Title : Thank's God

Cast : Kibum, Kyuhyun, Other member SJ, etc.

Lenght : Chaptered

Gendre : Brothership, Sad, Friendship, Hurt/Comfort, etc.

Summary : Seorang namja hendak membuka kedua matanya. / Sebenarnya apa yang kurang dari semua ini? / " Appa... dia dimana?" / "Lebih baik kisah kita hanya sampai disini saja, terima kasih sudah saling mengenal." / "Pembunuh!" / "KAU BOHONG! KAU BAHKAN LEBIH MENYAKITIKU DENGAN BIGINI! KAU LEBIH BRENGSEK DARI AKU!" / "Apa ini yang kalian inginkan?" / Ini...ini belum berakhir." /

WARNING : TYPO, ANEH GAJE, BOSAN, CERITA NGAWUR OOC, GAK SBNERNYA WKWKWKK. FF LANGSUNG TANPA PENGEDITAN.

Mianhae hehe agak lambat update ini full lanjutannya. Sibuk sama urusan kuliah. Hadeh juga kena flu lagi author hehe. Oh iya jangan lupa setelah membaca tinggalkan jejak kalian disini yah. Belajar jadi pembaca yang baik.

DON'T COPAS TANPA IZIN

DON'T BE SILENT READER

DON'T LIKE DON'T READ

KEEP REVIEW

LET'S ENJOYED

Preview

"IGE MWOYA?!" Leeteuk bertanya dengan frustasi.

Kimbum hanya bisa guyar. "Aku sedang terburu-buru Teukie hyung."

"APA YANG SEDANG KALIAN RENCANAKAN SEBENARNYA?!" Sungguh Leeteuk juga tidak mengerti.

"Hy...yung...geu...man...ha...e...je...ba..l" Seseorang yang dalam keadaan kritis itu mengeluarkan suaranya.

Namun beberapa menit kemudian seseorang itu tersentak sedemikian rupa. Darah yang mengalir banyak dari tubuhnya membuatnya semakin kritis.

"PASIEN KRITIS!" Seru sang suster.

Kimbum langsung memerintah. "Cepat masukkan dia ke dalam sebelum masa operasinya selesai."

"Arrasseo!" Sahut suster dengan pasti.

Bukan hanya Leeteuk, member Super Junior yang lainnya pun sangat terkejut dengan semua yang terjadi dihadapan mereka. Semuanya sungguh seperti sebuah slow-motion yang mereka lihat. Leeteuk hanya bisa merosotkan dirinya dengan air mata yang meluncur begitu derasnya. Kenapa dia harus selalu terlambat untuk menyadari semuanya?

"Kyuhyunnie...Kibummie...jelaskan pada hyung...hiks." Leeteuk menggumam dengan begitu pilu.

.

.

.

.

.

- Thank's God-

Seorang namja hendak membuka kedua matanya. Dia mencoba membiasakan diri dengan cahaya yang terasa mulai menyilaukannya. Secara perlahan-lahan akhirnya kedua mata itu bisa terbuka. Mengerjap-ngerjapkannya sedikit, sampai kesadaran dari namja tersebut mulai tampak.

Terlihat seorang uisa yang sedari tadi mengawasi keadaan namja ini langsung memeriksanya. Dimulai dengan reaksi pupil matanya, respon terhadap cahaya, bagaimana tekanan darah dari namja tersebut, serta hal-hal yang memang perlu dilakukan pemeriksaan lainnya. Namja itu sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya. Ketika terbangun dia hanya mendapatkan dirinya terbaring, dengan oksigen serta alat-alat medis yang menempel pada tubuhnya. Memikirkannya membuat namja tersebut menjadikan kepalanya sakit.

Melihat namja tersebut yang agak meringis, sang uisa menyuntikkan beberapa cairan pada namja yang terbilang sekarang masih pucat tersebut. Setelahnya terlihat namja itu langsung tertidur dengan pulas. Sang uisa terus memandang namja yang masih terbaring dengan masker oksigen yang masih menempel.

Ketika dengan seriusnya, seseorang menginterupsi sang uisa. Sontak uisa tersebut menolehkan kepalanya melihat siapa orang yang masuk ke dalam. Memberikan senyumnya sesaat kemudian terjadilah percakapannya dengan orang yang kini lengkap dengan pakaian steril yang lengkap.

"Tuan Cho, Kyuhyun baru saja tersadar tadi.." Jelas Kimbum.

Tuan Cho mencoba melihat ke arah putranya. "Dia itu..."

Kimbum memotongnya. "Mungkin karena keadaannya yang masih lemah tadi dia sedikit meringis sakit, jadi kusuntikkan obat tidur. Tenang saja Kyuhyun hanya perlu istirahat lebih."

"Ah.. syukurlah." Tuan Cho menghembuskan nafasnya lega.

Kimbum kembali mengarahkan pandangannya pada Kyuhyun. "Jantungnya sempat berhenti, tapi pada akhirnya keinginan anak ini untuk bertahan hidup lebih kuat."

"Aku rasa pengorbanan yang dilakukannya tidak akan sia-sia." Tuan Cho merasa sakit entah mengapa.

Kimbum menoleh. "Tim kami masih mencoba melakukan penanganan, agar bisa terbuka kemungkinan dia dapat bertahan."

Tuan Cho menganggukkan kepalanya. "Aku harap..."

Baru saja Tuan Cho akan membalas kalimat dari Kimbum, seorang ganhonsa dengan panik berlari menghampiri mereka berdua. Dari caranya terlihat sekali bahwa ganhonsa tersebut akan menyampaikan berita buruk.

"Ada apa Yuri-ah?" Tanya Kimbum padanya.

"Ki...pasien Kibum dalam keadaan sangat kritis." Jelas Yuri dengan nada terbata-bata.

