T
.
.
Kadang, pagi akan sangat menjemukan saat si Smile mulai bernyanyi nyaring. Benda kuning yang tidak pernah sedih itu membuat pagi Baekhyun serasa menjumpai pintu neraka. Bagaimana bisa, setelah hampir duatahun tidak mengganti baterainya tapi si benda bundar sialan itu masih berdering tanpa pernah tau jika suaranya fals—Baekhyun menyadari itu saat awal membelinya.
Setelah si Smile, ada kursi belajar yang menyebalkan. Salah satu bagian kaki kursi itu mencelakai Baekhyun yang terserok-serok menuju kamar mandi hampir setiap hari. Akibatnya, Baekhyun tersungkur di bawah meja, terkadang juga akan jatuh dan membawa serta si meja sialan untuk berguling bersamanya. Dan bagian itu terlalu berlebihan sekaligus menyebalkan.
Dari dua kesialan Baekhyun di pagi hari itu, ada satu lagi yang membuatnya harus memekik hebat seperti seorang calon ibu yang melahirkan. Otot-otot samar di leherBaekhyun bahkan menunjukkan eksistensi jika si pemilik sudah mencapai batas teratas untuk sebuah kesabaran. Baekhyun tidak sampai hati menyebutnya sebuah kesialan. Ia masih takut dengan karma jika memperlakukan yang satu ini seperti si Smile dan kaki kursi.
Ibunya.
Baekhyun rasa, ibunya bisa didaftarkan menjadi anggota paduan suara kepresidenan (emang ada?). Sekarang bayangkan, ibunya itu sanggup mengalahi dering si brengsek Smile saat meneriakkan namanya di awal pagi. Bahkan mungkin saja suara ibunya bisa di dengar di tengah pluto yang terbuang. Beruntung tetangga Baekhyun adalah jenis tetangga yang tidak ambil pusing dengan keributan itu. Atau, tetangganya memang tidak ada di rumah.
"Aku pulang malam. Atau mungkin akan menginap di rumah Kyungsoo bersama Luhan."
Si cantik kebanggaan keluarga Byun itu menggigit satu roti bakar dan dua tangannya sibuk dengan tali sepatu.
Baekhyun tidak pernah menemui pagi berkualitas untuk ia nikmati karena ia terlalu nyaman dengan hidupnya yang serba pas-pasan oleh waktu. Berburu sisa waktu untuk mengejar bis bisa menjadi olahraga terselubung mengingat dirinya bukan orang yang rajin menggerakkan tubuh untuk berkeringat.
Kata orang, pagi hari merupakan waktu yang pas. Pas untuk meraup udara segar, pas untuk berpikir positif, dan pas untuk Baekhyun yang harus terjerembab karena tali sepatunya –yang sudah sepenuhnya yakin— di tali dengan hubungan yang begitu kencang, menjadi penyebab tubuh mungilnya mencium tanah dengan suka rela. Hasilnya, roti yang masih ia gigit terjatuh begitu malang di atas tanah dan kepalanya terbentur di tiang dekat halte. Anak perempuan itu sudah tidak peduli dengan tawa kecil orang-orang yang lalu-lalang di depannya, karena tepat dua detik ia jatuh, bis sudah datang. Sialnya lagi, bis itu kembali berangkat saat Baekhyun berusaha bangun.
Mungkin ini adalah kutukan pagi hari.
Mungkin ini adalah kesialan yang akan berujung sepanjang hari.
Atau mungkin, ini adalah ketidakberuntungan Baekhyun karena ia tidak menguncir rambut. Aneh ya? Kepercayaan sinting itu bermula dari Baekhyun yang beberapa minggu lalu berkunjung ke stand ramal di pasar malam. Si peramal berkata jika Baekhyun akan mendapat keberuntungan berlebih saat ia menguncir rambutnya atau mencepol asal rambut kecoklatannya.
Kembali pada nasib Baekhyun yang baru bisa bangun dengan bantuan tiang. Harinya sudah terlanjur buruk, maka mengumpat menjadi satu-satunya hal terbaik daripada ia membenturkan kepala di aspal.
"Itu bis tercepat pagi ini."Husky voice, tapi bukan milik Mino. Helm sporty—Baekhyun berani bertaruh harganya fantastis— berwarna merah itu lepas dari bingkaiannya di sebuah kepala. Dan...
"Dan umpatanmu tidak akan menghentikan bis itu dan membuatnya kembali kemari."
PARK-CHAN-YEOL
Kesialan apalagi ini?!Jika teriakan batin itu Baekhyun kumandangkan di sekolah, sudah pasti ada lemparan sepatu yang melayang dan membuat tubuh mungilnya semakin kerdil.
Chanyeol melihat Adidas Sprung Watch merah yang melingkar elegan di tangan kanannya. Sebelah tangannya yang lain mengetuk sombong tangki motor sportynya—seperti sebuah jarum jam yang memburu Baekhyun tiap hari. Gayanya seperti seorang senior yang akan menguliti habis-habis juniornya yang terlambat. Padahal yang ada di depan matanya hanya seorang gadis malang yang baru saja tertimpa musibah.
"Aku hanya menawarkan tumpangan, bukan ajakan kencan di atas motor,"
Memang siapa yang mengajak kencan?! Nenekmu?! Aneh!
"Aku menunggu bis saja." Si betina berujar singkat. Suasana hatinya tak lebih baik dari anak ayam kelaparan. Dan dia, Byun Baekhyun, tidak berminat melanjutkan umpatannya di depan si sombong Chanyeol. Iya, sombong. Lalu apalagi yang bisa mendeskripsikan penampilannya yang serba mahal dari ujung rambut hingga ujung kaki? Hanya ingin terlihat mempesona? Jika yang terakhir adalah jawaban yang benar, sama saja memancing para fans-fansnya di sekolah semakin giat datang ke kelas dan merepotkan siswa lain yang tidak bersalah. Termasuk Baekhyun.
