T
.
.
.
Ini bukan tentang matahari cantik pagi hari yang mendadak bersembunyi. Bukan juga tentang sebuah mawar yang Baekhyun kira hanya akan berusia tak lebih dari seminggu di tamannya—yang ternyata lebih segar dari wajah pemiliknya. Ini tentang sebuah suasana hati yang tak pernah lebih baik dari segelas susu coklat hangat.
Hanya saja hal ini selalu berkebalikan dengan si ceria yang tengah sibuk di dapur. Berbalut pakaian kerja yang serupa seorang sekertaris bos besar, si ceria Nyonya rumah ini berdendang dengan kebahagiaan di atas hidungnya.
Terhitung sudah lebih dari seminggu, wanita itu menyiulkan nada bahagia berbumbu ucapan selamat pagi yang terdengar sangat ngeri. Jiwa mudanya seperti terpanggil lagi ke dasar bumi saat mengetahui putri cantiknya mendapat sebuah pernyataan cinta.
Dan Nona manis yang sedang menikmati susu coklat bersama sepotong roti bakar bertumpang tindih keju dan smoked-beef sedang mencoba melerai kekesalannya yang sudah menggulung besar. Makan paginya tidak pernah semenyebalkan ini andai saja ibunya yang over itu memiliki pengendali diri. Maksudnya, ibunya terlalu modern untuk sebuah kekolotan atas pergaulan anaknya. Seharusnya ibunya itu memberi sebuah petuah atau paling tidak menatapnya sinis karena anaknya yang baru berusia 17 tahun mendapat pernyataan cinta di depan rumah. Namun yang terjadi, ibunya justru bersiul-siul bahagia dan menyarankan untuk menerima pernyataan cinta itu. Aneh, kan?
Ingatkan Baekhyun untuk tetap ada pada rasionalitas dirinya. Ia masih sangat waras untuk bersikap—ia bukan anak perempuan setipe kucing liar genit yang selalu membuka peluang untuk siapa saja. Harga diri satu-satunya pertahanan agar ia tidak terjerembab pada label 'gampangan'. Oh, Baekhyun tidak menginginkan hal itu. Karena cita-cita terbesarnya adalah menjadi wanita anggun berpendidikan tinggi dengan segala kelas terbaik yang cocok menempel pada dirinya. Namun suatu harapan hanya melahirkan bibit-bibit omong kosong tentang sebuah konten kenyataan. Dia masih di dasar untuk menggapai itu semua.
Dia, Byun Baekhyun, anak perempuan yang diberkati Tuhan otak cerdas untuk impiannya dan wajah cantik untuk eksistensi dirinya yang nanti akan menjadi wanita dewasa berpendidikan. Hanya saja kecerdasan untuk mimpinya butuh sebuah usaha nyata yang cukup klise. Ia pintar namun tidak cukup mampu untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang dokter. Dia anak tunggal dengan seorang single-parent yang memiliki penghasilan tak terlalu berlimpah. Baekhyun tidak pernah menyesalinya, ia anak baik yang masih sadar untuk bersyukur atas hidupnya. Apapun itu ia menyukai segala jenis kehidupannya bersama sang ibu sekarang ini. Terlepas seberapa banyak orang berstatus keluarga yang selalu memicingkan mata untuk hidupnya dengan sang ibu, Baekhyun cukup kuat untuk berdiri di atas kakinya dan menginjak cemooh orang lain bersama kotoran ayam di kakinya.
Dan untuk kecantikannya, anak perempuan itu tidak memiliki ambisi apapun. Anggap saja itu bonus dari Tuhan karena ia anak baik yang selalu mengingat apa itu bersyukur. Baekhyun sadar, kecantikan yang orang-orang bicarakan tidak akan pernah membuat tabungannya membengkak hingga ia bisa membiayai studi lanjutnya ke negeri paman sam—seperti yang ia impikan. Ia masih meyakini sebuah usaha untuk membawa mimpinya menjadi kenyataan menyenangkan.
"Ibu nanti pulang agak malam karena ada beberapa pekerjaan tambahan. Kau masih ingat bagaimana memanaskan makanan-makanan ini untuk makan malammu nanti, kan, Baek?" Ibunya sudah bersiap dengan sepatu bertumit tingginya.
Harus berapa kali Baekhyun mengingatkan jika ia sudah cukup dewasa untuk menjadi anak mandiri. Memanaskan makanan tidak sesusah menghapal struktur organ dalam manusia yang pernah ia baca di buku kedokteran milik teman dari kakak sepupu Luhan.
"Baiklah. Ibu tau arti dari tatapan jengahmu itu wahai nona manis." Ibunya tersenyum kecil dengan imbuhan kerlingan mata menggodanya. "Kalau Chanyeol kemari, jangan lupa hubungi ibu supaya ibu bisa membelikannya pizza." Dan pembahasan tentang si bodoh Chanyeol selalu terulang dari bibir ibunya. Belum cukupkah merecoki telinga Baekhyun dengan hal itu selama seminggu ini?
"Ibu!"
"Baiklah, baiklah. Nona manis kesayangan ibu, belajar yang pintar di sekolah dan jangan lupa tetap jaga kecantikanmu di depan Chanyeol."
"Ibuuu!"
Wanita itu menyambar tas kerjanya yang ada di meja dapur, memberi kecupan sayang di kepala putrinya, lalu menghilang di balik pintu karena waktu yang dimiliki tidak ada lagi untuk menggoda putri cantiknya.
Sehun sudah masuk dan Baekhyun cukup senang hingga memeluk anak itu diantara lengan dan sikunya yang mungil. Hanya capitan kebahagiaan itu saja karena Baekhyun masih sadar ada Luhan di depan matanya. Jikapun tidak ada, ia tidak memiliki hal lain berlebihan yang akan ia berikan pada si albino ini.
Selain Baekhyun, Luhan, Kyungsoo, Jongin, dan Mino, tidak ada yang berminat dengan kembalinya Sehun. Karena bagi kaum perempuan di kelas itu masih ada Chanyeol si jantan yang memikat dan untuk kaum lelaki masih mendamba dada dan pantat Scarlett. Biarkan saja karena manusia memiliki prioritasnya sendiri-sendiri.
"Tidak menguncir rambut?" Tanya Sehun pada Baekhyun yang duduk di sampingnya dengan senyum semerekah bunga matahari.
"Bukankah tergerai begini sangat cantik?"
"Tidak takut sial?"
"Sial itu ketika kau tidak masuk lebih dari satu bulan." Baekhyun memutar tubuhnya hingga menghadap Sehun yang sibuk dengan ponselnya. Dan mengapa para lelaki di sekitar Baekhyun sangat hobi mengabaikannya karena sebuah benda tipis panjang itu?
