T
.
.
"STOP!" Baekhyun menyentak tangannya ketika sudah cukup ditarik sedemikian jauh oleh Chanyeol. Entah sudah berapa jauh mereka menyusuri lorong sekolah dan menjadi pusat perhatian beberapa mata dalam kelas yang sedang jam kosong, Chanyeol seperti tidak menaruh banyak peduli akan hal itu.
Teriakan Baekhyun untuk meminta menghentikan semua ini seperti bualan belaka. Seberapa kuat Baekhyun mencoba melepaskannya, maka Chanyeol akan semakin erat menggenggam lalu menariknya. Baekhyun tidak tau maunya apa lelaki itu."Lepaskan aku, Chanyeol..Sakit..." Pergelangan tangan Baekhyun sudah memerah dan dia semakin kesakitan. Batinnya belum sampai pada tahap pemulihan tetapi Chanyeol seperti berniat melukai fisik Baekhyun.
"Siapa yang melakukan itu padamu?"
"Tidak penting siapa yang melakukan!"
"Katakan!"
"Apa urusanmu?!"
"Bagaimana bisa bukan jadi urusanku ketika ada yang menyakitimu, Baek? Ini sudah keterlaluan asal kau tau! Lihat penampilanmu!"
Matanya jatuh kebawah dan menelisik seberapa buruk dan kotor pakaian dan tubuhnya. Noda hitam kopi, noda merah jus strawberry, juga whipe-cream yang menambah deret kemuakan Baekhyun yang tiada henti. Penampilan fisik bisa dia selesaikan dengan mandi dan berganti baju, tapi bagaimana Seolhyun melakukan hal itu seperti seorang brengsek membuat Baekhyun enggan memiliki kebaikan hati.
"Tidak penting..." lalu Baekhyun tidak bisa menahan sesak di dasar hati yang membuat airmatanya merembes keluar dari tempatnya.
Baekhyun sedang berada di titik terlemah dimana dia mudah sekali goyah dan menangis. Selama ini dia beranggapan dirinya harus menjadi tegar dalam segala situasi. Menjadi lemah bukan pilihan yang benar karena orang lain akan merasa kasihan dan Baekhyun tidak suka di pandang seperti orang yang menderita lahir batin.
Tapi kali ini ia ingin membungkam segala ketegaran yang dia miliki. Batinnya bersimpu lemah karena penghinaan yang dilakukan Seolhyun memang keterlaluan. Baekhyun sakit hati, sangat sakit hati.
"Baekhyun..." Chanyeol mulai melemah melihat si mungil yang menunduk dan berusaha menyembunyikan tangisnya. "Siapa yang melakukannya? Hm?" dia merengkuh kepala Baekhyun yang seperti tak bertenaga untuk di angkat dan menengadah pada langit.
"Memang kau mau apa kalau aku mengatakan siapa yang melakukan ini padaku?"
"Tentu aku akan menghajarnya. Berani-beraninya dia melakukan ini pada Baekhyun-ku. Cari mati dia dengan Park Chanyeol!"
Baekhyun-ku?
"Kasar sekali.." Baekhyun memukul kecil dada Chanyeol yang sudah terkontaminasi warna hitam dari tubuh Baekhyun. "Lelaki sejati tidak akan menghajar perempuan."
Tubuh Baekhyun dijauhkan sebentar dan Chanyeol mengangkat dagu si mungil yang sudah berhenti terisak.
"Jadi dia perempuan?"
Baekhyun mengangguk kecil lalu kembali masuk pada dada Chanyeol. Sebentuk rasa aman yang membuatnya ketagihan; Baekhyun tidak tau kenapa sistem kesadaran dalam tubuhnya menjadi serumit ini. Maksudnya, dia selalu bertindak berdasar logika dan tidak pernah memperlakukan dirinya dengan semudah ini. Masuk dalam pelukan Chanyeol dan mengeluh jika penampilannya sungguh buruk karena perpaduan kopi, jus strawberry, dan whipe-cream membuatnya tampak menyedihkan. Apa-apaan sebenarnya ini?
"Ini urusan perempuan. Kau jangan ikut campur."
"Jangan katakan jika ini perbuatan—"
"Hm. Siapa lagi. Seharusnya aku tadi langsung menjambak rambutnya. Aish! Kenapa aku jadi lemah begini?!" Seolhyun, jangan harap sisa masa sekolahnya akan tenang ketika si judes Baekhyun memunculkan tanduknya. Bersiaplah, mimpi buruk akan berkuasa! "Bagaimana jika aku membalasnya?"
"Kau berani?"
"Ya!" Baekhyun bersungut sambil membuat gestur tangan seperti bos yang memarahi bawahannya karena terlambat. "Lihat saja, akan ku buat dia terkencing-kencing."
"Terserah padamu." Kemudian Chanyeol kembali menyamankan Baekhyun dalam pelukannya. Ini yang dia tunggu, berada dekat dengan Baekhyun dan membuat gadis itu tidak berontak atas perasan yang sudah terlanjur ia gelar. "Yang terpenting kau berhenti menangis dan tidak terluka."
"Siapa yang menangis?" dia menyalak lagi untuk bersembunyi dari kelemahannya. Tapi Chanyeol terlalu mengenal bagaimana Baekhyun dengan segala sikap tidak mau mengalahnya. Jika sedih, katakan sedih maka Chanyeol akan datang untuk mengusak air mata.
"Aku sudah izin agar mengantarmu pulang."
"Aku tidak mau pulang!"
"Masih marah dengan ibu?"
Baekhyun mengangguk. "Sedikit."
"Kau harus ganti baju, Baekhyun."
"Ke rumahmu. Pinjam baju Yoora eonni."
.
.
Kedua kalinya Baekhyun menginjakkan kaki ke rumah Chanyeol dan dia selalu takjub dengan segala interior yang ada. Mungkin Baekhyun akan terlihat sedikit kampungan tapi begitulah adanya. Rumah Chanyeol adalah sejenis rumah yang sengaja di design sederhana tapi berkelas. Tidak ada perabotan yang tampak mencolok kecuali ukiran-ukiran elegan yang membuat mata terkagum.
Sejak masuk gerbang hingga berada di dalam rumah, akan sangat kental rasa segar yang menggoda iman untuk berlama-lama di sini.