"Lalu kau akan terlambat masuk ke kelas Matematika?"
Kelas matematika?! Kelas yang di ajar si komite kedisiplinan siswa?! Dan terlambat menjadi hal haram pertama di kelas itu.
"Nyalimu cukup tinggi juga."
Baekhyun merasa ini tidak adil, atau ini adalah kesialan yang akan beruntut sepanjang hari. Sungguh, Baekhyun tak memiliki nyali setinggi tubuh Chanyeol menghadapi Guru Kim saat ia terlambat masuk kelas. Ia masih sayang telinga.
Mata kelinci itu goyah. Ia terlalu takut menghadapi Guru Kim dan terlalu menciut jika harus menerima tawaran Chanyeol. Kata Ibunya, saat di hadapkan oleh dua pilihan penentu kebaikan, Baekhyun harus memikirkannya matang-matang. Pilihan yang tersedia memiliki ruang positif dan negatifnya. Semisal, jika Baekhyun menolak ajakan Chanyeol maka egonya menang. Egonya tidak mau memiliki urusan dengan teman-temannya yang mengidolakan Chanyeol—kemurkaan mereka akan sangat menyeramkan jika melihat Baekhyun berada di belakang Chanyeol. Tapi jika Baekhyun menerima, ia bisa menginjak sendiri pendiriannya untuk tidak dekat-dekat dengan Chanyeol.
"Kau hanya punya 3 detik untuk memutuskan."
"Ini bukan ujian."
"Ini sebuah keputusan, Baekhyun. Aku tidak mau mendapat omelan Guru Kim jika aku terus berada disini dan terlambat masuk kelas. Kalau kau menginginkan hal itu, aku tidak memak—"
Anak perempuan itu mengerucutkan lucu bibirnya. Bagaimana bisa ia terjebak oleh pilihan sesulit ini. Bahkan ini lebih sulit dari memilih lipgloss pink atau peach. Sial!
Baekhyun membuang jauh-jauh gemericik rutukan dalam dirinya hingga membawa sepasang kaki mungil berbalut sepatu putih itu mendekat pada Chanyeol. Entah dorongan dari mana, Baekhyun naik di belakang Chanyeol dengan wajah setengah menyerah. Hanya saja ia tidak rela dengan kututkan guru Kim yang samar-samar bisa ia dengar saat ini.
"Turunkan aku limapuluh meter dekat gerbang sekolah."
"Hah?"
"Aku tidak ingin jadi bulan-bulanan fansmu."
Chanyeol mengulum senyum geli. Mendengar gerutuan Baekhyun tentang kelakuan teman-teman perempuannya yang sedikit gila itu seperti keluhan anak kecil yang tidak suka obat. Tapi biarlah, Chanyeol menyukai jenis rutukan seperti itu.
"Itu terserah padamu."
Ini bukan kisah Cinderella, dimana akan ada perempuan cantik berambut pirang yang harus berlari mengejar waktu sebelum penampilan cantiknya berubah menjadi buruk. Baekhyun tidak sudi membandingkan dirinya dengan kisah cerobong asap, dia tidak berambut pirang dan tidak secantik penggambaran tokoh fiksi kesukaan anak-anak itu. Hanya saja ia memiliki kesamaan dengan si Cinderella. Pemburu waktu.
Park Chanyeol benar-benar menurunkannya di jarak limapuluh meter dari gerbang sekolah. Harusnya lelaki itu lebih peka dengan sebuah paksaan. Tapi Chanyeol adalah pangeran kutub utara yang Baekhyun klaim seluruh bagian tubuh dan hatinya telah membeku. Bahkan otaknya juga. Tapi Baekhyun tidak sepenuhnya menyalahkan Chanyeol, dari awal ia yang meminta untuk turun sebelum masuk sekolah lalu sedikit berlari menuju gerbang. Sudahlah, dirutuki-pun tidak akan membuat jam masuk molor.
Pencapaian terbesar Baekhyun menggapai pintu kelas mendadak terasa hambar. Kakinya yang masih sedikit keseleo dan sikunya yang lecet akibat musibah tadi pagi menjadi begitu menyakitkan—bertabur garam jahat yang menohok rasa sakit berkepanjangan. Bukan karena banyak si cantik yang masih mengerubungi Park Chanyeol, tapi sebuah tulisan di papan yang mengatakan bahwa si galak guru matematika itu tidak masuk. Demi semua kolor lucu Spongebob, dunia Baekhyun jungkir balik dan teroyak menyedihkan.
"Byun, Guru Kim tidak masuk dan hari ini semua pelajaran kosong."Teriak Jongin dari markasnya—bagian belakang kelas.
Tunggu, Guru Kim yang tidak masuk tapi kenapa semua pelajaran hari ini kosong?
Baekhyun memaksa langkahnya mendekati Jongin. Sesekali ia harus berucap 'permisi, Cinderella mau lewat'di tengah kerumunan yang mengubur eksistensi Chanyeol. Matanya sekilas menangkap seringai milik si sombong Chanyeol. Terkadang Baekhyun berpikir jika anak itu menyukai hasil pesonanya dari pada merasa risih. Senyum sepihak di salah satu sudut bibirnya adalah bukti bahwa Chanyeol menikmati kepopulerannya.
"Hari ini ada rapat tentang ujian akhir, Byun. Jadi, kepala sekolah memutuskan pelajaran hari ini kosong. Ah, harusnya si gendut itu menyuruh kita pulang saja." Mino berujar tanpa melepas ponsel di tangannya yang membujur.
"J-jadi..."
"Jangan berlebihan atas keterkejutanmu, Nona Byun. Aku tau kau juga senang."
"Senang kepalamu?!" Baekhyun melesakkan sedikit kasar pantatnya untuk duduk diantara Mino dan Jongin. Dia selalu suka duduk diantara Mino dan Jongin, seperti sedang di himpit oleh bodyguard. "Aku hampir mati demi menghindari rutukan Guru Kim! Aku harus berlari, terjatuh, dan mengorbankan seluruh harga diriku dengan menerima tawaran Chanyeol berangkat bersama!"
