T

.

.

.

"Kau ikut acara ini kan, Baek?" Luhan menyodorkan sebuah kertas bertuliskan 'Jelajah Alam, Cintai Alam' beserta sekaleng cola dingin yang baru saja Luhan ambil dari lemari es kantin.

Baekhyun mengernyit—memberi sedikit perhatian pada brosur berwarna kuning menyala yang Luhan tunjukkan. Jelajah Alam? Yeah, acara tahunan yang di adakan sekolah untuk mengenal alam. Lebih dari itu, acara ini memiliki tujuan utama untuk mengajak para siswa tingkat akhir menanam beberapa tanaman di alam bebas sebagai bentuk kelestarian. Acara tahunan yang memiliki banyak keuntungan positif. Orang baik yang cinta alam tentu akan dengan senang hati mengikutinya.

Baekhyun sama sekali belum pernah mengikuti acara ini. Alasan utamanya adalah ia bukan anak perempuan yang tau bagaimana cara mencintai alam. Meski acara ini mengajarkan banyak hal tentang ketidaktahuan itu, Baekhyun tetap menolak ikut. Mencintai alam tidak harus datang langsung ke alam, 'kan? Membuang sampah pada tempatnya juga termasuk cara mencintai alam. Baekhyun bisa membuktikan itu semua. Bersama kaleng cola yang isinya tinggal satu teguk itu, Baekhyun akan memberi contoh dasar mencintai alam.

Lalu ketika Baekhyun akan menikmati sisa cola sebelum membuang kalengnya ke sampah, lagi-lagi ia di ganggu oleh 'tangan jail' yang tidak tau sopan santun. Siapa lagi jika bukan si tinggi, angkuh, sombong—Park Chanyeol. Terkadang Baekhyun heran, mengapa lelaki itu selalu muncul saat Baekhyun baru saja terpuaskan oleh kesegaran minuman hitam bersoda itu.

Ini bukan contoh yang baik seperti yang Baekhyun katakan beberapa saat lalu. Karena melempar sebuah botol air mineral bekas yang ada di tangan Luhan hingga mengenai kepala belakang Chanyeol, sama sekali tidak tercermin tindakan cinta alam.

"Aku ikut."

Dan bisakah Luhan tidak menjatuhkan rahangnya secara cantik ketika terkejut? Karena itu hanya akan membuat Baekhyun iri—dia tidak pernah terlihat cantik saat terkejut, Mino yang mengatakannya.

"Berhenti terkejut karena ini bukan sesuatu yang luar biasa, Luhan."

"Aku harus memberitahu Sehun dan yang lainnya!" rusa cantik itu bersorak riang karena pada akhirnya Baekhyun mengabdikan diri sejenak untuk lingkungan. Ah, apalah itu, yang jelas Luhan sangat senang karena acara tahunan ini akan ia lewati bersama Baekhyun dan yang lainnya—tapi dia masih belum tau nasib Sehun yang masih dalam masa terapi.

"Susu membuatku gemuk!" judes Baekhyun saat seseorang meletakkan tiga kotak susu coklat. "Terlebih ada rasa coklat. Kadar lemaknya akan semakin tinggi."

"Ah," dia, si tinggi Park Chanyeol yang beberapa saat lalu Baekhyun lempar dengan botol air mineral bekas. "Kau suka yang strawberry, kan?"

Baekhyun sedang tidak ingin menaruh peduli pada Chanyeol yang tiba-tiba pergi lagi dengan membawa tiga kotak susunya. Selain karena ia tidak memiliki minat meladeni tingkah Chanyeol yang selalu seenak giginya, ia sedang dibuat kacau oleh pikiran tentang ibunya.

Akhir pekan lalu, saat Baekhyun sedang berduka atas ciuman pertamanya—dia sedikit kesal mengingat hal itu—ibu membawa seorang lelaki berpakaian formal dan mengenalkannya sebagai seorang teman. Yeah, ibunya yang friendly itu memiliki banyak teman. Sikap yang ramah dan kebaikan hati seperti malaikat membuat siapa saja betah untuk berteman dengan ibu Baekhyun. Baekhyun sendiri tidak pernah membatasi atau merasa penasaran dengan siapa saja ibunya berteman, tapi ketika seorang laki-laki dewasa berpakaian formal dan berwajah lembut datang kerumah dan di kenalkan sebagai seorang teman, Baekhyun memiliki insting lain untuk hal itu.

"Hai, Baekhyun." Baekhyun yang sedang berduka itu menjadi batu bodoh dengan otak kosong. "Senang bertemu denganmu."