Kibum mengerutkan keningnya. "Yong Pil?"

Yuri menggelengkan kepalanya. "Yong Pil uisanim sudah tidak bisa lagi untuk menanganinya."

"Tuan Cho mohon tunggulah disini hingga Kyuhyun sadar, aku akan mencoba melihat keadaan Kibum." Jelasnya.

Tuan Cho menganggukkan kepalanya tanpa dapat berkata.

"Kita pergi Yuri-ah." Ajak Kimbum.

Yuri mengangguk. "Nde uisanim."

Kimbum dan Yuri meninggalkan ruangan dimana Kyuhyun dirawat yang kini sedang ditunggui oleh sang ayah. Diraihnya tangan sang putra yang sekarang mulai terasa hangat sekarang oleh Tuan Cho. Mendekapnya dengan hangat, mencoba menyalurkan beberapa kehangatan yang lebih kepada sang putra. Setetes air mata tiba-tiba jatuh begitu saja, mendengar kabar tadi sungguh membuatnya sakit hati.

"Selamatlah Kibummie...Jebal..."

Semua orang yang ada di depan sebuah ruangan sedang berharap-harap cemas untuk mengetahui hasil seperti apakah yang akan mereka terima. Sekian menit kemudian akhirnya pintu ruangan itu terbuka, tampak muncullah dokter dan para suster yang lain. Namun mereka hendak menundukkan kepalanya.

Melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh sang dokter, membuat perasaan semua yang ada disana menjadi terpecah. Entahlah mereka merasakan sebuah perasaan sakit yang luar biasa menancap hati mereka. Dokter tersebut kemudian membuka masker operasinya.

Sang dokter menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, ini batas kami."

"Dan juga batasnya?" Hankyung tersenyum getir.

Para member Super Junior tersontak kaget dengan pernyataan itu.

Leeteuk bangkit dari duduknya, kemudian dia berteriak kepada Yong Pil. "Jangan bodoh! Kibum belum mati! Dia belum mati! Kalian bodoh!"

Heechul tak terima tindakkan Leeteuk. "Sudahlah Jungsoo! Kibum memang sudah pergi, dia yang menginginkannya."

"A...aku... kira kita akan selamanya bersama..." Ryeowook sudah tak dapat lagi membendung air matanya.

Yesung hanya bisa menahan tangisnya. "Banyak isyarat yang Kibum berikan."

"Senyum Kibummie...senyum perpisahan." Shindong menambahkan.

"ANAK BODOH!" Kangin berteriak frustasi.

Donghae dan Eunhyuk hanya bisa menenangkan satu sama lain.

"Kau baik..." Gumam Hangeng di tengah rasa sedihnya.

Sungmin hanya bisa diam.

Leeteuk berubah dan menerjang Kimbum. "KAU! KAU YANG TAHU SEMUA INI PASTI TERJADI KAN! KAU SUDAH TAHU DARI AWAL BUKAN?! SEMUA INI KARENA MU!"

"Hyung... Jangan seperti ini." Yesung mencoba menenangkan Leeteuk.

Setetes air mata jatuh dari Kimbum. "Ini adalah yang dia inginkan..."

Semua terperanjat ketika melihat Kimbum akhirnya menangis. Dokter muda itu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan para member dan beranjak pergi. Bodoh bukan hanya mereka yang sakit, tapi Kimbum juga merasa sakit. Sementara Yong Pil kembali menuju ruangannya.

Kimbum berjalan dengan sedikit limbung di lorong rumah sakit. Lututnya terasa begitu lemas sehingga tidak dapat menahan bobotnya sendiri. Tubuhnya bergetar dengan apa yang baru saja terjadi. Dirinya mencoba terus untuk berjalan, namun karena tubuhnya yang tiba-tiba lemas membuatnya tidak bisa bertahan dan tidak bisa mempertahankan keseimbangannya. Untung saja ada seseorang yang menopang tubuhnya ketika dia hendak terjatuh.

Kimbum membuka matanya, dan agak mengernyit ketika ada sebuah cahaya lurus yang menembus pandangannya. Saat kesadarannya telah penuh, dia melihat ada seorang namja yang duduk di sampingnya. Kimbum mencoba untuk duduk, dan namja tersebut juga membantunya.

"Jangan memaksakan dirimu." Namja yang berstatus sebagai hyung-nya itu tersenyum.

Kimbum memandangnya dengan lemah. "Sejak kapan kau disini?"

"Sejak dongsaeng kecilku akan terjatuh di lorong rumah sakit" Sikyung menjelaskan sembari tersenyum.

Kimbum menatapnya kemudian. "Oh..."

Sikyung mengerti keadaan sang dongsaeng. "Aku telah dengar tentang Kibum dan Kyuhyun."

"A...ak...aku membunuhnya hyung. Salah satu dari mereka telah kubuat pergi ... hiks..." Kimbum yang tegar tak dapat lagi menahan air matanya.

Sikyung langsung memeluk dan menenangkan sang dongsaeng. "Ssst... uljima semua itu takdiri Kimbum-ah. Lagipula Kibum memang yang menginginkannya."

"Ta...tapi aku sudah berjanji pada eomma bahwa kejadian saat eomma tak akan terulang lagi hiks..." Kimbum masih terisak.

Mendengar sang dongsaeng berkata eomma membuat Sikyung sedikit tertegun. "Eomma..."

Flashback on

Seorang namja sedang mondar-mandir tak tenang di depan sebuah ruangan rumah sakit. Baru saja dia mendapatkan kecelekaan yang cukup parah bersama eomma dan dongsaeng pertamanya. Syukurlah sang bungsu tidak ikut dan luka yang dialami namja ini juga tidak terlalu parah. Hanya saja belum diketahui bagaimana keadaan eomma dan sang dongsaeng.

