Sudah 2 jam Chanyeol menjalankan mobilnya tanpa tujuan yang jelas. Sebenarnya dia memiliki tujuan sebelum Baekhyun berdiri di hadapannya lalu menangis tersedu. Tapi mendadak semua rencananya menjadi tidak penting ketika Chanyeol memilih mengusap punggung Baekhyun dan berkata, "Masuk mobil. Selesaikan tangismu di dalam."
Baekhyun tidak menangis sekencang itu. Dia lebih memilih untuk menunduk dan diam-diam menikmati isaknya yang terasa menyakitkan.
Sedang Chanyeol yang ada dibalik kemudi hanya merespon dengan mulutnya yang terkunci. Dia hanya berusaha memberi Baekhyun waktu agar setelah itu bisa bercerita dengan perasaan lebih ringan. Atau jika Baekhyun menolak bercerita, setidaknya gadis itu tidak terhimpit rasa sesak karena tangisnya.
"Masih ingin menangis?"
Chanyeol menepikan mobilnya. Lelaki itu menyodorkan tissue dan Baekhyun segera menyeka sisa air matanya.
"Sudah. Aku tidak ingin mataku kekeringan kalau terus menangis."
"Tapi sebenarnya menangis tidak seburuk itu."
"Kau pernah menangis?"
"Lelaki tidak boleh menangis, Baekhyun."
"Kata siapa?"
"AAWW!" Chanyeol mengusap lengannya yang terasa panas dan nyeri akibat capitan jari Baekhyun. Dia membuka sedikit lengan bajunya dan menemukan bekas keunguan yang jika dipegang rasa sakitnya terasa berkali-kali lipat menyiksa. "Kenapa mencubitku?!"
"Untuk membuatmu menangis."
Jika bukan Baekhyun, Chanyeol dengan senang hati mengumpat dengan nada tertinggi.
"Paman Kim datang ke rumah dan ingin menikahi ibu." Baekhyun mulai bercerita ketika sebelumnya dia terlalu ragu untuk membaginya dengan Chanyeol. Tapi mengingat selama ini Chanyeol menjadi satu-satunya yang paham akan kondisi hubungan Baekhyun dengan ibunya, Baekhyun rasa tidak seburuk itu terbuka. Toh Chanyeol sudah terlanjur basah tau hingga ke akar-akarnya. Jadi, untuk apa disembunyikan?
Mengetahui Baekhyun yang tiba-tiba berada pada mode serius, Chanyeol melepasan usapan pada lengannya. Ia memutar sedikit posisi duduknya untuk lebih fokus pada si mungil yang kembali menunduk. Tapi kali ini Baekhyun tidak menangis. Dia justru tersenyum, tapi Chanyeol cukup tau jika senyum itu terasa menyakitkan.
"Kau tau, Chanyeol, aku seperti di tampar beribu-ribu saat Paman Kim berkata masih mencintai ibu dan ingin menikahi ibu. Bahkan Paman Kim tetap memendam rasa pada Ibu meski ibu menikah dengan ayah. Tidakkah itu konyol? Cinta memang konyol."
"Bukan cinta yang konyol. Hanya cara menerimanya saja yang terdengar tidak masuk akal."
"Apa Paman Kim tidak memikirkan mendiang istrinya? Istrinya bisa saja sakit hati jika tau Paman Kim masih mencintai ibu." Satu helaan nafas menjadi jeda Baekhyun. Dia terlalu menggebu tapi terlalu sakit jika mengingat bagaimana Paman Kim mengutarakan keinginannya. "Aku tidak tau apa yang ada di kepala Paman Kim saat ini. Menurutku dia terlalu egois dan tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku."
Chanyeol tidak memiliki pengalaman tentang rumitnya cinta orang dewasa. Selama ini Chanyeol cukup bersyukur masih dikasihi oleh kakeknya. Orangtua Chanyeol sudah memiliki kehidupan mereka sendiri dan Chanyeol bukanlah orang yang suka mengusik kebahagiaan orang. Dia sadar diri dengan posisinya yang tidak di harapkan. Maka dari itu, dia tidak punya banyak stok nasehat ketika Baekhyun bercerita tentang peliknya urusan cinta Paman Kim dengan ibu Baekhyun.
"Sudahlah. Orang dewasa memang rumit." Baekhyun menutup cerita dengan setitik air mata yang lolos begitu saja. "Chanyeol,"
"Ya?"
"Aku ingin makan ice cream."
.
Kencan yang gagal.
Semalam Chanyeol sudah menyusun begitu banyak skenario untuk kelancaran kencan hari ini. Dia akan menjemput Baekhyun dengan pakaian rapi juga parfum mahal kesayangannya, memberi senyum sehangat langit sore lalu mengucap sedikit kata romantis agar si galak itu setidaknya menyimpan kuluman senyum malu.
Namun sebaik-baiknya rencana akan terkalahkan dengan takdir yang sudah tergaris. Sebenarnya Chanyeol tidak terlalu menggebu dengan keberhasilan skenario rancangannya. Tapi berharap sedikit lebih manis, boleh, kan? Maka dari itu, dengan menjunjung tinggi kepercayaan dirinya beserta aura ketampanan yang Chanyeol percayai sebagai jimat keberuntungan, dia datang menemui Baekhyun.
Setidaknya gadis itu menyuguhkan satu senyum manis atau paling tidak sungutan kesal seperti biasa ketika Chanyeol turun dari mobil—percayalah reaksi Baekhyun yang seperti itu terlihat sangat mempesona di mata Chanyeol, bukan malah datang dengan langkah kaki lebar-lebar beserta air mata yang sudah seperti air terjun. Otak Chanyeol tidak terlalu pintar menerka untuk alasan seperti apa seorang perempuan menangis, namun dia juga tidak bodoh untuk mengabaikan tangis itu, terlebih tangis Baekhyun.
