Second Hand Of Time
Disclaimer : Saint Seiya Masami Kurumada
Warning : Typo, bahasa tidak baku, dan kesalahan lainnya.
Beberapa minggu kemudian
Luka Sisyphus berangsur sembuh berkat perawatan dari Reina, anak perempuan itu memiliki keahlian dalam pengobatan yang luar biasa untuk anak seumurannya. Berkat kemampuannya itu Sisyphus sudah dapat bangun bahkan berjalan dengan normal, namun karena kondisi tubuhnya yang belum stabil dia hanya diperbolehkan berjalan-jalan di dalam rumah untuk sementara waktu.
Saat Sisyphus sedang duduk di ruang tengah sambil membaca buku yang ada disana, dia melihat Helena masuk ke dalam ruangan. Sisyphus menaruh bukunya dan berdiri.
"Se, selamat siang, Helena-san." ucap Sisyphus dengan suara gugup. Wanita itu menatap Sisyphus, matanya yang berwarna biru cerah menunjukkan ekspresi lembut juga beribawa.
"Jangan bersikap formal seperti itu Sisyphus, kau sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri." Ucap Helena.
Sisyphus hanya mengangguk kecil dan duduk setelah Helena pergi dari ruangan itu, namun dia kembali berdiri saat melihat Helena, Astrea, dan Reina muncul dengan pakaian lengkap.
"Ano…, kalian mau kemana?" Tanya Sisyphus dengan wajah panik, membuat nenek-cucu itu menoleh kepadanya.
"Astaga.., aku lupa dengan Sisyphus." Ucap Helena dengan wajah terkejut sambil menatap Sisyphus.
"Kami akan melakukan pengecekan rutin keadaan bebatuan dan tanah di pulau ini seperti biasa." Ucap Astrea.
"Pengecekan tanah dan bebatuan?" ucap Sisyphus dengan wajah bingung, sementara Reina hanya tertawa kecil.
"Sisyphus belum tahu pekerjaan nenek bukan?" Tanya Reina kepada Sisyphus yang dibalas dengan sebuah anggukan oleh pemuda itu.
"Nenek adalah seorang Geolog, seseorang yang mempelajari struktur fisik dan proses Bumi dan planet sistem tata surya untuk kemajuan geologi, dan kami adalah asistennya." Ucap Reina, Sisyphus mengangguk mengerti dan menatap kearah Helena.
Helena membalas tatapan Sisyphus dengan sebuah senyum kecil, dia seolah tahu apa yang ada dipikiran pemuda itu.
"Kau mau ikut kami Sisyphus?" Tanya Helena kepada Sisyphus pemuda itu hanya diam saja namun matanya menatap Helena dengan tatapan penuh harap.
Astrea yang melihat tatapan Sisyphus hanya menghela napas dan menatap Reina.
"Sisyphus sudah boleh berjalan jauh?" Tanya Astrea kepada adiknya, Reina mengangguk.
"Sudah boleh kok, kondisi Sisyphus sudah mulai stabil, tapi ita harus tetap mengawasinya, karena kondisi Sisyphus bisa saja berubah, terutama bila tiba-tiba ingatannya kembali." Balas Reina kepada kakaknya. Astrea hanya mengangguk.
"Nenek baju 'orang itu' bisa digunakan tidak?" Tanya Astrea kepada Helena, dan dibalas oleh anggukan oleh sang nenek.
Setelah mendapat persetujuan dari neneknya Astrea memanggil Sisyphus dan membawanya ke kamar pemuda itu.
Sisyphus hanya berdiri menatap Astrea yang tampak sedang membongkar lemari yang berada di kamar pemuda itu. Sejak dia mulai tinggal bersama denga Helena dan cucunya, kamar tempat dia terbangun pertama kali telah menjadi kamar pribadi untuknya. Termasuk pakaian yang ada di dalam lemari dikamarnya itu. Sisyphus tidak tahu siapa pemilik pakaian yang berada dikamarnyaitu, dan itu membuatnya penasaran.
"Astrea-san, bolehkah saya bertanya?" panggil Sisyphus kepada Astrea yang masih tampak sibuk membongkar lemari.
"Pertanyaan apa?" balas Astrea tanpa berbalik.
"Orang yang kalian panggil dengan sebutan 'orang itu'… siapa?" Tanya Sisyphus dengan suara ragu namun juga penasaran. Sesaat gerakan Astrea terhenti, namun dia kemudian kembali meneruskan kegiatannya mencari baju.
"Dia adalah pemilik pakaian yang kau pakai dan baju yang akan kau pakai sekarang" ucap Astrea pendek sambil melempar beberapa pakaian kearah Sisyphus dan member isyarat kepada pemuda itu untuk berganti baju saat dia melangkah keluar dari kamar pemuda itu.
"Tampaknya kita harus membelikan Sisyphus baju ya…" ucap Helena saat dia melihat penampilan Sisyphus setelah pemuda itu berganti baju. Wanita itu tak bisa menyembunyikan senyumannya saat melihat baju yang dipakai oleh Sisyphus.