"Kau berangkat bersama Chan—"
"Jangan keras-keras, bodoh! Kau mau aku jadi santapan kucing-gucing genit itu?!"Baekhyun membungkam mulut Jongin dan menyumpahinya dengan segala sumpah serapah. Mulut Jongin tidak lebih menyebalkan dari suara truk pengangkut sampah. Keras satu oktaf saja, seluruh jagad raya ini akan mencelakakan Baekhyun. "Itu karena aku tidak punya pilihan lain setelah tertinggal bis! AWW—"
Si mungil menarik tangannya yang di cengkeram Jongin. Ia memekik seperti tertusuk seribu jarum suntik berisi racun mematikan. Sedikit berlebihan, memang, tapi sungguh rasanya sangat sakit dan perih.
Dan reaksi dua pengawal Baekhyun itu juga sedikit berlebihan. Mata mereka melotot mendapati beberapa luka gores dengan darah segar bertengger dengan santai di kulit mulus Baekhyun. Yang lebih menjijikkan lagi, keduanya hampir saja menelfon ambulance dan memaksa Baekhyun untuk dibawa ke rumah sakit. Baekhyun masih terlalu waras dan menolak kegilaan pikiran dua lelaki itu. Ia juga tidak mau mempermalukan dirinya hanya karena sebuah luka gores.
"Sakit, Baek?" itu Mino, sudah seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan anak perempuannya.
"Astaga! Kau terluka parah, Baek!"dan Jongin seperti seorang kakak laki-laki yang berlebihan pada adik perempuannya.
Melihat seberapa perhatiannya dua lelaki itu, bukan karena mereka memiliki hati pada Baekhyun. Mino masih menyimpan sosok Irene dalam hatinya dan Jongin mencintai Kyungsoo dengan begitu gilanya. Hanya saja mereka merasa harus peduli pada Baekhyun. Selain karena anak itu berusia lebih muda dari teman-teman seangkatan, Baekhyun tidak memiliki banyak teman selain Kyungsoo dan Luhan. Entah karena kurangnya sifat membaur dari anak itu atau karena hal lain, yang jelas Baekhyun pernah berkata jika pergaulan anak-anak disini bukan tipe-nya—kecuali Kyungsoo dan Luhan yang sepaham dengannya.
Berdasar pada kekhawatiran Mino dan Jongin yang terlihat berlebihan, dua anak itu membawa paksa tubuh Baekhyun menuju UKS. Ini terlihat seperti penculikan anak dibawah umur oleh dua om-om. Tubuh Mino yang lebih kekar menggendong Baekhyun di belakang punggungnya—melilitkan dengan paksa kaki mungil Baekhyun di sekitar pinggangnya dan Jongin menyangga dari belakang sebelum Baekhyun jatuh karena gerakan kesitnya memberontak.
Pengobatan dengan sentuhan kasar oleh tangan Jongin dan Mino itu berimbas umpatan dari si pemilik luka. Lelaki tidak memiliki sedikit saja kelembutan untuk luka perih seperti ini. Dan Baekhyun, dengan segala kekesalannya mengambil alih pengobatan itu hingga Kyungsoo dan Luhan datang. Dua sahabatnya itu tak kalah ngeri atas goresan luka yang menjelekkan kulit mulus Baekhyun.
Karena sekolah sedang tidak berada pada jam efektif, ruang UKS bisa digunakan tanpa batas waktu. Setelah acara mengobati luka Baekhyun, anak-anak itu bertahan di UKS yang dirasa memiliki pendingin ruangan terbaik dari semua yang ada di sekolah. Jongin sudah terbaring di ranjang seberang, merajut mimpi indah di ruangan senyaman ini bersama aroma obat yang menguar—tidak masalah selama ia bisa tidur dengan nyaman dan ada Kyungsoo di sekitarnya.
Mino kembali ke kelas, ia ingin menggencarkan aksi pendekatannya lagi pada Irene yang sedikit lagi akan menjadi kekasihnya. Seperempat hati Mino masih menaruh simpati pada adik mungil kesayangannya dan Jongin, tapi tigaperempat yang lain dari hatinya berteriak untuk memburu perhatian Irene. Pada akhirnya Mino memilih tigaperempat hatinya. Yang seperempat ia tinggalkan di UKS dengan perasaan tenang karena sudah ada Kyungsoo, Luhan, dan Jongin yang menemani.
Setelah itu ruang UKS seperti tempat berkumpul perempuan penuh stok gosip. Ketiga perawan cantik itu mencibir beberapa hal yang bisa memecah kebosanan. Mengomentari beberapa penampilan adik kelas yang mereka rasa norak dan hal-hal tidak penting lainnya. Lebih baik mereka bergosip seperti itu, dari pada suasana yang tiba-tiba mencekik karena pintu UKS terbuka dan membawa hawa kurang enak.
Kyungsoo menunjukkan mata bulatnya, Luhan menjatuhkan rahang lancipnya, dan Jongin masih tertidur pulas. Semua berubah mencekam saat si tinggi dan si sombong Chanyeol juga merasakan kenyamanan ruang UKS. Dia berdiri di ujung ranjang yang Baekhyun gunakan, menyilangkan tangannya dengan angkuh di depan dada bersama raut wajah ambigunya yang sedingin badai salju.
Beberapa detik mereka terlibat keterdiaman yang tidak memiliki alasan. Hingga akhirnya Kyungsoo yang pertama kali sadar menyiku pelan lengan Luhan dan menarik paksa si malas Jongin yang sudah nyenyak. Ia tidak terlalu bodoh untuk memahami situasi.
Berdua di ruangan sedingin UKS bersama Chanyeol bukan pilihan yang tepat. Karena Baekhyun merasa dirinya mendadak menggigil dan menciut dalam ketidakberdayaannya sebagai pihak yang lebih kecil.
