Title : Thank's God

Cast : Kibum, Kyuhyun, Other member SJ, etc.

Lenght : Chaptered

Gendre : Brothership, Sad, Friendship, Hurt/Comfort, etc.

Summary : "Aku tidak bisa...aku sungguh tidak bisa hyung." / "Tuan Cho aku mohon jangan pernah berhenti untuk berharap."/ Redup...begitulah suasana hati yang dirasakan oleh orang-orang tersebut. / / Para namja itu terperangah melihat siapa yang malam begini datang mengunjungi mereka. / "Seperti bintang yang bersinar terang tapi bintang itu sangat jauh dan kita tidak akan mungkin bisa untuk menggapai tempat dimana bintang itu berada." / "Bisakah aku kembali bersama mereka lagi?" / "Untuk permintaan terakhirku Tuhan..." /

WARNING : TYPO pasti bertebaran, maybe agak berkurang dikit. Maaf updatenya juga agak lama karena untuk memikirkan kelanjutan ff ini lumayan susah untuk dipikirkan. Cerita mungkin semakin panjang dan membuat kalian mengantuk hehehhe. Makin aneh.

Oh iya ini chapter sama author udah dirapihin lagi buat kejelasan. Jadi chapter-chapter teaser kayak gituh udah author hapus dan hanya masukin chapter utama. Oh iya kemaren-kemaren itu aplikasi FFn sempet eror jadi update-an yang dimasukin gak kedetek tapi sekarang udah bisa lagi kok.

DON'T BASH !

DON'T BE SILENT READER

DON'T LIKE DON'T READ

KEEP REVIEW

LET'S ENJOYED

Preview

'PRANG'

Seorang namja dengan wajah malaikat tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang akan dipakainya untuk minum. Dengan perasaan campur aduk namja berwajah malaikat itu mulai membereskan puing-puing dari gelas yang dijatuhkannya. Saat hendak memungut salah satu pecahan kaca tanpa sengaja jari namja berwajah malaikat tersebut tergores dan mengeluarkan darah segar berwarna merah.

Namja itu hanya terdiam sembari memandangi jarinya yang mengeluarkan darah. Ini sakit. Namun bukan jarinyalah yang merasa sakit, sesuatu di dalam dadanya begitu menggebu dan membuat hati namja ini begitu terasa sesak.

Seseorang yang mendengar kekacauan langsung datang menghampiri sang namja yang masih terdiam. Orang tersebut langsung mengambil kotak obat dan mengobati luka pada namja berwajah malaikat itu.

"Wookie-ah.. Kenapa ini sangat sesak?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.

.

.

.

.

.

-Dirinya memegangi dadanya yang sangat sakit dan sangat terhimpit. Dirinya hanya mampu menggumam. "Sesak...khhh.."

.

.

.

.

.

Seoul International Hospital

Terlihat banyak dokter yang kini tengah sibuk berlalu lalang di depan sebuah ruang perawatan intensif yang ditempati oleh seorang namja yang kini tengah merasakan sesak luar biasa. Tim dokter terus berkoordinasi untuk mengatasi namja yang berstatus sebagai pasien mereka tersebut.

Namja itu hanya bisa memejamkan matanya dan terus mencengkeram dadanya sendiri. Paru-paru itu begitu menyiksanya. Seakan-akan si paru-paru berbicara dan berteriak padanya 'keluarkan aku dari sini!'. Air bening itu langsung mengalir begitu saja, sungguh dirinya sudah tidak sanggup lagi untuk menahan rasa sakitnya. Pandangannya langsung mengabur saat dokter mulai berteriak panik.

"Kimbum" salah satu dari tim dokter yang ada disana langsung panik saat melihat namja tersebut mulai kehilangan kesadarannya. Dengan tegas dia meminta kepada rekan timnya yang lain untuk mengambil tindakan segera.

"Siapkan ruangan steril untuk Kyuhyun segera!." Perintah Kimbum pada rekan tim dokternya.

Yong Pil yang juga ada satu tim dengannya menggelengkan kepala. "Lebih baik tangani disini, dia perlu segera ditangani."

"Tapi Yong Pil uisanim, disini terlalu riskan." Kimbum menolak Yong Pil.

Yong Pil kekeh pada kalimatnya. "Lakukan semampu kita sekarang Kimbum-ah. Anak ini dalam ambang hidup mati sekarang!"

Kimbum tertegun dengan kalimat yang diberikan Yong Pil. "A...arrasseo..."

Kimbum dan Yong Pil dengan cermat menangani namja lemah tersebut. Keringat bercucuran dari dahi mereka berdua. Entahlah proses apa yang dilakukan oleh para dokter tersebut, namun bisa dipastikan itu sangatlah rumit. Satu hal yang perlu diketahui bahwa salah ataupun tidak sesuai sedikit saja akan membuat semuanya menjadi berakhir.

