Pagi itu seperti biasa, Chanyeol sudah bertandang manis di depan rumah Baekhyun dengan membawa sebuah helm pink yang baru dia beli kemarin malam. Untuk siapa lagi jika bukan untuk si mungil kesayangannya yang sedang mengikat tali sepatu di depan pintu. Bibir mungilnya sedang menggigit roti dan sesekali ia mengangkat tangan untuk memastikan putaran waktu dari jam tangannya.

"Ibu, aku berangkat."

"Hati-hati." Ucap ibu Baekhyun sambil mengecup pipi putri manisnya. "Jangan lupa makan bekalnya dengan Chanyeol. Ibu membawa banyak untuk makan siang kalian."

Chanyeol membungkukkan badan sebentar sebelum berpamitan untuk berangkat karena 15 menit lagi gerbang sekolah akan di tutup.

"Helm-mu baru?" tanya Baekhyun setelah setengah perjalanan terlewati.

"Ya."

"Kenapa pink? Ku kira kau suka merah atau hitam. Tak ku sangka seleramu sangat hello kitty sekali."

"Itu untukmu, bodoh!"

"Untukku?"

Dengusan kesal Chanyeol bisa terdengar meski sebagian wajahnya tertutup helm. "Dasar tidak peka!"

Diam-diam Baekhyun mengulum senyum di balik punggung Chanyeol. Sebenanrnya dia amat sangat peka mengapa helm pink ini susah payah di bawa Chanyeol hanya untuk mengantar jemputnya kesekolah. Hanya saja Baekhyun butuh sesuatu yang lebih jelas dari mulut lelaki itu agar tidak terasa ambigu nantinya. Atau katakan saja jika Baekhyun butuh pengakuan.

"Terima kasih." Gumamnya lirih.

"Apa?"

"T-tidak."

.

"Bisa minta tolong bantu aku melepas helm? Kenapa sangat susah sekali."

Chanyeol membungkukkan sedikit tubuhnya sedang yang lebih kecil menengadah karena helm pink itu seperti tidak mau di lepas.

"Begini saja tidak bisa."

"Ini susah, tau!"

"Dasar lemah."

"Biar saja!"

Baekhyun baru saja meletakkan helm pink-nya di atas motor Chanyeol ketika Luhan datang dengan langkah setengah berlari dan nafas yang memburu. Bulir-bulir keringatnya tampak kentara dari wajah cantik Luhan yang kebetulan pagi itu sedang mengenakan lipgloss pink.

"B-baek..."

"Ada apa, Lu? Tarik nafasmu dulu."

"C-cepathh..ikutthh..akuhh.."

"Ada ap—YA! LUHAN!" tangan Baekhyun sudah ditarik paksa oleh Luhan dan menyebabkan ia turut berlari mengikuti langkah Luhan. Chanyeol yang merasa sesuatu sedang terjadi juga turut mengejar dua gadis itu dengan hati yang mulai dirundung kecemasan. Wajah tegas dan dinginnya mulai muncul secara otomatis dan kerutan samar dahinya mulai muncul sebagai tanda ia sedang tidak ingin diusik.

Luhan membawa Baekhyun ke kafetaria yang pagi itu sudah penuh sesak. Bukan karena para siswa bergerombol untuk mengantri makanan, tapi lebih kepada celah kecil di tengah yang menyita perhatian. Baekhyun memicing curiga ketika yang nampak di sana adalah Jaehyun dengan segala ketidakjelasan hidupnya.

Gerombolan yang semula riuh mulai menapaki keheningan kala Baekhyun datang. Sontak mereka juga membuka jalan untuk Baekhyun bisa menuju Jaehyun yang pagi itu menjadi pemeran utama.

Kaki Baekhyun menapak ragu untuk mendekat. Tapi dia ingin tau, kebodohan apalagi yang akan diciptakan oleh Jaehyun sepagi ini. Lalu yang terjadi adalah dua bola mata Baekhyun yang tidak bisa di kontrol, juga rahangnya yang mulai jatuh dengan cara tidak cantik sehingga membuatnya sedikit terpaku.

"Sudah ku katakan, kan, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu?" Jaehyun mulai bicara. Setangkai mawar merah yang ia pegang itu di berikan pada Baekhyun yang mulai paham tentang situasi ini. "Aku akan katakan dengan lantang pada semua orang jika aku menyukaimu. Aku akan menjadi lelaki sejati yang menyatakan perasaanku di depan banyak orang." Sontak teriakan dari para penonton mulai bersambut riang ketika Jaehyun berbicara.

"Jaehyun,"

Jaehyun berlutut di depan Baekhyun dengan senyum terbaik yang dia punya. Tak lupa juga meraih satu tangan Baekhyun untuk ia genggam lalu dia cium hingga kegaduhan yang semula lenyap, mulai menguar kembali ke permukaan.

Ini bukan sebuah opera sabun yang pantas untuk di tonton, ini juga bukan sebuah drama yang bisa di ikuti, tapi kenapa semua atensi yang ada di kafetaria seolah menganggap kekonyolan ini patut untuk di lihat? Baekhyun heran untuk hal itu.

"Baekhyun, mau kah kau menjadi kekasihku?"

Jaehyun benar-benar kehilangan fungsi otak!

Tindakan serta ucapannya benar-benar tidak memiliki pijakan yang kuat untuk di jadikan bahan tamparan. Setidaknya dia masih memiliki rasa malu untuk mengerti jika yang dia lakukan ini hanya omong kosong yang sudah jelas apa jawabannya.

Baekhyun baru saja membuka mulut untuk mengumpatkan segala macam sumpah serapah agar Jaehyun bisa sadar, tapi Chanyeol telah lebih dulu menarik tangan Baekhyun dan mengajak gadis mungilnya itu enyah dari panggung sandiwara yang diciptakan Jaehyun.

Tidak ada senyum apalagi suara yang bisa menjelaskan kemana sebenarnya Baekhyun akan dibawa pergi. Yang ada hanya aura dingin menyeramkan serta kepastian jika setelah ini akan ada aksi merajuk dan omelan panjang dari si tinggi. Baekhyun harus siap.

"Sini tanganmu!" mereka berhenti di sebuah taman kecil dekat gerbang belakang sekolah.

Baekhyun menyodorkan tangan kirinya dengan was-was. Orang sedang emosi, siapa yang akan tau kemalangan apa yang bisa menimpa pihak tidak bersalah seperti Baekhyun?

"Bukan yang itu! Yang satunya! Yang sudah di nodai oleh Jaehyun!"

Tangan kanan Baekhyun sudah ia serahkan sebagai tumbal seperti permintaan Chanyeol. Baekhyun tidak memiliki opsi yang pas jika Chanyeol berniat memenggal tangannya. Tangan tidak bisa dibeli di supermarket dan Baekhyun hanya bisa berdoa pada Tuhan agar Chanyeol tidak sekejam itu padanya.

Sebenarnya Baekhyun saja yang terlalu berlebihan tentang penggalan tangannya. Karena apa yang didapat oleh dua matanya saat ini adalah sosok Chanyeol yang sedang mengusap punggung tangan Baekhyun dengan sebuah sapu tangan lalu menciumnya berkali-kali tanpa jeda.

"C-chanyeol.."

"Aku tidak sudi ada jejak yang tertinggal dari Jaehyun di tanganmu. Sekecil apapun itu!"

Rona merah bodoh itu muncul dan Baekhyun mulai gelisah dalam konteks yang menyenangkan. Jantungnya berdebar dan rasa bahagia mendadak menjalar sampai ke ubun-ubun.

.

Ada beberapa hal yang bisa diprediksi dengan sangat tepat di dunia ini. Tapi tak jarang juga ada yang meleset sangat jauh dari prediksi yang sudah di gaungkan. Contohnya kenyataan. Layaknya sebuah mendung yang belun tentu berakhir dengan hujan, begitu pula suatu keadaan yang bisa saja disebut sebagai sebuah keberuntungan. Entahlah, apapun itu kalian akan menyebutnya. Dari semua itu, terkadang akan menciptakan sebuah perasaan bahagia dan tak pelak juga akan menimbulkan sebuah kesedihan.

"Bu.."

Sore itu Baekhyun baru saja pulang sekolah dengan raut wajah yang tak karuan. Konteksnya seperti ini, gadis itu mencampur wajah bahagia dan sedih yang kemudian berujung pada sebuah kebingungan. Selembar kertas di tangannya adalah penyebab dari semua itu. Bukan pemutusan berhenti sekolah secara sepihak, tapi sebuah keputusan yang selama ini menjadi angannya.

