Pagi itu Chanyeol datang dengan wajah sedingin tubuh beruang kutub utara. Auranya sedikit menyeramkan bisa dirasakan kala lelaki tinggi itu berjalan dengan langkah lebar-lebar menuju sebuah kelas yang ada di ujung lorong.

Tanpa banyak berpikir, dia masuk dengan kekesalan yang menggumpal hingga urat tangannya mengepul. Tujuannya hanya satu, yaitu pada seorang gadis yang tengah duduk di bangku nomor dua dari belakang bersama beberapa squad-nya.

"Chanyeol!" suaranya terdengar bahagia ketika kunjungan Chanyeol adalah hal yang paling ia nantikan selama ini. Manik matanya melebar dan dia terlalu berharap kedatangan Chanyeol akan menjadi sesuatu yang membahagiakan. Tapi semua itu terbantah ketika Chanyeol membanting sebuah kardus berisi sepatu mahal dengan rahang mengeras.

"Aku akan langsung pada intinya!" tubuh Chanyeol condong kedepan dan sontak membuat nyawa gadis itu, Seolhyun, setengah melayang karena ngeri. "Selama ini kau ku biarkan karena aku tau kau dan teman-temanmu ini hanya sekumpulang orang tidak penting yang kebetulan diberi nyawa oleh Tuhan. Tapi ternyata salah, kau bahkan jauh lebih buruk dari seorang nenek sihir!" Gebrakan meja itu menjadi pertanda jika Chanyeol benar-benar murka. "Mulai detik ini, berhenti datang ke kelas dan meletakkan barang-barang tidak berguna itu di mejaku! Aku tidak butuh! Jika boleh ku beri saran, sebaiknya gunakan kebaikan itu untuk mengganti otakmu dengan otak kambing! Dan juga, ini yang harus kau ingat baik-baik sampai kau mati. Jangan pernah sekalipun menyentuh Baekhyun! Menyentuhnya sama saja mencari mati denganku! Ingat itu!"

Seolhyun kehilangan kata ketika akhir dari semua cercaan Chanyeol adalah bangku yang di tendang hingga jatuh. Jangan ditanya bagaimana sekarang keadaan jantung Seolhyun, gadis itu butuh pegangan agar gemetar di tubuhnya tidak membuatnya ambruk. Ancaman Chanyeol cukup telak!

Chanyeol cukup memiliki alasan yang logis mengapa dia harus datang secara langsung ke kelas Seolhyun dan memberinya peringatan keras. Selama ini dia hanya diam dan tidak memberi banyak respon mengingat Seolhyun adalah perempuan dan bukan kelasnya jika harus berkelahi dengan perempuan. Tapi setelah apa yang dialami Baekhyun hingga si mungil kesayangannya itu harus izin karena mendadak demam, Chanyeol tidak bisa diam. Seolhyun cukup tidak manusiawi dengan tindakannya pada Baekhyun.

.

"Hoi," Sehun menepuk pundak Chanyeol yang tengah menikmati makanannya di kavetaria. "Boleh duduk di sini?"

"Tentu. Silahkan." Chanyeol menggeser tempat duduknya dan memberi ruang untuk sahabat kesayangan Baekhyun.

"Sepi, ya, tidak ada Baekhyun."

"Ya. Sangat sepi." Sehun menangkap ada nada kesedihan di sana. Selama menjadi penikmat bagaimana kisah Baekhyun dan Chanyeol bergulir seperti drama memuakkan, Sehun bisa melihat jika Chanyeol tidak pernah main-main dengan Baekhyun. Lelaki itu seperti telah tersihir oleh Baekhyun hingga beberapa kali Sehun menangkap basah jika atensi Chanyeol selalu untuk Baekhyun.

"Luhan dan Kyungsoo bercerita padaku jika tadi pagi Seolhyun pingsan setelah kau menendang meja di kelasnya."

Senyum sepihak diberikan Chanyeol untuk kejadian itu. "Mulut wanita cepat sekali, ya?"

"Hei, bung, kita sedang hidup pada zaman dimana berbisik-bisik itu sama saja seperti berbicara di depan pengeras suara." Chanyeol terkekeh untuk analogi Sehun yang membingungkan. "Tapi sebenarnya aku cukup senang kau melakukan itu pada Seolhyun. Dia sudah sangat keterlaluan."

"Aku sangat marah melihat Baekhyun direndahkan seperti itu hanya karena hal tidak penting."

"—hal tidak penting itu dirimu jika boleh ku ingatkan." Sahut Sehun sambil menyikut ringan lengan Chanyeol dan disambut oleh kekehan kering dari Chanyeol.

"Apa yang dilakukan Seolhyun sudah termasuk kasus bullying yang parah. Apapun alasannya aku sama sekali tidak pernah suka dengan bully. Apalagi jika yang menjadi korbannya adalah Baekhyun. Sungguh, darahku meluap melihat apa yang sudah Seolhyun lakukan pada Baekhyun."

"Kau tau Chanyeol," Sehun membuka tutup cola yang ia bawa, menyesap sedikit isinya, dan dia mulai menebar pandangan lurus ke depan untuk memikirkan kembali sosok Baekhyun. "Sebenarnya Baekhyun itu cukup kuat untuk menghadapi Seolhyun. Aku yakin dia bisa lebih ganas dari menuang isi sampah di atas kepala Seolhyun."

Chanyeol tertawa kecil untuk bayangan yang mendadak muncul di otaknya; Baekhyun yang datang ke kelas Seolhyun dengan langkah berapi-api lalu kembali menjambak rambut Seolhyun hingga botak dan berakhir dengan tendangan pada tulang kering yang membuat Seolhyun menangis.

"Chanyeol," Sehun membenahi posisi duduknya, "Terima kasih karena telah menjaga Baekhyun untuk kami. Meski dia selalu menggunakan aku, Jongin, dan Mino sebagai tameng kekuatannya, tapi terkadang kami merasa tidak sekuat itu untuk melindungi Baekhyun. Sejak ayahnya meninggal dan keluarganya tidak ada lagi yang memperdulikan, Baekhyun memasang benteng tertinggi dan berlagak seolah dia tidak butuh orang lain. Dia keras kepala dan—ya, menyebalkan." Tepukan khas lelaki pada pundak Chanyeol menjadi akhir sebelum Sehun bersiap pergi dengan tongkat yang mengapit di lengannya. "Aku tidak perlu menjabarkannya terlalu jauh karena ku rasa kau sudah lebih dari cukup untuk tau bagaimana Baekhyun. Untuk itu, sebagai seorang sahabat juga seorang yang selalu menganggap Baekhyun hanya gadis kecil bertopeng kekuatan, aku sangat berharap kau bisa menjaganya. Mungkin terlalu cepat tapi kurasa hanya kau orang yang tepat untuk menjadi perlindungan Baekhyun yang sesungguhnya."

