=Happy Reading=

Hansol berulang kali menghela nafas karena tidak menemukan keberadaan Minwoo. Biasanya bocah tampan itu akan menunggu di taman atau hanya berdiri di depan kelas.

Mencoba bersikap tenang, Hansol kembali mencari Minwoo di tempat yang belum ia jamah. Dan toilet adalah pilihan terakhir. Karena sedari tadi hanya kelas dan ruangan lain yang ia kunjungi.

"Minwoo."

Hansol terkejut melihat Minwoo berjongkok di depan pintu toilet. Memeluk ransel dan menundukkan wajahnya. Saat mendengar suaranya, Minwoo mengangkat wajahnya. Membuat Hansol semakin terperanjat melihat sepasang mata itu memerah. Bahkan Hansol bisa melihat jejak air di pipi putih Minwoo.

"Minwoo-ya, what's wrong with you? Are you feeling blue?" tanya Hansol setelah ikut berjongkok tepat di depan Minwoo. Pemuda kelahiran New York itu mencoba bersikap tenang. Bertanya dengan suara lembut meski ia sudah benar-benar panik melihat Minwoo kecil yang tampak begitu sedih.

"What's going on? Why do you look so sad?" tanya Hansol lagi karena Minwoo tidak mau menjawab. Hanya menundukkan kepalanya dengan wajah sendunya.

"Haah… You are looking down in the mouth now," keluh Hansol sambil memandang wajah Minwoo. Baru kali ini ia melihat bocah pintar itu begitu bersedih. Pancaran mata Minwoo seolah menjelaskan apa yang bocah itu rasakan.

"Are you angry about someone?" Hansol mencoba bertanya hanya sekedar untuk mendapat respon.

"Or… You angry with me?" tanya Hansol lagi. Setelahnya ia terkejut sendiri dengan pertanyaannya. Kini ia sadar karena telat menjemput Minwoo beberapa menit. Namun Hansol hanya bisa menghela nafas saat Minwoo menggeleng lemah.

"Apa dia menginginkan sesuatu?" batin Hansol. Namun selanjutnya ia menggeleng.

"Tapi sepertinya tidak. Minwoo berbeda dari anak-anak lainnya. Dia tidak pernah meminta hal yang aneh-aneh," lanjutnya dalam hati. Hansol kembali berpikir apa yang salah dengan balita tampan itu.

"Atau dia sedang rindu tempat kelahirannya? Tapi itu sangat jauh. Aku butuh tiket pesawat untuk kesana. Atau dia ingin ke Seoul? Itu lebih dekat, hanya beberapa kilo meter, tapi Wonwoo hyung akan memenggal kepalaku."

Lagi-lagi Hansol berperang dengan batinnya sendiri. Karena masih tidak bisa mengerti apa yang Minwoo inginkan, Hansol menyerah untuk menerka-nerka.

"Oke… oke… Hyung tidak akan bertanya macam-macam lagi. Tapi setidaknya bisa Minwoo jelaskan apa yang Minwoo rasakan saat ini?" tanya Hansol. Minwoo masih bertahan dalam diamnya. Menunduk tanpa mau menatap wajahnya.

"I cannot cay that I feel happy," gumam Minwoo yang membuat Hansol memijat dahinya.

"Ya Tuhan baru kali ini aku menemukan balita yang memiliki segudang rahasia. Apa yang Wonwoo hyung lakukan saat mengandung dulu?" monolog Hansol karena frustasi menghadapi Minwoo kecil.

"Itu artinya suasana hati Minwoo tidak dalam keadaan baik-baik saja. Tapi kita harus pulang Minwoo-ya. Kita akan menungggu Mommy pulang dengan bermain di rumah."

Minwoo mengangkat kepalanya mendengar penuturan Hansol. Ia menggeleng dengan mata memerah membuat Hansol semakin bingung.

"Minu ingin beltemu Mommy. Minu tidak mau pulang. Minu mau Mommy," ucap Minwoo dengan suara sedikit bergetar.

