T

.

.

.

Bumi sedang berbaik hati membiarkan Baekhyun berangkat sekolah dengan perasaan lebih tenang. Jika sebelumnya ia selau diburu waktu, maka pagi ini ia patut berbangga diri karena ia bisa tepat sasaran. Tidak ada acara berlari mengejar bis, tidak ada acara berebut kecepatan untuk menyongsong pintu gerbang, dan...

...ada si telinga peri sedang duduk di bangku pojok belakang.

Kebaikan bumi hanya berlangsung hingga batas pintu kelas karena ia mendapati singgasananya sedang didiami oleh makhluk lain. Bumi hanya baik untuk waktu berkualitas Baekhyun, tapi bumi menolak memberikan kebaikan untuk emosinya.

Tenang, Baekhyun. Anak itu hanya mengujimu.

Lalu ketika Baekhyun sudah sampai pada bangku yang di tuju ia bersendekap dada, memberi tatapan sinis, dan menggumamkan kekesalannya—kelas masih terlalu pagi untuk menerima luapan emosi si mungil. Baekhyun hanya menggumam, gumaman itu mungkin bisa saja di dengar oleh seekor semut di sudut ruangan, tapi lelaki yang sedang sibuk dengan novel picisan anak muda itu memilih acuh.

"Aku butuh tempat lebih dekat dengan pendingin ruangan. Jadi aku harus di sini."

Seharusnya lelaki itu mengatakan hal-hal sedikit sopan atau sedikit lebih baik daripada ketusan tentang sebuah kepemilikan. Namun sesungguhnya yang seharusnya ketus adalah si mungil—lagi-lagi ia terusir dari singgasananya sendiri. Sayangnya Baekhyun bukan sejenis orang yang mau kalah, sekalipun ini terlihat sepele tapi ia benci di rendahkan.

"Chanyeol, tempatmu bukan di sini."

Novel itu di tutup, menyisakan raut wajah datar yang menunjukkan ketidaksukaan berlebih pada lawan bicaranya. Lalu dimana wajah yang dua hari lalu melompat-lompat ketakutan seperti anak kera hanya karena si sexy Robert? Dasar muka koin!

Meski begitu Baekhyun tak gentar untuk balas memberinya tatapan lebih galak. Jangan lupakan satu fakta bahwa Baekhyun adalah satu dari sekian tubuh mungil yang lebih kejam dari ibu tiri dan lebih pedas dari cabe keriting. Jadi dia akan menegakkan tubuh, menyalak pada level tertinggi, dan siap menyembur Chanyeol jika saja Guru Kim tidak masuk kelas lalu menginterupsi Baekhyun untuk segera duduk.

Pagi yang buruk karena ada kekesalan yang mulai bertunas kecil. Berdoa saja semoga si mungil ini tidak menumbuhkan tunas kekesalannya semakin tinggi.

"Hai, Baek." Bisik Sehun saat Baekhyun sudah melesakkan pantat untuk duduk di tempatnya. "Demammu sudah turun?"

"Tadi sarapan apa, Baek? Maaf aku tidak bisa membawakan sarapan karena aku harus mengantar Ibu." Ini Jongin.

"Aku harus menjemput Irene tadi pagi." Ini Mino.

Sayangnya Baekhyun masih bersikukuh dengan sikap merajuknya untuk tiga kurcaci itu. Mereka kira, semua akan menjadi lebih baik saat mereka merelakan diri menjadi perawat Baekhyun. Namun nyatanya mereka harus sedikit bersabar karena si adik kecil masih merajuk.

Sepanjang pelajaran Baekhyun menepis bujukan-bujukan halus yang di berikan oleh tiga kurcacinya. Ia menyukai keadaan ini, di bujuk untuk memafkan dengan rayuan anak bayi. Untuk itu ia memberi respon dengan desisan kesal yang ia buat-buat beserta kerucutan bibir yang menyerupai bebek. Rasakan!

.

.

Sore sedang menunjukkan seberkas sisa mentari yang membias indah. Beberapa burung mulai berterbangan kembali ke sarang dan bersiap menunggu senja menjadi petang. Hanya saja angin segar khas senja sedang tidak berniat menunjukkan eksistensinya—mengakibatkan beberapa manusia didera rasa gerah dan berujung pada dahaga.

Pelajaran terakhir selesai tepat pukul 6. Suasana kelas menjadi sedikit riuh dengan pemandangan beberapa siswa meregangkan badan atau bersungut kesal karena lagi-lagi Guru Kim memberi mereka tugas. Tapi mereka bisa apa, hanya bisa menerima dan pasrah lalu mengerjakan sebisa mereka. Mereka sudah menjadi senior tingkat akhir dan ujian semakin dekat. Anggap saja tugas Guru Kim menjadi bahan latihan soal untuk menghadapi ujian kelak. Ya, anggap saja begitu.

Baekhyun sudah tidak merajuk pada tiga kurcacinya. Anak perempuan itu sudah kembali menjadi adik kecil manis yang selalu bercicit sana-sini seperti anak ayam. Terbukti dengan omelan sore harinya karena Jongin yang tertidur selama pelajaran, Mino yang sibuk menggoda Irene, dan Sehun yang baru saja memasukkan ponsel dalam sakunya—sepanjang hari dia terus berkirim pesan dengan Luhan yang ada di kelas lain.

"Ujian sebentar lagi, Jongin. Semangatlah sedikit."

"Aku sudah semangat. Apa kau tak melihatnya?" Kata Jongin sambil mengusap sedikit liur di ujung bibirnya. Menjijikkan!

"Mana?"

"Aku duduk di sini sepanjang waktu dan mendengarkan pelajaran. Kata kakekku itu sudah merupakan semangat."

Terserah apa kata kakekmu saja!

"Mino, apa kau tak melihat Irene sudah begitu kesal karena tingkahmu?"

"Benarkah?"

"Lihat," Baekhyun menarik dagu perempuan mungil yang duduk di bangku seberang kanannya, "dia bahkan berekspresi lebih buruk dari hasil ujian Jongin minggu lalu."

"Itu ekspresi bahagia, Baek." Anak laki-laki yang duduk di depan Baekhyun itu justru berbinar saat Irene menekuk semua kecantikannya—kesal lebih tepatnya.

"Dan kau Sehun—"

"Aku lapar. Bagaimana jika kita segera makan? Luhan dan Kyungsoo sudah menunggu di luar."

Sehun mengambil tongkatnya, menjepitnya di cekungan ketiak, lalu berjalan sedikit tidak seimbang menuju pintu—meninggalkan Baekhyun yang masih membesengut kesal karena tiga kurcaci itu sungguh tidak bisa di nasehati.

Baekhyun masih mengomel sepanjang perjalanan menuju kantin. Didengarkan ataupun tidak, ia tidak peduli—anak perempuan itu selalu suka memiliki peran adik kecil yang cerewet.

