. Kau tahu sendiri jika anak itu hanya akan berbagi kebahagiaannya saja." Changmin tertunduk sedih jika mengingat hal itu.
Kibum tertawa dengan air mata yang keluar dari pelupuk matanya. "HAHAHAHAHA ANAK ITU BENAR-BENA R SOK KUAT BAHKAN DIHADAPAN SAHABATNYA SENDIRI DIA TAK MAU JUJUR!"
"Hyung.. a.. apa maksudmu?" Changmin benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Kibum maksudkan.
Kibum menatap Changmin dengan matanya yang penuh air mata. "Tapi setidaknya kau lebih baik dibanding denganku. Aku hanya pergi meninggalkannya disaat dia seharusnya dilindungi aku jahat."
"Ada apa sebenarnya.. apa yang tak ku ketahui?" Bingung Changmin yang semakin menjadi.
Kibum malah semakin menangis. "Seandainya saja seandainya saja aku bisa menjadi kaki baginya. Andai saja aku bisa menggantikan paru-parunya..."
"Ada apa sebenarnya dengan Kyuhyun?! Jawab aku hyung!" Changmin terpaksa meluapkan emosinya.
Kibum menatap Changmin dengan sendu. "Kyuhyun... menderita hemothorax yang parah. Dia baru saja sadar dari komanya namun Kyuhyun lumpuh. Hidup.. hidup Kyuhyun tak akan lama lagi."
'DEG' Changmin saat ini hanya bisa terdiam dengan mulut terbuka dan mata yang sangat terkejut.
Sepeninggal Kibum, Changmin hanya duduk saja di dalam dorm. Sahabat macam apa dia? Yang dia ketahui hanyalah apa yang menyenangkan bagi Kyuhyun. Seharusnya dia berusaha mencari kesulitan apa milik sahabatnya itu. Bukan hanya berdiam diri. Lantas selama inikah Kyuhyun menyembunyikan rasa sakitnya sendiri?
Changmin menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya yang ditekuk. Changmin menangis, bahkan bukan tangisan biasa melain sebuah isakan yang dirinya keluarkan. Changmin juga merasa bersalah karena akhir-akhir ini sebenarnya hubungan mereka sangat tidak sebaik dahulu.
"Mianhae Kyu seandainya aku tidak merusak persahabatan kita."
Hide Story
Seorang namja remaja tampak sedang mengetuk-ngetukkan jarinya ke dahinya sendiri. Dirinya merasa bosan, karena seharian ini dia ditinggal hyungdeulnya untuk syuting. Namja remaja dilarang ikut karena tadi malam baru saja terkena demam yang cukup tinggi. Hyungdeulnya yang memang sangat overprotective jelas akan melarang dirinya untuk melakukan sesuatu hal yang malah akan membuatnya lelah.
Namja remaja ini akhirnya memutuskan untuk bermain dengan benda 'pusaka' kesukaannya saja. Hingga seseorang dari seberang sana mulai menghubungi dirinya. Dengan mata yang berbinar namja remaja ini mengangkat teleponnya segera.
"Yak! Changminnie kau seharusnya menghubungiku dari tadi." Namja remaja langsung memberikan omelannya.
Changmin hanya tersenyum menanggapi tingkah manja sahabatnya. "Kau itu kapan dewasanya eoh? Masih saja seperti anak kecil."
"Kalau kau meneleponku hanya untuk mengatakan itu aku tutup." Namja remaja mulai dengan nada mengancamnya.
Changmin kembali dibuat tersenyum dengan tingkah laku sahabatnya itu. "Apakah malam ini kau sibuk?"
"Tidak seharian ini aku malah berdiam diri di dorm." Sahut namja remaja itu.
Changmin senang mendengarnya. "Baiklah ayo kita pergi keluar pukul delapan malam nanti."
"Arrasseo." Jawab sang namja remaja dengan begitu riangnya.
-SKIP-
Changmin tersenyum senang saat melihat sang sahabat yang kini sudah sampai di depannya. Sahabatnya benar-benar terlihat tampan dan manis disaat bersamaan dengan pakaian yang dikenakannya kini. Setelah itu mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil untuk menuju tempat yang mereka tuju.