"Astaga!" ibu yang sore itu sedang membersihkan rumah sontak memekik penuh rasa kejut. Suatu kebanggaan ketika pertama kali mengetahui isi kertas itu akan membawa putrinya melabuhkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi ke negeri Paman Sam, "J-jadi..."

"Ibu... katakan padaku ini bukan mimpi?"

Alih-alih menjawab, ibu justru memeluk Baekhyun dengan erat. Tidak ada lagi keraguan untuk menumpahkan air mata dan berucap syukur karena putri kesayangannya berhasil menjadi salah satu yang menerima beasiswa. Ini bukan hanya impian Baekhyun, tapi juga impian ibu dan mendiang ayah.

Dan sore itu berakhir dengan air mata dua wanita yang saling memeluk bahagia. Ibu dengan rasa bangganya sedang Baekhyun dengan perasaan haru. Dari sekian banyak orang, dirinya menjadi satu yang bisa berangkat ke Amerika untuk belajar hingga gelar dokter ia peroleh. Namun, ada satu orang yang merasa belum bisa sepenuhnya menerima semua ini. Bukan karena kertas penerimaan beasiswa, tapi karena setelah ini akan ada hubungan yang terbentang cukup jauh.

"Chanyeol.." malam harinya Baekhyun sengaja datang ke rumah Chanyeol dengan membawa satu set pizza. Katakan ini sebagai bentuk sogokan karena sepulang sekolah tadi Chanyeol mendadak murung mendengar kabar tentang beasiswa yang di terima Baekhyun. Hal yang selama ini Chanyeol takutkan akan terjadi. Terpisah jauh dengan Baekhyun akan menjadi hal tersuram dalam hidupnya.

"Datang dengan siapa?" Chanyeol yang sedang sibuk dengan pola aneh dari dua telunjuknya mengeluarkan suara setelah sekian menit mendiamkan kedatangan Baekhyun.

"Naik taksi." Baekhyun mengambil duduk di samping Chanyeol yang mengerucutkan bibirnya. Sedikit tidak percaya ketika si dingin yang pernah Baekhyun cap sebagai lelaki kaku itu nyatanya bisa bersikap seperti anak lima tahun yang merajuk. "Sudah makan?"

"Belum."

"Mau ku suapi?"

Chanyeol menggeleng.

"Aku tadi beli pizza. Mau? Aku beli sesuai kesukaanmu."

"Nanti saja."

Jawaban dingin Chanyeol bisa dimaklumi oleh Baekhyun. Pasalnya, tadi sore saat pulang sekolah lelaki itu jelas mengkhawatirkan hubungannya yang akan terbentang oleh jarak yang jauh dan dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Sempat ada perdebatan kecil tentang niat Chanyeol yang akan membatalkan rencananya kuliah di salah satu universitas ternama di Seoul dan ikut Baekhyun ke Amerika. Tapi itu hanya rencana bodoh yang akan membuat semuanya justru berantakan, untuk itu Baekhyun menolaknya dengan tegas. Chanyeol harus tetap kuliah di sini karena semua sudah di atur dan tidak ada acara pembalan dalam hal apapun. Dari situ masa merajuk Chanyeol bermula.

"Chanyeol..." Baekhyun menusuk lengan Chanyeol dengan telunjuknya untuk mendapat atensi lelaki itu. "Sayang..." Hell, ini pertama kalinya dia memanggil Chanyeol seperti itu. Dan benar, atensi Chanyeol langsung beralih pada Baekhyun meski mulutnya masih mengerucut lucu.

"Apa?"

"Marah, ya?"

Jika berkata 'ya', maka Chanyeol akan terdengar kekanakkan. Sebenarnya bukan pada konteks marah, dia hanya sedikit berat melepas Baekhyun selama itu. Apa jadinya dunia ini jika tidak ada Baekhyun di sisinya?

"Tidak."

"Kalau tidak, coba senyum sedikit." Baekhyun menarik dua sudut bibir Chanyeol dengan telunjuknya sehingga terbentuk sesuatu seperti lekungan bulan sabit namun lucu. "Nah, kalau senyum begini pacarku sangat tampan."

"Jadi kalau tidak senyum tidak tampan?"

"Ya!" anggukan Baekhyun yang mantab itu membuat Chanyeol kembali mengerucutkan bibirnya. "Astaga... kenapa cemberut lagi? Sudah bagus tadi tersenyum."

"Aku atau Brad Pitt?"

"Apanya?"

"Yang paling tampan."

"Em..." Baekhyun mendongakkan kepala sambil bermain jari telunjuk di pipinya.

"Baekhyun.."

"Tentu Brad Pitt, sayang." Dan reaksi Chanyeol benar-benar seperti anak usia 5 tahun yang akan merajuk di dalam kamar karena tidak ada permen. "Eh, mau kemana?"

"Pacaran saja sana dengan Brad Pitt!"

"Bercanda, Chanyeol.."

"'Chanyeol?'"

"Iya. Namamu Chanyeol, kan?"

"Tadi panggil aku 'sayang', sekarang panggil 'Chanyeol' lagi. Pendirianmu mudah sekali goyah, Baekhyun." lalu si merajuk itu bersendekap dada dengan mata yang memicing kesal.

"Salah sendiri kau marah. Aku jadi malas panggil 'sayang' kalau begitu."

Chanyeol bergeming.

"Masih mau marah?" tanya Baekhyun.

"Siapa yang marah? Aku tidak marah?"

"Ya sudah kalau tidak marah, makan pizza dulu ya, sayang."

Satu slice pizza itu Baekhyun berikan pada Chanyeol dan langsung di lahap. Cara makannya tak jauh berbeda dengan anak balita yang baru belajar makan dengan tangannya sendiri. Torehan liar saus dari toping pizza bisa di pastikan menempel di sekitar mulut Chanyeol dan lelaki itu tidak pernah menaruh atensi dengan hal tidak penting itu. Untuk itu, jika Chanyeol tidak menggubris adanya torehan liar saus di sekitar bibirnya, Baekhyun akan mendekat dengan telunjuknya yang lentik untuk menghapus saus liar itu dan mengecap rasa asam saus ke dalam mulutnya.

"Jika aku sudah di Amerika, kau jangan lupa makan dan istirahat, ya?" Usakan lembut itu Baekhyun berikan pada lelaki merajuk yang kini sudah mulai dengan potongan pizza keduanya. "Jangan lupa mandi dan olahraga juga."

"Kalau libur, kau harus pulang!"

"Iya, pasti. Aku akan pulang dan menemuimu."

"Jangan macam-macam di sana. Kau tau, kan, radarku ini sangat kuat?"

"Iya, iya. Aku tidak akan macam-macam, tapi cuma satu macam."

"Baekhyun..." sisa potongan pizza itu Chanyeol letakkan di atas meja dan dia kembali dengan mode merajuknya. "Jangan membuatku nekad untuk menyusulmu kesana."

"Awas kalau kau berani!"

"Makanya jangan macam-macam. Kau tau kan akhir-akhir ini aku rajin pergi ke gym?" Chanyeol menggulung lengan kaosnya dan menunjukkan gundukan-gundukan atletis yang belakangan menjadi tempat favorit Baekhyun untuk di gandeng. Ya, beberapa minggu belakangan Chanyeol rajin datang ke tempat gym untuk membentuk segala macam otot yang ia katakan akan terlihat manly sehingga tidak akan ada yang berani mengambil Baekhyun darinya.

"Aku pasti akan merindukan lengan sexy ini." Baekhyun mencolek lengan Chanyeol, "Hidung ini," mencubit hidung Chanyeol, "Mata ini," mengusap mata Chanyeol, "dan telinga ini." Untuk yang terakhir Baekhyun tidak mengganggu telinga Chanyeol seperti biasanya, dia justru bermain pada rambut legam Chanyeol yang baru saja di cukur dan terlihat pas untuk wajah tampannya. "Aku pasti akan sangat merindukanmu."

"Kau membuatku semakin berat untuk melepasmu, Baekhyun."

"Aku akan pulang kalau ada libur panjang"

"Dan aku juga akan datang kalau aku libur. Boleh, kan?"

"Tentu boleh."

.

Hanya tersisa waktu beberapa minggu sebelum ujian tingkat akhir dimulai. Setiap siswa tingkat akhir mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian akhir sebelum berebut bangku kuliah. Perpustakaan yang biasanya lengang mulai berisi sekumpulan siswa yang sibuk membaca, merangkum, atau sekedar bermeditasi dari tempat hingar.

