=SEQUEL=

"Mommy, whel al you?"

Seorang bocah mungil turun dari gendongan seorang pemuda tampan. Langsung berlari memasuki rumah yang tampak senyap. Kaki mungilnya ia langkahkan ke kamar. Kepalanya menyembul ke kamar bernuansa putih, namun tidak ada siapa-siapa di dalamnya.

Seolah bisa menebak keberadaan sang ibu, anak kecil berwajah tampan itu berlari ke dapur. Senyumnya manisnya terkembang melihat seseorang yang berdiri membelakanginya.

"Mommy," teriaknya sambil memeluk kaki seseorang pemuda berkulit putih.

Pemuda berkulit putih itu tersentak. Namun langsung tersenyum lebar mendapati sepasang mata bulat yang memandanginya.

"Wonwoo Hyung, aku kembalikan Minwoo! Aku harus kuliah lagi."

Ia mengalihkan pandangannya ke asal suara. Mengangguk mendapati seorang pemuda kelahiran New York menunjuk setumpuk buku di tangan. Pemuda yang tinggal tepat di sebelah apartemennya itu langsung beranjak setelah melambai pada si kecil.

"Sudah selesai bermain bersama Hansol hyung?" tanyanya.

"Cudah Mom."

Pemuda manis itu menggeleng dengan jari telunjuk yang bergoyang tidak setuju. Membuat bocah mungil itu memasang wajah bingung.

"Bukan Mommy Minwoo-ya. Panggil Appa, jangan Mommy!"

"Dets wlong Mom! Minwoo kelual dali cini." Anak laki-laki bernama Minwoo menepuk perut Wonwoo dengan tangan mungilnya. Menunjukkan pada Wonwoo kalau ia adalah seseorang yang telah melahirkannya.

Wonwoo tidak bisa untuk tidak tersenyum. Anaknya belum jelas berbicara. Tapi sudah sering menggunakan bahasa asing karena terlalu sering bersama Hansol.

Meski berulang kali ia meminta Minwoo untuk memanggilnya Appa, tetap saja Minwoo menolak. Ia tidak tahu kalau anaknya akan tumbuh secerdas ini. Membuatnya harus selalu siap apapun yang akan keluar dari mulut buah hatinya.

"Ayo kita mandi!"

Minwoo mengangguk semangat. Ia langsung mengenggam tangan Wonwoo. Menariknya ke kamar mandi yang terletak tidak jauh dari dapur.

.

.

"Minwoo sudah mengantuk?" tanya Wonwoo saat anaknya berulang kali menguap. Matanya tampak begitu berat untuk menonton tayangan kartun kesayangannya.

"Emm." Minwoo mengangguk dengan mata semakin terpejam.

Wonwoo tersenyum melihatnya. Ia meraih tubuh Minwoo dan memangkunya. Seperti biasa, ia akan mengusap punggung anak semata wayangnya dengan lembut. Dan tanpa membutuhkan waktu lama, sepasang onix kembar itu langsung tertutup.

"Kenapa kau begitu mirip dengan Daddy-mu?

Wonwoo memperhatikan wajah Minwoo. Bocah berusia empat tahun itu tampak begitu damai. Wajah polosnya benar-benar semakin menggemaskan saat tengah tertidur.

"Lihatlah! Wajah kalian benar-benar sama. Kenapa tidak menyisakan satu untuk Mommy?"

Ia tidak tahu kenapa Minwoo begitu mirip dengan seseorang yang saat ini entah berada di nama. Pemuda tampan bernama Kim Mingyu yang masih ia cintai. Wajah Minwoo benar-benar mirip dengan Mingyu.

Minwoo adalah anaknya dan Mingyu. Tapi Minwoo seperti meng-copy semua yang ada pada Mingyu. Bibir, mata, hidung, bahkan senyum itu benar-benar seperti milik Mingyu. Hanya kulit yang menurun darinya. Kulit Minwoo putih pucat sepertinya.

"Apa kau takut tidak diakui saat bertemu Daddy-mu suatu hari nanti? Makanya kau benar-benar mirip dengannya?"

Wonwoo tersenyum miris. Meski ia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya, tapi Wonwoo tidak bisa memberikan kesempurnaan seperti anak-anak lainnya. Bahkan ia tidak yakin Mingyu mau mengakui Minwoo sebagai anaknya. Karena Mingyu tidak pernah tahu ada buah cinta mereka setelah kejadian itu.

