Tittle : Family Goals

Pairing : LeoN, SoonHoon, Jeongcheol, Verkwan, Meanie, Raken, Hyukbin, SeokSoo

Disclaimer : All casts are belong to their self and God

Rating : T/T+

Warning : Typo, GS, OOC, AU

Chapter 2

Hari ini hari Sabtu. Taekwoon sudah mengambil libur untuk tidak bekerja satu hari saja. Walau sebenarnya hari ini ada jadwal rapat untuk membahas mengenai tugas ke Italia minggu lalu. Tapi ia dan Soonyoung memilih untuk menunda rapat itu. Semua yang ikut tugas ke Italia kemarin mendapat jatah libur sampai hari Senin.

Jadi Taekwoon memanfaatkan waktu liburnya itu untuk mengajak Hakyeon dan Hakwoon berlibur ke Busan. Soonyoung yang mengajak untuk berlibur ke Busan sebenarnya, sekalian mengunjungi dan mengajak mertuanya untuk ikut dalam acara liburan mereka. Padahal Taekwoon ingin pulang ke Changwon. Ia sudah rindu untuk bertemu dengan mertua dan keponakan-keponakan istrinya. Tapi tidak apa-apa lah mengikuti keinginan Soonyoung. Hitung-hitung balas budi karena selama di Italia semua kepentingan pekerjaan sudah Soonyoung yang menghandle.

Selain itu, Soonyoung juga membawa pasangan Mingyu dan Wonwoo. Ia tidak mau pergi terlalu jauh karena takut ada apa-apa dengan Wonwoo. Maklum saja, istri Mingyu itu sedang hamil tua. 31 minggu. Jadi Soonyoung dan Mingyu mengantisipasi agar tidak susah mencari rumah sakit bila terjadi apa-apa.

Bukan itu saja. Hakwoon dan Youngji yang meminta agar Mingyu Samchon mereka itu diajak pergi liburan. Sudah hampir dua bulan mereka tidak bermain dengan Samchon tiang listrik mereka itu. Padahal ada Sanghyuk dan Wonshik yang juga tak kalah tinggi. Yang setiap minggunya datang berkunjung ke rumah Taekwoon.

Tapi Hakwoon dan Youngji lebih senang bermain dengan Mingyu. Karena bila mereka menginginkan dibuatkan makanan, Mingyu akan segara menurutinya. Memanfaatkan keahlian memasak Mingyu semaksimal mungkin.

"Sayang, kita akan menginap atau tidak?"

Taekwoon yang sedang mengambil baju ganti untuk Hakwoon menoleh ke arah pintu. Istrinya berdiri di depan kamar Hakwoon. Masih mengenakan baju terusannya yang semalam dipakai tidur. Ini memang masih jam 6 pagi, makanya istrinya itu belum bersiap-siap. Mereka semua akan pergi jam 8 nanti.

"Menginap semalam. Minggu sore kita pulang. Senin Hakwoon-ie sekolah kan?"

"Hum. Aku akan menyiapkan pakaian kita dulu." Hakyeon hendak kembali ke kamar, belum sempat ia membalikan badan, suara Taekwoon menghentikannya.

"Aku sudah menyiapkannya semalam. Kau tinggal memeriksanya saja, sayang. Ada yang kurang atau tidak."

Hakyeon memasang wajah kagetnya. Dengan kening yang mengerut tak percaya. Ia menatap wajah Taekwoon untuk memastikan ucapan suaminya itu. Tak mungkin seorang Jung Taekwoon mau meluangkan waktunya menyiapkan segala hal tentang liburan keluarga. Biasanya Taekwoon hanya akan mengurus tentang penginapan dan transportasi. Masalah pakaian ganti dan keperluan lainnya dilimpahkan semua kepada Hakyeon.

Jadi, Hakyeon tak percaya bila suaminya itu sudah menyiapkan pakaian untuk mereka.

"Kenapa hm?" seraya memberi ciuman selamat pagi di kening Hakyeon, Taekwoon bertanya pelan. "Kau tak percaya aku sudah menyiapkan pakaian kita, Love?"

"Tentu saja." Sahut Hakyeon. Melingkarkan tangannya di pinggang Taekwoon, mereka berdua bersama-sama melangkah menuju kamar untuk melihat isi koper yang sudah disiapkan oleh Taekwoon.

Gemas dengan wajah istrinya yang dibuat-buat cemberut. Taekwoon menyentil hidung Hakyeon. Membuat istrinya itu merengut serius. Taekwoon hanya terkekeh saja.