Sehun baru saja akan pergi dengan langkah sedikit keren setelah berbicara dengan cara yang bijak sebelum seseorang memanggil dan melambaikan tangan padanya. Sontak matanya melebar kala yang ia lihat adalah ibu Baekhyun yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah. Sehun tentu was-was dengan kedatangan ibu Baekhyun yang bisa dipastikan berhubungan dengan tragedi Baekhyun kemarin.

"Hai, Sehun, Chanyeol," tidak hanya Sehun, Chanyeol-pun bahkan terlihat sama terkejutnya dengan kedatangan ibu Baekhyun. Ini sesuatu yang wajar mengingat kemarin Baekhyun telah menumpahkan isi tong sampah pada Seolhyun. Dilihat dari kacamata manapun tindakan itu tidaklah benar dan kemungkinan akan terselip hukuman karenanya. "Kenapa melihat bibi seperti itu?"

Dua lelaki tinggi itu menggeleng kecil.

"Kepala sekolah kemarin menelfon bibi karena insiden smackdown yang dilakukan Baekhyun. Well, bibi memang tidak salah mendidik." Antensi Sehun dan Chanyeol teralihkan dengan nada ringan yang keluar dari bibir ibu Baekhyun. Jika yang membuat keributan itu Sehun, bisa dipastikan ia akan kehilangan uang saku selama 3 bulan sebagai hukuman. "Kalian sudah makan?"

Dua lelaki itu kembali menggeleng.

"Jja! Mari makan bersama bibi. Kebetulan bibi lapar. Kalian bisa pesan apa saja. Bibi yang akan membayarnya."

.

Robert sedang duduk di ujung sofa ketika Baekhyun turun dari lantai dua dengan wajah pucat. Majikan kesayangannya itu sedang demam dan tidak diizinkan untuk masuk sekolah sampai suhu tubuhnya normal.

"Robert," sebenarnya Robert masih ingin memperhatikan Miko yang sedang duduk sangat cantik di keranjang pink. Robert mengagumi setiap helai bulu Miko yang melambai manja, matanya yang kecoklatan, serta lekuk tiap tubuhnya yang mengalihkan dunia Robert. Sejak Robert pulang dari rumah majikan Miko dan beberpa hari dilanda kegalauan, Robert mulai memikirkan semuanya; perasaannya pada Miko dan orientasi seksualnya yang mungkin akan sedikit berbeda dari yang lain. "Ibu dimana?"

Ngeong~

"Kau juga tidak tau?"

Robert berpindah tempat ke pangkuan Baekhyun dan bergelung manja pada majikannya.

"Miko mana, Robert?" buntalan abu-abu sekutu Baekhyun itu menoleh ke keranjang pink yang ada di dapur. Wajahnya terlihat sangat mellow, dimana ketika dua maniknya menatap Miko akan ada kecemasan dan perasaan aneh dalam hati Robert. "Miko-ya.."

Ngeong~

Robert yang mulanya cukup damai ada di pelukan Baekhyun mendadak berpindah tempat sedikit menjauh ketika Miko datang. Pantat sintalnya berlabuh di karpet dan matanya masih bergerak gelisah. Seperti merasa ada mangsa yang akan balik menyergap padahal Robert adalah si jantan yang selalu sigap menghadapi musuh.

"Miko sudah makan? Eonni tadi meletakkan makanan sedikit banyak di kandangmu." Bulu Miko yang mulai panjang itu di usap lembut oleh Baekhyun dan menimbulkan 'kecemburuan kucing' yang dialami Robert. Bukan dalam konteks keegoisan, hanya saja Robert juga ingin melakukan hal itu. Terlebih melihat reaksi Miko yang sangat menikmati usapan itu hingga mulai meletakkan kepala di atas kaki Baekhyun. "Kucing manis... beruntung sekali jika ada yang bisa menikahimu, Miko."

Sontak mata biru Robert membola dan menatap tajam sang majikan yang tampak tidak peduli dengan reaksinya. Kegelisahan mulai merambat ketika Baekhyun mulai membahas soal pernikahan dengan jangka lebih jauh. Ini tidak bisa di biarkan atau Robert akan mengalami masa patah hati yang berkepanjangan. Untuk itu, dia segera melompat ke atas sofa dan mengeong dengan suara yang keras.

"Ada apa, Robert?"

NGEONG!

"Kau lapar?"

Jika selama ini Chanyeol selalu mengatakan bahwa Baekhyun adalah satu-satunya makhluk Tuhan yang bisa berbahasa kucing, ingin rasanya Robert berkata 'tidak' sekencang mungkin pada dunia. Baekhyun tidak se-peka itu untuk mengerti Robert. Dia tidak tau bagaimana rasanya hati yang di remuk-remuk ketika Baekhyun dengan sangat ringan berkata jika kucing betina tetangga memiliki tertarik dengan Miko. Apa-apaan ini? Robert tidak terima! Dia tidak boleh kalah apalagi dengan kucing betina!

NGEONG!

"Miko, kau tau Ashley, kan? Kucing betina milik Tuan Ryu, tetangga sebelah." Miko mendongak pada Baekhyun. "Kata Tuan Ryu, Ashley beberapa kali datang ke rumah dan menunggumu di depan pintu. Sepertinya dia ingin bermain denganmu."

NGEONG!

"Robert, ada apa?"

Miko sebenarnya tidak terlalu bodoh untuk mengerti mengapa Robert tiba-tiba berteriak dengan nada tertinggi, terlebih itu ia lakukan pada majikannya. Hanya saja Miko mencoba untuk tetap menjaga image mengingat selama ini Robert hanya jago kandang saja. Kucing itu malu-malu seperti kucing perawan dan tidak ada pergerakan berarti yang bisa membuat Miko yakin.