Tak henti-hentinya namja ini terus menggumamkan do'a untuk keselamatan mereka berdua. Setelah hampir dua jam akhirnya seorang uisa keluar dari ruangan tersebut. Dengan gelisah namja ini kemudian menanyakan keadaan mereka.

Namja ini langsung bertanya. "Bagaimana keadaan eomma juga Kimbum?"

Sang uisa menghembuskan nafasnya sejenak. "Mereka berdua dalam keadaan kritis. Perlu aku jelaskan eomma-mu dalam keadaan yang sangat parah, mungkin tanpa alat-alat medis itu eomma-mu sudah meninggal. Dongsaeng-mu juga tidak jauh lebih baik, Jantungnya mengalami luka, dia harus mendapatkan transplantasi secepat mungkin. Jika besok masih belum ada kemungkinan dongsaeng-mu juga bisa meninggal. Tapi kita lihat saja apa yang diinginkan Tuhan."

"Eo...eo...eomma...Kimbum-ah..." Sikyung mendadak lemas mendengar semua penjelasan sang uisa."

Sang uisa menatap Sikyung dengan sendu. "Kau hanya bisa memilih satu diantara mereka berdua."

Setelah mengatakan itu, sang uisa bersama timnya berlalu meninggalkan Sikyung yang masih terduduk lemas di depan sana. Air mata yang selama ini Sikyung anggap menyebalkan kini terus menetes dan mengalir dari kedua mata namja yang terbilang masih remaja ini. Pertahanannya runtuh sudah, akhirnya Sikyung menangis sejadi-jadinya disana.

Skip

Sikyung lengkap dengan baju steril kini berada di dalam sebuah ruangan. Disana terdapat seorang yeoja berparas cantik tengah memejamkan kedua matanya. Dibalik masker oksigen itu, mulut sang yeoja terlihat tertutup rapat. Terlebih dengan berbagai alat-alat rumah sakit yang menempel ditubuhnya.

Sikyung perlahan-lahan mendekati sang yeoja. Air mata Sikyung langsung menetes saat dirasanya tangan yang selalu hangat membelainya itu kini begitu dingin. Sikyung menggenggam erat tangan yeoja tersebut berharap dapat mengalirkan kehangatan dari tubuhnya kepada sang... eomma.

Hanya suara detak jantung yang sangat lemahlah yang dapat Sikyung dengar disana. Dia yang biasanya menampakkan senyum hangat, hanya bisa tertidur menahan sakit disekujur tubuhnya.

"Eomma..." Sikyung berucap dengan agak bergetar.

Lagi hanya ada suara elektrokardiograf yang terdengar

Kembali air mata Sikyung menetes. "Ireona eomma..."

Hanya suara peralatan medis.

"Aku berjanji jika eomma bangun, aku akan menjadi hyung yang baik untuk maknae dan Kimbum juga." Sakit sekali rasanya bagi Sikyung.

Sama sekali tak ada respon.

Air mata Sikyung makin menetes saat mengingat Kimbum. "Eomma...selamatkan Kimbum... Kimbum sekarat eomma... hiks."

Detak jantung itu masih terus lemah.

"Aku...aku tak mau kehilangan eomma..."

Runtuh sudah pertahanan Sikyung. Tetes demi tetes air mata itu kini kembali menghiasi wajah tampannya. Rasanya dia tidak sanggup jika harus menghadapi kedua orang yang dia sayangi kini berada di dalam ambang hidup dan mati.

"Jika itu baik lakukanlah. Karena eomma akan rela berkorban apapun demi putra-putra eomma."

Sebuah kalimat yang selalu diucapkan sang eomma tiba-tiba saja teringat di pikirannya. Sikyung menatap sang eomma yang masih terbaring lemah. Sikyung merasa ekspresi sang eomma mengisyaratkan sesuatu.

"Arrasseo eomma. Kimbum akan selamat."

Menutup ruangan tersebut dan melepas semua pakaian sterilnya, Sikyung memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Sikyung menarik nafasnya sejenak, kini dia akan menuju ke sebuah ruangan salah satu uisa yang memang menangani eomma dan sang dongsaeng.

Menaikki elevator, akhirnya pada saat lampu menunjukkan lantai 4 Sikyung keluar dari sana. Dia berjalan lurus, melewati beberapa pintu akhirnya dia menemukan ruangan sang uisa yang memang sedang dia cari. 'Kim Han' Itulah nama sang uisa yang akan dirinya temui di dalam sana. Mengetuk pintunya sejenak, kemudian Kim Han tersenyum dan mempersilakan Sikyung masuk.

"Uisa kau bilang aku harus memilih salah satu bukan?" Tanya Sikyung to the point.

Kim Han menganggukkan kepalanya. "Ya, apa pilihanmu?"

"Selamatkan Kimbum." Sikyung berucap tegas.

Kim Han mengenyitkan kepalanya. "Apa kau..."

Sikyung memotong kalimat Kim Han. "Jangan membuatku berubah pikiran uisa."

Kim Han menyodorkan sebuah kertas. "Baiklah operasi transplantasi akan dijalankan setelah kau menandatangani ini."

"Baiklah uisa." Sikyung dengan bergetar menandatanganinya.

Kim Han bangkit dari duduknya. "Jika begitu operasi akan dilaksanakan jam dua sore ini. Dan sekarang aku akan memeriksa keadaan Kimbum, apakah memungkinkan untuk melakukan operasi."

"Arrasseo uisa aku berharap padamu." Mohon Sikyung.

Operasi transplantasi akhirnya bisa dijalankan, Kimbum menunjukkan perkembangan baik. Sikyung berharap-harap cemas dengan apa yang akan terjadi setelah sang uisa keluar dari ruangan itu. Sudah melebihi 10 jam namun tidak ada tanda-tanda bahwa Kim Han bersama timnya akan keluar dari ruang operasi.