Tata letak ruangannya perlu diberi banyak acungan jempot. Nuansa putih dengan beberapa perabot yang berasal dari kayu dipilih untuk mempermanis ruangan. Seperti di dapur, semua alat masak tersedia dengan kelengkapan yang jangan di ragukan. Letaknya yang berdekatan dengan meja makan menjadikan rumah ini memiliki potensi sebagai rumah idaman. Baekhyun mulai berfantasi bagaimana jika dia tinggal disini? Astaga, ada apa dengan pikiranmu, Baekhyun?
"Miko!" Baekhyun membentangkan tangan untuk si manis yang baru keluar dari rumahnya. Pantatnya yang berisi itu bergerak seirama dan membuat Baekhyun ingin sekali mencubitnya. Pantat Miko seperti candu yang mana bisa menjerat siapa saja yang melihatnya.
"Kau semakin manis. Apa kau makan dengan baik, Miko?"
Ngeong~
"Bagus. Noona sangat merindukanmu, Miko!"
NGEONG!
"Apa? Aku bukan noona?. Lalu siapa?"
Ngeeeeoong~
"Eonni?"
Ngeong~
"Baiklah, baiklah. Karena kau sangat manis, kau boleh memanggilku eonni."
"Baekhyun," Baekhyun mengelus sebentar si manis Miko sebelum kucing berpantat sintal itu kembali ke rumahnya. "kau bisa bahasa kucing?"
Chanyeol sudah berganti pakaian sedikit santai dengan kaos jumbo-nya yang berwarna merah serta celana hitam sebatas lutut.
"Anggap saja begitu." Baekhyun menerima satu setel pakain berwarna putih gading yang di lempar Chanyeol. "Punya Yoora eonni?"
"Kau kira aku pakai baju perempuan? Tentu saja itu punya dia!"
Baekhyun hanya bertanya dan Chanyeol cukup menjawab 'iya' atau 'tidak'. Nada tinggi yang ia gunakan terlalu berlebihan mengingat lawan bicaranya adalah si judes Byun Baekhyun. Tidakkah lelaki itu ingat betapa galaknya Baekhyun jika kekesalannya sudah tersulut hingga menguap ke permukaan? Tapi beruntunglah Chanyeol karena kali ini Baekhyun menambah kesabarannya sebanyak 1 gram. Meski sedikit, itu sudah cukup berguna dari pada dia juga berbicara dengan nada tinggi dan mereka akan saling berteriak untuk suatu hal yang tidak penting.
"Jadi aku harus ganti baju di mana?" tanya Baekhyun lagi.
"Di sini!" si jantan kembali bernada tinggi. "Astaga, Baekhyun! Tentu kau harus berganti baju di kamar mandi!"
"Kau ini ada apa?!" Baekhyun sudah berada di puncak. Chanyeol cukup menyebalkan dan itu membuatnya merajuk. Beberapa jam lalu dia bertindak seperti seorang kekasih yang selalu memprotek gadisnya. Dan sekarang? Baekhyun terlanjur berasumsi jika dia sudah seperti gelandangan yang di bentak-bentak. "Tadi, baik. Sekarang, jahat. Cukup koin saja yang punya dua wajah! Kau jangan seperti itu!"
Jika Baekhyun sudah mengeluarkan nada tertingginya itu berarti ia cukup kesal. Di bentak bukanlah hal yang di sukai semua orang, Baekhyun salah satunya. Gadis itu teramat tidak suka jika ada yang membentak hingga ulu hatinya sakit. Belum juga sembuh luka bentakan dan hinaan Seolhyun, tapi sepertinya Chanyeol ingin merelakan diri menjadi tumbal karena kekesalan Baekhyun.
"Aku pergi saja!"
"Mau kemana?" Baekhyun selalu kalah cepat selangkah. Ingin rasanya dia mengeluh pada Tuhan tentang kaki mungilnya yang selalu kalah panjang dari Chanyeol saat melangkah. Seperti sekarang, ketika Baekhyun memiliki 6 langkah menuju pintu utama maka Chanyeol hanya butuh 3 langkah. Tapi fokusnya bukan di situ sebenarnya. Yang harus ditekankan disini adalah kenapa Chanyeol menahannya untuk pergi jika keberadaan Baekhyun hanya untuk dimarahi?
"Mau ke kebun binatang bertemu saudara-saudaraku! Setidaknya mereka lebih baik menerima keadaanku yang bau ini dan tidak membentakku sembarangan!"
"Disana kau akan lebih bau." Suara Chanyeol melembut seiring dengan kerucutan lucu bibir merajuk Baekhyun.
"Biar saja! Mereka baik. Tidak seperti kau yang suka membentak!"
"Kapan aku melakukannya?"
"Dasar lelaki!"
"Jangan kemana-mana dengan keadaan seperti ini. Orang-orang akan melihatmu sedikit tidak baik."
Baiklah, tidak ada yang lebih buruk daripada tubuh beraroma kopi yang dikontaminasi dengan jus strawberry juga whipe-cream.
"Aku tidak peduli!"
"Jangan marah..." Chanyeol mencubit gemas hidung si mungil, "Ya sudah. Maaf sudah membentakmu. Aku hanya masih kesal dengan orang yang membuat keadaanmu seperti ini. Aku dimaafkan?"
Yang lebih kecil masih belum bisa meninggalkan kerucutan bibirnya. Dalam hati masih sedikit kesal karena bentakan itu, tapi sudahlah, Baekhyun mencoba untuk mengerti. Sebentar, kenapa Baekhyun repot-repot untuk mengerti?
"Sepuluh cup ice cream strawberry," Baekhyun menodongkan sepuluh jarinya, "Tiga bakpao isi coklat," menodongkan tiga jari, "dan satu pan pizza toping sosis sapi."
"Wow! Bisa menghabiskan semuanya?"
"Bantu aku makan..." lalu merengek.
Inilah mengapa Chanyeol selalu kesulitan tidur jika suara rengekan Baekhyun terngiang. Efeknya sungguh mengacaukan pertahanan hati dan kekuatan diri. Karena jika terus berlanjut bisa-bisa Chanyeol akan mengambil trampolin untuk melompat dan berkata pada dunia jika Baekhyun telah sukses membuat dirinya goyah.
"Ya sudah. Sebaiknya kau bersihkan dirimu dulu. Aku akan memesan makanan."
.
.
Sesuai permintaan Baekhyun, Chanyeol memesan semua makanan tanpa ada satupun yang kurang. Sepuluh ice cream strawberry, tiga bakpao isi coklat, dan satu pan pizza bertoping sosis sapi. Semua makanan itu sudah terhidang di meja ketika Baekhyun datang dengan rambut setengah basahnya.
