Pliss, jangan nyesel kalo udah baca ini. isi ceritanya banyak mengandung hal menye-menye yang ngebuat mual. jadi, jangan lupa siapkan minyak angin atau minyak gosok atau minyak apapun itu biar pas abis baca bisa dioles di perut juga dihati supaya ngerasa lebih enakan wkwk
.
T
.
Chanyeol kira ini semua lelucon. Dia pikir telah dibodohi permainan kampungan yang diciptakan Baekhyun sehingga dia bisa turut membasahkan diri di sungai. Namun saat ia menyadari wajah pucat dan telapak dingin milik anak itu beberapa saat sebelum Baekhyun kehilangan keseimbangan, Chanyeol mengenyahkan pikiran konyolnya karena terbawa arus deras sungai bukan candaan yang lumrah.
Tubuh mungil Baekhyun terseret arus.
Derasnya arus sungai sore itu membuat Chanyeol harus mengerahkan seluruh tenaga untuk meraih satu tangan mungil yang melambai di udara. Pikirannya sekalut benturan air pada batu besar sungai kala si mungil mulai kehilangan kesadaran dan terbawa arus. Untuk itu, Chanyeol membuang jauh-jauh rasa lelahnya untuk mencapai tubuh si mungil yang pasrah bersama arus sungai.
Ini tidak begitu baik ketika Chanyeol dikalahkan oleh arus sungai yang semakin deras. Tubuhnya sesekali mundur dan usahanya untuk menentang arus hanya menghasilkan sesuatu yang dikalikan nol.
Lalu ketika ia memiliki suatu getar proteksi aneh untuk menjangkau si lemah yang sudah tidak sadar itu, Chanyeol menemui usaha yang mulai berbuah manis. Dia semakin dekat pada tubuh Baekhyun dan merengkuhnya pada sebuah pelukan.
Sebelum ia terkena deras arus sungai lagi, Chanyeol membawa tubuh Baekhyun untuk menepi ke pinggiran sungai. Baekhyun sudah tidak sadar dengan bibir biru dan kulit pucat yang sarat sebuah rasa dingin.
"Baekhyun! Baekhyun! Buka matamu, Baek!"
Dia mengoyak tubuh Baekhyun demi memperoleh sebuah respon. Tapi sayangnya Baekhyun masih disergap rasa syok yang membuat kesadarannya terbuang jauh dan menyisakan banyak rasa getar yang membuat tubuhnya sulit bergerak.
"Baek...bangun..."
.
Chanyeol menggunakan segala kemampuannya untuk membuat sebuah api dengan cara purba. Entah ini berhasil atau tidak, paling tidak dia sudah mencoba menciptakan satu percikan api yang mengundang api besar dari daun kering yang ia kumpulkan. Dia juga mengumpulkan beberapa ranting kering untuk memicu api menyala lebih lama dan kehangatan akan ia peroleh.
Dia menengok tubuh mungil yang tergolek di dekat perapian sederhana yang berhasil ia buat. Kesadaran Baekhyun sudah kembali sejak sepuluh menit yang lalu ketika Chanyeol berteriak sambil mencubit-cubit lengan kurus si mungil. Chanyeol tidak memiliki niat untuk mengembalikan kesadaran Baekhyun dengan menepuk pipinya seperti yang banyak ia lihat dalam film. Karena itu sama saja melakukan tamparan atau lebih tepatnya kekerasan pada perempuan. Chanyeol bukan lelaki seperti itu, dia tidak ingin menyakiti perempuan.
Lalu mencubit itu bukan suatu kekerasan?
Setelah menyelamatkan tasnya dan tas Baekhyun yang tertinggal jauh kebelakang, Chanyeol mulai menyiapkan segala sesuatu yang ia bisa. Seperti memberi Baekhyun minum dan beberapa makanan yang ia bawa agar si mungil bisa cepat pulih.
"Makan sedikit saja ya, Baek? Kau belum makan sama sekali."
Kepala itu menggeleng kecil.
"Nanti kau sakit bagaimana?"
Dia menggeleng lagi.
Oh, Dewi kekeraskepalaan, bisakah pergi sekejap saja? Karena Chanyeol tidak ahli memecah pendirian Baekhyun yang sekuat batu karang. Apapun itu dia sangat mengkhawatirkan keadaan Baekhyun yang lemah. Dia bertaruh untuk semua yang ia miliki jika kekhawatirannya adalah yang paling buruk di dunia.
Lalu ketika Chanyeol mengusak frustasi rambut setengah basahnya, dia mendengar sebuah isak yang menyesakkan dadanya. Milik siapa lagi jika bukan milik satu-satunya makhluk mungil berkepala batu yang kadang selemah kapas.
"Apa yang kau tangiskan? Hm?" Chanyeol membawa tubuh itu bangun dari tidurnya dan melihat ada banyak air mata yang sudah keluar. Lalu apa artinya rasa geram akan kekerasan kepala itu jika Chanyeol memiliki satu kepekaan dari hati kecilnya pada seseorang di hadapannya ini. Dia dikalahkan oleh banyak rasa iba ketika Baekhyun menunjukkan kelemahannya yang seakan meminta untuk di lindungi.
"Kita...kita...tersesat."
"Iya, aku tahu."
"Ini semua...sem..semua..salahku."
"Iya, ini salahmu."
"Lalu...lalu..bag...bagaimana?" Si lemah mendongak penuh rasa takut yang tersimpan di balik wajah lesunya.
Chanyeol membiarkan ibu jarinya mengusak airmata Baekhyun yang membuatnya merasa sakit jika melihat. Dia juga menyibakkan anak rambut liar yang mengganggu wajah cantik yang masih pucat itu.
"Bagaimana lagi, kita harus menunggu hingga besok pagi untuk melanjutkan perjalanan. Tidak mungkin berjalan malam-malam begini di tengah hutan."
"Kalau kita tetap berada disini lalu ada hewan buas yang ingin memakan kita, bagaimana?"
Pikiran anak-anak, Chanyeol baru tau jika Baekhyun memiliki pikiran polos seperti itu. Ini jauh lebih baik karena Chanyeol merasa terhibur dan semakin ingin membawa Baekhyun dalam proteksinya.
"Kau yang akan ku serahkan lebih dulu."
"Apa?!"
Chanyeol terkekeh kecil sambil membersihkan sisa air yang masih membasahi wajah gadisnya. Gadisnya?
"Baekhyun, tidak ada hewan buas yang akan memakan kita apalagi mendekat. Dagingku dan dagingmu bukan jenis daging berkualitas yang bisa diperebutkan. Apalagi keadaan kita seperti ini. Melirik saja mereka tidak akan mau."
"Jangan membuat lelucon!" dan si galak itu perlahan kembali pada kebiasaannya.
"Hewan buas tidak akan berkeliaran di pinggiran sungai seperti ini. Mereka lebih suka berburu di tengah hutan." Chanyeol mengatakan itu sesuai apa yang ia pahami. Karena sesungguhnya anak laki-laki itu tidak memiliki banyak ilmu tentang apa-apa yang ada di hutan. "Sekarang kau makan biskuit ini dulu, ya? Perutmu harus terisi agar besok pagi kau memiliki tenaga baru."
Tangan mungil yang masih bergetar itu mengambil biskuit rasa coklat yang Chanyeol berikan. Ya, lelaki itu benar. Bagaimanapun juga mereka membutuhkan tenaga untuk mencari jalan kembali ke-camp. Terjebak lama-lama di hutan bukan pilihan yang menyenangkan. Terlebih tubuh mereka basah kuyup dan tidak ada penghangat untuk sekedar menghalau angin liar hutan.
"Aku sudah membuat tempat tidur untukmu."
Baekhyun melihat jajaran daun hijau yang ditumpuk sedemikian rupa hingga terlihat seperti alas yang layak di gunakan. Berbekal sisa kesombongannya sebagai si kucing jantan kutub utara itu, Baekhyun melihat kebanggaan tersemat di dahi tampan Chanyeol. Oke, Chanyeol memang tampan.
"Kau tidur dimana?" Tanya Baekhyun saat pantatnya sudah menyesakkan diri di alas hijau buatan Chanyeol.
"Aku tidur disana." Dia menunjukkan pohon besar yang sudah dia beri alas seadanya. Alas itu tidak lebih dari tumpukan beberapa daun kering yang bahkan tidak bisa digunakan untuk membujurkan tubuh.