Suasana kantin tidak seramai saat siang hari, hanya beberapa siswa yang memilih mengisi perut sebelum beranjak pulang. Menjadi senior tingkat akhir yang selalu disibukkan dengan pelajaran tambahan membuat masa tenggang dari isi dalam perut cepat menipis. Dan memiliki perut kelaparan saat otak sedang dibutuhkan untuk bekerja ekstra lebih keras sungguh bukan hal yang disarankan. Baekhyun pernah mencobanya dan ia berakhir dengan terbujur lemah di atas ranjang bersama selang infus mengerikan di tangan kiri.

Pernah ada orang berkata, kalian tidak perlu repot-repot menjaga image jika sedang bersama sahabat. Mereka adalah orang yang paling mengerti dan paling memahami segala kekurangan dan kebodohan sahabatnya tanpa pernah ada rasa ingin menjauh. Seperti Jongin yang melahap satu burger dalam sekali bukaan mulut, Sehun yang mencampur mie kering dengan madu, Mino yang mencintai saus sambal untuk semua makanan yang ia makan, Luhan dan Kyungsoo yang tidak jijik makan menggunakan tangan mereka, dan Baekhyun yang bersiap dengan sebuah sendawa panjang karena ia akan meminum dua kaleng cola sekaligus. Mereka adalah gambaran sebuah pertemanan sesungguhnya—tidak berkiblat pada rasa gengsi karena ketulusan untuk saling menemani lebih menjanjikan kebahagiaan. Makna sebuah persahabatan yang begitu sederhana, bukan?

"Baek, bisa belikan aku satu burger lagi? Aku masih lapar." Kata Jongin.

Baekhyun, Kyungsoo, dan Luhan melebarkan manik mata pada Jongin lalu jatuh pada beberapa bungkus tak berperasaan yang ada di depan Jongin.

"Tidak usah melihatku begitu. Seperti tidak tau saja kebiasaanku bagaimana." Jongin menyodorkan beberapa lembar uang pada Baekhyun dan di sambut gadis itu dengan decihan kesal. Sekalipun ia harus mengomel karena merasa diintimidasi berdasarkan usia, Baekhyun akan tetap berangkat dan membelikan Jongin burger lagi. Untuk situasi seperti itu Baekhyun ingin sekali terlahir dengan usia lebih tua agar tidak ada lagi yang berani memerintahnya. Karena ketika satu orang menabur benih tidak mengenakkan, yang lainpun dengan senang hati menabur benih menyebalkan dengan kapasitas berkali-kali lebih banyak. Seperti Mino yang ingin dibelikan permen lolipop rasa mangga dan Sehun yang ingin makan ramen ukuran jumbo.

Baekhyun mengomel sepanjang perjalannya menuju booth kantin dan membelikan pesanan orang dewasa yang bertindak semau gigi mereka. Ia memulai dari memesan burger Jongin dan menunggunya sampai selesai, memesan ramen ukuran jumbo Sehun lalu berakhir dengan memberikan permen untuk Mino.

Saat Baekhyun akan memasuki booth desert yang ada di ujung, ia menjumpai suatu gerombolan tidak biasa yang menyita perhatiannya. Seperti cicitan anak gadis yang akan dilamar seorang pangeran berkuda putih ketika gerombolan itu mencuatkan kepala yang sangat Baekhyun kenal.

Tck! Ada drama apa lagi?

Baekhyun mendekat—tidak ada salahnya menonton sebentar drama ini.

Lalu ketika ia berdiri dengan jarak sekitar satu meter, gerombolan itu tiba-tiba membelah dan membuka sebuah jalan yang mengarah langsung pada Baekhyun.

"Aku tidak bisa menerimamu karena aku sedang berkencan dengan Baekhyun."

Manik Baekhyun seperti akan terlepas ketika dirinya yang hanya berperan sebagai penonton tiba-tiba ditarik menjadi seorang pemeran utama. Tentu ia terkejut, terlebih yang mengatakan hal itu adalah si sombong Park Chanyeol yang sedang berhadapan langsung dengan si pemeran utama wanita lainnya. Seolhyun.

Mendadak Baekhyun menjadi pusat perhatian sekaligus pusat kebencian dari siapa saja yang mengagumi Chanyeol. Demi seluruh dewa keberuntungan yang membuntutinya, Baekhyun sama sekali tidak berminat mengambil peran dalam drama ini.

"Apa itu benar, Baekhyun?" desis Seolhyun sambil menahan nafas pendek-pendek.

"Apanya?"

"Kau kencan dengan Chanyeol!"

"Kau mempercayainya?" Bukan Baekhyun namanya jika tidak bisa mengendalikan suasana—ia tidak ingin terjebak dengan permainan yang dibuat Chanyeol yang sedang membuat kode dari matanya.

"Jawab aku Baekhyun!"

"Ouch, ouch, ouch. Kenapa emosi sekali?" Baekhyun mendekat, melawan gelagat tidak suka dari kucing-kucing genit yang mulai terganggu. "Dengarkan aku, Seolhyun. Pasang telingamu baik-baik karena aku hanya mengatakannya sekali."

Seolhyun menarik nafas panjang yang sarat kebencian di sana.

"Aku berkencan dengan siapa saja bukan urusanmu! Memang kau siapa berani menanyakan hal itu?"

Seolhyun mendesis.

"Seringkali aku bertanya-tanya, apa hebatnya Chanyeol hingga kalian," telunjuk mungil itu menginterupsi para pengikut Seolhyun, "bisa menggilainya! Selera kalian benar-benar buruk!"

"Jadi apa kau berkencan dengan Chanyeol atau tidak?!"

"Ku rasa kau tidak terlalu bodoh untuk mengerti apa yang ku katakan barusan. Atau kau memang bodoh? Ups, selera kampungan dan otak yang bodoh, sungguh disayangkan hal itu tidak berimbang dengan kecantikanmu!"

Si mungil menarik diri dari kerumunan setelah membuat wajah Seolhyun memerah menahan marah. Biarkan saja, memang siapa dia? Membentak Baekhyun sesuka giginya dan mendesis seperti ular. Baekhyun muak dengan semua yang sudah terjadi. Ia lelah setiap pagi harus mengungsi sana-sini sampai para penggemar Chanyeol itu enyah. Pernahkan mereka berpikir jika perbuatan mereka itu merugikan banyak pihak?!

Baekhyun kembali ketempatnya setelah sebelumnya membeli dua cola dingin dari lemari es. Jemarinya menggenggam hingga pucat dan nafasnya naik turun—semua bisa mengartikan jika si mungil ini sedang dalam mode sangat tidak baik. Lalu dengan keberanian seujung kuku Robert, Kyungsoo memberanikan diri untuk bertanya.