"Chanyeol, kau waras, kan?"
"Kenapa?"
"Sebanyak ini siapa yang akan menghabiskan?"
Baekhyun mengambil duduk di samping Chanyeol yang sibuk dengan ponselnya. Setelah ditelisik lebih dekat hal apa di dalam ponsel yang sudah membuat Chanyeol tidak melepas fokus, Baekhyun menemukan sebuah game yang sedang digandrungi anak sekolah. Air wajahnya tampak serius bahkan Baekhyun yang datang dengan aroma mint dari sabun yang digunakan tak mendapat perhatian. Untuk itu Baekhyun berusaha merebut ponsel Chanyeol dan meminta penjelasan tentang makanan yang ada di meja.
"Kau sendiri yang minta. Aku sudah memesankan semua yang kau mau. Sekarang berikan ponselku dan kau," Chanyeol menyentil hidung si mungil, "cepat habiskan makanan ini lalu ku antar pulang."
"Mana mungkin aku menghabiskan ini sendirian."
"Kau pasti bisa, Baekhyun. Berjuanglah!" Ponsel itu kembali ketangan Chanyeol dan Baekhyun memberengut kesal. Dasar laki-laki, apa mereka tidak sadar jika mengabaikan wanita untuk sebuah games itu tindakan menyebalkan?
Ingin rasanya Baekhyun kembali merebut ponsel itu dan membuangnya ke tumpukan kotoran Miko. Tapi itu terdengar sedikit kejam dan akhirnya Baekhyun lebih memilih menikmati sepotong pizza dengan sedikit rutukan.
.
.
.
"Tidak bisakah aku pinjam uang padamu untuk menginap di hotel? Aku tidak mau pulang, Chanyeol..." permintaan ke-10 sejak perjalanan mengantar Baekhyun pulang. Dan jawaban Chanyeol akan tetap sama. Gelengan kepala.
"Kau harus pulang. Apapun itu situasinya, kau harus pulang."
"Hubunganku dengan ibu masih belum membaik."
"—dan tidak akan pernah membaik jika kau terus menghindarinya." Di genggamnya tangan Baekhyun untuk memberi suatu keyakinan jika ini memang yang terbaik. Chanyeol tidak ingin si mungil kesayangannya ini terus-terusan berlarut dalam ketidakharmonisan dengan ibunya yang bisa memicu ide-ide gila, seperti berangkat pagi buta menuju stasiun atau meminjam uang untuk menginap di hotel. "Baekhyun, dengar. Diwaktu kemarin memang kalian perlu waktu untuk memikirkan kembali apa yang terjadi. Tapi tidak selamanya kau bisa terus meminta waktu sedang ibumu sangat berharap hubungan kalian membaik. Tidak ada seorang ibu yang ingin dijauhi oleh anaknya." meski aku tidak yakin ibu kandungku memiliki perasaan seperti itu.
Yang lebih kecil kembali menunduk, memikirkan ucapan Chanyeol, dan mengangkat kepala ketika semua yang diucapkan Chanyeol benar adanya.
"Baiklah. Tapi temani aku sampai depan gerbang."
"Sampai kamar-pun pasti akan ku temani."
Lalu yang terjadi selanjutnya adalah pekikan Chanyeol yang mengerikan karena Baekhyun menarik telinganya.
"Itu untuk otakmu yang kotor!"
Sekali lagi jika yang melakukan hal itu bukan Baekhyun, bisa dipastikan Chanyeol akan mengumpat dengan cara yang buruk dan tidak akan peduli apabila yang bersangkutan akan sakit hati. Tapi ini Baekhyun, yang sekali lagi juga dapat pengecualian dalam segala hal. Hanya Baekhyun.
Langkah kaki Baekhyun sengaja ia buat sekecil mungkin agar bisa memakan waktu lama untuk sampai di pintu rumahnya. Jantungnya berdegup kencang dan dia tidak tau reaksi apa yang sudah akan ibunya berikan ketika ia mengetuk pintu dan berkata 'Baekhyun pulang'. Jika nanti ibunya akan marah dan menjambak rambut Baekhyun, gadis itu sudah membuat ancang-ancang menjadikan Chanyeol sebagai tameng. Selain karena Chanyeol lebih tinggi dan berbadan besar, ibunya tidak akan sampai hati menyiksa anak orang lain.
"Cepat!" Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun. "Jangan bertingkah seperti kelinci malang, Baek. Ini rumahmu."
"Iya, iya. Aku tau."
Tangan Baekhyun baru saja akan memutar gagang pintu ketika seseorang lebih dulu memutar dan menarik pintu. Bukan ibunya yang bersiap dengan penggorengan atau raket listrik yang kemungkinan akan digunakan untuk menghukum pantat Baekhyun, tapi Kyungsoo dan Luhan yang sedang berdiri mematung sambil membawa kardus bekas pizza.
.
Chanyeol yakin jika dia tidak pernah berniat menculik Baekhyun apalagi menyekap si judes itu. Dia hanya berusaha melindungi Baekhyun agar tidak menjadi bulan-bulanan para kucing betina liar yang di ketuai oleh Seolhyun. Tapi dari cara Jongin, Sehun, juga Mino memojokkannya di depan rumah Baekhyun membuat Chanyeol begidik ngeri. Satu lawan tiga, bukan pertandingan yang seimbang jika dalam otak ketiga sahabat Baekhyun itu ingin menghabisi Chanyeol.
Penculik mana yang mengantarkan korbannya pulang ke rumah?
Penculik mana yang rela memesankan makanan atas keinginan si korban?
Atau dalam situasi ini seharunya Chanyeol yang menjadi korban kesalah pahaman.
"Kau tau kan jika Baekhyun itu adik kesayangan kami?" Itu Jongin.
"Seharusnya kau tidak menculik Baekhyun meski dia sedikit menyebalkan dan manja." Mino menerima sikutan kecil dari Sehun karena ucapannya yang sebenarnya tidak membantu. "Meski begitu dia tetap adik kesayangan kami!"
"Aku tidak menculik Baekhyun! Tanyakan sendiri padanya jika tidak percaya!"
Harus berapa kali Chanyeol menjelaskan jika dia sama sekali tidak memiliki niat menculik Baekhyun.
"Tidak usah banyak alasan!"