"Sekecil itu?"
"Aku tidak tega memetik banyak daun karena itu bisa berakibat buruk pada alam."
Masih memikirkan hal seperti itu di saat yang mendesak? Baekhyun tidak tau jika Chanyeol akan se-naif itu.
Chanyeol menempati tempat khusus yang sudah ia buat. Dia mendudukkan diri dengan nyaman dan bersandar pada pohon besar beserta regangan otot tubuhnya yang mulai kaku. Mungkin akan terasa tidak nyaman, tapi dia tidak memiliki opsi lain kecuali mengutamakan keadaan Baekhyun. Entahlah, dia semakin menambah porsi perhatian menjadi dua kali lipat untuk si mungil yang diam-diam sudah mencuri hatinya.
Baekhyun sendiri memiliki dua sisi pikiran yang bertentangan. Dia dilema untuk pilihan berbagi tempat dengan Chanyeol atau membiarkan lelaki itu tertidur dengan posisi yang tidak nyaman. Menimbangnya secara teliti, Baekhyun mendapati keputusan jika sisi malaikatnya menang untuk pilihan membagi tempat dengan Chanyeol. Tapi masalahnya, dia tidak memiliki cukup pergerakan atau sebut saja hal itu dengan sebutan gengsi untuk sekedar mendekat dan mengajak Chanyeol beristirahat ketempat yang lebih layak.
.
Dua jam ini Baekhyun bergelung dengan rasa gengsinya. Menyibak semua itu dengan rasa iba nyatanya tak membuahkan hasil jika yang hanya bisa dia lakukan adalah menarik ulur niat. Ada kalanya dia bercicit untuk rasa tidak percaya dirinya membuka kebaikan hati karena Chanyeol adalah si dingin kutub utara. Tapi dalam beberapa waktu belakangan dia mulai melihat luberan kehangatan yang diam-diam membuat dia bingung.
Ya, bingung. Perempuan mana yang tidak bingung jika ada seseorang yang tampak tak bersahabat nyatanya mengulurkan kehangatan. Baekhyun meletakkan itu semua di atas bayang-bayang kelogisannya sebagai perempuan berharga diri.
Tapi dia mulai goyah ketika sesosok yang mulanya bersandar di pohon itu menggelung seperti kimbab hambar. Apa yang bisa dia perbuat setelah ini adalah menendang sejauh mungkin harga diri sialan demi menggapai tubuh menggigil setengah basah milik Chanyeol.
"Chanyeol...Chanyeol..."
Baekhyun bercicit dengan menggoyangkan lengan Chanyeol.
"Pindah ke tempatku, ya? Disini dingin."
Chanyeol hanya mengerang kecil dengan suara paraunya yang terdengar menyedihkan. Bagaimana tidak, tubuhnya yang lelah berbalut dingin sialan itu menguras habis sisa tenaga yang dia miliki.
"Sini, ku bantu." Baekhyun membopong tubuh yang lebih tinggi untuk pindah ke tempatnya yang dekat dengan tungku perapian.
Lalu ketika dia berhasil membawa kehangatan untuk Chanyeol, dia dibuat menderita untuk satu rasa aneh yang nyatanya tak menenangkan batin kewanitaannya. Chanyeol memeluknya.
"C-chanyeol..."
"Bisa seperti ini sebentar?"
"Eo-oh?"
"Tubuhmu hangat dan sangat nyaman."
Bersama darah yang mendidih karena perasaannya yang mulai tidak konsisten, dia memilih menjadi manekin berhati baik untuk si lelaki.
"Tidak boleh, ya?" Chanyeol berusaha mengangkat kepalanya yang sudah terlanjur terbenam di ceruk leher Baekhyun. Tapi sedetik kemudian dia menerima sebuah sentuhan hangat yang sarat sebuah izin untuk tetap berada posisi yang sama.
"Boleh. Lakukan selama yang kau mau."
Ada yang lebih manis dari permen kapas saat Chanyeol menyimpan senyum di bibirnya yang pucat. Keluluhan hati Baekhyun memberikan dia kebahagiaan yang berguguran begitu indah seperti bunga musim gugur. Lalu apa arti semua kedinginan ini jika dia terlanjur membiarkan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Rasa gelitik yang membuat darahnya berdesir. Dia tidak salah, kan, untuk semua rasa ini?
Lalu apakah Baekhyun juga salah ketika dia membiarkan tangannya melakukan sesuatu diluar kontrol yang nyatanya dia sendiri tidak pernah memikirkan itu? Dia membelai kepala Chanyeol yang memeluknya seperti sebuah guling penuh kehangatan. Ini bukan Baekhyun!
"Pantas Yifan mengejarmu karena kau sangat hangat dan nyaman."
Baekhyun mendesis kecil untuk pembahasan itu.
"Bisakah kita berhenti membahas Yifan. Aku mual."
"Baiklah. Lalu apa yang akan kita bahas?"
Apa? Baekhyun tidak memiliki pembahasan lebih lanjut jika Chanyeol mempererat pelukannya dan memperparah deguban aneh dalam diri Baekhyun.
"Tidak usah membahas apa-apa karena aku mengantuk. Cepatlah tidur supaya aku bisa menjadikanmu makanan tengah malam hewan buas di sini."
Chanyeol tau itu hanya pengalih rasa gugup Baekhyun. Dan dia menyimpan senyum hangat dibalik ceruk leher Baekhyun karena perasaan Baekhyun tak seburuk rasa dingin yang membelit tubuhnya.
.
Tidak seperti hari-hari sebelumnya, seruan hangat mentari pagi mendadak begitu terasa menggelegar di setiap indera peraba. Biasanya Baekhyun merasakan samar-samar cahaya hangat itu di balik gorden pink kamarnya yang bercelah sedikit. Tapi pagi ini, dia seperti di bakar diatas kumpulan hangat sinar mentari yang juga menyilaukan mata.
Berbekal rasa kantuk yang sudah sebagian terbuang, Baekhyun bermaksud meregangkan diri untuk mengendurkan ototnya yang kaku. Namun ketika dia ingin melakukan semua itu, dia baru sadar sedang terkungkung oleh sebuah tubuh yang ternyata sumber kenyamanan tidur malamnya.
Park. Chan-Yeol.
Sekian detik ia mengumpulkan ingatan tentang semalam dan alasan mengapa ia bisa terjaga di pinggir sungai sebuah hutan. Rahang cantik Baekhyun mendadak turun untuk sebuah keterkejutan dan sistem refleks tubuhnya membuat satu tendangan berarti hingga tubuh tinggi yang mengekangnya tergulung membentur pohon.
"AW! Sakit!"
Baekhyun mundur beberapa langkah dengan tangannya yang melindungi tubuh. Ini hanya sebuah antisipasi karena dia masih mempercayai bahwa Chanyeol adalah lelaki tulen yang pasti mendamba keperawanan wanita.
"Bisa lebih halus sedikit jika membangunkanku?! Ini sakit sekali!" dia memegangi daerah bawah perutnya yang terbentur batang besar pohon.
Chanyeol memungut habis sisa kantuknya yang berganti sesuatu yang terasa nyeri pada bagian kebanggaannya. Dia hampir saja meluapkan kemarahan akan rasa sakit itu tapi dia harus menekuk semua itu sia-sia saat mata setengah kantuknya menangkap seseorang yang sedang diliputi rasa khawatir.
"Apa yang sudah kau lakukan padaku?" si mungil bersuara saat Chanyeol sudah menemui kesadarannya. Kenapa memelukku?
Oh astaga, apa secepat itu Baekhyun melupakan apa yang terjadi semalam? Maksudnya, Chanyeol masih ingat betul jika perempuan itu memberinya izin untuk sebuah pelukan karena tubuhnya yang kedinginan. Apa dia lupa?
"Tanyakan pada air sungai kenapa aku memelukmu." Chanyeol mengusak rambutnya kasar saat Baekhyun memberinya tatapan tajam. Ayolah, mereka masih terlalu dini untuk melakukan sesuatu dibatas normal dan Baekhyun terlalu dewasa untuk menyangka semua yang terjadi.
"Park Chanyeol!"
"Apa?" dia bertanya santai meski pihak lain mulai menyalak galak seperti burung gagak perawan. "Byun Baekhyun, berhenti menatapku seperti aku ini seorang penjahat kelamin. Rasa curigamu itu tidak berguna sama sekali asal kau tau."
