Ini adalah sebuah oneshot, jadi gak ada hubungannya ama cerita yang lalu..

Dan fic ini mau Lulu jadiin kumpulan oneshot mengenai Fangie tersayang!*dihajar fans Fang

Cerita ini juga Lulu buat untuk memenuhi rasa lapar Lulu terhadap asupan canon.

Ya Tuhan, kenapa cerita canon di fandom ini langka banget!

Well, pokoknya happy reading!


Title : Alien

Sub title : Compose

Disclaimer : Boboiboy and all characters belongs to Monsta. But, can I have Fang for a moment please?/no

Warning : Maybe OOC, awful EyD, story ngaco, teori ngaco.


Sebatang pensil berguling ke depan dan ke belakang, dipermainkan oleh tangan mungil bersarung fingerless di atas meja. Pemilik tangan tersebut memandang kosong ke arah langit, sebelah tangannya menyangga dagunya. Berbeda dengan anak-anak di sekelilingnya yang sibuk menulis di selembar kertas, sang pemilik tangan yang diketahui bernama Fang bahkan tidak memegang pensil sama sekali, hanya mendorong batang kecil tersebut maju mundur tanpa minat. Kertas di depannya putih tanpa noda, seperti kumpulan awan di langit yang sedari tadi ia pandangi.

Mari kita mundur ke beberapa menit yang lalu. Guru Bahasa Melayu di kelasnya memberikan tugas menulis untuk siswa-siswa di kelas 5 Jujur, termasuk Fang. Bukan menulis cerita fiksi atau karangan isapan jempol, namun sebuah tulisan yang menceritakan tentang orang tua masing-masing. Ditulis dalam selembar kertas dan dalam waktu 15 menit dari sekarang, semua siswa harus maju ke depan dan membacakan karangan mereka satu persatu.

Anak yang lain tampak bersemangat atas tugas ini. Tentu saja, karena menceritakan orang tua, orang-orang yang paling dekat di hidup seorang anak, adalah tugas yang jauh lebih mudah daripada mengarang sebuah cerita yang membutuhkan inspirasi dan ilham. Namun sepertinya itu tidak berlaku untuk Fang.

Bahkan bila ia boleh jujur, Fang merasa bahwa bila gurunya memberi tugas untuk mengarang cerita, ia akan selesai dalam waktu kurang dari 10 menit. Bukan karena ia pandai mengarang, justru sebaliknya, ia sangat payah dalam mengarang. Ia terkadang masih meringis ketika teman-temannya memanggilnya 'Fang', mengingatkannya akan ketidakmampuannya dalam mengarang sebuah nama yang keren dan tidak terlalu berhubungan dengan nama aslinya. Andi kek, Danu kek, kenapa harus Fang? Meskipun arti namanya cukup bagus. Gigi taring. Melambangkan kekuatan dan kebuasan untuk menghabisi musuhnya.

(Harap dimaklumi, ini adalah pikiran anak menjelang pubertas yang telah pergi ke medan perang terlalu cepat)

Kembali ke masalah awal. Jika ia diberi tugas mengarang cerita, ia akan menceritakan fakta. Betul, Fang tidak bohong. Ada banyak sekali kisah petualangan yang ia lalui bersama pasukannya yang dapat ia olah menjadi cerita yang cukup hebat dan mendebar hati teman-teman buminya, dan membuat guru memberikan nilai A+ untuk karangannya. Tentu saja, Fang tidak pernah mengatakan kepada guru maupun teman-temannya bahwa semua cerita-cerita pendek yang ia karang berdasarkan kisah nyata. Memang siapa yang akan percaya kisah ketika ia dan kaptennya menyusup ke gua yang gelap dan menghabisi monster berparuh panjang yang mengelilingi sebuah lahan penuh lobak merah jenis langka?