"Mau ice cream lagi?" sudah lima cup berukuran sedang yang berserakan di dasbor mobil Chanyeol. Dia mencoba menawarkan cup ke-6 pada si mungil yang sedang bersungut di sampingnya dengan beberapa sisa ice cream yang melekat di sekitar bibir.
"Jangan mendekat!" Baekhyun memberi telunjuk peringatan pada Chanyeol yang mencondongkan tubuhnya. Dia masih menyimpan kenangan dengan posisi seperti ini. Ice cream dan Chanyeol yang mendekat, jika terus dibiarkan maka lelaki itu akan kembali mencuri ciumannya.
Pada dasarnya Chanyeol juga memiliki kepala batu, bahkan lebih keras dari cobaan hidup karena dia tidak gentar dengan tatapan sinis Baekhyun.
Sehelai tissue Chanyeol ambil dan dia labuhkan pada sisa ice cream di bibir si mungil yang memojokkan diri di tempatnya. Langkahnya terkesan lembut hingga mendesirkan sesuatu dalam diri Baekhyun yang terdalam. Perasaan macam apa ini? Kenapa sulit membuatnya bernafas secara normal?
"Mau ku belikan ice cream lagi?" tanya Chanyeol dengan jarak yang masih terlampau dekat. Bodohnya disini, Baekhyun hanya bisa mengerjapkan mata karena mendadak otaknya kosong. Dia tidak bisa berpikir dengan jernih bagaimana seharusnya dia bertindak. Dia ingin berteriak dan memaki Chanyeol seperti biasanya, tapi sesuatu dalam diri membuatnya kaku.
Lalu ketika Baekhyun kembali menguasai diri dan hatinya yang baru saja terbang entah kemana dan Chanyeol yang sudah memiringkan kepala dengan mata terpejam, sosok asli Byun Baekhyun telah kembali.
"YA!" Chanyeol berteriak sambil memegangi bibirnya yang terasa ngilu. "Kenapa mencubit bibirku?!"
"Dasar mesum!" Baekhyun bersungut sambil mencubit lagi bibir Chanyeol yang sudah memerah. "Itu untuk otakmu yang kotor! Takkan ku biarkan lagi kau melecehkan bibirku!"
"Ah...sakit, Baek."
"Siapa yang menyuruhmu untuk melecehkanku?"
"Aku tidak melecehkanmu. Aku hanya mencium kekasihku."
"Kekasih?!"
"Kita berpacaran, kan?"
"Kata siapa?"
"Tadi kau bilang meminta jadi pacarku?"
Penyakit wanita adalah pura-pura lupa atas apa yang bibirnya ucapkan. "Aku? Kapan? Jangan bercanda!"
Baiklah, baiklah. Chanyeol cukup tau dan dia harus menyimpan baik-baik bentuk kejujuran Baekhyun. Dia tidaklah tuli untuk mendengar dengan sangat jelas bagaimana Baekhyun berkata 'Chanyeol, jadi pacarku, ya?'. Baekhyun mungkin pura-pura lupa tapi dunia telah mencatatkan sejarahnya.
"Sudah puas menangisnya?"
"Siapa yang menangis?"
Chanyeol hanya mengusak kasar rambutnya yang tertata rapi. Ini bukan pertama kalinya menghadapi Baekhyun si jutek menyebalkan, jadi Chanyeol harus memanggil kembali puing-puing kesabarannya sebagai tameng untuk tetap bertahan agar tidak mencubit gemas pipi Baekhyun.
"Kenapa wanita selalu berkata tidak sedang kenyataannya adalah iya?"
"Seberapa jauh kau memahami wanita, Tuan Park? Tidak usah berlagak kau ini sudah berpengalaman jika menonton video porno saja kau masih ketakutan!"
Oke, Baekhyun lepas dengan ucapannya itu. Dia hanya terlalu antusias mendebat Chanyeol si playboy pasaran.
Sedang Chanyeol mulai mengangkat kepala dengan gaya kesal yang terlalu tampan; nafasnya juga mulai ia gantung semenyebalkan mungkin karena ucapan Baekhyun yang meremehkannya.
"Kau tau kenapa setiap pagi Seolhyun dan teman-temannya mengerubungi tempatku?"
"Jadi kau bangga akan hal itu? Oh, astaga. Mereka hanya sekumpulan kucing betina liar yang butuh belaian. Aku tidak menyangka kau tertarik dengan mereka."
Bersabarlah, Chanyeol. Baekhyun memiliki banyak ungkapan dan analogi yang masuk akal untuk menusuk harga diri lalu membuat mulut terkunci rapat karena tidak ada balasan yang bisa mengalahkannya secara telak. Jadilah Chanyeol hanya mengerang frustasi sedang si mungil di sampingnya mulai tertawa kecil melihat kekalahan Chanyeol.
Semudah itu dia tertawa? Chanyeol tidak menyuguhkan menara Eiffel dengan cara romantis dan sedikit norak agar Baekhyun melupakan kesedihannya sejenak. Chanyeol juga tidak membentangkan beribu mawar putih dengan hiasan lampu-lampu sehingga Baekhyun akan menjerit bersama air mata kebahagiannya. Gadis itu terlalu abstrak untuk ditelisik. Baekhyun dan segala hal yang tidak berlebihan dalam dirinya telah membuat Chanyeol mabuk kepayang.