Dan apa yang didapat Chanyeol dari mulutnya yang semulus batu sungai itu adalah lemparan ranting pohon beserta bebatuan kecil yang mengenai tubuhnya dengan begitu kasar. Ulah siapa lagi jika bukan ulah si mungil yang lebih galak dari ibu tiri Cinderella.
Sepertinya Baekhyun sudah terbiasa memberikan lemparan-lemparan dari apapun yang dia lihat untuk membuat Chanyeol mendapat rasa jera. Karena mulut serta tindakan lelaki itu hanya menumbuhkan rasa jengkel yang berkontaminasi dengan rasa malu. Haruskah Baekhyun mengakuinya?
"Semalam aku kedinginan dan aku meminta izin padamu untuk memelukku karena tubuhmu hangat. Catat, aku meminta-izin-padamu yang sama artinya aku meminta persetujuan dan kau menyetujuinya. Jadi tidak ada tindak asusila seperti yang dipikirkan oleh otak kecilmu itu."
Baekhyun hanya sedikit terlambat menyadari apa yang terjadi semalam. Dia dan hati polosnya sibuk membuat persetujuan bahwa detak jantungnya yang berdetak tidak karuan saat ini bukanlah efek pelukannya pada Chanyeol. Sesungguhnya dia tidak menginginkan situasi yang membuatnya tersudut untuk merasa marah karena egonya atau dia yang mendadak seperti lelehan coklat panas musim salju.
.
"Kalau dilihat dari peta ini, kita hanya perlu mengikuti track sebelah kanan untuk mencapai camp." Chanyeol memimpin perjalanan menuju ke-camp setelah sehari semalam terjebak karena keteledoran Baekhyun.
"Kau yakin?"
"Lebih yakin dari keyakinanmu kemarin yang membuat kita tersesat."
"Aku sudah menyesal untuk hal itu tapi kenapa harus dibahas lagi." Gumam si mungil sambil menendang dedaunan kering yang ada di sekitarnya.
Lelaki didepannya itu berhenti sebentar untuk berbalik dengan tangan mengapal di kedua pinggangnya.
Jika saja Baekhyun tidak memiliki rasa bersalah atas insiden kemarin dan rasa terima kasihnya karena Chanyeol menyelamatkan nyawanya dari arus sungai, mungkin Baekhyun lebih memilih melempar dedaunan kering itu tepat di wajah Chanyeol.
"Di dunia ini ada tiga kata yang sulit di ucapkan manusia. Tolong, maaf, dan terima kasih." Dia berdecih untuk si mungil yang sedang mengerucutkan bibirnya. "Kau harus mempelajari tiga kata itu agar kau bisa dihargai, Baekhyun."
"Aku sudah bilang jika aku menyesal."
"Dan menganggap menyesal itu bagian dari meminta maaf? Gunakan sedikit otakmu."
"Untuk apa kita meminta tolong ketika bisa melakukannya sendiri? Untuk apa meminta maaf ketika tidak bersalah? Untuk apa berterima kasih ketika tidak ada yang peduli?"
Terkadang Baekhyun harus dibenturkan sedikit ke dasar jurang sehingga si mungil ini bisa menghilangkan sedikit sifat galaknya yang mulai menjadi ego.
"Kau tidak hidup sendiri di dunia ini, Baek." Chanyeol mengusak rambut si mungil yang sudah terlihat seperti anak SD. Kenapa begitu menggemaskan saat egois seperti ini? "Buka matamu. Jadilah orang berpandangan dan berpikiran terbuka. Kekolotanmu hanya menghasilkan keegoisan yang sia-sia asal kau tau."
"Kau mengatakan aku kolot? Lalu apa bedanya denganmu yang egois?!"
"Aku?" Chanyeol menunjuk hidungnya, "kapan?"
Mulut Baekhyun baru saja akan terbuka, namun dia menutupnya kembali dan melupakan perputaran kata dalam otaknya.
"Sudahlah. Sebaiknya hentikan pembicaraan konyol ini sebelum langit kembali petang."
Dan untuk menghidari Chanyeol melihat semu tomat busuk memalukan di pipi Baekhyun, dia berjalan mendahului sambil membuat bibirnya menyatu tanda dia kesal. Alih-alih melihat itu sebuah kekesalan, Chanyeol justru melihatnya sebagai sesuatu yang menggemaskan.
"Ya! Baek! Tunggu!"
.
Luhan dan Kyungsoo saling menggenggam tangan menunggu kabar dari Jongin dan Mino yang hampir seharian masuk ke hutan. Bukan hanya Jongin dan Mino, tapi beberapa siswa dan para guru turut melakukan hal yang sama untuk mencari Baekhyun dan Chanyeol yang menghilang.
Chanyeol dan Baekhyun mendadak tidak ada dibarisan para siswa saat jelajah alam tengah di akhiri. Mereka berdua tidak menunjukkan keberadaannya dan membuat semua yang ada di camp cemas. Bagaimana tidak, hutan ini bukan blok-blok toko yang ada di Gangnam atau gang-gang kecil di sekitar sekolah yang dihuni banyak penjual kue beras, tapi ini hutan yang bisa membuat buta arah. Yang bisa digunakan sebagai petunjuk hanya arah matahari. Itupun jika orang yang tidak terlatih dijamin akan semakin tersesat dan semakin sulit menemukan jalan keluar.
"Apa kita hubungi saja orangtua mereka?" Tanya Luhan di ujung kecemasannya yang sudah tak tertahan.
Kyungsoo yang sedari tadi memasang sebuah wajah 'tenang, Kyungsoo. Jangan cemas, semua baik-baik saja' diam-diam tertular sifat cemas Luhan. Namun bedanya, Kyungsoo adalah pengontrol yang baik sehingga dia tidak sampai berkeringat dingin saat menyembunyikannya.
"Tidak, Luhan. Kita tunggu saja sampai Jongin dan yang lain kembali."
Semua memanjatkan doa untuk Chanyeol dan Baekhyun. Meremas tangan dan berdetak dag-dig-dug pada jantung mereka adalah wujud lain dari kekhawatiran yang sudah hampir seratus persen menguasai hati.
Hingga menjelang pukul lima sore dan matahari akan segera memberi ucapan sampai jumpa, Luhan dan Kyungsoo masih setia berdiri di jalan masuk ke hutan berharap Jongin dan Mino membawa kabar baik. Beberapa anak sudah kembali ke camp dan mengatakan hasilnya nihil karena Chanyeol-Baekhyun tidak ditemukan dan tidak terdapat jejak keberadaan mereka.
"Oh, astaga! Aku seperti seorang suami yang menunggu istrinya melahirkan." Gumam Kyungsoo yang mulai kehabisan kesabaran.
Duapuluh menit berlalu hingga matahari benar-benar akan mendendangkan nyanyian perpisahan, tidak ada satu kemunculan dari dalam hutan yang bisa membuat Luhan-Kyungsoo menghilangkan rasa cemasnya. Keduanya sudah diujung keputusasaan untuk menanti kabar Chanyeol-Baekhyun dan mendapati mereka baik-baik saja. Mungkin mereka terlalu banyak berharap pencarian ini akan berbuah manis. Namun nyatanya, semua tak lebih dari rangkaian hal menyebalkan yang membuat-
"Astaga! Baekhyun!"
-Luhan memekik dengan tidak cantiknya sembari menunjuk arah dalam hutan.
Semua perhatian tertuju pada gemerisik gesekan kaki dengan rumput dari arah hutan dan memunculkan satu kaki panjang berbalut jeans hitam berjalan mendekat dengan satu kaki mungil menggantung dibalik punggung si kaki panjang.
"Terima kasih Tuhan telah membawa dua manusia idiot ini kembali." Teriak Kyungsoo mengungkapkan rasa haru bercampur kesal ketika si tinggi hanya menyunggingkan senyum bodoh dan si mungil bersembunyi dibalik punggung yang menopang tubuhnya.
.
"Lain kali kurasa kau perlu menambah tingkat percaya dirimu." Sindir Kyungsoo sambil menyerahkan secangkir susu coklat hangat pada Baekhyun yang bergelung dibalik selimut. "Aku tidak tau apa jadinya yang tersesat itu kau dan Luhan."
"Ada apa denganku?" Luhan menemui dirinya tersangkut-paut di omelan Kyungsoo pada Baekhyun.
"Si keras kepala dan si cengeng, bukankah itu kombinasi yang pas untuk melepaskan kalian di tengah hutan?"
