Title : Alien

Sub title : The Beginning (Part 1)

Disclaimer : Boboiboy and all characters belongs to Monsta. But, can I have Fang for a moment please?/no

Warning : Maybe OOC, awful EyD, story ngaco.


"Kereta menuju Pulau Rintis akan segera berangkat.."

Mendengar suara tersebut, Fang segera menepis seluruh rasa kesalnya kepada sang kapten dan bergerak menuju sumber suara. Seorang pria Bumi kira-kira setinggi kaptennya tampak berjalan melewatinya. Dengan ragu-ragu Fang bertanya.

"Permisi, apakah pulau yang ada di sana bernama Pulau Rintis?"

"Ya, apa adik akan ke sana? Sebaiknya cepat karena-"ucapan pria tersebut terhenti karena Fang sudah buru-buru melesat menuju stasiun. Pria Bumi itu menggeleng.

"Hah... Anak-anak jaman sekarang memang kurang ajar."

Fang tentu saja tidak mendengar hal tersebut. Ia sedang sibuk mengejar kereta api yang mulai melaju cepat. Orang biasa mungkin akan kesusahan untuk mengejar sebuah kereta yang telah melaju, namun beruntung bagi Fang yang telah mendapat didikan Akademi Militer Galaksi dan pelatihan keras dari sang kakak 'tercinta', ia berhasil berlari sangat cepat dan menyusul kereta tersebut.

"Kuasa Penembus!"

Mengaktifkan kekuatan kacamatanya, Fang melompat dan memasuki gerbong belakang kereta. Gerbong tersebut penuh barang dan tanpa penghuni. Fang berjalan menyusuri lorong demi lorong, gerbong demi gerbong. Akhirnya sampailah ia di suatu gerbong yang hanya berisi 2 manusia. Yang satu adalah kakek-kakek yang sedang tertidur, sedangkan yang lain adalah seorang ibu-ibu yang memandang ke luar jendela dengan... kesedihan? Fang tidak begitu tahu dan tidak mau tahu. Ia lalu dengan pelan dan waspada menduduki salah satu kursi di gerbong tersebut. Ketika ia duduk, ia baru menyadari betapa lelah badannya setelah ia berlari sekuat tenaga untuk menyusul kereta yang ia tumpaki. Tanpa Fang sadari, badannya telah bersandar ke kursi dalam posisi rileks. Fang kemudian menutup matanya dan tertidur.

000000000000000000

"Nak..."

"Ugh..."

"Nak.. Bangun, Nak..."

Masih dalam keadaan tidur, Fang merasakan sentuhan pada pundak , mata Fang terbuka. Dalam pandangan kabur, ia melihat seorang pria berseragam di dekatnya. Tampaknya, pria itulah yang telah menyentuh pundaknya tadi. Dengan suara setengah mengantuk, Fang bertanya.

"Ada yang bisa saya bantu?"

Pria tersebut berkata dengan tegas.

"Tolong perlihatkan tiketmu, Nak.."

"Tiket? Tiket apa?"

Pria tersebut memutar bola matanya.

"Tentu saja tiket kereta ini, kau punya kan?"

Fang yang telah bangun sepenuhnya, mulai memahami kondisi dirinya. Ia tidak mempunyai tiket, berarti ia seharunya tidak boleh berada dalam kereta. Fang dengan cepat mencoba mencari alasan, namun karena pengetahuannya tentang Bumi sangat sedikit, ia tidak dapat memikirkan sebuah alasan yang normal untuk manusia Bumi.

"A.. aku..."

Pria berseragam tersebut memijat keningnya kesal. Di zaman sekarang masih saja ada penumpang gelap. Mana masih kecil lagi.

"Orang tuamu di mana?"

Fang hanya diam.

"Baiklah, untuk sementara ikut kami dulu.. Petugas keamanan kami akan mengurusmu."

Badan Fang menegang.

Keamanan? Orang yang bertugas melindungi Bumi? Apakah mereka akan menginterogasinya? Bagaimana jika identitasnya ketahuan?

Apa yang akan manusia Bumi lakukan kepada penyusup dari planet lain?

Secara otomatis Fang bersiaga. Matanya menatap tajam ke arah sang pria berseragam. Tangan kanannya berada di dekat huruf F di kacamatanya, sedangkan tangan kirinya mengepal. Siap untuk menyerang ketika lawan bergerak.