(Yang paling tidak bisa dipercaya adalah bisa-bisanya dua alien ganteng bersaudara itu mengobrak-abrik planet monster yang malang cuma buat panen wortel. Dasar carrot freak)

Sekarang malah berubah menjadi ironi. Ketika ia disuruh mengarang, ia menceritakan kejadian yang sebenarnya. Nah, giliran ia disuruh menceritakan objek yang sebenarnya a.k.a orang tua, ia malah harus mengarang. Mau bagaimana lagi, sangat sedikit yang ia tahu tentang orang tuanya sendiri. Sudah lamaaaaa sekali semenjak ia berhubungan kontak dengan orang tuanya. Wajah mereka saja Fang sudah lupa, apalagi detail penting lainnya. Yang ia tahu hanyalah entah ayahnya maupun ibunya memiliki warna rambut yang sama dengan dirinya maupun kapten. Ia juga tahu bahwa orang tuanya masih hidup di planet asal mereka (entah di mana) dan kapten terkadang menghubungi mereka secara sembunyi-sembunyi. Fang tidak tahu dan tidak pernah ingin tahu masalah apa yang terjadi pada –seharusnya- keluarganya. Kapten tidak pernah membicarakan hal itu padanya. Lebih tepatnya, kapten jarang berbicara mengenai apapun kepadanya kecuali urusan pasukan dan misi. Terkadang Fang lupa bahwa Kapten juga adalah kakaknya.

"Loh? Kau belum menulis apapun?"

Fang tersentak dari lamunannya. Sial, ia ketahuan. Ia harus cepat-cepat mengarang sesuatu, menulis sesu-

"Kenapa kau malah tampak kebingungan begitu, Boboiboy?"

Tuh kan, sekarang salah satu temannya tahu bahwa ia kebingungan untuk me-eh?

Tadi dia bilang Boboiboy? Boboiboy juga mengalami kesulitan dalam mengarang?

Fang mencondongkan badannya ke depan, medekati tempat Boboiboy. Siapa tahu setelah mendengar masalah Boboiboy, ia dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.

"Aku memang sedang bingung, Gopal... Aku tidak tahu siapa yang harus aku tulis. Ayahku, ibuku, atau Tok Aba?"

Percuma. Permasalahan anak di depannya justru malah berkebalikan dengan masalahnya.

"Hmm.. Siapa di antara mereka bertiga yang paling kamu sayang?"

"Ish kau ni Gopal.. aku sayang mereka bertiga sama besar lah!"

"Kalau begitu kau pilih secara acak saja.."

"Hmm... Kau sendiri menulis tentang siapa?"

"Tentu saja bapak aku! Meskipun dia galak dan suka memukulku dengan rotan, aku tetap sayang bapak aku... Apalagi dia suka memberiku es krim spesial bikinannya jika aku berbuat baik.."

"Bagus lah tu... Ah.. aku masih bingung harus menulis siapa!"

"Siapapun terserahlah! Cepat tulis! Waktunya hampir habis!"

Gopal terlihat gemas melihat Boboiboy yang masih ragu-ragu. Fang juga, meskipun dia tidak terlibat aktif dalam percakapan. Ingin rasanya ia meneriaki Boboiboy.

"Kalau kamu punya banyak sangat, kenapa kamu tidak memberikan salah satu orang tuamu padaku saja!"

Niat itu ia urungkan. Bagaimanapun kelihatannya, kalimat itu terdengar mencurigakan. Bahaya jika Boboiboy dan kawan-kawannya mulai meragukan misi pentingnya pasti akan langsung hancur.

Begitu pula pertemanannya dengan mereka.

Fang menggelengkan kepalanya keras, mendorong pikiran-pikiran bodoh di kepalanya dan berusaha fokus pada kertas di depannya. Samar-samar ia dapat mendengar Boboiboy bergumam.

"Ayahku yang terbaik. Ia mengajariku bermain sepakbola."

Tampaknya Boboiboy telah menentukan pilihannya. Fang cemberut, menyadari bahwa ia satu-satunya anak yang belum menuliskan karangannya.

"Mungkin aku akan mencoba menyalin kata-kata Boboiboy tadi sebagai permulaan."

Pensil Fang pun menari di atas kertas kosong.

'Ayahku yang terbaik. Ia mengajariku bermain sepakbo-'

Fang segera mencoret-coret kalimat yang baru saja ia tulis. Tidak. Semua anak di kelasnya sudah tahu bahwa ia tidak bisa bermain sepakbola. Mungkin ia bisa menulis kata lain yang sesuai dengan keahliannya. Misalnya.. bola.. basket. Ya. Anak-anak di kelasnya sudah sangat tahu bahwa ia pintar bermain basket.

