Title : Thank's God

Cast : Kibum, Kyuhyun, Other member SJ, etc.

Lenght : Chaptered

Gendre : Brothership, Sad, Friendship, Hurt/Comfort, etc.

Summary : Semua yang telah dirinya alami ini merupakan suatu anugerah yang luar biasa dari Tuhan. / "Aku ingin kita bisa bersama lagi walau hanya beberapa saat." / "Apa yang membuat hyung berubah pikiran?" / "Mwo? Rumah sakit?" / Mata mereka berdua bertemu, saling memandang tanpa mengeluarkan sapa. / "Jeongmal gomapta…." / "Kita seharusnya sudah meninggal.." / "Aku akan menangis seumur hidup jika itu terjadi hyung." / "Entah dosa atau tidak, namun mungkin inilah yang sebenarnya Tuhan tuliskan." / "Biarkan hanya antara kita yang tahu dan mengalirkan kembali takdir kedepan." / Semua bertepuk tangan meriah menyaksikan grup yang lengkap itu. / "Aku harus pergi, jaga dirimu dengan baik nae dongsaeng." / Air mata mereka berdua menetes bersamaan di tempat yang berbeda. /

WARNING : TYPO akan selalu ada. Cerita sedikit agak ngawur. Nyebelin dan kadang bikin gak niat wkkwkwk. Alur kecepatan.

Kembali FF ini author lanjut untuk epilog cerita. Karena kebetulan juga banyak readers yang request untuk membuat epilog dari FF ini. Barulah setelah epilog ini, Thank's God benar-benar mencapai akhirya. Dan maaf juga karena update nya lama karena kebetulan sekaraag laptop author baru bisa balik lagi.

DON'T BASH !

DON'T BE SILENT READER

DON'T LIKE DON'T READ

KEEP REVIEW

LET'S ENJOYED

Preview

'BRUK'

Tubuh lemah itu jatuh begitu saja dari atas kursi roda yang sedari tadi dirinya duduki. Kimbum dan Yong Pil yang bersiap siaga langsung naik ke atas panggung dan memberikan pertolongan pertama yang dapat mereka lakukan pada Kyuhyun. Tuan Cho dan seluruh member Super Junior mencoba menanyakan kepastian.

"Kyuhyunnie... telah pergi.." Ucap Kimbum dengan lemah.

Semua orang disana, baik artis, penonton, dan staf menangis menyaksikan semuanya. Namja yang baru saja mengalunkan suara indahnya kini menghembuskan nafas terakhirnya. Tuan Cho menangis dengan diam. Sakit sekali... ini adalah kehilangan yang harus dia rasakan untuk kesekian kalinya.

Semuanya menangis ikut merasakan kepedihan yang mereka alami. Tak ada satupun orang yang percaya bahwa namja itu sudah pergi untuk selama-lamanya. Pergi meninggalkan dunia ini dengan senyuman terakhirnya.

01 April 2015

Seorang namja tengah duduk menunggui seorang namja lainnya yang sedang terbaring lemah. Kecelakaan beberapa hari yang lalu membuat namja lain itu mengalami luka parah di kepala dan harus terbaring koma di rumah sakit.

Perlahan-lahan jari jemari namja yang terbaring lemah itu bergerak. Membuat namja yang lebih muda darinya mengernyit. Benar saja kelopak mata namja yang selalu tertutup itu kini terbuka dengan sendirinya. Namja yang baru sadar itu menatap sekeliling disekitarnya. Ruangan putih. Tunggu dulu selama ini dirinya hanya berdiam di taman kenapa dia memasuki ruangan yang serba putih.

"Hyung... kau sadar..." Namja lainnya bersuara.

Suara itu adalah suara... Tidak apakah di tempatnya yang sekarang pun dirinya akan bertemu dengan orang yang telah membuat hidupnya rumit? Sakit... tubuhnya agak sakit karena peralatan medis yang menempel. Biasanya dia tidak merasakan sakit. Jika sakit ini benar-benar kenyataan.

"Kimbum uisa! Dia sadar!" Teriak kembali namja itu.

Namja yang baru tersadar itu bangkit duduk, tidak peduli dengan sakitnya. Yang dia pedulikan hanyalah namja yang sedari tadi berbicara heboh. Dielusnya pipi namja tersebut. Kalender itu menunjukan 01 April 2015. Seharusnya sebelum habis bulan April dia tidak ada di dunia ini.

"Kyuhyunnie..." Namja itu berkata pelan.

Namja yang dipanggil Kyuhyun menatapnya. "Kibum hyung mianhae.."

"Ini... ini benar-benar kau?" Tanya Kibum kembali.

Kyuhyun mengangguk. "Mianhae.. aku tidak akan memaksamu untuk kembali bersama Super Junior lagi. Kau punya pilihan sendiri."

Kibum langsung memeluk Kyuhyun. "Tidak peduli aku kembali atau tidak Kyu. Yang penting kau bersamaku."

"Hyung kenapa?" Kyuhyun heran mendapat pelukan tiba-tiba itu.

Kibum mengedikan bahunya dan kembali memeluk Kyuhyun. "Maaf aku berbohong Kyu. Aku benar-benar menyayangi kalian semua."

.

.

.

Inikah yang dinamakan suatu keajaiban yang diberikan oleh Tuhan? Hanya aku sendiri yang tahu. Aku lama berdiam di taman yang begitu indah dan menyaksikan penderitaan yang dongsaengku alami. Hingga air mataku disana tiba-tiba terjatuh menyaksikan dongsaengku di saat terakhirnya. Dan beginilah aku sadar dari koma yang katanya karena aku kecelakaan. Kisahku dan kisah dongsaengku tidak sama dengan kisah kakak beradik dalam buku yang selalu kami baca. Tuhan itu ada dan selalu mendengar do'a dari umatnya. Dia tidak pernah tidur. Tak ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh-Nya. Biarlah hanya aku saja yang tahu dan menyimpan cerita ini. Keajaiban yang telah diberikan oleh Tuhan akan kubuat menjadi kisah dengan akhir yang baik.

"Terima kasih Tuhan..."

.

.

.

.

.

EPILOG

07 April 2015

Matahari bersinar begitu cerah, hamparan angin terasa begitu halus melewati setiap kulit manusia yang kini tengah berlalu-lalang untuk melakukan aktivitasnya. Waktu tengah menunjukan pukul 10 pagi, dimana sebenarnya semua orang sudah melakukan banyak aktivitas di negara maju seperti Korea Selatan.

Seorang namja dengan topi dan kacamata hitamnya tengah berjalan menuju suatu tempat. Udara yang dihirupnya terasa begitu segar, seakan sudah lama rasanya dirinya tidak bisa merasakan itu semua. Namja itu menengadahkan pandangannya ke langit. Melihat langit yang begitu cerah dengan warna birunya diiringi pergerakan awan putih yang bergerak secara beriringan dan perlahan-lahan menghilang untuk tidak menutupi cerahnya langit.

Namja itu menggosokan sedikit tangannya untuk memberikan kehangatan. Meski mentari telah terbit, namun cuaca masih terasa sangat dingin. Karena negara ini masih belum melewati musim dingin sepenuhnya. Hangat. Begitu dia menempelkan telapak tangannya pada kedua pipinya. Bukan lagi tangannya yang dingin pada waktu itu. Meski belum sepenuhnya dirinya bisa mengerti kenapa semuanya bisa terjadi.

Koma? Kecelakaan? Terlebih tanggal kalender yang menunjukkan awal bulan pada waktu itu? Sepenuhnya dirinya sama sekali belum bisa mengerti. Apakah ini baik ataukah ini buruk. Ingatannya hanyalah kenangan pedihnya kala dimana pekikan kematian menghampirinya dengan darah yang mengalir di sekujur tubuhnya. Serta tangisan sang dongsaeng di saat-saat terakhirnya membuatnya menjerit tertahan agar tubuh itu tidak jatuh ke tanah.