.

.

.

.

Seorang namja dengan pakaian rumah sakit terbangun dari tidurnya. Namja itu menatap ke sekeliling yang ada disekitarnya. Banyak bunga-bunga yang bermekaran dan indah mengelilinginya. Untuk memastikan namja ini memutuskan untuk bangkit dan berjalan-jalan di sekitar sana.

Rupanya dirinya kini sedang berada di sebuah taman yang sangat indah. Begitu banyak pohon yang rindang dan membuatnya merasakan sebuah kesejukan. Taman ini juga memancarkan bau yang sangat harum yang tidak lain tidak bukan berasal dari bunga-bunga indah yang bermekaran disana.

Namja ini memegangi dadanya sendiri. Anehnya rasa sakit yang dirasakannya tadi telah hilang entah kemana. Yang dirinya rasakan hanyalah langkah ringan juga perasaannya yang sangat tenang. Namja ini berjalan-jalan mengelilingi taman yang mungkin seperti 'surgawi' bagi orang yang pertama kali melihatnya.

Semakin jauh namja ini melangkahkan kakinya taman ini semakin begitu indah. Kemudian mulai terdengar suara-suara seperti orang-orang yang tengah bercengkerama. Menajamkan terus pendengarannya, namja ini mencoba mencari tahu dari mana asal suara itu datangnya. Setelah mencari dan terus mencari namja itu akhirnya menemukan sumber suara yang sangat familiar didengarnya.

Air matanya jatuh begitu saja tanpa diperintahkan. Disana terdapat dua orang yeoja yang sangat berarti baginya. Mereka memakai pakaian putih yang penuh cahaya. Yeoja yang lebih tua disana menyadari dan menatap namja yang tengah memandanginya sembari menangis tersebut. Dengan tersenyum yeoja yang lebih tua itu memanggil namja tersebut dengan lembut.

"Kyuhyunnie kemarilah.." Panggil yeoja tersebut.

Namja itu 'Kyuhyun' menghampiri yeoja tersebut dan menerjangnya. "Eomma bogoshippo..."

"Nado adeul-ah nado bogoshippo." Yeoja yang dipanggil eomma itu mengelus rambut Kyuhyun dengan sayang.

"Nan jeongmal bogoshippo Captain Cho." Sang yeoja yang lebih muda ikut berkumpul bersama mereka berdua.

Kyuhyun kembali menangis. "Noona.. eomma... jebal... jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku lagi. Bawa aku bersama kalian hiks..."

"Tentu kau akan bersama kami sayang..." Sang eomma terus memberikan kehangatannya.

Sang noona ikut menghibur Kyuhyun. "Sebentar lagi kita akan bersama Captain Cho!"

"Aku sakit eomma, aku sakit... aku terlalu sakit eomma... noona... jebal bawa aku bersama kalian." Lelehan bening itu terus mengaliri pipi Kyuhyun yang tirus.

Sang eomma tersenyum. "Kau akan ikut bersama kami sayang sesegera mungkin. Rasa sakitmu juga pasti hilang."

"Kapan eomma? Kapan? Aku sudah tidak sanggup lagi." Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

Sang noona membelai rambut Kyuhyun sayang. "Captain Cho-ku hebat bertahan sebentar lagi tidak akan membuatnya payah."

"Yang dikatakan noona-mu benar sayang. Belum saatnya kau bersama kami. Tapi sebentar lagi, setelah kau melakukan semua yang terhutang kau akan bersama kami." Sang eomma tersenyum lembut.

Kyuhyun mengerjap. "Hutang? Apa yang menjadi hutangku? Eomma... noona...?"

Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling yang ada disana. Tapi dua orang yeoja yang tadi muncul dihadapannya sudah menghilang entah kemana. Kyuhyun menangis, dirinya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

.

.

.

.

.

Tubuh namja itu tersentak beberapa kali diatas tempat tidurnya. Kimbum dan Yong Pil yang menjaganya terus mencoba mengatasi namja itu. Sementara disana nampak Tuan Cho tengah melihat pemandangan tersebut dengan air mata yang terus mengalir. Putranya kini benar-benar berada di ambang hidup dan mati.

Suara elektrokardiograf itu semakin tidak beraturan bahkan bisa terdengar sampai ke luar ruangan perawatan itu. Tuan Cho tidak berhenti memanjatkan do'a-nya kepada Tuhan. Meski di dalam hati dirinya merasakan ketakutan yang sangat ketika melihat sang putra terus berada di ambang masa kritisnya.

