=Selamat Membaca=
.
.
Minwoo kecil duduk di sofa dengan seragam membalut tubuhnya. Mata beningnya berulang kali memperhatikan Wonwoo. Sang ibu tampak mondar-mandir. Sangat terlihat Wonwoo begitu terburu-buru.
Sepasang mata itu tidak henti memperhatikan pergerakan sang ibu. Tanpa bertanya, ia tahu Wonwoo kelelahan dan masih mengantuk. Berulang kali ia terjaga dan masih mendapati Wonwoo berkutat dengan pekerjaannya.
"Kasihan mommy," batinnya. Tiba-tiba ia teringat percakapannya dengan Hansol saat ia belum bersekolah.
"Hyung, kenapa mommy cetiap hali haluc bekeja? Kenapa mommy tidak cepelti teman-teman Minu yang di lumah caja? Mommy teman-teman Minu tidak bekeja cepelti mommy."
"Karena mommy Minwoo harus mencari uang. Supaya bisa membelikan makanan yang enak-enak untuk Minwoo, membelikan mainan dan pakaian. Kalau mommy tidak bekerja, siapa yang memberikan semuanya untuk Minwoo?"
"Jadi kalena Minu tidak punya Daddy cepelti teman-teman? Kalena Minu cuma punya mommy, jadi mommy yang bekeja? Kalau Daddy ada di cini, mommy tidak bekeja lagi, Hyung?"
"A-Ah… itu… jadi sebaiknya Minwoo juga membantu mommy."
"Minu membantu mommy? Tapi Minu macih kecil. Minu belum bica bekeja."
"Minwoo tidak harus bekerja. Minwoo cukup menjadi anak yang baik. Jangan pernah membuat mommy sedih. Karena kalau Minwoo selalu menjadi anak yang baik, rasa lelah mommy karena bekerja akan berkurang."
Bocah tampan itu sedih saat teringat pesan Hansol untuknya. Ia selalu berusaha menjadi anak yang baik. Tapi kenyataannya ia sudah menjadi anak yang nakal. Saat ini, Minwoo menilai dirinya adalah anak yang nakal. Menolak berteman dengan Samuel, membuat terluka, bahkan hingga dimarahi oleh ayah kandungnya.
"Oh ya Tuhan ponselku." Wonwoo kembali bergegas ke kamarnya. Mengambil ponselnya yang sejak kemarin ia non aktifkan.
Alis pemuda bermarga Jeon itu berkerut membaca sebuah pesan yang masuk. Beberapa detik kemudian, jarinya menari di layar dan menempelkan ponselnya di telinga.
"Songsaengnim maafkan saya karena baru bisa menghubungi Anda. Beberapa hari ini saya sangat sibuk. Bahkan saya sampai melupakan ponsel saya."
Wonwoo tersenyum tipis mendengar jawaban dari seberang sana. Namun senyum itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi keruh. Ia memejamkan mata dan memijat pelipisnya.
Saat sambungan itu berakhir, Wonwoo masih bergeming di tempatnya. Ia berulang kali menghembuskan nafas frustasi. Minwoo yang sedari tadi memperhatikan Wonwoo tidak berbicara sepatah katapun. Ia tahu ibunya tidak sedang baik-baik saja.
"Jeon Minwoo."
Minwoo kecil tersentak mendengar panggilan itu. Terasa asing dan tidak nyaman di telinganya. Tidak sehangat dan selembut biasanya. Membuat bocah kecil itu langsung ketakutan. Namun ia tetap mencoba menatap mata sang ibu meski masih tidak bersuara.
"Apa yang Minwoo lakukan di sekolah? Kenapa Minwoo melukai teman Minwoo? Bukannya Minwoo sudah berjanji pada Mommy untuk menjadi anak yang baik?"
Kedua tangan mungil itu saling meremat. Ia tidak menyangka Wonwoo akan tahu apa yang ia lakukan di sekolah. Bocah tampan itu ingin menjawab. Namun tidak ada satu katapun yang berhasil lolos dari bibir mungilnya.