Hingga pada akhirnya namja ini terbangun mungkin di suatu tempat yang disebut sebagai dunia dengan cerita yang baru? Semua yang telah dirinya alami ini merupakan suatu anugerah yang luar biasa dari Tuhan. Dapat berdetak kembali jantungnya, merasakan perasaan akan kehilangan, merasakan setiap oksigen yang bisa dinikmatinya. Pada akhirnya sekarang semua sudah berjalan cukup baik. Namja itu mensyukuri dan berusaha untuk tidak lagi mengubah takdir yang seharusnya terjadi.

Namja itu tesenyum setelah dirasa telah tiba di tempat yang sedari tadi menjadi tujuannya. Sudah dirinya duga pasti akan banyak orang disana. Hatinya seketika menghangat kala dahulu dirinya juga pernah merasakan hal yang sama. Namun kini semua berjalan berbeda. Hanya dirinya yang memilih jalan sendiri dan memutuskan untuk tidak pernah kembali. Sekitar 6 orang namja berhenti dihadapannya dan menatapnya dengan perasaan sedikit terkejut. Namja itu tersenyum dan sedikit membungkukan badannya memberi salam.

Merasa tidak enak, namja itu mengajak enam orang lainnya untuk duduk berkumpul di salah satu café yang ada di bandara tersebut. Mereka meminum minuman yang telah mereka pesan masing-masing tadi. Namja itu memperhatikan ke enam orang itu dengan seksama. Tak ada yang berbeda sama sekali dengan mereka yang ada dalam ingatannya. Meski hanya dirinya yang bisa mengingat itu semua.

Namja yang paling tua disana mulai berbicara. "Apa tidak apa-apa? Kau baru saja keluar dari rumah sakit Kibummie?" Perasaan khawatir yang diberikan namja tertua itu membuat perasaanya menghangat,

"Aku telah lumayan pulih. Kebetulan aku juga ingin berjalan-jalan hyung." Kibummie atau Kim Kibum itu membalasnya dengan penuh senyuman. Bukanlah Leeteuk dalam ingatannya dahulu yang pernah memarahinya, tapi Leeteuk dengan penuh kehangatan yang terus berbicara.

"Syukurlah. Sungguh aku kira kecelakaan itu tidak akan membuat kau sampai koma." Salah satu hyung yang dalam ingatannya dulu pernah menampar kemudian memeluknya tetap terlihat cantik dan tampan sekaligus. Alangkah sedih dirinya jika sampai hyung cantiknya itu mengingat seperti apa yang dirinya ingat.

Kini seorang dongsaeng yang dalam kenangannya selalu ingin dirinya pertahankan menatapnya dengan pandangan sendu. "Josoenghamnida hyung. Seandainya waktu itu aku tidak bersifat kekanakan mungkin semua tak akan terjadi."

Sakit sekali memandangnya. Pandangan sendu itu sangat sama dengan apa yang ada dalam ingatannya. Perlahan Kibum memandangnya dengan pandangan yang begitu lembut. "Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri Kyuhyunnie. Anugerah yang paling luar biasa adalah kehidupanku yang sekarang dan melihatmu ada dihadapanku."

"Kibummie kau begitu dewasa sekali." Hyung mungilnya bersuara dengan nada ceria. Kibum tahu hyung mungil inilah yang juga paling menyayangi sang magnae walau sebenarnya mereka semua memang menyayanginya.

Seorang hyung-nya lain yang mempunyai tampang kuat ikut berbicara. "Ini adalah perkembangan yang telah dilewati Kibummie selama lebih dari 7 tahun."

"Lalu kapan magnae kita bisa sedewasa Kibum yah?" Hyung-nya yang paling bijaksana memberikan sedikit bercandaannya dan membuat magnae merasa murung.

Kyuhyun mempoutkan bibirnya sebal. Dirinya kesal karena diledek terus. "Teukie hyung lihat betapa jahatnya Yesung hyung."

"Kalau masih anak kecil ya masih anak kecil." Heechul malah ikut mengejek sang dongsaeng. Kibum mengelus punggung Kyuhyun dan tersenyum padanya. "Kau lebih dari dewasa sejauh yang hyung tahu. Hanya hyung meminta satu hal. Tolong tetaplah jadi Cho Kyuhyun saat ini."

Entah mengapa air mata milik Kibum seakan akan menetes kala mengatakannya. Kenangan atau ingatan itu kembali terlintas dalam pikirannya. Leeteuk menatap dongsaeng di luar Super Junior nya itu dengan senyuman hangat. "Semua tidak akan berubah Kibummie. Kalaupun berubah akan menjadi sesuatu hal yang baik."

"Kalau begitu aku pamit dulu, hari ini adalah jadwalku melakukan medical check up. Besok atau lusa aku akan mengunjungi dorm kalian." Kibum memberikan salam pamitnya pada para hyung dan dongsaeng-nya.

Yesung mempersilahkan Kibum untuk meninggalkan mereka semua. "Tentu saja pintu dorm Super Junior akan selalu terbuka untukmu."

Bersamaan dengan itu kembali Kibum membungkukan badanya dan berjalan meninggalkan mereka semua. Salah satu dari mereka, lebih tepatnya Kyuhyun memandang punggung Kibum dengan perasaan yang entahlah bercampur aduk. Serasa ada sesuatu hal yang mengganjal yang ingin sekali dirinya tanyakan. Namun apa yang ingin ditanyakan olehnya itu entah apa dirinya sendiri belum tahu. Seakan ada perasaan lain antara kasih dan benci yang pernah dulu dirinya dan Kibum rasakan.

.

.

.

.

.

Seoul International Hospital

Sebuah salah satu rumah sakit besar yang ada di Korea Selatan. Dengan gedung dan peralatan medis yang bisa dikatakan bertaraf internasional. Disekelilingnya sengaja diletakan taman-taman mini untuk memberikan kesan hijau dan hidup sehingga membuat para pasien disana sedikitnya masih bisa memupuk harapan hidupnya walau hanya sedikit.

Rute-rute rumah sakit sungguh dirinya hafal. Seolah-olah telah amat sering dia berada dan bolak-balik mengunjungi rumah sakit itu. Dan dalam ingatan dulu lah dia juga meregang nyawa dalam rumah sakit ini. Menyisakan teriakan pedih serta tangisan para orang-orang yang disayanginya. Meninggalkan luka yang mendalam dan membuat hidup seseorang menjadi lebih menyedihkan.

Ruangan ini akhirnya tiba juga dia disana. Dia hafal benar, ruangan siapa ini dulu. Meski yang dia hafal hanyalah ruangan yang ada dalam ingatannya. Hari ini juga adalah jadwal pertamanya untuk melakukan medical check up-nya. Dibukanya pintu ruangan itu secara perlahan dan mulailah dirinya masuk.

Desain yang sama, interior yang sama, bahkan letak kursi yang sama. Nametage yang terdapat diatas meja itu mengalihkan pandangan Kibum. Dia fokus dan hafal benar mengenai siapakah pemiliknya. Matanya membelalak ketika melihat sang uisa yang mulai keluar dan duduk dihadapannya.

Mata mereka berdua bertemu. Menatap dalam satu sama lain. Kedua pasang mata itu saling membalas pandangan seolah bertanya-tanya mengenai apa yang seharusnya mereka percayai. Tak ada yang bersuara dan tak ada juga yang mau memberikan pergerakan sedikit untuk membiarkan mulut mereka mengeluarkan baik sepatah maupun dua patah kata. Hingga sang uisa lah yang bertanggung jawab pada pasiennya untuk memulai pembicaraan.