Membuka kenop pintu dan menyilakan Hakyeon masuk duluan, lalu menunjuk koper hitam yang lumayan besar yang ditaruhnya di sebelah lemari pakaian.

"Kau serius, Taekwoon-ie? Kenapa aku tak melihat koper itu di sana?" tanya Hakyeon tak percaya. Ia melangkah lebar-lebar menuju koper mereka lalu menariknya dan membukanya. Kemudian memeriksa semua pakaian dan pendukung lainnya yang sudah disusun oleh Taekwoon.

Whoaaa. Kali ini Taekwoon rapi sekali menatanya. Tak seperti biasanya yang hanya memasukan begitu saja.

"Bagaimana kau mau sadar, sayang. Semalam kau kan kerjaannya hanya bermanja-manja tak ingin lepas dari pelukan ku." Goda Taekwoon dengan wajah usil. Matanya berbinar-binar jahil. Seperti mata Hakwoon ketika berhasil mengerjai Ibunya.

Semu merah menjalari pipi Hakyeon begitu saja. Membuat istri dari Taekwoon itu menunduk malu. Tawa nyaring memenuhi kamar mereka. Yang disusul dengan lengkingan kesal dari Hakyeon yang tak terima dijadikan bahan godaan pagi-pagi.

"Eomma."

Suara Hakwoon dan sembulan kepalanya di pintu kamar membuat Hakyeon menghentikan kegiatan memukuli tubuh Taekwoon dengan bantal. Ibu satu anak itu memperbaiki baju terusannya yang tersingkap. Lalu turun dari atas tubuh Taekwoon yang ditindihnya.

"Kemari Woonie-ya." Hakyeon melambai dan menerima terjangan dari putranya. Ia melayankan ciuman bertubi-tubi ke wajah Hakwoon. Yang membuat putranya itu tertawa terpingkal.

"Eomma berhenti. Ish. Eommaaaaaa." Hakwoon menjerit meminta tolong.

"Hahahahaha. Arraseo. Ada apa hm?" tanya Hakyeon lembut.

Hakwoon mendongak dan menatap wajah ibunya. Dengan puppy eyes andalannya ketika meminta sesuatu. Hakyeon berdecak.

"Apa yang kau inginkan, Jung junior?" Hakyeon bertanya seraya menyentil kening Hakwoon.

Hakwoon terkekeh malu. Menggaruk belakang kepalanya lalu mendusel-dusel manja ke leher ibunya. "Boleh Hakwoon-ie membawa kamera yang diberi Appa itu, Eomma?" bisiknya. Tak mau sampai di dengar ayahnya. Karena ia tahu bahwa ayahnya pasti akan menanyainya macam-macam sebelum memberi Appa-nya sudah memberinya, tetap saja akan ditanyai macam-macam.

"Tanya pada appa, sayang."

Hakwoon mengeluarkan suara dengung penuh protes yang dibalas kekehan dari Hakyeon. Ibu satu anak itu senang menggoda putranya ketika sedang meminta sesuatu, karena reaksinya sama persis seperti Appa-nya ketika sebal digoda olehnya.

Taekwoon hanya mengulum senyum saja. Jangan kira ia tidak mendengar apa yang dibisikkan oleh putranya itu ke Hakyeon. Suasana pagi yang masih hening, dan hanya ada mereka bertiga saja di dalam kamar, membuat Taekwoon bisa mendengar bisikan Hakwoon.

Ia menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang masih saja menggoda Hakwoon dan membuat putranya itu makin merengek keras, tanda-tanda akan menangis. Taekwoon mendelikkan matanya main-main, menyuruh Hakyeon agar menuruti apa yang diminta oleh putranya.

"Arraseo. Arraseo. Hakwoon-ie boleh membawanya. Asal tidak digunakan untuk bermain saja, janji?"

Hakyeon mengulurkan jari kelingkingnya, mengajak Hakwoon untuk berjanji satu hal. Hakwoon mengangkat kepalanya, lalu mengusut air matanya yang sudah mengalir dengan lengan baju. Lalu mengangguk dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Hakyeon.

"Janji, Eomma. Appa bilang harganya mahal, jadi Hakwoon-ie tidak boleh merusaknya. Nanti Appa tidak mau membelikan yang baru lagi." ucap Hakwoon disertai tarikan ingus. Anak ini benar-benar menangis karena digoda ibunya.