"Baek, ini teman ibu. Namanya Suho. Kim Suho." Kenapa ibu yang memperkenalkan lelaki itu? Baekhyun tak begitu paham untuk situasi ini. Semisal situasi hingar yang terjadi karena Mino dan yang lainnya sibuk bercanda serta Chanyeol yang bergulat dengan alerginya karena menyentuh Robert, menjadi sebuah keheningan tak berarti—oh, Chanyeol masih tetap bersin untuk alerginya.

"Enam kotak susu strawberry untuk Byun Baekhyun." Terkadang Baekhyun sedikit heran dengan hidup Chanyeol. Sebentar-sebentar ia akan dingin, lalu pemaksa, lalu ia akan bercicit seperti yoda yang terserang demam. Entahlah, Baekhyun pusing dengan sikap Chanyeol. Terlebih anak itu sudah mengatakan banyak ajakan untuk berpacaran disetiap situasi yang menurut Baekhyun tidak tepat. Lagipula ia tidak begitu yakin untuk keseriusan ajakan itu.

Baekhyun mengambil satu kotak susu itu, menusuk sedotan pada lingkaran silver yang ada di bagian atas, dan menyesap semua isi kotak susu dalam hitungan detik. Dan bisakah orang-orang yang berhadapan dengan Baekhyun tidak memiliki reaksi terkejut dengan menjatuhkan rahang mereka? Karena apa yang terjadi pada Chanyeol saat ini sama seperti apa yang Luhan lakukan—tapi Chanyeol sangat tidak cantik dengan reaksi itu.

"Ada apa?" tegur Baekhyun kesal. Lelaki itu segera menggeleng cepat dan kembali pada wajahnya yang menyebalkan.

"M-mau ku belikan lagi?" Chanyeol melihat Baekhyun sudah menghabiskan empat kotak susu dalam sekali jalan.

"Tidak. Terima kasih. Susu strawberry membuat p—" payudara semakin membesar. Hampir saja Baekhyun kelepasan bicara untuk sebuah fakta unik yang ia dapat dari sebuah manga.

"Membuat apa?"

"Lupakan." Baekhyun meletakkan kotak keempatnya. Lalu ia mengambil satu kotak lagi, menusuk bundaran silver itu dengan tenaga berlebih, dan menyodorkannya pada Chanyeol. "Habiskan."

"Apa?"

"Aku sudah kenyang." Jelas, dia sudah menghabiskan empat kotak susu!

"A-aku tidak suka susu strawberry, Baek. Lagipula aku membelinya untukmu."

"Ku katakan aku sudah kenyang, Chanyeol." Kata Baekhyun dengan nada sedikit meninggi. "Jadi, kau yang harus menghabiskannya."

"T-tapi.."

"Aku memaksa."

Dan demi semua teman-teman Saylor Moon yang bertubuh sexy, Chanyeol menuruti semua paksaan Baekhyun. Meminum susu rasa strawberry untuk pertama kalinya, Chanyeol rasa ia sudah seperti anak gadis yang membutuhkan pelampiasan akibat PMS.

Ia kira paksaan itu hanya untuk satu kotak susu, nyatanya Baekhyun adalah pemaksa handal dengan wajah puppy menggemaskan yang berhasil membuat Chanyeol menghabiskan seluruh susu yang tersisa.

"Anak pintar." Katanya setelah melihat Chanyeol memiliki sesapan terakhir susu rasa strawberry itu.

.

Ketidakmungkinan terkadang selalu membuat beberapa orang pesimis untuk mencoba. Mereka takut akan sebuah kegagalan yang nantinya akan berujung pada sebuah kekecewaan. Dan jika sudah kecewa, lebih parahnya lagi akan merasa terpuruk lalu terus meringkuk pada sebuah penyesalan.

Salah satu ketidakmungkinan yang ada di dunia ini adalah bisa ada pada jarak sedekat ini dengan Baekhyun. Seperti duduk berdampingan di sebuah halte di tengah derasnya hujan. Chanyeol tidak pernah memahami bagaimana suatu proses akan membawa suatu hal membahagiakan. Dan, dia bahagia dengan ini.

Chanyeol memilih untuk pulang dengan bus daripada menelfon supir pribadi kakeknya untuk minta dijemput. Alasannya apalagi jika bukan untuk menemani Baekhyun.

Baekhyun sedang duduk termenung. Beberapa bis sudah malang melintang dan berhenti, tapi gadis itu tidak memperdulikan dan lebih memilih menikmati pikirannya.

"Apa terjadi sesuatu?" Chanyeol buka suara. Diam-diam dia menyiapkan suatu reaksi jika saja Baekhyun kembali menyemburkan emosinya yang meledak-ledak.

Tapi yang Chanyeol dapati hanyalah anak perempuan dengan wajah lesu, bibir pucat, dan mata sayu yang menandakan bahwa keadaannya tak lebih baik dari kertas lusuh.

"Kenapa kau disini?" Suaranya lemah.