"Kim Kibum-ssi. Apakah ada masalah setelah kau keluar dari rumah sakit?" Uisa itu sama sekali tidak mau menatap wajah milik Kibum membuat sang pemiliknya akhirnya dapat sedikit demi sedikit menyimpulkan apa yang orang ini ketahui. "Ada banyak hal yang terus menggangguku setelah keluar dari rumah sakit."

Uisa tersebut akhirnya mendongakan kepalanya untuk menatap Kibum. Takut-takut jika pasiennya ini memang benar mengalami suatu hal yang serius. "Katakan apa tubuhmu semakin sakit?"

"Eobseoyo. Hanya saja pikiran dan ingatanku seolah mempermainkanku Kimbum uisanim." Nada bicara yang dikeluarkan Kibum begitu terasa akrab. Seakan telah lama mereka saling mengenal. Meski mungkin hanya dalam ingatan milik Kibum sendirilah dia merasa begitu. Kimbum uisa memandangnya ragu-ragu. "Apakah ingatan mu dengan apa yang sekarang terjadi tidak sejalan?"

Kibum tersentak mendengar penuturan Kimbum. Rupanya uisa-nya tersebut bisa langsung tahu mengenai apa yang dirinya rasakan. "Apa kau tahu dan terhubung denganku?"

Sang uisa tersenyum penuh arti kemudian menatap Kibum dengan pandangan yang lebih rileks. Kekakuan dan kecanggungan tadi yang sengaja dibuatnya dia hilangkan begitu saja. "Kau tahu aku yang selalu bekerja dengan logika terjebak di dalam hal yang berada diluarnya?" Pertanyaan retoris yang dia berikan. Kibum kemudian memandangnya penuh harap, mungkinkah bukan hanya dia yang mengingat hal yang seharusnya terjadi. "Apakah kau tahu mengenai…"

"Bagaimana aku harus mengatasinya? Melihat orang-orang yang seharusnya telah meninggal kini ada dan bahkan duduk dihadapanku?" Kalimatnya terpotong dengan kalimat dari Kimbum yang begitu mengejutkan bagi Kibum. Benar bukan hanya dia yang tahu dan bisa mengingatnya. Ada satu orang yang juga sama atau masih adakah seorang yang lain lagi? "Lalu apa yang sebenarnya harus kita percayai Kimbum uisa? Apakah dunia ini nyata ataukah ini hanya dunia di alam bawah sadarku?"

Pandangan Kibum begitu terlihat menyedihkan. Kimbum mengerti perasaan namja yang ada dihadapannya ini, karena dia juga ikut merasakan semuanya. "Pada dasarnya inilah mungkin yang disebut dengan merubah takdir. Semuanya berubah Kibum-ah. Hidupku 100% berubah dari yang seharusnya. Dongsaeng-ku meninggal karena kecelakaan dan tak pernah bertemu Kyuhyun. Aku tidak pernah tercatat pernah membenci Sikyung hyung. Lalu pertemuanku dengan Kyuhyun adalah ketika kau dirawat karena koma, dan pasien ku bukanlah Kyuhyun. Yong Pil lah yang berhasil mengoperasinya. Jika kau bertanya apa yang seharusnya kau percaya, aku pun tidak bisa menjawab. Jika ini dunia khayal mengapa kita bisa merasakan sakit, menangis, juga perih kala terjatuh? Tapi aku memutuskan untuk mempertahankan kehidupan ini dan membuat segalanya bertahan dengan baik."

Kibum terenyuh mendengar penjelasan dari Kimbum. Setidaknya dia tidak sendiri di dunia dan ada seorang yang sedikitnya bisa memberikannya bantuan. "Aku akan memulai dengan melihat masa laluku disini. Gomapta. Oh iya untuk kesehatanku aku baik-baik saja."

"Minumlah obatmu dengan teratur untuk proses pemulihanmu yang cepat." Setelah itu Kibum meninggalkan ruangan sang uisa dengan langkah tegapnya.

Kibum meninggalkan rumah sakit itu dengan perlahan. Memilih untuk duduk di salah satu café yang ada disamping rumah sakit. Mengeluarkan benda kotak miliknya dan mulai membuka kunci dari benda itu. Kibum tersenyum melihat tanggal yang tertera di dalam handphone-nya. Namun memang begitulah saat ini tanggal itulah yang memang seharusnya dia percayai.

Membuka internet yang ada dalam aplikasi mozilla dalam smartphone miliknya. Mulai menelusuri hal-hal kecil, yang mungkin sedikit banyaknya dapat membantu dirinya untuk mengetahui dan lebih mempercayai apa yang ditinggalinya sekarang.

'Alasan Kim Kibum keluar dari Super Junior adalah karena ingin meneruskan kariernya dalam dunia acting. Kim Kibum sangat mencintai dunia itu, dan seluruh member Super Junior pun menyetujui mengenai keputusan Kibum. Lalu bagaimana saat ini adalah batas waktu untuk Kibum menentukan kembali atau tidak. Namun sepertinya Kibum memilih untuk tidak kembali. Ryeowook yang juga anggota Super Junior memberikan pesan semangatnya pada Kibum di akun twitter miliknya.'

'Tahun 2007 adalah tahun terberat bagi seorang Cho Kyuhyun magnae Super Junior. Pada 19 April 2007 pukul 12:20 empat anggota Super Junior (Shindong, Eunhyuk, Leeteuk dan Kyuhyun) beserta dua manajer mereka terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil yang cukup parah. Si sopir kehilangan kendaraannya sehingga van mereka terbalik dan menabrak trotoar. Kecelakaan serius tersebut terjadi ketika Kyuhyun, Leeteuk, Eunhyuk, dan Shindong baru kembali dari siara Kiss The Radio. Kyuhyun yang saat itu duduk di belakang kursi pengemudi, mengalami luka yang parah. Ia mengalami patah tulang pinggul, patah tulang rusuk yang mengakibatkan pneumothorax…' Kibum sedikit menahan air matanya kala membaca tragedi kecelakaan itu. Walau tanggalnya berbeda dengan apa yang diingatnya.'..luka-luka di wajah, serta memar-memar. Berbeda dengan ketiga anggota member Super Junior yang lain, Kyuhyun harus berada di ICU selama 6 hari, sebelum dipindahkan ke ruang perawatan normal. Pada 5 Juli 2007, setelah 78 hari menjalani perawatan, Kyuhyun diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Setelahnya Kyuhyun selalu bersyukur karena berhasil memperoleh kesempatan hidup yang kedua. Kini Kyuhyun sudah sehat dan ceria seperti sedia kala bahkan karirnya semakin memuncak dengan solo yang dijalaninya sekarang.'

Air mata di sudut mata milik Kibum akhirnya menetes juga. Semua berubah ingatannya hanyalah ingatan yang diingatnya seorang. Kibum tersenyum sendu kala membaca bahwa dirinya keluar dari Super Junior karena ingin meneruskan karir di dunia akting. Bahkan semua hyung tidak mengetahui bahwa dirinya pernah membuat mereka semua menangis. Setidaknya Kibum bersyukur hanya dia yang bisa mengingat semua kepahitan itu.

09 April 2015

Super Junior Dorm

Kibum meminum obatnya dengan sekali tegak. Tak ada masalah, karena Kibum pada dasarnya adalah namja yang tidak terlalu repot dengan keadaan untuk terus meminum obat setiap hari demi pemulihan pasca koma. Lagipula setelah obatnya habis, Kibum sudah bisa dikatakan sembuh total.

Langit yang cerah, seakan mendukung perjalanan Kibum untuk mengunjungi rumah keduanya dahulu. Cuaca cukup bersahabat untuk mengantarkan sepasang kakinya bernostalgia dengan keluarga keduanya. Dirinya sendiri dan mereka sudah berjanji untuk melakukan sedikit reuni.

