Title : Thank's God

Cast : Kibum, Kyuhyun, Other member SJ, etc.

Lenght : Chaptered

Gendre : Brothership, Sad, Friendship, Hurt/Comfort, etc.

Summary : Seorang namja hendak membuka kedua matanya. / Sebenarnya apa yang kurang dari semua ini? / "Appa... dia dimana?" / "Lebih baik kisah kita hanya sampai disini saja, terima kasih sudah saling mengenal." / "Pembunuh!" / "KAU BOHONG! KAU BAHKAN LEBIH MENYAKITIKU DENGAN BIGINI! KAU LEBIH BRENGSEK DARI AKU!" / "Apa ini yang kalian inginkan?" / "Ini...ini belum berakhir." /

WARNING : TYPO BERTEBARAN, FF TANPA EDIT, BIKIN BOSEN, BIKIN MEWEK (?) HAHAHAHA, CERITA MAKIN PANJANG

Finally akhirnya ff ini diterusin untuk part II nya. Makasih buat kalian yang selalu mendukung, menunggu, dan setia pada FF ini. Sempet down di awal dan berniat buat gak lanjutin, tapi sekarang ini dilanjut. Semoga kalian suka dengan ff ini ya^^

DON'T BASH !

DON'T BE SILENT READER

DON'T LIKE DON'T READ

KEEP REVIEW

LET'S ENJOYED

Preview

Another Place

Disini terlihat beberapa orang namja yang mengenakan pakaian serba hitam. Mereka masing-masing menundukkan kepalanya. Berusaha untuk tetap tegar. Tapi tetap saja hati mereka akan begitu sangat sakit ketika mengingatnya dan membuat air mata itu jatuh dari mata mereka masing-masing.

Tak ada tawa atau canda disana. Semua namja itu hanya berada dalam pemikirannya masing-masing. Entahlah untuk berbicara basa-basi saja rasanya begitu kelu. Karena setiap mereka bicara pasti akan terasa ada getaran disana. Hingga seorang maid memerintahkan mereka semua untuk pergi.

Maid itu memberikan pesan. "Mobil sudah siapkan, sekarang tuan-tuan bisa berangkat."

"Nde gomawo." Jawab namja yang paling tua diantara mereka.

Kesemua namja itu menuju tempat seseorang yang tak akan pernah mereka temui lagi...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

21 April 2016

Altar pemakaman itu begitu banyak yang dikunjungi orang, tidak heran karena seseorang yang hendak meninggalkan dunia ini adalah seorang yang sangat terkenal. Tangis, pilu, kepedihan, begitu kentara disana. Tak berhenti seluruh keluarga untuk mengeluarkan air mata mereka. Sungguh ini bukanlah yang mereka inginkan, tapi mengapa orang yang sangat berarti bagi hidup mereka harus merelakan dirinya hanya untuk orang lain?

Untaian do'a terus ada dan terucap di tempat peristirahatan orang tersebut. Tidak terkecuali bagi ke-13 namja yang juga ikut berduka dengan terjadinya peristiwa ini. Air mata menetes dengan banyak. Jika saja mereka tau lebih awal mengenai semuanya, mungkin ini tidak akan pernah terjadi.

Seorang yeoja paruh baya namun masih berparas cantik menghampiri para namja tersebut. Dengan air mata yang mengalir deras di pipinya, yeoja tersebut mendorong keras namja yang paling tua diantara mereka. Yeoja ini sangat marah. Marah pada mereka semua. Dia menganggap bahwa merekalah penyebab semua ini terjadi.

"Brengsek kalian! Anakku sudah bahagia dengan tidak terlibat dengan kalian." Amuk yeoja tersebut.

Namja yang paling tua itu tidak bisa melawan. "Mianhae...kami tidak menyangka semua ini akan terjadi."

"Apa dengan maaf putraku bisa kembali hidup?! Anakku mati karena terlibat lagi dengan kalian." Amarahnya semakin tinggi.

Namja lain yang paling penyabar, Siwon mencoba menenangkannya. "Kami juga sangat tidak menginginkan ini nyonya. Namun Kibummie dia yang memilih."

Yeoja yang berstatus sebagai ibu Kibum mengelak pernyataan Siwon. "Kalian jadi malah membuat putraku bersalah! Lihat saja akan kutuntut kalian semua dengan tuduhan pemaksaan agar putraku bunuh diri."

"Nyonya, sungguh kami tidak melakukannya." Leeteuk sang namja tertua menyahut.

Hangeng menambahkan. "Kami juga terpukul dengan kepergian Kibum."

"Penjahat.. kalian penjahat! Aku tidak akan terpengaruh." Tolak eomma Kibum.

"Jika anda ingin menuntut tuntutlah Cho Kyuhyun yang telah membuat semua ini terjadi!" Heechul mengeluarkan emosinya.

Donghae menambahkan. "Karena anak itu semua ini terjadi. Karena kebohongannya, Kibum sampai rela mendonorkan paru-parunya."

"Semua kacau karena Kyuhyun!" Eunhyuk mendukung.

Yesung tersentak dengan kalimat yang dikeluarkan hyung dan dongsaeng-nya. "Kalian tidak bisa menyalahkan Kyuhyun."

"Kyuhyunnie bahkan tidak tahu apa-apa." Ryeowook mengeluarkan suaranya.

Shindong mendesis sinis. "Semua berawal karena kebohongannya, tak usah membela anak itu."

