T
.
.
.
Jam berdenting tepat pukul satu pagi ketika Baekhyun membawa Robert pada kandang pink di dekat dapur. Tidak tau apa maksud warna perempuan yang disiapkan Chanyeol untuk tempat sementara Robert, tapi perlu semua ketahui jika Robert adalah kucing jantan tulen. Dari bentuk tubuhnya yang kekar dan sexy juga wajahnya yang garang, semua bisa menilai seberapa dalam tingkat manly yang dimiliki Robert. Tapi apa yang sekarang ada di depan matanya, Robert seperti tertekuk di kolong meja karena warna cerah yang mengusik kejantanannya sebagai kucing.
"Robert, aku tidak pernah mengajarimu bertindak sekasar itu." Ujar Baekhyun ketika Robert masuk ditempat peristirahatannya. "Kau tidak boleh menyakiti orang lain."
Baekhyun bertutur lembut dan Robert tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menunduk dan mengeong lembut; Robert menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya.
"Bagus. Kau kucing pintar dan sekutu terbaik. Aku menyayangimu, Robert. Sekarang tidurlah. Kucing jantan sexy sepertimu tidak boleh tidur terlalu malam."
Perseteruan Chanyeol dengan Robert mungkin akan berlangsung sedikit lama. Entah apa yang mendasari ketidaksukaan mereka, yang jelas harus ada penengah atau kaki Chanyeol akan tergores lagi. Untuk itu Baekhyun akan mengambil alih keadaan. Bagaimanapun juga Robert melukai Chanyeol dan lelaki itu berhak menetapkan rasa kesal. Tapi Robert hanyalah seekor kucing sekutu yang teramat Baekhyun sayangi, jadi Robert hanya mendapat persentase sebesar 40% akan kesalahannya. Lalu yang 60%? Tentu saja itu milik Chanyeol. Tidak boleh ada yang mengelak apalagi mengubah itu atau Baekhyun yang akan mencakarnya.
"Sakit, Baek..." si tinggi mengerang kesakitan ketika alkohol dalam kapas bertemu dengan luka di kakinya. "Pelan-pelan..."
"Astaga, manja sekali."
"Ini sakit sekali! Kau harus mencobanya."
"Tahan sedikit."
"AW!"
Tanpa sengaja Chanyeol menyentak tangan Baekhyun dan membuat gadis itu harus merelakan pantatnya bertemu dengan lantai.
"Ya!"
"Maaf, maaf. Aku tidak sengaja."
"Obati sendiri saja kakimu!"
"Aahhh... Baekhyun..."
Chanyeol yang merengek adalah apa yang membuat dahi Baekhyun mengerut beserta alis bertaut. Ini tidak bisa dipercaya. Ketika semua menganggap Chanyeol si kutub utara yang tidak akan leleh meski diletakkan pada suhu tertinggi, nyatanya hanya seonggok lelaki bermarga Park yang tingkat perilaku kekanakannya melebihi apa yang diperkirakan.
Meski begitu Baekhyun tidak bisa menyembunyikan senyum bodohnya. Ya, senyum bodoh karena rengekan Chanyeol terdengar seperti remahan biskuat yang manis. Tapi semua segera ia buang jauh-jauh mengingat belum sepenuhnya bisa dipercaya, semua itu benar-benar mengalir apa adanya atau Chanyeol hanya berpura-pura agar Baekhyun berpindah kepercayaan.
"Baekhyun..."
Baekhyun terseret lagi pada rengekan itu.
"Apa?!"
"Sakit..."
"Badanmu itu besar,menahan sakit seperti ini saja tidak bisa!" Hardik Baekhyun.
"Perih..."
"Oh astaga.. berhenti merengek Park Chanyeol!" Baekhyun mengambil kembali kotak obat itu dan memulai lagi sesi pengobatan di luka Chanyeol.
.
Hari Sabtu yang ceria.