"Aku mulai curiga," si mungil memicingkan mata dengan intonasi penuh selidiknya dan mulai mendapat perhatian Sehun. "Jangan-jangan kau sengaja memperpanjang waktu terapimu supaya kau bisa mendapat libur lebih lama."
Baekhyun memang cerdas, saking cerdasnya di beberapa kesempatan ia akan membicarakan hal-hal tidak mungkin dari mulutnya. Sebagai contoh ia mencurigai Sehun seperti sekarang. Kaki Sehun masih terbungkus gips menyeramkan beserta beberapa plester di pelipisnya. Kecelakaan yang dialami teman sebangku Baekhyun ini terbilang sangat parah hingga ia membutuhkan waktu cukup lama untuk memulihkan segala lukanya. Patah kaki dan luka lecet di beberapa tubuh serta di pelipis—bersyukurlah wahai si albino Oh Sehun itu karena Tuhan masih menyayangi nyawanya dari pada tubuhnya.
"Kau bisa mengatakannya seperti itu sebelum aku tau tentang kau dan si anak baru." Dan bisakah semua orang berhenti membicarakan anak itu? "Jadi, Byun, ada yang bisa ku dengar dari mulut pedasmu itu tentang si anak baru?"
Baekhyun anak baik, cerdas, dan terdidik untuk berlaku sopan. Tapi pembahasan tentang Park Chanyeol rasanya membutakan semua itu demi sebuah umpatan tak bermoral yang mewakili kekesalannya. Tapi ia cukup cerdas mengendalikannya—kebesaran jiwanya membantu dengan sangat maksimal untuk tetap berada pada garis normal.
Belum sempat Sehun merecoki kembali si nona manis Byun ini, ia terlebih dulu mengalihkan perhatian pada lelaki yang berdiri di dekat bangkunya. Jika tebakannya benar, lelaki ini sesuai dengan penggambaran yang diceritakan Luhan beberapa waktu yang lalu.
Si Park.
"Oh Sehun, kan?"
Sehun tersenyum menyambut uluran tangan Chanyeol. Dan bukankah ini terlalu berlebihan mengatakan Chanyeol itu kucing jantan sombong sedangkan yang baru saja mengulurkan tangan untuk berkenalan adalah dia dulu? Satu poin yang Sehun lupa saat Luhan dan Kyungsoo menceritakan bagaimana sosok Park Chanyeol—Sehun lupa jika Luhan dan Kyunhsoo adalah jenis perempuan dengan segala kelebihannya saat bercerita.
Ada yang lebih menarik di sini. Bukan Chanyeol dan Sehun yang baru saja berkenalan, tapi sesosok mungil di sebelah kanan Sehun yang mendadak merekahkan senyum kepuasan karena merasa hari ini ia menang. Si kucing betina kegenitan tidak lagi mengerubungi bangkunya karena si pemilik asli telah kembali juga karena si sombong ini tak memiliki hak lagi mengisi bangku kosong Sehun.
Mampus kau Park Chanyeol!
"Ada seseorang bertemu denganku dan dia juga mengenalmu. Di gerbang depan." Si sombong berkata datar pada Baekhyun yang tidak bisa menahan senyum atas kebahagiaannya.
"Aku?" berhenti menunjukkan ekspresi menggemaskan itu! Dan juga, mengapa telunjukmu menunjuk dadamu sendiri?
"Haruskah aku menyebut namamu saat aku berbicara dengan melihatmu?"
Baekhyun hampir lupa jika Chanyeol adalah orang paling aneh sedunia. Seminggu yang lalu ada yang menyatakan cinta di depan rumah dan sekarang ia bersikap seperti beruang kutub tak berdosa. Beruntunglah malam itu Baekhyun menginjak kaki Chanyeol untuk membawanya kembali sadar lalu memberinya umpatan dalam bahasa asing sebelum ia berlari masuk ke rumah dengan semu merah di pipinya.
Lalu dengan sebelah hatinya yang berat, Baekhyun meninggalkan bangkunya untuk menemui si orang asing yang Chanyeol katakan sedang menunggunya di gerbang. Beruntung kelas masih akan di mulai 10 menit lagi dan Baekhyun tidak harus terburu-buru untuk menuju gerbang. Hanya saja ini terasa aneh karena gerbang sekolah sudah tertutup dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Maksudnya, ia tidak melihat ada orang yang berdiri di gerbang –yang ia kenal. Kecuali si penjaga gerbang.
Harusnya ia sadar, berurusan dengan Park Chanyeol hanya akan membuatnya menderita. Setelah terlepas dari tugas bahasa inggris minggu lalu, ia memiliki urusan lain yang lebih menggebu dari sebuah lebah yang mendengung untuk sebuah madu busuk.
"Kau menipuku, ya?!" dia meluap-luap pada lelaki yang sedang bercengkerama dengan Sehun. Langkah lebar penuh kekesalannya menimbulkan sedikit peluh di pelipis si mungil namun hal itu tidak berarti apa-apa kecuali kemarahannya karena di tipu. "Tuan Goo mengatakan tidak ada yang mencariku!"
Seharusnya Baekhyun datang dengan membawa dua batang besi panas untuk ia tusukkan di mata lebar Chanyeol. Ia membenci bagaimana lelaki itu melihatnya tanpa ada dosa karena telah menipu.
"Memang siapa yang mencarimu?"
"Kau bilang tadi ada yang mencariku, bodoh?!"
Chanyeol mengangkat dagunya, menunjukkan kesombongan dan keangkuhan di wajah tampannya pada si mungil yang selalu menggebu-gebu.
"Aku hanya bilang ada seseorang yang bertemu denganku dan dia juga mengenalmu di gerbang..."
"Sialan?!"
"...dan itu Tuan Goo. Apa aku mengatakan ada yang mencarimu?"
Nafasnya tak lebih baik dari sisa angin musim semi yang memaksa untuk menyegarkan. Yang bersisa dari pagi harinya yang ceria hanya sebongkah perasaan kesal di level paling atas untuk penipuan yang merugikan waktu dan tenaganya.
Bibir mungilnya akan memberikan sebuah hardikan yang lebih memuakan jika saja Guru Jung tidak masuk kelas dan menginterupsi keberadaannya. Dan Baekhyun baru sadar, hanya bersisa dirinya yang berdiri menjulang di antara teman-teman sekelasnya yang sudah duduk di bangku masing-masing, temasuk si kejam Park yang sudah duduk di bangkunya. Apa-apaan ini?!
Lagi-lagi dengan perasaan berat sebelah, Baekhyun harus berlalu menuju gudang sekolah untuk sebuah bangku kosong. Andai saja ia tidak tertipu dengan Chanyeol, ia tidak perlu merepotkan diri membawa bangku dari gudang menuju ke kelas. Sepertinya kesialan itu kembali saat ia tidak menguncir rambutnya.