Baekhyun memilih untuk mendecih sedang Luhan mulai menautkan bibirnya yang mana jika Sehun melihatnya, lelaki itu pasti berkata 'Lu, kenapa kau menggemaskan sekali?'. Luhan tidak cengeng asal kalian tau. Luhan hanya menganggap dirinya mudah terharu.
"Semalam kau tidur dimana?" Tanya Kyungsoo.
Anak perempuan yang sedang berbalut banyak selimut itu menyamankan diri dengan duduk bersandar pada kursi lipat yang sudah dia buat melingkar di depan perapian. "Ditepi sungai dengan alas dedaunan."
"Serius?" Si mata rusa menanyakan keseriusan yang diceritakan Baekhyun.
"Apa itu mungkin jika aku tidur di ranjang senyaman ranjang kamarku?"
"Bagaimana rasanya?"
"Apanya?"
Luhan mendengus kesal. Sepertinya Baekhyun sedikit mengalami keleletan di otaknya yang mendadak memiliki respon sedikit lama.
"Tentu rasanya tidur di atas daun bersama Chanyeol!"
Luhan menyalak dan Kyungsoo harus rela membuang sia-sia susu hangat yang ia minum karena tersembur secara spontan.
"S-siapa yang tidur dengan Chanyeol?" Elakan Baekhyun terdengar kacau. Dia terdengar seperti orang yang berusaha bersembunyi dari kenyataan dan untuk itu dia mengalihkan semuanya pada susu hangat di cup gajah yang ia pegang. Semoga susu hangat ini menjadi penawar kebodohannya sekaligus semu tomat menjijikkan yang (sepertinya) mulai muncul di kedua pipinya.
Terkadang mulut Luhan perlu disumbat dengan sedikit ubi rebus atau daging sapi kualitas terbaik hingga dia bisa sedikit menahan ucapannya. Karena apa yang diucapkannya pada Baekhyun tadi mengundang beberapa perhatian beberapa anak yang duduk tak jauh dari mereka. Untuk itu, Kyungsoo segera membulatkan matanya dengan harapan Luhan sadar arti tatapan itu adalah 'tutup mulutmu atau kau akan ku buang ke hutan'.
"Yang jelas Baekhyun sudah selamat." Kyungsoo menengahi, "hampir saja aku membuat laporan orang hilang di kantor polisi terdekat."
.
Seberapa jauh Baekhyun mencoba menenggelamkan diri dalam tidurnya, ia hanya bertemu kesia-siaan karena matanya masih sangat segar. Ini sudah lebih dari tengah malam dan seharusnya Baekhyun cepat-cepat istirahat agar esok dia bisa kembali bugar untuk pulang.
Luhan dan Kyungsoo sudah bermimpi indah bersama para dewa tampan. Baekhyun berharap dia juga segera menjemput alam mimpi dan bergabung dengan Luhan-Kyungsoo untuk sekedar bermain bersama para dewa tampan atau melirik malu pada mereka. Tapi sekeras apapun Baekhyun memejamkan matanya, dipenghujung semua usaha keras itu Baekhyun masih terjaga. Sepertinya dia harus merelakan keberuntungan malam ini untuk bertemu para dewa tampan. Bye.
Posisi tidurnya mulai mencapai kegusaran dan kebosanan. Maksudnya, Baekhyun hanya berguling-guling seperti produksi roti gulung hingga beberapa kali Kyungsoo mengerang karena terganggu. Baekhyun sendiri mencoba untuk mendiamkan tubuhnya, tapi dia merasa risih jika bertahan didalam tenda seperti ini karena dia baru menyadari jika ruang gerak dengan sedikit udara malam akan menenangkan kerisauannya.
Baekhyun kira dia akan menjadi satu-satunya orang diluar tenda yang berniat mendekati sisa perapian untuk menghalau dingin. Namun dia mendapati sosok lain yang sedang duduk di dekat perapian sambil menggosok-gosokkan tangan.
"Jangan dekat-dekat nanti kau terbakar dan fans-fansmu akan marah."
Dia mendongak, menunjukkan satu senyum dari bibirnya yang kering, lalu menggeser sedikit tempatnya.
Dan Baekhyun, siapa yang akan menduga jika dia menuruti kata hatinya yang gila untuk duduk di tempat kosong yang Chanyeol berikan.
"Kenapa tidak tidur?" Chanyeol bertanya di nada suaranya yang mengesankan.
"Tidak mengantuk." Dan Baekhyun akan selalu memberi satu jawaban singkat dengan intonasi judes.
Lalu waktu bersama mereka yang tidak terduga itu menjadi sebuah hening yang sarat kecanggungan. Chanyeol memilih sibuk dengan ranting-ranting kecil yang ia lempar ke perapian daripada meladeni kinerja perasaannya yang mendadak terasa ngilu dalam konotasi menyenangkan. Dia tidak mau memperlihatkannya terlalu kentara meski selama ini dia sudah blak-blakan. Untuk itu dia harus memiliki batas agar hati dan perasaannya tidak semakin brutal dan mempermalukan harga dirinya sebagai lelaki.
Keadaan serupa tak jauh berbeda dengan si mungil yang membalut tubuhnya dengan jaket tebalnya. Apa yang salah dengan semua ini? Tidak adanya jawaban yang pasti membuat Baekhyun mendadak kehilangan keahliannya sebagai si galak. Bukan hanya itu, dia juga menjadi melemah pada Chanyeol padahal selama ini dia selalu menunjukkan bahwa dirinya bukan bahan bully dari anak lelaki itu. Baekhyun pikir ini sebuah kesialan. Ya, karena keadannya sekarang tak jauh berbeda dengan bebek perawan yang minta dicium basah oleh si jantan. Memalukan!
"Mau ku buatkan teh hangat?" si tinggi mengawali kembalinya kesadaran ke dunia nyata.
"B-boleh."
Chanyeol beranjak dari tempatnya untuk masuk ke tendanya dan keluar dengan dua cangkir kosong beserta satu kantong teh. Dia juga membawa kotak gula bertoples hello kitty-itu milik Luhan yang sengaja ia bawa untuk dipakai bersama.
"Seharusnya perjalanan ini berjalan menyenangkan. Tapi kita merusaknya." Chanyeol tertawa kecil sembari menuang air panas. "Tadi Guru Kim memarahiku."
"Benarkah?" Kenapa hanya Chanyeol? Kenapa aku tidak dimarahi juga?
"Tapi tidak begitu ku dengar." Lalu dia tertawa renyah dengan dua mata yang menyipit. Kenapa terlihat tampan? Astaga, Baekhyun! Kendalikan matamu!
"M-maaf." Dia bercicit seperti anak hamster lucu yang membuat Chanyeol harus mengernyit. Maksudnya, dia butuh ucapan maaf menggemaskan itu dengan nada lebih keras yang bisa membuatnya terbang ke nirwana.
"Hm?"
"A-aku sudah egois hingga membuat kita tersesat." Mengertilah ini penyesalan paling memalukan!
Si jantan tersenyum kecil sembari menyelipkan cangkir berisi teh manis hangat pada tangan Baekhyun. Mungkin Chanyeol terlihat seperti mengambil kesempatan karena seharusnya dia tidak perlu menggunakan modus menyelipkan seperti itu. Tapi dimana-mana kucing jantan tampan akan menggaet sekecil apapun kesempatan itu untuk menebar pesonanya yang terlalu bersinar.
"Tidak masalah." Dan Baekhyun baru menyadari ada satu lubang hitam samar yang menjebak di pipi kiri Chanyeol. Kenapa terlihat sangat tampan?
Tidak ada sesuatu yang lebih menyebalkan pada situasi ini kecuali keheningan. Baekhyun yang selalu menyalak dengan wajah datarnya yang terkadang judes, serasa kehilangan itu semua dan yang tersisa hanya perasaan canggung yang mencekik harga diri.
"Emm, Baek?"
"Ya." Dan responnya sungguh cepat. Ada apa ini?
Alisnya bertarung dengan kerutan di dahi dan bibirnya yang sedang mencerna suatu kata.
Jangan merusak suasana dengan mengajakku kencan lagi, Chanyeol. Itu terdengar sangat bodoh dan berhentilah sebelum aku melempar sisa kayu menghitam dari perapian.
"Tidak jadi."