Seperti tidak ada beban ketika matahari meninggi dengan segala kehangatan yang menyelimuti. Jika di pagi sebelumnya akan ada sedikit gerimis yang membasahi permukaan, maka pagi ini hanya ada terik hangat yang siap menemani setiap aktivitas di atas muka bumi.
Baekhyun mengerang kecil setelah ia merasa tidurnya cukup berkualitas. Suhu yang dirasa pagi ini begitu nyaman membuat Baekhyun beberapa kali dirundung kebingungan; bangun atau melanjutkan tidur. Tapi melihat bagaimana perasaannya jauh lebih baik dari sebelumnya, Baekhyun memutuskan untuk menyudahi tidurnya.
Dia berada disuatu ruangan luas dengan beberapa alat musik tertata rapi juga poster-poster pemain basket di dinding. Tidak perlu merasa terkejut karena Baekhyun sepenuhnya sadar dimana dia sedang berada. Mungkin bukan kamar dengan beberapa atribut perempuan seperti di kamarnya, tapi Baekhyun merasa cukup nyaman dan terbukti dengan tidur berkualitas yang dia dapat.
Jika diingat kembali tentang perdebatan kecil sepuluh menit sebelum pukul 3 pagi, Baekhyun sedikit tersipu.
Baekhyun mengambil satu bantal dan selimut dari kamar Chanyeol lalu pergi menuju sofa. Dia tamu yang baik dengan tidak memaksa tidur di kamar. Dan seharusnya Chanyeol tidak bertindak seperti yang ada di drama dengan memaksa Baekhyun tidur di kamarnya.
"Aku yang akan tidur di sofa." Kata lelaki itu sambil menarik bantal yang Baekhyun pegang.
"Aku saja!"
"Aku!"
Dan aksi tarik menarik yang sedikit konyol itupun terjadi. Baekhyun hanya tidak mau kalah dengan sifat pemaksa Chanyeol yang bahkan lebih menyebalkan dari potongan timun. Mereka seperti dua anak balita berebut mainan dan tidak akan pernah puas sebelum kemenangan tergenggam di tangan.
Lalu ketika Baekhyun merasa tangannya lelah melawan tarikan Chanyeol, dia melepas semua itu dan berakibat satu suara berisik drum.
Chanyeol tersengkur dengan kepala membentur bass-drum dan kaki yang mengoyak tiang tinggi penyangga Crash. Semua itu cukup membuat Baekhyun terkejut dan dua manik mata sipitnya melebar. Ia segera menghampiri Chanyeol yang mengerang kesakitan dan membantu lelaki itu berdiri.
"Chanyeol maaf. Maaf...maaf..." Baekhyun memohon dengan sangat, terlebih ketika Chanyeol mengusak kepalanya yang baru saja bertemu dengan kesakitan di set-drum.
"Kau ini..." Chanyeol mengerang tapi tidak bisa untuk marah. Amarahnya seperti terlipat dengan rapi jika hal itu berhubungan dengan Baekhyun. "Tidak usah membantah dan cepat tidur."
Chanyeol memungut kembali bantal dan selimut yang sempat menjadi perdebatan. Lelaki itu menghilang di balik pintu dan meninggalkan Baekhyun yang masih merasa bersalah.
Aroma wangi roti panggang Baekhyun jumpai ketika ia baru keluar dari kamar. Ia berjalan kedapur dan mengangguk sopan pada beberapa pelayan yang sedang berkutat dengan alat-alat dapur.
Pemandangan yang kontras dengan kehidupan Baekhyun. Di sini ia melihat pelayan yang sibuk sedang di rumah ia biasa melihat ibunya yang berkutat dengan peralatan dapur beserta alunan merdu sebuah nyanyian ditengah gemerisik suara ikan dalam minyak panas.
Baekhyun merindukan ibunya tiba-tiba. Tapi mereka sedang dalam keadaan tidak baik dimana terpisah dan merenung menjadi pilihan yang tepat. Maka dari itu, setelah ini Baekhyun akan memikirkan apa yang selanjutnya akan ia lakukan.