"Minwoo membuat mommy kecewa. Mommy benar-benar kecewa."
Sesak. Rasa itu yang langsung menyergap hatinya. Wonwoo tidak membentaknya seperti Mingyu. Wonwoo tidak memandangnya penuh kemarahan dan emosi. Tapi kali ini, rasanya jauh lebih menyakitkan. Bahkan jauh lebih menyesakkan dibandingkan saat Mingyu memarahinya kemarin.
Minwoo kecil tidak bisa berbicara sepatah katapun. Ia tidak bisa mengucapkan maaf seperti yang ia ucapkan pada ayahnya. Bahkan air mata. Kedua mata bening itu sama sekali tidak mengeluarkan air mata.
Karena ia tahu, tangisannya hanya menambah kesedihan Wonwoo. Air mata yang ia keluarkan hanya akan menyakitkan ibunya. Ia mencoba menepati janjinya untuk tidak menangis. Meski sebenarnya, bocah mungil itu merasakan sedih yang teramat sangat. Yang bisa ia lakukan hanya menunduk.
"Minwoo pergilah ke sekolah bersama Hansol hyung."
Wonwoo langsung beranjak dari tempatnya. Melangkah keluar tanpa mengatakan sepatah katapun. Bukan karena ia membenci Minwoo. Apalagi tidak memedulikan buah hatinya. Tapi ia takut semakin melukai hati si kecil. Lelah dan beban pikiran yang ia rasakan, membuatnya takut melampiaskan emosinya pada Minwoo.
Tepat saat Wonwoo menghilang dari balik pintu, air mata yang sejak tadi Minwoo tahan langsung meluncur. Pipi gembilnya langsung basah karena air matanya. Dan lagi-lagi ia teringat saat Mingyu memarahinya dan memandangnya dengan wajah emosi.
"D-Daddy… hiks tidak ingat Minu. Daddy malah hiks… kalena Minu nakal. Daddy juga benci dengan Minu. Dan cekalang hiks… cekalang Mommy juga malah. Minu cudah membuat Mommy cedih. Cemuanya malah kalena Minu anak yang nakal. Kalau Mommy tidak cayang Minu lagi, Minu di cayang ciapa?"
.
.
"Halmonie, Sam-ie punya teman yang sangat mirip dengan noona."
Seorang laki-laki tampan yang fokus pada kemudi mengalihkan pandangannya. Menatap sepasang nenek dan cucu yang duduk di kursi belakang.
"Seperti noona?" tanya wanita paruh baya itu bingung.
"Iya, foto yang ada di album itu Halmonie."
Seketika, wanita itu langsung menutup mulutnya agar tidak terbahak. Sedangkan Mingyu hanya bisa memasang wajah masamnya.
"Sudah aku bilang bakar saja foto itu eomma."
"Jadi dia seperti noona?" tanyanya lagi dan mengabaikan ucapan anaknya.
"Sangat mirip. Tapi appa sudah membuatnya bersedih Halmonie," ucap Samuel sedih. Ia teringat saat Mingyu memarahi Minwoo. Padahal ia yang merasa bersalah karena memaksa teman sekelasnya itu.
Suasana di mobil itu hening beberapa detik. Ibu Mingyu sudah tahu apa yang terjadi. Mingyu sudah menceritakan semuanya padanya. Dan pagi ini mereka menuju sekolah Samuel. Menyaksikan Samuel yang akan tampil di depan kelas.
.
.
Hansol berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan Minwoo. Memegang kedua pundak bocah mungil itu yang juga menatapnya.
"Don't you trust me?"
Minwoo menunduk mendengar pertanyaan Hansol. Selama perjalanan menuju sekolah, Hansol berulang kali bertanya padanya. Tapi Minwoo hanya memilih menggelengkan kepalanya.
"Hyung… mommy… mommy tidak membenci Minu kan?" tanyanya lirih.
Hansol terdiam sejenak. Ia sepertinya mulai mengerti apa yang terjadi. Pagi ini Wonwoo tampak berbeda. Biasanya ia akan menemani Minwoo sampai bocah itu masuk ke dalam mobilnya. Tapi kali ini Wonwoo justru pergi terlebih dahulu. Hanya memintanya mengantar Minwoo melalui pesan singkat.