Mengendarai sendiri mobil audi hitam miliknya untuk menuju kesana. Walau sebenarnya sang manager bersikeras untuk mengantar, namun Kibum menolak dengan halus memberikan alasan bahwa dia baik-baik saja dan ingin memberikan waktu sang manager untuk libur. Karena mata managernya memang menyiratkan rasa kelelahan yang berat.

Setelah beberapa menit akhirnya Kibum telah tiba. Sebenarnya ini bukan untuk pertama kalinya lagi dia mengunjungi dorm. Di ingatannya dulu, dirinya kesini untuk memohon dan meminta maaf dengan berlutut dan menangis di hadapan para hyungdeul-nya. Lagi-lagi ingatan pahit itu membuatnya tersenyum dengan getir.

Ryeowook yang pertama melihat Kibum langsung membawanya masuk dan duduk. "Kenapa tidak menghubungi dulu, mungkin hyung akan mempersiapkan sesuatu dulu."

"Aku cukup air putih saja tidak apa-apa. Lagipula aku belum bisa minum dan makan seenaknya." Dahulu ketika meminta maaf, hyung-nya ini yang selalu keluar dan tahu pertama kali. Pandangannya waktu itu begitu sendu dengan mata yang berkaca-kaca, namun kini binary ceria yang keluar dari sana. "Yang lain mana?"

Ryeowok langsung duduk setelah memberikan segelas air putih untuk sang dongsaeng. Kemudian menunjuk gerombolan langkah kaki yang mulai menuruni anak tangga. "Itu mereka. Kebetulan juga jadwal kami sedang kosong."

"Kibummie kau sudah terlihat lebih sehat sekarang." Leeteuk beringsut dan duduk disebelahnya. Memandang Kibum, bersyukur karena kulit pucat Kibum sudah terganti kembali dengan kulit seputih susunya yang segar.

"Nde hyung. Tak ada yang serius, dan proses pemulihanku cukup cepat." Kibum tersenyum setelah meneguk segelas air putihnya, kebetulan setelah koma dirinya menjadi cepat haus. Kibum tersenyum hangat kala magnae-nya juga ikut duduk disampingnya. "Seandainya ada Eun-Hae-Won dan Dongdong juga Minnie pasti lebih seru."

Heechul menggelengkan kepalanya sembari memakan camilan. "Kau harus memanggil mereka semua hyung Kyuhyunnie." Yang diomeli hanya memutar bola matanya malas dan memainkan PSP yang entah sejak kapan ada dalam genggamannya.

"Kau masih saja tak bisa sopan Kyu." Kibum ikut menegurnya. Mendengar Kibum ikut menegur, membuat Kangin tertawa lepas. "Lihat kau itu tidak pernah bisa dewasa seperti Kibummie hahahaha."

Kibum bingung juga dengan kalimat yang diberikan oleh Kangin. "Ingin dewasa?" Yesung tersenyum penuh arti dan menatap sekilas Kyuhyun dengan pandangan jahil. "Dia bilang ingin bisa setampan, sedewasa, bahkan mengalahkanmu."

"Terlebih dia itu sangat berambisi saat mengatakannya." Leeteuk ikut-ikutan. Sontak Kyuhyun mematikan PSPnya dan duduk dengan tegap. "Hyungdeul selalu saja menyebalkan."

Kibum langsung mendudukan dirinya dengan tegap. Memandang mereka semua satu per satu. Sinar mata mereka mempersiratkan pertanyaan langsung saat Kibum mulai menseriuskan dirinya. "Aku ingin kita bisa bersama lagi walau hanya beberapa saat." Semua langsung terperangah kala kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Kibum. Terlebih membuat perasaan seseorang kembali lagi menjadi bimbang dan orang itu adalah Kyuhyun. "Apa yang membuat hyung berubah pikiran?"

Kibum tersenyum mendengar siapa yang telah mengeluarkan pertanyaan itu. Mimiknya begitu menyiratkan suatu pertanyaan besar, penasaran dengan jalan pikiran yang dirinya punya. "Sesuatu Kyu, sesuatu yang tak akan bisa dimengerti. Dan lebih baik kau tak mengetahuinya."

Mendengar penuturan Kibum membuat perasaan Kyuhyun semakin bimbang. Dia hidup di dunia ini namun seakan dirinya pernah merasakan suatu kehidupan yang lain dan sangat berhubungan erat dengan hyung-nya yang baru sadar dari koma. Ketika Kyuhyun ingin bertanya kembali, Leeteuk sudah terlebih dahulu berbicara. "Jika untuk yang wamil dan dua member China tidak masalah tapi Hankyung….."

"Tenang saja Jungsoo aku akan mengajaknya jika perlu memaksanya." Heechul memberikan senyuman kemenangannya. Untung saja dia selalu mempunyai nomor ponsel sahabat Chinanya itu. Namun jika mereka konser sendirian, bukankah akan berpengaruh pada agency. Yesung memberikan pendapatnya kemudian. "Tapi Sajangnim bisa saja menolaknya."

Kyuhyun menggeleng cepat menandakan bahwa mereka tidak perlu khawatir. "Untuk urusan itu biar aku yang urus." Ryeowook terkikik kecil, memang benar adanya Sajangnim mereka selalu bisa kalah jika itu berurusan dengan sang magnae. "Aku bingung ancaman apa yang kau berikan pada Sajangnim, sehingga beliau selalu saja menurutimu."

Yesung tersenyum mendengar kalimat yang dikeluarkan oleh salah satu dongsaneg-nya itu. "Kita saja selalu tunduk padanya."

Mereka semua melewati hari itu dengan penuh canda dan tawa. Berbagi mengenai kehidupan masing-masing. Menceritakan tingkah mereka yang luar biasa hingga kepada suatu hal yang paling konyol. Hanya satu orang disana yang hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya dan berkata iya tanpa bisa memberitahukan kehidupan apa yang sebenarnya dirinya ingat.

Seperti kala sebuah pertanyaan muncul dari salah satu hyung-nya. Menanyakan 'Apa kau melihat siapa yang menabrak mobilmu?' Tak ada yang bisa dirinya jawab selain hanya mengeluarkan senyuman. Yang dirinya ingat hanyalah masa kelam dan kepedihan pada waktu itu yang membawanya harus pergi dari dunia ini. Kibum mengepalkan tangannya. Terasa sakit. Entah kenpa dia juga harus sakit? Tapi dirinya merasa menjadi sakit, kala bingung apa yang sebenarnya harus dia percayai. Tuhan mempermainkannya? Menempatkannya di dunia khayal ini ataukah ini memang kenyataan?

Tanpa disadari oleh Kibum, seseorang sedari tadi memandanginya. Memandangnya dengan tatapa yang begitu dalam. Merasakan sirat kepedihan yang keluar dari mata bening yang dimiliki Kibum. Hatinya semakin merasa gelisah kala Kibum mengepalkan kedua tangannya dengan erat.

Akhirnya setelah ramai dengan obrolan-obrolan, ruangan itu kini menjadi sunyi. Ada beberapa orang yang telah tidur karena rasa lelah. Hanya menyisakan dua orang namja tanpa terpaut usia yang terlalu jauh yang masih membuka kedua mata mereka, yaitu Kibum dan Kyuhyun. Tak ada yang mau memulai pembicaraan. Entahlah rasanya bagi Kyuhyun setelah sekian lama baru bertemu kembali rasanya menjadi sangat canggung. Berbeda dengan Kyuhyun, Kibum terus mencuri pandangan padanya. Jika ini nyata sungguh dia bersyukur karena bisa melihat sang dongsaeng kembali. Tapi jika ini hanya sebuah hukuman baginya saja?

