Chap 7A.
Chap ini isinya dikit. Gatau kenapa mentok ngetiknya cuma segini. Semoga kalian suka :)
.
.
T
.
.
.
Satu kuluman senyum membuat Chanyeol terlihat bodoh ketika dia memasuki pekarangan rumahnya. Dia tidak pernah merasa sebahagia ini setelah mencuri satu kecupan lagi dari bibir pedas-manis milik Baekhyun yang berbalut ice cream. Meski pada akhirnya ia harus rela telinga peri-nya ditarik layaknya ketapel, tapi semua itu tidak berarti apa-apa saat semu tomat merah ada di pipi Baekhyun.
Seharusnya Baekhyun merasa senang saat Chanyeol mulai menunjukkan gelagat perasaannya itu. Tapi Baekhyun memiliki ego cukup tinggi hingga dia harus menunjukkan kekesalannya. Chanyeol tidak masalah dengan semua itu karena baginya Baekhyun tampak mempesona dengan segala tingkah lakunya. Untuk itu, besok dia akan datang ke rumah gadis itu dan mengajaknya untuk berkencan.
Chanyeol berencana akan mandi lalu merebahkan diri dan bersiap kembali menyapa Baekhyun melalui chat. Dia ingin menggodanya hingga balasan dari gadis itu banyak mengandung 'tanda seru' beserta emotikan yang berapi-api. Namun ketika Chanyeol baru saja melepas kaos hitam dan bersiap masuk kamar mandi pribadinya, ponselnya berdering.
"Ya?" ucapnya ketika panggilan itu ia terima.
Dia tertegun cukup lama ketika suara seorang perempuan dengan isak tangis di seberang sana menemui indera pendengarnya. Tak butuh waktu lama setelah panggilan itu terputus, Chanyeol kembali mengenakan kaos-nya dan mengambil kunci mobil yang ada di atas nakas. Perasaannya kalut, dia sempat blank untuk beberapa saat ketika suara ibu Baekhyun yang menangis itu mengatakan 'Baekhyun kabur dari rumah'.
.
.
"Kenapa kau ikut, Robert? Harusnya kau dirumah saja. Ini sudah sangat malam."
Masih mengenakan seragam sekolah, mata sembab karena isak tangis, serta tubuh bergetar yang coba menghalau dingin menjadi penampilan Baekhyun yang sedang berjongkok di bawah pohon. Sudah pukul sebelas malam dan dia lebih memilih melangkahkan kaki ke arah selatan daripada arah timur yang menjadi arah pintu masuk rumahnya.
Sebenarnya keadaan tidak akan seburuk ini jika Baekhyun lebih bisa berpikir jernih. Tapi apa kejernihan itu bisa mengobati rasa sakit hatinya? Mungkin tidak separah sayatan pisau saat menguliti kulit sapi, tapi ini begitu melekat hingga dia akan menangis lagi ketika mengingatnya.
Lalu ketika Baekhyun mulai bisa menenangkan hatinya yang bergejolak setelah Chanyeol mencuri satu ciumannya, dia dibuat menegang dengan hati yang luruh melihat dua orang berbeda jenis kelamin sedang berpelukan didepan pekarangan rumah. Dari postur tubuh itu dia sangat mengenal bahwa ibunya satu-satunya pemilik surai pendek hitam pekat dengan kemeja kerja berwarna biru kado ulangtahun dari Baekhyun tahun lalu.
Semua mungkin butuh penjelasan. Tapi Baekhyun sedang tidak menginginkan itu semua. Dia hanya merangkai fakta yang ditangkap matanya dengan hatinya yang serasa diremas setelah ibunya berkali-kali berkata tidak ada hubungan apa-apa dengan si Paman Kim.
Lalu apa arti semua yang kini dia lihat? Baru saja Baekhyun berniat untuk berdamai karena emot senyum dalam kotak masuk di ponsel ibunya, tapi dia harus kembali merangkai benang kemuakan setelah pelukan itu bahkan lebih menyakitkan dari emotikon senyum.
"Baekhyun! Ibu bisa jelaskan."Wanita itu meraih tangan Baekhyun.
"Tentang apa?"
"Ibu tidak bermaksud.."