Akhirnya Changmin dan sahabatnya itu tiba di sebuah taman yang sangat indah. Tempat ini memang adalah tempat yang selalu digunakannya dan sang sahabat untuk menenangkan diri.
Mereka berdua duduk di atas rerumputan hijau sembari menikmati semilir angin yang menerpa helaian rambut mereka. Sang namja remaja memejamkan matanya. Dia berpikir mungkin ini adalah saatnya dia membagi beban yang selama ini dirinya pikul kepada sang sahabat Changmin.
"Kyuhyun/Changmin." Entah mengapa mereka langsung bicara berbarengan.
Changmin tersenyum. "Kau duluan." Changmin memilih mengalah kepada sang sahabat.
"Ada satu hal yang akan aku beritahukan padamu." Sang namja remaja menatap Changmin dengan serius.
Changmin mulai bertanya. "Apa itu..?"
"Bahwa sebenarnya aku..." Namja remaja tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Changmin memotong kalimat namja remaja. "Aku menyukaimu."
Sang namja remaja terperangah. "Mwo?"
"Bukan sebagai sahabat tapi sebagai seseorang yang punya perasaan terhadap seseorang." Changmin menjawab dengan tegas.
Sang namja remaja semakin terkejut. "Changmin kau jangan bercanda seperti ini."
"Aku tidak bercanda. Ya aku tahu aku salah tapi semakin lama aku menutupi perasaanku padamu semakin juga aku begitu jatuh cinta padamu." Changmin perlahan mendekatinya.
Namja remaja mulai merasa takut. "Kau.. kau salah Changmin itu tidak seharusnya. Lagipula aku tidak sepertimu."
"Bohong jika kau bicara seperti itu." Changmin semakin mendekat dan ..
'CUP' Dia berhasil mendaratkan bibirnya di atas bibir sang namja remaja. Entah ada dorongan dari mana Changmin melumat bibir sang sahabat dengan begitu kasar. Namja remaja mulai sangat takut dan tanpa sadar dia mengeluarkan tenaganya dan berhasil keluar dari kungkungan Changmin dengan cara memukulnya..
Nafas sang namja remaja sungguh memburu dia sangat ketakutan dengan hal yang dilakukan sahabatnya tadi. Sementara itu Changmin menatap nyalang kepada sang namja remaja. Dia sungguh marah dengan apa yang didapatkannya tadi. Entah setan apa yang merasukinnya, Changmin kembali menerjang tubuh yang lemah itu.
Namja remaja tidak bisa melakukan apa-apa. Yang kini hanya bisa dirinya lakukan adalah menangis dan berharap Tuhan akan memberikannya pertolongan. Changmin berniat kembali akan memperkosanya kalau perlu, tapi Changmin merasakan sesuatu yang basah ditangannya. Dia melihat namja remaja itu meneteskan air matanya. Untuk pertama kalinya dalam hidup Changmin baru sekali ini dia melihat namja yang dicintainya atau sahabatnya itu menangis.
Changmin berdiri. "Kau memang tidak mencintaiku."
"Mian..." Namja remaja itu menundukkan kepalanya.
Changmin tersenyum getir. "Aku menyimpang karenamu, tapi kau sendiri tidak sama sepertiku."
"Seandainya aku bisa Changmin. Tapi aku tidak bisa." Air mata menetes kembali dari manik indah sang namja remaja.
Changmin kembali mendekati sang sahabat. "Kau..."
"Tidak Changmin!" Sang namja remaja tanpa sadar melayangkan kembali pukulannya.
Changmin mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Belum disentuhpun kau sudah berteriak. Persahabatan kita cukup sampai disini."
"Changmin apa yang kau bicarakan? Jangan memutuskan sendiri! Aku yakin aku bisa menyembuhkanmu." Sang namja remaja tidak menerima keputusan sahabatnya.
Changmin menatap sinis. "Menyembuhkanku? Yang ada aku akan semakin sakit."
"Changmin-ah kumohon." Keukeuh namja remaja.
Changmin sudah tidak tahan lagi. "JIKA AKU BERSAMAMU AKU YAKIN AKAN MENYAKITIMU. KAU TAK SEPANTASNYA BERSAHABAT DENGAN ORANG MENJIJIKAN SEPERTIKU. KAU MAU AKU SAKITI?!"