"Mommy baru saja membuat Minwoo sedih?" tanya Hansol yang langsung dijawab gelengan.
"Mommy tidak calah. Minu yang cudah menjadi anak nakal."
Pemuda kelahiran New York itu tersenyum. Ia sangat tahu Minwoo begitu menyayangi Wonwoo. Bahkan untuk anak seusia mereka, Minwoo begitu berbakti dan penyayang.
"Mommy tidak akan marah dalam waktu yang lama. Bukannya Minwoo sendiri yang mengatakan mommy adalah orang yang paling baik sedunia? Minwoo yang mengatakan mommy seperti malaikat yang tidak pernah marah."
Minwoo ingat itu. Baginya Wonwoo adalah orang yang paling baik sedunia. Seseorang yang selalu menemaninya saat tidur. Menyapanya dengan senyuman setiap ia membuka mata. Memberikan pelukan hangat saat ia ketakutan. Dan selalu menuruti semua keinginannya meski Wonwoo begitu lelah dengan pekerjaannya.
"Eng… mommy adalah malaikat," jawab Minwoo sambil tersenyum.
"Jadi jangan bersedih lagi. Hari ini Minwoo akan tampil di depan teman-teman menunjukkan hasil gambar Minwoo kan?" tanya Hansol yang lagi-lagi dibalas anggukan.
"Tapi gambal Minu tidak cebaik gambal teman-teman."
"Don't worry. You can do it."
Minwoo kecil tersenyum cerah. Menampilkan deretan gigi susunya yang tampak rapi. Hansol tidak bisa tidak merasa gemas dengan senyuman itu. Menarik hidungnya pelan sebelum Minwoo berlari ke kelasnya.
Di depan kelas, beberapa orang tua berdiri untuk menyaksikan penampilan anaknya. Sepertinya hanya bocah tampan itu yang tidak di dampingi orang tua. Namun tidak membuat Minwoo bersedih. Karena ia tahu, ia tidak seperti teman-temannya. Ia hanya memiliki Wonwoo yang harus bekerja keras setiap hari.
"Minwoo-ya, why you come late?"
Minwoo mengalihkan pandangannya pada suara yang tidak asing. Bocah berwajah tampan itu memandangi wajah Samuel beberapa detik. Setelahnya memilih menghindar dan duduk tenang di bangkunya.
Samuel yang lagi-lagi tidak diacuhkan memanyunkan bibirnya. Dan kali ini ia memilih bergabung dengan teman-teman lainnya. Tidak terus mendekati Minwoo seperti yang ia lakukan sebelumnya.
"Kau menggambal apa, Sungie-ya?"
"Menggambal pesawat. Sungie ingin menjadi pilot sepelti appa. Kalau kau menggambal apa Chan-ie?"
"Apa itu dokter Chan-ah?"
"Iya ini doktel. Chan-ie juga ingin sepelti appa."
"Kalau Hyukie ingin jadi polisi. Menangkap penjahat seperti appa. Hyukie ingin cepat besar supaya menjadi polisi yang hebat seperti appa."
"Appa Hyukie polici? Waaah kelen."
"Appa Hyukie datang untuk melihat Hyukie? Di mana? Chan-ie ingin melihat."
"Itu appa Hyukie."
Minwoo kecil ikut menoleh ke arah pintu. Di sana, berdiri seorang laki-laki yang tengah melambai dan tersenyum hangat. Meski Minwoo tidak bergabung dengan teman-teman lainnya, tapi bocah tampan itu mendengarkan percakapan mereka.
Bocah berusia empat tahun itu menunduk memandangi ranselnya. Tangan mungilnya membuka resletingnya perlahan. Wajahnya berubah sendu melihat foto ayahnya yang selalu ia bawa di dalam ranselnya.
"Minu juga punya daddy cepelti meleka," batinnya.