"Ya, ibu tidak pernah bermaksud seburuk itu. Aku saja yang berlebihan dengan apa yang ku lihat."
"Baekhyun..kami..."
Baekhyun hanya tidak tau bagaimana mengendalikan kecamuk hatinya yang bahkan lebih buruj dari petir malam ini. Ingatlah bahwa dia masih anak perempuan diusia belasan yang memiliki kepekaan hati terlalu berlebih. Sangat sulit mengendalikannya, terlebih jika ia sudah terdesak oleh rasa sesak didada yang membuat matanya memanas.
Yang Baekhyun tau dia hanya berlari menjauhi rumahnya. Dia butuh satu tempat dimana dia bisa mengadu pada angin malam yang tentang dirinya yang kedinginan dan hatinya yang tersakiti.
"Kau tidak dingin, Robert?" Baekhyun memeluk sekutu terbaiknya itu, dan si sexy Robert hanya mengeong kecil sambil meletakkan kepalanya di pundak Baekhyun. "Tidurlah, aku akan mencari tempat hangat untuk kita."
Kaki mungil yang masih mengenakan sepatu itu berjalan di tengah keadaan kota yang mulai lengang. Baekhyun mulai memutar otak untuk mencari tempat singgah malam ini. Apa dia harus kerumah Kyungsoo? Luhan? Mino? Sehun? Jongin? Tidak, mereka semua pasti berada di pihak ibunya. Jika bertemu Baekhyun pasti mereka akan segera menyeretnya kembali ke rumah dan pertengkaran itu tak akan terhindari lagi.
Ego Baekhyun terlalu membumbung tinggi jika dia harus singgah kerumah salah satu paman atau bibinya. Mereka tak sebaik rupanya, kebencian tentang kehidupan keluarga kecil Baekhyun menjadi alasan mengapa jarak itu tercipta. Lagipula Baekhyun tak berniat mengemis diri pada mereka yang selalu memandang rendah kehidupannya.
Baekhyun memiliki banyak pilihan untuk ia datangi, namun sayangnya semua memiliki resiko dan dia sedang tidak mau beradu mulut. Untuk itu, Baekhyun memiliki satu pilihan terakhir yang mana tidak akan pernah ada yang mengendus keberadaannya.
Kakinya yang mulai lelah telah berdiri disebuah rumah sauna. Disana dia bisa tidur, makan, dan menenangkan pikiran tanpa pernah ada yang tau di sedang menyembunyikan diri. Semua itu demi satu pikiran yang lebih fresh dan akan ada jalan keluar yang bisa dia ambil.
"Maaf, Nona, kau tidak boleh membawa hewan masuk." Seorang lelaki paruh baya berkata sambil memicing pada Robert.
"Aku akan membayar biayanya sesuai biaya perorang."
"Yang kau bawa hewan, bukan orang."
"Dia tidak akan mengganggu. Robert kucing yang baik."
"Tetap saja. Kau tidak bisa membawa hewan masuk!"
"Paman, izinkan aku sekali saj—"
Bahkan pilihan terakhir itu tak membuahkan hasil saat si paman pemilik sauna penutup pintu secara kasar. Menyebalkan!
"Kita harus kemana, Robert?" mau tidak mau Baekhyun harus memikirkan ulang kemana dia akan pergi. Melarikan diri ternyata menyebalkan, tapi menghadapi argumen ibu akan jauh lebih menyebalkan.
Semua gara-gara si paman Kim. Lelaki itu telah merusak semua kebahagiaan Baekhyun hingga sekarang dia terdampar seperti kertas lusuh tak bertuan.
"Berdiri."
Baekhyun mendongak untuk sepasang kaki berbalut sneakers yang ada di depannya. Sembari mengusak pelan sisa air mata yang keluar di pelupuk matanya, Baekhyun semakin ingin menjerit karena wajah dingin Chanyeol tengah menguliti semua jenis kekanakan ini.
"Berdiri, Baekhyun! Kau mau jadi gelandangan disini?"
"Kenapa membentak.." dia merengek. "Berkata lebih pelan, kan, bisa.."