Ludahnya terasa berduri dan menolak melewati tenggorokkan, telapak tangannya berkeringat dingin serta jantungnya yang berpacu seperti kuda yang sedang berlari.
"A-ada a-apa?" sial, ia tidak pernah segugup ini. Oh, ini bukan gugup. Hanya saja Baekhyun tidak tau jenis tindakan seperti apa untuk ia tunjukkan atas kemunculan Chanyeol. Meski beberapa minggu ini ia duduk bersebelahan dengan Chanyeol, tapi keadaan ini jauh lebih buruk dari aroma parfum Seolhyun.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"A-aku?" telunjuk Baekhyun menunjuk hidungnya lalu berpindah menuju plester yang melindungi luka di sikunya. "Ini."
Lelaki itu melangkah mendekat dan duduk di ranjang. Masih dengan gaya sombongnya, ia manatap Baekhyun dengan sepasang mata elang mematikan. Baekhyun terlalu lemah membalas tatapan itu dan menarik tubuh mungilnya menjauh.
"A-apa..a-apa..yang akan kau lakukan?" terdengar seperti rintihan anak kecil yang akan di bully, tapi ini lebih buruk. Chanyeol mendekatkan diri dan Baekhyun tidak bisa kemana-mana. Ia terhimpit tembok UKS dan tubuh tinggi Chanyeol yang menghapus sisa ruang kosong diantara mereka.
Sebuah kepasrahan menjadi ujung tombak dari pertahanan Baekhyun. Ia tidak pernah berpikir jika Chanyeol akan memojokkannya seperti ini—keadaan dimana seorang korban akan disakiti seperti yang ia lihat di drama. Atau, lebih parahnya lagi, ia akan di per...
"Buka matamu."Titahnya saat jarak mereka sudah sebatas ujung pensil lancip. Baekhyun di rundung keraguan. Dan saat Baekhyun memutuskan untuk membuka mata, "Aku mengkhawatirkan..."
Khawatir?
"...tugas bahasa inggris kita. Lusa harus di kumpulkan dan tidak ada tanda-tanda kehidupan dari tugas itu untuk selesai."
Tidak ada yang lebih menyenangkan dari segelas Ice Americano di saat matahari memuncak. Pergumulan awan serupa bulu domba menambah kesan indah untuk dinikmati bersama seulas senyum seorang lelaki yang duduk di dekat jendela cafe.
Chanyeol sengaja mengambil tempat saling berhadapan antara dua kursi tinggi dekat jendela besar cafe. Posisi ini begitu menguntungkan selain ia bisa melihat orang-orang berlalu lalang, ia juga bisa memperhatikan siapa saja yang keluar-masuk cafe.
Masih teringat begitu jelas alasan mengapa senyum itu tertarik dengan tulus. Pemaksaan pada si mungil di ruang UKS itu adalah satu-satunya alasan mengapa ia bisa duduk di cafe dengan senyum yang mengembang seperti sebuah cake. Chanyeol sadar jika Baekhyun bukan orang yang mudah, perlu sedikit pemaksaan agar anak mungil itu bisa di seret kemari dengan dalih tugas bahasa inggris. Sebenarnya Chanyeol bisa saja mengerjakan tugas itu sendiri dan membubuhkan namanya juga nama Baekhyun di sana.
Chanyeol tidak pernah tau alasan apa yang membuat si mungil tak menaruh perhatian apalagi simpati pada dirinya. Maksudnya, semua orang selalu menjadikan dia seperti barang berharga yang di eluh-eluhkan seperti dewa. Tak sedikit juga yang memproteksinya seperti berlian tak ternilai yang tidak boleh di jamah oleh siapapun. Dan untuk itu, Chanyeol selalu bersikap dingin untuk mempertahankan harga dirinya yang sudah semahal jutaan gram emas.
Tapi anak itu, si mungil Byun Baekhyun, menatapnya seperti sebuah virus yang harus di jauhi. Tak ada kontak mata apalagi pembicaraan diantara mereka karena Baekhyun selalu membangun bentengnya terlebih dahulu. Untuk orang yang terbiasa di dekati banyak orang karena ketampanan dan keroyalan isi dompetnya, Chanyeol merasa sedikit terhina ketika ada satu kucing liar yang menghindarinya.
Dan kucing liar itu masuk ke cafe dengan wajah lucu—seperti anak kecil yang tidak di beri permen.
"Ku rasa ini sedikit berlebihan. Kita bisa mengerjakannya di perpustakaan." Si mungil buka suara saat sudah melesakkan diri di hadapan Chanyeol.
"Sayangnya perpustakaan sudah tutup."
"Kita bisa mengerjakan ini di tempat lain, karena fungsi cafe tidak cocok untuk tugas bahasa inggris."
"Mau mengerjakan dimana? Di rumahku? Di rumahmu? Atau di Mall?"
Baekhyun terkesiap dengan kerucut lucu dari bibirnya. Chanyeol ini bodoh atau bagaimana, otaknya tak terasah secara tampan seperti wajahnya!
Dari sudut pandang lain, Chanyeol menyukai bagaimana perempuan itu berpakaian. Tidak berlebihan dan terlihat sangat pas dengan sikapnya. Kaos putih tipis dengan lengan yang sedikit di gelung asal keatas terasa cocok dengan jeans hitam ketat yang bagian lututnya sobek. Tidak terlihat seperti anak jalanan karena gaya itu nampak berkelas menempel di tubuh Baekhyun. Sebuah Adidas Superstar sewarna dengan kaosnya membingkai kaki mungilnya juga sebuah Tote-bag dark-blue menggantung di pundak Baekhyun. Puncak dari semua keistimewaan itu adalah messy-bun-hair yang mencepol di ujung kepalanya dengan beberapa anak rambut ia biarkan terjatuh dengan liar.
Cantik.
"Jadi, aku harus bertanya sampai ke berapa kali agar kau bisa berhenti melamun dan tugas ini bisa cepat selesai, Tuan Park?"