"Astaga! Sungguh, aku bersumpah tidak menculik Baekhyun!"
Entah siapa yang harus dikatakan berlebihan dalam hal ini. Wajar jika Jongin, Sehun, dan Mino sebegitu hebohnya ketika Baekhyun tiba-tiba hilang dan baru muncul bersama Chanyeol. Sepengatahuan mereka, Baekhyun bukan orang yang berpikiran dangkal dengan cara pergi tanpa pamit. Biasanya, si mungil itu selalu mengganggu Jongin, Sehun, Mino, Luhan, dan Kyungsoo dengan rengekannya yang menyebalkan untuk diberika ice cream atau cola saat suasana hatinya tidak begitu baik.
Dan ketika mereka mendapati kehadiran Chanyeol yang muncul dibelakang punggung Baekhyun, kesimpulan telah mereka ambil tanpa pernah mendengar penjelasan yang sebenarnya.
"Cepat mengaku sebelum aku memotong pisangmu!" Jongin bertingkah seperti seorang preman dengan ancamannya yang memalukan. Sehun yang berdiri di belakang hanya geleng-geleng kepala dengan kekonyolan Jongin yang sangat tidak cocok dengan wajah sangarnya.
Mendengar Jongin yang menjadikan masa depannya sebagai ancaman, sontak Chanyeol mengapit kakinya rapat-rapat dan dia mulai berkeringat dingin. Ancaman Jongin bisa saja memutus keturunan yang terkadang Chanyeol damba bisa hadir dari rahim Baekhyun.
"Aku berani bersumpah demi majalah dewasa yang ada di kamarku! Aku sama sekali tidak berniat menculik Baekhyun! Kalian harus percaya padaku!"
Sehun rasanya ingin terjun dari kolam ikan rumah Baekhyun melihat reaksi Mino dan Jongin yang seketika melebarkan manik matanya kala Chanyeol menyebut majalah dewasa. Jiwa laki-laki Jongin dan Mino tidak usah dipertanyakan lagi seberapa besar karena mereka adalah fans berat Rola Misaki, bintang porno Jepang dengan wajah sedikit bule.
"Siapa cover majalahnya?" Jongin mendadak antusias dan melupakan ancamannya pada masa depan Chanyeol.
"S-sebagian besar aku mengoleksi Rola Misaki dan Megu Fujiura."
"Ku kira seleramu Miyabi." Sehun mulai terpancing obrolan tidak jelas ini.
"M-miyabi sedikit redup ku rasa."
"Benarkah?" dahi Mino mengerut tidak simetris. "Tapi Megu Fujiura..."
"Dia manis." Tidak tau apa sebabnya hingga Jongin bersemu aneh ketika nama Megu Fujiura disebut. "Dan juga hot." Intonasi suaranya dibuat sehalus mungkin hingga Chanyeol merasa sedikit ngeri dengan keajaiban teman-teman Baekhyun ini. Tapi setidaknya mereka tidak lagi membahas tentang insiden 'penculikan' ketika pembahasan tentang bintang porno mulai menguar. Sepertinya Chanyeol harus berterima kasih atas eksistensi Rola Misaki juga Megu Fujiura karena sudah mengalihkan perhatian Sehun, Jongin, dan Mino.
Baru saja Jongin ingin menanyakan apakah Chanyeol juga mengoleksi JAV dengan bintang artis-artis tersebut, seorang gadis yang pernah di duga Jongin keturunan Angry Bird membuat nyalinya mendadak ciut. Bibirnya terbungkam dan sungguh malang nasib imajinasinya tentang Rola juga Megu.
"Jongin," Jongin sedikit kesusahan menelan ludahnya ketika suara Kyungsoo terdengar sangat mengintimidasi. Jangan lupakan bagaimana mata lebarnya itu menatap tajam seolah Jongin adalah tersangka kasus pedofil yang diburu polisi. "Aku mendengar semua. SE-MU-A-NYA."
Tamat riwayatmu, Jongin.
Diam-diam Chanyeol mengulum senyum geli. Dimana letak garangnya seorang Jongin beberapa lalu yang berniat akan menghabisi masa depan Chanyeol?
"Bibi meminta kalian semua masuk. Dan kau si kulit gelap," Jongin sedang berdoa semoga mata tajam Kyungsoo tidak membuatnya berdarah-darah. "Kita selesaikan urusan JAV-mu besok. Jangan menghindar atau aku akan menghancurkan masa depanmu!"
Telak!
.
Baekhyun sudah berganti pakaian dan kini duduk diapit oleh Kyungsoo dan Luhan. Mereka takut jika Baekhyun akan kabur lagi dan membuat masalah hingga ibunya merasa stress. Sebenarnya tidak perlu berlebihan seperti itu, karena Baekhyun (sekali lagi) tidak kabur. Dia hanya ingin memberi tambahan waktu untuknya juga sang ibu agar bisa mengintrospeksi lagi kesalahan masing-masing.
Mino, Jongin, Sehun, dan Chanyeol duduk di bawah dengan raut wajah yang sedikit menyebalkan. Mereka tidak terbiasa dengan suasana serius seperti ini. Terlebih wajah ibu Baekhyun yang sulit ditebak apakah sedang marah atau merasakan hal lain.
"Baekhyun," Baekhyun sedikit tersentak kala nada dingin ibunya menggema di telinga. Dia merasa seperti seorang terdakwa yang akan disidang karena kasus tak termaafkan. Sejujurnya ia tidak terlalu suka dengan raut serius yang tergambar pada wajah ramah ibunya. Ini menjadi yang kedua kali setelah sebelumnya saat Baekhyun berusia 10 tahun, ibunya menjadi dingin karena eksperimen Baekhyun menjadi Spiderman yang membuatnya harus menerima jahit di siku karena jatuh. "Tau, kan, jika yang kau lakukan itu tidak benar?"
Baekhyun mengangguk. Dia sudah pasrah jika setelah ini ibunya akan murka karena hal kekanakkan yang dilakukannya.
"Aku minta maaf."
Senyum kecil mengembang dari bibir ibu Baekhyun kala putri tunggalnya itu mau bersikap sportif.
"Ibu tidak ingin satu-satunya harta berharga yang ibu miliki menjauhi ibu. Kau tau, kan, seberapa besar rasa sayang ibu padamu?" Baekhyun mengangguk lagi. "Ibu akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia. Tidak peduli nyawa ibu taruhannya, ibu rela demi anak ibu."