Satu hembusan nafas kesal itu Chanyeol buang demi manik kelinci yang sedang menangis. Demi segala macam dewa kemarahan, dia telah melipat emosi serta kekalutannya disebuah koper kesia-siaan hanya karena wajah sembab si mungil.
"Jangan berkeliaran dimalam hari. Kalau ada yang menculik dan menjualmu, bagaimana?"
"Kau akan datang menyelamatkanku."
"Percaya diri sekali." Mungkin ini akan terlihat norak dan sudah sering terjadi dimana saja, tapi tetap saja seorang lelaki akan menuruti nalurinya melepas jaket hanya untuk melingkupkannya pada si mungil yang mulai kedinginan karena angin malam.
"Tidak bertanya aku kenapa?"
"Hm?"
"Pasti ibu sudah memberitahumu."
"Apa yang kau masalahkan dengan ibumu sebenarnya bukan hak ku untuk ikut campur. Hanya saja aku kurang setuju dengan niatmu yang pergi begitu saja dan berakhir seperti gelandangan."
"Tidak ada gelandangan yang secantik aku!"
"Ya, ya, ya. Kau gelandangan cantik." Chanyeol mempererat lingkupan jaket itu.
"Mau kemana?"
"Membawamu ke tempat lebih layak."
"Aku tidak mau pulang!"
"Siapa juga yang akan mengantarmu pulang? Kita akan kerumahku!"
Semu tomat merah busuk sepertinya mulai muncul di pipi Baekhyun.
.
Bukan rumah yang besar tapi tidak juga dikatakan rumah sederhana. Semua yang ada disini tersaji secara pas dengan tatanan modern yang menunjukkan keangkuhan. Dominan warna putih tulang dan hiasan sederhana namun penuh kesan mewah menjadi pemanis rumah Chanyeol.
"Bantu dia membersihkan diri." Kata Chanyeol pada seorang pelayan yang menghampiri saat dia masuk bersama Baekhyun. "Dan kau, setelah mandi temui aku di ruang makan. Kau harus makan!"
"Kau lupa jika beberapa jam lalu aku sudah makan banyak di Niight Market?"
"Kau belum makan nasi." Dia menyentil ujung hidung si mungil yang mulai kembali dengan wajah judesnya. "Err..haruskah Robert ikut bersama...mu?"
Satu lirikan tajam membuat Chanyeol mengerti ditambah suara berisik dari si Robert yang sedang dalam pelukan Baekhyun.
"Oke. Akan ku siapkan tempat untuknya juga. Kau tau, kan, aku alergi bulu kucing? Dia," Chanyeol menyentil telinga Robert yang disambut tatapan sinis dari si abu-abu, "tidak boleh berkeliaran sembarangan atau alergiku akan kambuh."
"Kau jadi sangat berkuasa jika di areamu."
Lelaki itu hanya mengedikkan bahu kemudian mendorong Baekhyun untuk mengikuti pelayan yang akan membantunya bebersih diri. Dia juga melambai pada si pengganggu berwarna abu-abu yang selalu mengacaukan waktunya dengan Baekhyun. Rasakan!
.
"Ibu bertemu paman Kim."
"Hm."
"Mereka berpelukan didepan rumah."
"Hm."
"Aku marah!"
"Hm."
"Itu menyebalkan sekali, Chanyeol!"
"Hm."
Diabaikan merupakan hal utama yang Baekhyun tidak sukai. Terlebih ketika dia bercerita dan seseorang yang berkata akan mendengarnya hanya memberi tanggapan yang tidak memuaskan. Paling tidak beri reaksi yang wajar walau si pendengar sialan bertelinga peri itu tidak harus berada dipihak Baekhyun dan mengutuk semua kedekatan ibunya dengan paman Kim.
"Kau menyebalkan!" Baekhyun melempar potongan timun yang kebetulan ia temukan di piringnya. "Aku pergi saja!"
"Maumu apa?" Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan si mungil itu kembali duduk. Namun dia sudah tak berhasrat untuk menyentuh makanannya ketika situasi ini membuatnya terlihat seperti anak cengeng.
"Pergi! Persetan kau menyebutku gelandangan!"
"Makan dulu baru kau boleh pergi."
"Tidak mau!"
"Makan!"
"Tidak mau!"
"Astaga! Kau benar-benar keras kepala!"