"Tapi Mommy masih harus bekerja Minwoo-ya."

"Minu mau beltemu Mommy, Hyung!" kukuh Minwoo dengan keinginannya.

"Oke… oke kita ke tempat kerja Mommy sekarang." Hansol menyerah dan berdiri. Mengangkat Minwoo ke dalam gendongannya dan berjalan menuju mobil.

.

.

Wonwoo menutup ruang kerjanya sembari membalas sapaan pegawai lainnya. Saat akan melangkah, ia terkejut melihat kedatangan dua orang yang begitu ia kenal.

"Minwoo-ya," ucapnya dengan nada penuh kekhawatiran.

Minwoo berlari ke arahnya dengan wajah begitu sedih. Tanpa bertanya, Wonwoo sedikit membungkuk untuk menggendong buah hatinya.

"Mom… hiks… M-Mommy," isak Minwoo dengan memeluk leher Wonwoo erat.

"Ada apa Hansol-ah?" tanya Wonwoo pada Hansol yang menggaruk tengkuknya dan meringis bingung.

"Aku tidak tahu Hyung. Tapi sepertinya ada yang membuatnya bersedih. Minwoo tidak mau menceritakannya padaku. Hyung juga tahu Minwoo seperti apa."

Wonwoo Nampak begitu cemas. Meski begitu, ia tetap mencoba tenang dan membelai punggung anaknya dengan lembut.

"Jeon Wonwoo, bawalah anakmu masuk ke dalam." Keduanya sama-sama menoleh ke asal suara. Seorang pria paruh baya tersenyum dengan setelah formalnya.

"Tapi Sajangnim—"

"Sepertinya dia sedang membutuhkanmu saat ini."

"Terima kasih Sajangnim," ucap Wonwoo sambil menundukkan sedikit kepalanya. Ia bersyukur bisa mendapat bos yang begitu baik di kota Bucheon seperti ini.

Setelah Hansol pergi, Wonwoo membawa Minwoo ke dalam ruangannya. Ruangan yang di dominasi warna putih dan abu-abu. Tidak banyak barang di dalamnya. Hanya satu set meja kerja, lemari yang terisi buku, sofa di sudut ruangan dan tanaman hias tepat di sebelah jendela.

Wonwoo duduk di sofa dengan Minwoo di pangkuannya. Anak semata wayangnya masih menangis meski tidak meraung-raung. Hanya isakan kecil dan bahunya yang terasa basah karena air mata.

"Mommy di sini sayang. Jadi Minwoo jangan bersedih lagi," ucap Wonwoo sambil mengecup kepala Minwoo.

Wonwoo tidak bisa menyembunyikan raut kekhawatirannya. Tapi yang bisa ia lakukan hanya menenangkan Minwoo. Mencoba membuat anaknya merasa nyaman dalam pelukannya.

"Ada yang membuat Minwoo bersedih, hem?" tanyanya lagi yang masih belum mendapat jawaban.

Dan karena tidak ingin memaksa Minwoo untuk berbicara, Wonwoo memilih diam. Menepuk-nepuk punggung Minwoo kecil yang masih terisak.

Mata Wonwoo terasa memanas melihat buah hatinya tampak begitu sedih. Baru pertama kali ia mendapati Minwoo pulang sekolah dalam keadaan menangis. Setelah Minwoo membuat janji untuk tidak menangis, anaknya yang memiliki wajah mirip dengan Mingyu itu tidak pernah menangis. Hanya sesekali merajuk di rumah saat keinginannnya tidak terpenuhi.

Beberapa menit kemudian, Minwoo mengangkat wajahnya. Mendongak dan menatap Wonwoo dengan wajah penuh air mata.

"Mom, kenapa di cini cakit Mom? Lacanya cecak," tanyanya dengan suara parau sambil menyentuh dadanya. Perlahan, air matanya kembali mengalir. Membasahi wajah tampannya yang membuat hati Wonwoo semakin berdenyut.