Baekhyun sudah menguncir rambutnya dan sudah menggunakan parfum keberuntungan milik ibunya, tapi kesialan sepertinya enggan pergi sepanjang hari ini. Kesialan terbesarnya adalah saat ia harus duduk berhadapan dengan Chanyeol bersama tugas bahasa inggris Mr. Joe yang harus mereka selesaikan. Coret kata 'mereka' dalam situasi ini. Karena sejak dua jam yang lalu hanya Baekhyun sendiri yang menggunakan otak mungilnya untuk menyelesaikan tugas. Dan Chanyeol, si tiang listrik sombong itu membujurkan ponselnya dan tenggelam dalam sebuah aplikasi permainan dalam ponselnya.
Siapa yang masih berpihak pada Chanyeol jika wajah tampannya tidak sebanding dengan otaknya? Harusnya mata-mata genit itu sadar betapa tidak beradabnya rekan sekelompok Baekhyun ini yang hanya tau bemain game dan melalaikan tugasnya.
Pena berkepala Mickey Mouse itu bergoyang-goyang hebat saat tangan kecil yang mengendalikannya terlibat dalam perasaan jengkel. Sesekali tangan itu mengetuk meja dengan ketukan sarat kemarahan dan sesekali juga tangan itu melempar kasar si pena Mickey yang malang.
"So, i just spent a lot of shit time here." Gumam si betina ketika kekesalannya mencapai ubun-ubun. Persetan dengan image-nya sebagai gadis baik-baik yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hati.
"Sudah selesai, Baek?"
Sudah selesai?! Baekhyun butuh lautan yang luas sekarang juga untuk menenggelamkan diri. Anak laki-laki ini menguras habis kesabaran Baekhyun dan bertanya seperti itu dengan mata yang masih berfokus pada ponsel.
"Would you take a lil bit minute from those freakin' game?!"
"Ini sedang seru, Baek! Aku sedang war dengan Jongin dan Mino."
Jongin dan Mino? Sejak kapan si sombong ini dekat dengan mereka berdua hingga bisa berbagi permainan seperti ini? Mengobrol saja Baekhyun tidak pernah melihatnya.
"Oke. Aku akan pulang menyelesaikan ini sendiri dan menghapus namamu dari tugas ini. Kau," Baekhyun menunjuk kesal hidung Chanyeol, "silahkan menyelesaikan permaian bodoh itu."
Pena dan beberapa kertas yang berserakan di atas meja segera dibereskan Baekhyun asal-asalan—memasukkannya dengan tidak berperasaan kedalam tas hingga beberapa kertas tertekuk tidak beraturan. Setelah itu ia bersiap untuk pergi sebelum sebuah kehangatan mencengkeran pergelangan tangannya.
"Lepas!" Baekhyun menyentak sekuat tenaga. Namun apa daya, tenaga lelaki itu seribu kali lebih besar dari tenaga si mungil. "Chanyeol, aku mau pulang!"
Ini bukan pertengkaran sepasang kekasih seperti yang orang-orang lihat. Baekhyun bukan si pihak wanita yang marah karena kekasihnya lebih menyayangi permainan di ponsel daripada menyayangi waktunya yang sudah ia luangkan untuk disini. Bukan seperti itu hubungan mereka.
"Baekhyun, orang-orang mengira aku sudah berbuat jahat padamu."
"Itu lebih bagus karena aku hampir saja mati bosan menunggu kepekaanmu. Katakan saja jika kau tidak ingin mengerjakan tugas ini, aku bisa mengerjakannya sendiri!"
"Aku kan hanya bermain game."
"Dan dua jam ini aku membuang waktu emasku menunggumu selesai bermain game?!"
"Kenapa tidak menegurku?"
Menegur? Mereka bukan anak SD yang harus di tegur atau diajak konsentrasi saat menyelesaikan tugas. Seharusnya di usia mereka, kesadaran diri lebih memiliki harga tinggi daripada poin sebuah permainan. Dan Baekhyun, tidak suka melakukannya. Ia terbiasa mandiri menyelesaikan semua tanpa menunggu kepekaan orang lain. Semua temannya tau itu.
Sebuah penyesalan atau paling tidak ucapan maaf, mungkin lebih baik dari suatu tindakan brutal yang penuh ketidaksopanan. Seperti menarik paksa Tote-bag berwarna dark-blue yang sudah tergantung di pundak si mungil dan mengeluarkan paksa kertas-kertas itu.
Matanya membaca beberapa bait kalimat yang ada di sana. Sejujurnya dalam kertas itu berisi umpatan-umpatan modern yang Baekhyun tulis selama dua jam ia memikirkan ide sedang si tinggi sombong itu bermain game.
"Seingatku, Mr. Joe memberikan tugas tentang discussion, dan kau menulis umpatan ini? Mau dapat nilai C?"
Baekhyun kembali duduk, menyibak sedikit kasar anak rambut liar yang mulai menjengkelkan itu.
"Itu nilaiku! Kau tidak perlu peduli!"
"Tapi dalam catatan Mr. Joe nilai yang kau dapat akan jadi nilaiku juga karena kita tim."
"Lalu tim mana yang membiarkan anggotanya memikirkan ide sendiri sedangkan yang lain sibuk dengan the ass games!"
Emosinya sudah berada pada mode pasang, wajahnya memerah karena menahan amarahnya, dan nafasnya naik turun menahan cubitan sakit yang ingin meloloskan air matanya. Baekhyun bukan anak yang cengeng. Tapi jika ia sudah sangat kesal, ia tidak akan pernah bisa menahan raungan tangis khas anak bayi. Hanya saja Baekhyun tidak mau menunjukkannya pada Chanyeol, si sombong yang tidak peka dengan keadaan. Alasan gengsi adalah satu-satunya pertahanan terakhir agar airmata itu tidak lolos.