Tak henti-hentinya Sikyung memanjatkan do'anya pada Tuhan. Tepat setelah 12 jam berlalu, lampu ruang operasi tersebut akhirnya padam. Sikyung segera beranjak dari duduknya berharap-harap cemas mengenai apa yang akan dikatakan oleh Kim Han nanti. Akhirnya sang uisa keluar, dia menghembuskan nafasnya sejenak.

"Eohtohkae...?" Sikyung berharap cemas.

Kembali Kim Han menghembuskan nafasnya. "Transplantansi berjalan dengan baik. Reaksi Kimbum dengan jantung barunya juga baik.."

Sikyung melengos. "Ah syukurlah.."

"Tetapi... seperti pilihanmu, Nyonya Sung telah diambil oleh yang paling berkehendak." Kim Han tersenyum sendu.

"Aku tahu... Tapi dengan melihat putranya selamat eomma juga pasti bahagia." Sikyung mendongakkan kepalanya berusaha menahan air mata yang sebentar lagi lolos dari pelupuk matanya.

Kim Han tersenyum maklum. "Dalam dua hari lagi dongsaeng-mu akan sadar. Lalu sebaiknya jelaskan tentang Nyonya Sung secara baik-baik. Karena tidak bagus saat penyesuaian dengan jantung barunya dia mendapat tekanan yang terbilang lumayan."

"Nde uisa... aku akan berusaha." Jawab Sikyung singkat.

- dua hari setelahnya -

Seorang namja sedang terduduk di atas tempat tidurnya di rumah sakit. namja ini menunggu sang hyung yang katanya akan menemuinya sebentar lagi setelah berkonsultasi dengan uisa. Hanya memandang ke luar jendela, melihat bagaimana cuaca hari ini yang ternyata begitu cerah. Ah sungguh dirinya tidak mau berada lama-lama di rumah sakit. Ya meskipun dia seorang yang menyukai kegiatan kedokteran.

Setelah satu jam berlalu, akhirnya ada seseorang yang mengetuk pintu kamar rawatnya. Namja itu mendengus sebal ketika dilihatnya sang hyung hanya menunjukkan cengiran lebarnya seolah-olah dia lupa bahwa dia sudah melakukan kesalahan.

"Kau marah pada hyung?" Tanya Sikyung, hyung-nya.

Namja tadi memalingkan wajahnya, ayolah apakah harus bertanya. "Kau terlambat satu jam pabbo."

Sikyung mengacak surai hitam namja itu. "Kau merajuk."

"Biar saja, itukan memang hyung yang salah." Namja yang dibilang masih duduk di bangku SMP ini memajukan bibirnya.

Sikyung mengeluarkan sebuah bingkisan. "Kalau kau marah ya sudah hyung makan sendiri coklatnya."

"Ah hyung jangan begitu." Gotcha.. sang dongsaeng akhirnya luluh juga.

Sikyung memberikan coklatnya. "Cepatlah sembuh dongsaeng manisku."

"Hyung apa eomma sudah sadar?" Tanya namja itu pada hyung-nya.

Sejenak keheningan terjadi diantara kedua kakak-beradik tersebut. Lalu Sikyung malah sibuk sendiri dengan smart phone yang dia pegang. Kimbum 'sang dongsaeng' kadang kesal pasti setiap kali dirinya menanyakan mengenai ibu mereka, Sikyung malah seolah-olah sedang berada di dunianya sendiri. Dan itu tentu saja membuat Kimbum mengurungkan niatnya untuk menanyakan lebih jauh lagi mengenai sang ibu.

Sudah tiga hari sejak Kimbum sadar dari tidur panjangnya. Perkembangannya cukup baik, tak ada gangguan pada tubuhnya. Baik itu pskis maupun fisiknya. Bahkan Kimbum terbilang cepat sembuh karena dia tidak perlu menggunakan kursi roda. Sehingga Kim Han uisa yang menanganinya memutuskan untuk memulangkan Kimbum hari ini.

Kimbum sendiri kini tengah sibuk membereskan barang-barangnya selama di rumah sakit. Lalu Sikyung? Dia sedang mengurusi berbagai urusan administrasi yang harus diselesaikan. Oh rupanya Sikyung sudah kembali, cukup cepat juga administrasi selesai. Lalu dia membantu Kimbum untuk membereskan barang-barangnya. Walaupun Sikyung melarang keras sang dongsaeng untuk membereskan.

"Sudah hyung bilang kau itu baru pulih jangan memaksakan diri." Ceramahnya pada sang dongsaeng.

Kimbum mendudukkan dirinya. "Iya...iya hyung cerewet."

"Ckckckck... hyung begini juga untukmu kan." Seperti Sikyung tak terima dengan cibiran dongsaeng-nya.

Kimbum menunduk, takut-takut untuk mengatakan ini. "Eomma... tak menjemput?"

Sikyung memejamkan matanya erat. "Apa semua barangmu sudah masuk?"

"Sudah. Hyung eomma tak menjemput?" Kali ini Kimbum coba memberanikan diri.

Sikyung terus mengalihkan pembicaraan. "Kita akan percepat kepulangan kita."

"HYUNG AKU BERTANYA!" Kini Kimbum berteriak.

Sikyung kembali memejamkan matanya erat. Kemudian dia duduk disamping sang dongsaeng. "Kurasa ini saatnya."

Kimbum mengerutkan dahinya bingung. "Saatnya untuk apa?"