Raungan Robert terdengar menggelikan dan berisi penuturan cemburu yang tidak bisa dimengerti Baekhyun. Untuk itu, Miko menggeser tempatnya untuk memberi ruang dimana Robert bisa turut membujurkan tubuhnya di atas kaki Baekhyun. Poinnya bukan di situ sebenarnya, ini hanya sebuah kode dimana Miko lebih suka bermalas-malasan dengan Robert daripada meladeni ajakan main Ashley.

"Ah...jadi kau cemburu karena Miko tidur di atas kakiku?" Majikan tidak peka!

Diam-diam Robert merasa bahagia bisa berada sedekat ini dengan Miko. Selama ini dia hanya bisa mengumpat dengan bahasa kucing juga merasa tidak berguna karena hanya bertindak konyol di depan Miko.

.

Terhitung sudah hampir sepuluh hari ibu tidak bekerja. Bukannya malas untuk mencari atau berusaha dengan sewajarnya, tetapi mendapat pekerjaan di jaman seperti sekarang ini bukanlah hal yang mudah. Ada banyak pertimbangan yang di lakukan oleh beberapa perusahaan sebelum menerima seorang pegawai baru. Manusia awam pasti tau dan sadar, karena begitulah sistem yang berlaku saat ini.

Beberapa kali Baekhyun mendapati ibu yang duduk termenung di teras saat sore hari. Wajah cantiknya yang mulai tergerus usia menggambarkan betapa hatinya tidak sekuat kaki tegaknya. Beralibi dengan kata 'baik-baik saja' sudah terlalu sering Baekhyun dengar jika dia bertanya ada apa dengan ibu. Oleh karena itu, Baekhyun lebih memilih memberikan ibu waktu untuk dirinya sendiri. Mungkin sekedar merombak hati atau menata kembali puing-puing tak kasat mata yang menusuk tajam ke dalam jiwa.

"Kenapa tiba-tiba ingin makan di luar? Biasanya kau lebih suka makanan ibu." Sejam yang lalu Baekhyun menghubungi Chanyeol dan mengajak lelaki itu untuk membeli makanan di luar. Ibu sedang tidak dalam keadaan baik untuk memasak karena beberapa kali jarinya tak sengaja teriris ketika sedang memotong wortel atau ayam goreng yang bernasib hangus karena ibu melamum.

"Sedang ingin saja. Aaa.." potongan kentang goreng itu di sodorkan Baekhyun pada Chanyeol. Sisa saus yang tidak sengaja mengenai sudut bibir Chanyeol, Baekhyun usap dengan tissue. "Lagi pula sudah lama aku tidak makan di sini."

"Suatu kehormatan bisa menemani si cantik makan di sini."

Baekhyun sedikit tersedak oleh cola karena Chanyeol mengatakannya dengan gaya sedikit berlebihan. Tapi bagaimanapun Baekhyun suka, semacam bunga-bunga yang sedang di serbu kumpulan kupu-kupu. Menggelitik tapi menyenangkan.

"Chanyeol,"

"Hm?"

"Tadi aku melihat ibu melamun lagi." Desah nafas itu lolos dengan cara yang sedikit menyedihkan. "Ibu salah memotong tanaman, bahkan makanan Robert hampir saja tertukar dengan makanan kelinciku."

"Ibumu butuh istirahat."

"Tidak," lalu potongan kentang itu kembali Baekhyun berikan pada si tinggi, "Entah kenapa aku merasa ibu sedang memikirkan sesuatu."

"Akhirnya kau sadar juga."

"Maksudmu?" kini giliran Chanyeol yang mengusap sisa saus di sudut bibir Baekhyun. Jika Baekhyun melakukannya dengan tissue, maka Chanyeol melakukan dengan jarinya sendiri dan menyesap jarinya itu lekat-lekat. Sudah berkali-kali Chanyeol melakukan hal itu dan Baekhyun berkata jika itu jorok. Tapi Chanyeol adalah si telinga lebar yang terkadang tidak menggunakan fungsi telinganya dengan benar. Dia tetap melakukannya meski omelan Baekhyun akan berdendang setiap saat.

"Ibumu sedang berpikir bagaimana menata hati juga pikiran agar selaras. Kau dan segala kemelut dengan si Paman Kim, mau tidak mau menyita pikiran ibumu. Kau kira mudah melepas sesuatu yang sudah terlanjur tergantung demi satu kehidupan?"

Sesuatu yang terlanjur tergantung dan satu kehidupan, Baekhyun paham analogi itu.

"Lalu aku harus bagaimana?" yang lebih kecil mulai menerawang kembali apa-apa yang sudah terjadi. Keegoisannya juga pengorbanan ibu, semua beralasan dan saling bergantung satu sama lain. Tapi posisinya di sini, Baekhyun mendapat prioritas berlebih hingga yang terlanjur tergantung itu akhirnya di lepas.

"Mudah saja, sayang." Satu usakan Chanyeol beri pada Baekhyun. "Buka pikiranmu dan bergerak. Dunia tidak selalu menjadi milikmu karena kita hidup untuk saling membutuhkan. Bicaralah pada ibu apa yang seharusnya kalian bicarakan. Ibu juga berhak bahagia, sama sepertimu. Hanya saja Tuhan menggariskan kebahagiaan kita dengan cara yang berbeda dan tidak perlu meributkan hal itu."

"Dan soal Paman Kim...apa aku harus menyerah?"

"Memang selama ini kalian sedang berperang?" yang lebih kecil menggeleng. "Berbesar hatilah, sayang. Ibumu dan Paman Kim adalah dua orang dewasa yang sudah sangat tau bagaimana cara kerja dunia ini. Kau tidak perlu melepas semua karena aku percaya, seperti apa kehidupanmu kedepannya, ibu akan selalu berada di pihakmu."

"Jadi..."

"Jadi..." Chanyeol mengambil potongan terakhir kentang goreng, memberinya sedikit saus, lalu menyuapkannya pada Baekhyun. Tentu dengan sedikit adegan berlebih dimana Chanyeol mengenakan saus itu di sudut bibir Baekhyun dan dia kembali menggunakan jarinya untuk mengusap lalu menjilatnya. "Jadi, biarkan ibu dengan Paman Kim dan kita menikah."

