Disclaimer Masashi Kishimoto
.
The Story Is Mine
.
Warning : Alternate Universe, Out Of Character, and Unclear Storyline
.
Don't Like Don't Read
.
.
.
Her Annoying Brothers
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
Haruno bersaudara akhirnya sampai di apartemen Gaara yang berada di lantai 17. Apartemen itu cukup besar.
"Aku telah mengubah ruang belajarku menjadi kamarmu, Sasori. Kamarnya tidak besar, tapi jendelanya cukup besar. Kau bisa melihat dengan jelas pemandangan di luar. Bagaimana?" kata Gaara seraya menunjuk sebuah pintu.
"Aku lihat dulu," Sasori mendekati pintu yang ditunjuk oleh Gaara dan membukanya.
"Itu kamar untukmu, Sakura," Gaara menunjuk pintu yang berada di sisi lain apartemen.
"Sebelumnya itu adalah kamar tamu. Kau tidak bisa melihat pemandangan dari sana karena tidak berjendela. Tapi kamar itu sangat lega," tambah Gaara.
"Baiklah," jawab Sakura. Tanpa berpikir apa-apa lagi, Sakura segera menyeret kopernya menuju kamar itu.
"Bagaimana Sasori?" tanya Gaara.
"Agak sempit. Tapi tak apa-apa."
"Kalau begitu sekarang aku akan ke bengkel untuk memperbaiki mobilku. Sementara aku pergi, bereskan barang bawaan kalian," kata Gaara.
"Ya," ujar Sasori.
Setelah itu Gaara meninggalkan apartemennya. Sakura sendiri sudah sibuk membereskan barang-barangnya. Sementara Sasori meletakkan begitu saja kopernya di depan lemari. Ia lebih memilih tidur.
.
.
.
Sasuke masih terpaku pada kartu identitas di tangannya. Ia kembali menelitinya. Detik berikutnya ia bernapas lega. Kartu nama dan identitas atas nama Haruno Gaara berasal dari Jepang. Tapi hal yang membuat Sasuke bertanya-tanya adalah kenapa kartu identitas dua orang lainnya dari negara lain. Tak mau ambil pusing, Sasuke segera mengambil telepon genggamnya. Ia akan menghubungi Gaara.
Gaara baru saja sampai di depan bengkel saat handphone-nya tiba-tiba berdering. Ia sekilas melihat nomor asing yang meneleponnya.
"Haruno Gaara di sini," ujar Gaara pada orang yang meneleponnya.
"Sudah kau siapkan uang ganti ruginya?" Sasuke langsung bertanya tanpa berbasa-basi.
"Oh, kau orang yang tadi. Tenang saja. Kami akan membayarnya."
"Besok pukul satu siang di Grand Cafe. Jumlah ganti ruginya akan aku beri tahu nanti malam," ujar Sasuke dari seberang.
"Aku tahu kafe itu. Baiklah, kita akan bertemu di sana," kata Gaara.
Sambungan telepon pun diputus oleh Sasuke.
.
.
.
Setelah selesai merapikan barang bawaannya, Sakura keluar dari kamarnya dan melihat-lihat ruangan di apartemen itu. Ruang makan dan dapur tampak terlalu rapi. Seolah-olah tidak pernah digunakan oleh penghuninya.
"Dasar pemalas," gumam Sakura saat menengok kamar Sasori dan menemukan lelaki berambut merah itu tidur tanpa merapikan kopernya terlebih dulu.
Berikutnya Sakura membuka satu-satunya kamar yang tersisa. Kamar Gaara. Kamar itu cukup besar. Namun karena adanya meja dan rak buku dari ruangan yang sekarang menjadi kamar Sasori, kamar Gaara terlihat penuh sesak.
Sakura mengitari kamar Gaara dan melihat beberapa foto yang dipajang di nakas. Foto keluarga Haruno lengkap dan juga beberapa foto lain. Gaara bersama teman-teman sekolahnya di Jerman dan juga foto Gaara bersama seorang gadis berambut cokelat.
"Kau beruntung, Kak Matsuri. Kak Gaara pasti sangat menyayangimu," Sakura tersenyum simpul.