"Dia penyebabnya nyonya." Kangin berkata dingin.

Sungmin ikut bersuara. "Tuntut Cho Kyuhyun nyonya."

Henry tidak menyangka. "Mengapa kalian tega pada Kyuhyun hyung?"

"Teukie hyung tolong..." Zhoumi memohon.

Leeteuk tidak bisa berbuat apa-apa. "Aku tidak bisa membelanya."

"Nyonya kumohon Kyuhyun tidak bersalah." Hangeng mengeluarkan pembelaan.

Sang eomma Kibum hanya dapat tersenyum sinis. "Kyuhyun ataupun kalian akan tetap aku tuntut."

Karena suasana yang tidak memungkinkan untuk terus berada disana, Ke-13 member Super Junior memutuskan untuk meninggalkan tempat berduka. Di dalam van sama sekali tidak ada percakapan yang terjadi. Mereka seolah-olah tidak mengenal satu sama lain. Terlebih dengan acara –mari menyudutkan Kyuhyun- yang tadi terjadi.

Meski telah berpisah cukup lama dengan Super Junior, namun Hangeng merasa sangat hancur saat mengetahui para saudaranya tercerai berai seperti ini. Dia sangat sedih jika harus mengingat si bungsu yang kini masih ada di rumah sakit. Seandainya dia tahu bahwa hyung-nya yang lain mulai membencinya pasti magnae itu akan kembali menangis. Terlebih bagaimana jika dia tahu paru-paru yang dimilikinya sekarang adalah milik hyung yang sangat dia sayangi. Seharusnya saat ini magnae bahagia. Sakitnya sudah diambil, tapi mengapa seolah dia tidak pernah boleh untuk bahagia?

Seperti halnya Hangeng member lain pun tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sungguh kehilangan Kibum membuat sebuah luka mendalam di dalam hati mereka. Hal ini tidak seharusnya terjadi. Hal ini harusnya bukan berakhir seperti ini. Namun kenyataan yang ada hal inilah yang terjadi.

Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sudah tiba kembali di dorm Super Junior. tanpa ada perbincangan mereka sibuk dengan membersihkan diri masing-masing. Bahkan waktu makan siang yang seharusnya dilewati bersama, mereka mengabaikannya. Ekspresi masing-masing member masih belum dapat diartikan. Perasaan mereka seolah melayang entah kemana. Seakan hidup seakan tidak.

Hangeng, Yesung, Ryeowook, Zhoumi, dan Henry tengah bersiap untuk mengunjungi magnae mereka di rumah sakit. Tidak lupa membawa buah-buahan serta hadiah lainnya untuk magnae mereka yang kini dalam proses pemulihan. Hangeng kemudian membuka pembicaraan terlebih dahulu.

"Apa kalian akan ikut untuk menjenguk Kyuhyun?" Tanya Hangeng.

Heechul beranjak pergi ke kamarnya. "Aku tidak akan pernah mau menemuinya."

"Baiklah Heechul hyung masih tertekan. Bagaimana yang lainnya?" Tanya Zhoumi dengan penuh semangat.

Donghae bergumam sinis. "Semudah itu kalian melupakan Kibum?"

"Bahkan tanah Kibum masih basah." Eunhyuk menambahkan.

Henry berbicara dengan takut-takut. "Ta...tapi Kyuhyun hyung pasti sangat ingin bertemu dengan kita."

Siwon menepuk pundak Henry. "Pergilah sendiri, keadaanku masih cukup kacau."

Ryeowook mengepalkan kedua tangannya. "Wae...waeyeo...Kenapa kalian semua jadi membenci Kyuhyunnie?!"

"Karena dia adalah seorang pembohong." Sahut Shindong.

Kangin menambahkan. "Jika dia jujur dari awal, semua tidak akan terjadi. Mengapa dia tidak jujur? Alasannya adalah karena dia tidak pernah menganggap kita sebagai saudara!"

"Yong Woon-ah. Kyuhyunnie bukanlah seorang yang seperti itu!" Yesung tidak terima.

Leeteuk geram dengan keadaan. "Berhentilah bertengkar! Jika kalian ingin pergi, pergilah kesana sendiri. Aku dan yang lainnya sudah tidak bisa lagi melihat wajah anak itu. Pasti kami terluka.

Yesung tertawa sinis. "Mwo.. terluka? Bahkan Kyuhyunnie lebih terluka dari pada kita semua!"

"JANGAN SEBUT NAMA ITU!" Marah Leeteuk kemudian berlalu.

Yesung semakin geram. "PARK JUNG SOO!"

"Tenanglah Jungwoon-ah." Hangeng mencoba menenangkan.

Ryeowook menatap Sungmin dengan sinis. "Bahkan kau ikut membencinya hyung."

Sungmin hanya mengalihkan pandangannya.

Tanpa ke-8 member lainnya, mereka memutuskan untuk mengunjungi Kyuhyun yang ada di rumah sakit. Super Junior benar-benar berantakan sekarang. Mereka sudah tidak mempunyai lagi rasa percaya satu sama lain. Hati mereka sakit. Tidak dipungkiri hati mereka sangat sakit. Tuhan seolah sengaja memberikan semua ini kepada mereka. Jika bisa mereka ingin menolak semua cobaan ini. Karena sungguh cobaan ini terlalu berat.