"Kau tahu mengapa kau berada di rumah sakit? Kita dan eomma mengalami sebuah kecelakaan yang sangat berat. Kita berrtabrakan dengan sebuah truk barang. Aku hanya mengalami beberapa luka kecil. Eomma terbentur kepalanya. Dan dadamu terkena lempengan besi yang membuat jantungmu robek..." Sikyung menghela nafas sejenak. "Hyung begitu kaget dengan keadaan kalian berdua. Keadaan eomma sangat parah semua sistemnya tidak berfungsi tanpa alat medis yang menopangnya. Dan Kimbum-ah keadaanmu tak jauh lebih baik dari eomma juga. Jantungmu bisa berhenti berdetak keesokkan harinya jika tak segera ditangani."

Entahlah tiba-tiba saja perasaan Kimbum begitu sesak. "Ta...tapi aku sudah sehat kan hyung. Eomma juga pasti senang."

"Hyung belum selesai. Kim Han uisa mengatakan bahwa kau perlu segera mendapatkan transplantansi jantung. Kau tahu kan sebagai penyuka bidang kedokteran bahwa transplantansi jantung harus ada ikatan darah hingga memungkinkan kecocokkan lebih besar serta orang yang sudah ada diambang hidup dan mati. Jangankan untuk bangun, keadaan eomma sudah tak bisa dibilang bertahan.." Sikyung ingin menangis rasanya.

Kimbum menggeleng. "Jangan teruskan!"

"Akhirnya hyung memilih diantara kalian berdua. Jantung yang saat ini berdetak di tubuhmu adalah jantung milik seorang wanita yang sudah membesarkan kita." Pada akhirnya kalimat yang tak ingin Sikyung ucapkan terlontar juga.

Air mata itu sudah menghiasi wajah putih sang dongsaeng. "Hyung kau bohong kan?"

Sikyung hanya menggeleng.

"Mengapa kau tak membiarkanku mati saja hyung?! Mengapa kau malah mengorbankan eomma?! Seharusnya aku yang mati hyung bukan eomma! Hyung kau jahat... buang... buang saja jantung ini hyung!... hiks..." Kimbum memukul-mukul dadanya dengan keras.

Sikyung langsung menghentikan sang dongsaeng. "Kimbum-ah hentikan!"

"Biarkan aku mati hyung... hiks... yang seharusnya mati itu aku hyung!...hiks." Kimbum meronta.

Sikyung akhirnya menangis. "Hentikan sayang..."

"..." Kimbum tak meresponnya.

Setelah dilihat dia pingsan.

Sikyung menatap cemas Kimbum yang kini kembali mengenakan selang infus. Kim Han menatap Kimbum sejenak, kemudian berbalik dan menghampiri Sikyung yang sedang duduk di sofa.

"Dia baik-baik saja?" Ekspresi Sikyung begitu datar.

Kim Han tersenyum. "Dia shock. Baru saja menyesuaikan diri dengan jantung barunya dia sudah mengalami tekanan. Tapi besok juga keaadaannya pulih."

"Tapi selang infus itu?" Sikyung kembali bertanya.

"Tenang saja itu hanya cairan agar membantu tubuhnya lebih cepat menyesuaikan diri dengan jantung barunya." Jawab Kim Han singkat.

Sikyung memandang Kimbum yang terbaring dengan sedih. "Anak itu... uisa bagaimana jika Kimbum tak bisa menerima kenyataan tentang eomma?"

"Anak itu anak yang cukup pintar. Dia menyukai bidang kedokteran. Suatu saat bisa menjadi seorang uisa yang hebat." Itulah jawaban Kim Han.

Sikyung tak mengerti. "Uisa itu bukan..."

Kim Han memotongnya. "Sudah kubilang dia anak yang cukup pintar. Maka dia tidak akan terlalu bodoh untuk mengingat masa kelam ini."

Sikyung mengangguk mengerti.

- Setahun setelahnya -

Sudah setahun semenjak kejadian itu. Sikap Kimbum pada Sikyung 100 persen berubah drastis. Bukan tidak berbicara sama sekali atau bersikap kurang ajar pada sang hyung, namun Kimbum hanya sedikit berbicara atau bahkan hanya ketika dia merasa perlu untuk bertanya maka Kimbum akan bertanya. Itupun paling banyak hanya satu kalimat.

Sikyung sangat merindukan Kimbum yang dulu selalu berisik padanya, mengomel padanya dan mengkhawatirkan sang maknae dengan begitu berlebihan. Shiyoon sang maknae hanya dia yang bisa bercakap panjang lebar dengan anak tengah dari keluarga Sung tersebut. Sikyung tahu mungkin ada suatu perasaan aneh, jika Kimbum melihatnya.

Hey tunggu dulu bukan hanya Kimbum yang terluka disini, Sikyung juga. Asal tahu saja dia selalu merasa bersalah ketika melihat Kimbum. Sosok sang eomma seakan-akan ada pada diri Kimbum. Dia merasa menjadi orang paling jahat karena membiarkan orang yang telah melahirkannya meninggal dunia. Tak tahukah Kimbum dengan perasaannya?

Anak yang dipikirkannya akhirnya pulang dari sekolah. Entah ada angin apa secara tiba-tiba Kimbum mendekatinya. Dia memperlihatkan beberapa berkas kepada Sikyung. Rupanya sebuah beasiswa ke luar negeri mengenai studi lebih lanjut mengenai bidang kedokteran.

"Besok izinkan aku untuk berangkat." Katanya dingin.

Sikyung bingung. "I...ini terlalu mendadak."

"Tenang saja semua sudah aku urus. Lagipula aku tak ingin panjang lebar denganmu. Dengan tandatanganmu maka aku bisa berangkat ke Amerika besok. Maka tandatanganilah." Entah sejak kapan Kimbum jadi sedingin ini.

Sikyung hanya bisa mengangguk. "Baiklah hyung izinkan."

Kimbum menarik kembali berkasnya. Dan berlalu ke kamar. "Terima kasih."

"Tunggu dulu Kimbum-ah biar besok hyung an.." Kalimatnya terpotong.