"Nah, ayo.."

Tangan petugas kereta terulur ke arah Fang. Tangan kiri Fang terayun ke arah si petugas. Namun belum sempat terjadi baku hantam..

"Permisi, ini tiket anak saya.."

Ibu-ibu yang tadinya sibuk memandang ke luar jendela, menyodorkan sehelai kertas kecil. Petugas kereta langsung mengambilnya.

"Tiket untuk anak... Punyamu?"

Fang tidak terlalu mengerti, namun ia mengangguk. Petugas kereta tersebut kemudian menstempel tiket tadi dan memberikannya ke Fang.

"Ini.. Lain kali simpan sendiri tiketmu ya..."kata petugas kereta sambil mengucek rambut Fang. Badan Fang semakin menegang ketika adanya kontak fisik antara tangan si manusia Bumi dengan kepalanya, tetapi ia tidak bergerak sedikitpun. Petugas kereta tersebut kemudian melenggang pergi.

"Permisi, Makcik..."

Kini tinggallah Fang dan ibu-ibu yang menyelamatkannya tadi (Semua figuran yang tidak penting abaikan saja). Ibu-ibu itu tersenyum ke arah Fang. Fang tergelagap.

"Um.. anu.. terima kasih telah menyelamatkanku, madam.."kata Fang terbata-bata sambil membungkuk hormat. Tangan kanannya mengepal di depan dada. Ibu-ibu tersebut hanya memandangnya bingung dan geli.

"Madam?"

Fang tersentak. Bukankah 'madam' adalah sapaan untuk wanita di Bumi? Tetapi ada banyak sekali bahasa di bumi. Fang berusaha mengingat-ingat ucapan yang tepat. Tunggu, kalau tidak salah manusia berseragam tadi memanggil si ibu-ibu dengan sebutan 'Makcik'.

"Maksud saya, terima kasih telah membantuku,...Makcik."

"Tidak apa-apa, orang memang harus saling menolong kan? Makcik yakin, meskipun kamu tidak memiliki tiket, kamu bukan penumpang gelap dan kamu tidak memiliki niat jahat."

Fang meringis sedikit mendengar perkataan si Makcik. Apa mengambil jam kuasa orang lain secara paksa bukan termasuk niat jahat? Dengan geram Fang mengabaikan pikiran tersebut. Di tangan kaptennya, jam-jam itu akan lebih berguna. Ia tidak akan melakukan perbuatan jahat apapun.

Ia bukan orang jahat.

"Tapi, Makcik sampai harus berbohong segala untuk membantu saya..."

"Makcik tidak berbohong kok.. Tiket itu memang punyanya anak Makcik.."

Lho?

"Lalu, apa tiket ini tidak dibutuhkan oleh anak Makcik?"

Makcik tersebut hanya menggeleng sedih.

"Tidak, dia sudah berada di tempat yang lebih baik..."

Melihat raut wajah si Makcik yang berubah sendu, Fang segera tersadar. Rupanya, beliau baru saja kehilangan anaknya. Secara otomatis Fang melepas kacamatanya, membawanya ke depan dada, dan menundukkan kepala.

"Saya turut berduka cita, Makcik.."

Tingkah Fang yang tak biasa itu mengulas senyum di wajah Makcik yang semula sendu.

"Hmm.. kau anak yang aneh, tapi sopan. Andai saja Fakhri tahu kalau tiketnya telah kupakai untuk membantumu, dia pasti akan senang sekali."

Fang bukan orang yang bisa menghibur orang lain. Tentu saja karena Kapten Kaizo dan Letnan Lahap bukanlah orang yang ingin dihibur siapapun, bisa-bisa dicincang duluan dengan pedang tenaga dan tembakan plasma. Tapi, Fang tetap mencoba. Yah, hitung-hitung pengalaman.

"Saya pernah mendengar... bahwa orang yang telah meninggal masih bisa melihat orang yang paling ia sayangi. Jadi, saya yakin anak Makcik sekarang pasti sedang mengawasi Makcik, untuk memastikan Makcik baik-baik saja sepeninggalannya."