Seoul Internatiol Hospital

Seorang namja yang masih terbalut selang infus itu kini tengah diam menatap seorang namja lain yang berstatus sebagai dokternya. Rupanya namja ini tengah diperiksa oleh namja dokter tersebut. Setelah dirasa langkah-langkah pemeriksaannya sudah selesai, namja berstatus dokter itu akhirnya menyelesaikan pemeriksaannya pada namja ini.

Namja ini tersenyum saat melihat sang uisa mengambil kursi dan langsung memilih duduk di samping tempat tidurnya. Namja ini sangat merindukan sang uisa, karena sepanjang hari kemarin sang uisa tidak datang untuk menemuinya.

"Kimbum hyung, kemarin kau kemana?" Tanya namja tersebut dengan pelan.

Kimbum namja dokter itu menjawab. "Kesehatan hyung menurun kemarin. Bukankah Yong Pil sudah memberi tahumu?"

"Tapi aku ingin tahu langsung darimu hyung." Sahut namja tersebut.

Kimbum mengangguk. "Tapi sudah kan. Oh iya syukurlah sekarang kakimu sudah bisa digerakan lagi."

Namja itu tersenyum manis. "Nde hyung. Ini semua berkat hyung. Gomawo kau sudah melakukan operasi padaku."

"Aish ini sama sekali bukan dirimu, berterima kasih segala." Ejek Kimbum.

Namja itu merengut. "Memang aneh jika aku berterima kasih?"

"Hahahaha.. sama sekali tidak." Kimbum tertawa dibuatnya.

Namja itu mengeluh. "Aku merindukan hyungdeul."

"Aku dengar sebentar lagi mereka kemari. Tenang saja." Hibur Kimbum padanya.

"Jinjja? Wuah seru. Sekarang aku sudah sehat dan tidak akan merepotkan hyungdeul. Kibum hyung pasti orang yang paling senang dengan ini." Riang namja tersebut.

Kimbum langsung terdiam mendengar namja tersebut atau Kyuhyun. "Kibum..."

"Waeyo? Apa ada yang salah?" Kyuhyun dibuat bingung dengan ekspresi Kimbum.

Kimbum langsung menggeleng. "Ah anniyo. Meski kau sudah sembuh namun kau masih tahap pemulihan dan adaptasi terhadap paru-parumu. Jadi jangan terlalu lelah."

"Ah arrasseo." Sahut Kyuhyun dengan singkat.

Hangeng, Yesung, Zhoumi, Ryeowook, dan Henry akhirnya sudah tiba di rumah sakit. Setelah turun dari dalam mobil mereka menatap sejenak rumah sakit yang ada dihadapan mereka kini. Di rumah sakit inilah mereka harus kehilangan salah satu dongsaeng mereka. Di rumah sakit inilah mereka selalu berurai air mata. Dan di rumah sakit inilah semua awal kesedihan mereka terjadi.

Ryeowook menggeleng begitu juga empat member lainnya. Mereka sama sekali tidak ingin mengingat kembali masa-masa gelap itu. Yang harus dipikirkan sekarang adalah bagaimana membuat semuanya kembali menjadi seperti dulu. Bukan hanya terus menatap pada masa lalu kelam yang telah terlewati.

Mulai melangkah untuk memasuki area rumah sakit. Mereka semua terus berjalan berdampingan. Akhirnya setelah beberapa menit, kelima member tiba di depan sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat sang magnae yang tengah memulihkan kondisinya. Entahlah suatu perasaan aneh tiba-tiba muncul di dalam benak mereka masing-masing. Namun karena keyakinan mereka akhirnya memilih untuk membuka pintu ruangan tersebut.

Kimbum yang mendengar suara pintu terbuka langsung melihat siapa yang datang. Dengan senang hati, dia mempersilahkan kelima hyung Kyuhyun tersebut untuk masuk dan beranjak secara sopan. Mata Kyuhyun langsung berkaca-kaca ketika menatap kedatangan hyungdeul-nya meski hanya 5 orang.

"Hyungdeul..." Air mata Kyuhyun jatuh secara perlahan.

Wajah Kyuhyun teganti dengan bayangan Kibum bagi Ryeowook. "Ann..annyeong Ki... ah Kyuhyunnie."

"Kalian kesini akhirnya." Kyuhyun sangat tersentuh dengan kedatangan mereka.

Henry menjawab. "Ya.. kami mencari-cari kesempatan di tengah jadwal kami."

Kyuhyun mencoba bertanya. "Hyungdeul yang lain kemana?"

"Mereka sibuk." Sahut Yesung datar.

Zhoumi menaruh buah-buahan dan makanan yang dibawa. "Ini lekas sembuh. Kami sudah membawakannya Ki..Kyuhyunnie."

"Gomawo hyungdeul." Jawab Kyuhyun dengan tulus.

"Sepertinya kami harus pergi. Cutiku juga sudah batas akhir." Hangeng mengeluarkan suaranya.

Ryeowook menambahkan. "Aku dan yang lainnya juga."

Kyuhyun mengernyit bingung. "Kenapa sebentar sekali hyungdeul?"

"Ki..Kyuhyunnie. Manajer sudah menelepon." Zhoumi menyahut.

Henry memberikan salamnya. "Annyeong Kyuhyun hyung."