Baekhyun sudah menyiapkan semuanya semaksimal mungkin. Beasiswa ke Amerika yang ia terima beberapa waktu lalu tak lantas membuatnya santai menghadapi ujian. Dia tetap seperti kebanyakan siswa lainnya yang menaruh harap-harap cemas akan nasib akhirnya sebagai seorang siswa. Berjam-jam sudah Baekhyun sibuk dengan beberapa buku di perpustakaan. Atensinya benar-benar jatuh pada pelajaran yang akan ia hadapi di ujian minggu depan.

Tidak ada lagi waktu untuk bersantai, bermain, atau berkencan karena situasi semakin darurat. Semua hal yang di rasa tidak terlalu penting telah ia kesampingkan, termasuk si tinggi yang sudah menaruh kata bosan lekat-lekat di atas kepalanya.

Sudah 3 jam lamanya Baekhyun tidak menoleh ke samping untuk sekedar bertanya, 'Chanyeol, apa kau lapar?'. Jangankan bertanya tentang kondisi perut, keberadaan Chanyeol di sampingnya saja bahkan tidak yakin disadari oleh Baekhyun. Oleh karena itu, Chanyeol yang sudah mengisi penuh jajaran pengetahuan di dalam otaknya menyiapkan strategi untuk mengganggu si mungil.

"AW! Sakit!" pekikan itu seketika memecah keheningan perpustakaan dan seluruh fokus tertuju pada Baekhyun. Dia sempat membungkuk kecil meminta maaf pada siapa saja yang merasa terganggu lalu beralih pada Chanyeol yang seolah tidak peduli. "Kenapa mencubitku?"

"Kau mengabaikanku!"

"Aku sedang belajar, Chanyeol.."

"Tapi kau mengabaikanku!"

"Kenapa kau jadi manja sekali belakangan ini?"

Alih-alih menjawab, Chanyeol justru meletakkan kepalanya di atas meja dan mulai membuat pola abstrak dari telunjuknya. Merajuk sebenarnya bukan kebiasaan Chanyeol, tapi semenjak Baekhyun menjadi hal penting dalam hidupnya dan gadis itu selalu melakukan hal-hal di luar perkiraan Chanyeol, mau tidak mau Chanyeol merubah diri menjadi si tinggi dengan kadar manja yang sudah hampir over dosis.

"Bulan depan kau akan berangkat ke Amerika, jangan mengabaikanku seperti ini."

Oh, Chanyeol yang malang.

Baekhyun menutup bukunya setelah sebelumnya memberi tanda pada ujung lembarannya. Di situasi seperti ini Baekhyun hanya bisa mengalah untuk pacarnya yang mulai menunjukkan kemanjaan yang lebih menggemaskan dari pantat Robert.

"Iya, iya. Aku tidak mengabaikanmu."

"Aku lapar."

"Ya sudah. Mau makan apa?"

"Ramen!"

Baru saja Baekhyun merapikan buku-bukunya tapi Luhan dengan nafas tak beraturan datang dengan membawa berita yang terdengar memuakkan seperti kotoran burung. Baekhyun di hinggap rasa tidak enak yang membuatnya harus melirik Chanyeol diam-diam. Ini seperti kejadian beberapa waktu lalu dimana Luhan memberitau jika...

"Jaehyun sedang membuat heboh di lapangan."

...dan Luhan mengatakan apa yang ditakutkan Baekhyun.

Mendengar informasi yang disampaikan Luhan, Chanyeol segera berlari keluar perpustakaan dan mengabaikan rasa lapar yang beberapa menit lalu menganggunya. Sedang Baekhyun? Gadis itu menepuk keningnya sebagai tanda jika setelah ini akan ada hal-hal konyol yang membuat masa merajuk Chanyeol semakin parah.

Apa yang disampaikan Luhan benar adanya. Jaehyun sedang berdiri di tengah lapangan dengan membawa pengeras suara beserta setangkai mawar seperti kejadian yang lalu. Para siswa yang sedang istirahat mulai mengerubungi Jaehyun dan menyorakkan sesuatu yang tidak bisa terdengar dengan jelas.

Baekhyun segera menghampiri Chanyeol yang berdiri di belakang kerumunan dengan wajah kesal dan marah yang bercampur menjadi satu. Tangannya mengepal sempurna hingga otot-otot yang tersembunyi mulai mengepul ke permukaan. Matahari sedang berada pada terik terburuk dan Chanyeol semakin panas dengan semua itu.

"Tolong semuanya diam. Aku ingin mengatakan sesuatu." Titah Jaehyun hingga keadaan riuh itu mulai tenang. "Baekhyun, sudah ku katakan berkali-kali jika aku tidak akan menyerah padamu."

Baekhyun memijit pelipisnya yang berdenyut konstan karena tingkah kekanakkan Jaehyun.

"Aku bersungguh-sungguh menyukaimu dan ku harap kau bisa menyambut baik niatku untuk menjadikanmu kekasih."

Sontak suara riuh itu kembali muncul dengan sorakan-sorakan mendukung pernyataan Jaehyun.

"Setiap malam aku selalu tersiksa. Mau makan rasanya tidak enak, semua itu karena dirimu."

Astaga, bocah ini berasal dari planet mana?!

"Jangan mengabaikanku. Aku bersungguh-sungguh dengan pernyataanku ini. Terimalah bunga ini sebagi tanda awal kisah kita."

Keadaan semakin riuh dan Baekhyun benar-benar malu dibuatnya. Tapi lebih dari itu dia sangat mengkhawatirkan efek dari kepalan tangan Chanyeol yang mungkin bisa saja membuat rahang Jaehyun hilang dari tempatnya. Beberapa kali dia meremas tangan Chanyeol untuk menahan agar tidak menambah langkah maju sehingga tidak akan ada aksi berdarah yang akan merugikan banyak pihak.

Beberapa kali Baekhyun mendesis kesal karena kini para suporter Jaehyun mulai berteriak agar Baekhyun segera datang ke pusat keramaian dan menerima Jaehyun. Situasi genting yang membuatnya tidak bisa berkutik antara tidak ingin menyakiti Chanyeol dan tidak ingin mempermalukan Jaehyun di depan umum. Tapi sebenarnya Jaehyun sudah mempermalukan dirinya sendiri belakangan ini, maka dari itu Baekhyun akan menyelesaikan ini semua dengan langkah mantab sehingga setelah ini tidak akan ada lagi event konyol yang di adakan oleh Jaehyun.

Baekhyun melepaskan remasan tangannya dari Chanyeol dan lelaki itu tak pelak terkejut. Bukan hanya Chanyeol, Luhan yang berdiri di sampingnya mulai menjatuhkan rahang lancipnya karena tindakan yang di ambil Baekhyun tidak terduga.

Kerumunan masa pendukung Jaehyun mulai membuka akses untuk Baekhyun mendekati tempat Jaehyun berdiri. Sebenarnya Baekhyun tidak ingin berbuat lebih jauh dengan menerima setangkai mawar merah itu yang mengakibatkan Chanyeol berbalik haluan pergi dari keramaian. Baekhyun bisa melihat punggung Chanyeol terbebani oleh perasaan kecewa yang mendalam hingga membuat langkahnya semakin ia buat menjauh dari keramaian.

"Jaehyun," Baekhyun juga mengambil pengeras suara yang di bawa Jaehyun. "Kau ingat sudah berapa kali kau melakukan ini padaku?"

Jaehyun mengangguk riang.

"Bagus kalau kau ingat. Sekarang aku akan memberikan jawaban. Ini untuk yang terakhir kalinya dan setelah ini jangan pernah melakukan hal bodoh yang bisa mempermalukan dirimu sendiri."

"Anything, beauty."

"Aku, Byun Baekhyun, sampai kapanpun tidak akan menerima mawar ini." mawar itu Baekhyun lepas hingga jatuh ke lapangan dengan cara yang dramatis. "Mawar darimu dan segala pernyataan konyolmu, aku tidak akan menerimanya. Kau tau kenapa?"

Jaehyun mematung.

"Aku sudah memiliki seseorang yang tidak akan pernah mendapat pengkhianatan dariku. Kau dan semua yang ada di sini tentu tau, bukan, tentang aku dan Chanyeol? Ku harap kau bisa sadar dengan tindakan nekadmu ini. Buka matamu lebar-lebar, Jaehyun. Jangan memperjuangkan seseorang yang sudah jelas telah dimiliki orang lain. Dunia tidak sesempit itu hingga kau harus nekad menghancurkan hubungan orang lain."