"Baekhyun..."
"Byun Baekhyun..."
Tidak ada niat untuk mengangkat kepada ataupun membuka mata saat Baekhyun mendengar Jongin, Mino, dan Sehun memanggilnya dengan intonasi anak kecil. Itu menjijikkan mengingat tadi pagi mereka bertiga bersekongkol untuk menyiksa dirinya. Harusnya mereka lebih peka dan membantu Baekhyun, bukannya diam-diam menahan tawa seperti tiga kurcaci bodoh.
Selama pelajaran Baekhyun tidak memiliki minat untuk memperhatikan—untuk pertama kalinya ia seperti ini. Mendapat duduk di tempat paling belakang dan paling pojok bersama pemandangan tubuh tambun Yeseul, tidak ada lagi rasa minat untuk mengikuti pelajaran. Jadilah ia disini, di bangku paling belakang bersama rasa marah yang mencokol seperti sebuah singkong. Ia anak perempuan berusia 17 tahun yang masih memiliki sisi sensitif dan menahan sakit di hati terasa sangat sulit dibanding menahan buang angin.
"Aku membelikanmu susu strawberry." Bukankah Jongin keterlaluan dengan memberikan rayuan khas anak TK?! Dan susu strawberry, itu memang enak tapi Baekhyun tidak berminat menyentuhnya.
Tiga anak lelaki menyebalkan itu seperti membujuk adik kecil mereka yang merajuk karena sebuah balon—bahkan ini lebih menyeramkan dari itu. Harusnya mereka ingat bagaimana Baekhyun—si mungil yang manja dan pemarah. Sedikit banyak mereka menyesali kejadian tadi pagi jika hasilnya adalah adik kecil mereka yang mogok bicara.
"Shut up your mouth!" Tangannya menggebrak bangku, mendorong tubuh Mino yang berjongkok di sampingnya dan berusaha menutupi setitik air mata kemarahannya di pelupuk mata. Tiga anak lelaki itu semakin merasa bersalah melihat si mungil menahan tangis yang jelas terlihat di wajahnya yang memerah.
Baekhyun kesal, sebal, dan apapun itu yang memporakporandakan perasaannya. Ia lebih baik berlari mengejar bis, mendengar omelan Guru Kim karena terlambat masuk, dan mengerjakan banyak soal matematika. Karena di perlakukan seperti ini sama saja menginjak harga dirinya yang masih suci. Orang lain mungkin akan melihatnya terlalu melebih-lebihkan, tapi ketahuilah bahwa Baekhyun tidak pernah menerima perlakuan seperti ini sepanjang hidupnya. Ia, si kucing liar yang selalu bermandikan kemanjaan dari orang-orang di sekitarnya.
Hingga saat ia melewati lorong terakhir menuju kantin, matanya menangkap sesosok yang membuat matanya kembali memanas. Melihat eksistensinya, aroma tubuhnya, dan bagaimana keadaan sekitar yang mendadak riuh, Baekhyun mengalami kemuakan yang melebihi apapun. Baekhyun tidak berniat menghindar karena itu akan menyakiti harga dirinya. Ia terus berjalan, melewati kerumunan semut-semut perawan, dan berubah menjadi si angkuh berhati dingin. Seluruh sel dalam dirinya menjadi begitu ganas hingga saat mereka berada pada jarak sangat dekat, pundak kanan kecil Baekhyun memiliki tenaga berlebih menyinggung pundak si tinggi yang berlawanan arah dengannya. Persetan dengan rasa sakit karena ia lebih mementingkan luapan emosinya.
"Kau oke, Baek?" Luhan tampak khawatir saat sahabatnya yang baru datang itu menenggak dua kaleng cola dingin tanpa henti. Cuaca memang sedang panas, sepanas hati Baekhyun yang di rundung hujan api. Dan dua cola dingin itu rasanya tidak ada apa-apanya hingga ia memutuskan untuk mengambil kaleng ketiga namun Kyungsoo lebih dulu mencegah. Terlalu banyak minum cola itu tidak baik untuk tubuhnya, begitu Kyungsoo beralasan.
Tapi Baekhyun adalah si keras kepala yang susah mendengarkan. Sekaleng sprite dingin milik Luhan yang baru berkurang beberapa teguk ia ambil dan meminumnya tanpa sisa. Minuman ketiga itu baru memberikan reaksi dingin dalam tubuh Baekhyun yang sedang berbalut panas. Lalu ia duduk di antara Luhan dan Kyungsoo, meremas kaleng kosong sprite ditangannya, dan ia menundukkan kepala dengan segala kelemahannya yang telah di kalahkan oleh kemarahan.
"Ada apa, Baek? Ceritakan." Kyungsoo melembut untuk sahabatnya. Ia tau, sesuatu yang buruk baru saja menimpanya—atau sesuatu yang menyebalkan.
"Masih punya karet rambut sisa?" tanya Baekhyun. Luhan mengambil dari saku kemejanya dan memberikan pada Baekhyun. Gadis itu segera menarik seluruh rambutnya ke atas, mencepol asal, dan membiarkan poni-poni mungilnya berlomba saling berjatuhan dengan anak rambut liar. Kemudian Baekhyun menceritakan semuanya, kejadian tadi pagi di kelas hingga rasa kesalnya pada tiga kurcaci yang mulai bersekutu dengan si sombong Park Chanyeol. Dia bercerita dengan api di atas ubun-ubun karena –sekali lagi— ia tidak pernah menerima perlakuan seperti ini. Sebelumnya kehidupan Baekhyun masih baik-baik saja, tapi sekarang ia mulai merasakan ada setitik noda hitam mengganggu yang membuatnya tak lagi nyaman. Dan salahkan saja Park Chanyeol atas semua ini.
Hari kedua Baekhyun menghadapi hari dengan segala kekesalannya di pagi hari. Si brengsek Smile, kaki kursi kamarnya yang menyebalkan, berlari mengejar bis, dan bangku pojok belakang yang berada tepat di bawah pendingin ruangan. Lalu ia bertambah sebal saat mendapati Mino sudah duduk di bangku pojok sialan itu bersama senyumnya yang menyebalkan.
Baekhyun berdiri di sana, menunggu Mino beranjak dari bangkunya lalu membiarkan Baekhyun istirahat atas rasa lelahnya setelah mengejar bis. Tapi sepertinya Mino memiliki kepekaan hati yang sangat tipis, ia tidak bereaksi apa-apa sampai Baekhyun mendesis agar anak itu menyingkir dari tempatnya.
"Kau bisa gunakan tempat dudukku, Baek. Biar aku saja yang duduk di sini."
"Kebaikanmu terlihat menggelikan!" Desis Baekhyun. "Cepat minggir!"