Semua tersentuh dan mulai merenungkan setiap ucapan ibu Baekhyun.
"Jika anak ibu bahagia, maka ibu akan bahagia." Kyungsoo menggeser duduknya untuk memberi ruang bagi ibu Baekhyun duduk di samping putrinya. Jangan tanya bagaimana sekarang Baekhyun menunduk dan tangisnya pecah, dia cukup berdosa dengan semua keegoisan yang selama ini selalu menang hingga mengabaikan bagaimana perasaan ibunya. "Nak, jangan pernah meninggalkan ibu, ya? Ibu mungkin tidak sempurna dan ibu tidak bisa memenuhi kebutuhanmu secara maksimal, tapi percayalah jika ibu sangat menyayangimu. Ibu tidak mau anak ibu menderita dengan keegoisan ibu."
"Ibu..."
"Setelah ini ibu akan membuang semua keegoisan ibu untuk kebahagiaanmu. Kau tau bagaimana rasanya ditinggalkan? Sangat sakit, nak. Jangan tinggalkan ibu, ya? Ibu tidak tau harus mencari anak seperti Baekhyun dimana lagi. Mungkin nama Baekhyun begitu banyak di dunia ini, tapi bagi ibu hanya ada satu Baekhyun yang bisa membuat ibu bahagia."
"Ibu...maafkan aku.."
Seorang ibu, dimana kebahagiaan anak menjadi prioritas di atas segalanya. Pengorbanan tidak pernah menjadi penghalang demi sepucuk kebahagiaan anaknya. Kesedihan seorang anak adalah pukulan terberat seorang ibu. Ikatan batin yang kuat membuat semua rasa sakit anak turut dirasakan ibu.
Tangis Baekhyun semakin pecah kala ibu membawanya dalam pelukan. Tidak terhitung seberapa banyak dosa dan kesalahan yang ia buat hingga ibunya merasa kesakitan yang teramat parah. Seharusnya Baekhyun bisa lebih dewasa dengan masalah kemarin. Dia tidak bisa mengedepankan keegoisan ketika ibunya memiliki penjelasan atas kesalah pahaman yang telah terjadi.
"Jangan pergi lagi ya, nak? Ibu mohon, jangan tinggalkan ibu. Ibu mungkin akan mati jika kau menginggalkan ibu."
"Maafkan aku ibu..aku..aku..."
"Tidak, anak ibu tidak bersalah. Ibu sangat paham bagaimana perasaanmu, ibu yang salah. Maafkan ibu, ya?"
"Ibu..."
"Baekhyun," ibu mengusak air mata yang menggenangi pelupuk mata putrinya, "Ibu sudah resign dari kantor Paman Kim." Baekhyun cukup tercekat dengan keputusan itu. "Ibu tidak akan melakukan hal yang bisa membuatmu sedih."
"T-tapi,"
"Ibu akan mencari pekerjaan lain setelah ini."
.
.
Dua jam lalu Chanyeol baru pulang dari rumah Baekhyun. Sudut bibirnya tak berhenti terangkat meski pipinya sudah merasa sedikit kebas. Dia tidak tau akan mendapat suatu keadaan dimana untuk pertama kalinya ia merasa sangat tersentuh. Baekhyun dan ibunya adalah gambaran sebenarnya sebuah ketulusan. Tidak ada embel-embel yang merekat ketika hanya kebagiaan masing-masing yang menjadi prioritas.
Tidak munafik jika Chanyeol sangat mendamba keadaan seperti itu. Ia juga ingin pelukan seorang ibu dikala hati sedih atau usakan di puncak kepala ketika ia mendapat prestasi. Diam-diam Chanyeol menyimpan rindu yang sangat besar untuk ibunya. Tak banyak kata yang bisa di ungkapkan tapi yang jelas semua ini rindu. Sudah berapa lama ia tak bertemu dengan ibunya? Entahlah, Chanyeol sendiri tidak ingin menghitung waktu dan jarak yang sudah membentang.
Tanpa terasa setetes kerinduan itu keluar dari pelupuk mata Chanyeol. Dia merasa lemah dengan keadaan ini dan tidak tau bagaimana cara mengatasinya. Setaunya, rindu hanya bisa diobati dengan sebuah pertemuan. Tapi semua itu hanya sebentuk kemustahilan atau Chanyeol akan menyebutnya sebagai harapan kosong.
Lalu ketika Chanyeol akan menarik selimut untuk menemani tidur malamnya, getar dari ponsel di atas nakas membuat atensinya teralihkan. Diraihnya ponsel itu dan wajah Baekhyun muncul sebagai pertanda panggilan masuk.
"Ya, Baek?"
"Sudah tidur?"
"Belum. Aku baru saja dari kamar mandi."
"Berhenti berkata kotor jika di hadapanku, Chanyeol!"
"Kotor?" Chanyeol mengerutkan alisnya. "Aku baru saja mandi, Baek. Apanya yang kotor?"
Telak. Baekhyun sepertinya sedikit merasa malu karena dugaannya yang keliru. Chanyeol mengulum senyum gemas kala membayangkan wajah Baekhyun yang malu.
"Baek? Kau masih disana, kan?"
"Ya."
Chanyeol tersenyum. "Kenapa menelfon?"
"Tidak boleh?" Bukan Baekhyun namanya jika tidak bernada judes.
"Boleh. Sangat boleh." Kemudian hening lagi. Chanyeol merasa bodoh ketika hanya deru nafas Baekhyun yang terdengar. Ia tidak berkutik dengan segala perasaannya pada Baekhyun hingga otaknya kosong untuk memulai suatu pembicaraan. "Baekhyun,"
"Ya?"
"Besok mau ku jemput untuk berangkat sekolah?"
Chanyeol sedikit was-was dengan jawaban yang akan diberikan Baekhyun.
"Baek?"
"I-iya."
"Jadi..mau atau tidak?"
"Emm...terserah kau saja."
"Jadi, boleh?"
"Ya. Begitulah."
"Baiklah, besok ku pastikan tidak akan terlambat untuk menjemputmu."
"Chanyeol,"
"Ya?"
"Aku tutup telfonnya, ya? Ini sudah malam dan kau perlu istirahat."
"Kau mengantuk?"
"Emm, ya. begitulah."
"Tidurlah, jangan matikan telfonnya. Aku masih ingin denganmu."
"Tapi—"
"Boleh, ya?"