'Ayahku yang terbaik. Ia mengajariku bermain bas-'

Lagi, Fang mencoret kalimat yang baru ia tulis. Tidak, orang yang mengajarinya bermain basket adalah Michael Jordan. Ketika Fang sedang mencoba untuk menjelajah internet, secara kebetulan ia melihat salah satu video aksi Michael Jordan di lapangan basket. Tak dapat dipungkiri Fang terpesona melihat keahliannya, dan sejak saat itu Fang termotivasi untuk mendalami olahraga tersebut. Michael Jordan adalah idolanya. Ia tidak bisa membiarkan penghargaannya kepada manusia Bumi itu ditimpakan pada sebuah karakter fiksi di karangan payahnya. Fang kembali berpikir keras. Apa lagi keahliannya?

Menjadi populer?

Pensil Fang kembali bergerak.

'Ayahku yang terbaik. Ia mengajariku menjadi popu-'

Fang kembali mencoret kalimat yang baru saja ia tulis. Tidak, sepertinya tidak ada manusia Bumi yang mengajari anaknya untuk menjadi populer. Habis, orang-orang Bumi di sekitarnya tampak memandang perilakunya untuk mencari kepopuleran sebagai tindakan yang, kalau bukan bodoh, kekanak-kanakan. Terutama kelima teman-temannya. Mungkin ia harus mencari keahliannya yang lain? Seperti... bermain musik.

'Ayahku yang terbaik. Ia mengajariku bermain mu-'

Tiba-tiba pensil Fang berhenti bergerak. Fang menatap kalimat setengah jadi yang beru saja ia tulis. Ia meletakkan pensilnya, tidak berminat untuk meneruskan atau mencoret kalimat tersebut. Kepalanya ia sandarkan ke atas meja, pandangannya kosong ke luar jendela. Melamun.

Aku benar-benar tidak suka berbohong dan aku benar-benar payah dalam mengarang.

00000000000000000000000000000

"Selanjutnya Boboiboy, silahkan maju dan bacakan karanganmu."

Suara kursi berderit terdengar dari depan Fang. Terkejut, kepalanya tersentak ke atas cepat. Sejak kapan ia tertidur? Dan mengapa Boboiboy maju ke depan? Apa waktu mengarang telah habis?

"Ayahku adalah seorang.."

Sial. Sekarang malah telah saatnya bagi siswa untuk membacakan karangan masing-masing. Fang menatap cemas pada selembar kertas di atas mejanya. Hanya ada coretan kasar dan sebuah kalimat yang tidak selesai dan sepertinya tidak akan pernah selesai. Dengan geram Fang mencoret kalimat tersebut. Ini percuma. Ia tidak akan bisa membuat karangan untuk dirinya sendiri bila ia hanya mencontoh kata-kata milik orang lain. Tapi masalahnya ia tidak memiliki kata-kata untuk menggambarkan orang tuanya. Otaknya berpikir cepat. Ia sampai pada suatu keputusan yang seharusnya ia pikirkan sedari tadi.

Dengan sembunyi-sembunyi Fang menekan tombol 'memanggil' pada jam kuasanya. Ya, ia bermaksud untuk mengontak Kapten dan menanyakan beberapa hal tentang orang tuanya. Ia ragu-ragu sebentar. Kapten pernah berkata bahwa Fang hanya boleh mengontaknya bila akan melapor atau dalam keadaan darurat. Tapi, hey! Ini adalah keadaan darurat! Bila ia dibiarkan tanpa sebuah karangan, identitasnya sebagai makhluk non-Bumi bisa terbongkar.

Jam kuasa Fang masih berusaha untuk meneruskan panggilan ketika sebuah suara menginterupsinya.

"Selanjutnya, Fang! Tolong maju ke depan dan bacakan karanganmu."

Fang terlompat kaget, kemudian meringis pelan. Ia menekan jam kuasanya, berniat untuk memutuskan panggilan. Sudah terlambat. Sekarang Fang harus berimprovisasi dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

Dengan langkah pelan ia maju ke depan kelas. Selembar kertas terhampar di depannya tanpa makna. Fang mengambil satu helaan napas panjang, kemudian berucap dengan suara tenang.

"Saya akan bercerita mengenai... ayahku."

000000000000000000000000

Kapten Kaizo bersandar di kursinya, malas. Matanya memindai bosan hasil laporan misi dari pasukan-pasukannya. Ia tidak ingin hanya duduk-duduk di pesawatnya. Ia ingin bertarung, menghancurkan musuh yang kuat, dan melatih otot-ototnya hingga mengeras dan berdarah. Ia menginginkan sebuah perkelahian untuk menenangkan darah panasnya. Namun apa boleh buat, jabatannya sebagai kapten dari sebuah skuad besar memaksanya untuk lebih banyak mengatur daripada berperan langsung.