"Atau kau mau duduk di tempat Jongin?"
"Minggir!"
"Atau kau—"
Baekhyun hanya sedang malas meluapkan emosinya pagi ini, jadilah dia memilih untuk pergi namun Mino selangkah lebih cepat untuk menahannya. Lelaki itu melihat kantung mata samar yang menyeramkan dari mata sipit Baekhyun—bukti bahwa semalam tidurnya turut menyenandungkan sebuah tangis kekesalan.
"Oke, oke. Aku pergi. Aku hanya tidak ingin kau kedinginan karena tempat ini berada di bawah pendingin ruangan." Mino mengalah, ia mengambil tasnya dan kembali ke bangku miliknya sendiri dan menatap prihatin pada si mungil. Jongin, Sehun, dan Mino tau betul Baekhyun tidak pernah tahan dengan dingin, ia akan menggigil seperti anak bayi malang jika ia terkena dingin sedikit saja. Dan sekarang, ia harus duduk di bawah pendingin ruangan setelah tempatnya telah di hak paten oleh Park Chanyeol.
Tidak ada minat untuk membuka suara apalagi meladeni tiga teman lelakinya yang masih merasa bersalah. Tubuhnya sedikit lemah—selain karena pendingin ruangan, ia juga tidak memiliki nafsu makan tadi pagi. Meski ibunya senantiasa mendendangkan nada tinggi serupa omelan yang memekakan telinga, tapi Baekhyun adalah anak keras kepala yang tidak akan pernah bisa di paksa oleh siapapun.
Sedikit kesialan adalah saat hari ini ada pelajaran tambahan. Jam sekolah bertambah menjadi 3 jam lebih lama setelah ada istirahat kedua ketika langit mulai menunjukkan senja. Disaat yang lain sibuk mengekor pada Chanyeol dan sebagian yang lain sibuk berburu pengganjal perut di kantin, si mungil di pojok kelas lebih memilih tetap berada di tempatnya dan menelangkupkan kelemahan dirinya.
"Tidak ada cola dingin, Nona manis." Kyungsoo dan Luhan datang membawa sepotong roti dan susu strawberry di hadapan si lemah Baekhyun. "Seharusnya kau makan makanan bergizi untuk jam pelajaran tambahan karena ibumu baru saja menghubungiku, memintaku memastikan anak perempuan kesayangannya sudah makan. Dan ada apa dengan dirimu, Baek?" Omel Kyungsoo yang di sambut anggukan Luhan.
"Hanya tidak bernafsu pada dunia."
"Tapi lebih bernafsu pada cola. Sudah ku katakan berkali-kali jangan terlalu banyak minum cola." Dan sejak kapan Luhan menjadi secerewet ini?
"Hari ini tidak ada cola karena dua gadisku yang manis sudah bersusah payah membawakanku susu strawberry." Sekotak susu strawberry itu sudah tertusuk dan memenuhi mulut Baekhyun. "Dan aku tidak mau mendengarkan omelanmu yang menyeramkan itu, Soo." Baekhyun beralih pada kotak kedua setelah yang pertama tak bersisa.
"Bagus. Kau mulai paham jika omelanku menyeramkan." Kyungsoo membuka bungkus roti bundar lucu itu dan memberikannya pada Baekhyun. Tak lupa tatapan memaksa dari dua mata burung hantunya karena sahabatnya itu sempat menolak. "Kau dan kepala batumu itu seharusnya juga memikirkan tubuhmu. Tidak makan pagi dan hanya bergantung pada cola. Mau mati sia-sia?"
Baekhyun hanya tertawa kecil—bersyukur karena ada dua sahabatnya yang tidak berkhianat dan selalu berada di pihaknya.
Rasa tidak nyaman pada tubuhnya mulai menyingkir saat ia bisa tertawa bersama Kyungsoo dan Luhan. Interaksi sederhana semacam ini yang selalu ia tunggu, bukan sebuah kesialan karena ia di kelilingi oleh para lelaki yang menyebalkan. Hingga akhirnya mereka harus di pisahkan oleh jam pelajaran tambahan yang memasuki waktunya.
Baekhyun tidak pernah mengeluh tentang pelajaran apa saja yang ia terima. Ia menyukai semua pelajaran yang ia peroleh dan selalu menjalani dengan sepenuh hati. Tapi sepertinya hari ini ia membutuhkan pengecualian. Matematika bukan hal tepat untuk keadaannya yang mulai tidak nyaman. Ilmu pasti itu mendadak membuat kepalanya pusing, perutnya mual, dan tangannya berkeringat dingin. Biasanya ia akan bisa mencerna rumus-rumus itu dan kecerdasannya yang sangat cepat mengolahnya. Tapi pengecualian adalah yang terburuk. Terutama tubuhnya yang mulai menggigil dan ia merasa lemah.
"...jadi ketika sebuah bidang memotong bidang lain, perpotongannya adalah sebuah garis." Guru Kim baru saja menjelaskan beberapa materi dengan gambar-gambar abstraknya di papan. "Kalian coba berkelompok bersama teman sebangku untuk mengerjakan latihan soal pada halaman 50 sampai 56. Jangan berharap kalian bisa keluar dari ruangan ini sebelum soal-soal itu sudah terselesaikan."
Teman sebangku? Baekhyun tidak berminat dengan hal itu karena kenyataannya ia memiliki bangku sendiri di pojok belakang.
Jongin, Sehun, dan Mino memberi tatapan khawatir pada adik mereka yang sedikit pucat. Tapi mereka hanyalah tiga kurcaci yang tidak pernah memiliki opsi lain karena menantang matematika sama halnya menyeberang lautan api. Menyeramkan.
"Perlu bantuan?" Baekhyun melirik sesosok lelaki yang ada di samping Sehun. Dan ia juga tidak berminat melihat seringai menjijikkan dari lelaki itu yang mengisyaratkan sebuah hinaan. Biarlah, pikir Baekhyun. Toh ia tidak sebodoh itu untuk mengerjakan soal-soal matematika. Ingatlah bahwa Tuhan begitu baik menyelipkan kecerdasan berlebih pada si mungil ini. Tapi yang tidak baik adalah jumlah soal itu—lebih menumpuk dari cucian kotor seminggu yang tak terjamah.
Meski sendirian, Baekhyun sudah bisa menyelesaikan tiga halaman hanya dengan waktu satu setengah jam. Ini tidak begitu buruk mengingat hanya otaknya yang bekerja sendirian sedang yang lain menggunakan dua otak.