"Tak usah. Shiyoon sedang sakit jaga saja dia. Lagipula sekalipun Shiyoon sehat aku tak mau diantar olehmu." Tajam bagaikan pisau.

Sikyung mengerti. "Baiklah kalau begitu..."

"Oh iya tenang aku akan sehat dan baik-baik saja. Jangan menghubungiku. Jangan menanyakan kabarku. Jangan juga mencoba untuk mengunjungiku. Karena aku akan kembali tepat pada waktunya." Potong Kimbum.

Sikyung kembali menghentikan langkah Kimbum. "Sebelum itu apa alasanmu mendinginkan hyung selama ini?"

Kimbum agak terperangah. "Jika melihatmu membuatku sakit saja dan mengingatnya. Lalu jika boleh jujur aku membencimu hyung."

Sikyung terdiam mendengar ucapan sang dongsaeng.

"Satu lagi setelah menjadi uisa nanti aku tak akan membiarkan orang yang mentransplantansi kehilangan nyawanya. Seperti eomma." Sesaat kemudian Kimbum sudah benar-benar tak terlihat.

Sikyung menahan air matanya. "Jika tak pernah bertemu denganku membuat kau tak merasa sakit. Maka hyung tak akan menemuimu lagi."

Pintu kamar Kimbum belum tertutup rapat. Sungguh kalimat yang diucapkan oleh Sikyung sangat terdengar jelas ditelinganya. Rasanya sakit...sakit sekali. Jika saja dia bisa menarik kalimatnya tadi, dia tidak ingin hyung satu-satunya yang dia milikki itu mengucapkan kalimat tersebut. Tumpah sudah air matanya.

Flashback Off

Sikyung tiba-tiba saja mengendurkan pelukkannya pada Kimbum. Dia menyadari sesuatu. Menatap Kimbum sejenak lalu tersenyum singkat dan kemudian memilih menjauhi sang dongsaeng yang air matanya masih mengalir. Tak seharusnya dia mengingatkan Kimbum kembali tentang sang eomma.

Perasaan hangat yang tadi Kimbum rasa bisa menenangkannya kini perlahan-lahan hilang. Dia melihat hyung-nya menatapnya dengan tatapan sedih.

"Mianhae hyung terlalu lama, hyung akan pergi." Sikyung berpamitan.

Tepat sebelum Sikyung membuka knop pintu Kimbum memanggil sang hyung. Selama ini dia sadar bahwa dia sangat merindukan hyung satu-satunya yang dia milikki itu. Sebuah kesalahan besar telah dia lakukan karena mengusir orang yang benar-benar menyayanginya.

"Kajima hyung..." Kalimat itu begitu pelan namun masih bisa didengar.

Sikyung berbalik menatap sang dongsaeng. "Waeyo? Apakah masih ada barang-barang hyung yang tertinggal disini?"

"Mian...mianhae..." Kimbum menundukkan kepalanya.

Sikyung terperangah melihat Kimbum kembali menangis dan langsung mendekatinya. "Tidak ada yang salah saeng."

Kimbum yang dingin kini menangis. "Seharusnya aku tahu alasan hyung pada saat itu. Seharusnya aku tidak menuduh sepihak. Maafkan aku hyung..."

"SSsttt... uljima saeng. Lagipula setelah semua ini nanti akan baik-baik saja. Dan hyung selalu memaafkanmu." Dibawanya Kimbum ke dalam pelukkannya.

Kimbum masih bicara disela tangisnya. "Satu yang aku sadari. Bogoshippo hyungie. Jangan tinggalkan aku lagi."

"Tidak bahkan saat kau menyuruh hyung untuk pergi. Hyung selalu menunggumu." Jawab Sikyung dengan tersenyum.

Kimbum menatap sang hyung. "Apakah seorang hyung selalu berkorban dan rela sakit untuk dongsaeng-nya?"

Kembali Sikyung tersenyum dengan tampan. "Mungkin iya... Seperti hyung dan Kibum.."

22 April 2016

Seoul International Hospital

Seorang namja hendak membuka kedua matanya. Tapi entah mengapa dia merasa dunia yang dia lihat lagi sekarang kini terasa begitu...asing? Namja ini mencoba mendudukkan dirinya, dia perlu berhati-hati karena entah mengapa seperti ada bekas operasi di bagian dadanya. Sebulir air mata jatuh begitu saja dari sudut matanya tanpa bisa dirinya hentikan. Perasaannya mengatakan bahwa ini bukan tempatnya.

Tuan Cho nampak terkejut mendapati sang anak yang kini sudah membuka kedua matanya. Meski masih terbalut dengan masker oksigen, Tuan Cho melihat keaadan sang putra sudah cukup lebih baik dari keaadaannya. Dihampirinya Kyuhyun sang putra dan duduk disamping tempat tidurnya. Segera juga dia mengenggam tangan itu dengan erat.

"A..ppa..." Kyuhyun masih dalam keadaan lemah.

Tuan Cho mengelus rambutnya. "Sudah berapa lama kau bangun?"

"Kenapa aku disini appa?" Kyuhyun masih begitu bingung.

"Kau telah menjalankan operasi sayang.." Jelas Tuan Cho.

Kyuhyun kembali bertanya. "Operasi?"

"Kau berhasil mendapatkan transplantasi paru-paru. Kau tahu anak nakal, jantungmu sempat berhenti di tengah operasi. Tapi akhirnya kini kau sudah bisa membuka matamu kembali." Jelas Tuan Cho kembali.

Kyuhyun berusaha tersenyum.. tapi sebuah senyum getir. "Ini kesembuhanku..?

"Tuhan sudah memberikan keajaibannya untukmu Kyuhyunnie." Air mata Tuan Cho menetes.

Kyuhyun mengedarkan pandangannya. "Hyungdeul...?"