"K-kau..oke?"

BRAK!

Meja tak bersalah itu menjadi korban malang atas kekesalan Baekhyun. Sebelum menjawab pertanyaan Kyungsoo dan tatapan khawatir dari teman-temannya yang lain, Baekhyun membuka tutup cola yang ia beli —seseorang mengambil paksa cola itu dan menggantinya dengan susu strawberry. Berani benar orang ini!

"Maumu apa?!" Tubuhnya menyalak berdiri, membentak dengan nada tertinggi hingga sisa murid yang ada di kantin terfokus padanya.

"Kau baru saja sembuh dan cola bukan minuman yang tepat."

"Itu bukan urusanmu!"

"Tentu itu urusanku."

"Chanyeol! Berikan colaku."

"Tidak mau."

"Chan—"

Cola dingin yang baru Baekhyun beli itu berpindah ruang melalui mulut Chanyeol. Lelaki itu menenggak semua colanya, tidak hanya satu botol tapi dua botol yang ada di tangan Baekhyun. Ia bukan penikmat cola yang handal, hanya saja dalam situasi ini ia harus melakukannya. Entah untuk kebaikan Baekhyun atau...sudahlah, Chanyeol sendiri tidak mengerti alasan apa yang bisa membuatnya seperti ini.

.

Setelah insiden mempermalukan Seolhyun di depan banyak orang beberapa hari lalu, Baekhyun merasa dirinya menjadi incaran para kucing kelaparan. Setiap kali ia melangkahkan kakinya di sudut-sudut sekolah, tatapan buas nan kejam sudah menanti untuk menjadikannya kucing malang yang tersayat. Namun sayangnya semua itu bukan menjadi sesuatu yang patut Baekhyun pikirkan. Pasalnya, anak perempuan itu terlalu cuek dan tidak ambil pusing selama tidak ada yang mendekat dan menyentuh tubuhnya—bahkan ujung kuku sekalipun.

Dia, si mungil yang lebih galak dari ibu tiri, melewati barisan kucing betina haus belaian dengan wajah sedatar aspal depan sekolah. Baekhyun bisa melihat dari sudut matanya, kucing-kucing itu siap mencakar, menjambak, dan mencabik-cabik tubuh Baekhyun andai saja tidak ada Mino dan Jongin yang berjalan di belakangnya. Ini lebih mirip seperti seorang putri mahkota dengan dua pengawal pribadi. Apapun penganalogiannya, sedikit-banyak Baekhyun bersyukur dua temannya itu sangat tau apa yang ia butuhkan. Karena sebenarnya melawan dengan tatapan judes saja tidak akan membuatnya bisa pulang dalam keadaan utuh.

Semua ini karena si kutub utara yang berotak kosong. Jika saja mulutnya itu bisa sedikit memiliki filter dan tidak menyatakan suatu hal yang jelas-jelas bernilai bohong, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Meski Baekhyun sudah menyangkal apa yang di katakan Chanyeol, tetap saja kucing-kucing perawan itu menaruh dendam berlebih pada si mungil.

Baru kabar burung saja mereka sudah seperti itu, bagaimana jika aku benar-benar berkencan dengan Chanyeol? Baekhyun hanya begidik ngeri tentang hal itu.

Masalah sebenarnya tidak sesimpel itu jika saja Chanyeol tidak memulai ulah bodohnya lagi. Semisal dengan memberikan senyum saat Baekhyun masuk ke kelas. Itu sungguh petaka! Karena ketika para mata-mata yang ada di kelas memergokinya, Baekhyun sudah mendapat hujanan tatapan membunuh.

Semakin hari Baekhyun semakin memiliki banyak musuh. Bukan hanya para kucing betina yang ada di kelas ataupun teman seangkatan, junior-juniornya juga mulai membisik risih kala Baekhyun melintas di hadapan mereka. Baekhyun tau betul ia sedang dibicarakan, karena ketika ia menoleh dan menuntut penjelasan, kucing-kucing kecil itu mengalihkan pandangan lalu bercicit pergi saat Baekhyun memberi mereka tatapan galak.

Apa salahku?

.

.

.

Sore separuh hangat sisa dari siang yang mendengkang terik. Jika ditelisik kembali, terik siang tadi benar-benar menyiksa. Hawa panas menyebabkan banyak peluh keluar dan dahaga menyambangi. Benar-benar buruk, terlebih bagi Baekhyun yang mendamba kesegaran cola untuk menghalau rasa dahaganya. Ya, dia bisa saja pergi ke kantin, membeli cola, dan menenggak semua isi botol minuman berwarna hitam itu. Tapi ketika Baekhyun akan membuka tutup botol itu, seseorang sudah terlebih dahulu mengambilnya dan mengganti dengan sebotol air mineral dingin.

Apa haknya untuk melarang Baekhyun meminum cola ? Menyebalkan sekali. Untuk itu terkadang Baekhyun harus bersembunyi di balik bilik kamar mandi untuk menikmati cola nya. Atau, jika Chanyeol kembali merebut minuman kesayangan Baekhyun itu, sebotol air mineral dingin yang ada di tangannya akan ia lempar hingga menyakiti punggung si tinggi. Rasakan!

.

Baekhyun harus mampir ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan yang diminta ibunya. Ia juga harus mengisi ulang stok makan si sexy yang selalu saja kelaparan meskipun ia sudah makan. Baekhyun heran, setaunya Robert kecil dulu sangat susah makan. Bahkan Baekhyun dan ibunya harus membujuk si sexy itu layaknya anak balita yang tidak mau makan. Namun seiring berjalannya waktu, Robert berubah menjadi kucing gila makan. Ia selalu meraung seperti srigala ketika perutnya mulai berdendang lapar. Makanya tidak salah jika tubuh Robert sekarang sangat sintal dengan bokong yang berlenggak-lenggok layaknya model yang sedang berjalan di catwalk.

Selain memenuhi kebutuhan rumah juga kebutuhan Robert, Baekhyun sedang menginginkan sesuatu yang menyegarkan. Ia butuh asupan buah segar di tengah musim panas yang sedang melonglongkan suhu tingginya. Mungkin sebuah semangka merah besar yang mengandung banyak air bisa menjadi pilihan yang pas. Maka setelah memenuhi troli dengan barang kebutuhannya, Baekhyun berlalu menuju keranjang buah.

Semangka berukuran besar dengan warna merah menyala—Baekhyun sudah bisa merasakan kesegarannya. Ia melihat ada satu kandidat yang siap menambah berat troli belanjaannya. Dengan wajah berbinar, anak perempuan itu meraup si merah menggoda dalam pelukan tangan mungilnya. Tapi sepertinya ia harus membuang jauh-jauh raut bahagia saat bertemu si merah menggoda. Pasalnya, ada tangan lain yang mencoba menginterupsi pelukan Baekhyun pada si merah menggoda itu.