"Jangan menangis. Orang-orang akan mengira aku sudah melecehkanmu."Bisik Chanyeol khawatir. Ia mulai mendapat tatapan tajam dari pengunjung cafe lainnya. Dan si cengeng berkaos putih itu mengutuk setetes air matanya yang keluar di pelupuk mata. "Oke, kita selesaikan ini di luar."
"Mau dimana lagi?"
"Terserah. Kau mau dimana."
"Kita membuang waktu sia-sia di sini, Park Chanyeol. Dan aku juga tidak yakin jika kita berpindah tempat kau akan melupakan permainan sialan itu!"
"Aku berjanji. Aku bersumpah, oke?"
Baekhyun diam—membuang muka keluar jendela dan tak mengindahkan sumpah Chanyeol. Dalam hati ia mengutuk, Chanyeol akan termakan sumpahnya sendiri jika tidak melakukan apa-apa yang seharusnya ia lakukan.
"Aku mau pulang."
"Pulang?"
"Ya. Mood-ku sedang tidak bagus dan aku mau pulang."
Ada yang bisa menjelaskan pada Chanyeol bahwa definisi 'pulang' dengan 'mengerjakan tugas di rumah' itu sangatlah berbeda? Bahkan dari segi penyusunan kata-pun sudah jelas bedanya. Tapi manusia satu itu dengan sesuka hati malah menyamakannya. Dengan segenap kekuasaannya dan kekuatannya sebagai seorang laki-laki, si kucing tampan berdahi seratus itu menarik paksa Baekhyun masuk ke mobil dan mengerjakan tugas di rumahnya (Baekhyun).
Baekhyun jelas menolak, bahkan ia tak membuka suara saat supir Chanyeol menanyakan kemana mereka akan pergi. Namun dengan segala argumen yang entah Chanyeol dapat dari mana, lelaki itu menang. Tentu semua itu diselingi dengan paksaan—Baekhyun tidak sudi harus dikukung di rumah Chanyeol dan memilih menyebutkan alamatnya.
"Rumahku seperti kandang sapi. Kalau tidak betah, kau bisa keluar. Kau masih ingat letak pintunya, kan?" si mungil itu menginterupsi Chanyeol yang sedang mengamati ruang tamu rumahnya. Tidak sebesar yang ada di rumahnya tapi terasa lima kali lipat lebih nyaman. Ditambah sapuan samar aroma lavender yang membuat pernapasan terasa longgar.
"Chanyeol?!"
Chanyeol tersadar dan dia mendapati Baekhyun sudah berganti baju, oh hanya celana saja. Ia mengganti celana hitamnya tadi dengan sebuah jeans potongan selutut dengan ujungnya yang berjuntai benang-benang tak rapi. Lagi-lagi Chanyeol memberi nilai sempurna untuk cara berpakaian Baekhyun yang menurutnya berkelas. Dia suka gaya itu.
"Kau tinggal sendirian?"
"Aku tinggal dengan ibuku. Jadi topik apa yang akan kita bahas?"
"Ayahmu dimana?"
"Sudah meninggal sejak aku berusia lima tahun. Bagaimana kalau tentang masalah ekonomi?"
"Kau tidak punya saudara? Adik atau kakak?"
Manik kelinci itu samar mengeluarkan api kejengkelan. Nafasnya kembali dibuat naik turun oleh si tinggi Chanyeol. Dan pena Mickey manis itu kembali menjadi korban karena pemiliknya yang kembali mengamuk.
Apakah hal itu perlu dibahas?
"Oh, oke." Chanyeol mengangkat tangan—seperti seorang penjahat yang menyerah setelah tertangkap basah korupsi. "Kita lanjutkan mengerjakan tugas."
"Apa ku bilang," gadis itu menyandarkan tubuhnya di sofa, menggeram dengan cantik, dan menatap nanar pada lelaki di hadapannya yang lebih menyebalkan dari sebuah timun, "biar aku saja yang mengerjakan tugas ini. Kau bisa pulang, tidur manis dengan masker di wajahmu, dan mempersiapkan diri untuk esok hari."
"Kau mengusirku?"
"Syukurlah kau paham."
"Apa kau selalu seperti itu pada tamumu?"
"Aku hanya melakukannya padamu!" si cantik berbibir pink itu kesal bukan main. "Aku masih ingat dengan sangat jelas, siapa yang tadi siang menghampiriku di UKS dan menagih tentang tugas bahasa inggris. Dan lihatlah apa yang terjadi, sudah banyak waktu yang terbuang sia-sia karena kegiatan tidak berkualitasmu!"
Sejak kapan si mungil ini berkata sedemikian kasar pada Chanyeol? Di sekolah saja dia pelit suara meski duduk bersebelahan dengan Chanyeol. Jangankan berbicara, menoleh saja ia sangat perhitungan. Dan sekarang, suara melengkingnya itu bahkan membentak Chanyeol tanpa tau takut. Padahal Chanyeol bisa saja memanfaatkan tubuhnya yang lebih besar untuk menyiksa si mungil.
"Baiklah, baiklah. Kita kerjakan."
Baekhyun-pun luluh, ia segera menyalakan laptop-nya dan berselancar di dunia maya untuk mencari topik. Sebisa mungkin ia mencari topik yang mudah di pelajari dan membutuhkan waktu sedikit untuk memahaminya. Sejujurnya Baekhyun sudah tidak tahan dan mood-nya benar-benar hancur saat ini karena tingkah tolol si tinggi.
Untuk beberapa menit Chanyeol mencoba fokus pada beberapa referensi yang sudah ia siapkan dari rumah—anak itu sengaja tidak memberitahu Baekhyun karena..karena..entahlah ada alasan yang masih Chanyeol tolak kerasionalannya. Matanya diam-diam mengamati si mungil yang sibuk dengan dunia maya-nya dan membuat gestur bibir bawahnya ia gigit sendiri. Mungkin itu sebuah kebiasaan. Tapi kebiasaan itu sungguh tidak baik untuk kelangsungan hidup Chanyeol. Beberapa kali ia dibuat kehilangan kendali hingga ia tidak sadar ia sudah terlihat seperti orang tidak waras.