"..." Sang namja remaja tidak bisa menjawabnya.
Changmin meninggalkan sahabatnya sendirian. "Aku pergi Kyuhyun-ssi."
.
.
.
.
.
.
-Apakah saat itu sebenarnya kau akan mengatakan bebanmu yang ini padaku Kyu? Seandainya saja perasaan ini tak pernah ada. Mianhae Kyu jeongmal mianhae...hiks..."
-Seoul International Hospital-
Kyuhyun hanya menatap makanan yang ada dihadapannya dengan pandangan kosong. Sungguh dirinya sangat tidak berselera untuk memakan apapun. Kepalanya saja kini merasakan sangat pening akan semua yang terjadi kepadanya. Bisa dikatakan untuk bernafas pun dirinya sangat kesulitan.
Pandangannya beralih menatap kedua kakinya yang terbungkus selimut. Lagi-lagi air bening itu menetes dari kedua matanya. Kini dirinya merasa menjadi orang yang paling tidak berguna di dunia ini. Dengan keadaan dua kaki yang seperti itu Kyuhyun merasa hanya akan bertambah merepotkan orang-orang yang ada disekitarnya.
Sebuah pisau lipat untuk mengupas buah dirinya lirik. Mungkin jika dia mengakhiri hidupnya sekarang tidak akan ada lagi air mata yang meluncur dari semua orang yang disayanginya. Mungkin dia juga tidak akan membuat malu para hyungdeul-nya yang lain karena kini kakinya sama sekali tak bisa digerakkan.
Secara perlahan tangannya bergerak untuk menggoreskan pisau itu di atas nadi tangannya. Namun ketika hendak semakin dekat seseorang langsung menepis pisau tersebut sehingga pisau itu terlempar. Orang itu membelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya setelah membuka pintu ruang rawat Kyuhyun.
Sementara itu Kyuhyun menatap terkejut melihat siapa orang yang telah menyelamatkannya dari maut. Air mata dengan deras meluncur lebih lagi dari kedua obsidiannya. Kali ini Kyuhyun benar-benar tidak sedang bermimpikan? Orang yang dulu sangat dekat dengannya dan selalu berbagi bersamanya kini ada di depan matanya.
Melihat Kyuhyun yang menangis begitu banyak membuat hati orang tersebut berdenyut sakit. Mungkinkah Kyuhyun masih membecinya? Atau mungkin Kyuhyun trauma dan tidak mau bertemu dengannya? Perlahan dia mulai mundur untuk pergi meninggalkan ruang rawat Kyuhyun. Setidaknya dia tak usah khawatir karena pisau itu tidak bisa dicapai oleh Kyuhyun. Namun saat hendak meninggalkan ruangan Kyuhyun memanggilnya.
"Changmin..." Kyuhyun bergumam dengan begitu pelan disela tangisannya.
Changmin membalikkan badannya menatap Kyuhyun. "Ne... Kyuhyunnie."
"Mianhae mianhae...hiks... Changmin-ah jeongmal mianhae. Meski sudah menjadi orang tidak berguna beginipun aku tetap tidak bisa hiks..." Kyuhyun terisak begitu dalam.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau menyebut dirimu tidak berguna." Tegas Changmin yang tidak suka Kyuhyun merendahkan dirinya sendiri.
Kyuhyun menatap Changmin dengan derai air matanya. "Tapi Changmin... kakiku..."
"Dimana Cho Kyuhyun yang kukenal dulu? Cho Kyuhyun yang kuat dan tidak mudah putus asa seperti ini. Saat dulu terbangun dari koma pun Cho Kyuhyun bisa berjalan dalam waktu 3 hari. Bukan Cho Kyuhyun yang cengeng seperti ini." Changmin menatap Kyuhyun dengan gemas.
Kyuhyun menunduk. "Aku salah. Seharusnya akau tidak berpikiran pendek seperti tadi."
"Baguslah jika kau menyadari kesalahanmu." Changmin mengacak rambut Kyuhyun dengan gemas.
Kyuhyun kesal. "Kebiasaanmu tidak pernah berubah huh.."