Makcik hanya terdiam. Fang mulai mengira bahwa ia melakukan hal yang salah, lagi. Namun kemudian si Makcik hanya mengelus kepalanya pelan.

"Hmm... Mungkin kau benar... Terima kasih telah menghiburku.."

Fang heran, kenapa semua manusia bumi suka mengacak-acak rambutnya? Tadi si petugas, sekarang si Makcik. Apa mereka sedang menyindir rambutnya yang default berantakan?

Meskipun harus ia akui, sentuhan wanita tersebut memberikan rasa hangat dan damai di hati Fang. Apa sentuhan seorang ibu selalu terasa sebaik ini?

Ternyata ada banyak hal yang belum Fang pahami tentang planet Bumi.

Suara yang datang melalui speaker kereta membuyarkan lamunan Fang. Si Makcik bangkit berdiri.

"Saatnya aku pergi."

"Apa kita telah sampai di Pulau Rintis?"

"Belum, kereta ini memang memiliki jurusan ke Pulau Rintis, namun sebelum sampai di sana, kereta ini melewati beberapa stasiun. Salah satunya adalah stasiun ini."

Fang menatap ke luar jendela kereta. Tertangkap dalam pandangannya sebuah bangunan panjang penuh manusia. Ia juga baru sadar bahwa di gerbong yang ia tempati yang tadinya hanya diisi 3 orang termasuk dirinya sekarang telah terisi banyak orang.

"Kapan kereta ini sampai di Pulau Rintis?"

"Nanti bila kereta ini sudah sampai di stasiun Pulau Rintis akan ada pengumuman lewat speaker. Tunggu saja."ujar Makcik sambil berjalan menuju pentu keluar kereta. Fang buru-buru bangkit berdiri dan berkata dengan hormat.

"Terima kasih Makcik.. Semoga perjalanan Makcik menyenangkan.."

Makcik tersebut hanya tersenyum dan melambaikan tangannya sebelum menghilang ke luar kereta.

Setelah kepergian si Makcik, Fang merasa malas untuk berinteraksi dengan manusia Bumi yang lain. Pandangannya ia arahkan ke luar jendela, ke langit biru.

Dengan secercah harapan kecil bahwa sebuah kapal asing akan muncul. Lalu kapten akan datang dan menjemputnya pulang.

Atau paling tidak menemaninya di planet asing ini.

Fang mencoba mengeluarkan pikiran tersebut dari benaknya. Mencoba untuk profesional. Ia bukalahn anak kecil yang lemah. Ia adalah seorang Private dari Pasukan Pemberontak Legenda yang terkenal akan kekuatan dan kejayaanya. Ia telah diberikan sebuah misi penting dari Kapten, dan sebagai seorang tentara dan pejuang, ia akan menjalankan misi tersebut dengan penuh keberanian dan tanggung jawab.

Ya, ia bukan bocah. Ia adalah prajurit yang perkasa. Dan ia tidak akan terganggu oleh perasaan konyol seperti takut atau kesepian.

Ia bisa melalui semua ini.

Tetapi masih, ia tidak dapat mengalihkan pandangannya dari bentangan langit biru.

000000000000000

"Kereta telah tiba di Stasiun Pulau Rintis."

Fang mengalihkan pandangannya dari luar jendela. Tampak di sekelilingnya beberapa orang bangkit berdiri dan berjalan ke luar kereta. Ia bangkit, meremas kencang pegangan tas kecil di punggungnya. Ia berjalan keluar sambil membungkukkan kepalanya, sebisa mungkin menyembunyikan dirinya dari pandangan manusia lain yang tampaknya semakin lama semakin banyak.

"Bye Boboiboy! Jumpa lagi!"

Fang refleks menoleh. Terlihat olehnya anak gempal di dekatnya berteriak keras dan melambai-lambai semangat ke arah kereta yang tadi ia naiki, begitu pula 2 anak perempuan dan seorang kakek*. Ia melihat seorang anak laki-laki kira-kira seusianya membalas lambaian mereka. Senyum senang tercetak di wajah anak tersebut.

Fang mendengus.

"Dasar anak manja,memangnya harus sebanyak itu orang yang mengantarnya pergi? Mana mereka berisik lagi.."

Sebelum kalian semua pada salah paham..

Fang TIDAK iri.