Kursi di taman belakang menggoda Baekhyun untuk ia tempati sebagai ruang berpikir. Dan dia bersiap membuka satu pintu yang membawanya ke taman belakang namun ia harus berbalik untuk suara yang berseru di belakang.
"Hei," seorang wanita berpostur tinggi dengan rambut coklat tidak lebih panjang dari daun telinga. "Kau siapa?"
Baekhyun tergagap. Terlebih wanita itu mengintimidasinya dengan tatapan penuh selidik. Baekhyun bisa saja bertanya kembali tentang siapa wanita itu. Namun ketika pelayan datang dan membawakan tas merk mahal si wanita berambut pendek dan dengan penuh kesopanan pada bungkukan hormat, Baekhyun tau ini petaka.
"A-aku..."
"Dan kenapa pakaianku bisa kau gunakan?"
"I-ini.."
Baekhyun sempat bertanya pada Chanyeol mengenai pakaian ini, tapi lelaki itu mengatakan tidak usah dipedulikan atau Baekhyun harus rela bertelanjang di rumah ini. Baekhyun jelas tidak mau! Dan dia lebih memilih menggunakan pakaian asing itu dari pada Chanyeol menikmati tubuh perawannya.
Kembali pada si wanita yang kini berjalan mendekat dan memojokkan Baekhyun di pintu.
"Kau siapa?"
"A-aku..."
"Kenapa ada di sini?"
"S-sebenarnya..."
"Jangan-jangan kau.."
"Dia tamuku. Berhenti mengusiknya, noona."
Noona?
Si kutub utara yang baru bangun tidur itu menengahi intimidasi yang baru saja Baekhyun terima. Dia membawa Baekhyun kebelakang tubuhnya dan menantang wanita itu.
"Oh ya? Sejak kapan kau memiliki tamu secantik ini?"
Lalu yang bisa Baekhyun beri sebagai reaksi adalah dirinya yang kaku untuk menerima jabatan tangan wanita itu.
"Yasmin Park."
"Park-Yoo-Ra. Itu namamu." Sanggah Chanyeol dengan mata yang berputar jengah. "Dia kakak sepupu-ku, Baek."
"Ah, ya. Jika berada di Korea, namaku Park Yoora."
Baekhyun menerima uluran tangan itu dengan segan. "B-byun..B-baekhyun.."
"Jadi kau Baekhyun-ee? Yang sering sibodoh ini ceritakan?" Yoora melirik genit pada satu-satunya lelaki diantara mereka. "Pantas dia selalu merengek, ternyata kau secantik ini. Welcome to the Park Family."
Baekhyun tidak begitu paham dan ia meminta penjelasan pada Chanyeol. Tapi lelaki itu hanya menggelengkan kepala seraya membuat suatu gerak bibir 'jangan dipedulikan. Dia sedikit gila.'
"Sebentar," Yoora memicingkan matanya pada keadaan dua remaja bangun tidur itu. "Semalam..kau...tidur disini?"
Baekhyun mengangguk kecil.
"Kau tidur di kamar Chanyeol?"
Baekhyun mengangguk lagi.
"Astaga! Astaga! Astaga! Aku tidak percaya!"
Lagi-lagi Chanyeol menatap jengah pada Yoora yang selalu berlebihan. Reaksinya bahkan lebih tidak terkontrol dari seorang nenek yang menemukan kembali jodohnya
"Chanyeol... kau bergerak cepat juga ternyata."
"Demi Neptunus! Hilangkan semua pikiran kotormu itu!" Chanyeol mendorong kecil dahi Yoora yang tengah menatap penuh selidik. "Baekhyun tidur di kamar dan aku tidur di sofa! Puas?"
"Ah...sayang sekali." Yoora berdecih kecewa.
Baekhyun semakin tidak mengerti.
