Chapter 2
.
.
I fantasize the night sky to be like a cosmic blue print of my life,
As I close my eyes and unbutton my heart.
Just in case anyone up there is listening.
-oOo-
Jatuh.
Hanya itu yang ia rasakan.
Awalnya hanya ada kesunyian.
Antara ruang jauh dalam jarak yang tak berujung.
Kilas kehidupannya terus terngiang dalam pikirannya.
Dimana lelaki itu sekarang ?
Hanya ada kegelapan pekat berpusar di sekelilingnya,
Sisa dari tepi garis buram jiwanya.
Dalam kesunyian total, khayalan menguasainya.
Balok balok pengetahuan dan pemahaman menghantamnya perlahan.
Terus ia terjatuh menuju tempat yang akan ia tempati.
Entah sampai kapan.
-oOo-
Hermione lagi lagi harus pulang menjelang malam. Ia mendongak, wajahnya tertuju pada langit, seolah sedang menunggu sesuatu akan menimpanya.
Dan benar saja, melihat ada bintang jatuh diatas sana.
"Whoa, Bintang jatuh! I should make a wish right?" Ia lagi lagi bergumam sendiri, lalu membisikkan harapannya.
Pasca melihat bintang jatuh, ia langsung berjalan cepat menuju rumahnya. Langit sekarang sedang bersahabat, ia dapat melihat bintangnya sekarang.
Begitu sampai di rumah, segera ia ambil teleskopnya dan ia arahkan ke langit.
Aneh, bintangnya tak ada! Ia berkali kali mengecek ulang, takut ia ternyata melewatkannya.
Ia mendesah untuk kesekian kalinya, lalu menegak habis cokelat panasnya. Mungkin bintangnya memang menghilang karena sudah saatnya, mungkin?
Hermione berjalan menuju tempat tidurnya dan mulai memejamkan matanya.
Saat kesadaran mulai meninggalkannya, tiba tiba ia dikejutkan oleh suara ledakan di halaman rumahnya, segera ia melihat ke arah jendela, ada kilatan cahaya disana.
Panik, ia segera berlari menuju jendela dan membukanya. Betapa terkejutnya gadis itu saat melihat pemuda berambut putih berada di depan halaman rumahnya.
"Im so sorry, Miss. Fireworks. I can't control them." Pemuda itu berkata dengan senyum yang dipulas rasa bersalah.
"Oh, it's not a big deal, actually."
"I'm Draco Malfoy. Aku baru saja pindah kesini, rumahku tepat disebelah." Ujar Draco seraya mengarahkan telunjuknya ke rumah yang berada tepat disamping Hermione.
"Hm.. I see." Hermione mengangguk
"Well, berhubung kita tetangga, jadi kurasa aku harus mengetahui namamu?" Draco mengangkat alis kanannya.
"It's Hermione." Ucap gadis berambut cokelat itu tersenyum.
"So, Hermione, Nice to see you. See you later, huh?" Draco tertawa lalu berlari mundur menuju rumahnya sambil melambaikan tangannya.
Hermione tertawa kecil. Aneh sekali, pikirnya, orang mana yang masih memperkenalkan diri menggunakan nama keluarga?
Hermione menutup jendela lalu beranjak ke meja belajarnya. Ia melihat buku yang ia pinjam dari perpustakaan beberapa hari yang lalu, Hermione belum menceritakan keanehan buku itu pada siapapun. Well, pasti temannya akan tertawa dan menganggapnya sinting bila ia berkata buku itu berubah tulisan setiap ia akan membacanya kan?
Hermione menghela napasnya "So, book, let's find out what you want to tell me." Lalu ia mengambil buku itu dan membacanya.
-oOo-
Constellation,
Sembilan ratus tujuh puluh tiga ribu tahun yang lalu..
Suara tangisan bayi terdengar dari sebuah rumah pualam yang sunyi, salju bertebaran di ranah yang tak pernah tersentuh oleh manusia.
"Ingin kau namakan siapa anak perempuan ini ?" Tanya sang lelaki
"Aku ingin ia dapat memancarkan seluruh warna dari dirinya. Aku namai ia Prisma" perempuan itu berkata dengan penuh perhatian.
"Siapa nama anak yang lelaki?"
"He's the boy without name"
.
.
"Uncle, apakah kau tahu apa itu warna?" Anak lelaki itu bertanya.
"Warna hanyalah asumsi dari kesan yang diperoleh dari cahaya" Lelaki yang dipanggil paman itu menoleh pada anak lelaki di pangkuannya.
"Lalu, apa warna kesukaan Uncle?"
"Putih"
.
.
"Tidak! Jangan lakukan misi bodoh itu lagi! Kau bahkan tidak tahu apa yang harus kau lakukan, hentikan omong kosong ini!" Wanita itu menjerit frustasi menatap punggung lelaki di hadapannya.
Lelaki itu berbalik menghadap si wanita "Kau tahu aku tak bisa, aku telah memilih jalan ini untuk menyelamatkan kita semua" Tangan kanannya terangkat menyentuh rambut wanita itu.
"Menyelamatkan kita dari apa?! Dari semua kehampaan ini? Inilah takdir yang telah di tetapkan untuk kita! Kau tak tahu apa yang terus aku lakukan, mengejarmu di setiap kehidupan, menunggumu dalam tiap kematian. Aku tak sanggup menjalaninya lagi." Wanita itu kini mulai terisak.
Rahang lelaki itu mengeras, "Kau tahu aku tak bisa meninggalkan ini." Lelaki itu mengecup puncak kepala wanita di hadapannya.
"Kau tahu aku mencintaimu." Lalu lelaki itu berbalik dan meninggalkan wanita itu di dunia yang sama sekali tak diharapkannya.
Semuanya abu abu.
-oOo-
Well, semoga pada ngerti maksudnya yaa. Let me know what are you thinking? Your review and suggestion will means a lot :)