"Ya sudah kalau begitu. Aku tidur dulu, ya? Selamat malam, Chanyeol."
"Selamat malam, Baekhyun. Aku mencintaimu."
"..."
"Baek," tidak ada sahutan dari seberang sana, pun tidak ada deru nafas lagi yang terdengar. "Baekhyun? Kau tidak mati, kan?"
"Apa?!"
"Syukurlah.."
"Y-ya. Aku juga."
"Juga apanya?"
"Pikir saja sendiri! Aku mau tidur."
.
.
Pagi itu Baekhyun bangun lebih awal dari biasanya. Tubuhnya merasa segar setelah mandi dengan sabun aroma vanilla juga rambutnya yang menguarkan aroma strawberry dari shampoo. Bibir tipisnya tak berhenti bergumam kala tangannya sibuk menyisir rambut juga merapikan seragam sekolah yang ia kenakan.
Baekhyun membiarkan rambutnya terurai dan hanya memberi satu pita kecil di atas kepalanya. Beberapa kali mengalami kegalauan bagaimana seharusnya dia berpenampilan untuk sekolah pagi ini. Haruskah dia memoles bedak sedikit tebal? Ah, tidak. Itu sama sekali bukan style Baekhyun.
"Baekhyun! Ada Chanyeol di bawah!" teriak ibu dari bawah.
Chanyeol? Baekhyun mendadak menjadi gelisah dan dia tidak tau harus bagaimana. "Bernafas, Baekhyun. Tenang." Sekitar dua hingga tiga kali tarikan nafas yang ia gunakan, Baekhyun sedikit lebih tenang. Tidak pernah Baekhyun mengalami kegelisahan dan kegugupan ini ketika akan berangkat sekolah. Biasanya pilihan Baekhyun hanya polesan bedak sedikit tipis dan lipgloss peach juga parfum bayi dengan begitu acara berangkat sekolah tidak menjadi rumit.
"Baekhyun! Cepat turun!"
"Iya, Bu! Sebentar!"
Baekhyun sedikit lelah dengan kebingungannya hingga akhirnya dia memutuskan dengan pilihan yang biasanya dia pilih; polesan tipis bedak juga lipgloss peach.
Patutan dirinya dicermin cukup memuaskan dan Baekhyun berharap Chanyeol akan suka dengan penampilannya kali ini. Tunggu, kenapa Baekhyun memiliki harapan seperti itu?
"Pagi, Baek." Baekhyun sedikit kurang bisa mengontrol diri ketika Chanyeol menyapanya dengan satu senyum yang tampan. Sebisa mungkin Baekhyun menjaga kekuatan tubuhnya agar tidak oleng hanya karena aroma parfum maskulin Chanyeol yang menguar beserta eksistensi lelaki itu yang memunculkan banyak kupu-kupu di perut Baekhyun.
"Chanyeol sudah makan?" tanya ibu Baekhyun. "Kebetulan bibi membuat kimbab dan telur gulung. Mau?"
"Kami sudah terlambat, bu." Baekhyun melirik jam dinding dan benar saja, masih tersisa waktu sekitar 30 menit untuk mencapai sekolah sebelum pintu gerbang di tutup.
"Kalau begitu, ibu bawakan bekal saja, ya?" ibu segera kembali kedapur dan mengambil kotak makan berbentuk spongebob kesayangan Baekhyun.
Atensi Baekhyun yang semula terfokus pada tali sepatu mendadak berubah ke sebuah kotak berwarna pink yang ada di dekat istana Robert.
"Kau membawa Miko?"
Chanyeol menghembuskan nafas kesal mengingat ada kotak pink yang susah payah ia bawa kemari. "Bisa aku titip Miko di sini? Kau tau kan aku alergi bulu kucing dan Yoora noona memintaku menjaga Miko selama dia ada perjalanan bisnis ke Eropa."
Baekhyun mengangguk mantap bahwa ia amat sangat setuju jika Miko dipercayakan kepadanya. "Kau bisa percayakan Miko padaku dan Robert. Bukan begitu, Robert?"
Robert yang sedari tadi hanya duduk dengan kecanggungan di bulunya mulai meletakkan kepala dengan cara malu-malu. Jika bisa diberi kesempatan untuk bicara, dia akan sangat antusias dengan keputusan Miko di titipkan di sini yang sama artinya intensitas kedekatannya dengan Miko akan bertambah.
"Ini bekalnya. Ibu harap saat pulang isinya sudah habis."
"Kami berangkat dulu, ibu."
.
.
"Kau berjalan duluan!" perintah Baekhyun sesaat setelah turun dari motor Chanyeol. Matanya memicing ke kanan-kiri untuk memastikan keadaan bahwa tidak akan ada squad Seolhyun yang akan memergoki kedatangannya dengan Chanyeol.
"Kenapa tidak berjalan bersama saja?"
"Pokoknya kau jalan duluan!"
"Baekhyun..."
"Kumohon, aku belum siap menjadi bulan-bulanan kucing betina butuh belaian itu." puppy—eyes, sesuatu yang menjadi kelemahan baru Chanyeol demi menuruti semua permintaan si mungil. Sebenarnya apa yang harus ditakutkan? "Nanti pulang sekolah akan ku traktir ice cream strawberry. Ya?"
Chanyeol mendengus kesal. Well, Baekhyun adalah pengecualian yang kadang menggemaskan tapi juga menyebalkan. "Oke. Aku ke kelas dulu. Kau jangan macam-macam ku tinggal di belakang!"
"Siap, bos!"
"Ingat! Jangan macam-macam!"
"Iya, iya. Sudah pergi dulu sana."
Protektif, tapi Baekhyun suka. Dia sedikit merasa bersalah karena Chanyeol harus menjadi korban atas situasi ini. Tapi mau bagaimana lagi, Baekhyun sendiri sedang malas meladeni squad Seolhyun yang selalu haus darah untuk mengerjai Baekhyun.
Setelah Chanyeol berjalan lima meter di depanya, Baekhyun mulai menyusul di belakang dengan langkah was-was. Meski aura wajahnya masih sedikit judes dan menyebalkan, tidak dipungkiri jika dirinya masih takut kejadian penyerangan Seolhyun akan terjadi lagi. Setidaknya Baekhyun harus membalas semua itu dulu sebelum dia mendapat hinaan kedua kalinya.
"Baekhyun?"
Itu bukan suara Mino, bukan suara Jongin, bukan suara Sehun, apalagi suara Chanyeol.