Suara Chanyeol meninggi tanpa dia sadari dan membuat Baekhyun sedikit tersentak karena dia tidak pernah mendapat suara setinggi itu. Ya, dia si lemah mungil yang selalu bermandikan kemanjaan. Mendengar Chanyeol bernada tinggi seperti itu sungguh menyakiti hatinya.
"Kenapa membentak lagi..."
Astaga, kenapa merengek lagi. Jangan membuatku bertindak diluar batas, Baekhyun.
"Aku tidak mau makan karena ada timunnya. Aku tidak suka timun..."
Dan parahnya, air mata sialan itu mulai turun dari pelupuk mata Baekhyun. Bisa apa Chanyeol selain melemah dan mengalah. Dia sungguh membenci cara Baekhyun yang seperti itu karena Chanyeol tidak punya banyak kemampuan untuk melakukan hal lebih selain mengusak puncak kepala si mungil.
"Sisihkan timunnya, lalu makan. Kau ini sudah kurus, jangan buat tubuhmu semakin kurus."
Baekhyun menurut, sesuatu yang selama ini hampir tidak pernah dia lakukan.
"Setelah ini kau bisa bercerita semuanya. Aku tidak suka ada yang berbicara saat makan."
Kolot sekali!
.
Segelas susu dengan semangkuk keripik kentang sudah terletak di atas meja. Baekhyun mendongak untuk satu lengan panjang yang mengganggu rambutnya yang belum sepenuhnya kering.
"Kau sengaja membuatku gendut?"
"Hanya membuatmu lebih berisi. Aku tidak suka melihatmu kurus seperti ini. Nanti kalau kau tertiup angin bagaimana?"
Taman belakang rumah Chanyeol tidak terlalu buruk untuk dijadikan tempat merenung. Ada kolam ikan dengan gemericik air menenangkan juga beberapa tanaman yang terawat dengan baik.
"Kau tinggal sendirian?" Tanyanya sambil mengambil potongan keripik kentang.
"Bersama kakek. Tapi kakekku sedang berkunjung ke rumah paman di Jepang."
"Orang tuamu?"
Chanyeol mengehembuskan satu nafas berat, tubuh tingginya ia sandarkan pada kursi lalu dia menengadah untuk menyapa langit tengah malam.
"Ayah dan Ibu bercerai. Ayahku menikah dengan orang Perancis dan menetap disana, sedang ibuku menikah dengan orang Singapore." Chanyeol melihat guratan wajah prihatin dari si mungil yang duduk di sampingnya. "Santai saja. Aku tidak masalah. Aku baik-baik saja jika tatapanmu itu menunjukkan keibaan padaku."
Sadar akan apa yang dilakukan, Baekhyun membuang muka.
"Ayah dan Ibu tidak memiliki niat untuk memperebutkanku. Mungkin karena aku anak satu-satunya dan mereka tidak ingin saling memiliki urusan lebih lama, jadi mereka pasrah tentangku."
"Kau pasti sedih saat itu."
"Ya, aku sedih sekali. Tapi mau berbuat apa? Jika aku menangis dan kabur dari rumah tidak akan pernah menyelesaikan masalah."
Itu sindiran, Baekhyun sadar dan dia hanya mendengus. Apa salahnya jika mengekspresikan bentuk ketidaksetujuan dengan cara kabur?
"Tapi semuanya sudah terjadi. Aku tidak lagi memikirkan bagaimana nasibku sebagai anak yang ya...kau bisa mengatakan tidak diharapkan. Dan tinggal dengan kakek tidaklah terlalu buruk. Setidaknya aku masih memiliki satu tempat untuk ku bahagiakan."
Keheningan merambat ketika Baekhyun kembali mengingat ibunya. Masalah yang Baekhyun hadapi tidaklah sepelik yang Chanyeol alami. Baekhyun hanya tidak bisa menerima semua ini jika memang ibunya memiliki hubungan dengan paman Kim. Selama ini dia begitu bangga dengan kisah cinta Ayah-Ibu yang bahkan lebih mengharukan dari film Twilight. Dan kehadiran paman Kim tidak lebih dari Jacob yang berusaha mengganti kehadiran Edward dari hati Bella. Ah, entahlah.