Setiap melihat wajah Minwoo, Wonwoo merasakan kebahagiaan dan kesedihan secara bersamaan. Bahagia karena bisa memiliki Minwoo meski tidak bisa memiliki Mingyu. Dan sedih karena anaknya tidak akan pernah merasakan kasih sayang orang tua seperti anak-anak lainnya. Meski ia sangat menyayangi Minwoo, ia tahu Minwoo membutuhkan kasih sayang dari seorang ayah.

.

.

Minwoo duduk di kursi dengan mata terus memperhatikan teman-temannya. Anak-anak seusianya tampak begitu bersemangat mengemasi barang-barang. Memasukkan ke dalam tas dan menyampirkan ke pundak.

Ia baru melangkahkan kakinya saat teman-temannya sudah berhamburan keluar. Langkah itu terhenti di depan kelas. Memperhatikan pemandangan yang sama namun berbeda dengannya setiap hari.

Ia sama seperti anak yang lainnya. Seragam mereka tidak ada yang berbeda. Ia mengenakan celana pendek berwarna biru bermotif kotak-kotak. Kemaja putih dengan motif kotak berwarna biru di bagian lengan dan kerahnya. Serta dasi bermotif serupa yang menggantung di lehernya.

Ia sama dengan teman-temannya. Hanya saja , ada pemandangan berbeda yang begitu mencolok. Mereka dijemput oleh ayah dan ibu masing-masing. Tidak sepertinya yang hanya di antar jemput oleh Wonwoo. Atau sesekali Hansol saat pemuda tampan itu tidak sedang kuliah.

"Minwoo-ya!"

Minwoo tersenyum lebar. Menghampiri Wonwoo dengan berlari kecil. Menyambut uluran tangan Wonwoo dan melangkah ke mobil.

"Bagaimana hari ini Minwoo-ya? Apa menyenangkan seperti biasa?" tanya Wonwoo sambil mengemudikan mobilnya.

Ia tersenyum saat anaknya mengangguk. Namun senyum itu perlahan memudar. Ia sadar ada yang berbeda dari raut wajah anaknya.

"Ingin bercerita pada Mommy?"

Wonwoo dengan sabar menunggu anaknya berbicara. Ia tahu Minwoo sedang berpikir untuk memulai pembicaraan. Sifat hati-hatinya menurun pada Minwoo. Ia tidak tahu bagaimana anak sekecil Minwoo bisa ragu-ragu untuk mengungkapkan sesuatu. Minwoo seperti orang dewasa yang berpikir sebelum berbicara.

"Mom, Minwoo punya Daddy?" tanya Minwoo lirih. Ia seolah takut Wonwoo marah karena pertanyaannya.

Pemuda manis itu menahan nafas mendengar pertanyaan anaknya. Setahun yang lalu, Minwoo juga pernah menanyakan soal ayahnya. Namun tetap saja, lidahnya selalu kelu menjawab pertanyaan buah hatinya.

"Tentu saja Minwoo punya Daddy seperti yang lainnya," jawab Wonwoo sambil tersenyum lembut.

Meski ia mencoba untuk tetap tersenyum, namun ia tidak bisa membohongi hatinya. Rasa perih dan ngilu tetap ada setiap memikirkan nasib anaknya yang tidak memiliki seorang ayah.

"Daddy Minwoo seperti apa, Mom?"

.

.

Wonwoo membuka sebuah kotak berwarna coklat tua. Di dalamnya, ada beberapa jenis kotak kecil, surat dan sebuah ponsel berwarna putih. Pemuda bermata rubah itu tidak langsung mengambilnya, hanya diam sambil memandangi ponsel yang sudah lama ia simpan.

Lama berpikir, akhirnya Wonwoo mengeluarkan ponsel putih itu dari dalam kotak. Ponsel yang sudah tidak ia gunakan. Tapi ia masih sering mengaktifkannya saat merindukan Mingyu.

Wonwoo berjalan ke ranjang. Minwoo duduk tenang di atasnya dengan memainkan rubik. Bocah mungil itu sudah selesai mandi dan terlihat begitu tampan.

"Minwoo mau melihat Daddy?"