"Kau juga selalu menggemaskan sejak dulu." Changmin beranjak duduk disamping tempat tidur Kyuhyun.
Kyuhyun menatap Changmin sedih. "Changmin..."
"Bagaimana kalau kita lupakan hal yang dulu pernah terjadi dan memulai persahabatan kita dari awal lagi?" Channgmin bertanya pada Kyuhyun.
Kyuhyun hanya menatap Changmin sendu. "Kau yakin tidak apa-apa?"
"Aku yakin. Aku juga mulai bisa mengontrol perasaanku." Angguk Changmin dengan pasti.
Kyuhyun ikut mengangguk. "Baiklah."
"Sekarang kau makan, minum obat, setelah itu tidur." Titah Changmin.
Kyuhyun menggembungkan pipinya. "Kau sama menyebalkannya dengan Kimbum hyung dan appa."
"Menurutlah anak manis." Goda Changmin.
"Arra...arra..." Kyuhyun menjawab malas.
Setelah melakukan semua jadwal yang diberitahu Changmin tadi, benar saja Kyuhyun langsung terlelap dalam tidurnya. Kyuhyun juga sangat lelah dengan penyakitnya sehingga ia memilih tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Changmin menatap lekat Kyuhyun yang sedang tertidur dihadapannya. Semenjak dulu namja yang dicintainya ini memang tidak pernah beruba. Ketika tidur Kyuhyun akan sangat polos seperti bayi yang tidak berdosa. 'Tampan, manis dan cantik' sekaligus bagi di mata Changmin.
Ya namja yang sangat dicintainya sejak dulu. Meski pada kenyataannya sampai kapanpun Kyuhyun tidak akan pernah bisa membalas semua perasaannya. Tapi Changmin mulai berpikir dewasa. Dulu dia pernah meninggalkannya ditengah bebannya yang berat kini Changmin tidak akan lagi seperti itu. Bagaimanapun atau dimana perasaan Changmin hanya akan sepihak selamanya kepada Kyuhyun, Changmin akan tetap menjaganya.
"Kyuhyunnie... kau tau kepolosanmu inilah yang membuatku terperangkap jatuh ke dalam pesona seorang Cho Kyuhyun. Lalu apa kau ingat saat kau belajar berjalan denganku saat dulu terbangun dari koma, kau memelukku dengan polosnya. Disitulah perasaan ini mulai muncul Kyu. Meski kita memang akan sahabat selamanya setidaknya izinkan aku untuk tetap mencintaimu Kyuhyunnie hingga akhir?" Changmin berbicara sendiri sembari menatap sendu Kyuhyun.
18 April 2015
Seorang namja nampak sedang menunggu seseorang di dalam sebuah cafe. Namja ini juga terlihat sedang serius memikirkan sesuatu. Saat dirinya mendengar suara langkah yang mendekat, namja ini mulai memalikkan wajahnya untuk melihat orang yang ditunggunya tersebut. Dengan tersenyum namja ini mempersilahkan kepada orang tersebut untuk duduk bersamanya.
"Jadi kau memang sudah membulatkannya." Orang yang baru datang langsung to the point.
Namja itu hanya tersenyum maklum. "Ini adalah hal yang seharusnya memang aku lakukan."
"Kau tahu aku memikirkan ini bahkan hingga tidak tidur." Orang tersebut menggelengkan kepalanya.
Namja itu kembali tersenyum. "Jika memang dengan hal ini aku bisa mengembalikan lagi senyumannya, pada saat apapun aku akan mau melakukannya."
Orang itu menatap namja tersebut dengan sendu. "Namun setidaknya senyuman itu harus bisa kau lihat juga, aku merasa menjadi orang yang paling jahat disini."
"Kau sama sekali tidak jahat, kau adalah seseorang yang baik, yang dengan sabar dan juga penuh ketulusan menjaganya. Sementara aku hanya orang yang selalu menyakitinya." Namja itu tersenyum getir.
Orang tersebut hanya bisa menghela nafas. "Tapi kau sudah berubah sekarang, kau sudah berubah."
"Ingatkan dia nanti bahwa aku selalu menyayanginya." Namja itu memberikan pesan.