Tawa renyah itu, sudut bibirnya yang secara luwes terangkat, juga mata sipitnya yang melengkung seperti bulan sabit, maka kebahagiaan mana yang harus Chanyeol pertanyakan kembali? Sejauh ini Chanyeol memiliki kriteria khusus untuk melabuhkan hatinya. Dia lelaki pada umumnya yang melihat fisik sebagai kriteria dominan sedang hati adalah hal abstrak yang akan ia pikirkan nanti. Tapi Baekhyun, gadis itu telah meruntuhkan semuanya. Dia mengubah persepsi Chanyeol yang selalu membandingkan semua gadis yang mendekatinya dengan Scarlett—sungguh tidak masuk akal.
Baekhyun tidak sensual seperti Scarlett. Dia juga tidak memiliki aura menjadi sexy untuk menggoda kaum adam. Tapi Baekhyun memiliki senyum yang bahkan lebih segar dari bunga Lavender. Cara Baekhyun merebut dunia Chanyeol terjadi dengan proses yang tidak di duga.
.
.
.
Jam masuk sekolah masih dua jam lagi tapi Baekhyun sudah berpakaian rapi. Seragam sekolah telah melekat pada tubuhnya, rambutnya dikuncir sederhana dibelakang, dan sapuan lipgloss tipis berwarna peach menjadi penampilannya pagi hari. Kulitnya sudah putih dan mulus jadi tidak perlu menambahkan bedak. Lagipula dia mau kesekolah, bukan untuk mengikuti kontes menyanyi.
Kakinya melangkah diatas angin saat menuruni tangga. Sebisa mungkin Baekhyun tidak membuat satu suara dari langkah kakinya agar dia bisa selamat menuju pintu utama. Mungkin terlihat seperti seorang pencuri, tapi itu terlalu berlebihan. Katakan saja Baekhyun adalah seorang narapidana yang ingin melarikan diri.
Sebenarnya konteks langkah jinjit juga kerapiannya dipagi buta ini tidak seburuk yang dipikirkan. Baekhyun tidak sedang mengendap-endap karena pulang terlambat. Dia hanya mencoba tidak memberikan satu kode tentang niatnya yang ingin berangkat lebih awal. Atau sangat awal.
Keadaan masih remang karena ini memang masih pukul 5 pagi. Robert bahkan masih meringkuk di kandang sambil memeluk bantal kecil Miko. Baekhyun berani menjamin jika semua orang sedang terlelap dan tidak akan terusik pada gadis yang sedang mengendap-endap itu.
Lalu ketika Baekhyun berhasil menjangkau pintu utama, dia menghela satu nafas lelah. Semua menjadi rumit, bahkan untuk pergi sekolah saja Baekhyun harus melakukan hal tidak masuk akal seperti ini.
Dalam hati dia mengucap ampun pada Tuhan karena tindakannya ini. Baekhyun hanya tidak ingin semakin menyakiti hati ibu jika harus keluar rumah dengan keadaan masih saling diam. Baik Ibu maupun Baekhyun tidak lagi terlibat interaksi hangat seperti sebelumnya. Mereka tak lebih dari dua orang yang mendadak asing dan canggung ketika saling berpapasan.
Sudah cukup Baekhyun mengabaikan ibu dengan tidak menjamah makanan yang disiapkan juga sikap dinginnya yang masih membuat hati dan pikirannya keras. Dia sadar semua itu bukanlah hal yang benar. Tapi pada posisi Baekhyun sekarang ini, saling diam dan memeriksa hati masing-masing menjadi pilihan terbaik. Bagaimanapun juga semua butuh berkaca. Tidak ada yang benar dalam sebuah masalah. Yang ada hanya ketimpangan hati yang masih memiliki sisi egois.
Baekhyun tidak ingin menambah dosa. Maka dari itu dia memilih untuk melakukan hal ini agar ibunya tidak semakin tersinggung. Tidak selamanya, hanya beberapa waktu sampai Baekhyun punya susunan kata untuk memperbaiki ketimpangan hubungannya dengan sang ibu.
.
.
Haruskah Chanyeol menyesal terbangun saat keadaan diluar masih petang karena urusan kandung kemih? Niat awalnya Chanyeol akan menyelesaikan urusan urin di kamar mandi lalu kembali tidur karena jam bangunnya masih lama. Entah ini petaka atau takdir, Chanyeol yang ingin melihat jam pada ponselnya justru terperanjat oleh sebuah pesan dari pengirim bernama Uri Baek^^.
Rasa kantuknya sudah terbang hilang ke angkasa dan digantikan oleh manik lebar karena rasa terkejut. Ini terlalu berlebihan tapi tidak bisa diabaikan mengingat Chanyeol sedang digauli oleh perasaan cinta pada si mungil. Apapun yang berhubungan dengan Baekhyun mendadak menjadi prioritas dan Chanyeol tidak ingin kecolongan secuil-pun tentang keadaan Baekhyun.
Jadilah Chanyeol menendang selimut dan terburu-buru ke kamar mandi setelah akhir isi pesan Baekhyun : Aku sedang mampir ke stasiun sebelum berangkat sekolah. Jika kau datang kesekolah lebih dulu, bisa bawakan aku susu hangat?
Baekhyun selalu memiliki cara untuk membuat Chanyeol dilanda rasa khawatir berlebih. Bukan sesuatu yang muluk-muluk, hanya saja Chanyeol tidak mau melihat si mungil keras kepala itu mati membeku karena udara dingin di luar. Beginilah efek samping cinta; logika akan terenggut oleh letupan asmara yang suatu saat bisa menjadi ombak. Dan sebaiknya Chanyeol bersiap-siap untuk itu.
Tidak butuh waktu lama Chanyeol sudah siap. Dia sedikit menggerutu ketika mencoba menghubungi Baekhyun yang terdengar hanya suara operator yang mengatakan sedang diluar jangkauan. Sial! Harus seberapa jauh lagi jangkauan Chanyeol untuk meraih Baekhyun?