Seketika, Minwoo langsung meletakkan rubik di tangannya. Sudah lama ia ingin melihat seperti apa ayahnya. Dan ia juga ingin tahu kenapa ayahnya tidak bersama mereka. Teman-temannya di sekolah memiliki ayah dan ibu. Hanya dia yang tidak pernah tahu seperti apa sosok ayahnya.

"Jadi Minu punya Daddy cepelti teman di cekolah? Apa Daddy Minu tampan, Mom?"

Wonwoo tersenyum meski air matanya ingin melesat keluar. Ia tahu Minwoo pasti sedih karena terlihat berbeda dengan teman-teman lainnya. Ia sadar, Minwoo sudah mulai mengerti apa yang ia bicarakan. Dan memang sudah waktunya Minwoo untuk tahu seperti apa ayahnya. Meski ia tidak bersama ayahnya, setidaknya Minwoo tahu kalau ia memiliki seorang ayah.

"Daddy Minwoo sangat tampan."

Wonwoo menyerahkan ponsel putih di tanganya pada Minwoo. Terbiasa menggunakan gadget, membuat Minwoo tidak kesulitan membuka sebuah galeri foto yang ada.

"Ini… Daddy… Minu." Entah pertanyaan atau pernyataan. Tapi Minwoo begitu lirih mengucapkannya. Matanya terus menatap foto seorang laki-laki tampan.

Jari mungilnya menggeser layar. Melihat foto lain dengan orang yang sama. Ada beberapa macam foto Mingyu di dalamnya. Foto dari samping, kejauhan, dan ada juga foto yang menampakkan wajahnya dengan jelas.

"Mom, Minu punya Daddy. Minu tidak cedih lagi. Kalau teman di cekolah beltanya cepelti apa Daddy Minu, Minu akan menunjukkannya Mom."

Tenggorokan Wonwoo tercekat saat Minwoo mengucapkannya dengan suara bergetar. Ia tahu anaknya tengah menahan tangis. Mata Minwoo tampak memerah dan berkaca-kaca.

"Kenapa Minwoo menangis?" tanya Wonwoo sambil membelai rambut anaknya.

"Minu tidak menangic Mom. Tapi mata Minu pelih."

Wonwoo langsung mengangkat Minwoo dan memeluknya. Ia sangat tahu alasan Minwoo menahan tangis. Saat pertama memasuki sekolah, Minwoo pernah berjanji untuk tidak menangis.

Wonwoo bukan berniat memaksa anaknya dewasa sebelum waktunya. Hanya saja, ia tidak ingin Minwoo menangis saat di sekolah. Keharusan bekerja membuatnya tidak bisa menunggu kegiatan anaknya.

"Ingat kenapa Minwoo tidak boleh menangis?" tanya Wonwoo sambil membelai rambut anaknya. Dan Minwoo lansung mengangguk.

"Minu cupelhelo Mommy. Jadi cupelhelo tidak boleh menangic."

.

.

Minwoo kecil mewarnai hasil gambarnya dengan serius. Ia tidak memedulikan keributan teman-temannya. Mata dan tangannya tetap fokus pada hasil gambarnya. Namun kegiatannya terusik saat merasa ada seseorang yang terus memandanginya. Minwoo menolehkan kepalanya. Menatap bingung teman barunya yang terus memperhatikannya.

"Kenapa kau teluc memandangiku cepelti itu?" tanyanya heran. Teman baru bernama Samuel itu menggeleng sambil tersenyum. Dan akhirnya, Minwoo mencoba mengabaikan dan kembali melanjutkan kegiatannya.

"You look like my sister," gumam Samuel masih dengan memperhatikan wajah Minwoo. Sontak, Minwoo langsung menatapnya dengan wajah masam yang sangat lucu.

"Excuce me, what did you cay?" tanyanya tidak terima.

"Woooah… Do you speak English?" Samuel balik bertanya. Ia tampak begitu girang mengetahui Minwoo mengerti apa yang ia maksudkan. Bahkan membalasnya dengan bahasa yang sama.

"Yeah… I can," jawab Minwoo galak. Namun justru membuat Samuel bertepuk tangan heboh. Bocah seusianya itu tertawa senang.

"Why ale you laughing?" tanya Minwoo lagi masih dengan wajah kesalnya.