"Semangka ini milikku."

Suara berat.

Surai serupa mangkuk ramen.

Dan, si tinggi bertelinga peri.

Kenapa harus ada Chanyeol di sini?!

"Aku yang menghampirinya terlebih dahulu." Baekhyun menarik kembali semangka yang sudah digiring mendekati Chanyeol.

"Aku yang melihat dulu."

"Semua terbantahkan saat aku yang menghampiri terlebih dahulu."

"Apapun yang terjadi aku yang akan membawa pulang semangka ini."

Baekhyun menarik nafas kesal—masih mempertahankan si merah dalam tangannya. Siang sedang melonglong, dahaga sedang menjerit tidak tau malu, dan Park Chanyeol menambah buruk keadaan dengan argumen tidak penting ini.

"Aku harus membawa pulang semangka ini untuk keponakanku." Dia beralasan lagi.

"Aku harus membawa pulang semangka ini untuk menambah nutrisi setelah aku sakit."

"Kau sudah sembuh."

Bagaimana bisa ini menjadi lebih menjengkelkan saat Chanyeol dengan tidak berperikemanusiaan merebut semangka itu dari Baekhyun? Lelaki itu tersenyum penuh kemenangan saat melihat Baekhyun tak memiliki argumen untuk membalasnya.

"Tapi aku menginkan semangka ini. Aku yang datang terlebih dahulu dan menghampirinya. Kau bisa menanyakan padanya." Dagu Baekhyun menunjuk seorang pegawai supermarket yang berdiri di dekatnya. "Aku yang mengambilnya duluan, kan?" tanyanya pada pegawai itu. Dan dengan sedikit ketakutan karena Baekhyun menyalak judes, pegawai itu mengangguk cepat.

"Kita menyentuhnya di saat yang bersamaan. Bukan begitu, Nona?" Chanyeol memberi kerlingan mata yang membuat pegawai itu bersemu merah. Cih, cara menyogok yang kampungan!

Baekhyun mendesis kesal. Sejujurnya ia sedang tidak ingin terlibat dalam perdebatan tidak menguntungkan ini dengan Chanyeol. Karena apa, karena Baekhyun sendiri tau berurusan dengan Chanyeol hanya akan membuang waktu dan merugikannya.

Jika saja di sana ada semangka lain yang bisa membuatnya menghindar, mungkin Baekhyun akan melepas semangka itu dan membuang jauh-jauh kesempatan untuk berdebat dengan Chanyeol. Namun sayangnya semangka itu hanya ada satu dan Baekhyun benar-benar menginginkannya.

"Chanyeol, biarkan aku membawa semangka ini dan pulang dengan tenang. Belum cukupkah kau menyusahkanku selama ini?"

"Aku tidak menyusahkanmu. Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar." Senyum sepihak Chanyeol yang sangat dibenci Baekhyun. Senyum itu seperti hinaan karena ia selalu menjadi pihak lemah dan dirugikan atas tindakan tidak masuk akal yang Chanyeol lakukan.

Perdebatan ini harus dihentikan. Apapun caranya Baekhyun harus memenangkan semangka itu dan membawanya pulang. Ia sedang memikirkan sebuah cara, seperti menarik paksa semangka itu, memasukkannya dalam troli dan mendorong trolinya sekuat tenaga menuju kasir. Ya, harusnya rencana itu yang ia lakukan. Tapi sebelum itu ia harus rela berdiri membeku, berotak kosong, dan melebarkan pupil matanya karena ia tidak menyangka Chanyeol memiliki cara licik. Seperti menundukkan kepala, mendekati wajah Baekhyun dan mengecup bibir mungil si judes.

Katakan ini cara yang tidak masuk akal. Chanyeol menjadi lawan sangat cerdas dalam memenangkan perang dengan sebuah senjata mematikan. Bukan mematikan nyawa, tapi menjemput ajal kewarasan perempuan di hadapannya. Chanyeol menutup mata saat ia memberi penekanan pada bibirnya meski ia terlalu berdebar untuk melanjutkannya menjadi sebuah lumatan.

Hanya bertahan selama 5 detik, ciuman itu melemahkan seluruh syaraf Baekhyun hingga dengan mudah Chanyeol mengambil alih kepemilikan semangkanya. Lalu dengan wajah tanpa dosa karena telah membuat Baekhyun kaku seperti manekin, Chanyeol tersenyum puas dan berlalu bersama semangka dalam tangannya.

Ciuman?

Bibirnya dengan bibir Chanyeol?

Ini bahkan lebih menakutkan dari sebuah mimpi buruk.

Maka setelah ia dibawa kembali oleh petir yang menyambar di otaknya, Baekhyun menyentuh bibirnya yang kering dan mengucapkan sumpah serapah untuk lelaki yang berlalu dengan santai di depan matanya. Akhir dari semua itu adalah saat Baekhyun berteriak kesetanan memanggil nama Chanyeol...

"YA! PARK CHANYEOL!"

...bersama sebutir telur yang ia perlakukan seperti sebuah bola kasti hingga cairan kuning kental itu meleleh dari kepala belakang Chanyeol.

.

.

Robert adalah sekutu terbaik. Ketika nona mudanya datang dengan tangan penuh kantong plastik besar-besar beserta wajah kusut serupa kertas daur ulang, kucing kesayangan Baekhyun itu mengekor seakan bersiap mendengar ledakan nona mudanya. Robert berdiri tepat di samping kaki Baekhyun yang sedang sibuk menuangkan banyak-banyak pasta gigi lalu menggosokkan dengan kasar sikat gigi pada mulutnya.

Bibirnya ternoda untuk pertama kali. Sepanjang sejarah kehidupannya, Baekhyun tidak pernah membiarkan orang lain menyentuh apalagi mencium dirinya. Tapi si sombong Park Chanyeol itu malah menawarkan kepala untuk di penggal.

Ciuman pertamanya di curi! Dan itu Park Chanyeol yang mendapatkannya?! Kesialannya sedang berada pada puncak tertinggi dan berimbas sangat buruk.

Jika mengingat kejadian di supermarket itu, Baekhyun ingin sekali menggosok bibirnya dengan pisau, garpu, atau apapun itu yang akan menghilangkan bekas ciuman ini. Impiannya memberikan ciuman pertama untuk suaminya telah dicuri oleh si sombong itu!

"AAAARRRGGGHHH!"

NGEONG!

"Kau benar, Robert. Chanyeol si bodoh itu harus ku penggal kepalanya! Bibirku...bibirku...dia mencuri ciuman pertamaku, Robert."

Ngeong~

"Dia mengambil keperawanan bibirku, Robert. Dia menciumku dan aku..aarrgghh!"