Matsuri adalah kekasih Gaara. Ibunya orang Jerman. Sementara ayahnya orang Jepang. Mereka berdua bertemu saat duduk di bangku sekolah menengah. Setelah lulus, Matsuri memutuskan untuk kuliah sastra di Inggris. Ia ingin menjadi pemain teater internasional dan berkeliling dunia. Sedangkan Gaara memilih kuliah bisnis di Jepang. Sudah setahun mereka menjalani hubungan jarak jauh. Walaupun begitu, hubungan Gaara dan Matsuri harmonis. Mereka selalu saling mendukung, menurut Sakura.
"Kakak lama sekali," keluh Sakura. Ia merebahkan dirinya di sofa ruang tamu. Ia lapar dan ingin memasak sesuatu. Namun ia tidak menemukan apa pun untuk dimasak dari kulkas. Lama kelamaan Sakura tertidur karena kelelahan setelah perjalanan jauh dari Jerman.
.
.
.
Gaara baru pulang menjelang malam. Sasori dan Sakura tampak sedang menonton televisi saat ia datang.
"Maaf. Kalian pasti sudah lama menungguku," ucap Gaara.
"Tidak. Aku baru saja bangun dan sekarang aku lapar," kata Sasori.
"Dia tidur sejak kakak pergi. Aku saja cuma tidur sebentar lalu mandi dan membersihkan apartemen ini. Termasuk membereskan kopernya dan sekarang aku juga lapar," Sakura membuang napas lelah.
"Kau tidak memasak sesuatu?" Gaara bertanya pada Sakura.
"Kulkas kakak kosong. Aku berniat ke minimarket dengan kak Sasori. Tapi dia tidak mau. Dia juga tidak mengizinkan aku pergi sendiri."
"Kau baru di sini, Sakura. Kau bisa saja tersesat," kilah Sasori.
"Kakak, aku sudah besar. Aku bisa mencari jalan pulang sendiri," Sakura memelototi Sasori.
"Hentikan perdebatan kalian. Aku sudah membeli makan malam. Makanlah duluan. Aku mau mandi dulu," Gaara menaruh bungkusan yang ia bawa di meja lalu melangkah menuju kamarnya.
Selesai makan malam, Gaara mengajak Sasori bermain catur. Di sebelah Sasori, Sakura asyik menonton televisi.
"Orang itu sudah menghubungiku," kata Gaara.
"Si brengsek itu?" tanya Sasori.
"Ya. Sebelumnya dia meneleponku untuk bertemu besok. Barusan dia mengirim pesan singkat berisi jumlah uang yang harus kau ganti, Sasori," kata Gaara.
"Berapa?" tanya Sasori lagi.
"Seratus ribu yen."
"A-Apa?" Sasori terkejut. Sakura yang sebelumnya menonton televisi, sekarang ikut menyimak obrolan kedua kakaknya.
"Belum sehari di Jepang dan kau sudah menghabiskan uang sebanyak itu. Luar biasa. Aku ikut prihatin," Sakura menepuk-nepuk jahil bahu Sasori sambil tersenyum mengejek.
"Diam kau, Sakura," Sasori gondok.
"Jika kau meminta tolong pada ayah, aku akan kena marah ibu juga karena tidak bisa membimbing kalian," Gaara tampak berpikir sejenak.
"Jadi bagaimana?" Sasori mulai frustasi.
"Di tabunganku ada uang untuk biaya sekolahmu semester depan. Kau bisa menggunakan uang itu. Tapi kau harus mengembalikannya sebelum semester ini berakhir atau kau akan-"
"Aku akan kerja sampingan untuk mengembalikan uang itu," Sasori memotong ucapan Gaara.
"Kau yakin bisa mendapat kerja sampingan?" tanya Gaara.
"Aku akan berusaha," jawab Sasori.
"Baiklah. Kita akan menggunakan uang itu," kata Gaara.
"Kakakku yang malang..." Sakura menyandarkan kepalanya di bahu Sasori. Ia tidak bermaksud mengejek kali ini. Ia benar-benar bersimpati.
"Aku bisa berbagi uang sakuku perbulan denganmu, Kak. Kau bisa menggunakan uang sakumu untuk mengembalikan uang sekolahmu. Jadi kau tidak perlu kerja sampingan," sambung Sakura.