"Lain kali jika nanti kalian akan melakukannya, kusarankan memakai pengaman. Usia kalian masih muda dan Baekhyun tidak seharusnya hamil ketika kalian masuk perguruan tinggi nanti."
SIAPA YANG HAMIL?
.
"Ah, Miko sungguh manis."
Setelah Robert, kini ada satu makhluk baru yang harus Chanyeol beri tatapan sengit.
Salahkan saja Yoora yang membuatnya harus menjemput Miko, kucing jantan berbulu cream dengan liontin pink berbentuk hati melingkar di lehernya.
Chanyeol tidak memiliki alasan untuk menolak ketika Baekhyun sangat antusias mengetahui Yoora yang juga menyukai kucing. Perempuan itu bahkan menarik-narik tangan Chanyeol untuk segera menjemput Miko ke tempat penitipan bersama satu rengekan yang sialnya membuat Chanyeol khilaf.
Si kucing jantan berliontin itu tidak jauh berbeda dengan Robert. Sangat manja dan menyebalkan. Hanya saja yang berbeda di sini, Miko tidak menjadikan Baekhyun sasaran manja, dia justru memilih mengusak kaki Chanyeol dengan tatapan genit.
"Jauhkan dia dari aku. Kumohon." Kata Chanyeol ketika Miko meronta dalam pelukan Baekhyun.
"Dia menyukaimu sepertinya."
"Aku tidak suka!"
"Peluk dia sedikit saja."
"Tidak mau!"
Chanyeol berlari terbirit-birit menuju kamarnya ketika Baekhyun menyodorkan Miko.
"Kau harus pelan-pelan Miko jika ingin dekat dengan Chanyeol."
Lalu Baekhyun menggendong Miko yang berwajah sedih karena penolakan Chanyeol. Dibawanya tubuh Miko menuju kandang pink yang ada di dekat dapur.
"Robert, kau akan punya teman baru."
Robert yang ketika itu tidak berminat dengan hidup harus terpaksa memberikan perhatiannya, jika tidak, Baekhyun akan dengan senang hati menggoda pantat sexy-nya.
Ngeong~
Ini bukanlah adegan drama dimana manik Robert menangkap sesuatu berbulu cream dalam gendongan Baekhyun. Cantik dan menggoda. Robert yakin dia bukanlah kucing yang mudah jatuh cinta. Tapi si bulu cream telah merubah semua itu hingga Robert harus tertegun dengan caranya sebagai kucing konyol.
"Sementara kalian tinggal bersama, ya?"
Baekhyun memasukkan Miko ke dalam kandang yang terdapat Robert. Kandang itu cukup luas untuk dihuni dua kucing sebesar Miko dan Robert.
"Jangan bertengkar." Usakan itu Baekhyun berikan secara bergantian pada Miko dan Robert.
Miko menemukan satu spot di pojok dan segera menelangkup dengan begitu anggunnya. Dia harus menjaga segala karisma di depan Robert yang terlihat konyol dengan mata berbinar.
"Mulai sekarang kalian berteman. Robert, jangan bertingkah konyol terhadap Miko." Baekhyun memberi telunjuk peringatan. "Dia juga jantan sepertimu. Jangan bertindak tidak manly. Oke?"
Ngeong...
Robert serasa tertimpa durian. Dia jantan?
.
"Tidak bisakah aku tinggal di rumahmu saja?" Baekhyun merengek ketika selesai makan malam Chanyeol bersikeras akan mengantarnya pulang. Ini diluar kata murahan karena Baekhyun tidak memiliki makna negatif dengan rengekannya itu, tapi dia lebih pada enggan untuk memulai sesuatu yang belum mereda.
"Tidak. Kau harus pulang." Tegas Chanyeol.
"Aku tidak mau..."
"Baekhyun," Chanyeol melepas kaitan sabuk pengaman Baekhyun dan menekan segalanya untuk sedikit paksaan. "Kau harus pulang dan menyelesaikannya. Sudah cukup waktu yang kau miliki untuk menghindar. Sudah saatnya kau kembali dan menghadapinya."