"Hana-ya, Ahra-ya jebal jangan mengajaknya pergi dulu. Masih ada janji yang belum bisa kutepati padanya." –Batin Tuan Cho.

Waktu terasa berhenti begitu saja saat kedua dokter itu melihat mata namja itu kini telah terbuka. Namja itu memandang kedua dokter tersebut dengan pandangan lemah. Suara elektrokardiograf itu kini sudah tenang kembali. Namja itu tersenyum kepada Kimbum dan Yong Pil bergantian, memberi tanda bahwa dirinya sudah baik-baik saja.

"Kyuhyunnie gwenchana?" Tanya Kimbum pertama kali.

Kyuhyun hanya bisa mengangguk lemah.

"Sama sekali tidak ada yang sakit?" Tanya Yong Pil kemudian.

Kembali Kyuhyun hanya bisa mengangguk lemah. Entahlah tenggorokannya terasa sangat kering.

"Kami akan kembali dulu, kau beristirahatlah. Kemudian kami akan memeriksa keadaanmu." Jelas Kimbum.

Yong Pil tersenyum pada Kyuhyun. "Jadilah pasien yang baik."

Yong Pil kembali terlebih dahulu dibandingkan Kimbum. Karena saat ini Kimbum tengah bersama Tuan Cho. Mereka mencoba menghilangkan rasa ketakutan mereka setelah apa yang mereka lewati tadi dan mencoba mengobrol-ngobrol sedikit.

"Gomawo, kalian masih mau menitipkan Kyuhyunnie padaku."-Itulah suara hati Tuan Cho saat ini.

Sementara Kyuhyun hanya bisa memejamkan matanya sekarang. Bohong bahwa tadi dia mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Sekarang tubuhnya terasa sangat sakit. Setiap helaan nafas yang coba dia ambil hanya menyakitinya saja. Kepalanya merasakan pening yang luar biasa. Tubuhnya seakan remuk. Dan hanya dengan menangis dia mencoba menahan itu semua.

"Aku tidak bisa...aku sungguh tidak bisa hyung."-Hanya suara lemah itu yang bisa dirinya keluarkan.

Tuan Cho hanya diam dan menatap Kimbum dengan begitu dalam. Orang yang ditatap hanya bisa mengalihkan pandangannya dan menyeruput kopi yang tadi dipesannya. Setiap hari bahkan Kimbum harus selalu begadang guna memastikan keadaan Kyuhyun selalu harus baik-baik saja meski sebenarnya tidak bisa demikian.

Karena pada dasarnya baik-baik saja bagi Kyuhyun adalah sama sekali tidak baik-baik saja. Dan begitulah maka dari itu Tuan Cho terus memandanginya dengan diam, Kimbum yakin bahwa namja bijaksana tersebut sudah mengetahui semua hal yang seharusnya tidak dapat diketahui.

Tuan Cho tersenyum mendapati sikap Kimbum yang terus kikuk dihadapannya. Kemudian dia memberikan senyumannya kepada dokter muda tersebut. Lalu sebuah percakapan pun mulai muncul disana.

"Jadi tebakanku pasti benar." Tuan Cho tertawa menutupi rasa sakitnya.

Kimbum bingung untuk menjawab. "Paru-paru itu masih perlu untuk beradaptasi dan sebaliknya dengan Kyuhyun juga tubuhnya harus beradaptasi dengan benda asing. Kemudian memang terjadi sedikit gangguan..."

Tuan Cho memotong kalimat Kimbum. "Sedikit gangguan... Tapi pada bukti yang ada Kimbum-ah banyak sekali gangguan yang terjadi. Tak usah berbohong untuk menghiburku Kimbum-ah. Lagipula melihatnya tadi sudah membuka matanya lagipun aku bahagia."

"Sebenarnya Kyuhyun sudah tidak bisa lagi kami tangani. Tubuhnya sudah terlalu lemah. Paru-paru yang ada di dalam tubuh Kyuhyunnie hanya akan menyakitinya. Tak pernah ada kata baik-baik saja bagi Kyuhyunnie. Kita pun hanya bisa menebak dan mengiyakan perkataan Kyuhyunnie meski sebenarnya dia sangat kesakitan." Kimbum membuang nafasnya.

Perasaan Tuan Cho sangat teriris mendengar penjelasan Kimbum. "Aku tahu. Tidak ada lagi hal yang bisa kita lakukan."

"Tuan Cho aku mohon jangan pernah berhenti untuk berharap." Kimbum memberikan permohonannya.

Tuan Cho tersenyum. "Sekalipun aku tak pernah berhenti berharap Kimbum-ah. Hanya saja tergantung oleh-Nya."

Kimbum diam dengan ucapan Tuan Cho.