Selanjutnya yang terjadi adalah Baekhyun menemukan suatu fakta tentang sebuah tampilan dalam ponsel Chanyeol yang di genggam pemiliknya. Beberapa tulisan dengan ejaan inggris dan sesuatu yang beberapa menit lalu Baekhyun cari di internet. Bahkan setelah diamati lagi, yang tertera dalam ponsel Chanyeol jauh lebih lengkap dari yang sudah ditemukan Baekhyun.
"Dasar orang gila!" Baekhyun akan merebut ponsel itu namun sistem sadar Chanyeol bekerja lebih cepat. Lelaki itu mempertahankan ponselnya kuat-kuat dan menyembunyikan dari pandangan mengintai milik Baekhyun. Bagaimana bisa ia selengah itu sedangkan yang sekarang ia hadapi adalah kucing liar lucu yang beberapa kali mengumpat kasar padanya.
Baekhyun harus mendapatkan ponsel itu lalu mengumpat dengan sepenuh hati pada Chanyeol. Anak lelaki tidak tau malu itu menyembunyikan bahan diskusi dan membiarkan Baekhyun membuat sendiri. Dan dua jam sia-sia di cafe tadi benar-benar waktu tidak berkualitas dalam hidup Baekhyun karena si tinggi sialan ini.
"B-baek..ini bukan apa-apa. Ini hanya tugas biologi."
"Jangan bohong! Aku tau itu apa! Berikan padaku!"
Dan begitulah, terjadi perebutan antara dua anak manusia itu. Si jantan menyembunyikan ponselnya di balik badan sedang si betina berusaha merebutnya. Chanyeol tidak pernah tau Baekhyun akan sekuat ini melawan tubuhnya demi sebuah ponsel. Kekuatannya di atas rata-rata karena sesekali Baekhyun menjambak rambut Chanyeol hingga lelaki itu beberapa kali merintih. Tak hanya itu, sesekali ia juga memukul dada Chanyeol dan membuatnya limbung di atas karpet. Entah makanan apa yang di berikan ibu Baekhyun hingga anaknya yang berwajah manis ini bisa memiliki tenaga sekuat Hulk.
"Ibu pul—oh?"
Keadaan tidak lebih baik saat seorang wanita dengan pakaian kantor lengkap berdiri diambang pintu. Andai saja tidak ada suguhan putri cantiknya yang sedang duduk di atas perut seorang laki-laki, mungkin wanita itu tidak akan menjatuhkan rahangnya dan membuat pikirannya blank untuk beberapa saat.
"Ibu?"
Ibu? Ibu Baekhyun? Demi neptunus keadaan ini tidak baik. Chanyeol segera mendorong tubuh Baekhyun hingga perempuan itu tersungkur di dekat sofa. Beradegan seperti ini dan ibu Baekhyun memergoki dengan kedua mata secara nyata, Chanyeol berani bertaruh sebentar lagi dia akan dilaporkan ke polisi atas tindakan tidak senonoh. Hei, tapi itu bukan seperti yang kebanyakan orang pikirkan. Ini salah paham.
Chanyeol akan terima jika ibu Baekhyun melemparinya dengan sepasang heels hitam yang sedang di bawa. Setelah itu ia akan minta maaf dan menjelaskan semuanya. Iya, semuanya. Kesalah pahaman ini atau...
"Ups, ibu mengganggu, ya?"
Sepersekian detik Chanyeol memutar balik perasaan ketakutannya menjadi sebuah ketidakpercayaan. Bukan heels yang akan mendarat di pelipisnya atau umpatan yang di terima telinganya, tapi sebuah kekehan. Ada yang aneh disini.
"Kalian bisa melanjutkannya. Ibu hanya akan lewat sebentar dan tak akan menganggu kalian." Wanita cantik yang sedikit banyak mirip Baekhyun itu kembali terkekeh geli.
"Ibu!"
Harusnya Chanyeol pergi setelah tindakan tidak senonohnya dengan Baekhyun tertangkap basah oleh ibunya (Baekhyun). Bukan malah duduk seperti seorang terdakwa siap sidang di salah satu meja makan sederhana di rumah Baekhyun.
Keadaan Baekhyun tak jauh berbeda dengan Chanyeol. Untuk pertama kalinya ia kepergok dengan sebuah tindakan tidak patut ini oleh ibunya sendiri. Bisa-bisa anggapannya sebagai anak perawan kesayangan ibu ini bisa tercoreng menjadi anak nakal. Uh, Baekhyun tidak menyukai anggapan seperti itu.
"Jadi, si tampan ini temanmu, Baek?" wanita itu meletakkan sendoknya dan menginterupsi dua remaja di hadapannya. Si anak perempuan mengangguk dalam tundukan penyesalannya. "Astaga! Kenapa baru bilang pada ibu jika kau punya teman setampan ini."
Chanyeol jelas tidak salah dengar. Kata-kata itu muncul dari mulut ibu Baekhyun sendiri. Plus, dua tangan yang bertaut kegirangan juga senyum lebar yang merekah seperti mawar.
"Siapa namamu?"
"Ibu. Ingat umur!"
"P-park Chanyeol, Bi."
"Ah..Park Chanyeol." Ibu Baekhyun terlihat lebih sumringah seperti anak gadis yang baru saja mendapat ciuman pertamanya. "Maaf ya, Chanyeol, mengganggu waktumu berkencan dengan anak ini."
"Kami tidak berkencan, Bu!"
"Ah, i-iya..k-kami tidak berkencan, Bi."
"Benarkah? Kenapa?" Baekhyun sungguh tidak tahan dengan tingkah ibunya yang seperti remaja baru dewasa. Bukannya memarahinya karena adegan tidak senonoh beberapa waktu lalu tapi malah menanyakan hal-hal lain yang tidak penting.