Lalu ketika waktu menunjukkan tepat pukul enam sore, Baekhyun merasa kehilangan beberapa kekuatannya. Soal di depan mata hanya tinggal satu lembar tapi ia tak lagi memiliki tenaga untuk menyelesaikannya. Tapi seonggok ketidakberuntungan adalah Guru Kim yang tidak memiliki toleransi dalam darahnya untuk sang murid. Guru itu meminta dengan segala kekejamannya pada terselesaikannya soal dan tidak menerima tawaran untuk di kumpulkan esok hari. Sedangkan Baekhyun sendiri tidak berminat membantah gurunya. Meski di dalam kelas hanya bersisa dirinya sendiri bersama hujan yang tiba-tiba turun, ia akan menyelesaikannya.
Beberapa waktu lalu Sehun, Jongin, Mino, Luhan, dan Kyungsoo menawarkan bantuan. Tapi jangan pernah lupakan jika Baekhyun adalah si kepala batu. Ia bersikeras menyelesaikan semua ini sendiri meski ia harus pulang tengah malam.
Tepat pukul tujuh bersama raungan hujan di luar, Baekhyun sudah menyelesaikan pekerjaannya dan memberikannya pada Guru Kim yang ada di ruang guru. Ia cukup berbangga diri karena bisa menyelesaikan semua itu sendiri meski akibatnya ia harus menerjang hujan untuk pulang. Beruntunglah gadis itu karena halte tidak terlalu jauh dari sekolah. Dan di sanalah ia sekarang, memeluk tubuhnya sendiri hingga menunggu bis terakhir datang.
Sisa hujan semalam tidak terlalu buruk untuk pagi yang berbalut rasa dingin nan segar. Hari baru untuk memulai hari dengan keadaan yang lebih baik setelah semalam mendapatkan tidur berkualitas.
Chanyeol masih berada pada mode dinginnya. Ia berjalan dengan langkah angkuhnya bersama cicit semut-semut perawan yang masih memujanya. Tak mau ambil pusing dengan solekan wajah-wajah gadis itu yang memiliki niat untuk menarik perhatiannya, karena Chanyeol hanya tertarik untuk satu orang yang duduk di—
Bangkunya kosong.
Ia memastikan jika pukul enam kurang lima menit seharusnya gadis itu sudah ada di tempatnya dengan peluh di pelipis. Atau ia mendapati gadis itu berdiri di depan pintu dengan gayanya yang tak terbaca tapi terlihat sangat menarik. Tapi tidak ada gadis sejenis itu di pagi ini hingga pelajaran pertama dimulai.
Secara apik Chanyeol menyembunyikan kekhawatirannya. Tidak melihat Byun Baekhyun pagi ini terasa aneh karena gadis itu sangat terobsesi dengan belajar. Dan membolos atau apapun itu, Chanyeol tau jika Baekhyun sangat-sangat menghindarinya.
Ini aneh karena Chanyeol bukan lelaki yang seharusnya khawatir dengan perasaannya. Yang paling aneh dan paling buruk dari semua itu ia kehilangan konsentrasi selama pembelajaran berlangsung. Terkutuklah seluruh fokus Chanyeol yang keukeuh bertahan tentang satu pikirannya pada seorang gadis bermarga Byun.
Dipenghujung waktu sekolah berakhir, ia tidak menjumpai Jongin, Mino, Sehun, Luhan, dan Kyungsoo di depan gerbang. Gank Baekhyun itu biasanya menghabiskan beberapa waktu sepulang sekolah untuk mengobrol di sana hingga senja menyapa. Dan sekitar gerbang di hari itu, kosong.
Hari kedua setelah menghilangnya Baekhyun tak membuat keadaan lebih baik. Kekhawatiran yang di sangkal itu semakin membesar tanpa tau malu. Bisa saja Chanyeol bertanya pada Sehun atau Jongin atau Mino dimana keberdaan si mungil. Tapi ia adalah sejenis lelaki yang memiliki gengsi sebesar gunung Fuji. Ia terlanjur membangun tembok yang menggambarkan ketidakpeduliannya pada sekitar, dan akan terlihat menjijikkan jika ia merobohkan sendiri tembok itu.
Lalu saat istirahat Chanyeol berpindah duduk di bangku pojok belakang yang berdekatan langsung dengan pendingin ruangan. Suhu disana tidak seburuk suhu terendah di musim dingin, tapi mendengar dari percakapan Jongin dan Sehun beberapa waktu lalu bahwa si mungil itu bukan pentolerir dingin yang handal. Tubuh tangguhnya mudah dilemahkan oleh suhu dingin meski sebesar ujung kuku.
Semakin buruk saat Chanyeol sudah berada di rumah, tak memiliki kegiatan apapun kecuali berguling-guling diatas ranjang. Sudah pukul delapan malam dan dia dirundung kebosanan yang berlipat ganda. PS keluaran terbaru, ponsel pintarnya yang berisi banyak game, gitar listrik hadiah ulangtahunnya, tidak lagi semenarik ketukan pukulan drum kesayangannya yang ada di sudut kamar. Ini menjengkelkan!
Gengsinya masih terlalu kuat menguasai rasionalitas dirinya. Ia, manusia dengan segala kuasa dirinya, dibuat menderita lahir batin oleh seorang Byun Baekhyun yang tidak terlihat selama dua hari di depan matanya. Bagaimana bisa?!
Apa kelebihan gadis itu? Siapa dia? Seberapa berkuasanya dia?
Chanyeol meletakkan pertanyaan itu di baris teratas pertahanan ideologinya tentang sebuah keegoisan. Lalu setelah berdebat dengan kelabilan otak dan harga dirinya, ia terkalahkan oleh sebuah tekad yang lebih kuat dari tarikan magnet.
"Ibu kapan pulang?" suaranya parau. Bibir pucatnya tak lebih baik dari keadaan dirinya yang menggigil.
"Mungkin besok sore. Bagaimana keadaanmu?"
"Tak sebaik bunga mawar di depan rumah."
"Anak ibu jadi sangat puitis jika sedang sakit. Maafkan ibu tidak bisa menemanimu saat sakit."
"Ibuku jadi sangat perhatian saat jauh dariku." Baekhyun terkekeh lemah di sela rasa pusing kepalanya. "Masalah dengan si tua bangka Paman Jaehoon lebih membutuhkan ibu daripada anak manis ini yang sedang sakit di rumah."
"Ya, dia si tua bangka menyebalkan. Baekhyun, jika besok ibu pulang tanpa membawa apa-apa atas hakmu dari ayahmu, apa ibu di maafkan?"
"Ku rasa hak yang kita bicarakan disini hanya sejenis omong kosong seperti pantat Robert, Bu." Baekhyun menyentil pantat sintal kucing rusia putih yang ada di pangkuannya. "Sudah ku katakan berkali-kali, bersitegang dengan para tua bangka dari keluarga Ayah itu melelahkan. Aku tidak membutuhkan warisan itu jika aku masih memiliki Ibu dan si sexy Robert."