Orang itu kembali berucap. "Setidaknya sebelum hari itu, buatlah semuanya kondusif, habiskan waktumu bersamanya."
"Itu adalah hal yang akan aku lakukan." Jawab namja tersebut dengan tersenyum.
Setelah berpamitan, namja tersebut kemudian pergi menuju ke tempat lain yang memang hari ini akan dia datangi. Entah mengapa tiba-tiba saja setetes air jatuh dari pelupuk matanya. Entahlah mungkin dirinya hanya kemasukan debu, yang pasti dia tidak boleh menangis di saat seperti ini. Saat-saat yang seharusnya dirinya jaga dengan baik.
Seoul International Hospital
Seorang Cho Kyuhyun kini nampak sedang sibuk melempari bantal kepada seseorang. Kyuhyun merasa marah karena dirinya telah dibuat kesal oleh seseorang tersebut. Seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah Changmin maknae dari TVXQ yang saat ini begitu membuatnya sebal.
Changmin yang dilempari hanya bisa berteriak-teriak gaduh dengan apa yang dilakukan sahabatnya itu. Tapi dia bersyukur karena kini sahabatnya tidak murung seperti kemarin. Merasa sahabatnya malah semakin parah, dengan inisiatif Changmin mendekatinya dan langsung mencubit kedua pipi Kyuhyun dengan gemas.
"Uuh kau nakal sekali ya Kyu." Changmin mencubit Kyuhyun dengan gemas.
"Hehhepaskanh thianghhhh (Lepaskan tiang)." Kyuhyun masih berbicara.
Changmin hanya menambah intesitas cubitannya. "Salah sendiri kau tadi melempariku."
Tak habis akal Kyuhyun segera menggigit lengan Changmin dan langsung disambut dengan teriakan sakit oleh Changmin.
"AW! Cho Kyuhyun sakit!" Kesal Changmin.
Kyuhyun hanya menjulurkan lidahnya. "Suruh siapa kau mencubitku sekeras itu eoh?"
"Aish jinjja kenapa bisa aku berurusan dengan evil sepertimu." Changmin memberikan gerutuannya.
Kyuhyun hanya memutar bola matanya malas. "Kau sendiri evil dasar tiang listrik."
"Sudahlah karena kau sudah kembali sehat aku memutuskan untuk pulang sekarang." Changmin berpamitan.
Kyuhyun hanya bisa cemberut. "Sana pergilah hush hush."
Changmin mengacak rambut Kyuhyun. "Kau harus baik-baik disini dan cepat sembuh arra. Setelah pulang dari jadwal aku akan menemuimu lagi.
Kyuhyun hanya bisa menatap Changmin yang sedang merapikan dirinya. Setelah rapi Changmin tersenyum dan kemudian kembali pamit pulang kepada Kyuhyun. Kebetulan saat Changmin membuka pintu, Kimbum muncul dari sana. Mereka saling bertatap dan berbalas senyum. Karena Changmin dan Kimbum memang belum pernah sebelumnya.
Setelah kepergian Changmin hanya ada Kyuhyun dan Kimbum disana. Kimbum tersenyum melihat Kyuhyun yang kini sudah tersenyum sembari bersenandung kecil. Dihampirinya dengan segera namja yang sudah dianggap sebagai dongsaeng-nya sendiri ini.
Kimbum mengeluarkan suaranya. "Senang melihatmu kembali semangat."
"Tentu saja, akan sangat bodoh jika aku seperti kemarin." Kyuhyun membanggakan dirinya sendiri.
Kimbum tersenyum. "Kalau begitu kau biar aku periksa dulu."
Kimbum kemudian memeriksa Kyuhyun secara keseluruhan. Dirinya mengernyitkan dahi saat dirasa Kyuhyun tidak bernafas secara normal. Kimbum merasa nafas Kyuhyun sangat lemah, dengan cepat dia memasangkan selang oksigen kepada Kyuhyun. Sementara Kyuhyun yang diperiksa hanya bingung dengan apa yang dilakukan oleh Kimbum.
"Berapa lama nafasmu seperti itu?" Kimbum bertanya dengan selidik.
Kyuhyun hanya menggeleng. "Aku merasa baik-baik saja."
"Kau tidak merasa sakit atau sesak?" Selidik Kimbum kembali.