Tangan Wonwoo terulur untuk menyentuh dada anaknya. Mengusapnya pelan dan mencoba tersenyum. Meski air mata yang ia tahan serasa ingin meluncur bebas.

"Itu karena Minwoo merasa sedih. Apapun yang membuat Minwoo sedih, lebih baik sekarang lupakan. Di sini ada Mommy, jadi Minwoo tidak boleh sedih lagi."

Minwoo mengangguk dan tersenyum. Membiarkan Wonwoo menghapus air mata di wajahnya sambil memandangi wajah Wonwoo yang tampak sedih.

"Mommy juga tidak boleh cedih. Cupaya di cini tidak cakit dan cecak." Minwoo mengusap dada Wonwoo seperti yang Wonwoo lakukan padanya.

"Mommy tidak akan sedih. Jadi sekarang sudah mau bercerita kenapa anak Mommy yang tampan ini menangis? Siapa yang sudah berani membuat superhero Mommy bersedih?"

Minwoo menunduk. Ia merasa bersalah tidak bisa jujur pada ibunya. Mingyu dan Samuel yang membuatnya bersedih, sama sekali tidak ingin ia beritahukan pada Wonwoo.

Menyadari anaknya tidak mau berterus terang, Wonwoo mencoba tersenyum. Ia memang tidak pernah memaksa anaknya untuk berbicara saat tidak ingin. Karena Wonwoo tahu, Minwoo akan bercerita saat bocah mungil itu merasa lebih baik.

"Baiklah kalau Minwoo tidak mau berbagi dengan Mommy, tapi sekarang—"

"Mom, Minu cayang Mommy. Cangat cayang Mommy."

Wonwoo langsung bungkam. Bukan karena Minwoo mengatakan sayang untuknya, tapi mata anaknya memancarkan luka dan kesedihan. Ia tidak tahu apa yang membuat anaknya begitu bersedih.

Minwoo berbeda dengan anak seusianya. Selain karena begitu cerdas, Minwoo terbiasa mandiri. Ia tampak lebih dewasa dibandingkan anak seusianya. Membuat Wonwoo selalu merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang berlebih.

"Mommy lebih sayang Minwoo," jawab Wonwoo. Lagi-lagi ia menampilkan senyumannya.

"Minu janji tidak akan nakal dan membuat Mommy cedih. Mommy adalah Mommy Minu. Dan Minu adalah anak Mommy. Minu tidak akan jadi anak olang. Minu juga janji tidak akan pelnah meninggalkan Mommy cendili."

Wonwoo tidak bisa untuk tidak tersentuh. Meski hanya kalimat biasa, janji biasa, namun begitu bermakna bagi Wonwoo. Ucapan Minwoo membuatnya tidak membutuhkan apapun selain anaknya.

Dengan mata berair, Wonwoo menarik Minwoo ke dalam pelukannya. Tersenyum penuh haru karena diberikan malaikat kecil yang begitu istimewa.

"Minwoo anak Mommy. Dan selamanya akan seperti itu," ucapnya sambil menciumi pucuk kepala anaknya.

"Sekarang Minwoo harus pasang wajah ceria dan senyum cerah. Kita ke dapur dan menemui Ryeowook ahjussi. Kita lihat masakan spesial apa yang akan Ryeowook ahjussi berikan untuk superhero tampan ini."

Minwoo tersenyum dalam gendongan Wonwoo. Menampakkan deretan gigi susunya yang tampak begitu rapi. Ia sangat suka saat bertemu dengan salah satu chef yang begitu ramah. Karena ia selalu di masakkan makanan enak dan berbeda setiap ia berkunjung.

.

.

"Good morning Minwoo-ya!"

Minwoo menolehkan kepalanya ke samping. Dan raut wajahnya langsung berubah menyadari Samuel yang menyapanya. Tiba-tiba kesedihan itu muncul kembali. Bayangan Samuel tersenyum senang dalam gendongan Mingyu langsung terekam di pikirannya.