"Aku? Emm..a-aku.." Oke, Chanyeol tidak menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu. Alhasil dia hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Jangan membuatku emosi dulu, ya? Aku sedang lelah, Chanyeol." Lemah Baekhyun sambil menyandarkan kepala di tiang dekat halte.

"Mau kubelikan sesuatu?"

Si mungil menggeleng. Dia sedang tidak berminat untuk hal apapun selain meletakkan beban pikirannya. Sebenarnya dia bisa melakukan hal ini di rumah, atau saat ia mandi, atau saat ia tidur, atau saat apapun itu. Tapi sepulang sekolah tadi dia memutuskan untuk merenung di halte—jenis kebiasaan barunya.

Lalu untuk satu jam kedepan suasana tetap seperti ini. Seperti Baekhyun yang masih dengan pikirannya yang mendadak blank. Dia kehilangan separuh rasionalitas kala bayang-bayang mendiang ayahnya mendadak muncul dan mencubit sedikit hatinya.

Saat itu Baekhyun masih berusia lima tahun. Gadis kecil itu belum cukup mengerti tentang kehilangan. Ia juga belum mengerti arti tangis ibunya kala itu. Hanya saja ia mendapati satu fakta yang membuatnya cukup terpuruk untuk 3 tahun kemudian. Ayahnya pergi ke surga.

"Mau ku antar pulang?" Chanyeol melihat keadaan Baekhyun tak begitu baik. Dengan wajah pucat dan airmata samar yang terlihat, Chanyeol memiliki hati lembut untuk sebuah ketidaktegaan pada si mungil yang nampak lemah ini.

.

"Baekhyun?!" Wanita itu memekik kala melihat tubuh lemah Baekhyun yang setengah basah tengah dipapah oleh Chanyeol. "Ada apa denganmu?"

Chanyeol tidak pandai berbohong. Dia anak yang jujur terlebih kejujuran untuk orang yang lebih tua darinya. Tapi dalam situasi ini dia memiliki pandangan lain. Ibu Baekhyun akan sedih mendengar cerita sebenarnya mengapa Baekhyun bisa seperti ini.

"Baekhyun tertinggal bis dan tadi dia berlari mengejar saat hujan deras."

"Astaga! Kau baik-baik saja, Nak?" Baekhyun mengangguk lemah. "Chanyeol, tolong bawa Baekhyun ke kamar. Bibi akan mengambil obat."

Tubuh mungil lemah itu Chanyeol titah menuju ke kamar berpintu putih tulang. Segera setelah Chanyeol menidurkan Baekhyun di atas ranjangnya, lelaki itu mengambil handuk yang tersampir di kursi dan membersihkan sisa air hujan yang ada di tubuh Baekhyun.

Sesekali Baekhyun mendesis diantara matanya yang terpejam dan tubuhnya yang menggigil. Si mungil yang galak ini tergolek lemah karena tubuhnya yang renta sekali terhadap dingin. Chanyeol menaruh perhatian penuh pada Baekhyun yang saat ini begitu berkebalikan dengan sifatnya sehari-hari.

Tak lama kemudian ibu Baekhyun datang dengan membawa beberapa obat beserta segelas air. Chanyeol membawa tubuh mungil itu untuk bangkit sebentar agar bisa meminum obat demi kebaikan tubuhnya.

Untuk keadaan seperti ini, Chanyeol begitu tidak tega melihat Baekhyun yang tak bertenaga. Jika diingat betapa galaknya dia, anak perempuan ini juga memiliki sisi lemah kala tubuh dan perasaannya di rundung rasa tidak mengenakkan. Ya, dia cukup tau bagaimana si mungil galak ini sedang berada pada fase bimbang.

"Sepertinya Ibu akan menikah lagi." Kata Baekhyun, "Apa menurutmu itu terdengar memungkinkan setelah sekian lama kami hidup berdua saja?"

Chanyeol tidak tau harus memberi respon apa, alhasil dia hanya duduk diam dan mendengarkan segala cerita yang keluar dari mulut Baekhyun. Dan ini di luar dugaan, Chanyeol mendapati Baekhyun berwajah sendu bersama sebuah pikiran yang menggelantung.

"Apa aku terlihat sangat egois jika menentangnya?" Baekhyun menghembuskan nafas lelah. Ia mulai melakukan hal absurd, seperti melepas tali sepatu lalu mengikatnya lagi dan melakukan hal itu secara berulang-ulang. Hingga akhirnya dia mencapai titik puncak untuk sebuah air mata yang terasa menyakitnya bagi Chanyeol yang melihatnya.

Entah ini benar atau tidak, Chanyeol membawa anak perempuan itu dalam sebuah rengkuhan hangat dan tepukan kecil pada punggungnya. Katakan saja Chanyeol peduli untuk semua perasaan si mungil dan dia mencoba memberikan sebuah kenyamanan terbaik yang bisa ia lakukan.