Kini Baekhyun melihat kepalan tangan Jaehyun memucat karena ucapannya. Biar saja, Baekhyun harus berkata jujur agar kekonyolan ini tidak berkepanjangan.

"Maaf jika ini membuatmu tersinggung. Ku harap setelah ini kau bisa belajar bagaimana cara menghargai hubungan orang lain dan tidak lagi mencoreng nama baikmu."

Seakan tidak membutuhkan bagaimana reaksi Jaehyun, Baekhyun segera pergi meninggalkan lapangan dan mulai menyusul si lelaki yang mungkin sedang patah hati berat. Luhan berkata jika Chanyeol pergi ke arah belakang sekolah dan Baekhyun tidak membuang waktu untuk bertele-tele. Kaki mungilnya segera berlari menyusuri lorong-lorong sekolah dan berharap menemukan sosok tinggi kesayangannya berada di tempat yang Luhan katakan. Dan benar, di ujung lorong yang menjadi batas akses sekolah sedang ada seorang laki-laki duduk di bawah pohon dengan kesedihan yang menggenang.

Rasa bersalah Baekhyun sudah menumpuk dan dia dilanda perasaan tidak tega melihat Chanyeol menjadi murung seperti itu.

"Hei," Baekhyun mengambil duduk di samping Chanyeol yang sedang menjabut rumput-rumput kering di sekitar kakinya. "Sedang apa?"

Tidak ada jawaban.

Baekhyun tau akan jadi seperti ini. Untuk itu, dia perlahan-lahan akan membuka akses bicara agar penjelasannya tidak terlempar mentah-mentah.

"Maaf sudah membuatmu seperti ini."

"Tidak apa. Aku sudah biasa patah hati."

Sebenarnya Baekhyun ingin meneguk tawa karena cara cemburu Chanyeol yang luar biasa menggemaskan ini. Tapi mengingat situasinya tidak tepat untuk meledakkan tawa, jadilah Baekhyun hanya diam sambil menggigit bibir bawahnya.

"Soal Jaehyun, jangan marah, ya?"

"Biasa saja."

"Aku terpaksa melakukan hal itu."

Chanyeol membuang kasar rumput kering di tangannya dan sontak matanya menjadi sangat tajam.

"Aku tau jika kekuranganku sangat banyak. Aku pemarah, pencemburu, dan aku mudah sekali emosi. Tapi bukan berarti kau bisa mempermainkan perasaanku begitu saja, Baekhyun. Aku juga manusia, aku juga punya hati yang tidak bisa kau sakiti begitu saja. Jika dari awal kau tidak bisa menerimaku, katakan saja. Jangan di saat aku benar-benar sudah sangat menyayangimu kau justru memilih orang lain." di akhir kata itu Chanyeol kembali melempar kesal rumput kering yang ia cabut dari sekitar kakinya.

"Sudah marah-marahnya?"

Atensi Chanyeol teralihkan dari rumput malang menuju ke gadis mungil yang sudah ia anggap telah mematahkan hatinya. Dan ketika ia menatap mata sipit cantik itu, pipinya telah ditangkup oleh dua tangan hangat yang selama ini menjadi favoritnya untuk di genggam.

"Ya, kau pemarah, pencemburu, seperti anak kecil, dan kau mudah sekali emosi. Kau juga menyebalkan, tubuhmu terlalu tinggi, dan telingamu sangat lebar. Tapi kau hangat, kau tulus, dan aku juga menyayangi sebagaimana adanya dirimu."

"Tidak usah merayuku."

"Apa aku terdengar sedang merayu?" Chanyeol memicing curiga. "Dengar, Chanyeolku sayang, aku sama sekali tidak berniat mematahkan hatimu apalagi mempermainkan perasaanmu. Bagaimana bisa aku melakukan hal itu pada orang yang ku sayang? Hm?"

"Tapi kau menerima mawar Jaehyun."

"Ya, itu benar. Aku menerimanya tapi sudah ku buang. Aku tidak suka mawar apalagi pernyataan cinta yang memalukan seperti itu. Aku hanya butuh Chanyeol dengan semua tingkah kekanakanya yang terkadang ingin membuatku gantung diri karena kau terlalu menggemaskan jika merajuk." Baekhyun mengulum senyum manis yang di sambut oleh kuluman senyum Chanyeol yang nampak malu-malu.

"Jadi,"

"Jadi, tidak ada Jaehyun. Dia hanya adik kelas bodoh yang kebetulan sedang menguji rasa malu di depan anak-anak sekolah."

Si tinggi merajuk itu menarik tangan Baekhyun untuk ia bawa dalam rengkuhannya. Chanyeol senang, tentu saja. Dia sudah berpikir akan menjadi bujang lapuk jika Baekhyun benar-benar memilih Jaehyun. "Jangan pernah melirik dia apalagi dekat-dekat dengan dia. Aku tidak suka."

"Iya, iya. Aku mengerti. Ya sudah, sekarang kembali ke kelas, ya?"

.

.

Baekhyun sedang duduk termenung sore itu. Ditemani oleh Robert dan beberapa biskuit coklat kesukaannya, Baekhyun membuka hati di beranda belakang rumah. Pemandangan yang ada bukanlah hamparan gunung-gunung yang menyejukkan mata, hanya tembok tinggi yang kebetulan berwarna putih gading dengan beberapa hiasan tanaman gantung. Tapi sebenarnya, itu hanya kamuflase ketika yang sedang di lihat oleh mata Baekhyun adalah tentang ibu.

Sejarah selalu berbicara jika Ibu menjadi tumpuan hidup ketika jatuh, pelipur lara ketika sakit, dan kebahagiaan ketika dunia menjadi licik. Baekhyun telah merasakan semua itu.

"Baek.."

"Ya?" Baekhyun menoleh sebentar ke belakang dan mendapati ibu datang dengan keranjang berisi beberapa kue.

"Bisa antarkan ini ke rumah Bibi Song? Ibu sudah berjanji memberi Bibi Song jika ibu membuat kue."

"Oke."

"Terima kasih."

"Ibu," Baekhyun mencekal tangan ibu yang hendak beranjak, "bisa berbicara sebentar?"

Suasananya tidak semencekam adegan pembunuhan, hanya saja firasat seorang ibu memiliki keakuratan yang lebih banyak ketika raut wajah putrinya tidak seperti biasanya.

Sebenarnya dari cara Baekhyun tersenyum juga menatap dengan mata sayu, terselip sebuah beban yang sudah berada di ujung tanduk dan mau tidak mau harus dilepas

"Mungkin ini akan terdengar sedikit lancang tapi perlu ibu tau akupun sudah memikirkannya matang-matang. Ibu bisa memarahiku atau juga ibu bisa membenciku karena aku membuat keputusan sepihak." Kekhawatiran mendadak muncul dan ibu mengalami fase berdebar yang berkonotasi tidak baik. "Minggu kemarin aku menemui paman Kim dan—"

"Baek—"

"Dengarkan aku dulu." Bukan maksud Baekhyun kurang ajar dengan menyela ucapan ibu, hanya saja dia harus menyampaikan ini dalam satu tarikan nafas atau dia akan kembali menemui kata ragu yang berakibat panjang. "Aku mohon ibu diam dulu. Biarkan aku menjelaskan ini sampai selesai."

Ibu mengangguk. Remahan rasa tidak nyaman itu melingkup seluruh celah dalam benak ibu karena jika berhubungan dengan Paman Kim, temperamen Baekhyun terkadang tidak stabil.

"Aku bertemu dengan paman Kim dan meminta agar ibu bisa kembali bekerja di kantor paman Kim. Paman Kim setuju dan minggu depan ibu bisa mulai bekerja lagi. Aku tidak bermaksud untuk memaksa ibu bekerja keras, karena aku tau jika ibu sangat mencintai pekerjaan ibu.." Baekhyun menggantung sebentar nada bicaranya dan dia mulai menapak pada kenyataan yang sedikit membuat hatinya sakit. Tapi tidak apa, dia bisa mengatasinya. "...dan juga mencintai paman Kim."

"Baekhyun, tidak seperti itu, nak."

"Aku juga perempuan, Bu. Aku tau apa yang ibu rasakan pada paman Kim dan selama ini aku sudah terlalu jahat dengan melarang ibu memiliki perasaan itu. Jadi, singkatnya aku sudah memberi restuku. Ibu juga berhak bahagia dan aku tidak akan menjadi egois."