"How are you?" tanya Samuel semangat dengan wajah cerianya.

Namun Minwoo enggan menjawab. Hanya berjalan menuju kelasnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan tampak enggan untuk menatap teman sekelasnya.

"Minwoo-ya, you speak English very well. Where did you learn English?" tanya Samuel lagi penasaran. Ia kembali teringat saat Minwoo mengerti apa yang ia ucapkan. Bahkan membalasnya menggunakan bahasa Inggris. Ia kira, teman-teman barunya tidak akan ada yang mengerti Bahasa Inggris.

"And, where do you live?"

Masih seperti sebelumnya, Minwoo memilih menutup bibir mungilnya rapat-rapat. Ia mempercepat langkahnya. Meninggalkan Samuel yang memasang wajah cemberut karena pertanyaannya diabaikan.

Di dalam kelas, Samuel masih memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Namun tidak ada satupun yang Minwoo jawab. Meski begitu, Samuel tampak tidak menyerah. Sepertinya siswa baru itu terlanjur menyukai Minwoo. Berharap Minwoo mau menjadi temannya.

Saat memasuki jam istirahat, Minwoo tidak langsung beranjak. Bocah berkulit putih itu hanya diam memandangi sebuah sampul buku yang terletak tidak jauh darinya. Seorang laki-laki dewasa, wanita dan anak kecil di tengah-tengah mereka.

"Do you like the book?" tanya Samuel tiba-tiba saat memperhatikan arah mata Minwoo.

"I don't like it!" jawab Minwoo cepat dan langsung mengalihkan pandangannya.

"Daddy would lathel love you than me. Bukan hanya tidak cayang, Daddy juga tidak mengenali Minu. Daddy cudah jadi Daddy olang, jadi tidak akan mau mengingat Minu," gumam Minwoo dengan wajah sendunya.

"Why did you say that? I don't understand." Samuel kembali bertanya dengan raut bingung. Meski ia tahu apa arti dari bahasa yang Minwoo gunakan, tapi ia tidak mengerti apa maksudnya.

"Minwoo-ya, are you okay?" dan lagi-lagi pertanyaan Samuel enggan Minwoo jawab.

Teman-teman lainnya bercanda dan saling kejar-kejaran. Tapi Minwoo memilih duduk tenang di bangkunya. Sesekali ikut memperhatikan kegaduhan yang diciptakan teman-temannya. Samuel yang terus mengoceh di sampingnya ia abaikan.

"Kata Mommy Minu tidak boleh membenci olang. Tapi Minu tidak mau belteman dengannya. I don't like him. Apa Minu cudah menjadi anak yang jahat, Mom?" batin Minwoo sambil mengerjapkan matanya. Menghalau matanya yang tiba-tiba terasa memanas.

Ia teringat janjinya dengan Wonwoo. Janji menjadi anak yang baik dan tidak akan mengecewakannya. Ia takut membuat Wonwoo bersedih ia menjadi anak yang nakal karena tidak ingin berteman dengan Samuel. Tapi ia hanyalah anak kecil. Yang tidak bisa berpura-pura baik dengan seseorang yang ia yakini merebut ayahnya.

"Minwoo-ya, what's wrong with you? What do you look so sad about?"

"Nevel mind," jawab Minwoo seadanya. Namun seolah pantang menyerah, Samuel masih bertanya tentang banyak hal.

Bocah berwajah tampan itu berulang kali menghindari Samuel. Berpindah saat teman seusianya itu mendekat. Dan memalingkan wajah saat Samuel mencoba bercanda dan menunjukkan banyak hal padanya. Tapi tetap saja Samuel tidak mengerti kalau Minwoo tidak ingin berteman dengannya.

"Jangan ganggu Minu! Minu tidak mau belteman denganmu."