"Kimbum-ah apapun yang terjadi kau sudah melakukan yang terbaik." Tuan Cho berlalu pergi meninggalkan Kimbum sendiri disana.

01 Maret 2015

Super Junior Dorm

Saat ini para member Super Junior tengah melakukan persiapan mereka masing-masing. Untuk jadwal mereka berikutnya, meski rata-rata jadwal tersebut hanyalah aktivitas individu masing-masing. Hanya 4 member yang mungkin free dikarenakan mereka tengah menjalani tugas wajib militer mereka hanya saja dengan amat sangat memohon untuk meminta libur kepada pimpinannya.

Setelah semuanya sudah bersiap, mereka menuju ruang makan dan bersiap-siap untuk menyantap hidangan sarapan mereka. Seperti biasa koki Super Junior lah yang melakukannya siapa lagi kalau bukan si mungil Ryeowook. Ketika akan mulai menyusul member lainnya sebuah pesan masuk ke ponselnya.

Ryeowook tersenyum melihat siapa yang telah mengirimi dirinya pesan. 'Kimbum' dokter muda itulah yang telah mengirimkannya pesan. Ryeowook senang karena pasti Kimbum akan memberikan kabar mengenai Kyuhyun.

"Hyungdeul Kimbum uisanim telah meng-smsku." Ryeowook bicara dengan riang.

Donghae langsung sumringah. "Jeongmalyo? Apa yang dikatakan oleh Kimbum uisa?"

Ryeowook mengedikan bahunya. "Entahlah aku belum membukanya."

"Yak! Wookie-ah untuk apa kau senang kalau kau belum membaca pesannya." Heechul berkata dengan kesal.

Ryeowook hanya tersenyum kikuk. "Aku sangat bahagia karena ada kabar dari Kyuhyun."

"Sebaiknya jangan dulu menebak, buka saja dulu pesannya." Yesung mengeluarkan suaranya.

Kangin menambahkan. "Magnae pasti sangat merindukan kita."

"Aku sudah tak sabar." Sambung Shindong.

Leeteuk menggelengkan kepalanya. "Bagaimana Ryeowook membaca pesan, jika kalian terus mengoceh."

"Baiklah ayo tenang.. sekarang ayo bacakan pesannya." Eunhyuk menginterupsi.

Namun setelah membuka pesan yang masuk itu Ryeowook sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Dia hanya diam mematung dengan matanya yang berubah menjadi merah. Member Super Junior seketika mengernyitkan kening mereka melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh Ryeowook.

Siwon mengambil alih handphone Ryeowook. " 'Annyeong Wookie-ah ini aku. Kemarin malam Kyuhyunnie tiba-tiba saja kritis. Entahlah aku tidak ingin memberikan kalian harapan palsu seperti pada Tuan Cho. Sebenarnya Tubuh Kyuhyun sudah amatlah lemah. Paru-paru itu hanya menyakiti Kyuhyun. Tubuh Kyuhyun menolaknya dan begitu pula dengan paru-paru itu...' Siwon sudah tak sanggup lagi melanjutkan isi pesan tersebut.

Air mata Sungmin mengalir dengan cepat. "Apa? Kenapa kebahagiaannya hanya seperti ini?"

"Bahkan kita belum berbuat apa-apa untuk magnae." Ryeowook langsung sesegukan.

Redup...begitulah suasana hati yang dirasakan oleh orang-orang tersebut. Setelah mengetahui isi pesan tersebut hati mereka seakan hancur. Haruskah seperti ini? Haruskah kisah mereka berakhir seperti ini? Bahkan saat ini pun mereka masih belum berhasil menebus kesalahan mereka padanya. Tapi ini... kenapa? Mereka juga tidak dapat menjelaskannya.

Meski tengah dirundung kepedihan mengenai kabar tadi tapi mereka tetap menjalankan aktivitas mereka sebagai publik figur. Senyuman, tawa, keriangan mereka sajikan guna untuk menghibur fans yang sudah selalu mendukung mereka walau sebenarnya itu semua hanya topeng yang dapat mereka pasang.

Jam demi jam berlalu, hari juga sudah berganti dari terang menjadi gelap. Tawa yang tadi sempat melingkupi mereka kini sudah hilang entah kemana. Mereka hanya menudukkan kepala mereka hingga sampai kembali ke dorm yang mereka tinggali. Bukan mau mereka untuk tidak berbincang-bincang hanya saja suasana hati mereka terlalu sakit saat ini hingga tidak mungkin bagi mereka untuk berpura-pura lagi tertawa.