Tuan Cho tersenyum maklum. "Sore ini mereka akan berkunjung kok. Sebentar appa akan memanggilkan dokter dulu. Ini sudah lumayan lama sejak kau sadar."

Kyuhyun menganggukkan kepalanya.

Seorang uisa dengan sigap memeriksa keadaan Kyuhyun. Hasil menunjukkan bahwa kini keadaan Kyuhyun jauh lebih baik dibanding sebelum melakukan transplantasi. Bahkan kini sang uisa melepaskan masker oksigen yang dipakai Kyuhyun. Dia mengatakan bahwa Kyuhyun harus terbiasa bernafas menggunakan paru-parunya.

Sebenarnya Kyuhyun agak bingung, karena bukan Kimbum yang memeriksa keadaannya. Bukankah uisa itu yang mengoperasinya kemarin? Tapi mengapa batang hidungnya sama sekali tak terlihat. Padahal Kyuhyun ingin mengucapkan terima kasih padanya.

"Yong Pil uisanim, mengapa bukan Kimbum uisa yang memeriksaku?" Kyuhyun penasaran.

Yong Pil menjawab sembari menulis beberapa catatan. "Kesehatan Kimbum agak menurun setelah mengoperasimu. Dia istirahat. Tapi besok juga Kimbum lagi yang akan menanganimu."

"Ku kira seorang uisa tidak akan jatuh sakit." Ucap Kyuhyun sembarangan.

Yong Pil terkikik dibuatnya. "Kau kira uisa itu apa. Seorang uisa juga manusia biasa yang bisa sakit tahu."

Kyuhyun mendengus. "Tapi Kimbum uisa itu manusia es, dia abnormal."

"Lidahmu masih saja tajam Kyu." Yong Pil menggelengkan kepalanya.

Kyuhyun agak tertawa meski sedikit ada tekanan sakit pada bagian dadanya. "Dia sendiri yang mengembalikan lidah tajamku."

"Jangan memaksakan diri untuk tertawa, paru-parumu masih belum sehat." Nasehat Yong Pil.

Kyuhyun hanya meliriknya sebal. "Banyak bergaul dengan Kimbum uisa rupanya membuatmu menjadi cerewet juga."

Yong Pil ternganga dibuatnya. "Panggil aku hyung, bocah!"

"Ya ya hyung galak." Ucap Kyuhyun terpaksa.

Setelah Yong Pil selesai memeriksa keadaannya, dia meninggalkan ruangan Kyuhyun. Kini sang appa lagi yang sedang menemaninya. Kyuhyun melirik sebal kepada ayahnya yang hanya diam sembari membaca sebuah buku. Ayahnya dingin, camkan itu! Juga selalu bingung dengan apa yang harus dibicarakan. Dan melihat kelakuannnya itu mengingatkan Kyuhyun dengan seseorang. Yah hyung-nya, hyung-nya yang begitu dingin tapi sangat disayanginya.

Aneh juga mengapa sedari tadi tidak nampak sama sekali batang hidung dari para hyungdeul-nya yang selalu berisik itu. Jika mendengar magnae sembuh mereka pasti akan berbondong-bondong datang dan memulai sebuah keributan di rumah sakit, dan membuat para suster marah besar. Lalu dirinya akan tersenyum ketika para hyungdeul menganggukkan kepalanya seolah menyesal tapi malah mengulangi perbuatannya lagi.

Sedetik kemudian dia menatap ke arah dadanya. Di dalam situ ada sepasang paru-paru yang dimilikki orang lain. Paru-paru itu kini tertanam ditubuhnya. Bersyukurlah karena dengan paru-paru ini dirinya tidak kesulitan lagi dalam bernafas. Bahkan dia merasakan seperti dalam keadaan sehat sebelum sakit. Namun ada suatu perasaan aneh yang membuncah dalam hatinya. Kyuhyun bingung menjelaskan apa perasaan itu, tapi jika mengingat kembali membuat Kyuhyun menjadi sangat sakit.

"Waaeyo Kyuhyunnie..?" Tuan Cho sadar ketika melihat Kyuhyun mulai melamun.

Kyuhyun menunjuk dadanya sendiri. "Benarkah ini milik orang lain appa? Aku sudah mengambilnya."

"Sekarang dia adalah milikmu. Jaga dia dengan sebaik-baiknya Kyu. Lagipula orang yang menitipkan ini sangat percaya kau bisa menjaganya." Tuan Cho ikut memegang dada Kyuhyun.

"Nde appa. Aku akan menjaganya." Kyuhyun mengangguk semangat.

Tuan Cho mengacak rambut putranya dengan gemas.

Kyuhyun kembali merasa bosan. "Para hyungdeul belum datang.."

"Sore ini mereka berkunjung." Hibur Tuan Cho.

Kyuhyun mulai semangat. "Aku akan berbagi cerita lagi degan mereka. Dan Kibum hyung dia berhutang banyak padaku setelah ini."

Tuan Cho bergumam. "Kibum..."

"Ya appa, kau bicara apa?" Kyuhyun kurang jelas mendengarnya.

Tuan Cho memasang senyum palsunya. "Nde. Kibum banyak hutang padamu."

Another Place

Disini terlihat beberapa orang namja yang mengenakan pakaian serba hitam. Mereka masing-masing menundukkan kepalanya. Berusaha untuk tetap tegar. Tapi tetap saja hati mereka akan begitu sangat sakit ketika mengingatnya dan membuat air mata itu jatuh dari mata mereka masing-masing.

Tak ada tawa atau canda disana. Semua namja itu hanya berada dalam pemikirannya masing-masing. Entahlah untuk berbicara basa-basi saja rasanya begitu kelu. Karena setiap mereka bicara pasti akan terasa ada getaran disana. Hingga seorang maid memerintahkan mereka semua untuk pergi.