"Ya, ya, ya. Kau memang anakku yang manis."
"Akan selalu seperti itu, Bu. Ibu sudah makan? Jangan sampai ibu melupakan sesuap nasi karena terlalu menggebu menentang para tua bangka itu."
"Tenang saja. Nafsu makan Ibu masih sebesar nafsu Ibu menjadikan Chanyeol menantu."
"Ibu!"
"Baiklah, baiklah. Ibu tidak akan membahasnya. Kau sendiri sudah makan? Obatmu bagaimana?"
"Ibu tidak usah khawatir. Anak-anak Ibu dari kandungan wanita lain mengurus waktu makan dan obatku dengan sangat baik."
"Maksudmu?"
"Mino dan Jongin selalu mengantar bubur hangat beserta obat di pagi hari. Kyungsoo dan Luhan mengantar makan siang, dan saat malam mereka datang bersama-sama membuat rumah ini berantakan tanpa memberiku makan malam. Kejam, kan?"
"Itulah mengapa mereka selalu ku perlakukan dengan baik. Mereka akan menjagamu saat ibu tidak bersamamu. Sekarang kau mengerti, kan, kenapa Ibu memanjakan mereka sama seperti Ibu memanjakanmu?"
"Ya, ya, ya, Nyonya. Anak manismu ini sungguh sangat paham."
"Oh, Baek, ini sudah pukul sembilan. Sebaiknya kau cepat minum obat lalu istirahat. Besok pagi Ibu akan menelfon sekolah dan mengatakan jika kau masih sakit."
Obrolan itu berakhir setelah bunyi 'bip' yang di putus oleh ibu Baekhyun.
Setelah itu Baekhyun merebahkan diri di ranjangnya bersama si sexy Robert. Keadaannya tidak lebih baik dari kemarin. Ia kedinginan, menggigil, suhu tubuhnya meninggi, dan beberapa kali ia di dera keolengan karena tekanan darahnya yang rendah.
Ibunya sedang ada di luar kota, mengurus beberapa urusan dewasa tentang harta warisan dari kakek-nenek Baekhyun. Urusan semacam itu hanya memancing keirian dan pertengkaran tidak berguna. Karena saat satu pihak mendapatkan bagian lebih banyak, maka pihak lain akan memprotes dan menyulutkan api pertengkaran.
Baekhyun dan ibunya tidak menaruh minat pada harta warisan bagian ayahnya yang di atas namakan nama Baekhyun. Kehilangan sedikit dunia itu tidak begitu menyeramkan karena hidup bukan tentang seberapa besar uang yang dimiliki, tapi seberapa tangguh bertahan dengan segala keterbatasan yang ada.
Sedari dulu, Ibu Baekhyun tidak pernah memiliki tempat di hati keluarga Byun. Wanita malang itu hanya beruntung di cintai dan di nikahi oleh si tampan Byun Ohsook (ayah Baekhyun). Tapi keberuntungan yang orang bicarakan diatas kebahagiaan Ayah-Ibu Baekhyun adalah ketulusan yang tak bisa orang lain lihat. Biarkanlah, kata Ibu Baekhyun. Orang-orang berhak memandang seberapa rendah hidup orang lain, tapi mereka bukanlah hakim yang memutuskan kebahagiaan seseorang. Dan ketika kebencian keluarga Byun semakin membuncah, Ayah-Ibu Baekhyun memilih menjauh dan meninggalkan kekayaan mereka untuk sebuah hidup sederhana. Hingga saat Baekhyun berusia 5 tahun, Ayahnya harus tidur dengan tenang karena sebuah penyakit kanker menyakitkan.
Selama ini Baekhyun hidup dengan ibunya dan semua baik-baik saja. Mereka tidak kaya tapi sangat cukup untuk makan dan memberi pendidikan pada si manis Byun Baekhyun. Harta warisan yang diperdebatkan keluarga besar Ayahnya hanya omong kosong seperti yang Baekhyun katakan. Tanpa warisan itu, ia dan Ibunya masih bisa bernafas dengan sangat tenang di atas muka bumi ini.
Memikirkan kisah memilukan tentang hidupnya membuat Baekhyun di sergap rasa lelah. Sudah tidak terdengar suara berisik dari ruang tamu—teman-temannya yang super menyebalkan itu sepertinya sudah pulang. Dan Baekhyun mulai di serang rasa kantuk akibat obat ketika bel rumah berbunyi.
"Robert," Baekhyun menyentil lagi pantat Robert. "Coba kau lihat siapa yang datang." Robert adalah sejenis kucing handal yang selalu menjadi sekutu Baekhyun. Dia kucing pintar, menuruti semua perintah majikannya, dan satu-satunya makhluk yang tidak pernah meninggalkan Baekhyun.
Robert si kucing pintar yang sudah terlatih untuk beberapa perintah. Ia akan menerobos lubang kecil yang sudah tersedia untuk pintu khusus Robert dan...
"AKH!"
Pekikan menakutkan menyadarkan Baekhyun dari kantuknya. Tak lama setelah itu Robert berlari kembali ke kamar Baekhyun bersama tubuh gembulnya dan mengeong layangnya kucing garong.
"Ada apa Robert? Siapa yang datang?"
Robert semakin mengeong dan itu pertanda ada orang asing mencurigakan di depan rumah.
Memaksa sisa tenaganya yang belum sepenuhnya pulih, Baekhyun berjalan terserok-serok menuju pintu depan berbekal tongkat kasti yang ia simpan di belakang pintu. Laporan Robert tidak pernah salah. Selama ini kucing itu selalu benar dengan penilaiannya pada orang asing.
Selangkah...
Dua langkah...
Tiga langkah..
Dan,
"AKHH!" Baekhyun mengayunkan tongkat kasti itu saat pintu sudah ia buka. Harusnya ada pekikan kesakitan karena tongkat kasti itu cukup berat dan ada seseorang yang terluka karenanya. Bukan seseorang yang kembali memekik heboh dan secepat kilat bersembunyi di belakang Baekhyun—atau memutari dirinya sambil menyibakkan kaki karena Robert mengejarnya.
"Kucing bodoh! Kucing sialan! Menyingkir!"
Sekejap..
Dua kejap..
Dan Baekhyun baru disadarkan oleh kenyataan jika yang berputar di sekitarnya adalah si sombong bertelinga lebar.
"Jauhkan kucing itu dariku sebel—HAATTCHIIMM!"
Chanyeol berhenti berputar, menutup hidungnya, dan meronta hampir menendang Robert yang menyerangnya.
Tak ingin terjadi kekerasan pada si sexy kesayangannya, Baekhyun segera meraih tubuh gembul Robert dan menyimpan dalam pelukannya.