Baru kali ini Chanyeol berlari seperti kebakaran tulang ekor ketika dia menerima satu pesan di ponselnya. Si pengirim ini selain tidak tau waktu juga tidak tau aturan. Bagaimana bisa di jam sepagi ini dia mengatakan sudah berada di stasiun ketika kebanyakan orang masih bergelung dengan selimutnya. Jika bukan karena si mungil manja kesayangan Chanyeol, lelaki itu tidak sudi mandi kilat. Penampilannya tersaji apa adanya tetapi tidak melupakan beberapa semprotan parfum keberuntungan. Demi seluruh dewa, semua ini untuk Baekhyun.
"Kau mau kemana?" Tanya Yoora yang sedang mengambil air di dapur.
"Ke sekolah."
"Sepagi ini? Sekolahmu sudah gila?"
Chanyeol tidak lagi menanggapi karena dia diburu waktu. Tidak, Baekhyun tidak memberinya batas waktu. Hanya saja lelaki mana yang tega membiarkan gadis mungil tapi menyebalkan itu duduk sendiri di stasiun sepagi ini? Salah-salah akan ada om-om hidung belang yang menculiknya dan...oh, jangan lanjutkan atau Chanyeol akan terjun ke dasar jurang.
"Sial!" Chanyeol mengerang frustasi karena baru teringat jika motornya sedang di bengkel. Yang tersisa di garasi hanya mobil Yoora, mobil keluarga, dan skuter pink yang baru dibeli Yoora kemarin. Chanyeol tidak mungkin berangkat naik mobil. Selain karena milik Yoora pasti akan digunakan untuk bekerja, Chanyeol tidak memiliki kunci mobil keluarga jika ingin menggunakannya.
Satu-satunya yang tersisa hanya skuter pink yang terparkir dengan sangat menggemaskan di sebelah mobil Yoora.
"Noona, pinjam skutermu." Kata Chanyeol setelah kembali masuk rumah dan menerobos pintu kamar Yoora.
"Hei, ada apa?"
"Pinjam skutermu."
"Untuk apa?"
"Menjemput Baekhyun."
"Baekhyun?" Yoora mengernyit sebentar setelah kakirnya ia menyibak selimut dan matanya menyalak bahagia. Kenapa Yoora yang bahagia? "Ah..gadis cantik kekasihmu itu. Ada apa kau menjemputnya sepagi ini? Chanyeol, ini terlalu pagi untuk berkencan. Lagipula kau ini aneh, umumnya berkencan itu naik mobil dan—"
"Astaga! Cepat pinjami aku skutermu. Kau ini cerewet sekali."
"Dasar anak muda!" meski menggerutu, Yoora tetap menyerahkan sebuah kunci dengan gantungan Olav pada Chanyeol. "Jangan mengebut. Ingat, kau membawa calon adik iparku."
Ingin Chanyeol kembali melanjutkan umpatannya tentang seberapa cepat laju skuter jika digunakan untuk mengebut, tapi dia masih memiliki hal penting lain untuk segera dilakukan. Jadilah Chanyeol kembali berlari menyongsong skuter pink lucu milik Yoora.
.
Sebut saja ini cinta gila. Karena pada dasarnya jika hanya sebuah cinta tanpa imbuhan gila, Chanyeol tidak perlu merepotkan diri untuk mengkhawatirkan seseorang yang mengaku sedang bersedih. Selama ini dia tidak pernah peduli jika ada perempuan yang dekat dengannya sedang mengalami kesusahan atau kesedihan. Chanyeol bahkan terkesan dingin sekalipun perempuan itu menangis tersedu-sedu. Tapi dengan Baekhyun? Membuang perempuan itu dalam pikirannya saja rasanya sangat sulit.
Chanyeol seperti dikepung oleh banyak raja lebah yang menyengat jika dia berusaha membenci Baekhyun. Pasalnya, Baekhyun tidak memiliki banyak kebaikan hati jika berhadapan dengan Chanyeol dan itu sungguh menyebalkan. Chanyeol sudah mempertaruhkan semua rasa gengsinya hanya untuk menerima feedback yang baik. Tidak, Baekhyun tidak seburuk itu menyangkal segala bentuk kekhawatiran Chanyeol. Hanya saja sikapnya terlalu dingin dan itu membuat Chanyeol berpikir ulang bagaimana cara dia menyentuh hati Baekhyun lebih dalam lagi.
Dan pagi ini, entah disebut kesempatan atau memang Chanyeol benar-benar penaruh perhatian, dia memacu si skuter pink dengan laju tercepat demi mencapai stasiun. Dia ingin segera bertemu si perempuan yang sudah digilai hatinya dan memastikan tidak ada satu cacat-pun yang melukai.
Lalu di jarak 100 meter mendekati stasiun dan Chanyeol memarkir sembarangan si skuter pink, dia berlari untuk seorang perempuan yang berjongkok di gang dekat stasiun. Chanyeol berlari sepenuh hati dan tenaga demi menghampiri si perempuan yang sedang menikmati bakpao.
"Chanyeol!" mata kelincinya berbinar ketika melihat Chanyeol datang dengan nafas tak beraturan. "Mau?" dia menyodorkan bakpaoyang memiliki warna putih dengan tingkat menggembung yang parah.
"Kau...ahh..kauhh..." susah payah Chanyeol mengatur nafasnya sedang yang lebih kecil memilih kembali menikmati bakpao-nya. "Ya! Kenapa pagi-pagi kabur dari rumah?"
"Aku tidak kabur."