"You look like my sister." Samuel mencoba mengulang kalimat pertamanya. Kalimat yang semakin membuat Minwoo merasa kesal. Ia tidak suka di samakan dengan wanita. Baginya, dia itu tampan.

"Colly, I didn't heal kleally (Sorry, I didn't hear clearly)," ucap Minwoo ketus sambil berdiri dari duduknya. Membawa buku gambarnya dan pindah ke bangku lainnya.

Samuel cemberut saat ditinggalkan begitu saja. Namun setelahnya ia kembali tersenyum. Membawa buku gambarnya dan mendekati Minwoo. Kemanapun Minwoo pergi, Samuel terus mengikutinya. Sampai akhirnya Minwoo kesal dan memilih mengabaikan anak baru itu.

Seorang guru yang sedari tadi memperhatikan Samuel dan Minwoo hanya memilih diam. Bukan karena ia tidak memedulikan anak didiknya. Tapi ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Apalagi Minwoo berbicara bahasa asing dengan ucapan yang masih cadel.

.

.

Minwoo melangkah perlahan. Memperhatikan teman barunya yang mendapat pelukan seorang laki-laki berpakaian formal. Kaki mungilnya semakin berjalan mendekat. Memperhatikan interaksi ayah dan anak yang selama ini selalu ia lihat.

Teman baru bernama Samuel itu berada dalam gendongan. Berjalan menuju mobil sambil terus berceloteh. Minwoo tetap berjalan dengan mata terus memperhatikan keduanya.

Setelah laki-laki itu mendudukkan Samuel di dalam mobil, Minwoo memberanikan diri untuk semakin mendekat. Kepalanya mendongak guna menatap wajah laki-laki bertubuh tinggi itu.

"Eh!" Laki-laki itu sedikit terkejut mendapati makhluk mungil di sampingnya.

"Kau tampan sekali! Apa kau teman Sam-ie?" tanya laki-laki itu sambil tersenyum.

Minwoo menganggukkan kepalanya. Matanya tidak lepas dari wajah seseorang yang baru kali ini ia temui.

"Kau sedang menunggu Eomma-mu?"

Kali ini Minwoo tidak menjawab. Bibir mungilnya bergetar dengan mata memerah. Membuat laki-laki berkulit tan itu mengerutkan dahinya. Ia tidak tahu apa yang membuat anak kecil itu bersedih.

"A-Ajucci, Appa… Appa Camuel?" tanya Minwoo dengan terbata dan suara bergetar.

Meski bingung, laki-laki itu tetap mengangguk. Dan dahinya semakin berkerut saat bocah yang ia tidak tahu namanya langsung berlari.

"Kenapa dia menahan tangis seperti itu? Apa yang membuatnya sedih?" tanyanya dalam hati. Ia masuk ke dalam mobil saat Minwoo tidak lagi terlihat. Bocah itu berlari kembali ke kelas.

Minwoo kecil berlari ke dalam toilet dan membuka ranselnya. Mengambil sebuah photo yang beberapa hari lalu Wonwoo berikan untuknya.

"Ajucci itu cama dengan Daddy di foto ini," gumamnya.

Matanya semakin memerah mengingat wajah itu. Ia sekuat tenaga menahan air matanya. Karena ia sudah berjanji tidak akan nakal dan menangis.

"Itu Daddy. Minu beltemu Daddy, Mom. Tapi Daddy tidak kenal Minu."

Meski ia selalu mengingat pesan Wonwoo, tapi tetap saja ia hanya anak kecil. Ia akan menangis saat sesuatu membuatnya bersedih. Tangan mungilnya berulang kali mengusap matanya yang semakin memanas. Tanpa izin, liquid bening mengalir perlahan.

"Mom, mata Minu pelih. Di mata Minu banyak ailnya. Minu tidak punya Daddy lagi cekalang, kalena Daddy cudah jadi Daddy olang."

.

.

FIN

Sepertinya, aku mau focus ke ff chaptered dulu (I Hear U, The Winner dan Yang Tersembunyi) kalau salah satu dari tiga ff ini udah end, aku lanjut chaptered lainnya.

Untuk update-an berikutnya, kalian bisa pilih sambungan "Yang Tersembunyi" atau "I Hear U". Tidak boleh pilih dua-duanya.