Demi seluruh bulu-bulu halus Robert, tidakkah Chanyeol tau jika sikap seperti itu lebih menyebalkan dari cacing kepanasan? Apalagi jika bukan rasa penasaran yang membuat Baekhyun harus meremas ujung jaket dengan sekotak nafas kesalnya.
"Katakan, Chanyeol."
"Tidak. Tidak jadi."
"Ada apa?" Baekhyun merubah nadanya menjadi paksaan.
"Tidak. Aku...aku..."
"Kau kenapa?"
"Tidak jadi."
Dan ujung dari semua ini adalah kekesalan Baekhyun yang mulai menjumpai puncaknya. Baekhyun merupakan sejenis wanita dengan kesabaran yang setipis kertas A4, karena itu jangan pernah mengadu Baekhyun dengan kesabaran atau dia akan mengeluarkan cakar tajam dari kuku kucing perawannya.
"Mau kemana?" Harusnya Baekhyun menyentak cegahan di pergelangan tangan saat dia ingin pergi. Ya, lebih baik dia pergi atau Chanyeol akan puas dengan noda hitam di wajahnya karena Baekhyun berniat mengoles wajah Chanyeol dengan sisa hitam balok kayu yang terbakar di perapian.
"Karena tidak ada yang ingin kau katakan, aku akan kembali ke tenda dan tidur!" Terdengar nada kekesalan di sana. Padahal Baekhyun mati-matian berusaha menunjukkan nada biasa saja.
"Aku memaksa agar kau tetap disini."
"Memang kau siapa?!"
"Baiklah," Chanyeol melembutkan suaranya, "aku memohon dengan sangat agar kau bisa tetap di sini. Maukah? Kumohon.."
Dan apa artinya semua itu jika Baekhyun harus kalah dengan wajah dan suara memelas Chanyeol. Sesuatu telah merubahnya untuk berbalik haluan dan meninggalkan sejumput keegoisannya di ujung jalan.
Baekhyun kembali ke tempat duduknya semula dengan satu wajah yang ia ubah sekesal mungkin. Dia harus mempertahankan dirinya sebagai si galak meski akhir-akhir ini dia mulai melemah. Dan itu sungguh menyebalkan.
"Temani aku di sini. Jangan kemana-mana."
"Jangan manja. Itu sangat tidak cocok dengan tubuh besarmu, Chanyeol."
"Apa aku terdengar seperti itu?"
"Tentu saja. Terlebih kau juga menggunakan mata lebarmu untuk membulat dan...ugh! Itu menyebalkan!"
"Lalu aku harus seperti apa?" Dia mengerjab beberapa kali.
"Bertingkahlah sesuai dirimu. Jangan gunakan topeng untuk menarik perhatian siapapun karena menjadi diri sendiri jauh lebih menyenangkan."
Perkataan Baekhyun bukankah mengisyartkan agar Chanyeol menghilangkan nada dan sifat manjanya untuk kembali pada dirinya yang terkenal sangat dingin? Lalu apa yang sedang dia lakukan dengan menggelung lengan Baekhyun dan menyandarkan kepala di pundak Baekhyun seperti anak beruang kekurangan kasih sayang.
"Ya! Apa-apaan kau ini! Aku tidak menyuruhmu seperti ini!"
"Katanya ingin aku bertingkah seperti apa adanya. Ya beginilah aku."
"Tapi bukan seperti ini. Kalau ada yang lihat bagaimana?"
"Biar saja. Kau kan calon kekasihku."
Oh astaga. Pembahasan itu lagi? Baekhyun kira pembahasan itu sudah turut hanyut terbawa arus sungai.
"Kenapa selalu mengatakan itu? Jika niatmu hanya sekedar bercanda, itu tidak lucu." Baekhyun mendengus. " Ajakan kencan di usia kita memang akan terhitung sebagai cinta monyet. Tapi bagiku, segala sesuatu yang berurusan dengan hal pribadi terutama tentang suatu hubungan tidak seharusnya dianalogikan seperti monyet. Karena monyet tidak pernah serius dan selalu berganti pasangan jika bosan. Lagipula aku juga sangat menolak disamakan dengan monyet. Mana ada monyet secantik aku?"
Chanyeol mengulum senyum geli untuk perkataan Baekhyun yang terakhir. Ya, tidak ada monyet yang secantik Baekhyun.
"Berhenti mengajakku berkencan jika kau hanya bercanda. Kita sudah dewasa dan batasan untuk bercanda tentu sudah kita ketahui."
"Aku tidak bercanda, Baek." Dan sejak kapan Chanyeol menegakkan kembali tubuhnya dan memegang dua lengan kurus Baekhyun. "Aku serius. Aku sedang belajar menjadi pria dewasa. Dan salah satu yang kupelajari adalah mengatakan segala sesuatu secara gentle."
Baekhyun kaku di tempatnya. Dia tidak pernah mendapati situasi seperti ini. Seperti Chanyeol jauh terlihat dewasa dengan mata teduh dan senyum yang menghangatkan.
"Apa kau tidak bisa melihat keseriusanku? Apa saat mengatakannya aku terdengar main-main? Kurasa yang kau katakan bercanda adalah ketika aku mengatakannya disaat yang tidak pas." Chanyeol mempererat pegangannya dan sedikit menipiskan jaraknya dengan Baekhyun. "Aku sudah tertarik padamu sejak awal. Kau begitu membingungkan dan kau sungguh tidak bisa ku cerna dengan logika. Harusnya aku bisa membuang pikiran tentangmu jauh-jauh, tapi dengan polosnya kau selalu datang dalam otakku dan mengacau semua pertahananku."
Lalu Baekhyun kehilangan kata dan lidahnya keluh walau hanya sekedar bergerak membasahi langit-langit rongga mulutnya. Sedang hatinya? Jangan ditanya lagi, hatinya sedang berdesir hebat seperti aliran darah yang tiba-tiba mengalir deras.
"Aku memang masih anak sekolah. Kau bisa menganggapku sebagai anak-anak yang sedang bermain bola untuk ditendang sana sini. Tapi keseriusanku tidak untuk bahan candaan. Perlu kau tau, jika aku sudah serius tentang sesuatu, aku akan mempertahankannya sampai kapanpun." Chanyeol mengendurkan pegangannya.
Seharusnya Chanyeol juga membuat kembali jarak antar dirinya dengan Baekhyun, bukan malah membuat dirinya meluruskan leher untuk sekedar menggapai dan mengecup satu puncak kepala dengan surai panjang yang sedikit berantakan.
"Dan hal itu juga berlaku terhadap ungkapan perasaanku padamu, Baekhyun."
.
Suatu pagi di hari Rabu yang sedikit mendung, Baekhyun memikirkan kembali mengapa semalam dia terjaga hingga pukul dua pagi dan menyisakan uapan dari mulutnya saat makan pagi. Dia tidak begitu mengerti dengan tubuhnya yang hanya berguling-guling memberantakan tatanan sprei biru mudanya juga otaknya yang sedang syahdu. Bertambah lagi ketidak mengertian Baekhyun ketika si dingin kutub utara bermarga Park itu menjadi satu-satunya penyebab semua ini.
Kapasitas otaknya sudah dipenuhi oleh rumus-rumus matematika yang menyesakkan untuk ujian di jam pelajaran ke 3 nanti dan Baekhyun tidak berniat menambah beban otaknya. Tapi secara tidak langsung munculnya Park Chanyeol dengan bayang-bayang keambiguan sikapnya membuat kepala Baekhyun berdenyut nyeri.
"Kau oke?" tanya Ibu sambil meletakkan satu telur mata sapi setengah matang yang baru diangkat dari penggorengan. "Apa terjadi sesuatu?"
Sebenarnya Baekhyun ingin memberi satu anggukan dan menjelaskan keadaannya yang tidaklah oke. Tapi dia masih disadarkan oleh suatu kenyataan jika ibunya adalah satu-satunya orang yang akan memiliki semangat anak muda jika putri cantiknya membahas satu nama. Dan sialnya nama itu adalah si marga Park.
"Uang jajanku kurang."
"Sejak kapan?"
"Sejak ibu sibuk dengan si paman Kim."
Mulutmu Baekhyun. Kenapa harus membahas masalah ini lagi?
"Kami hanya rekan kerja, Baekhyun." Ibu memberi nafas jengah untuk pembahasan yang membuat hubungannya dengan Baekhyun mengalami pendiaman beberapa waktu lalu. "Lebih dari itu Ibu tidak memiliki hubungan apa-apa lagi."