Taekwoon tertawa terbahak mendengarnya. Ia melangkah mendekati dua orang kesayangannya itu, lalu menepuk pelan kepala Hakwoon dan mengambil putranya dari dekapan istrinya. Menggendongnya dan melayangkan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah Hakwoon. Yang membuat putranya itu makin merengek tak suka.

Suasana rumah keluarga Jung itu makin heboh ketika Hakyeon lagi-lagi menggoda putranya. Membuat Hakwoon semakin merengek tak suka dan berakhir menangis keras. Dan membuat Taekwoon mendelik galak ke istrinya. Yang hanya ditanggapi dengan juluran lidah mengejek dari Hakyeon.

.

.

.

Jihoon berteriak menyuruh Soonyoung dan Youngji untuk lekas turun ke dapur dan sarapan. Ayah dan anak itu sejak tadi dipanggil tetapi tidak ada satupun yang turun dari lantai 2.

"Youngji-ya, cepat suruh Appa turun, sayang." Sekali lagi Jihoon memanggil bocah mungilnya dan menyuruhnya turun. Sarapan yang sudah dibuatnya bisa-bisa dingin duluan.

"Eommaaaaaaa." Youngji berlarian turun dari lantai 2 dan bergegas menemui ibunya di dapur. Putra pasangan Kwon Soonyoung dan Lee Jihoon itu sudah rapi dengan polo tshirt berwarna merah dan celana pendek selutut. Tak lupa sepasang sepatu berwarna biru tua yang senada dengan warna celananya.

Jihoon menoleh dan memasang wajah kaget ketika melihat putranya yang melangkah memasuki dapur. Dengan rambut yang belum tersisir rapi dan wajah penuh dengan bedak. Aroma bayi menguar memenuhi dapur.

"Astaga. Apa yang dilakukan Appa mu, Youngji-ya?" Jihoon berjongkok dan menyambut putranya dengan membawa handuk basah yang ia ambil di lemari atas kompor. Jihoon memang menyerahkan tugas mengurus Youngji pagi ini kepada Soonyoung karena ia harus menyiapkan sarapan dan bekal untuk dimakan diperjalanan. Bukannya pelit untuk tidak mau mampir di rest area, hanya saja, hari ini mereka akan satu mobil dengan pasangan Seungcheol dan Jeonghan. Dan Jihoon hanya tidak mau merepotkan pasangan itu untuk berhenti sejenak. Karena Hyejeong suka tidak mau diajak melanjutkan perjalanan bila sudah bermain di tempat permainan di rest area.

Hakyeon juga berpesan agar Jihoon juga membuatkan bekal untuk keluarga mereka dan pasangan Mingyu Wonwoo. Hakyeon beralasan bahwa ia sedang malas menyentuh berbagai macam bahan masakan. Sebenarnya Jihoon tahu kalau ibu dari Hakwoon itu hanya malas beradu argument dengan suaminya dan saling tunjuk siapa yang memasak.

Dengan wajah masam dan bibir yang merengut sebal, Youngji mengadu, "Youngji sudah bilang tidak usah pakai bedak. Tapi Appa malah menumpahkan bedaknya di atas kasur, Eomma. Sekarang Appa sedang membersihkannya." Youngji menutup matanya saat ibunya mengusapkan handuk basah itu di wajahnya. Kemudian menyisir rambut Youngji dengan sisir yang berada di genggaman bocah mungilnya itu.

Jihoon mendengus keras tak sengaja, di dalam hati ia mengomel panjang pendek mendengar kelakuan suaminya itu. Sudah mempunyai satu orang anak berumur lima tahun masih saja sifat teledor dan jahilnya tidak mau hilang.

Jihoon menepuk-nepuk wajah Youngji dengan pelan lalu member ciuman selamat pagi, "Ya sudah tidak apa-apa. Youngji sarapan saja ne? Tadi Hakwoon hyung sudah menelepon loh. Katanya Youngji disuruh membawa bola sepak yang kemarin."

"Umm." Youngji mengangguk imut. Ia memberi ibunya ciuman di kening, kedua pipi dan bibir lalu melangkah menuju meja makan. Memanjat kursi dan menarik mangkuk berisi nasi dan mendekatkan piring berisi tumis sayuran yang sudah dimasak ibunya.

Jihoon melangkah cepat menuju lantai 2 untuk menemuinya Soonyoung setelah sebelumnya menyuruh Youngji agar makan dengan tenang dan menghabiskannya.

Ini sudah pukul 7, Soonyoung belum menyiapkan mobil dan keperluan lainnya, bila sampai di kamar putranya itu dan Jihoon mendapati suaminya belum mandi atau bersiap, maka Jihoon akan benar-benar memukulkan gitarnya ke kepala suaminya.