Sebuah suara bel pintu tiba-tiba saja hadir diantara mereka semua. Para namja itu terperangah melihat siapa yang malam begini datang mengunjungi mereka. Seorang namja paruh baya tersenyum dengan begitu lembutnya. Dengan santun Leeteuk yang pertama kali menyuruh namja paruh baya itu untuk masuk dan duduk di dalam dorm.

Namja itu meminum teh hangat yang telah disajikan oleh para namja tersebut dengan senang. Dia menatap member Super Junior itu dengan penuh senyuman hangat. Ini adalah pertama kalinya dirinya akan berbicara serius dan panjang lebar dengan mereka semua. Meski akan menyakiti mereka juga dirinya sendiri tapi sudah saatnya ini dibicarakan.

"Kedatanganku adalah untuk membicarakan Kyuhyun." Tuan Cho berbicara dengan tegas.

Leeteuk menatap Tuan Cho. "Baik Tuan, kami akan siap untuk mendengarkan."

"Kalian tahu Kyuhyun itu seperti apa?" Tanya Tuan Cho kemudian.

Heechul menjawab enteng. "Dia seperti evil magnae."

"Hyung jangan tidak sopan." Kangin mengingatkan.

Tuan Cho sedikit tertawa. "Itu benar. Tapi salah dia itu seperti.."

"Seperti bintang yang bersinar." Sungmin menyambung perkataan Tuan Cho.

Tuan Cho menganggukan kepalanya. "Seperti bintang yang bersinar terang tapi bintang itu sangat jauh dan kita tidak akan mungkin bisa untuk menggapai tempat dimana bintang itu berada."

"Maksud Tuan Cho apa?" Leeteuk tidak mengerti.

"Jika Kyuhyun diibaratkan demikian, kita adalah astronot." Tuan Cho menjawab.

Donghae belum mengerti. "Astronot?"

"Seorang astronot yang berusaha untuk menggapai bintang itu berada. Seorang astronot yang berpetualang untuk mencapai bintang yang sangat jauh itu." Yesung memberikan penjelasan atas kalimat Tuan Cho.

Ryeowook mengeluarkan suara. "Lalu bagaimana yang dilakukan oleh astronot jika bintang itu terlalu jauh?"

Tuan Cho tersenyum dan menatap sang eternal magnae. "Aku belum pernah bertanya pada astronot."

"Ahjussi kenapa kalimat ahjussi terlalu rumit." Eunhyuk paling tidak bisa mengerti.

Shindong mencibir. "Kau memang tidak akan pernah mengerti monkey."

"Tuan anda jangan-jangan...?" Leeteuk menggantungkan kalimatnya.

Tuan Cho mengangguk. "Hanya ada dua pilihan bagi astronot 'Terus mencapai bintang itu atau Hanya berpijak ditempatnya sekarang.'"

Siwon merasakan kesedihannya yang tiba-tiba. "Ini bukan suatu pertanda kan?"

"Aku pergi dulu. Kalianlah yang menentukan pilihan." Tuan Cho pergi meninggalkan mereka semua.

Hide Story

Dua orang namja tengah duduk berhadapan satu sama lain. Setelah 10 menit berlalu pun hanya keheningan yang menyelubungi mereka berdua. Tak ada seorang pun yang mau membuka percakapan atau memulainya. Hanya sesekali memandang dan menatap langit di cafe ruangan yang menyusung tema alam tersebut.

Namja berkiller smile itu bersenandung menikmati semilir angin yang menyapa mereka berdua disana. Sementara namja paruh baya yang bersamanya juga hanya memejamkan matanya ikut merasakan angin sejuk yang terus bersemilir menghinggapi.

Setelah beberapa menit telah berlalu akhirnya pandangan mereka bertemu juga. Tidak ada lagi yang bersenandung dan tidak ada lagi yang memejamkan matanya. Kini mereka tengah menatap seksama satu sama lain.

"Apa pilihanmu?" Tanya namja paruh baya membuka pembicaraan.

Namja ice itu tersenyum. "Nan? Jika dipilihkan sebagai astronot..."

"Tentu itulah yang ingin aku dengar." Sambung sang namja paruh baya.

Namja ice itu menarik nafasnya. "Aku akan meggapai bintang itu meski sangat jauh."

Sang namja paruh baya tertegun dibuatnya. "Tapi kau tidak tau resiko apa yang terjadi jika kau terus berusaha menggapai bintang yang jauh itu."

"Aku tidak peduli. Setidaknya sebagai seorang astronot itu adalah sebuah cita-citanya yang besar." Namja ice itu mengedikan bahunya.

Namja paruh baya tidak mengerti. "Maksudmu? Sebenarnya..."

Namja ice itu memberikan killer smilenya. "Hidupku sudah baik hanya saja aku belum memberikan kebaikanku. Jadi sekarang itulah cita-citaku..."