Seharusnya Baekhyun sadar jika Chanyeol hanya memiliki batas keseriusan sepanjang kuku Miko, karena pada akhirnya omongannya akan sedikit belepotan dengan mata naik turun sedikit genit.

.

Sebuah gedung pencakar langit yang berdiri menjulang diantara gedung-gedung lain menjadi pijakan kaki Baekhyun selepas pulang sekolah. Semalam dia banyak berkemelut dengan hati juga pikirannya tentang sebuah keputusan. Mungkin akan terkesan berlebihan bagi orang lain, tapi bagi Baekhyun ini menjadi hal terberat. Bagaimanapun juga menjadi seseorang yang egois bukanlah pilihan yang benar. Terlebih ada korban yang dengan sangat lapang dada melukai hati juga perasaan hanya karena si egois. Dan Baekhyun ingin berhenti menjadi orang seperti itu.

Sedikit bergetar ketika Baekhyun menemui resepsionis dan berkata jika dia ingin bertemu dengan Kim Suho. Senyumnya dipaksa mengembang meski bibirnya sempat tidak tau bagaimana harus bereaksi jika sosok yang ingin ia temui itu mencul di depan matanya. Dan benar, ketika sosok pria muncul dengan menggunakan pakain formal serta rambut kecoklatan yang masih terlihat rapi untuk keadaan sesore ini, Baekhyun kembali berdegup. Bukan degupan yang biasa ia rasakan ketika bersama Chanyeol. Konotasinya tidak sampai seperti itu karena kenyataannya adalah Baekhyun seperti seorang yang menunggu hukuman gantung.

"Paman,"

"Baekhyun? A-ada apa kemari?"

"Bisa meminta waktu paman sebentar?"

Kim Suho, seseorang yang beberapa waktu belakangan membuat gejolak hubungan Baekhyun dan ibunya sedikit renggang. Lelaki yang beberapa kali menjadi beban pikiran ibu saat duduk termenung di teras—Baekhyun merasakan semua itu.

"Ya. Kita ke ruangan paman saja." Mereka berjalan masuk ke sebuah ruangan yang ada di ujung lorong dengan pintu tinggi berornamen klasik. "Lisa, tolong bawakan minuman untuk tamuku." Kata Suho pada seorang wanita yang Baekhyun yakini itu adalah sekertarisnya. "Kau baru pulang sekolah?"

Baekhyun mengangguk kecil. Beberapa kali dia kesulitan menelan ludah dan mulai tidak tau bagaimana lidahnya akan bertemu sebuah kata pembuka yang pas untuk mengutarakan niatnya. Sejujurnya Baekhyun tidak ingin terlalu bertele-tele agar semua yang menjadi beban pikirannya bisa segera hilang.

"Paman, bisa aku langsung bicara?"

"Ya, silahkan." Senyum Suho adalah sejenis senyum arif yang sangat cocok dengan jabatannya sebagai seorang pemimpin.

"Ini tentang...ibu." Baekhyun sedikit menggantung kalimatnya. Sedikit banyak ia menanti reaksi yang akan di tunjukkan lelaki paruh baya di hadapannya itu.

"Ya, ada apa dengan ibumu?"

"Bisakah paman memberi ibu kesempatan untuk bekerja lagi disini? Paman bisa menganggapku pengemis dengan meminta seperti ini, aku bisa terima. Asalkan paman mau memberi ibu kesempatan untuk bekerja di kantor paman, paman bisa menganggapku apa saja."

Baekhyun merasa urat malunya sudah putus, tapi dia tidak peduli dengan itu semua ketika bayangan ibunya yang tampak menderita mulai melayang. Anak mana yang tidak merasa sakit jika melihat ibunya selalu dibelai angin kesedihan?

"Ibumu yang memutuskan untuk keluar dari sini."

"Ya, aku tau. Ibu melakukan itu semua demi aku. Untuk itu, aku meminta pada paman untuk memberikan ibu pekerjaan lagi." Baekhyun meremas gelisah ujung rok sekolahnya hingga tangannya memucat. "Paman, maaf atas semua tindakan egoisku pada ibu dan paman. Ibu sudah banyak menderita karena aku dan ya—bisakah paman kabulkan permintaanku? Karena...karena.."

"Karena apa?"

Baekhyun menarik nafas sejenak sebelum akhirnya ia menemukan lidah untuk kembali bicara. Ini sedikit berat tapi bagaimanapun juga menjadi egois bukanlah pilihan. Baekhyun sangat tau bagaiamana perasaan ibunya dan dia tidak ingin hidup di atas pengorbanan ibu yang besar. Dia akan mencoba lapang dan menerima semua garis takdir ini.

"Karena...aku telah salah membenci perasaan ibu pada paman. Kegoisanku sudah membutakan segalanya dan membuat ibu juga paman harus berkorban tentang perasaan kalian. Untuk itu, aku akan mencoba membuka pikiran juga hatiku. Aku tidak akan membatasi perasaan paman pada ibu, begitu juga sebaliknya."

.

Baekhyun baru saja keluar dari kamar mandi ketik Jaehyun berlalu. Atensi lelaki itu sontak berpindah dari lolipop yang di kulumnya menuju Baekhyun yang sedang merapikan seragamnya.

"Kita memang berjodoh."

Adik kelas bodoh ini lagi. Baekhyun tak terlalu menghiraukan karena dia lebih memilih membenarkan tali sepatunya lalu segera pergi dari adik kelas menyebalkan ini.

"Mau kemana, Baekhyun?"

"SUN-BAE!" Baekhyun membolakan matanya kesal.

"Kebetulan aku belum makan siang, mau menemaniku makan?"

"Kim Jaehyun," Baekhyun berkacak pinggang dengan dengusan nafas kesal. "Bisakah kau lenyap dari bumi ini?"

"Yakin ingin aku lenyap dari bumi? Nanti jika kau rindu, bagaimana?"

"Persetan dengan mulutmu!" Baekhyun sudah tidak tahan dengan tingkah konyol anak ini. Berkali-kali sudah ia katakan untuk berada pada radius terjauh atau Baekhyun akan murka. Sebenarnya bukan Baekhyun, tapi Chanyeol yang terkadang memiliki amukan cemburu yang luar biasa hebat. Tak terhitung sudah berapa kali Jaehyun mendapat ancaman dari Chanyeol untuk tidak mendekati Baekhyun, tapi sepertinya hanya dianggap Jaehyun sebagai long-longan semut perawan yang tidak akan terdengar oleh telinga manusia.

