Disclaimer Masashi Kishimoto
.
The Story Is Mine
.
Warning : Alternate Universe, Out Of Character, and Unclear Storyline
.
Don't Like Don't Read
.
.
.
Her Annoying Brothers
.
.
.
Chapter 3
.
.
.
Flashback
Sesaat sebelum Gaara dan Sasori meninggalkan apartemen untuk menemui Sasuke.
"Jadi, aku benar-benar tidak boleh ikut?" tanya Sakura.
"Tidak boleh," ujar Gaara.
"Ah... Aku akan bosan sendirian di sini," keluh Sakura.
"Kami tak akan lama, Sakura."
"Tapi aku mau ikut. Bagaimana kalau aku berbelanja selagi kalian bertemu orang itu? Tidak ada bahan masakan sama sekali di dapur. Aku ingin memasak sesuatu untuk makan malam," Sakura mencari-cari alasan untuk ikut.
"Aku akan menemanimu berbelanja setelah pulang dari sana," ujar Gaara.
Sakura tidak menyerah.
"Kalau begitu izinkan aku berjalan-jalan di sekitar sini. Aku tidak akan pergi jauh-jauh."
"Itu ide yang lebih buruk," kata Gaara.
"Kakak... Aku tidak mau di dalam terus. Rasanya seperti dikurung. Aku ikut ya. Please..." rengek Sakura dengan puppy eyes yang ditujukan pada Gaara.
Gaara akhirnya menyerah.
"Baiklah. Kau boleh ikut."
"Yes! Kalau begitu aku siap-siap dulu," ujar Sakura yang segera melesat ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Dua puluh menit berselang. Haruno bersaudara kini telah berada di pelataran parkir mall tempat Grand Cafe berada.
"Apakah kita terlambat?" tanya Sakura saat Gaara tengah memarkirkan mobilnya di parkiran bawah tanah mall besar itu.
"Mungkin. Kemarin dia bilang pukul satu," jawab Gaara.
Sakura melihat jam di dashboard mobil menunjukkan pukul satu lewat dua puluh lima.
"Biarkan saja orang angkuh seperti dia menunggu. Biar tahu rasa," ujar Sasori sadis.
"Ayo," Gaara keluar dari mobil diikuti kedua adiknya.
Saat mereka berada dalam lift yang menuju kafe di lantai atas, Sakura teringat sesuatu.
"Daftar belanjaan yang mau aku beli tertinggal, Kak. Aku lupa memasukkannya kembali ke dalam tas. Tadi aku menaruhnya di dashboard," ujar Sakura.
"Ceroboh. Kau mau mengambilnya?" tanya Sasori.
"Tentu saja," jawab Sakura.
"Aku antar," kata Sasori.
"Tidak perlu. Aku akan mengambilnya sendiri. Orang itu pasti sudah menunggu lama. Kalian temui dia saja dulu. Aku akan menyusul," ujar Sakura.
"Baiklah. Setelah lift ini terbuka, kau lurus saja lalu belok kiri. Grand Cafe berada di paling ujung," jelas Gaara. Sakura mengangguk.
"Lantai lima, oke?" Gaara memastikan Sakura mengingatnya.
"Oke," jawab Sakura.
End of flashback
.
.
.
Sasuke kembali ke tempat di mana Gaara dan Sasori berada. Sakura mengikuti di belakangnya.
"Kau kembali lagi ke sini. Apa uangnya kurang?" tanya Gaara pada Sasuke yang kembali duduk di depannya.
Detik berikutnya Gaara menyadari kehadiran Sakura.
"Sakura, kau bisa menemukan tempat ini," ujar Gaara.
"Itu mudah, Kak," kata Sakura. Ia hendak duduk di kursi di sebelah Sasuke namun Gaara mencegahnya.
"Kau duduk di sini, Sakura," Gaara berdiri dan menyuruh Sakura duduk di kursinya. Tujuannya agar posisi Sasuke dan Sakura menyilang dan berjauhan. Sakura hanya menurut. Sementara Sasuke mendelik pada Gaara.
"Cih. Tadi kau bilang dia tidak ikut," ujar Sasuke.
"Aku memang melarangnya ikut. Tapi dia keras kepala," kata Gaara. Sakura sedikit merengut dikatakan begitu.
"Dan kau, untuk apa kembali lagi? Bukankah urusan kita sudah selesai?" tanya Gaara pada Sasuke.