"Tapi..."
"Pulang."
"Bagaimana jika aku...jika aku...jika aku..."
"Baekhyun... apapun yang terjadi kau juga perlu mendengar alasan dari ibumu. Jangan jadi orang egois yang hanya mementingkan perasaanmu sendiri. Ibumu berhak memberi penjelasa."
Untuk sesaat Baekhyun hanya bisa pasrah. Chanyeol benar, ibunya berhak memberi penjelasan.
"Baiklah.."
"Bagus." Chanyeol mengusak kepala si mungil. "Berbicaralah ketika memang kalian saling butuh untuk memberi penjelasan."
Baekhyun mengangguk kecil. Dia sudah mengerti jika semua ini demi kebaikan hubungannya dengan sang ibu. Seberapa keras ia mengelak atau seberapa jauh dia akan pergi, masalah ini tidak seharusnya di diamkan.
"Tunggu, Baek."
"Apa?"
"Besok temani aku jalan-jalan, ya?"
.
.
.
Bagaimanapun juga Baekhyun akan terus berhadapan dengan permasalahannya. Mau bersembunyi di lubang semut terkecilpun dia akan dihantui masalah yang menjemukan hatinya.
Semalam ketika dia kembali masuk ke rumah, ibunya sedang duduk termenung di sofa dengan rasa khawatir di raut wajahnya. Baekhyun seperti teriris dengan semua itu. Ia merasa berdosa besar karena telah membuat ibunya sedemikian menderita.
Jika sebentar lagi Tuhan akan menghukumnya, Baekhyun sudah mempersiapkan diri. Dia pantas mendapat hukuman itu karena telah membuat ibunya menangis.
Lalu ketika Baekhyun ingin segera menjelaskan kerisauan hatinya, Ibu justru mencegah semua itu.
"Kita bicarakan besok saja. Kau harus iatirahat."
Dimana lagi Baekhyun bisa mencari sosok ibu seperti ibunya? Seharusnya dia bersyukur dan cukup bisa mengerti tanpa perlu bersikap egois seperti ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur dan Baekhyun hanya bisa meminta maaf. Setelah ini ia akan mengoreksi diri untuk merefleksi semua kebodohannya. Tapi Baekhyun terlalu sulit memulai semua itu hingga akhirnya ia memilih tidak bertegur sapa beberapa saat. Tidak lama, hanya untuk memulihkan sisa kecanggungan yang mengakar dalam diri masing-masing.
.
Untung saja hari ini hari minggu. Baekhyun tidak perlu repot-repot bercicit berangkat ke sekolah meski ia berada di rumahnya sendiri. Keputusannya untuk tidak bertegur sapa dengan ibunya sementara waktu adalah alasannya. Dia butuh satu ruang dimana emosi dalam dirinya tidak terpatri semakin parah mengingat Baekhyun memiliki kadar tempramen yang sedikit buruk.
Lalu ketika di bukaan pertama matanya untuk mengakhiri tidur siang, Baekhyun sempat tidak bisa mengontrol rasa terkejutnya ketika nama 'Chanyeol yang tampan' muncul di panggilan masuk ponselnya. Sejak kapan dia berani mengubah kontak ponselku?
"Ada apa?" Seperti biasa, nadanya tak perlu dibuat terlalu manis karena Baekhyun enggan terdengar menjijikkan.
"Aku sudah menghubungimu dua puluh kali!Kau dari mana saja?!"
"Aku baru bangun tidur siang."
"Ini sudah jam berapa? Sudah jam 4 sore, Baek?!"
"Ya, aku tau. Lalu apa masalahmu?"
Terkadang Chanyeol itu sedikit berlebihan mengatur sikapnya menurut Baekhyun.
"Cepat mandi."
"Nanti saja."
"Baekhyun... kau lupa?"
"Apanya?"
"Katanya mau menemaniku jalan-jalan."