"Penjelasan ibu seakan mengatakan jika aku menuduh ibu memiliki hubungan lain dengan si paman Kim." Dan Baekhyun akan menaikkan sisi sensitifnya untuk hal ini. Sebenarnya dia benci melakukannya, tapi dia seakan dikontrol untuk terus menjadi sinis saat pembahasan tentang si paman Kim.
"Kenapa kau tidak menyukai Paman Kim?"
"Apa aku mengatakannya?"
"Ya. Tapi bukan dari mulutmu, wajah dan matamu yang mengatakannya."
"Ibu hanya tidak mengerti bagaimana perasaanku."
"Ya Tuhan. Kenapa kau jadi seperti ini?!" Ibu Baekhyun meletakkan kembali sumpit yang akan digunakan untuk mengambil sepotong daging dari mangkuk. "Perlukah Ibu membuat suatu pengumuman di semua media untuk mengatakan jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang Ibu dan Paman Kim?! Ibu mohon, Baekhyun, berpikirlah sedikit terbuka."
Dan Baekhyun melakukan hal yang sama; meletakkan sumpit dan melupakan si telur mata sapi setengah matang yang sudah menari-nari minta disantap.
"Ibu, tidakkah ini terlalu cepat untuk menggantikan posisi Ayah?"
"Apa maksudmu?!"
"Ya, mungkin raga Ayah tidak bersama kita dan Tuhan sudah menempatkan Ayah di surga. Tapi demi apapun juga, kenangan tentang Ayah tidak pernah pergi kemana-mana dan tidak akan ada yang bisa menggantikan!"
Baekhyun mendapati setitik airmata jatuh dari pelupuk matanya. Dia tau, jika pembahasan ini tidak akan pernah berakhir menyenangkan. Baik dia dan Ibunya, memiliki jalan yang berbeda untuk memberi sebuah penentuan tentang jalan pikiran masing-masing. Apapun itu tidak ada yang bisa disalahkan. Baik Baekhyun yang bersikukuh dengan kenangan tentang ayahnya maupun sang Ibu yang mati-matian menjelaskan kebenaran yang terjadi apa adanya.
"Ku kira Ibu cukup mengerti semua ini dari caraku bersikap. Maaf jika aku terlalu egois untuk semua jalan hidup Ibu. Tapi aku hanya tidak mau memindahkan apalagi mengganti semua yang sudah ada pada tempatnya. Itu akan menyakitiku!"
Dan dia pergi dengan satu bantingan pintu utama yang menyakiti telinga juga hati Ibunya.
.
Baekhyun menyesali semua pikiran buruknya yang menyulut emosi. Dia terbawa arus keegoisan dan melupakan kebenaran jika segala sesuatu yang pelik bisa dibicarakan baik-baik. Semua itu karena Baekhyun tidak ingin ada orang lain yang akan ia panggil Ayah selain ayah kandungnya. Nyalak emosinya selalu meluap-luap kala mengingat Ibunya dengan si paman Kim yang ia duga memiliki sesuatu lain diluar rekan kerja. Ya, Baekhyun tidak serta-merta men-judge hal itu jika ia tidak memiliki satu landasan. Namun sayangnya dia mendapat satu landasan yang kuat atas perkiraannya dari satu ucapan 'selamat tidur' dengan satu emot senyum di kotak masuk ponsel ibunya.
"Arg!" Lamunan Baekhyun berakibat buruk karena ia harus terpental hampir 2 meter dan meringis ngeri untuk pantatnya yang mendarat tidak sempurna di atas bumi.
"Pantatmu oke?" Suara bass, wajah yang kembali dingin seperti gunung es, dan parfum manly menyegarkan adalah apa yang otak Baekhyun rangkai menjadi satu sosok; Park Chanyeol.
"Tidak usah sok baik! Aku tidak mau berterima kasih padamu!" Si galak menepis uluran tangan yang berniat membantunya berdiri.
"Rasa terima kasihmu tidak akan merubah uban kepala sekolah menjadi hitam, jadi tidak ada yang membutuhkannya. Kau bisa simpan semua itu untuk situasi lain."
Baekhyun tidak begitu mengerti hubungan antara rasa terima kasih dengan uban kepala sekolah yang Chanyeol katakan. Tidak ada benang yang bisa mengaitkan dua hal itu karena semesta pembicaraannya saja sudah berbeda. Dasar Chanyeol berlebihan!
"Pagi-pagi sudah melamun. Apa kau sedang memikirkan bagaimana cara menjadi tinggi dengan cepat?" Sakartis yang Chanyeol maksudkan untuk menggoda Baekhyun. Dia mengharap satu balasan seperti biasanya; bentakan, cibiran, desisan, bahkan lemparan benda tak terduga atau injakan kaki Baekhyun. Semua itu sudah menjadi lagu wajib ketika Chanyeol menyulut kekesalan si mungil yang menyimpan banyak kata pedas dari bibir tipisnya.
"Bukan urusanmu!"
Dan satu usakan di pipi mulus Baekhyun dari punggung tangan Baekhyun sendiri membuka satu pikiran Chanyeol. Airmata?
"Kau menangis?"
Yang lebih kecil mengangkat kepala. Dia tidak bermaksud menunjukkan mata sembabnya apalagi hidungnya yang memerah pada Chanyeol yang membulatkan mata dengan sangat tidak tampan.
"Ya. Kau menangis." Itu suatu pernyataan setelah bukti-bukti Chanyeol peroleh dari keadaan sembab Baekhyun. "Ada apa? Hm? Katakan." Dia melembut untuk satu sentuhan di sisa air mata Baekhyun yang malu-malu mengintip di pelupuk mata.
Baekhyun ingin kembali mengatakan 'bukan urusanmu!' lagi tapi dia kembali diserang satu rasa sesak yang menyekat kerongkongannya dan memanaskan matanya. Mungkin wajahnya terlihat sangat buruk dengan kontrol yang juga sama buruknya ketika dia memutuskan untuk menahan tangis. Terlebih bibirnya yang mulai bergetar sebagai akibat dari tangis yang tidak ia beri acc untuk keluar.
"Mau kemana?" Tanya Baekhyun ketika Chanyeol tanpa ba-bi-bu menarik pergelangan tangannya.
"Membuatmu berhenti menangis."
"Tapi kemana?"
"Kemana saja, Baekhyun."
"Aku tidak mau."
"Kau harus mau. Aku risih melihatmu menahan tangis seperti itu."
"Tapi Chanyeol..."
"Percaya padaku, semua akan kembali baik jika kau ikut bersamaku."
"Kita ada ulangan matematika di jam ke-3."
Dan satu tepukan di dahi Chanyeol yang tampan itu untuk satu kenyataan yang menghancurkan rencananya. Sial!
.
Seperti seorang ibu hamil yang mengidam tengah malam, Chanyeol menjadi gelisah di sepanjang jam ketiga menuju jam keempat yang digunakan untuk ulangan matematika. Karena siapa lagi jika bukan karena anak perempuan yang duduk di samping Sehun dengan alis menyatu. Pikirannya terpecah belah antara rumitnya penyelesaian turunan dengan batas tak-hingga-banyak dari lembaran soalnya dan si mungil galak yang masih memiliki sisa mata sembab.
Seharusnya Chanyeol tidak perlu sekhawatir ini jika keadaan yang ditunjukkan Baekhyun hingga detik ini adalah dirinya yang biasa-biasa saja. Dia sudah berhenti menangis dan melupakan sesegukan yang dia alami tadi pagi sebelum bel masuk berbunyi.
Tapi ini Baekhyun! Sesuatu yang selalu mendapat toleransi penuh dalam diri Chanyeol. Segala hal yang dilakukan anak itu hampir semuanya menoreh kata 'tidak apa, semua demi Baekhyun' yang imbasnya adalah kekalahan Chanyeol sebagai si dingin kutub utara. Chanyeol sendiri mulai memikirkan kembali apa yang sebenarnya dia rasakan, bagaimana semua bisa hanya memiliki satu titik tumpu, dan kenapa dia menjadi anak lelaki tak berotak jika ada di dekat perapian bernama Baekhyun. Mungkin sebuah rasa penasaran di awal jumpa yang bisa Chanyeol salahkan untuk semua yang menimpa dirinya. Dia termakan hasil rasa penasarannya sendiri dan itu menggelikan.