"Apa yang membuat hyung terus memandangiku?" Lamunan Kibum buyar dan langsung mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. "Eobseoyeo. Aku hanya sedang melamun." Melamunkan sesuatu apa yang seharusnya dirinya percayai.

Kyuhyun menanggapinya dengan sedikit senyum. Lagi-lagi hatinya merasa resah. Dipegangnya pundak sang hyung. Namun respon Kibum terlalu berlebihan, Kibum memundurkan badannya dan memandang Kyuhyun terkejut. "K…Kyu…. Tidurlah, hyung juga akan pulang sebentar lagi." Entah apa yang membuat Kibum mengeluarkan kalimat bohong itu.

"Kau menyembunyikan sesuatu hyung." Kyuhyun berucap pelan. Terselip nada sedih disana. Kyuhyun juga tidak tahu mengapa dia harus bersedih. "Hyung hanya masih terlalu lelah."

Kyuhyun mendongakan kepalanya, memberanikan diri untuk menatap Kibum. Pandangannya berubah menjadi sangat sendu. "Katakan saja kalau kau membenciku. Jebal, jangan membuat aku semakin tidak mengerti hyung." Setetes air mata itu tanpa permisi meluncur dari sudut mata milik Kyuhyun.

"Apa kau ingat bagaimana eomma dan noona mu meninggal? Apa kau ingat anak bernama Shiyoon? Apa kau ingat Kimbum uisanim? Apa kau ingat dengan Hemothorax penyakitmu?" Kibum mengatakan semua itu dengan cepat dan tanpa berani memandang Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum kala mendengar semua pertanyaan itu. Dengan lembut sang magnae menjawab. "Eomma dan noona meninggal karena kecelakaan pesawat. Shiyoon? Entah hyung jauh yang setahu aku tahu aku tidak punya teman bernama Shiyoon. Kimbum uisanim? Aku selalu bertemu dengannya saat kau koma. Hemothorax? Pneumothorax mungkin, tapi syukurlah penyakit itu sudah jarang bahkan tidak pernah lagi menghampiriku." Benar, dia tidak akan mengingat seperti yang kau ingat Kim Kibum. "Berhenti menghukum hyung Kyu!"

Kyuhyun tersentak kala nada bentakan itu keluar dari mulut Kibum hyung-nya. Sorot mata Kibum mengisyaratkan luka yang sungguh dalam, dan Kyuhyun ikut sakit melihatnya. "M-mi-mianhae hyung." Kibum menenangkan dirinya, tidak seharusnya dirinya melakukan hal tersebut.

"Tolong Kyu tolong buat hyung untuk percaya ini semua. Tolong bilang bahwa ini bukan hukuman bagi hyung." Kali ini Kibum berbicara dengan sangat lembut, tak mau melukai kembali perasaan sang magnae. "Apa aku menyakitimu hyung?"

Kibum beranjak dari tempatnya dan membuang muka. "Kita berdua sakit Kyuhyunnie kita sakit, dan hanya aku yang tahu." Kibum melangkahkan kakinya meninggalkan dorm, menyisakan Kyuhyun yang memandang dengan perasaan penuh luka.

"Wae gerae Kyuhyunnie?" Leeteuk terbangun karena mendengar suara ribut-ribut seseorang. Dan betapa kagetnya saat menyaksikan tubuh Kyuhyun yang mematung dengan air matanya yang mengalir. Dirinya semakin kaget kala Kyuhyun langsung memeluknya dengan erat sembari menangis. "Aku jahat hyung, aku jahat."

Leeteuk tidak mengerti mengapa sang magnae berubah tiba-tiba terlebih kala dia juga melihat bahwa Kibum juga sudah tidak ada disana. "Gwenchana Kyuhyunnie gwenchana." Hanya mengelus punggung Kyuhyun berusaha untuk menenangkannya.

.

.

.

.

.

10 April 2015

Super Camp Seoul

Cahaya lighstick berwarna blue shappire terlihat menyala-nyala dengan indahnya. Banyak gadis remaja yang memadati ruangan besar itu, hampir semua tribun terisi dengan sesak padatnya manusia. Berbagai properti serta banner bermacam-macam hadir disana, untuk mewakilkan kepada seseorang yang akan muncul dan tampil di dalam ruangan megah itu.

Cahaya lampu yang tadinya sangat bersinar terang berubah menjadi gelap. Semua langsung hening dan memfokuskan diri masing-masing. Sebuah video muncul, menampilkan sosok satu per satu namja yang akan ada di atas panggung dalam ruangan megah itu. Tepukan serta teriakan riuh mengikuti setiap kali muncul gambar seorang namja di layar besar.

Dan tepukan itu semakin riuh terdengar kala akhirnya sekitar 6 orang namja sudah berdiri di atas panggung. Leeteuk, Heechul, Yesung, Kangin, Ryeowook, dan Kyuhyun. Mereka lah member tersisa setelah yang lainnya kini sedang menjalani kewajiban mereka untuk mengabdi kepada negara.

Super Camp adalah acara yang mereka lakukan untuk mengobati kerinduan para ELF kepada mereka. Mungkin bisa dikatakan lebih mirip dengan fanmeeting. Karena tidak ada banyak lagu yang mereka lakukan. Interaksi dan games lah yang lebih banyak dilakukan disana, meski sesekali masih diselingi dengan bernyanyi.

Seseorang tampak tidak fokus dengan semua hal yang ada disana. Terkadang Leeteuk sang leader perlu menegurnya karena bisa saja penonton mengetahui keadaannya yang sedang gundah. Namun tetap saja dirinya tidak bisa fokus. Terlalu banyak hal yang dipikirkannya. Walau hanya seorang yang terus membuat dirinya penasaran, namun orang itu membuat pikirannya menjadi terlalu banyak.

"Kyuhyunnie apa ada yang mengganggumu?" Yesung bertanya setelah mereka semua telah selesai melakukan Super Camp. Kyuhyun menggeleng dan menjawabnya dengan senyum. "Anniyo. Aku hanya sedikit tidak enak badan."

Leeteuk mengernyitkan keningnya mencoba untuk menemukan kebohongan di dalam sana. "Jeongmal? Tapi kau seperti tertekan begitu." Kalimat Leeteuk malah dijawab oleh Heechul dengan ketidak setujuan, meski sebenarnya dia juga khawatir. "Jangan begitu, untuk seorang publik figure memang biasa begini."

"Kalau kau semakin sakit, bisa memilih untuk beristirahat saja Hyun-ah." Kangin memberikan nasehatnya kepada Kyuhyun. Dan Kyuhyun menjawabnya dengan penuh persetujuan. "Setelah pulang aku akan langsung beristirahat."

Ryeowook juga yang sedari diam akhirnya ikut berbicara. Memberikan sebuah kabar pada sang magnae. "Hyung akan memasak banyak sayuran, dan kau harus menghabiskannya." Kyuhyun menunduk lesu setelah mendengarnya. "Kenapa harus sayuran?"

"Kau mau makan sayur atau kami akan mengurung benda pusaka milikmu?" Lagi-lagi ancaman itu. Kyuhyun menghembuskan nafasnya kasar setelah mendengar ancaman dari Heechul. "Arrasseo."

Di dalam van kembali Kyuhyun memikirkan lagi semua hal kemarin. Disandarkannya kepalanya yang agak sakit kepada Leeteuk. Leeteuk sendiri tak ambil pusing mungkin sang magnae benar-benar sedang kelelahan. Kyuhyun memejamkan kedua matanya berusaha untuk menghilangkan rasa pening itu, namun sakit dikepalanya semakin menjadi.

Paru-parunya kini terasa terhimpit, berusaha untuk mengambil oksigen tapi itu hanya membuat keadaannya semakin sesak. Leeteuk langsung menyadari dengan perubahan Kyuhyun, ditatapnya sang dongsaeng dengan pandangan khawatir. Keringat dingin bercucuran dari dahi Kyuhyun sembari mencengkeram dadanya. "S..se..sesak… hyung." Bersamaan dengan itu Kyuhyun sudah tidak sadarkan diri.