Kenapa pula ia harus iri ama anak itu? Ia tak peduli kalau anak itu mendapat ucapan selamat tinggal dari semua orang di galaksi sekalipun. Fang juga mendapat ucapan selamat tinggal dari kaptennya. Meskipun, dari semua kata-kata kapten selama waktunya di Bumi, yang paling bisa dikategorikan sebagai ucapan selamat tinggal hanya ucapan 'selamat berjaya'. Lagipula sejak kapan ia peduli terhadap sesuatu yang sentimentil seperti ucapan selamat tinggal?

Fang mendecih kesal dan berjalan meninggalkan stasiun.

0000000000000000000000000000

Fang berjalan menyusuri wilayah di sekelilingnya. Satu hal yang ia syukuri setelah ia tiba di Bumi ini adalah bahwa ukuran Pulau Rintis terbilang kecil. Ini akan lebih mempermudah misinya. Manusia yang memiliki kekuatan super pasti akan mencolok di wilayah sekecil ini, sehingga akan memudahkan Fang untuk menemukan dan menangkap mereka. Bagaimanapun, Fang tidak bisa bertanya kepada manusia Bumi, bisa beresiko membuka identitas dan kerahasiaan misinya nanti. Jadi, apa boleh buat, ia harus mengandalkan kemampuan pengamatannya. Namun sebelum ia berfokus pada misinya, ia harus mengatasi suatu masalah yang sangat penting.

Tempat tinggal.

Dan tentu saja, tempat tinggal yang Fang butuhkan bukanlah sebuah rumah atau kamar sederhana. Mungkin lebih tepat bila dikatakan bahwa apa yang ia butuhkan adalah sebuah markas. Sebuah tempat pribadi dimana ia bisa mengirim pesan kepada Kapten Kaizo secara rahasia, tempat di mana ia bisa bebas berlatih untuk menghadapi para pemilik jam kuasa. Tetapi tampaknya tidak ada tempat luas rahasia di Pulau Rintis ini.

Fang menghela napas pelan sambil tetap menyusuri jalan di Pulau Rintis. Kakinya mulai berdenyut lelah, tetapi ia belum bisa menemukan tempat yang tepat untuk mengistirahatkan tubuhnya. Dalam keadaan melamun, tanpa sadar kedua kaki Fang membawanya ke sebuah gang sepi. Belum sempat ia memasuki gang tersebut, tangannya telah terlebih dahulu dicekal oleh seseorang. Terdorong insting alami, ia menyentakkan tangan yang membelenggu lengannya dan memasang posisi bertempur.

Ternyata orang yang mencekal lengannya adalah bapak-bapak kurus berkulit hitam. Dia tampak terkejut melihat sikap penuh waspada Fang. Seketika Fang sadar bahwa ia tidak dalam bahaya. Fang merilekskan bahunya dan bertanya santai.

"Ada yang bisa saya bantu?"

Bapak-bapak tersebut hanya menatapnya dengan mata lebar, kemudian berkata dengan suara gemetar.

"Ayoyo, budak, kamu jangan masuk gang itu!"

Fang menatap gang gelap di belakangnya dengan pandangan bingung.

"Memangnya ada apa, Pak?"

Tiba-tiba saja bapak-bapak tersebut sudah berada di samping Fang. Mulutnya hanya berjarak beberapa senti dari telinga Fang.

"Di dalam gang itu... ada rumah berhantuu~..."

Fang mengangkat alisnya.

"Berhantu?"

"Iya, berhantu, rumah itu dahulunya..."

Beberapa menit kemudian setelah si bapak-bapak menceritakan kisah yang entah mengapa tak pernah diperdengarkan di kartun aslinya.

"...jadi begitulah, sebaiknya kamu menghindari jalan itu, nanti kamu dihantui.."

Fang mengerutkan kening.

"Berarti orang jarang lewat gang itu ya, Pak?"

"Iyalah, mereka tidak mau kena kutuk hantu itu..."

Fang menyunggingkan senyum kecil.

"Terima kasih, Pak.. Saya orang baru di sini jadi tidak begitu tahu.."

"Sama-sama, yang penting kau sudah tahu.. Saya pergi dulu ya.. Hati-hati, jangan sampai dekat-dekat rumah itu..."