Baekhyun memicingkan matanya—melihat lelaki yang baru saja ia beri obat alergi beserta segelas air putih. Ada yang perlu menjelaskan di sini, batin Baekhyun.
Alergi tidak pernah lebih baik dari sosis sapi. Baekhyun sangat tau itu. Tapi bukankah ini berlebihan mengingat dirinya yang sedang sakit harus mengurus orang lain yang sedang bergelut dengan alerginya?
"Robert tidak salah." Baekhyun lebih membela kucing kesayangannya—dan itu wajar. "Jika kau hanya mengintimidasi Robert karena ia adalah alergimu, sebaiknya kau pergi."
"Apakah kau selalu tidak sopan begini dengan tamu?"
"Sudah ku katakan sebelumnya jika aku melakukan ini hanya padamu!" Baekhyun hanya bisa menaikkan satu oktaf suaranya karena ia masih lemah bersama demam sialan itu.
"Dan apa yang ada di dahimu itu?"
Baekhyun menyentuh dahinya, merasakan ada semacam plester besar bersama gel dingin yang –seingat Baekhyun— di tempel Kyungsoo tadi sore.
"Bukankah itu untuk anak bayi?"
Lebih baik Baekhyun diam dan berhenti menyangkal. Ia harus menghemat sisa energinya yang terkuras karena sebuah demam.
"Lalu kenapa ruangan tamu ini sangat berantakan?"
Oh, ini keterlaluan. Ruang tamu Baekhyun tidak seberantakan itu. Hanya beberapa bantal sofa yang tergeletak malang di lantai, beberapa kaleng bekas cola dan—baiklah, ini berantakan.
"Jongin dan Mino baru saja datang kemari."
"Ibumu dimana?"
"Di luar kota."
"Bukankah itu ilegal membiarkan anak perempuan sendirian di rumah dan ditemani laki-laki?"
"Dan bukankah yang sedang kau lakukan sekarang juga ilegal? Masuk ke rumah seorang perempuan lalu mengomentari seenak gigimu!"
Chanyeol terdiam. Wajah pucat dan tubuh lemahnya hanya sebuah topeng sementara karena dia masih sangat galak. Chanyeol bersyukur untuk itu.
"Kau sakit?"
"Apa itu penting untuk ku jawab?"
Si mungil membenarkan beberapa bantal di ujung sofa, membaringkan tubuh lemahnya di sana, dan menarik selimut Frozen untuk menutupi tubuhnya yang menggigil.
"Otakmu cerdas tapi tidak pernah berhasil merancang logika yang tepat."
Baekhyun kembali berdecih kesal. Maunya apa orang ini?!
"Berpakaianlah yang sewajarnya orang sakit. Kau kira kaos tipis dan hot pants itu akan melindungimu dari hawa dingin?"
Ia mengangkat selimutnya, memperhatikan pakaian yang ia gunakan, dan yang dikatakan lelaki itu benar. Tidak seharusnya ia berpakaian seperti itu saat tubuhnya membutuhkan kehangatan. Tapi, yang sedang menyalahkan atas apa yang dikenakan Baekhyun adalah Park Chanyeol. Lelaki yang membuatnya harus duduk di bangku pojok belakang bersama pendingin ruangan. Membenarkan ucapan lelaki itu dari bibirnya hanya akan membuang waktu secara sia-sia.
"Apa pedulimu?"
"Kenapa kau keras kepala sekali?" Dan Chanyeol tidak bisa berlama-lama menyimpan pertanyaan itu. Taukah si mungil ini, seberapa besar usaha Chanyeol melawan harga dirinya untuk tidak datang kemari demi sebuah kekhawatiran?
"Itu kepalaku. Tidak usah membahasnya. Urusi saja urusanmu."
Selain keras kepala, Baekhyun juga pemilik bibir yang pedas. Apa yang di ucapkannya akan memanaskan telinga dan mencokol sebuah ketersinggungan. Jangan lupakan bagaimana mata sipitnya yang tajam—mengintimidasi Chanyeol yang duduk di ujung sofa yang lain dekat kaki Baekhyun.
"Baekhyun, niatku datang kemari bukan untuk mendebatmu."
"Aku tidak berminat dengan segala niatmu!"
Tenang Chanyeol. Batu di lawan batu tidak akan pernah menemui kedamaian.
"Kau sudah minum obat? Sudah makan?"
"Apa itu bentuk kekhawatiran, Park Chanyeol?"
Sayang sekali si mungil ini sedang tergolek lemah bersama mulutnya yang pedas itu. Jika dia sedang dalam keadaan sepenuhnya sehat, Chanyeol akan mendebatnya lebih dasyat dari sekumpulan lebah.
"Tubuhmu lemah, tidak capek mendebatku?"
"Aku hanya bertanya apa itu suatu kekhawatiran? Karena jika itu benar, aku mengharapkan penyesalan darimu karena kau turut andil membuatku sakit dan—"
"Ma-af. Puas?"
Ya, permintaan maaf tidak harus dengan jarak sedekat ini. Seperti Chanyeol yang menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Baekhyun dan memenjara Baekhyun dengan dua lengan panjang Chanyeol. Ini...membingungkan.
"Terserah." Baekhyun menarik selimut dan menutup wajahnya disana. Ia demam, tapi jika yang dirasakan hanya panas pada dua pipinya, demam macam apa ini.
"Baekhyun..."
Lalu terjadilah peristiwa tarik menarik selimut Frozen pink lucu itu. Baekhyun yang mempertahankan untuk menyembunyikan semu merah pipinya dan Chanyeol yang berusaha menarik untuk melihat wajah si mungil yang diam-diam ia sematkan sebuah rindu.
Ingatkan pada mereka masih ada si sexy Robert dengan matanya yang polos sedang melihat adegan lebih norak dari sebuah drama. Mereka sudah kelas 3 SMA dan tarik menarik selimut hanya secuil tingkah kekanakan dari anak TK. Oh, Baekhyun adalah perempuan yang menyukai segala jenis hal kekanakan meski ia terlihat dewasa dan galak. Jadi hal ini tidak sepantasnya dikatakan berlebihan. Tapi lelaki tinggi yang menarik selimutnya itu sejenis lelaki yang terkenal beraura kutub utara, bukan lelaki yang menuruti hal kenakan ini.
Akhir dari semua itu ketika Baekhyun melepaskan tarikannya dan membuat Chanyeol jatuh tersungkur dengan kepala terbentur di meja. Rasakan!
"Aku yang sakit, kenapa harus meladeni kepalamu yang terbentur?" Baekhyun mengompres kepala benjol Chanyeol yang terbentur meja.
"Kalau aku hilang ingatan bagaimana?"
"Itu lebih bagus supaya kau tidak muncul di hadapanku."
"Seburuk itukah aku?"