"Lalu kenapa di jam seperti sekarang kau disini? Sekolah masih di mulai satu jam lagi."
"Aku ingin jajan."
Seseorang tolong siramkan air pada Chanyeol yang hampir terbakar karena Baekhyun terlalu menjengkelkan dan menggemaskan di waktu yang bersamaan. Jika bukan Baekhyun mungkin Chanyeol akan mengeluarkan semua umpatan hingga mulutnya berbusa. Tapi ini Baekhyun, seseorang yang membuatnya bisa meredakan emosi seberapa besar dan menjengkelkannya reaksi perempuan itu.
"Ikut aku!"
"Kemana?! Aku tidak mau pulang, Chanyeol."
"Aku lapar. Temani aku makan!"
"Tunggu," Baekhyun kembali berjongkok di depan kakek yang menjual bakpao."Kakek, aku pergi dulu, ya. Temanku yang jelek ini kelaparan dan aku harus memberinya makan."
.
Sudah helaan nafas kesekian kali dari Baekhyun sejak 1 jam yang lalu; duduk di sebuah kedai ramen dengan seorang lelaki yang tak berhenti menatap tajam dengan tidak meninggalkan tiap sendok kuah ramen di mangkok. Baekhyun sudah melarang lelaki itu, si marga Park, untuk berhenti memberi tatapan instrospeksi yang berlebihan. Dia bukan seorang pencuri yang baru saja tertangkap basah. Tapi Chanyeol sedikit berlebihan dengan wajah yang dibuat-buat seperti kucing jantan patah hati.
"Cepat habiskan makanmu!"
Mungkin telinga Chanyeol sedang tersumbat oleh beribu ulat bulu atau dia benar-benar memiliki kelainan karena bertindak seperti seorang yang tuli akan ucapan Baekhyun.
"Apa lihat-lihat?!" tantang Baekhyun dengan gelagat siap menusuk mata Chanyeol dengan jari tengah dan jari telunjuknya. "Aku bukan tahanan yang kabur, Chanyeol. Jadi berhenti mengintimidasi seolah-olah keberangkatan lebih pagi ke sekolah adalah tindakan kriminal." Tapi pada akhirnya Baekhyun kembali melemah karena, well—dia tidak mau terlihat sebagai perempuan kasar.
"Seorang anak perempuan pagi buta keluar rumah, kau pikir dunia ini main-main?!" Chanyeol meletakkan sumpitnya dan mulai memberi tatapan galak. Tapi semua itu berubah dengan cepat ketika irisnya melihat Baekhyun memasang wajah lebih galak. "Baekhyun, kalau terjadi apa-apa padamu bagaimana?"
"Tapi aku tidak apa-apa, kan?"
"Semisal ada om-om gila yang menculik dan menjualmu keluar negeri, bagaimana?"
"Kau berlebihan. Aku hanya ke stasiun dan membeli bakpao, Chanyeol. Berhentilah bersikap berlebihan."
Chanyeol hampir saja lupa jika Baekhyun adalah sejenis makhluk hidup yang tidak peka. Maksudnya, gadis itu terlalu meremehkan kekhawatiran Chanyeol akan keselamatannya. Bukan apa-apa, dijaman maju seperti ini tidak menutup kemungkinan perbuatan jahat dilakukan dimana saja, kapan saja, dan pada siapa saja. Chanyeol hanya tidak ingin tembok perlindungan yang mulai dia bangun untuk Baekhyun menemui kata sia-sia. Dia sudah berkorban banyak untuk keberaniannya dengan harapan Baekhyun bisa aman.
"Baekhyun, pikirkan keselamatanmu. Tidak selalu masalah diselesaikan dengan kabur dari rumah."
"Aku tidak kabur!"
"Oke, aku ralat. Kau tidak kabur tapi hanya mengendap-endap keluar dari rumah."
Yang lebih kecil mengerucutkan bibir untuk perkataan Chanyeol. Ya, Chanyeol benar. Tapi disaat seperti ini Baekhyun butuh dihibur, bukan dipojokkan atas tindakannya yang sedikit kekanak-kanakkan itu.
"Lebih baik aku pergi diam-diam daripada berada di situasi yang tidak enak dengan ibu. Ku harap kau tau maksudku dan kau berhenti membahas hal itu. Aku tau aku salah dan jika kau mau menyalahkanku, ku sarankan kau telan saja semua itu. Aku sedang tidak butuh di salahkan."
Baekhyun mengalami tekanan yang cukup menyakitkan atas perdebatannya dengan sang ibu. Ini menjadi yang pertama dan Baekhyun benar-benar tidak memiliki pegangan bagaimana harus bersikap. Sejujurnya Baekhyun tidak ingin bertindak egois tapi semua orang yang tau mengenai masalah ini sudah terlanjur melihatnya seperti itu. Mengubah persepsi orang bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan dan Baekhyun tidak ingin melakukannya. Pada akhirnya orang-orang hanya bisa berspekulasi dan tidak ada solusi yang bisa membuatnya lebih baik. Jadi, dia akan terus pada pendirian dan jalannya hingga dia bisa memiliki kepala yang lebih tenang untuk memperbaiki apa-apa yang salah.
"Berpikirlah sedikit lebih tenang dan bukalah matamu. Masalah tidak selalu bisa diselesaikan dengan cara saling berdiam diri. Ibumu juga berhak memilih hidupnya."
"Sulit menerimanya, jika aku boleh jujur. Aku tidak berharap kau berada di posisiku dan merasakan apa yang aku rasa, karena setiap orang memiliki kemampuan bertahan yang berbeda. Yang kuharap kau bisa menghargai apa yang sedang ku pilih. Aku tidak peduli kau berada dipihak mana, tapi biarkan aku berdiri sendiri dengan pendirianku. Mau menyebutku egois, silahkan."