.

.

.

.

.

Seoul Internasional Hospital

Kopi yang baru saja dibelinya terasa begitu nikmat dan hangat. Melesak masuk langsung ke dalam kerongkongannya. Latte. Merupakan jenis kopi yang paling dirinya sukai semenjak dulu. Syukurlah kebiasaannya sejak dulu dan hobinya sama sekali tidak pernah berubah. Walau hanya sebagian hal kecil lah yang tidak pernah berubah.

Laju gerombolan kaki begitu terdengar olehnya. Seakan-akan mereka tengah terburu-buru untuk melakukan sesuatu. Sebenarnya hal itu sudah biasa, dimana para penjaga rumah sakit, yaitu uisa dan ganhonsa akan terburu-buru kala dimana penghuni rumah sakit mengalami fase kritisnya atau sekedar untuk melakukan operasi darurat.

Kopi yang akan diminumnya berhenti kala akan mulai kembali memasuki rongga mulutnya. "Kimbum uisanim, ada seorang pasien yang butuh penangananmu." Seorang ganhonsa berbicara dengan panik.

"Bukankah yang meng-handle hari ini adalah Yong Pil hyung?" Kimbum, uisa itu bingung juga karena harusnya dia bisa bersantai pada hari ini. Ganhonsa itu menggeleng. "Yong Pil uisanim, membutuhkanmu. Ini pneumothorax."

Kalimat sang ganhonsa membuat Kimbum mematung seketika. Sudah lama sekali dia tidak mendapatkan pasien dengan keadaan demikian dan itu mengingatkannya pada seseorang. "Baiklah antarkan aku pada Yong Pil hyung." Ganhonsa itu menganggukan kepalanya dengan pasti. "Sebaiknya cepat, jika tidak mungkin pasien mengalami hemothorax."

Langkah lari milik Kimbum terhenti seketika. Satu kata itu semakin membuatnya teringat dengan seseorang. "He..hemo..thorax..?"

"Ppaliwa uisa. Keadaan sedang gawat." Tak mau menghiraukan Kimbum yang masih tersentak, sang ganhonsa langsung menarik lengan Kimbum dan membawanya lari.

'Sebenarnya Kyuhyun sudah tidak bisa lagi kami tangani. Tubuhnya sudah terlalu lemah. Paru-paru yang ada di dalam tubuh Kyuhyunnie hanya akan menyakitinya. Tak pernah ada kata baik-baik saja bagi Kyuhyunnie. Kita pun hanya bisa menebak dan mengiyakan perkataan Kyuhyunnie meski sebenarnya dia sangat kesakitan.'

'Kimbum terus berusaha menangani Kyuhyun. Walau sebenarnya semua yang dilakukan dirinya dan timnya hanyalah sia-sia. Karena pada saat ini sebenarnya tubuh Kyuhyun memang sudah tidak dapat ditangani. Namun Kimbum percaya Tuhan pasti memberikan keajaibannya bagi orang-orang yang berusaha dengan keras.'

'"KYUHYUN!"'

'Meski telah berhasil kami selamatkan, tubuh Kyuhyun pada dasarnya sangatlah lemah. Dia... koma.'

'Kyuhyunnie... telah pergi..'

Kalimat-kalimat diagnosa yang pernah dirinya berikan dahulu. Tubuhnya kaku bagai patung memandang orang yang kini tengah terbaring lemah sembari memejamkan kedua matanya. Bayangan-bayangan itu terus membekas di dalam ingatannya. Darah yang hitam, air mata, dan berkas hasil pemeriksaan yang sangat dirinya kenali.

Kimbum ingin sekali menggerakan tubuhnya, tapi kaku di seluruh tubuhnya membuat dia tidak bisa bergerak meski hanya sedikit. Yong Pil memandang Kimbum dengan menusuk. Di saat seperti ini kenapa bisa-bisanya temannya itu tidak melakukan apa-apa dan berdiam diri tanpa bisa membantunya.

Yong Pil menyentak lengan Kimbum dengan keras. "Wae gerae Kimbum-ah?" Bersyukurlah karena berkat Yong Pil kini dirinya tidak kaku kembali. "Ah anni. Kita harus cepat menanganinya."

"Memang. Tapi kau sedari tadi berdiam diri. Ini bukan dunia mainanmu ini kenyataan." Yong Pil langsung mengambil langkah pertama untuk mengobati sang pasien. "Kenyataan."

Yong Pil menggelengkan kepalanya dengan reaksi yang diberikan oleh Kimbum. "Iya, lantas kau hidup dimana lagi kalau bukan dalam kenyataan ini?"

Kimbum meyakinkan semua yang telah diucapkan oleh Yong Pil. Dipandangnya sang pasien yang tengah ditanganinya itu. Sebuah kalimat terucap darinya dengan pelan.

"Kita bertemu lagi Cho Kyuhyun."

Bau khas sabun mandi serta wewangian memenuhi suatu ruangan yang bisa dikatakan sebagai salah satu kamar apartemen. Seseorang keluar dengan balutan handuk yang menutupi bagian bawahnya. Tubuhnya yang atletis membuat seseorang itu terlihat begitu tampan, yang bisa dipastikan bahwa seseorang ini baru saja menyelesaikan mandinya.

Suara nyaring dering ponsel terdengar bergetar disana. Tangan halus berkulit putih salju itu segera mengambil benda kotak yang sedari tadi berdering dan mengganggu telinganya. Sebuah nomor yang dikenalinya masuk untuk menelepon, merasa akan ada hal penting yang terjadi diangkatnyalah telepon tersebut.

"Yoboeseyo…" Seseorang ini memberikan sapaan yang memang sudah sering dilakukan orang Korea. Namun sebuah kalimat panic langsung menghampirinya. "Kyuhyunnie masuk rumah sakit."

Kegiatan mengeringkan rambut miliknya terhenti kala kalimat itu dengan sangat cepat memasuki gendang telinganya. "Mwo? Rumah sakit?"

"Nde Kibum-ah. Sepertinya pneumothorax Kyuhyunnie kembali kambuh." Leeteuk lah yang mengatakan itu semua. Kibum jelas khawatir luar biasa. Perasaannya dulu kini hadir kembali, ingatannya berkecamuk terus dengan kenangan buruk itu. "Aku akan segera kesana hyung."

Leeteuk sedikit memberanikan diri untuk mengatakan sebuah kalimat kali ini. "Kibummie, tolong jika kau dan Kyuhyunnie ada masalah selesaikanlah. Jangan memarahinya dia sungguh tidak sengaja. Setelah pertemuan terakhir kita kemarin dan kau pergi begitu saja Kyuhyunnie nampak sangat tertekan." Mendengar kalimat Leeteuk rasa penyesalan langsung terselip dalam benak Kibum.

"Aku akan mengatakan apa yang seharusnya. Semoga Kyuhyunnie cepat sembuh. Sebentar lagi aku akan tiba." Bersamaan dengan itu Kibum memutus sambungan teleponnya.

.

.

.

.

.

-SKIP-

.

.

.

.

.

Mata mereka berdua bertemu, saling memandang tanpa mengeluarkan sapa. Walau sebenarnya mereka berdua saling menghentikan langkah kaki mereka secara bersamaan. Dengan jarak yang cukup dekat memberikan suatu pandangan yang begitu lurus masing-masing. Seakan-akan sedang menyelami semua bayangan yang ada dalam bola mata yang mereka miliki.