Sasori melembut. Ia memeluk bahu Sakura.
"Terima kasih, Sakura. Tapi aku tetap akan kerja sampingan."
"Untuk apa?" Sakura berhenti menyandar pada bahu Sasori dan menatap kakaknya penuh tanya.
"Well... Aku sudah pernah mengatakannya. Aku akan membeli mobil sendiri," jawab Sasori.
Tawa Sakura hampir saja pecah.
"Kau yakin? Berapa tahun kau akan mengumpulkannya?"
"Tentu saja secepatnya. Kau mau bertaruh, Sakura?" tantang Sasori.
"Kau tahu aku tidak suka taruhan," Sakura cemberut.
"Hei, Sasori. Jangan lupakan satu hal," kata Gaara.
"Apa kak?"
"Kendalikan emosimu saat bertemu orang itu lagi," pesan Gaara.
"Iya," Sasori menurut.
"Apa aku besok boleh ikut?" tanya Sakura.
"Tidak boleh," jawab Gaara.
"Kenapa?" Sakura heran.
"Biar kami saja yang menyelesaikan masalah ini," ujar Gaara.
.
.
.
Keesokan harinya di Grand Cafe. Sasuke datang ke tempat itu tepat waktu. Dia lalu memesan secangkir cappucinno untuk dirinya sendiri.
Sekarang sudah hampir dua puluh menit Sasuke menunggu. Namun Haruno bersaudara belum muncul juga. Bila bukan untuk melihat gadis itu, Sasuke tidak akan mau menunggu selama itu.
Sasuke baru pertama kali melihat gadis itu kemarin. Namun entah mengapa wajah gadis berambut merah muda itu selalu membayanginya.
Saat Sasuke selesai membayar cappucinno-nya dan berniat untuk pergi, Gaara dan Sasori tampak memasuki kafe itu.
"Aku tak akan memaafkan keterlambatan kalian," ujar Sasuke pada Gaara dan Sasori yang telah tiba di mejanya.
"Kami memang tidak akan minta maaf," balas Sasori sengit. Keduanya kemudian duduk di depan Sasuke.
"Jangan terpancing. Ingat apa yang aku katakan padamu semalam, Sasori," Gaara berkata pelan.
"Iya," kata Sasori setengah hati.
"Mana gadis yang bersama kalian kemarin?" tanya Sasuke.
"Kami melarangnya ikut," jawab Gaara.
Sasori menatap Gaara bingung. Sementara Sasuke terlihat kesal.
"Aku tak mau basa-basi. Mana uangnya?" kata Sasuke.
"Ini," Gaara menyerahkan uangnya. Sasuke mengecek sekilas keaslian uang di dalam amplop cokelat itu.
"Ini milik kalian," Sasuke mengembalikan kartu identitas Haruno bersaudara.
"Aku tak akan menghitung uang itu di sini. Tapi bila kurang, aku akan menagihnya," Sasuke lalu memasukkan amplop itu ke saku blazer-nya.
"Perhitungan sekali," celetuk Sasori.
"Kalian sudah banyak membuang waktuku. Aku pergi," Sasuke beranjak meninggalkan Gaara dan Sasori.
"Apa-apaan orang itu?! Pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih. Kita bahkan belum memesan sesuatu," ujar Sasori kesal. Gaara tak berkomentar apa pun.
Saat Sasuke hendak meninggalkan kafe itu, Sakura tampak berjalan ke arahnya dari pintu masuk.
"Kau," ucap Sasuke. Ia terkejut. Sakura berhenti di depannya.
Sasuke lantas menengok ke meja tempat Gaara dan Sasori berada. Mereka tidak tahu Sasuke memandang geram karena mereka duduk membelakangi posisi Sasuke saat ini. Keduanya tampak sedang mengobrol dan menertawakan sesuatu. Hal itu membuat Sasuke semakin kesal.
"H-Hai," sapa Sakura. Ia tersenyum pada Sasuke.
"Kau akan pergi?" tanya Sakura canggung.
Sepertinya Sasuke akan kembali ke meja itu.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