Kyuhyun hanya bisa menatap sedih pintu kamarnya yang kembali tertutup rapat. Padahal dia ingin sekali melepas rindu dengan para hyung-nya. Tapi mengapa mereka seolah menghindari dirinya. Apa ada sesuatu yang dirinya tidak ketahui. Apa ada hal yang mereka sembunyikan. Ekspresi mereka sama sekali bukan ekspresi yang sering kali dirinya lihat.

Kimbum menatap semua kejadian yang terjadi. Dengan langkah cepat dia menyusul kelima hyung dari Kyuhyun. Dia harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka semua.

"Hei chankamman!" Kimbum menghentikan langkah mereka.

Hangeng langsung bertanya. "Apa ada sesuatu?"

"Kenapa kalian sebentar sekali. Bahkan kalian tidak banyak mengobrol?" Tanya Kimbum dengan selidik.

Ryeowook menjawab dengan hati-hati. "Aku yakin mereka merasakan apa yang aku rasakan tadi."

Henry menyambung Ryeowook. "Wajah Kibum hyung ada pada Kyuhyun hyung."

"Seolah-olah Kibumlah yang ada disana." Zhoumi menunduk sedih.

Yesung menambahkan. "Aku tidak ingin menyakitinya. Rasanya kepalaku mau pecah jika melihat itu."

"Begitulah Kimbum-ah." Hangeng mewakilkan semua jawaban.

"Tapi kalian tidak seharusnya begitu. Kalian seolah membencinya." Kimbum tidak terima dengan jawaban mereka.

Zhoumi menjawab. "Sungguh kami tidak membencinya. Hanya saja sepertinya kami belum siap."

"Kecuali hyungdeul yang lain." Ryeowook tertunduk.

Kimbum tidak percaya dengan yang dia dengar. "Jangan bilang mereka membencinya?"

Hangeng hanya mengangguk pasrah. "Seperti itulah yang terjadi."

"Maafkan kami. Tapi sungguh melihatnya membuat kami sedih. Tubuh Kibum yang terluka terus membayang diingatan kami." Yesung memberikan penjelasannya.

Kimbum menggelengkan kepalanya. "Kalian semua benar-benar gila."

"Joseonghamnida. Kami harus pergi." Hangeng membungkuk dengan hormat.

Kimbum hanya bisa mengusap wajahnya frustasi. Ini adalah efek dan resiko yang memang harus bisa Kyuhyun terima. Namun dia saja belum tahu kejadian apa yang sebenarnya terjadi. Kyuhyun masih kebingungan, dan kini resiko-resiko dan efek menyedihkan itu harus dia terima secepat ini. Kimbum kembali ke ruangan kerjanya dengan langkah gontai.

Mencoba untuk menenangkan pikiran dia mencoba memainkan smartphone miliknya. Namun sesuatu yang lagi-lagi dia tidak inginkan terjadi. Berbagai macam artikel mengenai kematian Kibum sudah banyak termuat. Bahkan berita penuntutan juga sudah tersebar dimana-mana. Lalu hal yang paling membuat Kimbum tidak habis pikir adalah komentar pedas yang diberikan para netizen untuk Kyuhyun.

'Yang seharusnya mati itu Kyuhyun bukan Kibum oppa. Dasar setan kerjanya hanya merepotkan dan mengorbankan orang lain. Pergi saja ke neraka. Aku harap paru-paru itu tidak mau menempati tubuhnya.'

Itu adalah salah satu komentar yang diberikan oleh salah seorang netizen. Pentransplantasian ini sudah terbuka ke hadapan publik. Membuat banyak orang pro dan kontra terhadap semua yang terjadi. Kimbum berharap semoga Kyuhyun tidak mengetahui ini dengan cepat.

Sementara itu Kyuhyun masih berada di dalam kamar dan ditemani oleh Tuan Cho yang berstatus sebagai appa-nya. Pada malam hari ini sang appa baru sempat datang ke rumah sakit karena kesibukannya di kantor. Kebetulan kantor tempat kerjanya sedang melakukan proyek besar.

Tuan Cho menatap makanan di meja. "Itu dari siapa?"

Kyuhyun mengikuti pandangan sang appa. "Itu tadi hyungdeul datang menjenguk tapi hanya sebentar. Mereka harus menyelesaikan jadwal lagi."

"Banyak sekali. Terbukti kalau mereka sangat menyayangimu magnae." Puji Tuan Cho.

Kyuhyun menyahut. "Mereka hanya berlima yang datang, hyung yang lainnya bentrok dengan jadwal."

"Benar-benar idol group sangat sibuk ya." Tuan Cho tersenyum tulus.

"Tapi kalau dipikir-pikir Kibum hyung tidak punya jadwal sebanyak yang lainnya." Kyuhyun memasang pose berpikirnya.

Tuan Cho hanya bisa terkaku. "Ah begitu.."

"Appa... dia dimana?" Kyuhyun bertanya begitu pelan.

Tuan Cho hanya bisa menjawab dengan bohong. "Mungkin dia sedang ada jadwal lain."

Mereka terus melanjutkan perbincangan tanpa terasa hari sudah larut. Tuan Cho malam ini tidak menginap, karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan di rumah. Maka dari itu dirinya memutuskan untuk pulang. Lagipula disana ada Kimbum yang hari ini tengah kerja lembur dan berjanji untuk menjaga Kyuhyun.