Jaehyun seperti memiliki nyali setebal baja dan ketakukan sebesar biji jagung. Dia tidak pernah repot-repot menanggapi gertakan Chanyeol karena targetnya bukan untuk membuat amarah Chanyeol meluap, tapi untuk mengusik si mungil cantik yang sedari awal sudah membuat atensinya teralihkan.

"Ayolah, aku serius denganmu." Jaehyun mencekal tangan Baekhyun dan menariknya ke lorong kecil di antara perpustakaan dan lab bahasa. "Baekhyun, aku sudah menyukaimu sejak awal."

"Itu urusanmu."

"Dan aku ingin kau jadi kekasihku."

"Bicara saja dengan tembok."

"Aku serius." Wajah jenaka Jaehyun seketika berubah menjadi seserius ucapannya. Baekhyun sedikit tercekat dengan hal itu namun ia bisa mengontrol diri dengan sangat baik.

"Dan sekali lagi ku katakan, itu urusanmu." Baekhyun melepas cengkeraman tangan Jaehyun di lengannya, "Dengarkan aku. Aku sudah punya kekasih dan aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti mendua—itu bukan styleku."

"Aku bisa jadi lebih baik dari kekasihmu."

"Lakukan itu pada orang lain. Karena seburuk apapun Chanyeol, aku tetap tidak akan melakukan kebodohan yang bisa merusak kepercayaan Chanyeol padaku. Jadi," Baekhyun mendorong tubuh Jaehyun, "sebaiknya kau berhenti menggangguku."

Seperti itulah kemudian Baekhyun pergi meninggalkan Jaehyun yang mendesis tidak terima. Tidak perlu dipikirkan terlalu jauh karena bagi Baekhyun, urusan Jaehyun tidaklah menjadi prioritas untuk ia urus. Dia lebih memprioritaskan keberadaan Chanyeol yang masih saja di kerubungi oleh beberapa kucing-kucing betina gatal yang butuh belaian. Tidakkah mereka takut dengan keberadaan serigala betina yang bisa meraung dan mencabik mereka habis-habisan?

"Sedang makan, ya?" Baekhyun sengaja mengambil duduk di samping Chanyeol dengan jarak yang cukup dekat.

"Mau?" Chanyeol menyodorkan sepotong ayam goreng dan di terima Baekhyun dengan suka cita. Sebenarnya itu sebagian kecil ajang untuk membuat gerah para kucing betina haus belaian agar berhenti mengekor pada Chanyeol. "Dari mana saja?"

"Kamar mandi."

"Ku kira dari ruang guru. Ku dengar pembukaan seleksi beasiswa untuk kuliah di luar negeri akan segera di buka."

"Nanti aku akan kesana." Baekhyun mengambil sebutir nasi yang tertinggal di sudut bibir Chanyeol dan memakannya. Dulu dia berkata itu jorok, tapi sepertinya Baekhyun mulai tertular kebiasaan Chanyeol yang satu ini. "Kau tidak ingin ikut?"

"Kakek sudah mendaftarkanku ke salah satu universitas di sini. Kau sendiri, jadi ikut beasiswa ke Inggris?"

"Em. Ya. begitulah."

"Kenapa harus di Inggris? Kenapa tidak di sini saja?"

"Kampus di sana bagus, Chan."

"Di sini juga bagus."

"Tapi di sana adalah kampus impian ayahku. Ibu pernah bercerita jika impian ayah adalah melihatku bisa lulus dari universitas itu."

"Jadi kita akan berhubungan jarak jauh?" mulut Chanyeol yang baru saja selesai menelan makanannya mulai mengerucut.

"Hanya sebentar. Lagipula, kesempatanku bisa diterima di sana satu banding seribu. Belum tentu aku bisa lolos karena aku yakin sainganku sangat banyak. Dan...apa salahnya kita berhubungan jarak jauh? Bukankah itu bisa menjadi momen untuk menumpuk rindu?"

"Kau kira menumpuk rindu itu enak?"

"Kau pernah merasakannya? Dengan siapa? Mantan pacarmu?"

Chanyeol mendadak gelagapan dengan tingkahnya. Tidak di sangka respon Baekhyun akan sangan cepat dan sejauh itu. Alhasil, Chanyeol hanya bisa mengalihkan atensinya pada sisa cola dikalengnya daripada menatap picingan curiga dari mata Baekhyun. Itu sungguh menyeramkan, kawan.

.

Ujian akhir semakin dekat dan intensitas belajar harus ditingkatkan. Tidak ada lagi acara bermain atau sekedar kumpul dengan teman-teman karena ini semacam keadaan waspada. Baekhyun mulai menata kembali jam belajarnya dan mengurangi waktu untuk sekedar bermain dengan Robert, mengusik teman-temannya dengan rengekan yang memuakkan telinga, juga waktu yang mendadak terselip sebagai jadwal bersama Park Chanyeol.

Tidak ada ungkapan cinta sebagai simbol dari Chanyeol maupun Baekhyun. Oh, ada. Dulu Chanyeol sempat mengatakannya tapi Baekhyun sama sekali tidak menanggapi. Bukan karena dia sok jual mahal atau Baekhyun yang terlalu terbelit dengan gengsinya, hanya saja jaman sekarang yang terpenting adalah bagaimana Chanyeol bisa menempatkan diri sebagai lelaki yang ingin memiliki hubungan dengan Baekhyun. Usia mereka masih terbilang muda untuk mengaplikasikan kata 'serius' dengan makna yang sebenarnya, tapi juga bukan lagi untuk main-main karena sebuah perasaan bukanlah arena bermain.

Baekhyun tidak sepenuhnya menolak keberadaan Chanyeol. Dia bahkan sangat terbuka tapi dengan cara yang cukup menjengkelkan. Tapi tidak juga selalu seperti itu, karena ketika Chanyeol sedikit menyimpang dari tingkahnya sehari-hari, maka Baekhyun menjadi yang pertama menyadari itu semua. Seperti sekarang, setelah hampir menunggu di depan rumah dan akhirnya memutuskan berangkat sekolah dengan bis, Baekhyun tau sedang ada yang tidak beres. Terlebih ketika sampai di kelas tidak ada sosok tinggi menyebalkan yang siap mendapat semburan amarah si mungil karena tidak kunjung datang menjemput.