"Ibu tidak akan melakukannya. Ibu tau jika kau—"

"Ibu, aku sudah besar. Biarkan aku menggunakan kedewasaanku untuk membahagiakan ibu. Ibu satu-satunya yang ku miliki dan aku tidak akan membiarkan ibu menderita."

"Tapi—"

"Dua hari lagi paman Kim akan datang. Bukan sebagai atasan yang ingin meminta karyawannya kembali bekerja, tapi sebagai lelaki yang datang untuk wanitanya. Jadi, dari sini aku serahkan semua pada ibu. Aku sudah mendewasakan diri sampai sejauh ini dan paman Kim-pun sudah sejauh ini berjuang untuk ibu. Aku percaya jika ibu akan sangat bijak dalam mengambil keputusan."

.

.

.

"Kenapa harus mawar merah?"

"Karena ayah sangat menyukainya." Baekhyun mengendus sebentar buket mawar merah yang ada di tangannya. "Chanyeol, bisa minta tolong bukakan helmku?"

Yang lebih tinggi sedikit menunduk sedang si mungil menengadah untuk memudahkan proses pelepasan helm-nya.

Sore itu, setelah melewati lika-liku jalanan kota yang padat, Baekhyun dan Chanyeol tiba di bukit pemakaman yang letaknya di pinggiran kota. Jika bukan karena Baekhyun yang meminta, Chanyeol mungkin hanya akan menghabiskan sisa sore harinya dengan bermain PS sampai tangannya kebas. Tapi ketika ponselnya berbunyi dan Baekhyun berkata ingin diantar ke suatu tempat, sesegera mungkin Chanyeol melesat mengganti pakaiannya dan menjemput si mungil.

Mereka tiba disebuah makam dengan nisan bertuliskan 'Byun Ohsook' yang berada tepat dibawah sebuah pohon rindang. Baekhyun membersihkan sebentar daun-daun kering yang ada di sekitar makam ayahnya itu lalu memberi usapan lembut pada nisan yang berdiri kokoh. Selama beberapa saat Baekhyun termenung menatap nisan dan sesekali menguntai senyum penuh arti rindu pada sang ayah yang telah tenang bersama Tuhan.

"Ayah, maaf aku datang terlambat." Buket mawar itu di letakkan Baekhyun di atas gundukan tanah. "Bagaimana kabar ayah? Aku harap ayah bahagia di sana. Ayah, tidak pernah ada satu detikpun yang ku lewati tanpa merindukan ayah. Aku selalu merindukan ayah dan rinduku ini sangat besar. Ayah tentu tau apa yang sudah terjadi antara aku dan ibu juga keputusan yang akhirnya bisa ku terima dengan lapang dada." Chanyeol menyodorkan sapu tangannya kala si mungil mulai tersedu. "Minggu depan Ibu dan Paman Kim akan menikah. Ayah jangan marah, ya? Paman Kim sangat tulus dengan ibu dan aku bertaruh banyak kepercayaan untuk hal itu. Jadi, ayah tidak perlu khawatir. Jika Paman Kim menyakiti ibu, kupastikan aku akan membuat Paman Kim menyesal seumur hidup."

"Baek," suara berbisik dari si tinggi di belakang Baekhyun. Sedari tadi Chanyeol menanti kesempatan dimana dia akan diperkenalkan secara resmi di depan makam ayah Baekhyun dan Chanyeol sangat tidak sabar untuk itu. "Kapan aku di kenalkan?"

"Oh ya," sapu tangan itu mengusap semua air mata Baekhyun yang tersiksa sebelum digunakan untuk membersihkan air yg keluar dari hidung Baekhyun. Ingat, Baekhyun adalah pengecualian utama yang mana Chanyeol tidak akan membuang tenaga untuk marah karena saputangannya digunakan untuk membersihkan air di hidung. "Ayah, ini Park Chanyeol. Si jerapah tinggi dari kutub utara yang sudah mengantarku ke sini."

Chanyeol melirik kesal. "Selamat sore, paman. Namaku Park Chanyeol dan aku calon menantu paman yang baik—AW! Sakit, Baek!"

"Jangan dengarkan dia, ayah. Dia sedikit sakit."

"Kau tidak mau menikah denganku?"

"Aku mau menikah dengan Brad Pitt!"

"Mana mau Brad Pitt dengan gadis pendek sepertimu."

"YA!"

"Paman, lihat, anakmu ini sangat menggemaskan. Bagaimana aku tidak mencintainya?" Baekhyun meronta dari pelukan Chanyeol yang tiba-tiba itu. Well, ini bukan kali pertama Chanyeol memeluknya dari belakang. Si tinggi itu terkadang mengalami putus kabel di otak dan tidak peduli keadaan sehingga Baekhyun di buat malu—tersipu. "Paman, aku akan menjaga Baekhyun dengan sepenuh hatiku. Tidak akan ku biarkan satupun ada yang melukainya bahkan jika itu serangga."

"Tapi kemarin kau menangis ketika ada kecoa di kamarmu."

Mata Chanyeol berkedip lucu. Ah, itu kejadian memalukan yang membuat Chanyeol harus mengurung diri di rumah dan tidak mau bertemu Baekhyun selama tiga hari hanya karena sebuah kecoa. Demi seluruh raja kecoa di dunia ini, Chanyeol ingin tenggelam ke dasar kolam ikan. Atau paling tidak biarkan dia menyembunyikan eksistensi di bawah bantal tidur Miko.

"Pokoknya aku akan menjaga Baekhyun sampai kapanpun. Paman bisa bertaruh kepercayaan padaku. Ini janjiku sebagai seorang pria."

.

.

.

.

Paman Kim telah datang ke rumah dengan keberaniannya sebagai lelaki dewasa. Proses lamaran yang dilakukan Paman Kim juga beberapa saudara inti dari Paman Kim berjalan lancar dan sedikit haru ketika ibu meyakinkan kembali restu yang diberi oleh Baekhyun. Bukan apa-apa, ibu hanya tidak ingin jika kali ini kebahagiaan yang dipilih ternyata tidak akan melukai putri cantiknya. Ibu sudah pernah bilang, kan, jika kebahagiaan Baekhyun adalah segalanya?

Detik terakhir dimana Paman Kim mengatakan jika ingin segera menikahi ibu dalam waktu dekat, remasan keyakinan yang ibu berikan pada Baekhyun mengangkat segalanya. Gadis itu mengangkat kepala dan tersenyum penuh ketulusan. Dengan anggukan yang berarti 'ya, aku setuju' mengakhiri semua yang menjadi kemelut selama ini.

Tidak ada pesta besar dan hanya membuat suatu perayaan kecil yang dihadiri oleh keluarga dekat juga teman dekat. Ibu dan Baekhyun menjadi pihak paling sibuk menyusun rencana pernikahan dengan mengorbankan waktu banyak-banyak memilih perlengkapan. Mulai dari gaun pengantin, katering, dan hal-hal kecil lainnya. Beruntung jika ada waktu sekitar satu bulan untuk itu semua. Tidak terbayang bagaimana pusingnya mengatur pernikahan ketika Paman Kim mengatakan akan melakukan pernikahan seminggu setelah proses lamaran. Ibu dan Baekhyun jelas menolak. Bagaimanapun mereka juga wanita dan menginginkan pernikahan terbaik meski tidak mewah.

"Kau gugup, Baek?" Tanya Chanyeol yang duduk di samping Baekhyun dengan setelan baju formal.

Pagi itu upacara pemberkatan pernikahan Ibu dan Pamn Kim berlangsung sedikit tertutup. Baik dari pihak Ibu maupun Paman Kim sepakat hanya mengundang keluarga inti dan beberapa kerabat dekat, termasuk Chanyeol dan teman-teman dekat Baekhyun.

Baekhyun mengangguk. "Aku gugup sekali, Chanyeol."

"Yang menikah ibu, kau yang gugup."

"Baru kali ini aku terlibat dalam sebuah pernikahan."

"Ku rasa yang lebih gugup disini adalah ibu."

"Ya, ibu baru saja menghubungiku dan berkata jika detak jantungnya tidak normal. Padahal ibu sudah berpengalaman menikah, kenapa masih gugup?"

"Seberapa berpengalamannya seseorang menjadi seorang pengantin, rasa gugup akan selalu ada. Dan kau, suatu hari akan merasakan hal itu ketika aku berdiri di altar untuk mengucap janji setia hidup bersamamu."