"Kapten, ada panggilan dari Private Pang."

Suara Lefternan Lahap memecah semua konsentrasi yang sudah dengan susah payah ia kumpulkan. Kapten Kaizo mengangkat matanya dari berkas-berkas di depannya. Pang? Salah satu anggota pasukannya (dan juga adiknya) yang mengemban misi di Bumi? Ada masalah apa sehingga ia harus menghubungi markas pusat, padahal baru dua minggu yang lalu ia melaporkan hasil penyelidikannya di bumi? Kapten Kaizo meninggalkan kursinya (melarikan diri dari berkas-berkas membosankan miliknya) dan menuju layar monitor utama. Di sampingnya, Lefternan Lahap mengotak-atik keyboard di depannya bingung.

"Ada masalah apa? Kenapa tampilan layarnya menjadi seperti... ini?"

Wajar bila Kapten Kaizo bertanya hal tersebut, karena pemandangan yang ditampilkan di layar monitor utama memang sangat ganjil. Alih-alih wajah Pang yang serius, layar tersebut malah menampilkan pemandangan beberapa anak-anak seusia Pang yang sedang duduk di kursi. Dengan posisi terbalik.

"Saya... saya tak tahu Kapten. Nampaknya Private Pang hanya tidak sengaja memanggil kita. Pasti tombol di jam kuasanya terpencet secara kebetulan."

Ah. Rupanya hanya kesalahan kecil. Sebuah kecerobohan yang nampak tak biasa dilakukan oleh Private Pang, namun sangat wajar terjadi. Kapten Kaizo tidak memiliki waktu mengurus hal ini.

"Lahap, matikan panggi-"

"Saya akan bercerita mengenai... ayahku"

Kalimat tersebut bukan hanya memotong kalimat Kapten Kaizo, namun juga membuatnya menjegal tangan Lefternan Lahap yang telah bersedia untuk memutuskan panggilan.

"Tidak, Lahap.. pertahankan sambungkan ke jam kuasa Private Pang."

00000000000000000000000000

"Ayahku adalah orang yang kuat.."ucap Fang dengan lantang, menggenggam kertasnya erat-erat. Pikirannya sama sekali tidak terpaku pada kertas di depannya, melainkan sibuk membayangkan sesosok pria yang ia kenal.

Yang sangat ia kenal.

Yah, meskipun tidak terlalu ia mengerti.

"Kurasa, ayahku adalah orang yang paling kuat yang pernah aku kenal."

"Lebih kuat dari Boboiboy?"Gopal tiba-tiba menginterupsi. Boboiboy menepuk pundak temannya tidak nyaman.

"Hush, Gopal! Tak baik bicara hal seperti itu!"

Fang menimbang-nimbang. Benaknya memikirkan kebuasan sosok di pikirannnya saat bertarung di medan perang. Tanpa sadar ia meringis.

"Ka-ayahku lebih kuat. Jauh lebih kuat dari Boboiboy."

Seisi kelas menatapnya tak percaya. Tentu saja, mendengar bahwa seseorang lebih kuat dari sang superhero Pulau Rintis tentu mengejutkan anak-anak tersebut. Seorang siswa hendak mengajukan pertanyaan, namun Fang cepat-cepat menyambung ceritanya.

"Ayahku juga sangat pintar. Ia mengajariku segala hal yang perlu aku tahu. Dan juga... ayahku sangat tegas. Beliau tidak segan-segan menghukum seseorang bila seseorang tersebut berbuat salah. Termasuk aku."

Sejenak Fang mengalami kilas balik hari-hari ketika ia dihukum karena mengacau dalam misi atau perbuatan salah lainnya. Namun, ketika Fang memikirkan hal tersebut, tidak ada rasa kesal, benci atau dendam di hatinya. Sebaliknya, ia berkata lembut.

"Karena ayahku sangat kuat dan tegas, ada banyak orang yang takut padanya. Bahkan tak sedikit orang yang membencinya dan menganggapnya kejam dan tak berhati. Aku harus mengatakan bahwa mereka salah. Ka-ayahku tetap orang yang baik dan pengertian, meskipun dengan caranya sendiri."

Secuplik memori terpampang di benak Fang. Memori yang selalu ia pelihara dan ia jaga layaknya harta pusaka.