"Kau bertindak sampai seperti ini? Sepenting apakah dirinya bagimu?" Namja paruh baya itu kembali bertanya.

.

.

.

.

.

-Kibum tersenyum dengan tulus. "Dongsaengku.."

Seoul International Hospital

Tuan Cho membuka pintu ruangan rawat Kyuhyun dengan hati-hati berusaha untuk tidak menganggunya. Tapi yang dirinya temukan adalah sang putra tengah bersandar diranjangnya sembari membaca buku. Tuan Cho tersenyum kemudian menarik kursi dan duduk di samping tempat tidurnya.

Kyuhyun hanya memandang sang ayah sesaat dan kemudian melanjutkan membaca bukunya kembali. Melirik sekilas, lagi-lagi Kyuhyun tidak menghabiskan makanannya. Bukan Kyuhyun tidak mau makan, tetapi setiap makanan yang masuk selalu tersangkut dalam rongga pernafasannya dan Tuan Cho selalu takut saat melihat itu semua terjadi. Jadi tidak perlu memaksakan, karena tubuh Kyuhyun memang sudah tidak seperti dahulu lagi.

Keringat mulai mengucur dari pelipis Kyuhyun. Dia tidak bisa bilang bahwa saat ini tubuhnya sangatlah remuk dihadapan sang ayah. Tuan Cho mengelap keringat itu dengan lembut dan menarik buku bacaan Kyuhyun. Membaringkan tubuh Kyuhyun dan menyelimuti tubuh lemah itu.

"Tidurlah, kau lelah." Titah Tuan Cho pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk lemah. "Appa tadi darimana?"

"Hanya melakukan hal yang harus appa lakukan." Jawab Tuan Cho menaikan selimut Kyuhyun kemudian.

Kyuhyun sangat sakit. "Appa mianhae.."

Tuan Cho mengernyit. "Untuk?"

"Untuk merepotkan appa." Air mata Kyuhyun menetes begitu saja.

Tuan Cho mencium kening Kyuhyun dengan lembut. "Tak ada satupun orang tua yang merasa direpotkan oleh anaknya sendiri."

"Adakah hal yang bisa aku lakukan untukmu appa sebelum semua berakhir?" Kyuhyun bertanya dengan lemah.

Tuan Cho mencoba menahan air matanya. "Tersenyumlah... jadilah Kyuhyun yang seperti biasanya Cho Kyuhyun."

Kyuhyun mengangguk. "Arrayo appa."

Kyuhyun membalikan badanya dan mencoba terlelap. Pandangannya melihat foto dirnya bersama hyungdeul-nya. Mata Kyuhyun langsung terfokus pada seorang yang memiliki killer smile di dalam foto tersebut.

"Bahkan setelah semua yang terjadi kau tidak datang juga." Kyuhyun kemudian terlelap.

Setelah melihat Kyuhyun benar-benar telelap dirinya kini menangis. Tangisan seorang ayah yang tidak mau kehilangan putranya. Sudah terlalu lama dirinya memendam semua ini. Sudah terlalu lama dirinya menyembunyikan rasa sakitnya. Yang biasanya dia menang pun kini dirinya kalah untuk melawan rasa sakit akan kehilangan tersebut. Tuan Cho menangis dihadapan sang putra yang tengah terlelap dalam tidurnya.

.

.

.

.

.

Hari ini adalah hari pertama untuk Super Show 4 Super Junior. Semua member Super Junior dan staff sibuk untuk mempersiapkan konser. Terlebih sebelum waktu dimulai pun penonton atau para ELF sudah memadati area panggung. Antusiasme yang sangat luar biasa dari para ELF untuk idolanya.

Di waiting room terlihat seluruh member Super Junior tengah mengadakan latihan untuk nyanyian juga untuk berkoordinasi mengenai hal apa saja yang harus dilakukan. Super show sendiri adalah konser special yang dikhususkan oleh Super Junior untuk penggemar mereka yang biasa disebut sebagai ELF.

"Kyuhyunnie saat KRY tampil kau harus ditengah." Tegas Yesung.

Kyuhyun mengeluh. "Kenapa harus ditengah sih hyung."

Ryeowook menjawab enteng. "Itu karena kau adalah magnae."

"Kan yang magnae disini Henry." Kyuhyun mengerucutkan bibirnya.

Henry tiba-tiba saja muncul diantara mereka. "Setidaknya aku lebih dewasa darimu hyung."

"Bagaimana bisa kau menjadi hyung kalau tingkahmu masih seperti anak-anak." Donghae mengejek Kyuhyun.

Kyuhyun bersmirk ria. "Setidaknya dengan Hae-hae aku lebih terlihat seperti hyung."