Oh my God! Baekhyun mendesis kecil untuk ucapan Chanyeol. Tidak tepat mengatakan hal itu ketika usia mereka belum genap 20 tahun. Masih banyak yang harus mereka pelajari dari pribadi masing-masing sebelum akhirnya memberi keputusan melepas masa lajang.

Baekhyun merapikan kembali gaun putih gadingnya dan mengatur nafas ketika prosesi pemberkatan dimulai. Sekilas dia menjadi sosok yang diam dengan kemelut hati yang tak kunjung usai. Bukan karena kerelaan yang dipaksakan, tapi detik dimana Paman Kim berdiri di altar dan ibu yang mulai masuk dengan gaun sederhana yang cantik untuk bersanding dengan Paman Kim, bayangan wajah ayah mulai nampak. Sedikit terhanyut dalam kenangan lama tentang kisah ayah dan ibu yang penuh perjuangan, Baekhyun membiarkan setitik air matanya turun dan menjadi saksi jika tidak ada yang dilupakan dalam keputusan ini.

Ayah, Ibu, dan Paman Kim, tiga orang dewasa yang memiliki sambungan cerita penuh perjuangan. Semua menemui takdir masing-masing dan begitulah cara Tuhan memberi kebahagiaan. Bukan dalam bentuk materi yang melimpah, tapi akhir bahagia dimana ketulusan menjadi peneguh sebuah hubungan.

Ayah pernah menjadi kisah ibu dan akan selalu seperti itu. Tempat Ayah akan selalu sama dan tidak akan bergeser barang satu senti saja. Baik Ibu dan Baekhyun memutuskan jika Ayah tetap menjadi kenangan termanis dari segala ujung kisah ini. Sedang Paman Kim menjadi lembaran terbaru Ibu di usia senja nanti. Semoga kebahagiaan selalu membuntuti niat baik dalam membangun kebahagiaan baru ini.

"B-baek," Baekhyun masih sibuk dengan rasa haru ketika Paman Kim dan Ibu telah sah di hadapan Tuhan ketika Chanyeol mencubit kecil punggung tangannya.

"Ada apa?"

"K-kau mengundang Jaehyun?"

"Jaehyun? Kau gila! Mana mungkin aku mengundang anak gila itu!"

"T-tapi itu.."

Baekhyun menoleh ke arah yang di tunjuk oleh telunjuk Chanyeol. Matanya yang masih menyimpan sorot haru mendadak terbelalak ketika melihat sosok Jaehyun di kursi seberang. Ini bukan halusinasi ketika yang Baekhyun dapati sosok adik kelas menyebalkan yang saat itu juga menatap penuh kejut ke arahnya. Kenapa dimana-mana ada Jaehyun?

"Chanyeol..kau harus percaya padaku. Aku tidak mengundangnya."

"Tapi kenapa dia bisa ada di sana?!" Oke, kekesalan Chanyeol menggumpal setiap nama dan eksistensi Jaehyun berputar dengan cara licik di otaknya.

"Aku juga tidak tau."

Baiklah, masalah Jaehyun selalu membuat suasana hati Chanyeol buruk dalam waktu singkat. Wajah yang sedari tadi menunjukkan senyum bahagia melihat kebahagiaan Ibu Baekhyun dan Paman Kim merajut janji suci, kini berubah kusut tidak beraturan. Mulutnya juga terkunci rapat dan tangannya mulai mengepal pucat.

"Jangan merusak acara pernikahan ibuku," Baekhyun membuka kepalan tangan itu dan menelusupkan jemarinya di sela jemari Chanyeol. "Kau percaya padaku, kan?" Baekhyun tersenyum kecil pada lelaki yang mulai meluruhkan amarahnya itu. "Kita sedang di rumah Tuhan, aku bersumpah tidak akan mengkhianati hatimu."

Adalah Chanyeol yang pertama kali mempererat tautan tangan Baekhyun sebagai respon atas pernyataan Baekhyun. Jaehyun mungkin akan selalu membuat Chanyeol khawatir dan menaikkan kadar emosinya, tapi semua itu bisa ia redam ketika Baekhyun mulai mendekat ke telinganya dan membisikkan sesuatu yang mendesirkan seluruh darah dalam tubuh Chanyeol,

"Chanyeol, aku mencintaimu."

.

"Eonni!" Namanya Jennie, putri bungsu Paman Kim yang kini menjadi adik Baekhyun.

Perlu diketahui, Paman Kim adalah seorang duda dengan dua orang anak dan Jennie adalah si bungsu. Gadis kecil berusia 9 tahun dengan rambut panjang sepinggang itu senang ketika mendengar akan mendapat kakak perempuan. Jennie dan Baekhyun pernah bertemu sekali ketika Baekhyun bersitegang dengan ibu karena pernyataan mengejutkan Paman Kim kala itu. Saat itu Baekhyun tidak terlalu memperhatikan Jennie karena dia sedang dikuasai emosi. Dan ketika dipertemuan kedua saat proses lamaran itu Baekhyun secara resmi diperkenalkan sebagai kakak baru bagi Jennie, anak perempuan itu sangat senang. Dia merasa memiliki kakak baru yang bisa menyisir rambut panjangnya dan bisa diajak untuk bermain Barbie.

"Jennie, dari mana saja?"

"Makan kue bersama Ibu." Ibu, ya, Ibu Baekhyun. "Ayah meminta eonni untuk bertemu paman dan bibi Jennie di sana. Ayo."

Bertemu paman dan bibi baru, Baekhyun sedikit gugup. Selama ini dia tidak terlalu akrab dengan paman dan bibinya sedangkan sekarang dia memiliki paman dan bibi baru. Rasa gugup dan sedikit takut tentu menyelimuti diri Baekhyun, tapi dari itu semua ada satu orang yang cukup membuat Baekhyun ingin split. Bukan karena penampilannya yang konyol atau baunya yang tak sedap, melainkan satu kenyataan dimana adik tirinya bukan hanya Jennie, tapi juga Jaehyun.

JAE-HYUN!

"Kalian satu sekolah, kan? Baekhyun kenal Jaehyun? Dia anak baru di sekolahmu."

Tidak hanya kenal, tapi Jaehyun adalah salah satu orang menyebalkan yang termasuk dalam daftar orang yang harus di hindari. Sebentar, tidakkah ini terlalu terbelit-belit? Maksudnya, bagaimana bisa garis takdir sebegitu mudahnya menghubungkan Baekhyun dengan Jaehyun sebagai adik tiri setelah pengakuan cinta Jaehyun yang tidak masuk akal itu.

"Ah, i-iya. H-hai, Jaehyun." Baekhyun tergagap. Tidak hanya Baekhyun, Chanyeol yang sedari tadi mengekor mulai tercekat dengan kenyataan baru yang terajut antara Baekhyun dan Jaehyun. Tenang, bagaimanapun juga Chanyeol harus tenang dan tidak boleh tersulut cemburu. Mereka hanya saudara tiri, tidak akan ada hubungan apa-apa, bahkan tidak akan pernah ada hubungan apa-apa kecuali saudara tiri.

"Sebenarnya Ayah ingin mengenalkanmu dari awal dengan Baekhyun, tapi kau selalu berkata sibuk dengan gadis incaranmu di sekolah."

Gadis incaran?!

Ya, gadis incaran yang sekarang menjadi kakak tiri.

"Hai, Baekhyun."

"Baekhyun? Baekhyun noona. Dia kakakmu, Jae."

Jaehyun mendengus ambigu dan Baekhyun menahan tawa karena sekarang tidak akan lagi ada aksi nekad yang bisa mempermalukannya. Jaehyun tidak akan memiliki keberanian sebesar sikap pemberaninya di waktu lalu karena Baekhyun siap menjadi sosok kakak yang tegas agar adiknya ini tidak membuat onar.

.

.

"Yoora noona pergi keluar kota lagi dan dia memintaku menjaga Miko. Kau tau, kan, bagaimana hubunganku dengan kucing?"

Malam hari ketika pesta kecil-kecilan di adakan di rumah Baekhyun, Chanyeol kembali datang sambil membawa sebuah kandang kucing berwarna pink yang menjadi ciri khas Miko. Kucing itu nampak sedikit rapi karena bulunya baru saja di potong dan di lehernya sedang tergantung sebuah kalung berinisial M.

"Percayakan Miko padaku." Baekhyun mengambil si kucing di dalam kandangnya dan memberi ciuman selamat datang berkali-kali. "Di dalam sedang ada makan bersama. Ayo, masuk."

"Tidak," Chanyeol menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. "Aku langsung pulang saja."