"Aku sedang tidak ingin keluar. Kau pergi saja dengan Robert."
Baekhyun ingat kejadian malam itu. Malam dimana Robert memberi tiga luka gores di kaki Chanyeol ketika pernyataan cinta itu kembali terucap. Robert sedikit berlebihan sebenarnya menurut Baekhyun, tapi si sexy manis itu tidak bisa disalahkan mengingat ia sangat menjaga Baekhyun dari segala macam godaan. Kucing setia.
"Aku dalam perjalanan ke rumahmu. 30 menit lagi aku sampai."
"Satu jam!"
"Jangan gila!"
"Kau yang gila!"
Lalu panggilan itu diputus sepihak oleh Baekhyun sebelum Chanyeol mengomel lebih panjang.
Ada yang perlu dijelaskan disini. Pada dasarnya Baekhyun bukanlah gadis gampangan yang bisa membuka diri pada siapapun. Ia ingat, butuh waktu hampir 5 bulan untuk bisa dekat dan berteman akrab dengan Sehun, Jongin, dan Mino. Mungkin karena Baekhyun tidak terbiasa berinteraksi dengan lelaki, tapi disini mengapa Chanyeol menjadi pengecualian?
Terlepas dari seberapa lama Baekhyun mampu membuka diri, seharusnya Chanyeol juga memiliki waktu lebih lama agar bisa bersikap akrab dengan Baekhyun. Ini memusingkan tapi Baekhyun juga menikmati. Perasaan aneh yang membuatnya harus marah-marah ketika Chanyeol bersikap seenaknya tapi Baekhyun tidak pernah bisa menolak eksistensi lelaki itu, atau ketika Chanyeol datang dengan porsi manis yang membingungakan tapi Baekhyun justru terlihat garang demi memanipulasi kebenaran dirinya.
Jika Baekhyun tidak berminat dengan janji bertemu 30 menit lagi, Baekhyun tidak perlu repot-repot menyeret kakinya masuk kamar mandi dan kebingungan memilih jenis sabun apa yang akan ia gunakan; Strawberry atau kiwi, semua memiliki aroma memabukkan yang bisa memanjakan hidung. Untuk apa aku membingungkan hal konyol seperti ini? Lalu Baekhyun meraih botol berwarna merah dengan aroma mengasikkan.
Baekhyun juga tidak perlu membongkar seluruh isi lemari hanya untuk menentukan satu yang cocok ketika ia mematut diri di depan cermin; pink atau biru, semua punya tempat yang pas ditubuhnya dan tidaklah penting apakah itu one-piece atau sekedar kemeja.
Dan ketika Baekhyun mulai jengah dengan kebodohannya, ia memilih merebahkan diri di atas ranjang dan menelisik lagi mengapa dia terlihat antusias. Sebenarnya ajakan Chanyeol tidaklah merugikan. Lelaki itu berjanji akan menanggung semua biaya konsumsi dan akomodasi, jadi Baekhyun hanya perlu berdiam diri manis menuruti semua tujuan Chanyeol. Jadi apa yang harus dibingungkan dengan pakaiannya? Untuk itu Baekhyun mengambil dress pink selutut dan mempermanis diri dengan geraian rambut legamnya. Not bad.
.
"Baekhyun-aa,"
Mungkin ini bisa dikatakan berlebihan, tapi Baekhyun tak menampik dirinya yang terlalu terkejut dengan seorang lelaki yang duduk di sofa bersama anak perempuan. Kakinya sedikit bergetar mengingat lelaki itulah penyebab semua keterdiamannya dengan sang ibu. Untuk apa lagi dia datang? Apa belum cukup merusak semuanya?
"Duduk dulu." Cegah ibu ketika Baekhyun melewati ruang tamu begitu saja. Tatapan ibunya yang biasa penuh kejahilan berubah menjadi sorot serius yang tidak ingin dibantah. "Kita harus bicara."
"Apa harus dengan orang ini?"
"Baekhyun!"