"Hai, Baekhyun," Baekhyun menoleh ke belakang dan mendapati seorang lelaki dengan jaket baseball merah melekat di tubuh sedang berjalan mendekatinya. "Apa kabar?"
Tunggu, dia siapa? Kenapa sangat sok akrab hingga tidak ragu meletakkan tangannya di pundak Baekhyun?
"Kau siapa?"
"Lupa denganku?" lelaki itu membuka jaketnya dan memamerkan name tag bertuliskan Kim Jaehyun dengan sangat bangga. "Sudah mandi kembang?"
"Maksudmu?"
"Kemarin kau bau sekali. Perpaduan antara kopi, jus strawberry juga whipe-cream membuat baumu tidak enak."
"Bukan urusanmu!" Baekhyun menyentak tangan Jaehyun dan dia segera melenggang pergi.
"Mau kemana? Kita seharusnya mengobrol dulu,"
"Aku tidak punya waktu untuk mengobrol denganmu!"
"Jahat sekali. Tapi aku suka wanita sepertimu, Baekhyun."
"Baekhyun?!" Baekhyun memutar badan dan menatap Jaehyun dengan kekesalan yang membuncah. "SUNBAE! Baekhyun sunbae!"
"Sunbae?"
"Ya! Kau masih kelas 2 jadi harus memanggilku SUNBAE!"
"Err...bagaimana jika aku tidak mau? Tubuhmu sangat mungil dan tidak cocok jadi sunbaeku. Kau lebih cocok jadi kekasihku," lalu kekehan Jaehyun menjadi hal paling memuakkan bagi Baekhyun pagi ini.
"Dasar sinting!"
"ARGH!" satu injakan keras di terima Jaehyun sebelum Baekhyun berbelok masuk ke kelas. "BAEKHYUN-AA, SENANG BERKENALAN DENGANMU!"
Baekhyun berjalan menuju bangkunya dengan menutup telinga karena teriakan sinting Jaehyun di depan kelas. Seluruh atensi otomatis tertuju pada Jaehyun yang juga memberikan kiss-bye dan Baekhyun harus puas dengan wajahnya yang memerah karena malu. Lebih dari itu ketika Baekhyun tidak sengaja bertemu pandang dengan Chanyeol yang sudah duduk di bangkunya, dia merasa ada aura dingin yang menusuk ke tulang belakang.
.
.
Selama pelajaran berlangsung, Baekhyun merasakan aura dingin yang tidak enak di tengkuknya. Bukan karena ada makhluk halus yang membayangi, tapi karena tatapan Chanyeol di bangku pojok belakang yang membuat semua ini tampak menyeramkan. Sudah jelas ini semua karena adegan konyol yang di lakukan si adik kelas sinting. Chanyeol sama sekali tidak buka suara meski Baekhyun memanggilnya.
Saat istirahat juga begitu, Chanyeol tiba-tiba hilang dan Baekhyun tidak menemukan jejak keberadaannya. Baekhyun rasa dia perlu menjelaskan pada Chanyeol situasi sebenarnya sehingga lelaki itu berhenti memberi tatapan dingin. Tapi sepertinya Chanyeol terlalu cepat menyimpulkan sesuatu sehingga Baekhyun di abaikan. Menyebalkan!
Kesempatan Baekhyun yang tersisa hanya saat pulang sekolah. Sebelumnya saat pelajaran terakhir berlangsung, diam-diam Baekhyun mengirim pesan pada Chanyeol agar tidak seperti belut lagi karena ada sesuatu yang ingin di bicarakan. Baekhyun dengan sangat jelas melihat Chanyeol membuka ponselnya sesaat setelah pesan itu terkirim. Tapi tidak ada yang lebih baik dari pada mood Chanyeol yang sedang merajuk kecuali pengabaian yang semakin panjang.
Dan tepat ketika bel pulang berbunyi, Baekhyun sudah membereskan semua buku dan perlengkapan tulisnya sebelum Chanyeol kembali lepas dari jangkauannya. Tapi sialnya Chanyeol sudah lepas. Lelaki itu sudah melesak pergi keluar kelas tanpa menghiraukan panggilan Baekhyun.
"Sabarlah, Baek. Lelaki memang seperti itu." hibur Sehun yang hanya ditanggapi dengusan kesal Baekhyun.
Baekhyun tidak memiliki banyak pengalaman dengan lelaki merajuk. Terlebih cara Chanyeol yang merajuk itu sungguh luar biasa memusingkan. Maksudnya, pengabaiannya terhadap Baekhyun seharusnya ditentukan oleh penjelasan yang akan diberikan oleh Baekhyun. Tapi Chanyeol seolah berdiri dengan kesimpulannya hingga membuat Baekhyun tidak tau harus berbuat apa-apa.
Sepanjang perjalanan menuju gerbang dilewati Baekhyun dengan rutukan. Andai dia memiliki pengalaman yang lebih untuk menangani laki-laki yang merajuk pasti dia tidak akan serepot ini mendapat mengabaian dari Chanyeol. Lagipula si sinting Jaehyun itu benar-benar tidak tau malu. Bisa-bisanya berteriak dan bertingkah konyol tanpa peduli lingkungan. Astaga, rasanya Baekhyun ingin mencabik-cabik wajah Jaehyun yang menyebalkan itu.
"AW!" cola dingin di tangan Baekhyun itu tidak tau bagaimana bisa terlepas dan tumpah dengan sangat dramatisnya di baju seseorang. Baekhyun yang sadar dari lamunannya hanya bisa terkejut karena tidak tau akan mengotori pakaian seseorang dengan sebuah cola. "Kau sengaja, ya?!"
Sebenarnya Baekhyun ingin meminta maaf karena ketidaksengajaan itu. Tapi ketika wajah Seolhyun yang muncul, seketika Baekhyun bersyukur karena cola-nya mendarat di target yang tepat.
"Ups!"
"Dasar sialan! Kau sengaja, kan?!" mata Seolhyun menyalak lebar.
"Entahlah. Sengaja atau tidak sebenarnya aku senang colaku tumpah pada objek yang sesuai."
"Dasar tidak tau malu?! Aku tidak tau apa salah orangtua mu hingga bisa punya anak sepertimu!"
O-oh. Baekhyun tidak suka jika orangtua menjadi objek bahasan dalam kekesalan Seolhyun.
"Jaga ucapanmu, Seolhyun?!"