Setelah bapak-bapak itu pergi, Fang segera memasuki gang tersebut. Sampailah ia di sebuah rumah berpagar tinggi yang tampak hampir rubuh. Keadaan rumah itu tampak menyedihkan, tapi jika rumah ini memang dihindari oleh manusia lain...

Fang menyeringai puas. Ia tak peduli tentang gosip hantu yang menaungi rumah tersebut, toh ia tidak pernah dididik untuk takut pada hantu. Hantu itu kan hanya arwah orang mati, justru orang hiduplah yang lebih berbahaya. Setidaknya lebih sakit dipukul orang hidup daripada dipukul orang mati, kan?

Setelah ia memastikan tidak ada yang melihatnya, Fang memasuki rumah tersebut. Fang mengerutkan hidung jijik. Rumah tersebut tampak lebih kotor dari kelihatannya. Fang yang terbiasa dengan ajaran militer kakaknya tentu saja merasa tidak nyaman akan hal tersebut. Terpikir olehnya untuk membersihkan rumah tersebut, namun niat tersebut diurungkannya. Orang lain pasti akan curiga jika rumah terbuang seperti ini tiba-tiba menjadi bersih. Nanti keberadaannya di tempat ini bisa ketahuan.

Fang langsung sibuk bekerja. Dengan peralatan minim dari tas kecilnya, ia membangun sebuah panel hologram, alat keamanan, dan berbagai macam alat lainnya. Tak jarang ia pergi ke tempat pembuangan alat elektronik untuk mendapatkan perangkat yang ia butuhkan. Akhirnya, ketika langit telah berubah gelap, Fang berhasil menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Setelah selesai memindai koordinat sambungan ke kapal angkasa Kapten Kaizo, Fang menyandarkan tubuh kecilnya di salah satu sudut rumah. Sudut tersebut telah ia bersihkan, dan akan menjadi tempat tidurnya untuk sementara waktu. Tangannya merogoh tas, dan menarik keluar botol kaca berisi kapsul makanan. Mengambil satu butir, dan menelannya cepat. Ia tahu bahwa sebotol kecil kapsul makanan tersebut takkan cukup untuk memasok kebutuhan pangannya selama ia di Bumi. Fang harus segera menemukan berbagai makanan Bumi yang aman untuk tubuhnya.

Namun sebelum itu, Fang ingin tidur dahulu sebentar...

0000000000000000000000000

"KUKURUYUKK!"

Fang terlonjak bangun. Sambil mengucek-ucek matanya Fang mengutuk Letnan Lahap yang tampaknya memasang alarm baru, mana aneh lagi. Mamangnya apa arti kata kukuruyuk? Fang telah mempelajari banyak bahasa, namun ia tidak pernah menjumpai kata kukuruyuk di planet manapun. Saat mata Fang sepenuhnya terbuka, bukan ukiran interior kapal angkasa yang ia lihat, namun dinding berdebu.

Oh iya.

Fang sekarang di Bumi.

Fang seketika berdiri dan merenggangkan badannya. Suara pengganggu tidur lelapnya masih juga berkumandang. Dengan jengkel, Fang keluar dari rumah tua dan mencari sumber suara. Ternyata sumber suara tersebut adalah sebuah makhluk merah berkaki dua dari atap rumah yang ia tempati. Fang naik ke atap hendak mengusik makhluk durjana tersebut. Namun ketika ia mengangkat kepalanya.

Fang terperangah. Bukannya Fang tidak pernah melihat keindahan alam seumur hidupnya. Ia sering melihat berbagai ledakan supernova, tumbukan antar meteor, dan berbagai peristiwa antariksa luar biasa sebagai kembang api hiburannya. Namun pemandangan ini...

Ia telah mengetahui bahwa ia sedang berada di Bumi, salah satu planet di Tata Surya, dengan bintang merah bernama matahari sebagai pusatnya. Tapi ia tidak tahu bahwa pemandangan matahari muncul dari balik gunung dapat seindah ini. Dan bukan hanya kilauan jingga yang membuatnya terpukau. Perasaan hangat saat panas matahari menyentuh kulitnya, kontras dengan suasana dingin namun menyegarkan di pagi hari. Suasana damai dan tenang yang mengikuti, membuat Fang nyaman, dan merasa seperti... seperti...