"Ibu ak—"
"Paman ingin menjelaskan sesuatu padamu, Baekhyun." Paman Kim berbicara dengan tingkat kesabaran yang tinggi. Menghadapi remaja tidak seharusnya dengan emosi, terlebih Baekhyun sekarang sedang berapi-api dan dia sedang tidak ingin semakin menyalakkan apinya.
"Apa lagi? Paman sudah merusak segalanya."
"Ya, paman merusak segalanya."
"Paman sudah menghancurkan hubunganku dengan ibu."
"Ya, paman menghancurkannya."
"Lalu apa paman tidak malu sekarang muncul dihadapanku?"
"Byun Baekhyun!" suara ibunya meninggi ketika si putri manis merubah semua kemanisan yang dia miliki menjadi sebongkah ketidaksopanan yang memalukan. "Jaga mulutmu!"
"Bahkan ibu sekarang marah denganku!"
"Itu karena kau keterlaluan!"
Suasana menegang beberapa saat tapi Baekhyun merasa dirinya semakin berapi-api. Paman Kim benar-benar tidak tau situasi, tidaklah perlu menahan pundak Ibu jika bertujuan untuk menenangkan. Paman Kim tentu tidak terlalu lemah untuk menyadari jika kedekatan itu yang membuat Baekhyun mendadak muak hingga di ubun-ubun.
"Ibu seharusnya tau mengapa semua ini bertambah buruk!"
"Paman akan jelaskan semuanya, Baekhyun."
"Apa yang akan paman jelaskan?!"
Lelaki itu menarik nafas panjang dan menautkan jemarinya dengan Ibu Baekhyun. Oh sungguh, Baekhyun tidak tahan. Sudah cukup semua ini membuatnya berada di tepi jurang. Berkali-kali ia katakan jika tidak seharusnya ada lelaki yang menggenggam jemari ibunya kecuali sang ayah. Ayah kandung Baekhyun! Dan apa yang sedang Paman Kim lakukan? Ini bukan sejenis drama yang terkadang tidak masuk akal.
"Paman akan menikahi ibumu."
Oh Tuhan, bisakah Baekhyun sekarang mengambil pistol untuk ia letupkan tepat di kepalanya?
Seperti ada petir yang mempermainkan dirinya di atas langit gelap; terombang-ambing layaknya atap rumah yang tak tertancap sempurna lalu terlempar entah kemana. Baekhyun seperti tertampar dengan begitu menyakitkan ketika apa yang dikatakan Paman Kim adalah sesuatu yang Baekhyun benci. Ia tidak suka mendengarnya. Persetan dengan keegoisan yang akan dikatakan siapapun yang mengerti kisah ini, tapi Baekhyun juga memiliki pilihan. Dia menolak dengan sangat, semua sudah tau jawabannya. Tapi Paman Kim seperti nekat melewati gulungan api yang sengaja Baekhyun gelar.
"Apa?"
"Baekhyun, Paman akan menikahi ibumu." Paman Kim berkata dengan tegas dan melupakan setetes air mata yang keluar dari pelupuk Baekhyun. "Paman sudah mencintai ibumu sejak lama. Bahkan sebelum ibumu menikah dengan ayahmu."
Wanita yang duduk di sofa itu bahkan tidak memiliki kata dengan apa yang dikatakan tentang sebuah perasaan di masa lalu. Tapi tidakkah ini terlalalu membingungkan? Maksudnya, mereka telah bersepakat akan berteman saja, terlepas dari apa reaksi Baekhyun dan kenyataan yang menggerogoti, mereka telah sepakat untuk menggantung status pertemanan tentang semua ini.
"Suho, kau gila?!"
"Minyoung, aku harus mengatakannya atau aku juga akan terpuruk seumur hidupku."
"Tapi—"
"Melelahkan melawan semua ini sendiri. Meski aku menikah dan mencintai istriku, aku masih menyimpan perasaan padamu. Mungkin aku terdengar buruk, tapi aku tidak bisa menghindari semua ini." lelaki itu mengusak wajahnya lalu memeluk anak perempuan yang duduk di sampingnya.