"Perlu ku ambilkan kaca?" Si mungil melempar buntalan kain yang berisi es batu itu di atas pangkuan Chanyeol. Tubuhnya masih lemah dan ia benar-benar butuh berbaring. Demam, flu, dan kedinginan bukan sesuatu yang menyenangkan karena seluruh tubuh akan menjadi sangat lelah. "Pulanglah jika tidak ada yang ingin kau lakukan disini. Aku mau tidur."
Chanyeol sedikit tersinggung. Tapi ia kembali tersadar oleh sebuah kenyataan bahwa Baekhyun memiliki mulut sepedas cabai keriting. Jika ia marah dan benar-benar tersinggung, itu membuat si mungil besar kepala karena ucapannya bisa mengusir Chanyeol. Namun sayangnya, Chanyeol tak pernah gentar. Ini seperti sebuah pengejaran yang berakhir seperti ampas kedelai. Tak berguna.
"Dan siapa yang akan menjagamu?"
"Robert."
"Kucing sialan itu?"
Ngeong!
"Namanya Robert dan dia itu kucing sexy."
"Dia tidak bisa meladenimu saat tengah malam kau membutuhkan sesuatu."
"Aku tidak membutuhkan apa-apa kecuali ada yang menemaniku. Dan Robert adalah pilihan yang tepat."
"Kau seakan memberi kode agar ada yang menemani."
"Percaya dirimu terlalu berlebihan, Park." Baekhyun menarik selimut Frozennya, membungkus seluruh tubuhnya yang meringkuk kedinginan, dan sesekali mendesis karena kepalanya sangat berat.
"Ke dokter ya, Baek?" Lelaki itu kembali khawatir. Si mungil yang sok kuat itu tumbang di sisa tenaganya. Wajah dan bibirnya memucat, tubuhnya menggigil, dan keringat dingin mulai keluar. "Suhu tubuhmu meninggi sepertinya." Chanyeol menyentuh sebelah pipi Baekhyun yang bersemu merah karena demam.
"Tidak usah. Kau pulang saja dan aku akan beristirahat. Besok pagi pasti lebih baik lagi."
"Kenapa keras kepala sekali, sih?!"
"Begitulah aku."
Selimut Baekhyun tak lebih hangat dari bulu-bulu Robert. Selimut kesayangan Baekhyun itu masih memiliki ketebelan yang tidak terlalu menyenangkan, atau tipis. Dan saat Baekhyun semakin menggulung tubuhnya hampir seperti Sushi, ia merasa ada perubahan pada selimut Frozennya. Lebih hangat.
"Aku akan melepas plester demam kekanakan ini dan mengompresmu."
"Jangan berlebihan, Chanyeol. Aku bisa sendiri."
"Berhentilah keras kepala saat ada orang lain yang peduli padamu! Kau menjadi 1000 kali lebih menyebalkan saat begini?!"
"Maka dari itu kau pergilah karena aku tidak akan sebaik ibu peri. Aku ini si penyihir kejam!"
Chanyeol membenarkan letak posisi jaketnya yang ia labuhkan di atas selimut Frozen Baekhyun. Andai mulutnya bisa berbaik hati menyampaikan apa yang ada di hatinya tentang sebuah kekhawatiran, mungkin Chanyeol tidak akan seburuk ini dalam keterdiamannya dengan sebuah baskom berisi air dan handuk kecil yang baru saja ia dapatkan dari dapur. Yang dibutuhkan hanya sabar. Meladeni letupan-letupan Baekhyun hanya akan melelahkan mulut dan batin.
"Chanyeol..aku...bisa...sendiri..."
Si mungil itu memberingsut seperti mini Sushi. kepalanya bahkan kini sudah tak beralas apa-apa karena sudah menyatu dengan tubuhnya yang kedinginan.
Chanyeol mengawasinya dalam diam. Diperhatikannya wajah pucat dan tubuh lemah di depannya itu. Jika sedang sehat ia akan segalak harimau, tapi jika sedang lemah begini ia tak lebih dari anak kucing malang yang kedinginan. Chanyeol memang alergi kucing, tapi jika ada yang selemah dan menggemaskan seperti ini, ia ingin membawanya dalam sebuah pelukan hangat. Tapi Chanyeol bukan seorang pemeran utama pria yang bisa secara lelaki memeluk wanitanya yang kedinginan lalu mengucapkan serentetan dialog yang akan menjadi kehangatan lain.
Ia hanya anak SMA biasa yang sudah berkali-kali pacaran. Meluluhkan hati wanita adalah keahliannya. Tapi ia tidak pernah menemukan keahliannya itu jika berada di depan si mungil Baekhyun. Ia selalu dibuat kelabakan, salah tingkah, dan berbagai hal aneh lainnya yang tidak ia temukan apa penyebab pastinya.
Kepala lemah itu Chanyeol sanggah dengan sangat pelan dan membawanya di atas pangkuan pahanya. Tidak ada penolakan karena Baekhyun benar-benar tidak memiliki tenaga. Ia pasrah.
"Kalau menurut begini kau sangat manis, Baek."
"Hmm..ya.." gumam si betina.
"Baekhyun,"
"Ya?"
"Jadi pacarku ya, Baek?"
Selembar handuk kecil di atas dahi Baekhyun adalah apa yang kini terlempar dan membasahi wajah Chanyeol.
.
.
.
Tibisi
Okeh, tibisinya nanggung, ceritanya gak jelas, dan aneh. FF ini cuma bentuk pelampiasan aja. Jadi jalan cerita serta penulisannya juga gak memiliki alur yang pasti. Semua tergantung mood dan apa2 saja yang ada di otak. Wkwk..
.
.
Special thanks to :
leeminoznurhayati , Kolak Pisang, Tak Secantik Baekhyun, hj, ennoo96, LittleJasmine2, fujimaru121, inibaek, Skymoebius, , SELUsin, Chanbaekhunlove, Gianty 581, dodyeolu, choi96, asmaul, yoogeurt, adorahttr, byunnie puppy, .35, meesoo, azurradeva, hayya, bebekJail, snowless, yeolchubby, TKsit, byeoliesa, leekaisoo, baeqtpie.
.
.
LOVE YOU BANYAK2 BUAT REVIEWERS DAN SEMUA YANG NIKMATIN FF INI.. :*
MAAF GABISA UPDATE CEPET KARENA LAGI SEDIKIT SIBUK. BAHKAN INI ADA RENCANA MAU VAKUM DARI DUNIA PER-FF-AN. JADI BUAT YANG NUNGGU 'LATIBULE' JUGA 'DOWN PAYMENT' KUDU SABAAAAAAAARR YAAA.. KALO SABAR NANTI AYOUNG KASIH CIUM SATU2.. WKWK
.
.
.
1030