"Aku...aku...aku sangat merindukan ayahku, Chanyeol." Dan airmata itu tumpah bersama derasnya hujan yang mengunci mereka di bawah halte.

Oh, si mungil kesayangan Chanyeol yang malang. Apa yang bisa kulakukan untukmu, Baek?

.

Baekhyun selalu tau kapan dirinya akan terlihat sangat lemah—dia tidak mengingkari hal itu. Semua orang memiliki sisi itu, sisi dimana ketegaran dan kekuatan hanya bersisa seujung kuku kotor. Baekhyun sendiri tidak pernah menolak untuk menerima bantuan orang lain kala dirinya masih berada dalam mode lemah. Dia anak baik, dan anak baik senantiasa mengucapkan terima kasih untuk kebaikan orang lain.

Tapi apa dia harus berterima kasih pada Chanyeol yang beberapa hari ini sangat rajin datang kerumahnya?

"Bisa tolong jauhkan dia dariku?" Sambil menutup hidungnya, Chanyeol menunjuk si sexy Robert yang sedang menggelung malas di pelukan Baekhyun.

"Tidak mau." Baekhyun semakin mempererat pelukannya terhadap Robert. Dan apa kalian tau bagaimana reaksi Robert, dia seperti saudara tiri sinis yang menatap Chanyeol untuk kemenangannya. Sial!

Baiklah, Chanyeol tidak memiliki tempat seluas si gemuk Robert di hati Baekhyun. Untuk itu dia harus mengalah (lagi).

Chanyeol meletakkan beberapa kantung plastik di dekat nakas kamar Baekhyun dan menarik sebuah kursi di dekat ranjang Baekhyun. Dia sedang di ambang sebuah kebimbangan, ingin duduk dekat Baekhyun tapi ada si manja gemuk dan sombong Robert di dekat sana. Alerginya terhadap saudara sepupu harimau ini tidak bisa ditoleransi oleh apapun. Menyebalkan, bukan?

"Ibumu belum pulang?"

"Ibu harus berurusan lagi dengan para tetuah dari keluarga ayah." Baekhyun membelai lembut bulu halus Robert hingga kucing gemuk itu merasakan kantuk. Diam-diam Chanyeol menaruh rasa iri pada Robert, andai saja ia yang dibelai oleh tangan halus Baekhyun, dia akan merasa bahagia melebihi perasaan pengantin baru. "Chanyeol, aku lapar." Dan bisakah Baekhyun tidak menggunakan nada menggemaskan seperti itu? Yakinlah, Chanyeol kini begitu bernafsu untuk mencubit pipi Baekhyun akibat ulahnya yang lebih lucu dari Rilakuma.

"Mau makan apa?"

"Emm...pizza!" dia tersenyum riang.

"Tidak boleh. Kau masih sakit."

"Kalau begitu hamburger."

"Tidak boleh!"

"Emm...ttokbeokki."

"Baekhyun..."

"Pelit sekali! Kalau begitu aku tidak mau makan!"

Oh, oh, cara merajuk itu. Jangan lakukan dihadapan Chanyeol. Karena Chanyeol tidak memiliki ketebalan iman untuk menahan hasratnya. Ini berbahaya.

"Bubur saja bagaimana?"

"Aku bosan."

"Kau belum sepenuhnya sembuh, Baekhyun." Chanyeol tidak pernah tau dia akan berurusan dengan si mungil yang selalu memaksakan kehendak dengan puppy-face yang menggemaskan. Rajukan Baekhyun sangat tepat membuat Chanyeol kehilangan keseimbangan sebagai perawat yang senantiasa memberi Baekhyun asupan makanan bergizi selama Baekhyun sakit. Tapi, jika ia terus-terusan disuguhi wajah menggemaskan seperti itu, bisa-bisa Chanyeol akan berakhir seperti kepiting rebus yang menahan kentut.

Baekhyun tolong jangan seperti itu.

Dan untuk itu Chanyeol memilih melanggar aturan yang ia buat sendiri. Karena satu jam kemudian seseorang datang dengan membawa sekotak pizza bersama satu botol cola. Baiklah, ini demi kebaikan bersama. Ini agar Baekhyun berhenti merajuk, dan untuk Chanyeol yang sudah tidak tahan dengan cara Baekhyun yang begitu menggemaskan.

Chanyeol tidak pernah tau jika pizza akan membawa keberuntungan lain. Karena ketika Baekhyun mulai melahap potongan pizza pertamanya, si Robert mengeong dan berlari terbirit-birit keluar kamar. Dia tidak pernah tau bahwa kucing genit macam Robert bisa memiliki alergi terhadap pizza. Gotcha! Chanyeol mendapatkan satu kelemahan untuk mengenyahkan Robert dan membuat dia bisa dekat dengan Baekhyun.