Leeteuk menggelengkan kepalanya. "Panggil Donghae dengan sebutan hyung."

"Hae lebih bagus memangilnya Hae, benarkan Hyuk?" Kyuhyun bertanya pada Eunhyuk.

Eunhyuk menggeram. "Panggil aku hyung magnae setan.."

Kyuhyun berlari memeluk Siwon. "Wonnie hyung tolong aku..."

"Ayolah Hyukkie hyung Kyu ini masih kecil." Siwon memasang pose melindungi Kyuhyun.

Shindong mencibir. "Kau terlalu memanjakannya Siwon-ah."

"Bukan hanya Siwon aku juga memanjakannya." Zhoumi merangkul Kyuhyun.

Leeteuk menghela nafasnya. "Meski begitu, kau harus sopan pada semua hyungmu Kyuhyunnie."

"Minnie hyung Leeteuk hyung memarahiku." Adu Kyuhyun.

Sungmin memutar bola matanya malas. "Yang dikatakan Teukie hyung benar."

"Baik maafkan aku hyungdeul." Kyuhyun berucap dengan malas.

Eunhyuk mencibir. "Hanya Sungmin hyung yang bisa menjinakanmu dasar evil."

Setelah persiapan mereka sudah siap, akhirnya seluruh member Super Junior menunjukkan kehadiran mereka di depan semua ELF. Lagu pembukaan awal mereka adalah lagu 'Opera' kemudian diikuti dengan lagu 'Superman'. Semuanya begitu antusias menyaksikan member Super Junior yang dengan lincah menari-nari diatas panggung dan memberikan penampilan yang apik.

.

.

.

.

.

02 Maret 2015

Seoul International Hospital

Tes...tes...tes... air bening itu jatuh begitu saja dari mata bening namja lemah yang kini mengelus bingkai foto 13 orang. Kilatan-kilatan memori mengenai kenangan mereka bersama terlintas begitu saja dibenak namja ini. Sungguh dirinya sangat merindukan semua kenangan tersebut.

Tanpa disadari dirinya seseorang tengah memandangnya dengan pandangan yang sangat sakit. Orang tersebut duduk dan membawa namja yang tengah menangis itu ke dalam pelukannya. Mengelus punggung namja tersebut berusaha menenangkannya. Sang namja terus terisak di dalam pelukannya.

Changmin 'orang' tersebut sungguh tidak sanggup melihat orang yang disayanginya dalam keadaan terpuruk seperti ini. Seandainya dirinya saja yang menderita penyakit tersebut tapi ini adalah takdir Tuhan, tidak akan mungkin dengan seenaknya dia bisa meminta ataupun mengubah takdir yang terjadi.

"Chwang..." Kyuhyun berucap dengan lemah.

Changmin menghapus air mata Kyuhyun. "Nde ini aku Kyu.."

"Sejak kapan kau disini?" Tanya Kyuhyun dengan pelan.

Changmin tersenyum. "Saat kau menangis."

Kyuhyun kembali merasakan kesedihannya. "Bisakah aku kembali bersama mereka lagi?"

"Tentu bisa Kyu... tentu bisa kau pasti akan kembali bersama mereka." Changmin menjawab dengan yakin.

Kyuhyun memandang Changmin dalam. "Mianhae Chwang.."

"Untuk apa Kyu?" Tanya Changmin tidak mengerti.

Kyuhyun memejamkan matanya. "Aku selalu menyakiti perasaanmu."

Changmin buru-buru menggeleng. "Tidak Kyu, kita tetap sahabat sekarang dan selamanya. Tidak akan lebih dan aku menyukai keadaan yang seperti ini."

"Gomapta Changmin-ah." Kyuhyun kembali menangis.

Ketika tengah mengobrol panjang lebar dengan Changmin, Kimbum menginterupsi mereka berdua.

Kimbum memberi salam pada Changmin. "Maaf mengganggu, Kyuhyunnie diluar ada hyungdeul-mu."

"Hyungdeul?" Tanya Kyuhyun retoris.

Changmin ikut bertanya. "Siapa saja yang datang?"

Kimbum menjawabnya. "Hanya minus para member China."

"Aku belum sanggup melihat mereka.." Kyuhyun berkata lirih.

Kimbum berkata. "Mereka telah menunggumu daritadi."

"Bukannya tadi kau bilang ingin kembali bersama mereka?" Sambung Changmin.

Kyuhyun kembali berkata lirih. "Tapi keadaanku..."

Changmin mengelus rambut Kyuhyun. "Tak peduli apapun mereka tetap menyayangimu Kyu... pasti akan menerimamu."