Samuel terperanjat. Bukan karena Minwoo menaikkan suaranya beberapa oktaf. Bukan juga karena Minwoo menggunakan bahasa yang tidak ia mengerti. Tapi Samuel terkejut melihat bibir Minwoo yang bergetar. Matanya tampak memerah seolah siap untuk menumpahkan cairan bening.

"Minwoo-ya," gumam Samuel sambil terus memperhatikan Minwoo yang menjauh darinya.

"Kenapa Minwoo tiba-tiba marah? Apa Sam-ie membuat salah?" batin Samuel sambil terus memperhatikan Minwoo. Namun beberapa detik kemudian ia tersenyum.

"Mungkin Minwoo sedang bersedih. Nanti Sam-ie akan mengajaknya melihat kelinci supaya Minwoo tidak bersedih lagi," ucapnya semangat.

.

.

Para siswa berhamburan saat jam pelajaran berakhir. Keluar dari kelas, mereka sudah disambut senyuman dan pelukan dari orang tua mereka. Namun tidak dengan Minwoo. Bocah tampan itu tahu Wonwoo akan terlambat menjemputnya. Ia hanya diam memperhatikan teman-temannya bersama orang tua masing-masing.

"Minwoo-ya di sana ada kelinci yang sangat lucu."

Minwoo tersentak mendengar suara Samuel. Bukan karena Samuel tidak menggunakan bahasa Inggris, tapi suara Samuel yang tiba-tiba mengejutkannya.

"Let's go have a look!"

Samuel menggenggam sebelah tangan Minwoo. Mengajaknya ke tempat mereka bisa melihat kelinci. Namun Minwoo menolak. Bergeming di tempat setelah menghempaskan tangan Samuel.

"Why?" tanya Samuel sambil memiringkan kepalanya bingung. Yang ia tahu anak-anak seusianya begitu menyukai binatang berbulu itu.

"I don't want it!"

Minwoo kecil memilih menghindar, tapi lagi-lagi Samuel tidak mudah menyerah. Ia kembali menggenggam tangan Minwoo dan mengajaknya bersamanya.

"Minwoo pasti akan suka. Sam-ie tidak mau melihat Minwoo sedih terus."

Hanya ekspresi kesal yang bisa Minwoo tunjukkan. Ia sudah berulang kali mengatakan tidak ingin berteman. Terus menghindari Samuel dan tidak mau menatapnya. Tapi siswa baru itu seolah tidak mengerti ucapannya.

"Minwoo kenapa tiba-tiba diam terus seperti ini? Apa Sam-ie melakukan kesalahan? Sam-ie yang membuat Minwoo bersedih?" tanya Samuel sambil merentangkan tangannya. Menghadang Minwoo yang akan beranjak menjauhinya.

"Jangan dekati Minu! Minu tidak mau menjadi anak yang cemakin jahat. Minu tidak mau membuat Mommy cedih. Camuel pelgi dali cini!"

Untuk kedua kalinya Samuel terkejut mendengar penuturan Minwoo. Ia tidak tahu letak kesalahannya. Tapi tiba-tiba Minwoo memintanya menjauh. Padahal yang ia tahu, Minwoo anak yang begitu ramah pada siapapun. Bahkan ia masih mengingat saat Minwoo menyodorkan buku gambarnya saat Samuel lupa membawanya.

Samuel berlari. Mengejar Minwoo yang semakin menjauhinya. Ia kembali merentangkan tangannya di depan Minwoo.

"Tapi kenapa Sam-ie tidak boleh dekat dengan Minwoo? Sam-ie ingin berteman dengan Minwoo."

"Di cini banyak teman. Jadi belteman dengan yang lain caja. Minu mau cendili."

Samuel semakin kebingungan karena mata Minwoo semakin memerah. Ia tidak tahu apa yang membuat teman seusianya itu begitu bersedih. Bahkan terlihat seperti marah dengannya.

"Sam-ie tidak akan pergi sebelum Minwoo mau berteman dengan Sam-ie," ucap Samuel tetap teguh dengan pendiriannya.