"Chanyeol menciummu?" tiba-tiba ada kepala yang muncul dari balik pintu kamar mandi. Sebuah kekehan juga mata berbinar dapat Baekhyun lihat dari pantulan cermin kamar mandi yang mengarah langsung pada pintu. Siapa lagi jika bukan Nyonya besar rumah ini. Ibunya. "Dia melumatnya?"

"Ibu!"

Bagaimana bisa ibunya menanyakan hal itu sedangkan anaknya sedang berduka atas ciuman pertamanya yang di curi? Ini benar-benar salah.

"Ah..akhirnya kau mendapatkan ciuman pertamamu."

"Ibu!"

"Ibu harus menelfon Jongin, Sehun, Mino, Luhan dan Kyungsoo untuk merayakannya."

Lalu dengan kekehan bahagia yang bersenandung diatas ubun-ubun, Ibu Baekhyun berlari kecil masuk ke kamar dan memulai semua ide tidak waras itu. Sedang Baekhyun, cukup terjatuh melorot di bawah wastafel kamar mandi beserta semu merah dan kekesalan yang semakin membuncah.

.

.

Diwaktu yang sama namun di tempat yang berbeda, seorang anak laki-laki baru saja menyelesaikan mandi besarnya. Maksudnya, ia membasahi seluruh tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki karena sebuah lelehan kuning beraroma amis yang ia dapatkan dari supermarket. Harusnya ia marah karena ada yang melakukan itu padanya—membuat rambutnya beraroma busuk dan lelehan kuning menjijikkan. Tapi yang terjadi justru anak laki-laki itu tak berhenti tersenyum dengan segala kegilaan ini.

Anak laki-laki itu, Chanyeol, mengambil kaos polos hitam beserta cotton pants dari lemari lalu melesakkan diri di ranjangnya. Aroma sabun dan shampoo masih menguar di indera penciumnya, tapi ia tidak peduli. Karena ia memiliki sesuatu yang lain untuk dinikmati di sisa senja hari ini.

Chanyeol memegang bibirnya, merambahnya pelan dengan sebuah bayangan yang berputar begitu manis di otaknya. Sepertinya Chanyeol harus memeriksakan diri ke rumah sakit jiwa atau sekedar berkonsultasi dengan psikolog tentang semua ini. Semisal tentang dirinya yang terlalu bahagia karena berhasil mencuri ciuman pertama Baekhyun.

Bibirnya yang tipis, sedikit rasa cherry dari lip-balm yang ia gunakan, juga aroma mint yang berasal dari nafasnya. Apa ada yang lebih membahagiakan dari semua itu? Rasanya Chanyeol ingin membeli trampolin terbesar sedunia dan melompat disana sambil berkata, 'DUNIA! AKU BAHAGIA!'

Bantal besar di ranjangnya itu ia raih dan menutupi kepalanya—entah apa namanya ini ia menjadi seperti anak perawan yang bersemu merah jambu. Apalah ini wujudnya, tapi dia menyukai bagaimana jantungnya berdetak tidak karuan hanya karena ia menggilai kebahagiaan ini.

.

.

"Kau sakit gigi, Baek?" tanya Jongin sambil melahap penuh pizza di tangannya.

Yang ditanya hanya mendengus kesal. Bagaimana tidak, di depan matanya sedang ada pesta pizza untuk merayakan hari berduka Baekhyun sedunia. Ide siapa lagi jika bukan ide ibunya. Terkadang Baekhyun tidak mengerti bagaimana jalan pikiran ibunya yang kelewat tidak masuk akal. Anak semata wayangnya sedang berduka karena ciuman pertamanya yang di curi, tapi ibunya justru merayakannya dengan menelfon semua teman Baekhyun dan memesankan banyak makanan.

"Dia sedang bahagia." Nyonya besar yang duduk di sebelah Jongin itu menyahuti.

"Benarkah?"

"Ya, kau bisa lihat bagaimana ia berbinar seperti itu, Jongin."

Hanya saja Jongin cukup bodoh untuk mempercayai itu jika di depan matanya sedang bertabur banyak makanan. Anak itu sedikit buta jika sudah diberikan banyak makanan hingga ia hanya manggut-manggut saja dengan penjelasan yang diberikan ibu Baekhyun.

"Kau yakin oke?" bisik Luhan. Sekali lihat saja ia sudah tau ada yang tidak beres di sini. Sekalipun ia dan Baekhyun baru berteman sejak 3 tahun terakhir, tapi ekspresi yang sekarang ia lihat bukanlah ekspresi berbinar seperti yang dikatakan ibu Baekhyun.

Baekhyun melemahkan pandangannya, seakan mengatakan ia baru saja mendapat musibah besar.

"Nanti ceritakan padaku, ya?"

Baekhyun mengangguk. Sebenarnya ia bisa saja mengunci diri di kamar dan menenggelamkan diri dalam suasana dukanya. Tapi ibunya adalah sejenis wanita yang tidak ingin dibantah. Ibunya yang berjiwa muda itu ingin menikmati pesta ini bersama-sama tanpa pernah ada yang bisa pergi sebelum pesta berakhir. Ya, jika yang di undang adalah teman-teman dekat Baekhyun, mungkin Baekhyun bisa tahan. Tapi jika ada seseorang lain yang sedang membunyikan bel dan membuat ibu Baekhyun tersenyum sangat lebar, Baekhyun merasa ada aura tidak beres setelah ini.

Terkadang Baekhyun merasa dirinya adalah anak tiri yang sedang dipermainkan oleh ibunya sendiri. Perasaannya dijungkir-balik oleh kebahagiaan ibunya untuk seseorang yang baru saja muncul dengan tubuh setinggi tiang listrik dan wajah sedatar aspal jalanan.

Park,

Chan,

Yeol.

"Mau kemana?" tangan Baekhyun lebih dulu dicegah oleh ibunya saat ia ingin pergi dari sini. Bagaimana mungkin ia bisa bertahan di sini saat ia harus berhadapan langsung dengan si pencuri? Ia malu jika boleh menjelaskan. "Tidak baik meninggalkan teman yang sedang berkunjung."

"Tapi, Bu—"

"Chanyeol, duduklah. Bibi ada pesta kecil-kecilan."

Lelaki itu duduk di samping Mino. Ia melesakkan duduknya dalam diam dan sedikit kecanggungan yang tak memiliki alasan. Jika bukan karena Mino yang menghubunginya untuk datang kemari atas nama ibu Baekhyun, mungkin Chanyeol lebih memilih tidur di rumah dan menikmati sisa kebahagiannya. Tapi pesta yang dikatakan ibu Baekhyun tidaklah terlalu buruk, karena ia bisa bertemu Baekhyun lagi yang sudah membungkam mulutnya dengan masker.