"Chanyeol kemana, Baek? Hari ini ada tes speaking tapi dia tidak masuk." Tanya Sehun.

Baekhyun menggeleng dan dia juga tidak tau. Sepanjang perjalanan ke sekolah tadi, Baekhyun tidak pernah lepas dari ponselnya untuk menghubungi si tinggi yang mendadak hilang ditelah kucing. Biasanya tidak lebih dari dua detik, panggilan Baekhyun akan mendapat respon 'hallo, sayang. Pacarmu disini.'. Tetapi tidak ada respon seperti itu karena hanya nada tunggu panjang yang terdengar.

Baru saja Baekhyun ingin memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas ketika Mr. Joe masuk, sebuah pesan masuk dari Chanlove. Itu bukan Baekhyun yang menulisnya, tapi Chanyeol. Sempat ada perdebatan kecil tentang itu tapi pada akhirnya Baekhyun mengalah karena dia tidak ingin direcoki dengan Chanyeol yang merajuk. Lagipula nama itu juga lucu—Baekhyun dibuat tersenyum geli karena hal itu.

Maaf, sayang. Aku baru bangun.

Siapa? –Baekhyun mendengus kesal untuk balasannya yang ini.

Marah, ya?

Tidak.

Kau marah

Haruskah menggunakan sebuah emoticon di saat seperti ini?

Baru saja Baekhyun akan mengumpat dalam pesannya ketika Chanyeol mengirim satu pesan lagi yang membuat Baekhyun melebarkan manik mata dan sedikit panik di gerak tubuhnya.

Semalam aku tiba-tiba demam dan muntah. Bahkan sekarang aku sedang di infus. Jadi maaf tidak bisa menjemputmu.

Kenapa tidak bilang dari semalam? Bagaimana keadaanmu sekarang? Susah minum obat? Nanti sore aku akan kerumahmu.

.

"Baekhyun? Masuk." Yoora mencium pipi Baekhyun sebelum membiarkan gadis itu masuk. "Lama tidak bertemu, kabarmu baik?"

"Baik, eonni."

"Kakek!"

Kakek? Mata Baekhyun membulat ketika Yoora menariknya keruang tengah dimana ada seorang lelaki di pertengahan usia 60 tahunan tengah duduk sambi l memeluk kucing. Dan kucing itu Miko yang sudah di ambil yoora beberapa hari lalu dari rumah Baekhyun.

"Ini Baekhyun yang pernah kuceritakan pada kakek."

Apa yang sudah eonni ceritakan?

Baekhyun membungkukkan sedikit tubuhnya dan berucap salam sesopan mungkin. Tak lupa juga satu senyum manis yang selalu diajarkan ibu jika sedang menyapa orang yang lebih tua. Tapi poinnya bukan disitu sebenarnya. Mari tengok bagaimana degup jantung Baekhyun yang berdetak tidak normal kala sepasang mata renta nan tajam itu mengintimidasi dirinya. Seratus persen Baekhyun yakin tidak salah kostum dan tidak menggunakan parfum yang aneh. Dia sempat mandi dengan sabun aroma vanilla, mencuci rambut dengan shampo aroma strawberry, juga mengenakan parfum aroma mawar paris yang pernah dibilang Chanyeol jika itu aroma yang sangat cocok untuk Baekhyun.

Apa karena sikap Baekhyun? Tapi dia baru kali pertama bertemu dengan Kakek Yoora eonni yang otomatis juga kakek Chanyeol. Dia bahkan baru mengucap salam dan tidak ada interaksi lain yang patut dikoreksi kesalahannya. "Jadi kau Baekhyun-ie?"

Baekhyun-ie?

"I-iya. Baekhyun-ie." Senyum Baekhyun sedikit kaku dan itu mengundang Yoora untuk sedikit tertawa.

"Sini, duduk." Kakek menepuk tempat kosong yang ada di sampingnya. Tunggu, Baekhyun harus duduk di samping kakek Chanyeol? Astaga, tolong siapapun selamatkan Baekhyun!

Gambarannya seperti ini; maafkan Baekhyun jika ini terkesan tidak sopan dan tidak menghormati orang yang lebih tua. Duduk di samping seorang kakek dengan wajah galak juga bibir kaku yang sedari tadi menyunggingkan senyum beserta sepasang alisnya yang menukik tajam seperti arena balap. Sekali lagi tolong maafkan Baekhyun karena penampilan kakek Chanyeol memang seperti itu adanya.

"I-iya, kakek?"

"Kakek?" Lelaki renta itu mengernyitkan dahinya.

"A-ah? P-paman?"

"Paman?"

Baekhyun menggigit bibirnya—merasa sudah melakukan kesalahan terbesar dengan memanggil 'paman' hingga mata kakek Chanyeol itu membulat sempurna. Jika setelah ini dia di usir dengan sangat tidak layak, Baekhyun tidak akan menuntut apa-apa atau tidak akan mengajukan laporan tentang perbuatan tidak menyenangkan. Karena memang Baekhyun sendiri yang merasa kelewat tidak sopan hingga membuat lelaki renta itu tampak marah.

"Maaf. Maafkan aku." Ucapnya sambil membungkuk berkali-kali.

"Sudah, sudah." Yoora yang sedari tadi terkikik geli mulai menengahi. "Panggil 'kakek' saja, Baekhyun. Dan kakek juga, kenapa jadi sangat hobi menjahili anak muda?"

"Siapa tau kakek juga bisa kembali muda." Baekhyun sedikit lega setelah melihat lengkungan senyum kakek yang mematahkan segala asumsi sepihaknya. "Mau bertemu Chanyeol, kan?"

Baekhyun mengangguk ragu. Ya, niat awalnya dia memang mau bertemu Chanyeol dan mematahkan leher lelaki itu karena tidak memberi kabar jika sedang sakit. Maksudnya, kekhawatiran Baekhyun benar-benar bukan sesuatu yang bisa di tarik ulur dengan sedemikian konyol ketika Chanyeol mulai menjadi prioritasnya. Untuk itu, dengan keberanian yang sudah terpompa sebegitu besarnya, dia datang dengan satu kotak rasa khawatir beserta paper-bag berisi makanan. Tapi setibanya di sini, dia sedikit mendapat ujian dengan kehadiran kakek Chanyeol yang baru pertama ia temui.