"Itu benar. Tapi aku ada urusan dengan gadis ini," jawab Sasuke.
"Hei, apa urusanmu dengan adikku?" suara Sasori meninggi.
"Aku ingin mengenalnya," ujar Sasuke blak-blakan.
"Apa?!" Gaara dan Sasori terkejut bersamaan. Sementara Sakura mulai memerah wajahnya. Belum pernah ada lelaki yang berani mengajaknya berkenalan di depan kedua kakaknya yang super-protective.
"Sieht aus wie er dich mag," ujar Gaara.
(Sepertinya dia menyukaimu.)
"Unwahrscheinlich," kata Sakura.
(Tidak mungkin.)
"Ich mag ihn nicht," ujar Sasori.
(Aku tidak suka dia.)
"Was gefällt dir ihn?" tanya Gaara pada Sakura.
(Apa kau menyukainya?)
"Ich..." Sakura ragu.
(Aku...)
"Lass dich nicht von ihrem Gesicht täuschen," ucap Gaara.
(Jangan tertipu oleh wajahnya.)
"Er muss playboy," ucap Sasori.
(Dia pasti playboy.)
"Bisakah kalian menggunakan bahasa lokal?" Sasuke menyela pembicaraan Haruno bersaudara yang menggunakan bahasa Jerman.
"Apa kau serius dengan ucapanmu tadi?" tanya Sakura pada Sasuke.
"Hn. Aku Uchiha Sasuke," Sasuke mengulurkan tangannya.
"A-Aku Haruno Sakura. Salam kenal," ucap Sakura. Ia tidak berani membalas uluran tangan Sasuke karena Gaara dan Sasori menatapnya tajam. Sasuke yang menyadari itu kembali menarik tangannya.
"Kau seorang Uchiha?" tanya Gaara.
"Tentu saja. Kau terkejut?" ujar Sasuke bangga.
"Apa hubunganmu dengan Uchiha Itachi?" tanya Gaara lagi.
"Dia kakakku," jawab Sasuke.
"Kau adiknya? Kasihan sekali dia memiliki adik sepertimu. Padahal dia pebisnis hebat yang menjadi inspirasiku," ujar Gaara.
"Kau menghinaku?" Sasuke mulai tersulut.
"Bisakah kalian diam? Aku ingin memesan sesuatu," Sakura menengahi. Ia lalu memanggil seorang pelayan.
Berikutnya Haruno bersaudara sibuk memilih menu yang tersedia di kafe itu.
"Kau ingin memesan apa?" tanya Sakura pada Sasuke yang tidak ikut-ikutan melihat menu.
"Tidak. Aku sudah menghabiskan pesananku sebelumnya karena kalian terlalu lama," ujar Sasuke.
"Maaf, karena kami datang terlambat," kata Sakura.
"Kau mau jadi penonton di sini? Kau tak punya uang untuk memesan lagi?" ledek Sasori.
"Kalau aku mau, aku bisa membeli kafe ini beserta isinya," ujar Sasuke.
"Kalau begitu, apa kau bisa mentraktir kami?" tanya Sasori.
"Tentu saja aku bis-" Sasuke tidak meneruskan ucapannya. Sasori berhasil menjebaknya.
"Sial," gumam Sasuke.
"Terima kasih. Kau baik sekali... em... Uchiha..." Sakura ragu untuk memanggil nama Sasuke. Sasuke tidak bisa menarik kembali kata-katanya karena ucapan Sakura barusan.
"Panggil aku Sasuke, Sakura," kata Sasuke.
"Aku akan menambah pesananku. Kau sanggup membayarnya, kan?" ujar Sasori.
"Terserah." kata Sasuke dingin. Namun ia juga ikut memesan sesuatu kali ini.
"Namaku Haruno Sasori dan dia Haruno Gaara. Kami kakak Sakura," ujar Sasori setelah menghabiskan dua gelas latte dan beberapa makanan ringan pesanannya.
"Aku tidak mau tahu siapa kalian," kata Sasuke sengit.
"Aku juga sebenarnya tidak peduli. Tapi kurasa tidak etis bila kau tidak mengenal orang yang kau traktir," ucap Sasori.
"Selamat siang semuanya," seorang penyanyi perempuan yang baru saja muncul di panggung kecil di kafe itu menyapa para pengunjung.