Semua berbahagia untuk makanan yang dipesan ibu Baekhyun. Tidak peduli apa tujuan sebenarnya pesta aneh ini, yang mereka tau cacing dalam perut sudah tak berdemo menuntut makanan. Hanya saja ada seonggok manusia bernama Baekhyun yang sedang dalam mode silent. Bersama masker yang membungkus bibirnya dan segumpal kekesalan yang bersarang dalam dirinya, anak itu memilih untuk pergi ke kamar dan menenangkan perasaannya.

Ibunya benar-benar kelewatan.

Baekhyun membanting pintu, melempar kasar maskernya, dan menenggelamkan kepala di bawah bantal. Sepertinya menangis adalah satu-satunya cara yang bisa ia gunakan untuk membuat perasaannya menjadi lebih baik.

Anak perempuan mana yang bahagia jika ciuman pertamanya di curi dan orang lain merayakan kejadian itu? ini bukan kemenangan piala dunia yang bisa di buat pesta, tapi ini harga diri. Jika saja yang melakukannya adalah kekasih atau suami Baekhyun, mungkin ia tidak akan semenderita ini. Tapi dalam kasus ini yang melakukannya adalah Chanyeol. Anak baru sialan yang sudah merusak hidup baik Baekhyun.

"Baek.."

Di sela-sela tangis itu, Baekhyun mendengar seseorang memanggil namanya. Tapi ia tidak peduli, ia hanya ingin menangis dan melegakan perasaannya yang sedang jengkel.

"Baekhyun..."

Mungkin Sehun atau Jongin atau Mino, yang jelas bukan ibunya atau Luhan atau Kyungsoo—suara wanita tidak pernah lebih berat dari suara bass betot.Bersyukur jika salah satu dari tiga kurcaci itu menyadari seberapa kesalnya Baekhyun, menghampiri Baekhyun, dan menyediakan tempat sebagai pelampiasannya. Atau, satu diantara mereka bersedia menjadi badut lucu yang bisa mengembalikan mood Baekhyun yang sudah terlanjur tercecer menjijikkan.

Sepertinya Baekhyun harus menyimpan rasa syukurnya itu dalam peti kemas lalu menjatuhkannya di lubang buaya. Karena apa yang ia dapat dari mata sembab yang berefek kabur saat melihat, hanya ada seorang lelaki tinggi yang berdiri di samping ranjangnya. Sedikit menyipitkan mata dan mengusap sisa air matanya, Baekhyun menyadari jika hal ini hanya akan membuat emosinya meluap.

"YA!"

"Baek, ampun. Maaf. Oke?" Anak itu, si sombong Park Chanyeol, harus melindungi keselamatan dirinya dari amukan Baekhyun yang melempar bantal, guling, selimut, dan apa saja yang ada di ranjangnya.

"Mau apa kau?!"

Chanyeol sudah tersungkur karena adegan lemparan itu. Untuk seorang anak perempuan mungil yang sedang berduka, Baekhyun memiliki kekuatan super untuk melempar beberapa barang hingga membuat Chanyeol harus rela terjatuh. Bayangkan saja bagaimana Baekhyun saat dalam keadaan normal, ia pasti memiliki tenaga sekuat Hulk. Chanyeol pernah merasakannya. Saat itu ia tau jika Baekhyun sengaja menabrakkan pundaknya dengan kekuatan yang cukup besar.

"Kau menangis, ya?"

"Apa pedulimu?!"

"Kenapa menangis?"

Ingatkan Chanyeol untuk bisa menahan tawa kala ia melihat air bening kental yang keluar dari hidung mungil Baekhyun. Anak perempuan tingkat akhir SMA masih menangis seperti anak balita yang manja, Chanyeol rasa makhluk seperti ini sudah jarang ada di dunia. Chanyeol sering menemui perempuan menangis, mereka sesenggukan dengan masih mempertahankan keanggunannya. Seolah mereka berharap akan ada ucapan 'kau masih cantik saat menangis', bukankah itu terdengar sangat biasa?

Dan apa yang Chanyeol dapati tentang satu kenyataan baru di depan matanya, Baekhyun tidak masuk dalam list perempuan seperti itu. Ia tidak cantik saat menangis, ia bahkan lebih buruk dari beruang yang baru selesai hibernasi. Berantakan.

Rambut panjang yang sudah tak memiliki model, hidung memerah, mata sembab, bibir pucat, sekuat itukah tangisannya?

"Apa yang salah dari pesta itu?"

"Semuanya salah, bodoh!"

"Itu hanya sekedar makan pizza dan beberapa makanan lain."

"'Hanya' katamu? Apa kau tau pesta itu untuk apa?"

Si tinggi menggeleng polos. Dan demi kantong ajaib doraemon di abad 21, Baekhyun ingin sekali menjadikan mata lebarnya itu sebagai bola pingpong atau bola mainan untuk Robert.

"Untuk merayakan ciuman pertamaku!" Baekhyun menyalakkan api kemarahannya lagi dan bertambah buruk saat tanggapan Chanyeol hanya 'O' panjang. "Gara-gara kau, brengsek!"

"Apa kau selalu berkata kasar seperti itu?"

"Ya! Itu semua karena kau!"

"Salahku apa?"

Dia bertanya salahnya apa?

Baekhyun harus bertanya pada siapa untuk jawaban dari pertanyaan Chanyeol—ia tidak mengerti hingga ia harus rela melempar sandal berkepala Minnie Mouse di kakinya hingga mengenai pelipis Chanyeol. Makan itu sandalku!

"Ini kekerasan, Baek! Aku bisa saja melaporkannya ke kantor polisi!"

"Aku tidak takut!" Baekhyun bersendekap dada—Baekhyun memiliki nyali setinggi Namsan Tower. "Aku juga akan melaporkanmu!"

"Simpan laporanmu karena disini yang melakukan penganiayaan adalah kau! Aku ini korbannya!"

"Aku juga korban! Kau melakukan pelecehan padaku!"

Pelecehan? Ah~ ciuman itu.

Mendadak Chanyeol menjadi sedikit gugup. Ia tentu tidak lupa tentang sebuah ciuman di supermarket tadi siang hingga membuat Baekhyun kelapabakan dan tersulut emosinya. Alih-alih menyesal, Chanyeol justru menggaruk tengkuknya yang tidak gatal—atau dia sedang malu.

"Kenapa pipimu bersemu merah?! Kau tidak takut ku laporkan pada polisi?!"

"Em...jadi...kau masih mengingat ciuman itu?"

"Tentu aku ingat, bodoh! Itu ciuman pertamaku..."

"Jadi aku yang pertama?"

"Apa itu penting?!"

"Tentu. Lelaki mana yang tidak bahagia jika dirinya mendapat ciuman pertama dari kekasihnya."