Kebenaran tujuan awal Chanyeol menanggalkan sikap dingin yang hanya ia tujukan untuk Baekhyun telah berubah menjadi boomerang penuh rasa dilema. Bayangkan saja, dia yang mulanya hanya ingin membuat Baekhyun meretakkan pertahanannya yang selalu menyisipkan jarak menjadi satu magnet aneh yang membuatnya tidak bisa pernah berhenti untuk tidak peduli. Dan sialnya, dengan kecepatan yang tidak konstan dia mulai memasuki sebuah dongeng tentang cinta pada pandangan pertama.
.
Luhan meremas sebelah tangan Baekhyun sedang Kyungsoo menepuk kecil pundak Baekhyun ketika sahabatnya yang berurai airmata itu bercerita. Baekhyun tidak pernah bisa membiarkan kesedihannya ia tampung seorang diri. Maka dari itu, setelah jam sekolah berakhir dia akan menarik tangan Luhan dan Kyungsoo untuk duduk di suatu sudut sekolah yang sedikit bebas dari keramaian dan menumpah ruahkan airmatanya di sana.
Beruntunglah Baekhyun mendapat dua sahabat sebaik Luhan dan Kyungsoo. Mereka begitu setia mendengarkan keluh kesah Baekhyun tanpa ada yang menginterupsi sampai Baekhyun selesai dengan ceritanya. Satu lagi, Luhan dan Kyungsoo adalah sejenis sahabat yang tidak pernah memojokkan meski kenyataan yang baru Baekhyun sadari; dia terlampau egois untuk hidup ibunya.
"Aku tidak memiliki banyak saran untukmu, Baek." Kyungsoo memulai pembicaraan. "Tapi aku cukup bisa memahami kekhawatiranmu dan tidak ada yang bisa menyalahkan hal itu. Semua orang berhak memiliki jenis rasa khawatir seperti yang kau rasakan."
"Ya, rasa khawatirku yang terlihat sangat tidak dewasa."
"Kedewasaan tidak bisa diukur dengan hal itu, Baek." Sahut Luhan sambil memberikan sebotol air mineral untuk Baekhyun dan berbalas satu senyum kecil untuk rasa terima kasih. "Jika aku boleh berpendapat, sebaiknya kau bicarakan baik-baik kembali dengan ibumu. Bagaimanapun juga kau dan ibumu saling bergantung. Jika hubungan kalian merenggang dan tidak ada penyelesaian, selamanya kalian hanya akan merasa saling bersalah satu sama lain."
Sore itu Baekhyun memikirkan kembali tentang bagaimana menyelamatkan hubungannya dengan sang Ibu. Mungkin Baekhyun harus kembali bertanya pada hatinya sendiri tentang seberapa jauh dia telah menyakiti hati ibunya. Baekhyun tidak pernah memiliki niat seperti itu. Rasa cintanya teramat besar pada sang Ibu dan mana mungkin dia setega itu menoreh luka dihati ibunya.
Dan setelah dia berpisah dengan Luhan dan Kyungsoo di gerbang sekolah karena petang mulai menyapa, Baekhyun memutuskan mulai membuka hati untuk menerima alasan Ibu yang mengatakan jika hubungan dengan Paman Kim hanya sebatas rekan kerja. Itu yang cukup dia percayai dan bayangan tentang hubungan baiknya dengan Ibu seperti sudah menemui ketidak sabaran untuk segera terealisasi.
"Sudah selesai berceritanya?" Baekhyun hampir berteriak histeris untuk suatu suara dan tubuh tinggi yang menghadangnya di persimpangan jalan dekat sekolah. Dia memegang dadanya yang mulai bergemuruh akibat kinerja detak jantungnya yang mendadak cepat karena rasa terkejut.
"Ya Tuhan! Ku kira kau setan!" Pekik Baekhyun sambil kembali mengatur napas.
"Mana ada setan setampan aku."
Baekhyun hanya mencibir tingkat kepercayaan diri itu dan kembali mendesis sebal ketika yang dia temui lagi-lagi si marga Park.
"Masih ingin menangis?"
"Siapa yang menangis?"
"Si mungil galak yang pernah menginjak kakiku, melemparku dengan handuk basah, dan menendangku hingga bagian tak terdefinisi milikku membentur pohon. Apa kau tau siapa dia?"
Sepertinya aku terlalu kasar padanya.
"Minggir! Aku mau pulang!" Baekhyun coba melerai tubuh tinggi Chanyeol yang mengalanginya. "Chanyeol, kau harus minggir atau-"
Setelah ini Baekhyun harus berlatih untuk kecepatan refleks dirinya sebelum dia digendong seperti sekarang layaknya karung beras oleh Chanyeol. Meski dirinya meronta dengan kaki menendang dan tangan memukuli punggung Chanyeol, dia tetap tidak bisa memberikan perlawanan karena Chanyeol secara harfiah lebih kuat darinya. Dan Baekhyun harus puas saat Chanyeol mengakhiri semua itu dengan satu hentak dia di dudukkan di jok depan sebuah mobil dan Chanyeol duduk di sampingnya sebagai pengendali si bundar.
.
Mungkin beberapa orang berpikir jika suasana hati yang sedang bersedih membutuhkan satu tempat hening untuk merenung atau sekedar melepas rasa resah. Atau orang yang bersedih membutuhkan gemericik air yang menenangkan dengan sapuan sejuk angin sambil melihat bintang. Hal lumrah seperti itu yang biasa orang gunakan untuk dijadikan sebagai hiburan bagi hati yang dilema.
Chanyeol kira dia sudah benar dengan mengajak Baekhyun ketepi Sungai Han dengan semilir angin malam yang terasa damai. Harapannya, Baekhyun bisa melepas semua keganjalan hatinya dengan duduk termenung di atas kap mobil Chanyeol lalu menangis dan berteriak untuk membiarkan hatinya lega. Tapi dia tidak pernah tau jika Baekhyun bukan sejenis orang yang menyukai adegan seperti itu. Dia si galak yang terlalu kolot untuk adegan romantis yang sudah Chanyeol siapkan.
"Ini kampungan sekali, Chanyeol."
Chanyeol membulatkan mata terkejut ketika tanggapan pertama yang Baekhyun berikan adalah kata 'kampungan' dengan decihan remeh. Ada yang salah?
"Berhentilah menjadi lelaki lemah seperti dalam drama. Itu sangat tidak cocok dengan wajahmu!"
"Atau kau mau menangis di mobil saja?"
"Kau gila?!" Baekhyun menepuk kecil dahinya atas kekonyolan Chanyeol. "Aku sedang tidak ingin menangis asal kau tau."
"Tapi tadi pagi kau menangis, bahkan saat kau bercerita dengan Luhan dan Kyungsoo tadi kau juga menangis."
"Jadi kau menguping pembicaraanku?"
Chanyeol membekap mulutnya sendiri dan bergeleng cepat agar dia tidak dituduh sebagai penguping.
"Pantas telingamu lebar! Ternyata selain suka tebar pesona kau juga penguping yang handal!"
"Aku tidak sengaja, Baekhyun..."
"Bagaimana mungkin bisa tidak sengaja?! Tempat yang kugunakan bersama Luhan dan Kyungsoo tadi sangat jauh dari keramaian dan tidak banyak yang tau! Wah, wah! Aku tidak percaya kau melakukan hal itu."
"Aku hanya khawatir padamu. Tidak ada maksud lain."
Lalu maksudmu berbicara dengan nada merengek itu apa, Chanyeol? Jangan bertingkah menggemaskan di depanku!
Jika saja Baekhyun sedang tidak melemah demi suasana hati sedikit lebih baik, dia mungkin sudah mengumpat dengan segala umpatan terbaik yang bisa ia semburkan. Tapi Baekhyun memutuskan memberi sedikit toleransi atas usaha Chanyeol yang menurutnya sama sekali tidak keren. Dia bukan sejenis gadis drama yang menyukai hal-hal hening romantis. Itu terlalu aneh jika Baekhyun harus merasakannya.
"Lain kali tanyakan dulu padaku." Nadanya melunak, "jangan gegabah bertindak karena kesukaan tiap orang tidaklah sama." Dan demi semua dewi keegoisan Baekhyun, kenapa dia menjadi serupa puding?
"Lalu sekarang bagaimana?"
"Apanya?"
"Tentu perasaanmu."
