Chapter 1

.

.

Constellations shine with light that was emitted aeons ago.

She insisted that stars were people so well loved,

They were traced in constellations.

To live forever

-oOo-

Gadis berambut cokelat itu merapatkan jaket hijau di tubuhnya, "Sial, ini bahkan belum musim dingin, bagaimana bisa udaranya sedingin ini?" Ia bergumam "Semoga bintangku masih bisa terlihat" mata hazel itu mendongak ke langit malam lalu berjalan cepat ke rumahnya yang berada di ujung jalan, ia memang tinggal sendiri karena ayah dan ibunya telah tiada beberapa tahun yang lalu.

Ia membuka pintu rumahnya, menggantungkan jaketnya, menyalakan lampu dan pemanas ruangan, lalu berjalan menuju dapur dan membuat cokelat panas.

Tanggannya menggenggam teleskop yang mengarah ke langit, tahu persis kemana haru mengarahkan matanya "Where's my star? Langitnya berawan, sudah dua hari aku tak bisa melihatmu, Archer" gadis itu menghela napasnya. Archer adalah bintang penanda dalam rasi naga, bintang favoritnya, ia tak begitu memahami astronomi jadi ia memberikan nama itu untuk bintangnya.

-oOo-

"Tugas lagi, soal lagi, baca terus, kenapa hidup kita sebagai mahasiswi sebegini menjemukannya, Mione?" Gadis berambut pirang ikal itu terus menggerutu sambil mencari cari buku di perpustakaan.

"Kalau begitu, kenapa kau memilih jurusan Philosophy Sciene, Lav ?" ujar gadis di sebelahnya terkekeh.

Lavender mendengus pada sahabatnya "Kau tak membantu sama sekali, Hermione Granger"

"Ups, alarm kemarahan Lavender sudah berbunyi" lalu keduanya terbahak.

"Mione, cepat ambil bukumu! Hanya tersisa satu, kau harus mengambilnya atau mendapat siksaan Mr. Killer" Lavender menarik Hermione menuju salah satu rak buku.

Hermione mengambil buku bertuliskan Philosophy.

"Well, buku ini terlihat sudah usang, Lav. Are you sure this is the book?"

"Yes it is! Grab it!"

Lalu mereka berdua berjalan menuju meja peminjaman dimana gadis berambut merah sedang berkutat dengan komputernya.

"Kami ingin meminjam buku." Lavender berdeham, lantas gadis berambut merah itu mendongak dan berdiri.

"Im sorry, atas nama siapa ?" Gadis itu bertanya.

"Lavender Brown dan Hermione Granger" Lavender menyodorkan bukunya pada gadis itu.

"Siapa namamu?" Hermione bertanya.

"Oh, aku Ginny. Fakultas sastra." Ginny tersenyum dan mengulurkan tangannya, namun fokus hermione tertuju pada pintu di sebelahnya. Untuk apa ada pintu disitu? Itukan hanya dinding, tak ada ruangan dibaliknya.

"Kenapa ada pintu disitu?" Hermione bertanya lagi, mengabaikan tangan Ginny.

"Oh itu hanya kesalahan pembangunan" Ginny mengangkat bahunya.

Hermione mengerutkan alisnya, tidak yakin akan jawabannya.

"Oh come on, Mione. Who cares bout that?" Lalu mendorong Hermione menjauh. Yang didorong hanya bisa menoleh dan mengangkat bahunya.

-oOo-

Hermione duduk di kamarnya, membuka buku yang ada di hadapannya. Judulnya berubah begitu ia membuka bukunya, dari 'Philosophy' menjadi 'Constellation'

Hermione kaget melihatnya, lalu mulai melihat huruf huruf didalamnya mulai meliuk liuk berubah, membuat rangkaian kata baru dan kalimat yang berbeda.

Hermione mulai membaca...

-oOo-

Lelaki bersurai platina itu berdiri di depan portal, dengan gadis berambut hitam disampingnya.

"I will come back for you, love" lelaki itu mengecup bibir gadis dihadapannya.

Si gadis memejamkan matanya, merasakan betapa ia akan merindukan lelaki ini, betapa ia akan merindukan bibir yang kini bertaut dengan bibirnya.

"I will miss you," Ucap gadis itu membuka matanya.

Lelaki dihadapannya mengambil tangan kanannya, mengecup punggung tangannya, jari jarinya, sampai telapak tangannya.

"I know" lalu lelaki itu melangkahkan kakinya menuju kehampaan.

-oOo-

Heyy! this story was some of my fiction before I fall asleep. But like Augustus said "My thoughts are stars and I cannot fathom into constellation", so help me to make it into constellation, please ? :)