Tapi harapan tidak pernah sesuai dengan realita. Saat Chanyeol diam-diam mendekat dan duduk dengan jarak yang sangat tipis di samping Baekhyun, dia mendapat satu tendangan yang berakhir tersungkur di bawah ranjang—Chanyeol melupakan fakta jika Baekhyun adalah si mungil yang kejam.

.

Sehari setelah kesembuhan Baekhyun dari demam panjangnya, acara jelajah alam yang didakan sekolah berlangsung. Beberapa pihak seperti ibunya dan Chanyeol menentang keikutsertaan Baekhyun dengan alasan dia baru saja sembuh. Pihak lain yang sekutu dengan Ibu dan Chanyeol yaitu Luhan, Kyungsoo, Mino, Sehun, dan Jongin. Oke, mereka semua menentang Baekhyun. Tapi sebuah kesia-siaan adalah ketika mereka melupakan bahwa Baekhyun itu si mungil berkepala batu yang tidak bisa ditentang. Lebih buruknya dia mengancam akan mogok makan dan akan hujan-hujanan sepanjang hari jika dia dilarang ikut serta dalam acara jelajah alam.

Untuk itu, semua pihak yang menentang akhirnya memberi izin meski dengan setengah hati. Menentang keinginan Baekhyun sama saja membuat anak itu merajuk seumur hidup bersama demam yang hinggap di tubuhnya.

Pada akhirnya Park Chanyeol-lah yang berada bersama Baekhyun. Ia duduk manis di sebelah Baekhyun dengan senyum terbaiknya yang ia berikan pada Baekhyun meski di sekelilingnya terjadi keributan karena mereka tidak bisa berada di tim yang sama dengan Chanyeol.

Bagi Baekhyun ini sebuh petaka. Karena satu tim bersama Chanyeol berarti ia akan seharian berpetualang dalam perjalanan alam yang diadakan sekolah. Hanya dengan Chanyeol. Itu menyebalkan.

"Aku bawa sandwich, mau?"

Baekhyun membuang muka dan memilih menikmati pemandangan di sekitarnya yang terbentang pepohonan besar. Ia sebal dengan Chanyeol, ia kesal dan masih banyak lagi perasaan marah yang ia rasakan saat Chanyeol ada di sampingnya.

Sebenarnya tidak ada hal aneh atau hal buruk yang dilakukan Chanyeol padanya. Chanyeol tidak pernah menyakiti Baekhyun. Hanya saja anak laki-laki mendadak menjadi sangat berisik dengan segala celoteh dan rasa protektifnya. Park Chanyeol, si kutub utara yang sombong itu, menyimpan banyak kotak cerita tidak penting. Dia mirip Beo yang baru saja diberi makan pisang. Dan untuk itu, Baekhyun dengan terpaksa harus membesarkan volume dari earphone-nya—lebih baik dia mendengarkan musik, menenangkan.

Baekhyun berangkat dalam keadaan yang tidak baik. Malam sebelum berangkat, dia memiliki waktu yang menyedihkan dengan ibunya. Karena siapa lagi jika bukan karena teman laki-laki ibunya. Entah kenapa Baekhyun memiliki firasat hal ini akan berproses sedikit rumit. Belasan tahun dia hidup berdua dengan ibunya dan kini datang sosok baru yang membawa aura berbeda. Aura dimana Baekhyun merasa posisi ayahnya akan tergantikan oleh orang itu—Kim Suho. Meski ibunya berkata jika Suho hanya teman dan tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka, tapi Baekhyun memiliki insting lain untuk itu.

Bukankah ibunya berhak memiliki lelaki baru setelah menjadi single-parent selama bertahun-tahun? Iya, Baekhyun tau akan hal itu. Tapi dia belum siap. Dia membutuhkan waktu untuk itu. Harapan Baekhyun, perjalanan alam ini akan menjadi bagian dari penjernihan otak untuk mencerna masalah dengan ibunya. Ya, itu harapan Baekhyun yang sayangnya sedikit terkontaminasi dengan kehadiran Chanyeol.

Baekhyun kesal karena Chanyeol selalu membuntutinya kemanapun Baekhyun pergi. Ia sudah seperti bayangan Baekhyun. Baekhyun tidak suka, karena berada di sekitar Chanyeol sama saja berada di sekeliling para kucing betina yang selalu mengeluh-eluhkan Chanyeol. Mereka selalu memanggil nama Chanyeol seperti seorang idol yang ada di TV. Oke, Chanyeol adalah casanova sekolah. Tidak ada satu gadispun yang tidak menyukai Chanyeol. Semua menyukai Chanyeol. Bahkan saat Chanyeol tidur dengan mulut terbuka, gadis-gadis itu masih menyukai Chanyeol. Bahkan mengatakan bahwa saat tidur Chanyeol sangat keren sekali.