Baekhyun mendesah lagi untuk suatu hal tentang perasaan yang Chanyeol bahas. Dia sudah lebih baik, tidakkah semua bisa dilihat dari wajahnya?
"Aku baik, Chanyeol."
"Yakin?"
"Em!"
"Tidak butuh sesuatu agar kau merasa lebih baik?"
Baekhyun memutar matanya jengah. Demi apa Chanyeol ini menjadi sangat menyebalkan dengan pertanyaan seperti itu. Namun berhubung Baekhyun sedang tidak ingin meneriaki lelaki itu dengan nada terdingin dan melengking dari pita suaranya, Baekhyun memilih pilihan ini,
"Memang kau mau mengabulkan apapun permintaanku?"
Dia mengangguk cepat. "Apapun asal kau menjadi lebih baik."
Pikirkan baik-baik Baekhyun.
Lalu ketika Baekhyun selesai dengan wajah kerutan tanda sedang berpikir keras serta telunjuk yang memainkan anak rambut dekat pipi yang menggantung lucu, dia mengutarakan isi pikirannya dengan satu nada rengekan yang tidak pernah Baekhyun sadari akan muncul.
"Aku lapar, Chanyeol."
.
Mungkin Chanyeol harus menambah intensitas rajin saat pelajaran bahasa berlangsung. Atau dia harus banyak-banyak membaca buku tentang berbagai kosakata agar pengetahuannya bertambah. Karena saat Baekhyun mengatakan 'aku lapar' dan Chanyeol membawanya kesebuah tempat makan terdekat, gadis itu justru menggeleng kepala tanda ketidak setujuan. Bukankah ketika lapar mereka harus datang ketempat makan?
Chanyeol rasa dirinya mulai diambang kebingungan ketika wajah menggemaskan Baekhyun yang sedikit galak itu memberi sinyal bahwa dia mengenginkan sesuatu yang lain. Dan benar saja, saat Chanyeol menuruti titah si galak yang akhir-akhir ini mulai melemah untuk menjalankan mobilnya, Chanyeol dibuat terbelalak untuk satu papan besar di pintu masuk lapangan luas.
'NIGHT MARKET'
Oh astaga, seseorang tolong bawa rahang Chanyeol kembali pada kenormalan karena sekarang dia sedang menjatuhkannya dengan sangat tidak tampan.
Dan demi semua ketampanannya yang menguasai dunia nyata dan dunia maya, Chanyeol harus berpikir ulang mengapa dia menjadi begitu bodoh karena sebuah kepasrahan saat si mungil galak itu menarik tangannya masuk ke lapangan. Seumur hidup baru kali ini Chanyeol datang ke pasar malam. Dia dan segala pesona yang sudah didapatkan sejak lahir tidak pernah mengenal dan melihat bagaimana pasar malam itu berwujud dengan keramaian yang tidak kalah dengan penonton konser. Yang lebih mengherankan lagi, dia menyadari jika semua hal baru yang dia dapatkan malam ini berbuah manis dengan melihat satu senyum kecil yang kembali tersungging dari si bibir pink.
"Mau?" Baekhyun menyodorkan gulungan permen kapas berwarna sedikit merah muda. "Ini manis."
Chanyeol menggeleng kecil. Seumur hidup dia tidak pernah mengenal gulungan seperti itu yang sedari tadi Baekhyun perkenalkan sebagai si manis. Melihatnya saja sudah seperti bulu domba di perternakan.
"Mau ini?" Kali ini sesuatu berwujud sebuah gulungan yang berselimut sesuatu berwarna hitam.
"Baek, berhenti makan sesuatu yang terlihat aneh."
"Ini enak, Chanyeol."
"Tapi kau bisa sakit perut jika terlalu rakus seperti itu. Hentikan, ya?"
"Kau ini kenapa?" Oh, oh. Jurus merengek? Kenapa Baekhyun tau kelemahanku? Tidak, Baekhyun. Jangan.
Chanyeol menarik nafas di atas kepalanya. Apa lagi yang bisa dia lakukan kecuali menahan omelannya karena dia kalah telak oleh rengekan si mungil.
"Terserah kau saja." Alih-alih memberi celotehan lagi, Chanyeol memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku lalu pergi. Dia sedang berusaha menghindari kemelut aneh dalam hatinya yang mendadak begitu mendamba Baekhyun.
Dan selama hampir dua jam Chanyeol harus puas dengan kuasa Baekhyun. Maksudnya, anak itu menikmati semua waktu dirinya untuk memanjakan perut juga mata dan menjadikan Chanyeol sebagai bayangan tak kasat mata. Meski terdengar begitu menyebalkan dan Chanyeol hampir saja meledak ketika di penghujung waktu dia dipaksa untuk melakukan beberapa gaya di sebuah kotak kecil dengan sebuah layar di hadapannya, dia harus merelakan semua harga dirinya demi membahagiakan Baekhyun.
"Sampai di rumah kau harus meminum obat sakit perut." Ujar Chanyeol dengan nada kesal kentara saat sudah bersiap menyalakan mobil. "Aku baru tau jika perutmu yang kecil itu bisa menampung banyak makanan."
"Ini belum seberapa. Karena dulu aku bersama Luhan-Kyungsoo pernah bertaruh menghabiskan sepuluh mangkuk ramen dalam waktu 30 menit."
"Lalu siapa yang menang?"
Baekhyun berdeham sambil menikmati lelehen putih dari cup ice cream yang ia pegang.
"Kami menghabiskannya dalam waktu bersamaan. Tapi setelah itu aku dan Luhan harus izin 3 hari tidak masuk dan Kyungsoo, dia lebih parah." Lagi. Dia terkikik dan membuat bulan sabit pada dua matanya. "Dia izin hampir seminggu."
"Dasar bodoh!"
Baekhyun mendelik kesal. Kenapa harus mengatakannya bodoh? Itu hanya permainan konyol untuk mempererat tali persahabatan.
"Dasar norak! Apa kau tidak pernah melakukan hal itu bersama sahabatmu?!"
Perasaan bahagia yang semula menggantung begitu indah setelah berhasil memanjakan mata juga perutnya, Baekhyun harus dibuat kesal karena tingkah Chanyeol. Lelaki kolot macam dia mana pernah tau. Dia hanya paham bagaimana cara menebar pesona dan membuat para kucing genit meraung haus belaian.
"Aku curiga. Jangan-jangan kau juga tidak pernah makan ice cream."
Baekhyun memicingkan matanya, berharap ejekan yang ia lontarkan itu akan membuat Chanyeol terpancing dan memulai perdebatan-perdebatan konyol lagi. Tapi yang justru Baekhyun dapat tak lebih dari jantungnya yang mendadak melemah untuk berdetak. Tidak seharusnya Chanyeol melakukan hal seperti ini. Seperti dia yang memenjara Baekhyun dengan dua tangan dan menyudutkannya di pintu.
"Aku pernah."
Dan sesuatu yang kenyal di bibirnya adalah apa yang tidak bisa Baekhyun rangkai dengan begitu jelas. Semua membeku dengan kadar yang pas hingga dia harus rela memaksa otaknya kembali selaras dengan kenyataan di depan matanya.
"Dan rasanya sangat manis, Baek." Akhir dari semua cerita ini adalah satu smirk mempesona dari Chanyeol dengan sapuan lembut ibu jarinya di jejak kekenyalan dan kemanisan yang dia rasakan dari bibir mungil itu. "Terima kasih sudah membagi ice cream-nya denganku."
-TiBiCi
yo yo yo, yang nungguin Latibule sampai jamuran mana hidungnyaaaaa? wkwk
atau gak nungguin? T.T
yg mau protes kenapa bagian nyelametin Baekhyun kesannya cepet dan singkat, sejujurnya Ayoung sendiri ga tega bikin mereka basah2 di sungai terlalu lama.. dan kasian juga Baek kalo harus tenggelem lama2 wkwk
maafkan telah membuat kalian menunggu. Ayoung lagi sedikit repot karena banyak tanggungan, termasuk tanggungan FF wkwk
Latibule di update bareng authors kece : Pupuputri , Redapplee, Lolipopsehun, Brida Wu, Railash61, Homonymous, Oh Lana (on wattpad OhLan94), exorado, purflowerian
so, silahkan cek story list mereka ya :)
sekian dari Ayoung, jangan lupa review biar Ayoung tambah sayang dan tambah rajin update (ga janji juga sih wakakak)
BYE~