Sekuat-kuatnya batu karang, suatu saat juga akan terkikis ketika ada pukulan telak yang meruntuhkannya. Namun bedanya batu karang tidak akan menjatuhkan setitik kesedihannya karena dia tau kehancuran bukanlah hal yang perlu di beri kesedihan, menjadi reruntuhan batu karang bukan hal yang buruk selama ada air yang selalu menjaganya untuk tetap berada pada tempatnya. Tapi Baekhyun bukanlah sekuat karang. Dia hanya anak gadis yang sedang diombang-ambing oleh kerisauan hati. Tidak tau bagaimana caranya bertahan ketika tidak ada yang bisa mengerti bagaimana hatinya.
"Mau kemana?" Chanyeol menarik pergelangan tangan Baekhyun.
"Kemana saja asal aku bisa sedikit lega."
.
.
Jika dipikir ulang, ini terlalu membuat kepala pening. Pasalnya, Baekhyun tidak mengerti dengan cara kerja otaknya yang terlampau tidak singkron dengan sistem kekebalan hatinya. Bagaimana bisa dia memilih membolos dan berakhir disebuah taman hiburan yang ada di pusat kota?
Kata orang, sebaiknya stres dibuang dengan cara datang ke taman hiburan lalu memacu adrenalin dengan beberapa permainan yang bergantung pada ketinggian atau kecepatan. Semua itu bisa membuat sesuatu dalam diri menjadi ikut gelisah lalu ketika dilempar atau dijatuhkan dengan kecepatan konstan, sebuah teriakan akan keluar dan dari situ semua rasa stres akan hilang.
Baekhyun memilih sebuah tiket terusan. Peduli setan jika belum banyak orang yang berunjung karena langit masih sangat cerah. Yang terpenting hasrat berteriaknya bisa ia lepas sehingga saat nanti pulang dia tidak lagi memiliki beban.
Namanya Colombus; sebuah kapal besar yang terombang-ambing ke depan dan ke belakang. Jika kapal bergerak kebelakang akan terasa rasa tegang yang naik sampai ubun-ubun. Dan jika sudah bergerak ke depan maka jantung serasa tertinggal di belakang bersama desiran yang memacu diri untuk berteriak sekeras-kerasnya. Baekhyun rasa itu permainan pemula yang bisa di jadikan pemanasan. Maka dengan langkah seringan daun kering, Baekhyun mengambil duduk paling belakang dengan harapan ia akan mendapat kepuasan.
Tidak banyak yang naik Colombus. Hanya Baekhyun dan beberapa orang dengan tingkat antusias yang membuncah. Tapi sayangnya tidak berlaku untuk lelaki yang sudah duduk di samping Baekhyun bersama wajah putih pucat.
"Kau oke, Chanyeol?"
Yang di tanya hanya mengangguk kecil. Bibirnya tertutup rapat sedang keringat sebesar jagung tidak bisa ia sembunyikan.
"Tidak usah memaksa kalau memang takut."
"Aku tidak takut!"
Baekhyun hanya mengedikkan bahu ketika Chanyeol menolak dikatakan takut sedang perubahan fisiknya menunjukkan dia sedang ketakutan level akut. Tapi ini menyenangkan. Si kucing jantan pecinta aura ketenaran ini menemui titik balik atas kesombongannya sebagai jantan paling diminati banyak betina-betina genit. Rasakan!
Colombus mulai berjalan. Pada awalnya kecepatan yang digunakan selalu pada taraf lemah, namun lama-kelamaan semua itu berubah menjadi gila dan Baekhyun sudah bersiap membuat dirinya melayang.
Semuanya menggila dengan teriakan-teriakan heboh seakan meminta si pengendali yang ada di pos untuk menambah kecepatan. Teriakan, rasa takut, semua hanya bentuk ekspresi bagaimana permainan ini sangat cocok untuk melepas stres. Baekhyun mulai berteriak di nada tertinggi yang ia miliki. Jika setelah ini suaranya akan raib dan dia berbicara dengan suara lirih, biarkan. Baekhyun tidak terlalu peduli, yang terpenting rasa stresnya terpuaskan
"HENTIKAANN! HENTIKAAANNN!"
Meski semua yang ada di atas Colombus berteriak hingga urat-urat di leher nampak, Baekhyun masih bisa mendengar suara di sampingnya yang merintih. Dia hampir lupa jika ada Chanyeol yang sedang mempertaruhkan harga dirinya sebagai laki-laki yang tidak takut naik wahana ekstrim, padahal dalam dirinya sedang terjadi bentrokan untuk tidak mengambil keputusan segila ini. Tapi mau bagaimana lagi, Chanyeol harus menunjukkan sisi kejantanannya pada Baekhyun sebagai lelaki pemberani meski sebenarnya semua sudah hancur sejak awal dia bermanik pucat.
"Jangan tertawa!"
Setelah permainan selesai dan keduanya turun, Baekhyun tidak bisa menahan lagi tawanya. Dia puas karena telah membuat Chanyeol terlihat konyol dengan rasa takutnya.
"Dasar, sok pemberani! Hanya katakan kau takut dan tidak perlu merepotkan diri untuk ikut aku naik." Baekhyun kembali tertawa. "Tunggu sini. Aku harus menyelesaikan beberapa permainan setelah itu kita bisa pergi."
"Tapi—"
"Ssst! Aku tidak suka di bantah!"
Lalu Chanyeol dengan wajah memerah dan perut yang rasanya seperti di aduk beribu-ribu, hanya bisa mendengus kesal karena usahanya terlihat manly didepan Baekhyun mendapat hasil yang buruk alias gagal total.