Setelah mungkin 2 menit mereka berada dalam keadaan yang demikian, akhirnya salah satu dari mereka memutuskan untuk mulai melangkah menjauh. Lagipula niatnya kesini adalah untuk menjenguknya bukan berdiam diri dan saling memandang dengan seseorang yang mungkin tidak pernah dikenalnya sebelumnya. Setidaknya itulah yang kebanyakan semua orang anggap pada saat ini.

Tarikan itu terjadi begitu saja, membuat langkahnya yang akan maju kembali terhenti. Orang yang dihadapannya memandangnya dengan pandangan yang begitu lembut. Seakan-akan mereka sudah tahu mengenai perasaan masing-masing.

"Jeongmal gomapta…." Air mata miliknya langsung menetes kala kalimat itu terdengar dari seseorang dihadapannya ini. Dirinya tidak perlu bertanya, karena yakin bahwa orang yang tengah tersenyum tadi merasakan dan mempunyai ingatan yang sama dengan yang dimilikinya. "Temuilah dia Kim Kibum sang astronot."

Kibum membulatkan kedua matanya dan langsung membungkukan badannya tanda hormat. "Annyeong Tuan Cho." Tuan Cho meninggalkan Kibum dengan senyum yang tidak terlepas dari wajahnya.

Tangan pucat itu terhias dengan selang infus. Diyakinkan bahwa kulit putih pucat itu telah ditusuk dengan jarum yang begitu panjang. Pasti amat sakit jika pertama kali merasakannya lagi meski sebenarnya di dalam kehidupan seseorang, tangan pucat itu sudah sering kali tertancap dengan jarum-jarum yang dulu selalu disebutnya menyebalkan.

Wajah itu tidak terlalu tirus seperti dalam ingatannya. Wajah yang begitu berseri-seri dengan harapan hidup yang penuh semangat. Rambut itu begitu tebal dan tentu saja amat wangi, menandakan sang pemilik selalu mengurusnya dengan amat baik. Namun mimiknya kini menyiratkan suatu luka, dengan keringat yang mengucur membuat Kibum panic dan mencoba menenangkannya dengan mengelus punggung tangannya.

"KIBUM HYUNG!" Tersentak sudah orang itu dan bangun dengan duduk. Bayangan Kibum dengan darah di sekujur tubuhnya, Leeteuk yang menangis keras, dan semua hyungdeul yang menjerit kala dimana tubuh Kibum tersentak dan memuntahkan banyak darah.

Kibum memandang Kyuhyun dengan terkejut, dibawanya Kyuhyun ke dalam pelukannya. "Hyung disini Kyuhyunnie, hyung disini." Air mata Kyuhyun mengalir dengan begitu deras. "Jelaskan hyung, jelaskan mengapa kau mengorbankan dirimu?"

"Kita seharusnya sudah meninggal.." Kalimat yang sedari waktu itu tertahan akhirnya Kibum keluarkan juga. "Kau menderita hemothorax Kyu setelah kecelakaan pada tahun 2007. Kau terus berbohong dan akulah yang tahu pertama kali. Tapi aku marah dan memutuskan untuk keluar dari Super Junior. Bahkan menyebut yang lainnya sampah karena berhasil kau bohongi. Penyakitmu semakin tahun semakin memburuk Kyu, hingga akhirnya kau koma kembali. Aku menyesal dan meminta maaf tapi hampir semuanya gagal. Super Junior sudah memutuskan untuk bubar, perkembanganmu semakin mengkhawatirkan. Tak ada cara lain selain kau mendapatkan donor paru-paru. Tak ada orang segila diriku yang bersedia bunuh diri untuk mendonorkan paru-paruku padamu. Pada saat itu aku merasa bahwa dengan demikian aku bisa menebus semua dosaku padamu, hingga pada akhirnya paru-paruku malah membuat tubuhmu semakin sakit."

Kyuhyun merasakan perasaaan sakit kala cerita itu keluar dari mulut milik Kibum. "Sebegitu jahatnya aku hyung." Kibum menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa Kyuhyun tidak boleh menyesal. "Keputusanku ternyata salah dan membuatmu semakin menderita, kau meninggal pada tanggal 08 Mei 2015. Dan aku terkejut karena akhirnya terbangun di rumah sakit ini pada tanggal 01 April 2015 dengan kau yang ada dihadapanku."

"Keajaiban? Pertanyaan hyung yang kemarin?" Kyuhyun bertanya dengan hatinya yang begitu penasaran.

Pandangan Kibum memandang Kyuhyun dengan teduh. Tersenyum sekilas meski pada dasarnya mengatakan hal ini hanya membuatnya perih. "Eomma dan noona mu sebenarnya meninggal karena terjatuh dari gedung rumah sakit ini. Shiyoon adalah dongsaeng dari Kimbum uisa yang telah meninggal bunuh diri disebabkan keputus asaan karena penyakitnya. Hemothorax adalah penyaki yang seharusnya membuatmu meninggal pada bulan Mei. Karena paru-paruku tidak cocok dan tidak merespon berada dalam tubuhmu." Kyuhyun memandang Kibum dengan matanya yang berkaca-kaca. "Kenapa kau melakukan itu semua hanya untukku hyung?"

"Karena kau dongsaeng-ku." Senyuman itu terasa amat sangat tulus. Senyuman yang sudah lama tidak pernah terlihat dari seorang Kim Kibum.

Tes

Tes

Tes

Tes

Tanpa dikomando air mata itu mengalir begitu saja dari kedua bola mata onyx milik Kyuhyun. "Jeongmal gomapseumnida. Kau telah mengembalikan kehidupanku hyung." Kibum menggeleng, menandakan ketidaksetujuannya dengan Kyuhyun. "Yang mengubah ini semua adalah Tuhan. Berterima kasihlah pada-Nya, hingga semua bisa kembali."

Hening.

"Aku akan menangis seumur hidup jika itu terjadi hyung." Kyuhyun kembali mengeluarkan suaranya. Kalimat Kibum sebelumnya menandakan bahwa Kibum meninggal untuk Kyuhyun. Kibum tersenyum lalu mengusak surai lembut milik Kyuhyun. "Entah dosa atau tidak, namun mungkin inilah yang sebenarnya Tuhan tuliskan."

Kembali keheningan terjadi diantara mereka berdua.

"Biarkan hanya antara kita yang tahu dan mengalirkan kembali takdir kedepan." Kibum menatap Kyuhyun dengan dalam. Dan yang ditatap menganggukan kepalanya menandakan setuju. Tidak ada yang boleh merusak kebaikan yang sudah terjadi kali ini.

.

.

.

.

.

Seoul Gymnastic Stadium

19 April 2015

Suasana yang tidak biasa. Meski bukanlah sebuah konser, tapi semua orang sungguh padat memadatinya. 15 orang namja berdiri berjejer dengan rapihnya di atas panggung yang cukup megah. Raut-raut wajah yang sudah lama tidak bersapa, kini terlihat berseri-seri dan memberikan sapa terbaiknya kepada semua orang yang sudah ada.

Semua bertepuk tangan meriah menyaksikan grup yang lengkap itu. Harapan mereka selama hampir sepuluh tahun akhirnya terpenuhi. Tidak sedikit dari mereka yang menangis haru merasakan bahwa impian kecil mereka akhirnya terwujud meski harus menunggu dalam waktu yang sekian lama. Disana berdiri idola-idola mereka yang telah hilang dan juga sangat mereka rindukan.

"We are Syupeo Junio O-eo" Para namja itu memberikan greeting mereka dengan semangat.

Leeteuk sebagai leader akhirnya membuka pembicaraan di konser kecil itu, melihat mata semua orang yang begitu penasaran. "Ini kejutan bukan? Kami kembali lengkap. Sungmin, Donghae, Shindong, dan Eunhyuk bahkan meminta libur dulu dari kewajiban militer mereka. Dan dua orang namja yang begitu kalian rindukan sudah berdiri disini, Hangeng dan Kibum!" Seluruh member Super Junior bertepuk tangan juga diikuti para ELF.