Kyuhyun hanya bisa merengek. "Hyung~ sedari tadi aku merasa sehat. Aku malah sakit karena mendengar ocehanmu."
"Jangan-jangan..." Gumam Kimbum sendiri.
Kyuhyun memiringkan kepalanya bingung. "Jangan-jangan apa hyung?"
"Aniyo... Janji jika kau merasa sakit dikepalamu segera katakan pada hyung atau pada perawat ok?" Kimbum memegang pundak Kyuhyun.
"Ah...ok." Kyuhyun hanya bisa menjawab pasrah.
Kimbum menutup pintu ruangan tersebut dengan rapat. Perlahan-lahan dia merosotkan dirinya di depan pintu. Keadaan Kyuhyun ternyata akan semakin parah setiap harinya. Pengobatan yang selama ini dijalani Kyuhyun sama sekali tidak berguna. Penyakit Kyuhyun sudah terlanjur tangguh di dalam tubuhnya.
Kimbum meneteskan air matanya begitu banyak. Dia merogoh saku celananya dan memutuskan untuk menelepon seseorang. Tidak lama sambungan telepon itu akhirnya terjawab juga. Dengan derai air mata Kimbum mengajukan permintaannya kepada orang tersebut.
"Bisakah...bisakah dalam 3 hari kita melakukan ini...?"
Kimbum tahu dia salah, seharusnya dia tidak meminta seperti itu. Satu minggu saja sudah sangat pendek bagi orang tersebut. Tapi kini dia malah meminta waktu tersebut dipotong selama 4 hari.
Super Junior Dorm
Kibum setelah menerima telepon segera menutupnya. Menghela nafas sejenak, dia akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam sana. Ternyata pintu tidak terkunci. Hal yang pertama dirinya lihat adalah member yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Perasaan sakit langsung menusuknya, mereka semua seolah tak saling mengenali satu sama lain.
Langkah demi langkah perlahan Kibum mulai mendekati mereka semua. Setelah dekat, semua member kemudian memandang Kibum. Tapi setelah beberapa saat mereka hanya kembali sibuk dengan urusannya seolah-olah tidak melihatnya. Kibum mengepalkan tangannya dengan erat.
"Aku lebih suka kalian pukul." Kibum memberanikan diri untuk bicara.
Heechul menghampiri Kibum dengan segera. "Tapi aku tidak mau memukul orang sepertimu."
Kangin hanya bermalasan. "Kalian menganggu konsentrasi saja."
"PARK JUNGSOO!" Kibum malah semakin berani untuk berteriak.
Leeteuk yang merasa terpanggil kemudian menjawab. "Kibum-ssi pergilah."
Tanpa diduga-duga Kibum malah berlutut di hadapan mereka semua. Air matanya mengalir begitu deras. Sontak semua yang ada disana terkejut dengan apa yang dilakukan Kibum. Kibum sudah tak perduli lagi dengan harga dirinya.
Kibum memohon dengan air matanya. "Aku mohon hyungdeul jangan membubarkan Super Junior. Super Junior adalah keluargaku, Super Junior adalah harta yang paling berharga bagiku juga bagi Kyuhyun. Berkat Super Junior aku bisa meraih mimpiku, aku tahu aku salah karena aku meninggalkan kalian, aku adalah orang yang sungguh tak tahu diri. Biarkan Super Junior seperti dulu aku mohon. Aku akan meninggalkan semuanya, aku akan bersama lagi dengan Super Junior.. Aku mohon juga jangan bersikap seperti ini, kalian adalah hyungdeul yang saling menyayangi aku mohon.. Bantu Kyuhyun... bantu Kyuhyun untuk menjadi kakinya hyung. JEBAL HAMNIDA...JEBALHAEYO...JEBAL... JEBALYO..JE... AKU TIDAK BISA SENDIRI...JEB..."
Heechul yang geram menampar Kibum.
"Hyung!" Teriak Ryeowook.
Tapi kemudian Heechul memeluknya. "Siapa bilang kau sendiri, apa kau tak pernah menganggap kami ha?"
Kibum hanya bisa terisak di dalam pelukan Heechul. "Mianhae...mian.."