"Kekasih gigimu!"

"Sudahlah, Baek. Tidak usah di sesali. Kau sudah memberikannya pada orang yang tepat."

Baekhyun baru saja akan melempar lampu di atas nakas tapi Chanyeol lebih dulu menjengkeram dua pergelangan tangan Baekhyun dan mendesis tepat di depan hidung Baekhyun.

"Aku tidak pernah tau jika kau akan seperti ini karena ku cium."

Seperti apa?

Baekhyun mengambil ponsel di meja dan mematut diri di depan layarnya yang mati. Lalu dia memekik, mendapati sesosok monster menakutkan yang tak lain adalah gambaran dirinya sendiri.

Astaga!

Dengan langkah terbirit-birit Baekhyun menuju kamar mandi dan mengunci diri di dalam sana. Sekalipun ia sangat kesal pada Chanyeol, tidak seharusnya ia memiliki penampilan seburuk ini. Bahkan monster saja terkadang masih berkamuflase saat akan bertemu dengan musuhnya.

Sedangkan pihak yang di tinggal dengan mulut terbuka itu sempat mengalami kekosongan otak, namun ia segera di sadarkan oleh kemungkinan yang cukup memiliki peluang lebih dari 50 menjadi kenyataan.

"Baek, tolong jangan bunuh diri! Maafkan aku, Baek! Baekhyun!"

Sekuat tenaga Chanyeol menggedor pintu kamar mandi Baekhyun dan berteriak layaknya orang kesetanan. Ia tau, anak perempuan itu bukan orang yang lembut dan normal untuk menenangkan perasaannya. Ia galak, judes, dan setau Chanyeol orang semacam itu jika sedang frustasi akan mengamuk dengan mengahancurkan semua barang yang ada di depan matanya. Kemungkinan terburuk, dia akan bunuh diri.

"Baekhyun! Buka pintunya! Jangan bunuh diri! Maafkan aku!"

Lalu semua menjadi hening beberapa saat ketika pintu berwarna pink itu terbuka, menampilkan seseorang dengan mata bengap, hidung merah, dan wajah datar. Untuk beberapa saat keadaan memang hening, tapi di detik ke 5 setelah keheningan itu, seseorang memekik cukup kuat sambil memegang tulang keringnya hingga ia bergulung-gulung di lantai.

"Bunuh diri gigimu!"

.

.

"Jadi, Bi, aku mau meminta maaf karena aku...aku...aku sudah mencuri ciuman pertama Baekhyun."

Luhan dan Kyungsoo menjatuhkan rahang cantik mereka entah kemana.

Jongin menjatuhkan tulang paha ayam yang ada di mulutnya.

Mino mendadak kesusahan menelan gigitan terakhir pizza-nya.

Dan Sehun, anak itu harus puas dengan tersedak cola.

"Ku rasa itu sepenuhnya kesalahanku karena aku...aku..."

"Dia mau mencuri semangka yang ku beli, Bu!"

Ibu Baekhyun sibuk dengan ponsel pintarnya. Sejak pengakuan terbuka Chanyeol atas segala tindakannya pada anak perawan Nyonya rumah ini, wanita dewasa itu hanya bergeming dan menyibukkan diri dengan ponselnya. Ini hampir seperti sebuah sidang pengakuan tentang kasus pembunuhan berencana. Sang terdakwa sudah tertunduk penuh penyesalan, sang korban tersenyum puas melihat ekspresi hakim (dalam hal ini Ibunya) yang sepertinya sedang memikirkan sebuah hukuman, dan para saksi yang dibuat tidak percaya dengan penuturan yang telah dilontarkan terdakwa.

Semua menunggu keputusan hakim. Entah hukuman apa yang akan diberikan untuk kasus ini. Yang jelas, jika dilihat dari raut wajah serius sang hakim, hukuman berat-lah yang akan menjadi vonis untuk sang tersangka.

"Jadi, Bi, jika boleh aku menginterupsi, pesta ini...pesta ini...tidak seharusnya bertujuan untuk merayakan apa yang sudah ku lakukan terhadap Baekhyun." Chanyeol meremas ujung jaketnya, mencoba menahan rasa gugup karena berani menginterupsi tujuan pesta yang diadakan ibu Baekhyun.

Wanita itu meletakkan ponselnya di meja, duduk bersandar di sofa lalu bersendekap dada dengan keadan menegangkan ini. Di matanya, suasana ini terlihat menggemaskan. Pengakuan Chanyeol, wajah kesal putrinya, dan teman-teman Baekhyun yang terbawa suasana menegangkan bersama raut wajah was-was.

Chanyeol sudah siap dengan segala hukuman yang ia terima. Ia lelaki sejati, dan lelaki sejati harus siap dengan segala akibat yang ia terima dari perbuatannya sendiri.

"Siapa bilang pesta ini untuk merayakan ciuman pertama putriku yang telah kau curi?"

Seperti sebuah domino, anak-anak muda itu berurutan melebarkan manik mata mereka—cukup tercengang dengan tanggapan pertama yang diberikan sang hakim.

"Ya, Bibi tau jika anak manis ini," wanita itu membelai puncak kepala Baekhyun, "dia sangat berduka untuk ciuman pertama yang kau ambil. Jika ibu-ibu lain akan marah, mengutuk, mengumpat kasar pada orang yang melakukan itu padanya, Bibi lebih memilih melihatnya dari sisi lain."

Wanita itu memajukan sedikit tubuhnya, menunjukkan senyum paling hangat sedunia yang cukup mencairkan suasana tegang di sekitarnya.

"Baekhyun anak semata wayang Bibi, anak paling Bibi sayangi sedunia, dan Bibi berani bertaruh apapun untuk kebahagiannya. Tapi Bibi berusaha untuk melihat semua sesuai porsinya. Kalian sudah dewasa, ciuman bukanlah sesuatu yang harus kalian anggap berlebihan. Kalian bebas melakukan semua hal yang dilakukan anak muda, tapi Bibi hanya ingin kalian ingat tentang batasan-batasan yang berlaku di masyarakat." Wanita itu menarik nafas panjang lalu tersenyum dengan jiwa keibuan yang menguar begitu kuat. "Chanyeol, sebenarnya Bibi tidak begitu setuju kau mencium anakku di depan umum. Itu tindakan yang tidak seharusnya kau lakukan."

Chanyeol menunduk, sadar akan kesalahannya.

"Maafkan aku, Bi."

"Tapi Bibi cukup senang kau sudah bertindak seperti seorang lelaki sejati. Itu menunjukkan jika kau tidak akan lari dari kesalahan yang kau buat. Dan untukmu Nona manis kesayangan Ibu," wanita itu kembali membelai rambut Baekhyun, "jangan pernah berpikiran sempit dengan melakukan bunuh diri. Ibu tidak pernah mengajarimu menjadi pengecut seperti itu."