"Mana bisa begitu?"

"Di dalam sedang ada pesta keluargamu, sayang." Satu usakan diberikan Chanyeol pada si mungil yang berpakaian lebih feminim dengan dress marun sepanjang lutut. "Ini waktu untuk keluarmu saling mengenal. Jadi, jika ada lelaki asing yang tiba-tiba datang, itu terasa sedikit aneh."

"Asing dari mana? Ibuku sudah sangat mengenalmu, Chanyeol. Jaehyun, Jennie, dan Paman Kim juga sudah mengenalmu sedikit lebih dekat."

"Tetap saja. Aku tidak ingin mengganggu waktu kalian."

"Jadi..."

"Aku akan pulang."

"Serius mau pulang?" Baekhyun mulai mengerucutkan bibir ketika Chanyeol mengencangkan jaket yang ia kenakan. Sedikit tidak rela ketika Chanyeol pergi atau katakan saja Baekhyun masih ingin berlama-lama dengan pacarnya itu. "Ya sudah. Hati-hati di jalan."

"Eii.. kenapa sedih begitu? Besok Senin kita akan bertemu lagi."

"Ya, ya. Aku tau." Batu kecil di dekat kaki Baekhyun menjadi sasaran lain ketika jiwa merajuk Baekhyun mulai tumbuh.

Chanyeol yang tau arti dari gelagat menggemaskan itu mulai menyusun suatu rencana. Di raihnya sebelah tangan Baekhyun yang tak di gunakan untuk menggendong Miko dan mengajaknya sedikit menjauh dari rumah. Lebih tepatnya di sebuah kursi kecil di taman dekat rumah Baekhyun.

"Mau kemana?"

"Sudah, ikut saja."

.

.

Keadaan rumah Baekhyun kini tidak sesunyi sebelumnya. Setelah ibu menikah dengan Paman Kim dan keputusan berbicara jika Paman Kim beserta anak-anaknya akan tinggal di sana juga, rumah itu menjadi lebih ramai.

Jennie senang dengan tempat tinggal barunya terlebih dia bisa tidur satu kamar dengan Baekhyun. Gadis kecil itu terlihat amat sangat menyayangi kakak tirinya dari pada si kakak kandung yang belakangan murung. Selain karena Jaehyun itu laki-laki yang tidak tau bagaimana cara menguncir rambut, Jaehyun juga sering mengabaikan Jennie hanya karena sedang berjuang untuk gadis incarannya. Jennie sempat berdoa semoga usaha kakaknya itu menemui kata pahit karena cintanya ditolak. Bukan apa-apa, Jennie cukup kesal karena beberapa kali Jaehyun memotong sembarangan mawar favorit Jennie di rumah lama untuk diberikan kepada si gadis incaran.

Selain Jennie juga Paman Kim yang berbahagia di rumah ini, ada juga Robert yang merasa hidupnya tidak akan kesepian lagi. Dia memiliki teman baru bernama Growly, kucing persian berwarna coklat dengan raut wajah sedikit seram. Growly adalah kucing peliharaan Jennie yang sudah bersama sejak masih bayi.

Wajah Growly yang tampak seram sedikit banyak mempengaruhi Robert untuk memiliki wajah yang sama. Dia harus terlihat lebih jantan agar Miko si pujaan hati semakin merekat padanya. Tapi sebanyak apapun Robert sudah berusaha, nyatanya dia harus menemui pil pahit ketika Miko datang untuk di titipkan dan Growly memiliki kertarikan pada si manis Miko.

Sebut saja ini alarm berbahaya ketika Growly gencar mendekati Miko. Kucing coklat itu memilih langkah lebih maju dari Robert karena di pertemuan pertama saja dia sudah berani mendekati Miko.

Robert sadar diri. Dia tau bagaimana posisinya sebagai si jantan dengan pantat gembul dan tubuh di liputi banyak lemak—tidak menarik sama sekali daripada Growly yang tampak berotot. Untuk itu, Robert segera mundur ke belakang dengan patahan hatinya yang berkeping-keping. Growly lebih pantas bersanding dengan Miko daripada dirinya.

Ya, Robert patah hati dan dia murung. Berhari-hari dia hanya duduk di teras dan berjalan dengan lemah ketika Baekhyun atau ibu memanggilnya. Robert seperti kehilangan separuh nyawa melihat gencaran pendekatan yang dilakukan Growly pada Miko.

Hingga di suatu hari ketika Robert selesai dengan makan siangnya dan Miko yang tiba-tiba datang lalu duduk di samping Robert dengan lirikan anggunnya, saat itu Robert merasa ada angin segar. Terlebih ketika Growly datang sambil memamerkan bulunya yang lebat dan langkahnya yang sangat jantan dengan maksud sengaja menunjukkan pada Miko, reaksi Miko tak lebih dari 'aku tidak tertarik'. Semua itu ditambah dengan tingkah Miko yang tiba-tiba merebahkan tubuhnya di samping Robert dan dengan kesengajaan penuh meletakkan kepalanya di bawah kepala Robert.

Robert merasa di atas angin. Salah satu sudut bibirnya tertarik keatas karena situasi ini menjadi penentu jika Miko lebih memilihnya daripada si tukang pamer Growly. Jangan ditanya bagaimana Growly saat ini. Dia memilih berputar arah bersama kepala tertunduk penuh kesedihan dan langkahnya terlihat seperti puding yang terlalu banyak air.

Miko tak ambil pusing untuk itu. Dia semakin menyamankan diri di dekat Robert dan sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dagu Robert hingga timbul kenyamanan yang berarti.

.

.

Ujian akhir sudah di mulai. Sekolah tampak lengang dan tidak ada keributan-keributan tidak penting yang terjadi karena hanya ada raut wajah penuh keseriusan. Semua ingin memperoleh yang terbaik dengan usaha masing-masing. Belajar, berdoa, dan berusaha menjadi kunci utama yang dipegang teguh.

Suasana pagi yang lengang kala ujian berlangsung terjadi hampir satu minggu. Keseriusan terpampang jelas dan tidak ada satupun yang berminat untuk saling mengusik. Bahkan Jongin yang tidak pernah memiliki limit belajar lebih dari 40% saja, kini sedang serius dengan kertas ujiannya. Dahinya terlipat kemana-mana demi meremas kembali sisa hasil belajarnya semalam.

Tidak ada aksi curang karena sekolah sangat transparan dengan peraturan ujian. Semua siswa melaksanakan ujian dengan usaha masing-masing dan mereka percaya jika usaha tidak akan mengkhianati hasil. Dan di ujung minggu sisa masa perang mereka dengan lembar ujian, kepala sekolah mengumumkan jika akan ada perhelatan malam kelulusan sehari setelah pengumuman kelulusan.

Semua siswa merasa senang dengan keputusan kepala sekolah terlebih ketika kepala sekolah berkata jika semua biaya perhelatan akan menjadi tanggung jawab sekolah 100%. Ya, semua senang dan menyambut meriah keputusan itu. Tapi berbeda dengan lelaki yang kini sedang duduk di kafetaria sekolah dengan kepala yang tertunduk lemas di meja.

"Aku mencarimu kemana-mana. Ternyata kau di sini." Baekhyun datang dengan membawa dua kotak susu strawberry dan memberikannya satu untuk si lelaki tertunduk itu. "Ada apa? Ujian sudah selesai tapi kau masih bermuram durja seperti itu?" tanya Baekhyun sambil menusuk bulatan silver di kotak susunya.

"Tidak apa-apa." Chanyeol merebut paksa kotak susu milik Baekhyun dan menyesap isinya dalam waktu singkat. "Mau pulang sekarang?"

"Emm... terserah kau saja."

"Atau mau makan?"

"Terserah."

"Kenapa wanita selalu menggunakan kata 'terserah'? Itu membingungkan, Baek. Beri kepastian karena lelaki tidak terlalu pandai menebak isi hati wanita." Chanyeol sedikit menyalak karena dia selalu kesal ketika Baekhyun memberi jawaban ter-ambigu sedunia. Terserah.

"Ya sudah..aku tidak mau pulang dulu. Kalau jalan-jalan bagaimana? Aku ingin makan ice cream, makan pasta, beli baju—"

"Ayo, pergi. Jangan banyak bicara karena waktumu di Korea tidak lebih dari satu bulan."

.