Soonyoung itu kalau bukan karena keinginannya tersendiri maka akan melakukan sesuatu dengan lambat. Dan hal itu adalah satu dari sekian banyak hal yang kadang membuat Jihoon jengkel setengah mati.

Jihoon sudah menyiapkan muntahan omelan untuk Soonyoung. Tetapi saat membuka pintu kamar mereka, Jihoon terdiam dan menelan kembali omelan yang sudah diujung bibir. Ia terpana untuk kesekian kalinya melihat Soonyoung yang berdandan kasual.

Sialan, maki Jihoon tak terima.

.

.

.

Youngji dan Hakwoon berlari menyambut si kecil Hyejeong yang baru saja keluar dari rumahnya. Mereka berdua memeluk Hyejeong bergantian dan melayangkan ciuman selamat pagi. Yang dihadiahi Hyejeong dengan kikikan geli.

Sementara para orang tua yang melihat hanya tertawa pelan. Ketiga bocah itu memang sudah seperti saudara saja. Terutama bila satu di antara ketiganya jarang bertemu. Maka mereka bertiga akan saling berbagi rindu dengan memeluk dan mencium pipi masing-masing.

"Anak mu, Kwon." Sikut Jihoon dan melirik suaminya yang nyengir lebar.

Taekwoon juga menoleh ke arah Hakyeon dan menyeringai bangga. Dibalas Hakyeon hanya dengan dengusan sebal. Sudah berulang kali Hakyeon menasehati Hakwoon jangan berlebihan ketika dengan Hyejeong, tapi tetap saja tidak di dengar. Putranya itu selalu memberi alasan yang sama.

"Eomma. Hakwoon kan sayang Hyejeong sebagai adik. Kata Appa kakak beradik harus saling menyayangi. Seperti Appa yang selalu sayang dengan Eomma dan Hakwoon."

Hakyeon yakin seratus persen kalau hal itu diajarkan oleh Taekwoon.

"Imo." Hyejeong menjulurkan tangannya di depan Hakyeon. Meminta untuk digendong. Belum sempat Hakyeon berjongkok untuk menggendong Hyejeong. Putri dari Seungcheol itu sudah memekik girang ketika digendong oleh Taekwoon. Hakyeon menoleh dan tersenyum melihat suaminya yang bertanya dengan lembut kepada Hyejeong.

Melihat lirikan penuh makna dari Taekwoon yang menggendong Hyejeong. Hakyeon hanya meringis acuh. Ia tahu apa maksud lirikan mata itu. Taekwoon ingin anak kedua mereka nanti perempuan. Dasar Jung Taekwoon, sungut Hakyeon.

"Bagaimana kabarnya Tuan Putri Hyejeong-ie?" tanya Taekwoon setelah mendapat ciuman selamat pagi dari Hyejeong.

"Sudah sehat, samchon." Balas Hyejeong riang.

Sudah dua hari memang Hyejeong demam. Yang membuatnya tidak bisa bermain dengan dua Oppa kesayangannya.

Ngomong-ngomong, saat ini mereka sedang berkumpul di depan rumah Soonyoung. Menunggu kedatangan Mingyu dan Wonwoo yang masih mampir ke salah satu swalayan.

Mereka hanya akan menggunakan dua mobil saja. Pasangan Jung dengan Pasangan Kim. Lalu pasangan Kwon dengan pasangan Choi. Mereka akan bergantian menyetir bila lelah. Sebenarnya Hakyeon dan Jeonghan sudah mengusulkan untuk pergi ke Busan dengan kereta saja. Tetapi para suami tidak mau.

"Youngji-ya lihat itu," Hakwoon menunjuk mobil berwarna putih yang melaju ke arah mereka dengan heboh, ia hapal mobil siapa itu. "Mingyu Samchooooooon." Hakwoon berteriak heboh dan melompat-lompat senang. Membuat Hakyeon dan Taekwoon meringis takut. Takut putra mereka itu jatuh karena saking girangnya.

"Mingyu Samchoooooon." Youngji tak kalah excited dari Hakwoon. Mereka berdua berdiri bersisian dan melambaikan tangan dengan heboh.

Mingyu menepi lalu memasukkan mobilnya ke dalam pelataran rumah Seungcheol. Untuk dua hari ke depan ia akan menitipkan mobilnya di rumah Seungcheol. Setelah memarkirkan dengan benar. Mingyu bergegas turun dan membukakan pintu untuk Wonwoo. Istrinya itu tersenyum gembira. Jarang-jarang Kim Mingyu berlaku romantis seperti ini.