"Heechul hyung benar meski kau pernah meninggalkan kami, kami merasa bahwa kau adalah tetap dongsaeng kami." Yesung memberi penjelasan.
Donghae hanya bisa menangis. "Kita bodoh karena melakukan ini, kita ini kan keluarga bukan orang lain."
"Benar...seharusnya disaat seperti ini kita saling merangkul sama lain." Eunhyuk menambahkan.
Shindong berbicara. "Super Junior adalah keluarga bukan?"
Ryeowook mengelus rambut Kibum dengan sayang. "Kim Kibum selamanya tetap dongsaeng-ku."
"Maafkan aku juga yang malah membuatnya seperti ini." Sungmin menundukkan kepalanya.
Kangin memegang pundak Sungmin. "Tidak apa-apa semua sudah terlanjur."
Leeteuk kemudian mengeluarkan suaranya. "Maafkan aku yang sudah gagal menjadi seorang leader. Tapi aku berjanji setelah semua ini akan baik-baik saja."
Pada akhirnya semua kembali seperti semula. Meski hanya sebagian, tapi setidaknya dengan begini namja itu akan sedikit tenang sebelum mengambil keputusannya. Setidaknya begitulah pikiran dari seseorang yang tanpa sengaja melihat kejadian tersebut.
19 April 2015
Seoul International Hospital
Kyuhyun terlihat sedang bercengkrama dengan sang appa di dalam kamar rawatnya. Terlihat mereka sedang bercanda tawa. Meski terkadang Kyuhyun sedikit meringis karena merasakan sakit yang menusuk paru-parunya.
Tiba-tiba saja pembicaraan mereka berhenti. Kyuhyun dan Tuan Cho terkejut dengan suara derap langkah kaki yang begitu banyak menuju kepada mereka. Benar saja seluruh member Super Junior tumpah ruah memasuki kamar rawat Kyuhyun. Dan seperti biasa mereka hanya menunjukkan senyuman bodohnya.
Kyuhyun tidak percaya dengan semua ini. Air matanya jatuh begitu saja tanpa bisa ia bendung, dia terharu. Setelah selama ini akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan semua hyungdeul yang begitu disayanginya. Semakin deras air matanya saat melihat orang yang selama ini mulai berjalan masuk dan menghampirinya sedikit demi sedikit.
"Kyuhyunnie..."
Tumpah sudah air mata Kyuhyun semuanya. Orang itu adalah...
.
.
.
.
.
.
-Kim Kibum.
Lyra libra : untuk end mungkin sbntar lgi
Ilmah : ini udh dilanjut^^
Fitrikyu : salam knal juga^^
Fuyuhime : ah ne gwenchana. Mianhae juga updatenya lama. Wkwkwk tenang aja kimbum kagak sahat kok/? Ah gomawooo
Cupidd : super junior kan kluarga dri dlu mrka bisa jgain dia wkwkwk
Choding : hng gmna ya/?
Alifia : udh dilanjut..
Delisha : semoga aja tpi gak tau juga wkwkwk
Kliief : andwaeeee jan ditimpuk elah
Siska : skrg udh...
Jiahkim : itu hrapan semua elf ;(
Aya : kan spaya dpet feelnya wkwkwk
Sabrina : matiin ah /tabokauthor
Lily : kyu pantas dibuat menderita /plak
Xyz : jangan disembuhin ah wkwkwkwk
Dewi : iya dia udh sdar
Emon : trs klu gtu yg lain kgak normal /plakk
Oktaviana : kan cma di ff wkwkwkwk
Tepe : wkwkwk sgtunya...
Hulanchan : hmm ini gimana?
Citra : hemm bikin gak yah ;p
Mmzzaa : klimaksnya msh blum waks
Nayeon : tepatnya sih kayak gitu^^
Ayu : iya itu emang kata2 yang pernah dikasih Kyuhyun buat Kibum. Asli
Desviana : wkwkwk penyakit... udh nih mian lama
Kyuli : done
Rezy : iyah da msuk neraka /plak
Yunacho : tpi dia gitu demi jagain kyu pan
Cronos : wkwkwk nih udh^^
Akhir kata gomawo semoga suka dengan ffnya walau diketik di sela-sela UTS.
Review ok