Minwoo ingat alasan kenapa ia selalu membawa foto Mingyu. Tadinya ia ingin menunjukkan pada temannya. Ia ingin teman-temannya tahu kalau ia juga memiliki seorang ayah. Tapi sekarang ia sudah tidak bisa menunjukkannya lagi. Karena ayahnya sudah menjadi ayah orang lain.
"Daddy cekalang cudah jadi daddy camuel. Bukan daddy Minu."
.
.
"Eomma lihat! Kini giliran Sam-ie."
Wanita paruh baya yang sedari tadi memperhatikan cucunya mengangguk. Ia juga tersenyum melihat Samuel berdiri di depan kelas.
"Aigoo… dia sudah besar Mingyu-ya. Dia semakin mirip dengan daddy-nya."
Mingyu menyetujui pendapat ibunya. Samuel semakin bertumbuh besar. Padahal ia masih mengingat saat menggendong Samuel yang berada dalam balutan selimut.
"Aigoo… dia ingin jadi penyanyi," ucap wanita itu sambil tersenyum bangga. Sedangkan Mingyu masih fokus mengabadikan penampilan Samuel dengan ponselnya.
Tepuk tangan mengakhiri penampilan Samuel di depan sana. Mingyu mengacungkan jempolnya saat Samuel melihat ke arahnya. Sembari tersenyum bangga pada jagoannya.
"Eomma bangga dengan Sam-ie. Dia begitu berani tampil di depan umum. Dia tumbuh seperti harapan kita Mingyu-ya."
Wanita itu menoleh saat Mingyu tidak membalas ucapannya. Justru terfokus pada seorang anak kecil yang berjalan ke depan kelas. Ibu Mingyu memandangi anak itu dan anaknya bergantian.
"Apa anak itu yang kau maksud Mingyu-ya? Kau memarahi anak selucu itu?" tanya sang ibu.
"Aku tidak bisa berpikir jernih Eomma. Dan Eomma juga tahu aku sekarang benar-benar menyesal. Tidak seharusnya aku memarahi anak itu," ucap Mingyu sambil terus memperhatikan Minwoo di depan kelas.
Di depan kelas, Minwoo tidak memperhatikan para orang tua yang hadir. Karena ia tahu Wonwoo tidak akan pernah ada di antara mereka. Bahkan Wonwoo tidak tahu ia akan tampil di depan kelas. Minwoo sengaja tidak memberi tahu ibunya saat tahu Wonwoo tidak tertidur semalaman.
Minwoo kecil menunjukkan hasil gambarnya pada teman-temannya. Ia memposisikan hasil gambarnya di depan dadanya.
"Itu superhero. Apa appa Minwoo superhero?" tanya salah satu temannya penasaran.
"Ini bukan daddy. Ini Minu," jawab bocah mungil itu kepada teman-temannya.
"Minu tidak ingin jadi cepelti daddy," lanjutnya lagi yang membuat semua yang ada di kelas itu saling bertanya. Bahkan teman-temannya bingung dengan jawaban Minwoo. Mereka semua menggambar dan ingin jadi seperti ayah mereka. Meski ada beberapa yang memiliki cita-cita sendiri.
"Kenapa Minwoo tidak ingin seperti daddy?" tanya gurunya yang berdiri tidak jauh dari Minwoo.
"Karena Minu cayang mommy." Jawaban yang lagi-lagi menjadi tanda tanya semua yang mendengar ucapannya.
"Daddy pelgi jauh dan tidak mau betemu Minu dan Mommy. Cekalang daddy cudah jadi daddy olang. Daddy juga membialkan mommy bekeja cetiap hali untuk Minu. Mommy kacihan kalena kelelahan cetiap hali." Minwoo menjeda sejenak kalimatnya. Wajahnya berubah sendu saat teringat Wonwoo begitu kelelahan dan tidak memiliki waktu untuk tidur.
"Minu ingin cepat becal dan jadi cupelhelo untuk mommy. Minu akan menjaga mommy dali olang jahat. Minu tidak akan membuat mommy cedih. Dan kalau Minu cudah becal, mommy tidak akan kelelahan mencali uang kalena Minu yang akan bekeja."