"Hari ini saya kembali diberikan kesempatan untuk menyanyikan beberapa lagu di kafe ini. Semoga Anda semua terhibur dan selamat menikmati menu-menu terbaik dari Grand Cafe," ucap penyanyi kafe yang terlihat masih muda itu. Ia lalu mulai menyanyikan lagu pertama.
"Apakah model rambut seperti itu masih zaman?" Sasori mengomentari gaya rambut gadis penyanyi kafe itu yang aneh. Cepol dua.
"Itu memang ketinggalan zaman. Tapi kurasa setiap penyanyi harus punya gaya tersendiri yang membedakannya dari penyanyi lain," Sakura beropini.
"Apa kau tinggal di Jerman, Sakura?" tanya Sasuke mengalihkan perhatian Sakura dari penyanyi kafe itu. Hal yang selama ini menjadi pertanyaan dibenak Sasuke.
"Bagaimana kau tahu?"
"Kartu identitasmu," jawab Sasuke.
"Kau membacanya?" tanya Sakura.
"Tidak sengaja," Sasuke berbohong.
"Aku memang tinggal di Jerman sebelumnya. Tapi aku akan menetap di Jepang sekarang. Aku baru mendarat kemarin. Jadi belum sempat mengurus kartu identitas baru," jelas Sakura.
Gaara dan Sasori tidak mengganggu percakapan Sasuke dengan Sakura. Gaara terlihat sedang sibuk dengan ponselnya. Matsuri dan beberapa teman kampus mengiriminya pesan. Sementara Sasori tengah asyik mendengarkan lagu yang dibawakan oleh penyanyi kafe itu. Menatap penyanyinya, lebih tepatnya.
"Di mana kau tinggal sekarang?" tanya Sasuke.
"Konoha Residence," jawab Sakura.
"Apartemen?"
"Ya."
"Kau tak punya rumah?"
"Tidak. Aku menumpang di apartemen kakakku."
"Di mana orang tuamu?"
"Mereka tinggal di Jerman," ujar Sakura.
"Kau blasteran?"
"Bukan. Ayah ibuku asli Jepang dan berasal dari kota Suna. Mereka menetap di Jerman karena pekerjaan. Bagaimana denganmu?" tanya Sakura.
"Aku di Konoha sejak lahir," jawab Sasuke.
"Orang tuamu?"
"Aku tinggal bersama mereka."
"Kau punya kakak atau adik?"
"Hanya satu kakak."
"Uchiha Itachi?"
"Hn."
Prok. Prok. Prok. Beberapa pengunjung memberi tepuk tangan ketika penyanyi kafe itu selesai menyanyikan sebuah lagu. Sepertinya tepuk tangan Sasori yang paling keras. Penyanyi itu menatap Sasori sekilas dan memberikan senyumannya.
"Jangan bilang kalau kau nge-fans padanya, Sasori," ujar Gaara yang ternyata sudah meninggalkan aktifitas di ponselnya.
"Jangan bercanda," gumam Sasori.
"Sudah cukup perkenalannya. Ayo kita pergi," ujar Gaara tiba-tiba.
"Kenapa buru-buru?" tanya Sakura. Ia masih ingin berbincang dengan Sasuke.
"Teman-teman kampusku sudah menunggu. Aku lupa kalau hari ini ada acara bersama mereka," ujar Gaara. Ia sudah berdiri dari kursinya.
"Terima kasih," kata Gaara singkat pada Sasuke. Ia lalu melangkah pergi.
"Ayo, Sakura," ujar Sasori yang menyusul Gaara tanpa berkata apapun pada Sasuke.
"Aku harus pergi. Terima kasih untuk makanannya. Senang bertemu denganmu," kata Sakura. Ia berdiri dari tempat duduknya dan ber-ojigi.
Sasuke langsung menyambar ponselnya di meja dan menyerahkannya pada Sakura.
"Eh?" Sakura kaget.
"Nomormu," ujar Sasuke.
"Tapi aku belum punya ponsel," kata Sakura.
"Apa?" kini giliran Sasuke yang terkejut.
"Ponsel lamaku ada di Jerman. Kak Gaara belum membelikanku ponsel baru. Maaf," kata Sakura.
"Sampai jumpa," tambah Sakura. Ia lalu berbalik dan pergi meninggalkan Sasuke.
Sasuke kembali menaruh ponselnya di meja. Kecewa.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