Seperti di rumah.

Fang menggelengkan kepala. Tidak, planet asing ini bukan rumah. Ia pasti berhalusinasi, mengingat sudah bertahun-tahun yang lalu sejak ia terakhir kali menginjakkan kaki di planet kelahirannya. Fang tidak dapat menyangkal fakta bahwa ia merindukan sebuah tempat tinggal yang sebenarnya, bukan hanya sebuah pesawat mengapung di angkasa, tanpa lokasi yang permanen. Cih, entah mengapa Fang merasa semakin lama ia berada di Bumi semakin ia bertambah lembek dan sentimental.

Fang meluncur dari atap, mendarat dengan sempurna di tanah. Fang memutuskan untuk pergi luar untuk mengumpulkan informasi. Ia melangkah ke luar gerbang, berhati-hati agar tidak ada orang lain yang melihatnya. Fang berjalan menyusuri gang gelap, hingga ia sampai di ujung jalan tempat ia bertemu dengan bapak-bapak itu dahulu. Tampak beberapa orang telah berlalu lalang di jalan tersebut, meskipun tidak terlalu ramai mengingat waktu masih pukul empat pagi. Dengan cermat Fang mengamati berbagai aktivitas di sekelilingnya.

"Sayur murah~ sayur murah~"

"Bang, ini harganya berapa?"

"Murah, cuma 1 ringgit.."

"Akhirnya kamu ikutan jogging juga.."

"Tentulah, biar sehat.."

"Alif, Aris, jangan main-main di luar sepagi ini! Ayo mandi!"

"Iya, Bu!"

Tidak ada yang mencurigakan. Semuanya tampak seperti rutinitas pagi yang normal. Ibu memarahi anak-anaknya, 2 pemuda berolahraga, tukang sayur menjual bayam pada seorang wanita..

"Astaga! Aku lupa!"

Fang langsung ngibrit kembali ke gang gelap, lupa sama sekali akan resiko keberadaan markasnya terbongkar. Memang, sekarang ini sebagian dari manusia Bumi memandangi Fang dengan bingung, pasalnya tadi Fang tanpa sengaja mengumpat dengan menggunakan bahasa asli planetnya. Fang yang tentu saja tidak menyadari hal tersebut berlari cepat menuju rumah tua. Dengan tergesa-gesa ia membuka pintu gerbang, memasuki rumah, dan langsung naik menuju ruangan di tingkat dua. Fang mengaduk-aduk isi tasnya, hingga menemukan sebuah alat kecil berbentuk kubus. Alat tersebut memiliki lubang yang cocok untuk dimasuki kartu, dan rongga untuk mengeluarkan uang layaknya di mesin ATM. Fang merogoh saku jaketnya, lega bahwa ia masih memiliki kartu berwarna jingga yang diberikan Kapten Kaizo sebelum ia memulai misinya.

"Kartu ini sangat berharga. Di dalamnya terdapat uang yang jumlahnya memadai untuk keberlangsungan misimu. Masukkan saja kartu tersebut ke lubang kartu di samping kiri, dan uangmu akan keluar melalui rongga kecil di sini."ujar Kapten Kaizo saat ia memberikan alat kubus tersebut.

Setelah Fang berhasil mengingat-ingat instruksi Kapten Kaizo, Fang segera memasukkan kartu jingga tersebut ke lubang kartu. Sebuah hologram muncul.

"Selamat pagi nasabah Bank Galaxy, pencet tombol biru untuk melihat saldo anda."

Fang memencet tombol biru.

"Pilih jenis mata uang yang anda butuhkan."

Hologram tersebut berkata sambil menampilkan list nama-nama planet. Fang memencet pilihan Bumi. Kembali hologram tersebut menampilkan daftar berisi kata-kata asing seperti euro, dollar, rupiah, ringgit, dan lain-lain.

"Ternyata Bumi memang planet yang berbeda dibanding dengan yang lain. Ketika planet lain hanya memiliki satu pemerintahan dan satu hukum, Bumi berdiri dengan keberagamannya."

Fang memencet pilihan ringgit. Kemudian menunggu selama beberapa detik.

"Saldo yang anda miliki sebesar 10 milyar ringgit."