Kalimat polosnya membuat yang mendengar terenyuh. Tapi Minwoo kecil mengucapkan dengan senyuman di wajah tampannya. Karena ia senang saat membayangkan tumbuh dewasa dan menjaga Wonwoo.
"Minu tidak mau cepelti daddy yang cudah jadi daddy olang. Minu anak mommy dan tidak akan jadi anak olang. Minu juga tidak akan pelgi jauh cepelti daddy. Minu akan menemani mommy cupaya mommy tidak kecepian. Minu ingin jadi cupelhelo caja, tidak mau cepelti daddy. Dan Minu tidak akan jadi anak yang nakal lagi cupaya mommy tidak malah dan membenci Minu. Minu cuma punya mommy. Tidak punya daddy yang cayang Minu. Jadi jangan malah lagi mom. Minu akan jadi cupelhelo mommy yang baik. Kalena Minu cayang mommy."
Para ibu yang melihat penampilan Minwoo menitikkan air mata. Mereka seolah bisa melihat ketulusan dari bocah tampan itu. Mereka bisa melihat Minwoo yang sangat menyayangi ibunya. Dan tanpa bertanya lebih, mereka tahu Minwoo tidak memiliki seorang ayah.
Seorang ibu yang menangis terisak menghampiri Minwoo yang berjalan ke bangkunya. Ia langsung membawa bocah mungil itu ke dalam dekapannya.
"Jangan khawatir nak. Kau anak yang begitu baik dan cerdas. Ahjumma yakin mommy-mu sangat bangga padamu."
Ibu Mingyu yang juga mendengar semuanya berulang kali menghapus air matanya. Ia seorang ibu. Dan tentu saja bisa merasakan kesedihan itu. Ia juga seperti yang lainnya. Bisa merasakan ketulusan Minwoo untuk ibunya.
"Eomma, selain sangat tampan. Anak itu benar-benar pintar. Aku semakin menyesal pernah memarahinya. Ternyata hidupnya tidak mudah. Anak sekecil itu harus merasakan kesedihan seperti itu. Aku pernah melukai hati anak setampan itu Eomma," sesal Mingyu yang masih terus memandangi Minwoo.
"Kau baru saja memuji dirimu sendiri?" tanya ibunya.
"Maksud, Eomma?"
"Anak itu seperti foto copy-mu saat kau kecil dulu. Anak itu benar-benar mirip denganmu saat kau berumur empat tahun. Eomma seperti melihat kau kecil seperti dulu."
"Jadi—"
"Anak itu seperti Mingyu kecil eomma. Hanya saja kau tidak seperti dia Mingyu-ya. Kau mendapatkan semuanya. Tidak seperti anak itu yang tidak bisa merasakan kasih sayang seorang appa."
Entah kenapa, tenggorokan Mingyu tercekat mendengarnya. Ada sesuatu yang membuat dadanya sesak. Seperti ada yang salah namun ia tidak tahu di mana letaknya. Hatinya seolah digerogoti kesedihan yang ia tidak tahu apa penyebabnya.
"Cepat temukan mereka Mingyu-ya. Jangan biarkan cucu eomma menderita lebih lama. Dia membutuhkan kasih sayangmu. Eomma juga ingin bertemu dengan cucu eomma."
TBC
Untuk semuanya, aku punya satu permintaan untuk kalian. Aku suka saat ada yang mau mengkritik dan memberikan saran. Tapi setidaknya, alangkah baiknya kalau kalian berbaik hati menunjukkan di mana letak salahku. Jangan hanya mengatakan salah dan typo tapi enggan untuk menunjukkan bagian mana. Terkadang aku udah capek atau ada kegiatan lain yang harus aku kerjakan. Tapi aku harus disibukkan membaca ulang untuk memperbaiki kesalahanku. Bukan aku menolak, aku cuma minta ditunjukkan aja bagian mananya. Karena mataku jereng baca tulisan sendiri :D Bahkan aku sering melewatkan typo meski udah berulang kali aku baca. Tolong maklumi kekuranganku yang satu ini.