Entah kenapa malam ini Kyuhyun sama sekali tidak bisa tidur. Akhirnya dia memutuskan untuk memainkan ponselnya. Kemudian memilih untuk membuka akun sosial media yang dimilikinya. Mata Kyuhyun langsung terbelalak saat membaca semua komentar-komentar yang ditujukan kepadanya.

'Kembalikan paru-paru milik Kibum oppa! Orang sepertimu tak pantas menerima dari orang sebaik Kibum oppa! Kaulah yang seharusnya mati dan pergi ke neraka!'

Perasaannya langsung sangat terasa sakit. Jadi ini adalah jawaban dari semua yang ada dibenaknya. Jawaban dari semua keanehan yang terjadi. Kibum...Kibum hyung-nya...paru-paru ini... semuanya adalah...

"Gotjimal..."

.

.

.

.

.

-Seorang uisa akan memeriksa keadaan dari pasien spesialnya ini. Namun ketika hendak membuka pintu disana sudah tidak ada siapa-siapa.

"Eodigayo Kyuhyun-ah?!"

.

.

.

.

.

Super Junior Dorm

Ketiga belas member Super Junior kini tengah berkumpul di ruangan tengah dorm. Terlihat bahwa kali ini mereka akan membahas sesuatu yang benar-benar serius. Tak ada canda juga tak ada tawa, keadaan ini benar-benar membuat mereka merasa canggung satu sama lain.

Leeteuk selaku leader dari Super Junior duduk di tengah-tengah mereka semua. Malam ini dirinya akan membuat sebuah keputusan yang telah dia rundingkan bersama ketujuh member lainnya yang tidak ikut bersama mereka ke rumah sakit. Tidak ingin membuat keputusan ini menjadi secara sepihak dirinya memutuskan untuk membahas ini semua pada malam ini.

"Super Junior bubar..." Leeteuk berucap dengan perlahan.

Yesung membelalak tak percaya. "Hyung.. apa kau gila? Kita sudah sampai saat ini lalu membubarkannya begitu saja?!"

Ryeowook mulai menangis. "Kumohon pertimbangkan lagi.."

"Lagipula entertainment pun belum setuju dengan ini." Zhoumi menyambung.

Heechul tersenyum penuh arti. "Kebetulan aku dan Jungsoo sudah lapor sore tadi."

"Hanya akan percuma mempertahankan grup seperti kita." Eunhyuk tersenuim kecut.

"Yakin? Meski aku bukan lagi satu grup tapi aku rasa ini tidak seharusnya." Hangeng menengahi.

Kangin menatap Hangeng tajam. "Tau apa gege tentang kami? Sementara gege pergi kami semua kalut dalam semua konflik."

Henry tertunduk. "Padahal ini harusnya menjadi awal yang baru."

"Aku tahu ini berat, tapi akan semakin hambar jika kita terus bertahan sebagai satu grup." Siwon mengeluarkan pendapatnya.

"Ya.. inilah saat dimana kita harus mengambil langkah masing-masing." Shindong menambahkan.

Donghae ikut tersenyum kecut. "Rasanya aku ingin menangis. Tapi memang ini hal terbaik untuk dilakukan."

"Sungmin kau tidak setuju begitu saja bukan?" Yesung bertanya.

Sungmin menggelengkan kepalanya. "Grup yang penuh dengan kebohongan tak pantas untuk dipertahankan."

Ryeowook menolak pernyataan Sungmin. "Kita tidak seperti itu! Kita adalah saudara yang saling melindungi satu sama lain."

Heechul tersenyum sinis. "Saudara ataupun lebih tetapi dengan adanya kebohongan tetap percuma."

"Lebih baik kisah kita hanya sampai disini saja, terima kasih sudah saling mengenal." Akhirnya Leeteuk bersuara kembali.

Hangeng menggeleng. "Jungsoo hyung aku tidak mengira kau benar-benar melakukannya."

"Jika tidak ada yang perlu dibahas lagi, mari kemasi barang-barang masing-masing dan pergi meninggalkan dorm ini untuk memulai kehidupan yang baru. Lagi pula Sajangnim akan segera menjualnya. " Perintah Leeteuk kemudian.

Tanpa bisa berbuat apa-apa Yesung dan member lain yang menolak pembubaran hanya bisa menuruti perintah Leeteuk. Dorm yang sudah hampir 10 tahun menjadi saksi kisah persahabatan mereka, kini harus ditinggalkan begitu saja. Bahkan tidak bisa dipungkiri di dalam mata mereka terlihat air mata yang menumpuk di pelupuknya. Seolah menandakan luka begitu dalam yang ada pada diri mereka. Hingga akhirnya mereka semua benar-benar pergi meninggalkan tempat tersebut.

Seorang namja membuka dengan paksa pintu dorm yang kini sudah kosong tersebut. Pandangan matanya menatap sekeliling dengan seksama. Memeriksa tiap ruangan yang ada dalam dorm tersebut. Setelah menyadari semua yang telah terjadi air matanya langsung mengalir dengan deras melewati pipinya.

Ruangan ini begitu kosong, para penghuni entah pergi kemana. Atau mungkin mereka memang sengaja untuk meninggalkannya? Tak ada lagi suara keramaian disana. Tak ada lagi suara-suara menggerutu yang seperti anak-anak yang sedang merengek. Kini ruangan itu hanya sepi.