"Ketika aku sedang menjalani mi-maksudku...er... ketika aku berjalan di suatu tempat, tanpa sengaja kakiku menggores sepotong dahan beracun. Luka di kakiku sendiri tidak dalam dan tidak fatal, namun racun dalam dahan tersebut membuatku merasa sangat sakit, hingga aku tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Jadilah pada hari itu aku hanya bisa terbaring lemah dengan keadaan demam parah. Ka-ayahku memasuki kamarku dan memarahiku karena kecerobohanku. Kemudian ia meninggalkan kamarku dan selama sehari penuh aku tidak melihat sedikitpun batang hidungnya. Dia sedang sibuk mengurus pekerjaannya, begitulah pikirku. Sehingga, aku sama sekali tidak terganggu karena sendirian kala itu. Aku adalah anak yang kuat.."Fang membusungkan dada sedikit, membanggakan dirinya. "..hanya dalam semalam tubuhku telah merasa lebih baik. Aku hendak turun dari tempat tidurku ketika terdengar suara bentakan dari pintu."

Fang tersenyum. Ia mengingat bahwa ia hampir terlompat ketika Kapten tiba-tiba membanting pintu dengan napas terengah-engah. Di dalam otaknya bergema suatu kalimat yang pernah ia dengar bertahun-tahun yang lalu.

"Diam di tempat tidurmu!"

Fang tertawa kecil sebelum melanjutkan.

"Ka-ayahku menyeretku kembali untuk berbaring dengan muka garang. Ia menyodorkan sebuah botol dan menyuruhku menghabiskan isinya. Aku tidak terlalu mengerti, namun setelah meminum isi botol tersebut aku merasa sehat kembali. Belakangan kuketahui dari salah satu bawahan ka-ayahku bahwa ia telah berkeliling hingga pelosok galak-kota untuk mencarikan obat bagi penyakitku. Aku sangat berterimakasih padanya akan hal itu."

Fang menghirup napas panjang, bersiap mengucapkan kata-kata terakhir untuk karangannya.

"Begitulah cerita mengenai salah satu orang tua. Ia kuat, tegas, namun pintar dan baik hati. Aku..."seisi kelas menunggu kelanjutan kalimat Fang.

Mencintainya?

Menyayanginya?

"...menghormatinya."

Hormat.

Tidak ada kata yang kurang atau lebih baik.

Tepukan tangan terdengar dari siswa-siswa di depan Fang. Sang guru mengangkat buku nilainya.

"Karangan yang sangat bagus, Fang. Kamu boleh duduk kembali. Selanjutnya Gopal, silahkan maju dan bacakan karanganmu."

Fang menghela napas lega. Orang-orang di sekitarnya percaya pada ceritanya tanpa rasa curiga. Jadi karangan dadakannya cukup normal dalam ukuran manusia Bumi. Fang rasa kerahasiaan identitasnya aman untuk saat ini. Ia mengangkat tangannya, hendak menghapus manik-manik keringat yang telah menempel di keningnya akibat tegang.

Bip bip

He?

Sejak kapan jam kuasanya berkedip-kedip aneh begini

Connected to Main Computer

HEE?!

Wait wait wait, sejak kapan jam kuasanya terhubung dengan komputer pusat pesawat luar angkasanya?

"ALAMAK!"

Semua yang ada di kelas terkejut dengan teriakan tiba-tiba Fang. Gopal yang notabene berada paling dekat dengannya hingga terlompat salto ke belakang. Fang sendiri tampak seperti orang kebakaran jenggot.

"Ah.. aku... toilet... bye!"

Orang-orang di kelas 5 Jujur menyaksikan Fang berlari kesetanan menuju arah yang berlawanan dengan toilet.

"Ada apa dengan dia itu?"ujar satu-satunya orang dewasa dalam ruangan tersebut a.k.a guru dengan cemas.

"Entahlahlah Cikgu. Kebelet pup mungkin. Saking kebeletnya sampai lupa jalan."kata Gopal blak-blakan. Seandainya saja Fang mendengarnya, pasti Gopal sudah menjadi mangsa Harimau Bayang. Untung saja Fang sedang sibuk mencari tempat tersembunyi. Setelah yakin tempat persembunyiannya (di balik semak-semak samping gudang) relatif aman, Fang menekan tombol pada jam tangannya.