Ternyata Kapten Kaizo memberinya cukup banyak uang untuk misinya. Fang masih belum bisa memastikan berapa lama ia akan menetap di Bumi, namun menilai fakta yang baru ia dapatkan tadi pagi bahwa 2 ikat sayur bayam hanya berharga 1 ringgit, Fang optimis jumlah uang yang ia miliki lebih dari cukup.

"Tekan tombol merah untuk menarik uang Anda."

Dengan sedikit was-was dan bingung karena alat kecil tersebut entah mengapa tahu dan selalu menawarkan layanan tepat seperti yang ia butuhkan, Fang memencet tombol merah.

"Tentukan jumlah uang yang ingin Anda tarik..."

"Kurasa 100 juta sudah cukup untuk saat ini.."gumam Fang sambil mengetikkan angka 100 juta. Terdengar lagi suara dari alat kuning tersebut.

"Transfer uang akan dimulai sekarang.."

Dilanjut dengan keluarnya lembaran-lembaran uang dari alat kecil tersebut.

Fang sweatdrop.

Fang tau kalo meskipun dengan segala kecanggihannya, alat tersebut tetap berukuran mini. Namun Fang sama sekali tidak menyangka kalau uang yang ia tarik akan keluar satu demi satu, secara pelan. Persis seperti mesin print. Mana yang keluar hanya 1 lembar 100 ringgit tiap 10 detik.

100 juta ringgit. Itu berarti dia mesin ini harus mengeluarkan satu juta lembar. Itu berarti ia harus menunggu selama sepuluh juta detik hingga semua uangnya berhasil terkirim semua. Dan itu juga berarti..

"Mesin sialan ini akan mengeluarkan uangku setelah lewat 2780 jam!111 hari! Hampir 4 bulan!"

Soal matematika, Fang memang jagonya.. *authorsalpok

Ehem, kembali ke topik..

Fang dilema. Sebagai salah satu pengembara angkasa termuda, Fang tahu pasti betapa bernilainya uang itu, dan meninggalkan uang 100 juta di mansion terbengkalai dengan kemungkinan tercopet setiap saat tentulah hal paling bodoh yang bisa orang lakukan. Tapi, jika ia menunggui si mesin terkutuk selama 4 bulan dan tidak keluar-keluar, bisa-bisa ia jadi fosil di sini. Ah, biarlah. Toh, ia tak punya kegiatan apapun, ia tidak memiliki alasan untuk keluar dari markasnya.

Fang sayang, kamu dah lupa kalo kamu punya misi di Bumi?

Sepertinya memang Fang lupa, atau ia lebih khawatir tentang uang daripada misinya. Jadi, dengan sabar Fang duduk dan menunggui mesin tersebut memuntahkan uangnya.

1 jam kemudian, Fang mulai menguap bosan.

2 jam kemudian, badan Fang mulai kram.

3 jam kemudian..

"ARRGGHH! AKU TAK TAHAN LAGI!"seru Fang sambil bangkit berdiri.

"Huh.. daripada aku membatu di sini, mending aku mengumpulkan informasi.. Toh tidak ada manusia yang berani memasuki markasku.."gerutu Fang kesal sambil berjalan keluar, meninggalkan rumah tua dan mesin kecilnya yang masih setia mengeluarkan lembaran ringgit.

Mood swing anak pra-pubertas memang luar biasa.

TBC


Readers semua, Lulu gak bohong, loh... Lulu emang lagi berencana gak nulis n memutuskan hiatus hingga ujian selesai..

Tapi, pas Lulu lagi bongkar-bongkar buat nyari berkas tugas, secara gak sengaja data cerita ini kebuka..

Dan semangat Lulu buat belajar ngilang entah kemana, digantikan semangat buat nulis n ngepost... T_T

Cerita The Beginning ini emang dah kebuat sekitar ¾ nya, tapi melihat wordnya yang udah melampaui 6K, jadi Lulu bagi jadi 2, n kebetulan yang ada di preview di chapter sebelah adalah scene di bagian kedua..

Jadi kalo ada yang mau lihat perjumpaan pertama Fang dengan Gopal, Yaya, dan Ying, tandanya harus menunggu paling sedikit 63 hari lagi...

Maafkan ketidakbecusan Lulu sebagai author, dan...

MOHON REVIEWNYA!