"Dia sedang terkapar tak berdaya di kamar. Anak bodoh itu masih suka bermain hujan meski tau tubuhnya rentang demam." Kakek berdecak kesal mengingat tingkah cucunya yang masih dianggap sedikit kekanakan. "Baekhyun,"

"Y-ya, kakek?"

"Santai saja, Baekhyun. Tak usah gugup."

Lagi, Baekhyun tersenyum kikuk di antara perasaaan canggungnya duduk dekat kakek Chanyeol.

"K-kalau begitu, a-aku akan pulang. Eonni, minta tolong ini berikan pada Chanyeol. Aku membuatkan bubur juga sup jagung."

Paper-bag itu Baekhyun serahkan pada Yoora tapi justru di tolak. Yoora malah mengambil tas kecil yang ada di meja, mengenakan coat panjangnya, dan membantu kakek berdiri dari tempat duduknya.

"Bagaimana jika kau berikan sendiri pada Chanyeol? Kebetulan aku ada janji makan malam di luar dengan kakek."

"Benar. Kau berikan sendiri saja. Siapa tau anak manja itu bisa cepat sembuh jika kau yang memberikannya secara langsung."

"Kami pergi dulu ya, Baekhyun. Titip Chanyeol sebentar."

Mulut Baekhyun menganga dengan sangat tidak anggun. Well, Baekhyun tidak begitu paham dengan ini semua. Maksudnya, bagaimana bisa—ah sudahlah, dia mau berteriak protes tidak akan di dengar olehYoora dan kakek karena mereka sudah melenggang pergi.

.

Pintu jati tinggi dengan sticker Naruto di lantai 2 rumah megah ini sangat dikenal Baekhyun siapa pemiliknya. Ya, Baekhyun tidak asing lagi karena beberapa kali datang kesini dan menggunakan kamar itu. Telinganya ditempelkan sebentar ke daun pintu dan tidak ada kegaduhan yang berarti. Karena biasanya si pemilik kamar akan sibuk dengan beberapa instrumen musiknya atau umpatan tidak berarti karena karakter yang dimainkan di PS mengalami kekalahan.

"Chanyeol…" Baekhyun mengetuk sebentar.

Tidak ada jawaban.

"Chan…" diketuk lagi pintu itu tapi tetap tidak ada jawaban. Hingga akhirnya perlahan Baekhyun membuka pintu dan menemukan seseorang sedang menggulung tubuh di atas tempat tidur dengan wajah pucat.

"Jadi kau benar sakit?" Baekhyun menempelkan telapak tangannya di dahi Chanyeol.

"Baekhyun?"

"Tidur saja. Tidak usah bangun."

"Sendiri saja?"

"Tadi di antar sama Brad Pitt."

"Aku bertanya serius, Baekhyun."

"Aku juga menjawabnya serius, Chan."

Lalu lelaki setengah lemah itu berusaha memicingkan matanya. Ada kecurigaan yang membuat naluri cemburunya menguar tapi tidak bisa dia ekspresikan dengan begitu kentara karena keadaannya yang lemah. Jika dia sedang sehat, bisa dipastikan akan ada adegan dimana Chanyeol seperti cacing kepanasan yang di taburi oleh garam cemburu.

Sikap protektifnya pada Baekhyun begitu wajar mengingat bagaimana sulitnya memenangkan hati gadis itu. Tidak hanya itu, semua karena Chanyeol benar-benar tidak ingin ada yang berani mencolek apalagi bermain api dengannya jika menyangkut Baekhyun. Si mungil kesayangannya itu sudah memiliki hak paten yang tidak bisa di ganggu gugat oleh siapapun. Jika ada yang berani, maka sama saja mencari mati dengan kecemburuan Chanyeol. Well, untuk bagian ini Chanyeol bisa terima jika di katakan berlebihan.

"Jangan-jangan kau kesini di antar Jaehyun?"

Baekhyun mendesah jengkel. Kenapa topik tentang Jaehyun di angkat ke permukaan lagi? Bukankah mereka telah sepakat jika Jaehyun atau siapapun itu tidak ada yang perlu di khawatirkan.

"Kalau iya kenapa?" tantang Baekhyun.

"Baekhyun..sudah ku katakan jik—"

"Berisik!" Baekhyun menyela setelah sibuk dengan kasak-kusu dari paper-bagnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak makan berisi beberapa makanan yang sudah ia buat bersama ibu untuk si tinggi yang sedang sakit. "Makan dulu. Aku sudah buatkan spesial untukmu."

"Jawab dulu..."

"Apanya yang harus di jawab?"

"Kau berangkat dengan Jaehyun atau tidak?"

"Astaga! Haruskah memperdebatkan hal itu?"

"Ya! Harus! Wajib!"

Jika Chanyeol tidak sedang sakit dengan wajah pucat dan tubuh lemah, bisa dipastikan perdebatan ini akan panjang dan berakhir dengan Baekhyun yang tidak mau bertemu Chanyeol. Tapi karena lelaki itu sedang tidak dalam keadaan baik, Baekhyun akan mengalah. Dia sedang malas ribut.

"Aku naik taksi. Sendiri. Tanpa Jaehyun. Puas?"

Chanyeol yang semula menyalak di antara mata sayunya, kembali terbaring lemah dengan senyum lega mendengar gadisnya tidak bertindak sesuatu yang mengkhawatirkan. Sebenarnya dia tidak perlu bertindak sejauh ini mengingat Baekhyun menggenggam seluruh kepercayaannya, tapi cemburu tetaplah cemburu. Apalagi belakangan ini Jaehyun sering membuat Chanyeol gila karena selalu mendekati Baekhyun.

"Kau masak apa?"

"Masih mau makan?"

"Iya. Mau.. aku lapar."

"Makan sendiri."

"Tidak mau.."

"Lalu?"