Eunhyuk kemudian mengambil alih. "Untung saja pimpinan kami benar-benar baik, sehingga mengizinkan kita untuk melakukan ini." Siwon menggeleng menandakan ketidak setujuan. "Pimpinan ku berbeda hyung."

"Aish Siwon-ah, coba bilang iya saja sih nanti Hyukkie sedih." Shindong terlihat mencibir juga. Eunhyuk hanya memutar bola matanya malas. "Nah Sungmin hyung apa ada yang ingin kau sampaikan?"

Sungmin memberikan senyuman tampannya. "Hati-hati jangan berdesakan, aku selalu merindukan kalian." Lantas membuat semua ELF berteriak riuh dengan rayuan Sungmin secara tidak langsung itu.

Heechul kemudian mengambil alih. "Ah ah pasti ada yang ingin disampaikan oleh Hangeng dan Kibummie?" Kemudian mic diserahkan kepada Hangeng. "Maaf telah membuat kalian menunggu selama bertahun-tahun, namun kali ini impian kalian sudah terwujud. Ini adalah do'a kalian."

Kibum mengambil mic itu kemudian. "Jeongmal mianhae." Kibum menunduk dalam di hadapan semua ELF, membuat mereka tercengang dan tidak terkecuali seluruh member Super Junior. "Aku telah lancang dan selalu berbohong pada kalian. Aku selalu mengatakan suatu saat akan kembali pada Super Junior, tapi yang aku lakukan adalah memutuskan pergi untuk selamanya. Aku tidak akan apa-apa, aku akan tersenyum jika kalian marah, karena aku pantas mendapatkannya. Aku selalu bilang bahwa impianku adalah menjadi aktor, tapi impianku yang sebenarnya adalah menjaga mereka, saudaraku. Namun aku tak pernah bisa menjaga mereka, yang aku lakukan hanya pergi pergi dan pergi. Aku malu dan aku merasa sudah tidak bisa lagi bersama mereka. Hingga aku sadari bahwa pikiranku salah, sebuah ikatan persaudaraan akan sangat kuat. Meski aku tidak lagi berjalan beriiringan dengan Super Junior, aku akan tetap menjaga saudara-saudaraku. Untuk itu tolong bantu aku, untuk membuat yang telah baik ini menjadi baik selamanya jangan pernah meninggalkan mereka sepertiku." Kibum menangis begitu banyak. Semua yang disana juga ikut terlarut, haru mendengar Kibum yang sedikit bicara bisa sedemikian.

Hangeng memeluk Kibum dengan erat. Dia bisa merasakan salah satu dongsaeng-nya yang sudah tidak ada lagi bersama Super Junior seperti dirinya.

'KIM KIBUM! 'KIM KIBUM!' 'KIM KIBUM!'

Teriakan itu menggema di seluruh ruangang Seoul Gymnastic Stadium. Menandakan bahwa mereka masih menyayangi Kibum-nya.

Kangin dengan mata yang berkaca-kaca ikut mengelus punggung Kibum sayang. "Kau tetap bagian kami." Ryeowook memandang haru sang dongsaeng yang sejak dulu selalu bersifat dewasa itu. "Gomawo hari ini kau mau kembali lagi bersama kami."

Henry dan Zhoumi hanya mendongakan kepala mereka untuk menahan agar air mata itu tidak terjatuh. Begitu pun Yesung yang hanya bisa diam sembari sesekali menyeka air matanya yang terjatuh.

Kyuhyun menghampiri Kibum dan para hyung-nya. "Terima kasih, karena aku sudah bisa menatapmu lagi hyung." Kyuhyun ikut menangis.

Semua terlarut dengan dalam keharuan. Para ELF menangis bersama Super Junior. Lewat dari keharuan itu akhirnya konser pun selesai. Super Junior menampilkan semua lagu mereka dengan begitu apik memberikan tepukan meriah di akhir konser kecil ini.

Kibum mengambil tasnya, melangkahkan kakinya keluar dari tempat konser. Setelah berpamitan pada semua saudaranya Kibum memutuskan untuk pulang duluan. Namun langkahnya tertahan dengan tarikan seseorang, seseorang yang begitu ingin dilindunginya.

"Eodiseo Kibum hyung?" Kyuhyun tidak berani menatap wajah itu. Kibum tersenyum dan mengacak rambut Kyuhyun, dongsaeng-nya tetap terlihat seperti anak kecil dimatanya. "Aku harus pergi, jaga dirimu dengan baik nae dongsaeng."

Kyuhyun menatap bola mata itu seakan akan meninggalkannya dengan waktu yang begitu lama. "Kemana?" Kibum kembali tersenyum dengan tulus. "Pulang menemui eomma-ku."

.

.

.

.

.

Kejadian itu terjadi begitu saja. Mobil itu terpental dengan jarak yang begitu jauh. Seseorang didalam mobil itu hanya bisa merasakan kepalanya yang begitu sakit dengan darah yang mengalir dari sana. Orang itu tidak menangis, dirinya tersenyum. Akhirnya dia mengerti apa maksud dari kehidupannya yang begitu singkat ini.

"Terima kasih Tuhan. Akhirnya aku bisa melihatnya di saat yang baik."

Air mata mereka berdua menetes bersamaan di tempat yang berbeda. Ya dengan satu air mata yang lain yang tengah tidur dengan mimpi kejadian yang sama.

.

.

.

.

.

20 April 2015

Tanah itu masih basah, meski telah dua jam orang tersebut dikuburkan ke dalamnya. Sudah banyak pelayat yang pulang karena hari semakin sore. Disana hanya menyisakan dua orang yang masih menatap nisan yang bertuliskan nama seseorang yang akhirnya telah pulang meski dengan cara yang berbeda.

Namja paruh baya itu mengelus pundak yeoja disebelahnya. "Dia sudah pulang." Sang yeoja terseyum. "Pulang dengan wajahnya yang begitu berseri."

"Apa tak apa?" Tanya namja itu takut-takut dengan psikis yeoja disisinya. Sang yeoja menggeleng dengan cepat. "Entah mengapa aku merasa makam ini memang seharusnya aja sejak dulu."

"Kibum akan bahagia, bahagia dengan semua bebannya yang sudah terlepas." Akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan tanah basah itu.

.

.

.

.

.

END

EPILOG selesai. Hahaha semoga kalian bisa terhibur ya, wkkwkwk maaf juga kalau epilog ini gak sesuai dengan harapan. Just fanfic

REVIEW

Thank's To :

0932715630;anna505;atikahsparkyu;axerleoulusxenonxelvarixion;captainpotatao;catch0797;chosuneun;ciput;citra546;desviana407;eksadana447;emon204;flowerkyuu;hwang635;hyukrin67;illenadavis;jaeun86;kliieff19;kimnayeon;kimraf;kirakim19;kyu4ever;kyuelf-soohee;kyurin25;littleevil19;magnaevil;missbabykyu;parkrinhyun-uchiha;raein13;rezy.k;saryeong;shinjoo24;tiktiktik;tyas103;vinov407;whelly573; 0404;beauty;bintang15;brigth16;btsgurl613;choppymow;cronos01; ;delishaelf;devilkyu;dewisanti07900;febbycho;fitrisipit17;gyuyomi88; .7; .1;hulanchan;ilmah; ;keisuho;khotiefkhusnul;kimlr;kyuchoco13;kyukyu95;kyuli99;ladyelf11;lydiasimatupang2301; 88;mmzzaa;nnanisa;octakyuu; ;phn19;putrielfishy;readlight;restiana;riritary9; ;sakurah552;septianm13;septianurmalit1;sparkyuamore;suju0613;vicyamerry;whirlstie;wdiantini9;yulianasuka;yunacho90