Chanyeol hampir tidak pernah melewatkan waktu dengan Baekhyun kecuali saat tidur malam. Setiap hari dia akan dengan setia datang ke rumah Baekhyun untuk mengajaknya keluar atau sekedar mengobrol saja di rumah. Dia sudah tidak ambil pusing dengan kehadiran Jaehyun sebagai adik tiri Baekhyu yang tentu saja hidup satu atap dengan Baekhyun. Yang ada di pikiran Chanyeol hanya bagaimana cara menghabiskan waktu berdua dengan kekasihnya itu sebelum jarak memisahkan.

Baekhyun sendiri tidak pernah menolak atau protes. Dia sangat senang karena Chanyeol menciptakan banyak waktu indah yang bisa ia jadikan pemicu rindu kala ia berada di negeri Paman Sam. Jika kebanyakan orang tidak terlalu suka dengan rindu, Baekhyun memiliki pemikiran lain. Dia menyukai rindu karena hanya rindu saja yang bisa ia jadikan alasan kenapa harus bertemu Chanyeol.

Satu bulan bukan waktu yang lama dan hal itu membuat Chanyeol risau. Selain karena tegang menunggu pengumuman kelulusan, dia juga dibuat was-was dengan kepergian Baekhyun dua hari setelah pengumuman kelulusan.

Jongin dan Mino menjadi yang pertama bersorak riang dan berkata jika mereka dan teman-teman satu angkatan dinyatakan lulus. Keduanya berlari memutar lapangan dengan segala tingkah konyol mereka dan memicu siswa lain melakukan hal sama. Tapi sayangnya Chanyeol tidak memiliki niatan itu. Dia lebih suka duduk menyendiri di kelas bersama Baekhyun dan memandangi wajah kekasihnya itu lekat-lekat.

"Kau sudah membereskan semua keperluanmu?" Chanyeol mengusak punggung tangan Baekhyun dengan jarinya.

"Ya. Ibu, Jennie, dan Paman Kim membantuku."

"Kau di sana jangan lupa makan, ya?"

"Iya. Kau juga. Jangan lupa makan dan istirahat."

"Jangan terlalu memforsir diri untuk belajar. Jika akhir pekan kau bisa berjalan-jalan dengan teman-temanmu."

"Ya, akan ku pikirkan hal itu." Baekhyun bermain ujung rambut Chanyeol yang baru saja di pangkas. "Dan kau," Baekhyun berubah dengan tatapan intimidasi, "Jangan lagi menambah koleksi majalah porno selama aku di Amerika. Aku sudah merekrut mata-mata untuk mengawasimu."

"Ya, akan ku pikirkan hal itu."

"Lagi pula apa bagusnya majalah porno itu! Kau tau, beberapa studi mengatakan jika terlalu banyak melihat majalah porno akan membuat otak lemah dalam berpikir."

"Aku tidak akan melihat majalah porno, tapi melihat JAV."

"Chanyeol..."

"Iya, iya. Aku tidak akan melihat apapun itu yang berbau porno."

"Jangan terlalu banyak keluar dengan Jongin dan Mino karena mereka itu bandar. Aku tidak mau kau jadi konyol seperti mereka."

"Siap, Bos!"

.

.

Pesta kelulusan sudah di mulai. Semua berbahagia dengan kadar yang banyak mengingat beberapa bulan kebelakang mereka cukup tertekan. Beberapa siswa menampilkan aksinya di panggung dan yang lainnya sibuk menikmati dengan menikmati beberapa makanan yang di jual di booth. Tidak ada yang bersedih kecuali Chanyeol yang sedari tadi tidak bernafsu dengan segala jenis makanan dihadapannya.

Berbeda dengan Baekhyun yang tampak sekali menikmati suasana terakhirnya ke Korea sebelum esok hari dia terbang ke Amerika.

"Chanyeol, mau ke booth ramal? Kata Luhan disana seru sekali."

"Tidak. Di sini saja."

"Baiklah. Aku kesana sebentar, ya?"

Baekhyun berlari riang menuju kesemua booth yang ingin ia kunjungi. Dia tidak terlalu peduli dengan keberadaan Chanyeol yang sedari tadi mengerucutkan bibir dan mendengus kesal karena di abaikan. Sebenarnya dia ingin melarang Baekhyun kemana-mana dan hanya boleh duduk di sampingnya untuk menghabiskan sisa malam sebelum Baekhyun berangkat ke Amerika. Tapi dia tidak setega itu untuk memenjara Baekhyun dengan dirinya sedang Baekhyun sendiri juga butuh waktu bersama teman-teman yang lain.

Lalu ketika pesta perpisahan telah usai dan Baekhyun sudah di antar sampai di depan pintu rumah, Chanyeol semakin berat untuk melangkah pulang.

"Jangan lupa cuci muka, ganti baju, gosok gigi, dan tidur." Kata Chanyeol dengan kedua tangan yang belum bisa melepas tangan kekasihnya.

"Iya. Kau juga. Cepat tidur dan jangan terlalu banyak main game sebelum tidur. Perhatikan kesehatan matamu."

"Tas mu tidak tertinggal di mobil, kan?"

Baekhyun menunjukkan ransel mungil di balik punggungnya.

"Jaketmu?"

Menunjukkan jaket yang jelas-jelas merekat di tubuhnya.

"Kentang gorengmu?"

"Tadi sudah habis ku makan."

"Minummu?"

"Sudah habis juga."

"Sepatu—"

"Chanyeol," Baekhyun sedikit berjinjit untuk menangkup rahang Chanyeol. "Tidak ada barangku yang tertinggal di mobilmu. Aku sudah membawanya semua dan kau tidak perlu mengingatkanku lagi."

"Ya sudah kalau begitu." Chanyeol kembali mengerucutkan bibirnya dan hal itu membuat Baekhyun tersenyum geli. "Aku pulang."

"Sebentar,"

Kaki mungil Baekhyun kembali berjinjit untuk menggapai sesuatu yang berada lebih tinggi dari dirinya. Bukan menggapai bintang di bawah langit malam pukul 11 malam, tapi untuk menggapai sebuah bibir mengerucut yang membuatnya gemas banyak-banyak. Kedua tangan Baekhyun sibuk menahan rahang Chanyeol agar tidak bergerak kemana-mana, oleh karena itu Baekhyun hanya memiliki bibir sebagai opsi terakhir untuk menggapai tujuannya.

Mata Baekhyun terpejam kala bibirnya mulai bergerak canggung di bibir Chanyeol. Tidak terlalu jauh karena ini menjadi yang pertama bagi Baekhyun mencium laki-laki. Dia tidak tau bagaimana cara berciuman yang pantas seperti yang selalu ia lihat dalam film.

Chanyeol sendiri masih terpaku dalam keterkejutannya dan dia ragu untuk membalas atau tidak. Dia juga tidak tau maksud semua ini sebagai bentuk perpisahan yang manis atau apa, yang jelas Chanyeol mulai mengumpulkan keberanian untuk membawa Baekhyun pada tingkat ciuman yang lebih dalam sebelum...

"Noona, kau sudah pul—"

...Baekhyun tersentak dan memulai kegugupan ketika Jaehyun tiba-tiba muncul dan merusak suasana itu.

"A-ah, J-jaehyun..I-iya, a-aku..a-aku s-sudah p-pul.."

Jaehyun belum bisa mengkondisikan bulatan matanya yang mengartikan suatu keterkejutan berlebih sedang Chanyeol mengusak kasar rambutnya karena kesal momen langka ini tiba-tiba terhenti.

"A-aku..masuk dul—"

Persetan dengan keterkejutan Jaehyun, persetan dengan malam yang bersiap menuju pagi, karena Chanyeol hanya ingin meraih rahang Baekhyun dan kembali mencuri ciuman dari si mungil.

.

.

.

END

Hore selesaiii

Horeee Latibule akhirnya wisudaaaaaa~

Terima kasih sudah memiliki kenangan bersama Latibule, semoga kedepannya bisa ketemu lagi yaa..

Maaf kalo Latibule ada salah.. hehe

.

.

Singkatnya, selamat EXO yang sudah berusia 5 tahun.. semoga semakin SARANGHAJA!

Selamat ujian juga buat para readers yang menghadapi ujian akhir, semoga sukses dan nilainya memuaskan =)

.

.

Selamat ulang tahun juga buat diceback, semoga semakin dewasa dan segala urusannya diberi kelancaran. Selamat ulang tahun juga buat kalian yang hari ini ulang tahuuuuunnn.

Saranghae~~~~~

.

.

FF ini update bareng : Lolipopsehun, Dobbyuudobby, Railash61, Pupuputri92, Kimji, Kang Seulla