Sebuah hologram muncul. Wajah Kapten Kaizo terpampang dalam hologram tersebut, dengan ekspresi... entahlah. Fang tidak bisa membacanya.

Untuk sesaat hanya ada keheningan. Fang menunggu dengan cemas, bersiap untuk amarah dari sang kapten. Ia sendiri pun ingin memarahi dirinya sendiri, bisa-bisanya ia dengan ceroboh menghubungi kaptennya hanya untuk masalah sepele yang bahkan telah terpecahkan! Bukankah Kapten pernah mengatakan bahwa Fang hanya perlu menghubunginya saat ada keadaan darurat?

"Apa itu tadi?"

Kapten Kaizo berbicara dengan suara dingin. Wajahnya tetap tak terbaca. Dalam hati Fang meringis. Aduh. Kapten benar-benar telah marah padanya.

"Maafkan saya Kapten. Tadi ada tugas menceritakan orang tua di kelas saya. Saya menghubungi Kapten, berniat untuk meminta penjelasan Kapten, karena bila teman sekelas saya tahu bahwa saya tidak bisa menceritakan mengenai orangtua saya, mereka akan curiga dengan identitas saya. Ketika cikgu menyuruh saya maju ke depan, saya kira saya telah memutuskan sambungan. Maafkan kecerobohan saya, Kapten."

Wajah Kapten Kaizo masih sekeras batu. Kembali terdengan suara dari jam kuasa Fang.

"Dan cerita yang baru saja kamu ceritakan tadi?"

"Ah, itu adalah hasil spontanitas saya. Bagaimanapun saya harus menceritakan sesuatu untuk mereka, sehingga saya menciptakan sesosok figur orang tua dengan Kapten sebagai referensi saya..."Fang menundukkan kepala sedikit, lalu berkata dengan suara pelan.

"... maaf bila hal itu tidak berkenan di hati kapten.."

Hening kembali menghampiri. Hologram Kapten Kaizo masih menatap Fang dengan ekspresi datar. Setelah beberapa saat, Kapten Kaizo menghembuskan napasnya dan bertanya.

"Kau yakin kerahasiaan identitasmu masih aman?"

"Saya yakin Kapten. Tidak ada tanda-tanda kecurigaan dari teman-teman sekelas saya.

"Bagus."

Dan setelah itu sambungan terputus.

0000000000000000000000000000

Lefternan Lahap adalah bawahan yang baik.

Oleh karena itu, ia tidak berkomentar ketika kaptennya masih menatap monitor, meskipun panggilan dari Private Pang sudah berakhir. Ia tetap diam, hingga akhirnya Kapten Kaizo berpaling dari monitor dan kembali ke kursinya.

Lefternan Lahap adalah bawahan yang baik.

Oleh karena itu, ia sadar bahwa setelah selesai menerima panggilan dari Pang, kapten telah bertingkah aneh. Lebih tertutup namun juga lebih...gembira. Ia hanya tidak tahu mengapa.

"Lahap."

"Ya, Kapten."

"Kuingat kau selalu merekam panggilan Pang untuk dianalisis dan dimasukkan ke dalam catatan misi."

"Benar, Kapten."

"Kirimkan rekaman panggilan tadi ke dalam berkas pribadiku. Aku yang akan menganalisisnya sendiri."

Lefternan Lahap adalah bawahan yang baik.

Oleh karena itu, ia segera melaksanakan perintah kaptennya. Tanpa prasangka dan tanpa praduga.

END


Huwaa! My first bang Kaijo! OOC kah? OOC kah? *ditebas pedang tenaga

Ini adalah ff perpisahan dari Lulu, karena setelah ini Lulu berencana HIATUS lamaaaaaa banget.

Lulu mau fokus belajar buat ujian ama SBMPTN, because Lulu is college wannabe!

Amiinn...

Dan juga nih ada spoiler buat semua ff on-going Lulu! Cekidot!


Parenting Halilintar? OH NO!

"Tak nak! Aku maunya bubur pisang rasa melon!"

Boboiboy Gempa. 11 tahun. Positif terjangkit trauma terhadap bubur. Dan (pecahan) dirinya sendiri.

Be A Child for 3 Days

"Peng, kulaca kita telah pindah dari plenjone(friendzone) ke bloteljone(brotherzone)."

"Itu kemajuan apa kemundulan?"

"...aku gak tahu."

Alien

Catatan misi:

Hari Kedua di Bumi, Pukul 07.17

3 target ditemukan.