Sebenarnya tidak seburuk itu. Bisa dikatakan ini kekhawatiran Baekhyun yang terlalu berlebihan. Paman Kim tidak sampai merebut ibunya lalu menghipnotis ibu untuk pergi dari kenangan bersama ayah. Tapi khawatir tetaplah khawatir, mau di siram bensin lalu dibakarpun yang namanya khawatir akan selalu sedilema itu.
"Ibumu tadi menelfon. Dia sangat khawatir denganmu."
"Hm. Ya."
"Jangan kabur lagi, ya? Semua orang khawatir karena kau kabur." Satu usakan Chanyeol berikan pada puncak kepala si mungil. "Kalau butuh tempat untuk meluapkan semuanya, kau bisa menghubungiku."
"Kau terdengar murahan dengan perkataan seperti itu." Baekhyun berdecih, tapi dia suka jenis usakan di puncak kepalanya yang menenangkan. "Jangan terlalu banyak melihat drama atau kau akan berubah menjadi pembual."
"Masalah itu harus diselesaikan, bukan untuk dihindari. Jadi," Chanyeol merengkuh pundak Baekhyun untuk menepis sisa ruang diantara mereka. Jangan berpikiran kotor dulu, ini hanya bentuk kenyamanan yang ingin Chanyeol berikan pada si mungil yang telah mencuri hatinya, "jangan pernah kabur lagi atau aku akan menciummu."
"Akhir-akhir ini kau semakin berani. Tidak takut aku akan menginjak kakimu lagi?"
"Asal kau bahagia, aku tidak masalah."
Coba tanyakan pada langit gelap tentang semua ini. Tentang Baekhyun yang terbuai oleh setiap jengkal perilaku Chanyeol juga tentang dia yang terluluhkan oleh si dingin kutub utara. Ini terasa bodoh mengingat dihari-hari yang lalu Baekhyun selalu menghindar. Dia seperti menjilat ludahnya sendiri jika sekarang dia mulai terbawa pada perasaannya. Katakan ini tidak benar, tapi Baekhyun begitu menyukai setiap alur yang membawanya melupakan sejenak pelik masalahnya dengan sang ibu.
Chanyeol terlalu pandai dengan semua ini.
"Baek,"
"Hm?"
"Jadi pacarku, ya?"
Baekhyun mendongak, bersiap untuk mencubit hidung lelaki itu hingga panjang seperti pinokio.
"Momennya memang tidak pas. Tapi aku harus melakukannya. Aku hanya ingin kau datang padaku jika kau bahagia atau kau akan memelukku jika kau sedih. Aku tidak mau kau melakukannya pada lelaki lain. Mungkin terkesan egois, tapi beginilah aku. Aku sudah terlanjur jauh jatuh cinta padamu. Jika aku harus kembali dan memungut kekecewaan, semuanya akan seperti pecahan kaca. Menyakitkan."
Ini bukan yang pertama, tapi rasanya sungguh aneh. Meletup-letup seperti kembang api dan bergerombol seperti kupu-kupu yang menggelitik.
Seperti yang Chanyeol bilang, momennya memang tidak pas. Terlebih yang bisa Baekhyun berikan sebagai tanggapan hanya kerjapan mata juga semu merah tomat baru dipetik yang berhambur di pipinya.
Lalu yang bisa Baekhyun lakukan hanya mematung. Dia terlalu kaku untuk tangan dingin Chanyeol yang meraup rahangnya, dia terlalu membeku untuk mata Chanyeol yang menatap dalam padanya, dan dia terlalu menanti semua ini menjadi semakin dekat.
"ARGGHHH!"
Dan satu teriakan yang membuat Baekhyun melepas semua itu ketika Chanyeol berteriak dengan kaki yang menghentak-hentak. Matanya turun kebawah dan menemukan buntalan abu-abu yang sudah mengeong garang.
"Robert! Jangan mencakar Chanyeol!"
.
.
TBC
Latibule here~~~~~
Akhirnya di update juga :D
Maaf ya kalau telat dan chap ini isinya duikiiittt banget :D
Karena sudah di update, silahkan tinggalkan REVIEW wkwk
Bye~~~ sampai ketemu di chap 7B :*