Baekhyun mendesah kasar, harus berapa kali ia menjelaskan jika ia sama sekali tidak melakukan tindakan seperti itu. Ia hanya ingin membenahi penampilannya yang seperti monster.

"Aku lega." Kata Sehun.

"Maksudmu?"

"Ya. Ku kira mereka melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman."

"Sehun!" Luhan melotot.

"Ada apa, cantik?"

"Pikiranmu tolong dikendalikan!"

Lalu semua menjadi seperti air—mengalir dengan begitu tenang dan memberi suara gemericik menenangkan. Tapi kata 'tenang' seperti apa yang diharapkan jika yang sedang membuat heboh ruang tamu Baekhyun ada segorombolan muda-mudi tidak tau malu? Maksudnya, harusnya mereka bisa bersikap lebih sopan mengingat di sana juga ada si Nyonya rumah. Sayangnya predikat Nyonya rumah hanya sekedar name-tag karena Nyonya rumah itu satu-satu orang yang menciptakan keramaian ini.

Masih ingat 'kan Ibu Baekhyun itu sejenis ibu modern yang cukup mengerti perkembangan jaman?

"Baek..maaf ya.." Chanyeol menowel pelan siku Baekhyun yang sedang membesengut kesal—moodnya sedang tidak begitu baik. "Aku tidak akan mengulanginya lagi."

"Akan ku bunuh jika kau mengulanginya lagi!" Desis Baekhyun.

"Baiklah, baiklah." Chanyeol berubah menjadi kucing jantan jinak jika sudah melihat Baekhyun menyalak judes. Maka dengan segala kepolosan dirinya, Chanyeol melorot di sofa sebelah Baekhyun sambil memainkan jari-jari panjangnya.

Sungguh, anak laki-laki itu tidak pantas menggunakan raut muka seperti anak perawan yang datang bulan. Di sekolah saja dia berlagak seperti si jantan angkuh dan dingin. Dan bagaimana bisa jika di luar ia tak lebih membingungkan dari anak bayi yang mengompol?! Bahkan Kyungsoo dan Luhan hampir tidak mempercayai sosok yang duduk dengan bibir mengerucut di samping Baekhyun adalah Park Chanyeol yang cukup terkenal di sekolah.

Hidup memang tidak lebih kejam dari tugas matematika, ketahuilah.

"Baek.."

Ting-tong.

"Hm." Gumam Baekhyun sambil menowel pantat sexy Robert yang ada di dekat kakinya. "Coba periksa siapa yang datang."

Kucing sexy berpantat sintal itu berjalan menuju pintu depan sesuai yang di perintah majikannya.

"Baek.."

"Ada apa, Chanyeol?"

Tak lama kemudian Robert kembali dan mengeong dengan halus. Kucing jantan bertubuh subur itu membelit sekitar kaki Ibu Baekhyun—pertanda bahwa tamu yang ada di depan adalah tamu si Nyonya rumah. Kucing pintar.

"Baekhyun..."

"Ada apa sih, Chanyeol?!"

Ibu Baekhyun berlari kecil menuju pintu.

"Jadi pacarku, ya?"

Baekhyun mendesis, bersiap memberi bogem mentah pada lelaki itu andai saja tiba-tiba tidak ada Robert yang sudah tersodor di depan mukanya. Siapa lagi jika bukan Chanyeol yang melakukannya.

Tunggu, bukankah Chanyeol alergi kucing?

Mata Robert sama polosnya dengan mata Baekhyun yang menyadari alergi Chanyeol pada bulu kucing. Dan saat Baekhyun merasa tangan Chanyeol bergetar dan wajahnya memerah, Baekhyun segera mengambil alih Robert dan memeluknya.

Jangan katakan jika...

"Ladies and gentle man. Kenalkan, ini teman Bibi."

"HATCCHIIIIMMM!"

Baekhyun melupakan Chanyeol yang sedang bergelut dengan alerginya karena ia melihat ada lelaki berbalut pakaian formal yang baru saja diperkenalkan ibunya.

Siapa?

.

.

Tibisi

.

.

Hai!

Akhirnya update juga :D

Pada nungguin, kah? Enggak ya? ;(

Ya udah kalo enggak nungguin T,T

.

.

Hehe.. maaf ya updatenya luamaaaaaaaa banget. sempet bilang vakum tapi malah terbitin beberapa oneshoot -_-

Maafkan

.

Meluruskan saja, karakter ibu Baekhyun di sini bukan sejenis ibu-ibu yang ngasih pergaulan bebas untuk anaknya. Tapi, sejenis orangtua yang memberikan kepercayaan kepada anaknya untuk bertanggungjawab atas apa yang dilakukan dengan meninjau batasan-batasan norma yang ada. Jadi, jangan negative thinking ya sama Ibunya Baek. Hehe..

Sejujurnya Ayoung disini suka banget sama karakter ibu, Baek. Easy and friendly Mom. Karena anak-anak akan menjadi lebih terbuka dan memiliki komunikasi yang baik jika orangtua-nya memberikan akses yang baik juga dalam membuka komunikasi ^^

Sekedar info aja, Latibule masih belum tau berakhir sampai chapter berapa. Karena Ayoung sempet mikir, FF series ini bakal tak hingga banyak chapter sampe kalian bosen baca dan Ayoung memutuskan untuk end-in FF ini. Jadi, semua tergantung respon dan tergantung mood (baik-baik sama Ayoung kalo masih pengen ini lanjut. Heheh, bercanda :D).

Rate-nya emang di tulis T, tapi sewaktu-waktu bisa berubah jadi M atau bahkan M+++++ . jadi buat yang suka baca ChanBaek enaena, silahkan di tunggu saja HA HA HA

Di chapter ini mungkin kesannya cepet, pendek, atau semacamnya. Ya, emang sengaja di buat gitu biar bisa ngulur banyak waktu dan akhirnya bisa menciptakan banyak chapter hehe..

.

.

Terima kasih buat yang udah follow, favs, dan review. Kalian DABESSS *kissbanyakbanyak*

Special thanks for :

lee kaisoo, Byeoliesa, azurradeva, Asayakano, Tak Secantik Baekhyun, Skymoebius, dodyoleu, TKsit, choi96, icecream30, supremb, SELUsin, RahmaIndirawati, bebekJail, LittleJasmine2, lepetitbyun, adorahttr, leeminoznurhayati, fwxing, ByunJaehyunee, Park Eun Yeong, ay, yeollo, shellapcys18

.

.

.

Ayoung tunggu review kalian selanjutnya yaaaaa!

Yang nunggu Down Payment minggu ini bakal terbiiiiitttt jadi terus pantengin aja akun Ayoung wkwk