.
.
Hubungan Baekhyun dengan ibunya mulai membaik. Setidaknya ketika ibu bertanya, "Mau susu coklat atau vanila?" Baekhyun masih mau menjawab dengan mengatakan jika susu coklat adalah jimat keberuntungannya. Mereka tidak lagi dililit oleh suasana canggung yang mencekik. Meski masih ada sisa puing-puing kesedihan akibat hubungan kemarin yang terlalu menegang, setidaknya masih ada sedikit cela untuk saling bertegur sapa meski belum seratus persen kembali seperti dulu.
Ibu Baekhyun yang memulai semuanya. Wanita itu berpikir jika hubungan ibu dan anak tidak seharusnya jadi seburuk ini. Semua hanya salah paham dan putri cantiknya itu bukanlah tipe anak gadis yang bisa mencerna semua secara perlahan. Baekhyun terlanjur percaya dengan apa yang dilihat matanya dan mengabaikan apa yang akan dijelaskan oleh ibu. Hingga akhirnya semua menjadi sebuah bom yang meledak dan sulit dikendalikan bagaimana akibatnya.
Berbekal kesabaran berlebih sebagai dasar dari perbaikan atas apa-apa yang terlanjur retak, ibu Baekhyun mengulurkan perdamaian. Bersitegang dengan Baekhyun serumit ini menjadi pertama kali seumur hidup dan rasanya sungguh tidak enak. Masa pendiaman yang terlalu lama dan Baekhyun yang mulai mengendap-endap tiap pagi untuk berangkat sekolah, ibu membenci semua itu. Baekhyun satu-satunya hal berharga yang dimiliki dan diabaikan oleh anak gadisnya sungguh kerapuhan yang tak terobati.
"Aku berangkat, Ibu." Baekhyun mengambil sepotong roti di meja dan sedikit berlari sebelum tertinggal bis.
"Nanti malam mau di masakkan apa?"
"Terserah ibu saja." Baekhyun melihat jam yang melilit pergelangan tangannya dan bisa merasakan aura petaka ketika waktunya hampir tiba. "Aku berangkat."
.
.
Bersyukurlah jika pagi ini Baekhyun tidak harus merayu penjaga gerbang untuk membiarkannya masuk. Meski nafasnya menjadi tak stabil dan keringat mengucur dari pelipisnya, Baekhyun tidak banyak mengeluh seperti biasanya.
Keadaan sekolah masih sama; hujatan karena akhir-akhir ini dia terlalu dekat dengan Chanyeol masih diterima dari para kucing haus belaian. Tapi Baekhyun tak ambil pusing, biarkan mereka mencibir sesuka mulut mereka asal tidak menggores sedikitpun kulit Baekhyun. Karena jika sampai itu terjadi, Baekhyun selalu siap berubah menjadi macan dengan taring beracun. Rawr!
Dan sesampainya di kelas, Baekhyun masih menemui keramaian yang bersumber dari bangku Chanyeol. Si pemilik bangku belum menampilkan batang hidungnya tapi kumpulan betina kurang belaian itu sudah mengerubung seperti lalat. Untung saja posisi duduk sudah berubah. Baekhyun kembali satu bangku dengan Sehun sedang Chanyeol menempati bangku paling belakang. Jadi setelah memposisikan duduk ternyaman di bangkunya, Baekhyun bisa sedikit bersantai. Seharusnya seperti itu sebelum seseorang menarik pundaknya ke belakang hingga punggung Baekhyun terbentur kursi.
"AW! Apa yang kau lakukan, Seolhyun?!"
"Tidak tau malu!"
"Ada apa denganmu?!"
"Dengar," Seolhyun memberi telunjuk peringatan dan disambut tatapan sinis dari Baekhyun. "Jangan pernah dekati Chanyeol satu senti saja! Kau tentu tau apa akibatnya!"
"Dasar gila!" Baekhyun hanya tidak ingin emosinya menguar dan melukai siapa saja yang merusak suasana hatinya, tapi Seolhyun justru mengusik semua emosinya dengan membuat seragam Baekhyun yang semula berwarna putih memiliki noda merah beraroma strawberry. "YA! APA YANG KAU LAKUKAN!"
"Itu untuk perempuan tidak tau diri sepertimu!" Seolhyun menambah semua emosi yang mendidih dengan whip-cream yang di lempar tepat mengenai pundak Baekhyun. "Ku harap kau sadar kalau kau tidak pantas bersama Chanyeol!"
Ini kekanakan. Sungguh hal tidak masuk akal ketika Baekhyun sadar dasar dari semua perlakuan ini adalah Chanyeol.
"Sekali lagi kau menggoda Chanyeol, aku bisa melakukan yang lebih buruk dari ini!" yang terakhir adalah siraman kopi yang Seolhyun tumpahkan tepat di atas kepala Baekhyun sebelum akhirnya dia pergi dengan diikuti oleh para pengikut setianya. Sedang Baekhyun, dia mulai muak ketika harga dirinya direndahkan begitu saja oleh Seolhyun. Matanya memanas dan dia kembali menangis dibalik kucuran hitam air kopi yang mengalir di wajahnya.
Suasana kelas mendadak riuh dengan kejadian itu. Disamping rasa malu, Baekhyun lebih memiliki rasa muak yang berlebih. Rasanya seperti ingin membalikkan bumi dan meruntuhkan semua hal yang memperburuk suasana hatinya.