"Kau harus menjaga Chanyeol. Kalau sampai ada apa-apa dengannya, ku gantung kau di depan gerbang besok pagi!" bisik Seolhyun saat perjalanan alam akan di mulai. Baekhyun hanya mengabaikannya dan tidak mengambil pusing karena sebenarnya ia kesal. Memangnya Chanyeol anak kecil yang harus di jaga?!

Dan saat perjalanan alam dimulai, berpasang-pasang mata mengamati Chanyeol dan Baekhyun yang berjalan saling beriringan. Sebenarnya Baekhyun selalu mengambil langkah lebih dulu atau ia sengaja jalan lebih lambat agar Chanyeol tidak berjalan di sampingnya. Namun Chanyeol selalu menyejajarkan langkah kaki mereka tanpa pernah sadar hal itu mendapat perhatian tajam dari 'fans' Chanyeol yang siap menelan Baekhyun hidup-hidup.

"Suasananya sejuk, ya?" Chanyeol membuka pembicaraan namun Baekhyun tidak menjawab.

"Ibumu tadi pagi menghubungiku. Katanya kau belum makan sejak semalam. Kenapa?"

Yang lebih menyebalkan dari semua rencana perjalanan ini, Ibu Baekhyun adalah dalang dibalik semua ini. Ibu Baekhyun meminta pihak sekolah agar Chanyeol dan Baekhyun bisa ada dalam satu tim. Baekhyun sudah menebak itu semua karena sebelumnya ia berada satu tim dengan Luhan namun berakhir satu tim dengan Chanyeol. Double shoot!

Sampai di pos pertama, Baekhyun masih diam dengan wajah kesal. Ia bertahan untuk mengabaikan Chanyeol yang sepanjang perjalanan tadi terus bercerita tentang hidupnya.

"Baekhyun, kita makan siang di sini saja. Setelah ini kurasa track-nya akan sedikit susah dan kita tidak bisa makan."

"Aku tidak nafsu makan."

"Makanlah sedikit saja. Kau belum sarapan, kan? Dan kau juga harus minum obatmu."

Dari mana Chanyeol tau?

Ibu!

"Aku tidak lapar, Chanyeol."

"Mau ku suapi?"

"Aku tidak lapar!"

"Baiklah, baiklah."

"Berhenti mendekatiku sebelum mereka menelanku hidup-hidup setelah ini. Mengerti?"

Chanyeol memperhatikan sekelilingnya yang menatap tajam pada Baekhyun. Namun tatapan tajam itu berubah menjadi tatapan berbinar saat Chanyeol melihat mereka. Chanyeol sadar apa yang membuat Baekhyun selalu menjauhinya. Ia tidak pernah ambil pusing dengan tingkah pola mereka namun Chanyeol juga tidak pernah tau bagaimana perasaan Baekhyun saat selalu di teror oleh gadis-gadis itu. Bahkan untuk sekedar bernafas lega saja Baekhyun harus mencari tempat sepi dimana ia tidak di buntuti oleh Chanyeol beserta mata-mata tajam yang menelanjanginya.

Baekhyun adalah anak perempuan paling tidak memiliki respek apapun pada Chanyeol. Jika yang lain mengatakan bahwa Chanyeol itu segalanya, Baekhyun mengatakan jika Chanyeol hanya anak manja yang kurang piknik. Baekhyun tidak pernah mengerti mengapa Chanyeol mendadak menjadi mozarela setelah sebelumnya dia adalah si kutub utara yang menyebalkan.

Kedunya kembali melanjutkan perjalanan setelah Chanyeol makan siang. Track kali ini adalah hutan-hutan kecil yang harus mereka lewati untuk sampai ke pos selanjutnya.

"Apa kabar hatimu dengan Yifan?" tanya Chanyeol tiba-tiba.

Dari mana dia tau tentang Yifan? Cerita Baekhyun dengan Yifan sudah berlalu setahun yang lalu. Bahkan Baekhyun saja sudah lupa bagaimana dia bisa patah hati dengan Yifan.

Hanya ada satu orang yang bisa dengan sangat ringan menceritakan hal ini.

Ibu! Oh Tuhan, rahasia apalagi yang akan ibu ceritakan pada si telinga peri ini?

"Bagaimana rasanya dicampakkan?"

"Apa urusanmu dengan hal itu? Bahkan kau bukan orang yang mengerti bagaimana perasaan seorang perempuan."

"Setidaknya aku masih lebih baik dari Yifan saat memperlakukan seorang perempuan."

Baekhyun berhenti. Ia menatap kesal pada Chanyeol yang seakan mengatakan bahwa Yifan adalah playboy kelas tinggi yang tidak lebih baik dari dirinya.

Apa bedanya kau dengan Yifan? Kalian sama saja!