"Ibu, berhenti bertingkah seperti itu. Malu!"
"Apa Baekhyun pernah berkata kasar padamu?"
Iya, Bi! Baekhyun banyak mengatakan hal kasar padaku!
"Kau bisa menyumpalnya dengan kaos kaki jika mulutnya mengumpat padamu. Bibi mengizinkan."
Ibu macam ini? Menyuruh orang lain menyumpal mulut anaknya sendiri dengan kaos kaki. Inilah alasan mengapa Baekhyun enggan mengajak teman lelakinya datang ke rumah. Karena ibunya, si nyonya centil itu dengan senang hati akan mengira mereka kekasih Baekhyun. Dan pada akhirnya akan menjodoh-jodohkan Baekhyun dengan salah satu teman lelakinya agar anaknya yang cantik itu merasakan pacaran di usianya yang masih muda.
Dan Park Chanyeol, cukup tercengang dengan sikap manis ibu Baekhyun yang berkebalikan dengan putri cantiknya.
"Jika si anak bodoh ini mengatakan temannya akan datang kesini, Bibi akan pulang bawa pizza. Jadi maafkan Bibi karena hanya bisa memberimu makan sederhana ini, ya, Chanyeol?"
"Ah, tidak ap-apa, Bi. Sungguh." Chanyeol yang dingin itu untuk pertama kalinya menunjukkan sebuah senyum lebar yang Baekhyun nilai sebagai senyum tolol—giginya yang panjang berderet sempurna dan berwana putih alami menambah nilai memuakkan dari Baekhyun.
Entah harus berapa lama lagi Baekhyun sanggup menghentikan ibunya yang begitu riang berceloteh dan si tinggi Chanyeol menanggapinya dengan senang hati. Ia tidak pernah tau jika Chanyeol dan ibunya akan secocok ini saat mengobrol. Dari awal Baekhyun sangat sadar jika ibunya bukan sejenis wanita kolot yang akan merecoki hidup anaknya. Ibunya cukup fleksibel dan bahkan terbuka untuk semua teman-teman Baekhyun.
Dari dulu hingga sekarang, ibu Baekhyun terkenal dengan sikap ramahnya kepada siapa saja. Semua teman-teman Baekhyun sejak SD hingga sekarang kenal sangat baik dengan ibunya. Bahkan Jongin sudah menganggap dirinya seperti anak ibu Baekhyun sendiri. Bagaimana tidak, si pemalas itu akan merengek kemari jika ia bertengkar dengan Kyungsoo atau saat ia merasa lapar—meski jarak rumah mereka lebih dari 5 km. Banyak yang mengatakan ibu Baekhyun adalah ibu-ibu modern, sangat mengerti pergaulan anak muda jaman sekarang dan tak pernah membatasi anaknya berteman dengan siapa saja.
Dan sekarang, Park Chanyeol akan menjadi kandidat selanjutnya. Ibunya akan dengan senang hati memperlakukan Chanyeol seperti emas, bahkan mengatakan Chanyeol harus sering-sering main ke rumah dan ibunya akan memasakkan sup sosis merah—andalan ibu Baekhyun.
"Ibuku sedikit tidak normal, jangan di hiraukan." Kata Baekhyun saat mengantar Chanyeol di depan gerbang.
"Ku rasa ibumu tidak seburuk itu. Aku nyaman."
"Ibuku bukan pedofil!"
"Aku tidak menempatkan ibumu sebagai seorang calon pacar asal kau tau!" Punya berapa nyali lelaki ini mengusak surai Baekhyun? Baekhyun tidak menyukainya. "Aku akan sering main kemari."
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Aku tidak selalu ada di rumah."
"Memang aku kemari untuk menemuimu? Percaya diri sekali!"
Sudahlah, Baekhyun cukup memberi tanggapannya sampai di sini. Ia lelah dan ingin segera masuk lalu istirahat.
"Tidak mengucapkan selamat malam padaku?"
"Memang kau siapa?" lihat, si mungil ini kembali galak. Wajahnya yang buruk karena lelah itu justru terlihat menggemaskan.
"Aku? Aku calon pacarmu."
"Apa?!" Setelah ini Baekhyun harus pergi ke dokter spesialis karena rahangnya mulai hilang kerapatannya.
"Jadi pacarku ya, Baek?"
.
.
.tibisi
Haihaihai..balik lagi :D
Lagi gapunya kata-kata yang panjang kecuali kebahagiaan liat postingan ig ChanChanYeolYeolie bahagianyaaaaaaaaaa :D
.
.
Yang udah baca part jelek ini sampe bawah, Ayoung ucapin muaahhhkasiih buangeettt...apalagi yang sampe ninggalin review, dobel2 makasih deh wkwk
Tambahan aja, ibunya Baekhyun ini sejenis ibu2 gaul macam ibu mertuanya Oh Hani :D
Jadi kalian bisa bayangin gimana centilnya ibu Baekhyun wwkwk
.
.
Special thanks for :
Kyung-kim-do : wkwk iya ini chapter | ParJitta : okeeh :D | Choi96 : terimakasih syekali :* | Ava14 : kucing garang :D | Baeqtpie : semoga aja yaa :D | SELUsin : saranku, kalo senyum2 sendiri jangan di tempat umum ya wkwk | Chanbyun0506 : tunggin aja yaa :D | Byun baekhee : bingung ya? :o | RahmaIndirawati : dicepetin biar cintanya juga cepet :D | Yeollo : o..o..oke! | Guest1 : iya, terinspirasi dari sana :p | Adorahttr & Byeoliesa & guest2 & parkbaexh614 & ay: ok! | Skymoebius : ndak kok. Ini baru di post :D | Tksit : kamu juga manis :D | bebekJail : doakan aja yaa kwkwk | fuxcolavie : semoga aja wkwklepetitbyun : itu bisa2nya chanyeol aja wkwk : arti judulnya masih rahasia wkwk | dodyoleu : terimakasihhh :*
.
.
.
2148