Namja ini terduduk lemas menyadari semua keadaan yang ada di sekelilingnya ini. Jika dia bisa menebak, dia yakini bahwa ruangan ini memang sengaja untuk ditinggalkan selamanya oleh para penghuni yang tersisa. Namja ini menangis dengan kencang. Tanpa peduli bahwa mungkin rasa sakitnya akan kembali menghinggapi tubuhnya yang masih lemah. Namja ini benar-benar tidak tahu hal apa yang seharusnya dia lakukan. Kemudian dia hanya dapat pergi meninggalkan tempat tersebut dengan berlari.

Sebuah club malam pada malam hari ini terlihat begitu ramai. Namun nampaknya hal tersebut sama tidak sama sekali membuat seorang yang sedang terduduk lesu tertarik. Dia sudah menghabiskan dua botol wine, tapi mengapa dirinya merasa itu masih belum cukup. Belum cukup untuk mengakhiri semua ini? Rahasia? Haruskah rahasia itu ada? Orang itu tersenyum sinis seakan hendak menertawakan dirinya sendiri.

Para wanita penghibur yang terlihat sangat sexy disanapun sama sekali tidak menarik bagi orang ini. Sedari tadi dirinya hanya sibuk dengan minuman dan tawa mengejek yang dia keluarkan untuk dirinya sendiri. Orang ini merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling bodoh karena tidak pernah bisa mengetahui rahasia itu dari awal. Akan lebih baik jika dia bisa mengetahui semua itu terlebih dahulu.

Seorang yeoja penghibur menghampiri orang tersebut. Yeoja tersebut tertarik karena melihat orang ini hanya diam tanpa mencoba melakukan hal-hal seperti yang dilakukan orang lain. Dengan tatapan genit, yeoja bernama Ahnyoung tersebut menghampiri manja seseorang ini.

"Hai chagi~ kenapa sendirian. Ayo lebih baik berdansa bersamaku." Goda Ahnyoung padanya.

Orang tersebut menepis lengan Ahnyoung. "Menyingkirlah, aku sedang tidak ingin melakukan itu."

Ahnyoung memasang pose yang menggoda. "Ayolah lupakan stress-mu dan bersenang-senang denganku."

"Sudah kubilang aku tidak mau bitch!" Teriak orang tersebut di sela mabuknya.

Ahnyoung merasa terhina. "Dasar orang aneh. Lagipula aku juga tidak memaksa. Gila kau! Pergi dari sini!"

Orang tersebut berkata dengan tatapan mabuk. "Tanpa kau usir pun aku pergi sayang~"

"Tadi kau menolak sekarang mau. Dasar berengsek. Pergi!" Marah Ahnyoung.

Orang tersebut meninggalkan club malam itu dengan kondisi yang benar-benar mabuk. Setidaknya pertengkerannya dengan salah satu wanita penghibur tadi sedikit menghibur dirinya. Meski itu tidak akan pernah bisa mengembalikan keadaan yang terjadi. Keadaan dimana dia tidak seharusnya kehilangan salah satu dongsaeng yang disayanginya. Lagi-lagi orang tersebut hanya bisa tersenyum getir.

.

.

.

.

.

Namja ini berlari begitu kuat. Tidak peduli bahwa keadaannya masih begitu lemah. Bahkan pakaian rumah sakit masih melekat di tubuhnya. Dia tak peduli, dirinya hanya ingin mengetahui sebuah kepastian. Kepastian yang akan mampu menjawab semua pertanyaannya yang begitu menggebu. Apa akhirnya dia akan sendiri lagi? Apa akhirnya akan hanya menjadi seperti ini? Ini sama sekali bukan ending yang indah. Hingga dia akhirnya bertabrakan dengan seseorang yang menatapnya begitu...tajam.

Orang tersebut langsung tersentak ketika melihat siapa namja yang hendak menabrak dirinya tadi. Memori-memori menyakitkan itu langsung melintas begitu saja dalam pikiran orang tersebut. Dengan penuh amarah orang tersebut mendorong namja yang lemah ini.

"Teukie hyung geuman..." Air mata namja ini langsung menetes.

Orang yang dipanggil Teukie atau Leeteuk tersebut menggeram. "Karena kau Kibum mati... karena kau semua ini terjadi!"

"Aku sungguh tidak tahu apa-apa Teukie hyung. Aku juga tidak menyangka." Namja ini menangis dengan tersedu.

"Kau pembunuh! Dasar pembunuh!" Emosi Leeteuk makin tak terkendali.

Namja ini mencoba memohon dengan penuh derai air mata. "Mianhae Teukie hyung, aku tidak tahu. Jika saja.."

"Yang seharusnya mati itu kau CHO KYUHYUN! Kau yang membuat drama ini terjadi! Kau dengan kebohonganmu!" Leeteuk semakin termakan amarahnya.

Kyuhyun tersentak dengan kalimat yang diucapkan Leeteuk. "Hyungie..."

Leeteuk menarik lengan Kyuhyun dengan paksa. "Kembalikan paru-paru itu pada dongsaeng-ku."

"Kita mau kemana Teukie hyung?" Sungguh Kyuhyun sudah sangat lemas.

Leeteuk menjawab dengan tatapan menusuk. "Ke tempat Kibum."

Leeteuk melajukan mobilnya dengan kecepatan yang begitu tinggi. Dia juga tidak memperdulikan protesan dari kendaraan lainnya yang sedang melaju. Sementara Kyuhyun sangat takut dengan hyung malaikatnya ini. Kyuhyun benar-benar ketakutan. Ini adalah amarah Leeteuk yang benar-benar terjadi.