Ia hanya anak kecil yang tidak mengerti kondisi. Yang ia tahu, ia menyukai Minwoo dan ingin berteman dengannya. Meski Minwoo memintanya menjauh, tapi Samuel tetap ingin berteman dengannya.

"Pelgi dali cini! Minu mau menunggu Mommy di cini cendili," bentak Minwoo namun hanya ditanggapi gelengan Samuel.

"Appa Sam-ie akan datang menjemput. Minwoo ikut saja dengan Sam-ie."

Samuel meraih tangan Minwoo. Mengajaknya menunggu sang ayah bersama-sama. Dan lagi-lagi penolakan yang Minwoo berikan. Ia bertahan di tempatnya sambil mencoba melepas tangan Samuel yang menggenggam tangannya.

"Lepackan tangan Minu!"

"Minu harus ikut dengan Sam-ie."

"Tidak mau! Minu mau menunggu Mommy di cini. Pelgi dali cini."

"Sam-ie tidak mau Minwoo kesepian. Ayo bersama Appa Sam-ie menunggu Mommy Minwoo."

"Minu tidak mau belcama Camuel. Minu tidak mau beteman dengan Camuel."

Minwoo terus menghindar, sedangkan Samuel terus menggenggam tangannya untuk pergi bersama. Kedua bocah berseragam sekolah itu saling tarik dan dorong.

Bruk…

"Akh…."

Dan pada akhirnya, Samuel terjerembab karena Minwoo tanpa sengaja mendorongnya terlalu kuat. Minwoo hanya mencoba menjauhkan Samuel dan melepaskan tangannya. Tapi justru membuat teman sekelasnya itu terjatuh.

"Ya Tuhan, Sam-ie."

Samuel masih di tempatnya terjatuh dan meringis kesakitan. Ia baru bisa berdiri saat seseorang yang ia tunggu-tunggu menghampirinya.

"Coba Appa lihat mana yang terluka."

Laki-laki bertubuh tegap berpakaian formal langsung memeriksa tubuh Samuel. Wajahnya tampak begitu cemas. Sedangkan Minwoo hanya terdiam melihat luka di siku teman sekelasnya.

"Sakit Appa," keluh Samuel sambil menunjukkan sikunya yang terluka.

"Kita akan segera mengobatinya."

Laki-laki itu meniup siku Samuel dengan sangat hati-hati. Dan lagi-lagi Minwoo hanya diam melihat pemandangan di depannya. Wajahnya berubah semakin sendu saat seseorang yang ia tahu sebagai ayahnya tampak begitu mengkhawatirkan Samuel.

"Ini Daddy Minu kan, Mom?" batin Minwoo sambil terus memandangi wajah Mingyu.

"Apa yang kau lakukan pada Sam-ie? Kenapa kau melukainya?" bentak Mingyu.

Tubuh Minwoo kecil menegang. Ia hanya bisa menunduk dan meremat kedua tangannya. Suara Mingyu yang begitu dingin membuatnya takut.

"Bukannya kalian sudah diajarkan untuk tidak berbuah nakal dengan teman? Appa dan Eomma-mu tidak mengajarimu untuk selalu berbuat baik dengan orang lain?" tanya Mingyu lagi dengan suara dinginnya.

Minwoo tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam dengan tubuh semakin menegang. Namun perlahan-lahan, ia mencoba memberanikan mengangkat kepalanya. Menatap wajah ayahnya yang tepat berdiri di depannya.

Hati Minwoo mencelos melihat ekspresi yang Mingyu tunjukkan. Marah dan kesal yang menjadi satu. Ekspresi yang belum pernah Wonwoo tunjukkan padanya. Membuatnya merasakan takut dan sedih secara bersamaan.

"Daddy memalahi Minu, Mom. Daddy membenci Minu kalena Minu anak nakal," ucap Minwoo dalam hati sambil kembali menunduk. Menghapus air mata dengan tangan mungilnya yang tiba-tiba mengalir deras di pipi putihnya.