"Saranku kau jangan kembali dengan Yifan. Dia tidak baik untuk kesehatan perasaanmu."

"Yifan tidak akan membuatku menangis darah jika dia mencampakkanku lagi."

"Kau yakin? Wah, aku tidak percaya."

Chanyeol tertawa kecil. Baekhyun hanya mendengus mendengar Chanyeol yang seakan meragukan keteguhan hatinya selama ini saat di campakkan oleh Yifan.

Baiklah, Baekhyun menangis saat di campakkan Yifan. Ia sempat merasa.. well— patah hati. Perasaan itu buruk sekali.

"Kau jangan mengharapkan sesuatu terlalu jauh. Karena tidak selalu kesempatan baik akan datang padamu dan membuatnya terus bersamamu. Logikanya, kau harus pintar-pintar mengendalikan dirimu untuk pria seperti Yifan."

"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti."

Chanyeol berlari kecil dan ia kini berada di depan Baekhyun. Ia berjalan mundur sambil terus berbicara dengan Baekhyun yang mulai sedikit kelelahan.

"Dengar, kau masih sangat muda dan akan sangat sia-sia jika kau membiarkan dirimu terus mengharap Yifan."

"Aku tidak akan seburuk itu. Lagipula apa urusanmu dengan aku? Mengurusi fans-fans mu saja kau tidak bisa apalagi mengurusi perasaanku. Kau lucu sekali, Chanyeol."

Oke, Baekhyun mulai membahas 'mereka' yang selalu di sebut 'Fans Chanyeol'.

"Itulah bedanya aku dengan Yifan. Yifan selalu menanggapi siapapun yang mendekatinya, dan itu akan membuat kalian melayang lalu jatuh cinta dengan takaran yang tidak pas."

"Dan kau?"

"Aku? Aku mengabaikan mereka karena aku tidak ingin berakhir seperti Yifan. Menjadi playboy. Aku tidak suka. Itu sungguh tidak keren!"

"Tapi kau membuat mereka berisik sekali."

"Kau tidak perlu mendengarkan mereka."

"Kau gila?!" Baekhyun berhenti dan menatap Chanyeol kesal. Betapa tidak pedulinya Chanyeol dengan keadaan sekitarnya selama ini yang telah memberikan pengaruh besar terhadap hidup Baekhyun. Kucing betina haus belaian itu selalu memiliki nafsu tinggi untuk mencakar dan menelanjangi Baekhyun habis-habisan. Dan Chanyeol menyuruhnya untuk tidak peduli? Jika bisa, Baekhyun sudah melakukannya sejak dulu.

"Well.."

"Not well, Chanyeol."

"Jangan deng—"

"Sudah, sudah. Pemahamnmu memang tidak pernah mengerti aku. Itulah kenapa Yifan lebih baik dari kau karena dia mengerti bagaimana perasaanku. Oke?! Sekali lagi jangan ungkit-ungkit Yifan disini atau kau ku serahkan pada harimau hutan sebagai makan siang mereka."

Baekhyun memutuskan pembicaraan itu dan kembali menghadapi track di depannya. Ia berusaha melupakan pembicaraan dengan Chanyeol tadi. Intinya, Chanyeol membuatnya kembali berpikir tentang perasaannya.

Tidak ada yang perlu diungkapkan tentang Chanyeol karena Baekhyun tidak ingin berurusan dengan gadis-gadis itu. Ia memilih menjauhi Chanyeol meski Chanyeol selalu berusaha baik dan bersikap sangat lembut kepadanya.

"Baekhyun, kau yakin track ini benar? Ku rasa kita semakin jauh dari yang lain."

Disekitar Chanyeol kini terpampang pohon-pohon tinggi yang menghalangi sinar matahari untuk menembusnya. Chanyeol merasa aneh karena keadaan semakin sepi dan tidak ada tanda keberadaan dari teman-temannya yang lain.

Baekhyun mulai panik karena track ini berbeda dengan yang diceritakan oleh pemandu sebelumnya. Berkali-kali Baekhyun memastikan pada peta kecil yang selalu ia bawa. Ia yakin bahwa track ini benar dan dia tidak mungkin salah membaca peta.

Semakin lama suasana di sekeliling mereka semakin sepi. Hanya pepohonan dan sesekali suara burung yang terdengar menemani kepanikan Baekhyun.

"Baekhyun, kau yakin ini benar? Sepertinya kita...masuk ke hutan yang salah."

Baekhyun tidak mungkin salah. Ia yakin kalau yang ia baca di peta benar. Tapi Baekhyun semakin panik karena sepertinya yang di katakan Chanyeol benar.

Tidak ada jawaban dari Baekhyun karena ia terus berjalan dan berusaha meyakinkan diri bahwa jalan yang ia tuju benar. Dari awal Baekhyun tidak membiarkan Chanyeol memandunya dengan peta karena Baekhyun yakin Chanyeol pasti akan membuatnya tersesat.