Dengan cepat mereka sudah tiba di pemakaman keluarga milik keluarga Kim. Dengan menarik Kyuhyun kembali secara kasar, Leeteuk membawanya ke depan sebuah gundukan tanah yang terbilang masih basah. Kemudian menghentakan kasar lengan Kyuhyun untuk lepas dari tarikannya.

Leeteuk menatap Kyuhyun tajam. "Lihat itulah yang sudah kau lakukan."

"Kibummie hyung..." Kyuhyun lagi-lagi hanya bisa menangis.

"Seharusnya kau yang kehilangan paru-parumu! Sekarang ayo hidupkan dia kembali!" Leeteuk berucap dengan dingin.

Kyuhyun hanya dapat menangis. "Joseonghamnida hyung..."

"Dasar tidak berguna. Melihatmu hanya membuatku sakit kepala. Disinilah kau menyesal sampai mati." Leeteuk beranjak meninggalkan Kyuhyun.

Lagi-lagi kata itu didengar Kyuhyun. "Teukie hyung..."

Di tengah malam yang begitu dingin ini Kyuhyun hanya sendirian di depan makam seorang hyung yang sangat disayanginya. Jadi kebersamaannya waktu itu adalah kebersamaan yang terakhir dirinya miliki bersamanya. Kalimat-kalimat itu adalah kalimat untuk menyenangkannya saja. Kyuhyun tertawa mengejek. Menertawakan dirinya sendiri.

"KAU BOHONG! KAU BAHKAN LEBIH MENYAKITIKU DENGAN BIGINI! KAU LEBIH BRENGSEK DARI AKU!"

Bersamaan dengan kalimat itu Kyuhyun masih menangis dengan kencang.

23 April 2016

Seoul International Hospital

Kimbum bersama para timnya juga Tuan Cho tengah sibuk mencari Kyuhyun. Sejak dua hari yang lalu Kyuhyun menghilang dan hingga saat ini magnae belum kembali baik ke rumah sakit maupun ke rumah orang tuanya. Mereka sangat khawatir terlebih mengingat kondisi Kyuhyun yang masih belum sepenuhnya pulih.

Kimbum merasa bersalah kepada Tuan Cho. Seharusnya dia menjaga Kyuhyun terus menerus pada waktu itu. Mungkin Kyuhyun tidak akan membaca komentar tersebut dan tidak kabur dari rumah sakit. Kepolisian sendiri sudah mau membantu pihak rumah sakit untuk mencari salah satu pasien mereka, yaitu Cho Kyuhyun.

"Masih belum ketemu?" Tanya Yoona seorang ganhonsa.

Kimbum mengangguk lelah. "Begitulah. Anak itu benar-benar ahli dalam bersembunyi."

Yonna ikut sedih. "Kasihan sekali. Belum lagi ada berita bahwa Super Junior sudah bubar."

"Apa katamu Yoona-ya?" Kimbum mencoba mencerna kalimat Yoona.

Yoona mengedikan bahunya. "Memang uisa tidak tahu? Malam tadi petinggi SM sudah mengumumkannya di publik."

Kimbum benar-benar dibuat tak percaya. "Yoona-ya kau yang memimpin tim hari ini."

"Eh chankamman, uisa mau kemana?" Yoona bertanya bingung.

"Aku ada urusan sebentar." Kimbum menjawab kemudian berlalu.

Kimbum menaiki mobilnya dan beranjak pergi meninggalkan rumah sakit. Ada sesuatu yang harus dirinya pastikan sekarang juga. Benarkah yang dikatakan oleh Yoona tadi? Jika itu benar-benar, Kimbum tidak habis pikir dengan pikiran dari perkumpulan orang aneh tersebut.

Akhirnya Kimbum tiba juga disana. Segera setelah turun dia langsung berlari menuju dorm Super Junior. Tepat dugaannya setelah memasuki dorm rupanya tempat itu kini benar-benar kosong. Kimbum sepertinya terlambat karena semua penghuni sudah tidak ada lagi di dalam sana.

Kimbum memutuskan untuk pergi meninggalkan dorm tersebut. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seseorang berpakaian militer kini tengah berdiri di hadapannya sembari menatapnya secara kaku.

Kimbum berkata sinis. "Ada barangmu yang tertinggal?"

"Ya begitulah." Ucap orang tersebut.

Kimbum kembali tertawa sinis. "Apa ini yang kalian inginkan?"

Orang tersebut menghentikan langkahnya. "Mworago..?"

"Kalian membencinya. Memutuskan untuk meninggalkannya. Pergi selamanya..." Ucapan Kimbum terpotong.

Orang tersebut memotong kalimat Kimbum. "Aku harus kembali menjalankan tugas."

Kimbum berbalik dan menatap orang itu dengan tajam. "Kalian membuat impian kalian sendiri dan impiannya hancur. Lalu kalian membuat dia menghilang?! Sekali lagi apa ini yang kalian inginkan?!"

"Maksudmu?" Akhirnya dia menatap balik Kimbum.

Kimbum berkata dengan dingin. "Magnae kalian hilang disaat kondisinya masih begitu lemah! Hingga hari ini belum kembali bahkan tanpa makan dan minum! INI YANG KAU INGINKAN JUGA LEE SUNGMIN?!"