Setelah percakapan yang cukup panjang akhirnya Kyuhyun mengangguk dan mengiyakan untuk bertemu dengan semua hyungdeul-nya. Para member Super Junior langsung menangis saat mendapati kabar bahwa dongsaeng bungsu mereka akhirnya mau menemui mereka kembali.

Air mata yang jatuh dari mata mereka adalah air mata bahagia. Kimbum tersenyum melihat respon luar biasa yang diberikan oleh hyungdeul Kyuhyun. Satu hal yang bisa dirinya simpulkan bahwa mereka semua begitu menyayangi Kyuhyun. Hal yang membuat dirinya kagum adalah meski tanpa hubungan darah tapi ikatan mereka semua begitu kuat.

Mata Kyuhyun langsung mengalirkan air matanya saat menatap semua hyungdeul yang kini sudah ada dihadapannya meski minus member China. Tak terkecuali member Super Junior pun kembali datang, mereka bahagia bisa melihat lagi sang dongsaeng melihatnya secara nyata dan bukan bayangan Kibum. Kyuhyun menangis dengan kencang di tempat tidurnya. Leeteuk langsung menghampiri sang magnae dan mengelus rambutnya dengan lembut.

"Gwenchana saeng gwenchana.." Hibur Leeteuk pada Kyuhyun.

Kyuhyun terus menangis disana. "Mianhae... hiks... jeongmal mianhae...."

Donghae duduk disamping Kyuhyun. "Tak ada yang perlu minta maaf Kyu.."

"Kamilah yang seharusnya minta maaf padamu." Ucap Heechul pura-pura acuh.

Siwon menggeleng. "Chullie hyung untuk tulus saja masih malu-malu begitu."

Shindong ikut menyambung. "Kau tahu Kyu Chullie hyung banyak menangis."

"Yak kau gempal!" Amuk Heechul tidak terima.

Sungmin meletakan buah-buahan di nakas Kyuhyun. "Kau harus makan dengan baik."

"Hyun-ah cepatlah sembuh." Kangin memberikan semangatnya.

Kyuhyun memandang hyungdeul-nya. "Bisakah aku kembali bersama kalian?"

Yesung menggenggam tangan Kyuhyun dengan lembut. "Tentu bisa saeng kau akan selalu bersama kami."

"Kyu kami juga membawakan game baru untukmu." Ryeowook teringat dengan PSP yang baru saja mereka beli.

Sungmin melirik member lain. "Tadi siapa yang membawanya?"

"Aku.. tapi aku lupa membawanya dan membiarkannya di dalam van." Leeteuk hanya nyengir.

Kangin mendumel. "Aish hyung bawa sana. Kau sudah mulai pelupa."

Leeteuk hanya bisa mengangguk dan menuruti perintah para dongsaeng-nya. Sebenarnya dia tidak mau untuk mengambilnya tapi mau bagaimana lagi ini memang kesalahan yang dia lakukan sendiri. Setelah membuka mobil ternyata benar di dashboard mobil ada PSP baru yang tadi sengaja mereka beli.

Kerika menutup pintu mobil Leeteuk berpapasan dengan Tuan Cho yang baru saja tiba di rumah sakit. Tuan Cho tersenyum dan dibalas senyuman juga oleh Leeteuk. Jadi ini jawaban yang dipilih oleh mereka semua. Itulah yang tengah dipikirkan Tuan Cho.

"Ini jawabanku ani jawaban kami. Kami akan berusaha menggapai bintang jauh itu." Leeteuk langsung menjawab.

Tuan Cho tersenyum. "Kalian memang benar-benar hyung-nya."

"Tapi ada satu hal lain yang tidak anda sebutkan kemarin Tuan." Leeteuk tersenyum.

Tuan Cho mengernyit. "Mworago..?"

Leeteuk menjawabnya. "Lakukan atau menyesal seumur hidup."

Ingatan Tuan Cho langsung melintas pada waktu itu.

.

.

.

.

.

-Kibum berdiri dari tempat duduknya. "Lakukan atau menyesal seumur hidup."

.

.

.

.

.

Mata Leeteuk dan Tuan Cho langsung menajam saat melihat suasana di salah satu ruangan rawat yang akan mereka hampiri. Di luar ruangan tersebut para namja yang tadi ceria kini mulai menangis sesegukan seakan-akan mereka kehilangan sesuatu.

Di dalam sana seorang namja tengah berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Udara yang dirinya hirup benar-benar hanya menyakitinya saja. Air mata itu terus mengaliri pipinya yang amat tirus. Seseorang dengan pakaian putih muncul di depannya dan mengulurkan tangannya. Namun namja itu menggeleng.

"Untuk permintaan terakhirku Tuhan...".

.

.

.

.

To Be Continue...

Maaf gabisa balas review author lagi buru-buru. Jeongmal gomawo