"Kenapa? Tch! Benar, kan, apa yang ku bilang?"
"Ku sarankan mulai saat ini kau menjaga mulutmu baik-baik. Atau.."
"Atau?"
Tangan Baekhyun mengepal sempurna karena senyum mengejek yang Seolhyun tunjukkan. Ingatannya atas insiden yang lalu juga karena Seolhyun menyinggung orang tuanya dalam masalah pribadi mereka, mulai memunculkan amarah.
"ATAU AKU AKAN MERONTOKKAN SEMUA RAMBUTMU!"
Jambakan yang diberikan Baekhyun cukup keras hingga Seolhyun harus menjerit kesakitan. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya mereka menjadi pusat perhatian siswa-siswa yang kebetulan akan pulang. Baekhyun tidak tanggung-tanggung menarik semua rambut Seolhyun dalam genggam tangannya hingga akhirnya dia terjatuh karena dorongan Seolhyun. Seluruh isi tas Baekhyun keluar dari tempatnya termasuk kotak makan berisi kimbab yang belum sempat ia makan.
Itu buatan ibu.
Melihat Baekhyun yang sedikit lengah, lantas Seolhyun mengambil kimbab yang berceceran itu untuk ia usak secara kasar ke rambut Baekhyun. Keduanya kembali beradu dalam pertandingan jambakan yang cukup menyakitkan hingga Baekhyun mendorong Seolhyun dengan kekuatan penuh. Seolhyun terjatuh dengan sangat malang dan kesempatan itu dimanfaatkan Baekhyun untuk mengambil tong sampah di sekitarnya lalu menumpahkan semua isi tong sampah di atas kepala Seolhyun.
"BERHENTI!"
Baekhyun menoleh kesamping dan mendapati Chanyeol sudah berdiri dengan wajah kaku, rahang mengeras, dan bibir terkatup rapat.
"Byun Baekhyun berhenti!" Teriak Chanyeol ketika Baekhyun akan menyerang Seolhyun lagi. Sedang Seolhyun yang tadi sama brutalnya dengan Baekhyun mendadak lemah dan mulai merintih kesakitan. Cih! Ingin rasanya Baekhyun meludah di depan wajah Seolhyun.
"Ikut aku!"
Barang-barang Baekhyun yang berserakan dipungut Chanyeol seadanya lalu dia menarik si mungil dengan rambut berantakan pergi dari sana.
.
.
"Lepaskan!" Baekhyun menyentak tangannya.
Mereka berhenti di parkiran motor yang tampak lengang. Baekhyun memegangi lengannya yang memerah karena cengkeraman tangan Chanyeol yang terlalu keras.
"Kenapa berkelahi dengan Seolhyun?"
"Apa pedulimu?!"
"Kenapa kau menumpahkan tong sampah pada Seolhyun?!
"Bukan urusanmu!"
"JAWAB AKU, BAEKHYUN!"
Baekhyun cukup tersentak dengan nada tinggi Chanyeol hingga membuat air matanya lolos. Tubuhnya masih bergetar hebat karena perkelahiannya dengan Seolhyun dan Chanyeol memperburuk semua itu dengan bentakannya.
"KARENA DIA SUDAH MENGHINAKU! DIA MENGHINA ORANG TUAKU UNTUK ITU AKU MENUMPAHKAN TONG SAMPAH PADANYA! SEHARUSNYA AKU MENUMPAHKAN KOTORAN ANJING, KUCING, KAMBING, SAPI, AGAR MULUTNYA BISA DIJAGA SEDIKIT SAJA!"
Nafas Baekhyun menjadi tidak teratur karena dia juga menjawab dengan nada tinggi. Emosinya memuncak dan pelampiasannya adalah berteriak sekeras-kerasnya.
"Baekhyun..." Chanyeol menyentuh pundah si mungil yang bergetar karena tangisnya.
"Kau juga!" Baekhyun menghempaskan tangan Chanyeol sedikit saja. "Kenapa menarikku kesini?! Bukankah kau sudah tidak memperdulikanku?! Pergi saja sana! Tidak usah pedulikan aku!"
"Baekhyun..."
Dada Baekhyun serasa sesak hingga tangisan saja tak cukup membuatnya lega. Segera setelah ia mengusap kasar air matanya, tas pink di tangan Chanyeol itu ia rebut dan berbalik untuk pergi. Persetan dengan semua ini karena Baekhyun sudah cukup sakit hati. Mulai dari pengabaian Chanyeol seharian ini sampai penghinaan dari mulut licik Seolhyun, Baekhyun muak dengan tingkatan yang sangat tinggi.
"Maafkan aku.." lengan tangannya di tarik kebelakang sehingga tubuhnya yang bergetar itu jatuh pada sebuah rengkuhan. "Maafkan aku, ya?"
Oke, Baekhyun semakin tak kuasa dengan tangisnya hingga ia mengerang sekuat tenaga di pelukan itu. Dadanya yang sesak butuh pelampiasan agar tidak ada lagi rasa sakit yang melingkupi dirinya.
"Maaf sudah mengabaikanmu."
"Kau jahat.." Baekhyun memukul kecil dada Chanyeol yang ia peluk.
"Iya, iya. Aku jahat. Untuk itu maafkan aku, ya?"
"Kau menyebalkan."
"Iya. Aku menyebalkan. Maafkan aku ya, sayang." Chanyeol mengusap surai berantakan Baekhyun yang sudah tertempel segala macam material kimbab malang itu. "Sudah puas membalas Seolhyun?"
Baekhyun mengangguk dengan senggukan yang memalukan.
"Kalau sudah," Chanyeol melepas jaketnya dan memakaikannya pada Baekhyun yang berantakan. "Sekarang kita pulang."
.
.
TBC
Jadi, CB disini udah salaing suka dan dibilang pacaran juga bolehlah... pokoknya mereka udah saling membuka hati dan saling peduli. Yang tanya kapan mereka jadian, aku harap kalian bisa tangkep itu dari seluruh perhatian CY juga feedback yg diberikan sama Baek :)
Karena terkadang ucapan 'jadian' itu akan kalah sama tindakan yg tulus #eyaaa
Yang kangen momen Miko-Robert, mohon bersabar ya. Hehe... mungkin chap depan akan muncul. Untuk sekarang Ayoung lagi pengen FULL CHANBAEK..
Kalo sudah baca, silahkan belai kotak review-nya.
.
.
Ddayanghe...
:*