Orang bernama Sungmin itu hanya bisa terdiam.

Kimbum memilih pergi meninggalkan Sungmin yang masih terdiam mematung di tempatnya berdiri. Sungguh Sungmin masih berusaha untuk mencerna semua kalimat yang diucapkan oleh Kimbum tadi.

Seorang namja berpakaian rumah sakit tengah berjalan dengan lemas dan memegangi tembok untuk menahan tubuhnya yang sudah akan ambruk. Dia berusaha untuk mempertahankan tubuhnya, namun sepertinya ini benar-benar sudah batasnya. Nafasnya begitu tersengal dan sangat sesak. Air matanya kembali mengalir mengingat kalimat yang dia dengar dua hari yang lalu.

"Ini...ini belum berakhir." Akhirnya pertahanannya runtuh sudah.

Seseorang yang melihat namja itu jatuh langsung tersentak ketika mengenal namja yang pingsan ini.

"OMO! Kyuhyun-ah!"

.

.

.

.

.

.

To Be Continue...

Akhirnya selesai juga part II dari chapter 12 ini. tetap baca dan sukai FF author yang ini juga FF yang lainnya arra?

Review :

Tatta : sebenernya chingu baru baca sampai chapter 5. Coba baca terusan selanjutnya mungkin itu bisa menjawab rasa penasaran chingu.

Illena : makasih ya atas dukunganmu. Ya mungkin itu adalah saran untuk ke depannya buat author.

Axselia : nde makasih buat saran dari chingu ya. Haha waktu itu kepikiran buat berhenti nulis lagi. Tapi ternyata gabisa. Karena ini emang udah kaya jiwa sendiri buat author untuk nulis. Makasih buat semangatnya chingu.

De : itu gimana penilaian chingu sendiri sih. Tapi setiap orang bisa kan menggunakan kata namja remaja. Tapi selebihnya itu adalah bagaimana menurut penilaian chingu sendiri. Enggak kok gak diambil hati, walau jujur di awal-awal emang agak kebawa.

Simahiro : setiap orang pasti punya pendapatnya masing-masing. Itu sih terserah mereka mau menilai gimana. Tapi selebihnya ini adalah cambuk buat author agar bisa menjadi lebih baik lagi. Makasih banget buat dukungannya. Peluk cium dari author haha

Sakurah : sekarang udah lanjut lagi nih, gimana?

Guest(?) : iya kadang-kadang atau sering kali emang banyak yang gituh. Kadang ada yang terkesan itu mirip banget. Tapi ternyata dari sudut penulisan dan emosi masing-masing author itu berbeda. Makasih buat saran dan dukungannya.

Liliwati : nah loh selama ini kemana aja chingu? Haha gapapa kok. Waduh chingu lebih jahat haha pengen semuanya meninggal. Becanda deng.

Dindaa : nae dongsaengku yang manis sekarang udah unnie lanjut eoh.

Bungaosh : makasih banget buat dukungannya.

Ayu : iya plot sering kali sama tapi jika dibaca lebih dalem lagi bisa keliatan dimana perbedaannya.

Hyukrin : iya author nggak dengerin tapi itu bisa jadi masukan dan pemacu semangat buat author jadi lebih baik lagi. Makasih banget buat dukungannya selama ini buat author. Haha ga ada kok, tetep setia ma author nde?

Baexlight : kayak tahu nih siapa yang ngasih review. Haha makasih yah sayang 3

Ladyelf : nde makasih buat pendapatnya. Tapi coba kalau dibaca lebih dalam pasti tahu bahwa ini cerita yang emang beda. Makasih banget juga udah setia sama author selama ini.

Anna : hati-hati tuh kenapa gampang lupaan wkwkwk. Eh sama author juga sih kaya gitu . makasih buat sarannya. Alhamdulilah banget kalau ff ini enak buat dibaca hehe.

Desviana : iyah yang tahu aku dan Allah. Makasih buat dukungannya nde. Haha kepikiran sih tadinya, tapi sekarang udah nggak.

Makasih banget buat kalian semua yang setelah kejadian itu masih tetap setia dan tetap mendukung author. Pernah kepikiran untuk mematikan FF Thank's God ini, tapi berkat dorongan dan dukungan dari kalian semua akhirnya author berani untuk meneruskan FF ini lagi. Gabisa bilang apa-apa lagi selain bilang kata Terima Kasih sebanyak mungkin buat kalian semua. Author terharu banget. GOMAWOOOOOOOOOOO

Thanks To :

0932715630;anna505;atikahsparkyu;axerleoulus;cath0797;deviana407;chosuneun;citra546;evil. 95;emon204;hyukrin67;jeun86;kliief29;kimnsyeon;kimraf;kirakim19;magnaevil;missbabykyu;raein13;saryeong;shinjoo24;sparkyubum;tiktiktik;vanillamocca; 0404;beautyq;bright16;cronos01; ;delishaelf;devilkyu;dewisanti07900;febrianiaulia;fitrisipit17;gnagyu; .7; .1;herdianaapn;hulanchan;hyunnie02;ilmah; ;lydiasimatupang2301; 88;mmzzaa;octakyu; ;phn19;purtielfishy;readlight;riskiqhiqy; ;septianm13;septianurmalit1;suju0613;vicyamerry;widiantini9;yulianasuka;yunacho90;captainpotato;illenadavis;kyu4ever; 88;septiaNM13;