Mino, Sehun, dan Jongin yang baru datang segera mengerubungi adik kecil mereka yang masih membeku di lantai. Mereka tidak tau apa yang sudah terjadi hingga membuat Baekhyun terlihat sangat buruk. Mereka bertiga tau, dalam suasana seperti ini tidaklah terlalu pas untuk bertanya apa yang sudah terjadi. Oleh karena itu, Sehun melepas jaketnya untuk menutupi seragam Baekhyun yang kotor, Mino membantu Baekhyun berdiri, sedang Jongin menginterupsi seluruh keributan di kelas untuk tetap diam dan tidak melakukan hal konyol dengan menyebar sesuatu yang mereka rekam di ponsel.
"Baekhyun? Kau kenapa?"
Sumber masalah.
Baekhyun tiba-tiba kembali muak dan emosinya yang sempat lenyap bersiap meledak dengan hebohnya. Namun menyadari dirinya telah kalah karena air mata, Baekhyun memilih mengabaikan Chanyeol.
"Ada apa?!" Chanyeol menarik pergelangan tangan Baekhyun dan gadis itu memicing penuh benci. "Siapa yang melakukan ini padamu?!"
Baekhyun membisu. Kemuakan dalam dirinya membuat bibirnya membisu dan ketika Chanyeol mendesak atas apa yang sudah terjadi, Baekhyun mulai berontak. Dia bergerak sekuat tenaga dari cengkeraman Chanyeol dan papahan Mino untuk berlari keluar kelas.
.
Harga diri Baekhyun benar-benar telah dilukai. Seolhyun dan pengikut sintingnya itu sudah berani mengusik Baekhyun dan menimbulkan kebencian yang mendalam. Tidakkah ini sudah keterlaluan? Tapi yang bisa Baekhyun lakukan saat ini hanya menangis. Ingatlah, dia juga memiliki hati perempuan yang akan sakit jika direndahkan.
Tidak begitu buruk ketika Baekhyun menumpahkan air matanya di bawah sebuah pohon belakang sekolah. Dia mengumpat sejadi-jadinya dan mengutuk Seolhyun dengan umpatan paling kotor dan buruk. Batu-batu kecil tak berdosa di bawah kakinya turut menjadi korban pelemparan hingga sebuah pekikan membuat Baekhyun jatuh terduduk.
"Sedang apa kau disini?" Baekhyun melihat name-tag bertuliskan 'Jaehyun' di sisi kiri sedang tag angka 2 berwana merah di sebelah kanan. "Kau mau bolos ya?"
"Sssst!" Baekhyun justru menerima telunjuk di bibirnya. "Aku hanya sedikit bereksperimen di hari pertamaku sekolah. Ternyata sangat menyenangkan."
Aneh.
Baekhyun menyeka sisa air matanya dan bersiap pergi sebelum kejiwaannya terganggu karena orang aneh.
"Hey, baumu...aneh."
Mata Baekhyun jatuh melihat tubuhnya yang beraroma strawberry bercampur kopi. Ya, perbuatan Baekhyun membuat dirinya terlihat konyol dengan aroma tidak sedap.
"Hei, hei, aku hanya bercanda. Jangan marah."
Tangan Baekhyun di cegah oleh si orang asing yang bahkan kini pura-pura kenal.
"Lepas!"
Sebuah sapu tangan terulur dan diseka disekitar pipi Baekhyun yang basah.
Orang asing yang baru saja menghina bau tubuh Baekhyun kini berbaik hati mengulurkan sapu tangan untuk menyeka noda hitam di pipi Baekhyun; sesuatu yang bisa melelahkan hati setiap wanita tapi Baekhyun tidak tertarik dengan hal itu. Dia menepis semua dan menyalak galak tapi hanya diberi tanggapan berupa kekehan. Orang aneh, kan?
"Ikut aku!" Sebelah tangan Baekhyun ada yang menariknya dan gadis itu hampir saja terhuyung jika saja tangannya yang lain tidak ditarik ke arah yang berbeda.
"Hei, santai saja, bung."
Di sisi kanan Baekhyun melihat Chanyeol dengan wajah seriusnya dan di sisi kiri ada si orang aneh yang lebih nyaman dengan wajah santainya.
"Ini bukan urusanmu!"
"Aku tidak tau apa masalah kalian, tapi memperlakukan perempuan seperti itu bukanlah tindakan yang jantan."
"Anak kecil sepertimu tau apa?!"
"Anak kecil sepertiku cukup tau jika berlaku kasar pada perempuan adalah tindakan terbodoh yang dilakukan laki-laki."
Baekhyun tidak tau apa yang salah dengan dunianya hingga ia harus tertarik ke kanan dan ke kiri oleh dua laki-laki yang sibuk dengan argumennya tentang laki-laki jantan. Lengannya serasa mau putus dan dua laki-laki itu tidak sadar Baekhyun mulai merintih kesakitan.
"LEPAS!" Baekhyun menggunakan kekuatan penuh untuk menyentak tangannya dan hasilnya tidak begitu buruk. Meski lengannya terasa sakit, setidaknya dua laki-laki itu sudah berhenti dengan argumen laki-laki jantan mereka yang sebenarnya tidak terlalu penting dalam situasi ini. "Silahkan berdebat tapi jangan korbankan tanganku?!"
Chanyeol memanfaatkan keadaan yang sedikit lengah untuk menari Baekhyun menjauh dan gadis itu kali ini mengalah untuk mengikuti Chanyeol daripada lengannya kembali tersakiti. "Kita harus bicara, Baekhyun!"
Jadi namamu Baekhyun.
.
.
.
TBC
Oke ini TBC lagi dan maaf karena lama up.
Maaf kalau jalan ceritanya jadi seribet ini.
Maaf kalau tulisanku mulai kurang enak dinikmati.
Maaf karena selalu lama up T.T
.
.
Semoga kalian suka sama chap ini dan tetep sabar nungguin update-an selanjutnya =D
Saranghae...