"Appa, jangan memarahi Minwoo. Minwoo tidak salah," bela Samuel saat melihat teman sekelasnya menitikkan air mata.

"Appa hanya ingin memberi tahu teman Sam-ie untuk tidak berbuat nakal lagi," jawab Mingyu yang masih belum bisa meredakan rasa kesalnya.

"M-Maaf… Ajucci," ucap Minwoo dengan suara paraunya. Bocah berusia empat tahun itu membungkukkan badannya meminta maaf di depan Mingyu. Ia sekuat tenaga menahan isakannya.

"Minu… Minu memang nakal. Tapi bukan calah M-Mommy. Minu yang tidak bica menepati janji. Maafkan Minu kalena cudah… cudah… nakal dan membuat Camuel bedalah"

Setelahnya, Minwoo langsung berbalik masih dengan menundukkan kepalanya. Sedangkan Mingyu tertegun mendengar jawaban teman sekelas anaknya. Tiba-tiba ia merasakan sedih dan bersalah yang tidak bisa ia ungkapkan.

Minwoo berjalan dengan perlahan di sekolah yang sudah mulai sepi. Ia berjalan ke taman tempat biasa menunggu Wonwoo menjemputnya.

"Mommy, Daddy balu caja malah. Daddy memalahi Minu Mom. Minu jadi cedih."

Sambil duduk di bangku taman, Minwoo berulang kali menghapus air matanya. Tangan mungilnya tidak mampu menghilangkan liquid bening yang mengalir begitu deras.

"Mata Minu pelih. Ail dali mata Minu tidak mau belhenti. Bolehkan Mom Minu mengelualkan ail dali mata Minu?"

Minwoo tidak ingin menangis. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya menghentikan air matanya. Rasanya begitu sedih dan menyesakkan. Membuat cairan itu terus meluncur bebas tanpa seizinnya.

Kalimat Mingyu kembali perputar di ingatannya. Kata-kata anak nakal dan janjinya dengan Wonwoo membuat dadanya semakin sesak. Yang semakin membuatnya sedih, bukan hanya karena ayah yang tidak mengenalinya memarahinya, tapi ia takut membuat Wonwoo bersedih.

"Minu cudah jadi anak yang cangat nakal. Mommy pacti cedih. Minu cudah membuat Mommy cedih. Maafkan Minu Mom."

Minwoo hanya bisa menunduk dan menangis. Bayangan Wonwoo bersedih karenanya membuatnya semakin terluka. Saat ini ia hanya bisa berharap bukan Wonwoo yang menjemputnya. Karena ia tidak ingin Wonwoo melihatnya menangis seperti saat ini.

"Daddy... hiks... memalahi Minu kalena hali ini Minu nakal hiks…. Daddy pacti benci dengan Minu. Tapi M-Mommy hiks… tidak akan membenci Minu kan Mom? Mommy tidak akan malah kan? Maafkan Minu Mom dan jangan malah cepelti Daddy memalahi Minu. Kalena Minu cuma punya Mommy."

Minwoo semakin terisak di tempat duduknya. Ia semakin takut Wonwoo akan memarahinya seperti yang Mingyu lakukan. Selama ini Wonwoo tidak pernah marah apalagi menunjukkan ekspresi kesal. Ia hanya takut membuat satu-satunya yang ia miliki sedih dan kecewa padanya.

= TBC =

Bagi kalian yang udah baca semua fict aku, pasti kalian tahu hampir semuanya ringan-ringan. Aku kurang bisa buat fict yang menyentuh, sedih-sedih atau menguras air mata. Jadi maaf kalau feel-nya ga dapet.

'I Hear U' chap dua sudah di post beberapa hari yang lalu. Dan satu chap lagi, 'I Hear U' selesai. Sedangkan 'Yang Tersembunyi' dua chap lagi selesai. Setelah keduanya selesai, baru aku lanjut The Winner.

So, kalian pilih yang mana? I hear U atau Yang Tersembunyi?