Maid itu memberikan pesan. "Mobil sudah siapkan, sekarang tuan-tuan bisa berangkat."

"Nde gomawo." Jawab namja yang paling tua diantara mereka.

Kesemua namja itu menuju tempat seseorang yang tak akan pernah mereka temui lagi...

To Be Continue...

Catatan :

Chapter ini emang sengaja dibikin jadi dua part. Entahlah menurut author konflik inti akan dimulai dari chapter ini jadi jangan bingung. Karena Chapter 12 emang mungkin bisa menjadi dua part atau bahkan lebih. Dan yang pasti hope you all like this FF.

Makasih juga buat kalian yang udah baca. Jangan pernah bosen dengan FF yang dibuat oleh author nde.

review here *_*

hyunhua : ah iya gituh? Kyu kan maknae wkwkwkk emang mau berkorban hmm

cindy : hehehe iyah iyah chingu ini dilanjut baru part 1 nya tapi hehe.

Risma : waduh maaf gak tepat waktu wkwkkw

Yunacho : bingung? Hehe maaf yah udah bikin bingung. Tapi suatu cerita kalau mudah ketebak gak seru. Itu Kibum yang kecelakaan hehe, bunuh diri dia wkwkwk

Dindaa : wuaduhhh gimana nih plis maafin author. Kibumnya yang meninggal huaaa... hehe kan biar beda cast utama kalo meninggal *PLAK

Kimkyu13 : iya iya Kibum kok. Kyu selamat, dibaca kan? Itu paru-parunya Kibum yang selametin kyu

Sparkyu2903 : ini udah mau dua bulan lebih mian.

Nae xselia : maafin hehe janjinya gak tepat. Masih sibuk sama urusan kuliah

Lily : buat ff yang lain emang lagi dalam proses kok. Cuma masih butuh waktu buat nyeleseinnya soalnya di kampus lagi sibuk-sibuknya.

Dd :wuaduh janjimu author ingkari bhaks

Riena : gimana nih udah baca kan? Udah kan udah? Nah sekarang ketahuan kalo yang selamat itu Kyu, gimana?

Angel sparkyu : ini malah terlambat update hehe

Kyuzi4869 : iyah Kibum meninggal. Dia emang ngerelain buat Kyu. Soal Kyu ngamuk belum tahu juga sih. Hihi ini baru part 1 nya. Soalnya author rasa chapter ini begitu panjang.

Choding : nah gak sabar juga ayo baca terus

Abelkyu : gimana udah baca lagi dari awal? Hehe

Atik1125 : hehe maafin yah udah kejebak. Tapi gimana setelah baca chap yang sekarang ini?

Okaocha : yeayyy makasih chingu pujiannya. Tapi masih banyak yang kurang hehe

Sparkyubum : dari awal ff ini emang death chara. Dan treng yang meninggal Kibum. Wkwkwk jangan marahi author nde. Mungkin akan ada sedikit bumbu yang beda setelah chapter ini

Kirakim19 : nah apakah lanjutann ff nya juga sekeren teasernya chingu ? hehe

Dewidoss : biasanya yang dikit emang lebih bikin penasaran hihi

Retnoelf : read nde^^

Desviana407 : hehe maaf maaf ngasih harapan palsu. Tapi ini udah ditepatin kok dilanjut ffnya.

Hyunni02 : iyah akhir-akhir ini emang lebih sibuk

Anna505 : kan itu menandakan teaser wkwkkw. Angel voice masih belum dapet feel yang pas. Tapi pasti dilanjut kok, Cuma agak sabar hehe

Riritary9 : ini lanjutannya jrenggg

Lydiasimatupang : pertanyaannya masih belum bisa kejawab di part ini. Makanya tunggu part 2 buat jawabannya hehe

Mmzzaa : maaf yah gak bisa ditepati. Yah mungkin tahu kesibukkan anak kuliah, ini juga curi-curi waktu senggang. Buat ending belum kepikiran juga bakal kaya gimana. Author paling aneh yang gak bisa mikirin ending wkwk

Ladyelf11 : kalo greget, jangan dicubit wkwkwk

Name tika lee : nah udah baca dari awalnya belum? Makasih juga udah ninggalin komentar disini. Iya emang sibuk, tapi semoga aja lanjutan ini gak bikin kecewa

Guest : iya iya ayo baca sekarang udah dilanjut

Ailedachangkyu : wuaaah maafin hehe. Sekarang idenya udah gak buntu kok. Cuma emang lagi sibuk. Dan pada akhirnya ff ini berhasil dilanjut.

Kyutty : nde gomawo chingu

Martincho27 : nah apakah lanjutan ini bisa jadi jawaban penasarannya? Semoga aja bisa nde hehe

Kim hyuna : yosh udah

Aya : sudah chingu^^

Lovelyrose98 : siap chingu perintahnya udah author laksnakan. Wkwkwk kan wajib

Vita : bukan error bhaks itu emang prtanyaan dari author mianhae

Noname : arrasseo^^

Thanks To :

0932715630;anna505;atikahsparkyu;axerleoulus;cath0797;deviana407;chosuneun;citra546;evil. 95;emon204;hyukrin67;jeun86;kliief29;kimnsyeon;kimraf;kirakim19;magnaevil;missbabykyu;raein13;saryeong;shinjoo24;sparkyubum;tiktiktik;vanillamocca; 0404;beautyq;bright16;cronos01; ;delishaelf;devilkyu;dewisanti07900;febrianiaulia;fitrisipit17;gnagyu; .7; .1;herdianaapn;hulanchan;hyunnie02;ilmah; ;lydiasimatupang2301; 88;mmzzaa;octakyu; ;phn19;purtielfishy;readlight;riskiqhiqy; ;septianm13;septianurmalit1;suju0613;vicyamerry;widiantini9;yulianasuka;yunacho90