"Hentikan! " Baekhyun sudah meluberkan semua kemarahannya. Ia membanting satu vas kecil yang ada di meja dan hasilnya sungguh menakjubkan. Selain anak perempuan itu yang mulai menangis, Ibunya mendadak menyalak dengan satu sorot yang mengerikan. Baru kali ini Baekhyun mendapat satu tatapan ibunya yang seperti itu. "Kalian terlalu bodoh dengan perasaan kalian dan aku, aku tidak akan terjun dalam kebodohan itu!"
"Byun Baekhyun!"
"Asal paman tau, Ibu tidak akan menikah dengan siapapun dan ibu tidak akan membagi cintanya dengan paman! Sebaiknya paman pergi dari sini!"
PLAK!
"Ibu..."
"B-baek..."
Seharusnya ini tidak perlu terjadi, tapi manusia memiliki batas kesabaran yang berbeda-beda. Seandainya Baekhyun bisa lebih menenangkan dirinya maka satu tamparan panas itu tidak perlu menyakiti pipi ataupun hatinya.
Ya, Baekhyun tersakiti. Bukan untuk bekas merah dari tangan ibunya, tapi hatinya yang baru saja meneriakkan ketidakpercayaan. Seumur hidup Baekhyun tidak akan melupakan bagaimana ia mendapat tindakan fisik pertama kali itu dari ibunya.
Baekhyun hanya butuh orang tau seberapa besar dia mencoba mempertahankan kisah Ayah dan Ibunya. Atau paling tidak ada yang mengerti apa saja yang telah dikorbankan Ayah-Ibu pada kisah masa lalu yang terlalu rumit. Ketidaksetujuan pihak keluarga yang berujung pelepasan semua atribut kekayaan keluarga Byun, seharusnya ada yang mengapresiasi semua itu karena apa yang diperjuangkan di masa lalu dan dipertahankan hingga saat ini bukanlah hal yang murah. Harga diri terlanjur diinjak dan kebencian keluarga telah mereka ubah menjadi kertas usang yang tak perlu dipedulikan, apakah semua itu hanya omong kosong belaka? Baekhyun tidak percaya semua ini.
Kemudian dengan kebencian dan kesedihan yang mengakar dengan begitu keras, Baekhyun harus rela kembali menyelami kesedihan hatinya. Seberapa buruk ini akan berakhir, Baekhyun masih enggan menyimpulkan. Ia hanya butuh satu tempat dimana ia bisa mengadu pada Tuhan dan meminta jalan keluar. Atau ia hanya perlu menemui lelaki yang baru saja turun dari mobil dengan sebuket mawar merah bersama senyum yang kontras dengan suasana hati Baekhyun.
"Baekhyun, ada apa denganmu?" Siapapun yang melihat keadaan Baekhyun sekarang pasti akan cemas. Air matanya mengucur deras dan tangan mungilnya mengepal namun penuh getaran.
"Chanyeol, jadi pacarku, ya?"
"..."
"Aku butuh tempat untuk memeluk semua kesedihanku."
"B-baek,"
"Kumohon, jadi pacarku, ya?"
.
.
.
TBC
.
.
Yang kemarin tanya Baekhyun pake bajunya siapa dan tidur dimana, sudah dapat jawabannya? Wkwk
Yang kemarin pengen bungkus Robert trus di bawa pulang, mana suaranya? Wkwk
.
Gak tau kenapa chap ini jadi gini. Semua ini ngalir aja dan gak bermaksud buat merusak suasana.
Untuk itu Ayoung minta maaf ya kalo kalian kecewa sama chap ini :)
Ayoung juga mau berterima kasih kalo ada yang ingetin segala typo yg Ayoung buat hehe...
.
BYE, sampai jumpa di chap selanjutnya :)
Jangan lupa tinggalin review yaa :)