Mereka berdua berjalan pelan dengan Mingyu yang menggeret koper dan satu ransel besar berisi snack. Keduanya disambut dengan heboh oleh tiga bocah berisik yang berlarian menuju mereka.

Mingyu berjongkok dan disambut terjangan dari Hakwoon dan Youngji. Hyejeong yang sedikit tertinggal di belakang kedua Oppanya semakin mempercepat larinya. Lalu ikut melemparkan diri kepelukan Mingyu Samchon-nya.

"Hello girl, sehat?" Mingyu menciumi pipi Hyejeong gemas. Yang dibalas dengan anggukan kepala penuh semangat. Mingyu kemudian meladeni banyak pertanyaan dari ketiga bocah itu. Bertanya mengapa ia lama tidak main ke rumah mereka.

Membuat Wonwoo yang berdiri di sebelah Hakyeon hanya bisa merengut sebal karena perhatian suaminya di ambil oleh tiga kurcaci berisik. Sedangkan ia tidak disapa atau diberi pelukan selamat datang.

Jeonghan tertawa terbahak melihat wajah hoobae-nya itu. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Wonwoo dan menyengir lebar.

"Eonnie," rengek Wonwoo tak terima digoda.

Hakyeon dan Jihoon ikut tertawa juga, sebelum si Emo Wonwoo keluar mereka harus mengalihkan perhatian Mingyu kembali ke istrinya. Atau perjalanan ke Busan akan terasa suram.

"Anak-anak, sapa Wonwoo Imo dan aegi dahulu. Wonwoo Imo sedih loh." Soonyoung memanggil anak-anak dan menyuruh mereka untuk menyapa Wonwoo. Ketiganya seakan baru teringat dengan Wonwoo Imo-nya. Lalu satu persatu lepas dari peklukan Mingyu dan berlarian menuju Wonwoo. Meminta gendong dengan ayah masing-masing agar bisa memberi Wonwoo Imo mereka ciuman selamat datang.

"Mianhe Imo. Welcome~" ucap Hakwoon imut. Secara tak sengaja mengeluarkan aegyo-nya.

Wonwoo terkekeh geli. Lalu membalas mencium pipi ketiganya.

Mereka bergegas untuk bersiap dan berangkat karena semuanya sudah berkumpul. Sempat terjadi perang tangis dari Youngji dan Hyejeong yang tidak mau masuk mobil karena ingin ikut di mobil Taekwoon bersama dengan Mingyu.

Akhirnya Wonwoo mengalah. Ia ikut dengan mobil Soonyoung. Sementara Mingyu meladeni permintaan dari tiga bocah berisik yang tidak mau melepaskannya. Jadi Youngji dan Hyejeong ikut di mobil Taekwoon bersama dengan Mingyu.

Perjalanan mereka menuju Busan ditemani dengan tawa tiga bocah berisik dan rumpi para ibu di mobil yang lainnya.

.

.

.

Hellooooooo everyone, miss me? Huehehehehe. I'm back for update chapter 2. Yuhuuuuuu. Siapa yang gemas dengan tiga bocah berisik kkkk.

Btw, bayangin aja ya si Youngji dan Hyejeong seperti Seungjae yang di Return of Superman itu loh. Yang pintar banget ngomongnya walau baru umur 3 tahun.

Terima kasih banyak loh untuk 12 orang yang sudah review. Kirim satu container rasa terima kasih ehehehe. Gaemgyu92 | itsmevv | kwonlehamster | Kim Hyomi | Mamake | Zizisvt | restiana | jtw | AlvieaHana Kim | Bbangssang | clarahyun | HMYgrey

Btw, jangan panggil thor dong. Suc aja. Saya line 94 nih. Kalau yang lebih muda boleh panggil eonni.

Untuk chapter 2 jangan lupa baca dan kasih review ya. Jangan cuma dibaca doang tapinya -_-

Di review jangan lupa hahaha.

Pasangan Seokmin-Jisoo. Vernon – Seungkwan dichapter selanjutnya ya.

Pasangan Raken dan Hyukbin mungkin muncul setelah mereka semua pulang dari liburan di Busan. Tunggu saja chapter selanjutnya. Karena saya juga belum punya bayangan pasti ehehehe.

Kalau masih ada typo tolong dimaafkan ya ehehehe

Suc ^^