Chanyeol berjalan mendahului Baekhyun dan berhenti tepat di depan Baekhyun. Dari situ terbaca semua gurat kecemasan dan kepanikan Baekhyun. Keringatnya berkucuran dan air wajahnya sangat pucat.

"Kau salah jalan, Baekhyun." Kata Chanyeol saat ia melihat peta yang di pegang Baekhyun.

Baekhyun hanya diam. Kakinya bergetar karena sepertinya ia sudah berjalan terlalu jauh dari track yang seharusnya ia lalui.

"Bagaimana ini? Aku...aku..."

"Sudah, sudah. Kita kembali saja. Kita ikuti jalannya. Oke? Kau jangan panik."

Kali ini Chanyeol yang mengambil alih. Baekhyun hanya berjalan di belakang Chanyeol dengan kecemasan yang menumpuk karena takut tidak akan bisa kembali. Hutan ini sangat luas dan sepertinya sebentar lagi matahari akan pulang.

Mereka kembali berjalan menyusuri jalanan hutan yang asing bagi mereka. Chanyeol berusaha mengingat-ingat jalan yang ia lalui sebelumnya dan sesekali melihat peta untuk memastikan jalan mana yang harus ia ambil.

1 jam...

2 jam...

Tidak ada tanda-tanda untuk kembali ke tempat berkumpul teman-teman yang lain. Bodohnya, mereka berdua meninggalkan ponsel mereka di tenda penginapan dan tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali terus mencari jalan keluar. Mau berteriak sekencang apapun untuk meminta pertolongan rasanya sia-sia karena hutan ini lebih luas dari istana kepresidenan.

Mereka berhenti di sebuah tepi sungai yang tidak terlalu luas. Chanyeol berhenti sejenak dan kembali memastikan jalan yang ia lihat di peta.

Chanyeol mengambil langkah menuju ke batu-batu yang terjajar layaknya jembatan untuk menyeberangi sungai itu.

"Mau sampai kapan kau ada di situ?" teriak Chanyeol yang sudah hampir tiba di seberang tepi sungai. Ia melihat Baekhyun masih berdiri mematung di tempat sebelumnya dan tidak ada pergerakan untuk melangkah menyeberangi sungai.

"Baekhyun! Byun Baekhyun!"

Baekhyun masih diam. Tidak ada tanda-tanda ia akan mengikuti pergerakan Chanyeol.

Akhirnya Chanyeol kembali dan mendapati Baekhyun yang berdiri menatap air sungai dengan wajah pucat.

"Baekhyun, mau sampai kapan kau disini? Ayo, sebelum hari benar-benar petang."

"Chanyeol, aku takut." Gumam Baekhyun. Ia menahan tangan Chanyeol yang akan kembali berjalan menyeberangi sungai. "Aku...takut."

Baekhyun takut?

"Jangan takut. Ada aku, oke? Kita lewati sungai ini bersama-sama."

"Tapi.."

"Ayo, pegang tanganku."

Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan menuntunnya untuk melewati jajaran batu sungai. Meski rasa takut Baekhyun sangat besar, setidaknya ia merasa sedikit aman karena ada Chanyeol yang akan membimbingnya berjalan melewati phobia terbesar Baekhyun.

Tangan Baekhyun menggenggam erat tangan Chanyeol, ia akan melewati ketakutan terbesarnya selama ini. Ketakutan yang selalu membuatnya membeku saat berhadapan langsung dengan sungai terlebih sungai yang memiliki arus kencang.

Baekhyun berjalan dengan ketakutan yang ia tahan, kakinya bergetar tatkala ia kini berada di sebuah batu besar yang ada di tengah-tengah. Kakinya semakin bergetar karena arus di sekitar batu itu sangat deras dan mendadak kepala Baekhyun pusing. Bayangan masa lalunya tiba-tiba datang dan membuat kakinya kini lemas. Baekhyun tidak bisa mengendalikan dirinya dan..

"Chanyeol!"

Baekhyun terhuyung dan jatuh ke sungai. Kaki Baekhyun tidak bisa memijak dasar sungai. Ia meneriakkan nama Chanyeol dan berusaha untuk tidak tenggelam karena kakinya kini mati rasa.

"Baekhyun!"

.

.

.

TBC

Halo.. lama ya nunggu Latibule update? Wkwk

Maaf ya T.T

Ayoung lagi sedikit repot sama skripsweet jadinya banyak yang telat di update T.T

Ya sudah, selamat membaca dan semoga gak membosankan. Jangan lupa isi kolom review biar Ayoung bisa semangat lanjutin semua utang FF Ayoung ke kalian :D

*kissbanyakbanyak*