Baekhyun tidak pernah tau jika Chanyeol akan semanja ini. Ia kira si dingin kutub utara ini akan bertindak seperti biasa—menenteng tinggi-tinggi aura dinginnya dalam keadaan seburuk apapun. Tetapi demam telah membuat semua itu runtuh tak bersisa hingga meninggalkan si manja yang meminta perhatian penuh.

"Kau menyuapiku."

"Ya kalau aku mau."

"Baekhyun..."

Oh, astaga. Baekhyun seperti sedang merawat balita sakit yang sikap manjanya akan seburuk petir di siang hari. Di ambilnya satu sendok isi kotak makan itu dan di berikannya pada si manja. "Kata kakek kau sakit karena hujan-hujan. Benar?"

"Kau bertemu kakek?"

"Hm." Selembar tissue di ambil Baekhyun untuk menghapus sisa makanan yang ada di sudut bibir Chanyeol sebelum ia menyuapinya lagi. "Lain kali tidak usah hujan-hujan. Langsung saja berendam di kolam sehari semalam."

"Bermain hujan itu asyik, Baekhyun. Kau harus mencobanya."

"Lalu berakhir demam sepertimu sekarang ini? Tidak. Terima kasih."

"Kalau aku tidak demam, mungkin sekarang kau tidak akan datang kesini dan membawakan makanan untukku."

"Tck. Percaya diri sekali. Ini ibu yang memasaknya, omong-omong."

"Ibu mertua memang terbaik."

"Chanyeol..."

"Ya?"

"Habiskan makananmu. Berhenti berkata omong kosong."

"Apanya yang omong kosong?" Sekiranya makanan itu terbuat dari bahan-bahan khusus yang bisa mengembalikan energi Chanyeol seperti semula, karena sekarang lelaki itu mulai bangun dari posisi tidurnya dan mengintimidasi Baekhyun lewat tatap matanya yang masih sayu. "Kau tau, kan, kita sudah dewasa?"

Seperti ada hawa tidak menyenangkan dengan tatapan Chanyeol. Bukan dalam konteks buruk, tapi seperti firasat jika mereka akan masuk pada sesuatu yang lebih dewasa dari usia mereka. Ini sebuah insting dimana Baekhyun banyak tau dari film juga novel jika seorang laki-laki menunjukkan sisi seriusnya, maka hanya ada dua kemungkinan. Bercanda atau benar-benar serius. Tapi haruskah situasi seperti ini pantas untuk dibuat bahan candaan? Maksudnya, Chanyeol sangat tau jika Baekhyun memiliki pemikiran tidak ada sesuatu yang bisa digunakan sebagai bahan candaan jika itu masalah hati.

"C-chanyeol..."

"Aku serius denganmu, sayang. Setelah lulus SMA, aku akan kuliah dengan tekun lalu mengambil S2 di Belanda. Aku akan menjadi arsitek sukses dan akan pulang untuk melamarmu. Atau, mungkin di awal masa kuliah S2 ku nanti, aku akan menikahimu lalu membawa serta ke Belanda."

Siapa yang tidak tercengang dengan pernyataan seperti itu? Ucapan keseriusan yang dikatakan Chanyeol bukan semata sebuah janji manis anak SMA. Karena sekali lagi, Chanyeol sangat tau jika Baekhyun tidak suka bermain-main dengan ucapan. Maka dari itu, jika benar itu niat tulus Chanyeol, Baekhyun tidak akan menaruh ragu.

Baekhyun telah menyaksikan seberapa besar Chanyeol rela berlari di atas bara ketidakpedulian hanya untuk merebut hatinya. Lelaki itu mati-matian menyediakan ruang dan waktu hanya untuk memenangkan hati Baekhyun dan sejauh ini perjuangannya membuahkan hasil yang manis.

Lalu yang terjadi setelah itu adalah keterdiaman Baekhyun. Dia tidak menemukan lidah untuk membalas apalagi mengatakan ini semua omong kosong. Degup jantungnya seolah bercerita jika ketulusan Chanyeol telah merubah setiap sel dalam tubuh Baekhyun untuk menerima rangsangan dalam konteks cukup normal. Hingga akhirnya ketika Chanyeol menangkup pipi Baekhyun dengan cukup dramatis, gadis itu membolakan matanya. Bahkan ketika Chanyeol berada pada jarak terdekat untuk bibir Baekhyun, gadis itu hanya bisa bergumam dengan keterkejutan yang menggemaskan,

"Chan.."

"Hm?" nafasnya yang panas bisa dirasakan pipi Baekhyun.

"Ada kecoa di belakangmu."

KE-CO-A?

Sesuatu yang sanggup mengalihkan perhatian Chanyeol dari bibir Baekhyun hanya untuk menoleh ke belakang—di atas bantalnya yang empuk. Berwarna coklat gelap, bau menyengat, dan sayap yang siap terbang dengan kecepatan penuh, detik itu juga sistem tubuh Chanyeol merespon untuk segera menghindar dari dunia ini atau ia akan menjadi korban.

"ARRGGHHH!"

Selimutnya di singkap, tidak lagi peduli dengan makanan yang dibawa Baekhyun sudah tumpah mengotori tempat tidurnya. Yang jelas Chanyeol harus melarikan diri sebelum hewan itu menyerbunya.

.

.

TBC

Maaf jika chap ini agak nganu dan bikin kalian juga ikutan nganu. Terima kasih yang sudah ngikuti Latibule sejauh ini, dari yang mulai kesel karena lama update sampai kesel kenapa masalahnya itu-itu aja. Dari awal Ayoung udah bilang kalo Latibule bakal menye-menye dan bakal punya chap yang gak tau bakal sepanjang apa. Tapi setelah konsul ke beberapa sunbae dan merenung, akhirnya chap depan di-END kan juga hoho

Chap bagian END sudah setengah jalan dan bakal di up secepat mungkin kalo sudah selesai. Buat yang tanya Wanderlust, bakal di up setelah Latibule selesai. Akhir kata, Ayoung mau ucapin terima kasih banyak dan salam hangat tersayang untuk kalian.. jangan lupa belai kotak review-nya ya? wkwk.. saranghaeyo.

Latibule update bareng : Pupuputri92 feat Sayaka Dini, RedApplee, Baebkychuu, Flameshine (Wattpad), Ohlan94 (Wattpad), Hyurien92.

jangan lupa mampir lapak mereka dan sentuh kotak review-nya yess~