Baju yang dikenakan Sisyphus tampak kebesaran untuk tubuhnya, membuat pemuda itu sedikit kesulitan untuk berjalan, namun dengan bantuan Astrea dan Reina baju itu menjadi cukup pas, tentu setelah baju itu dijepit dan digulung disana-sini.
"Baiklah, sekarang ayo kita berangkat." ucap Reina, dengan penuh semangat gadis itu berjalan mendahului nenek dan kakaknya, sambil menarik tangan Sisyphus yang berada dibelakangnya.
Saat Sisyphus dan Reina berjalan di depan mereka, Astrea berbicara kepada neneknya.
"Nenek, besok saya akan ke kota." ucap Astrea dengan pelan, Helena hanya tersenyum kecil.
"Carikan Sisyphus baju yang banyak ya…" ucap Helena, Astrea hanya mengangguk.
"Lalu jangan lupa oleh-olehnya.." lanjut Helena sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Astrea, anak perempuan itu hanya tertawa kecil.
"Tentu saja nenek." ucap Astrea pelan.
Sisyphus menatap pemandangan disekitarnya dengan kagum. Batu-batuan disekitarnya, mereka tampak unik juga indah. Setelah itu dia ikut mengecek kondisi tanah di pulau itu, hari ini mereka akan mengecek keadaan tanah di puncak gunung yang berada ditengah pulau itu. Mereka berjalan diantara tebing yang berada menjulang diantara mereka. Sesaat Helena berhenti dan menatap Sisyphus, Sisyphus yang merasa ditatap oleh Helena berhenti dan menoleh kearah Helena diikuti oleh Reina dan Astrea.
"Apa kau suka tempat ini Sisyphus?" Tanya Helena kepada Sisyphus, pemuda itu mengangguk
"Ya, tempat ini sangat indah dan juga begitu damai" jawab Sisyphus dengan wajah kagum, Helena hanya tersenyum lembut.
"Kau tahu Sisyphus, aku sudah sangat lama tinggal disini bahkan sebelum bersama cucu-cucuku, kami merawat serta melindungi pulau ini dari dunia luar, karena dipulau ini ada benda berharga yang harus kami jaga yaitu batu-batu ini sendiri." Ucap Helena pelan sambil mengelus dinding batu disampingnya.
Sisyphus menatap batu-batuan dihadapannya dengan wajah bingung membuat Helena tertawa kecil.
"Gammanium, Stardust Sand, Orichalcum, itu adalah beberapa mineral yang ada di dalam batu-batuan ini, mereka adalah mineral yang sangat langka dan sangat dibutuhkan oleh orang tertentu, karena itu mereka tidak boleh jatuh ke sembarang orang" ucap Helena sambil kembali berjalan.
Mata Sisyphus kembali menatap kagum batu-batu itu, tak lama dia kembali menatap Helena.
Pemuda itu berjalan mengikuti Helena dari belakang.
"Ano… Helena-san, bolehkah saya membantu anda bekerja sebagai Geolog? Saya berjanji akan belajar dengan sungguh-sungguh" ucap Sisyphus dengan wajah penuh harap dan juga tekad.
Kata-kata Sisyphus membuat Helena terhenti sejenak, wanita itu menoleh kearah Sisyphus, tawanya kali ini tidak tertahan lagi, membuat pemuda itu tersipu malu seperti anak kecil seumurannya.
"Tentu saja kau boleh membantuku Sisyphus." ucap Helena sambil mengelus kepala pemuda itu sebelum kembali melangkah menuju puncak gunung.
Mereka berempat kembali berjalan dalam diam hingga tiba di puncak gunung. Begitu sampai di puncak gunung Helena berhenti dan mulai memeriksa keadaan tanah disana bersama dengan kedua cucunya namun saat Sisyphus akan ikut membantu wajah pemuda itu berubah pucat saat melihat pemandangan dihadapannya.
Sebuah jembatan batu yang dikanan dan kirinya terdapat jurang curam yang dipenuhi dengan batu-batu runcing, diujung jembatan itu Sisyphus seolah melihat sebuah menara berdiri disana, namun saat Sisyphus menatap tempat itu lagi disana hanya tampak sebuah tanah kosong
Perlahan pemuda itu melangkah mundur, pemuda itu berbalik kebelakang dengan panik, dalam sekejap pemuda itu melihat sosok beberapa pemuda berambut biru, coklat, hitam dan blonde yang wajahnya tak tampak. Sisyphus berubah panik saat melihat bayangan mereka, napas pemuda itu terasa berat, pandangan dan pendengaran pemuda itu terasa menjauh dalam seketika pemuda itu ambruk.
Gambaran-gambaran asing bermunculan dikepalanya dan membuat kepala pemuda itu terasa akan meledak.
"Sisyphus!" seseorang menjerit memanggil nama pemuda itu. Seketika gambaran-gambaran aneh itu berhenti dan Sisyphus dapat merasakan tanah dikakinya juga tangan seseorang yang memeluknya, dia menatap pemilik tangan yang memeluknya itu.
"Re, Reina…" ucap Sisyphus pelan, napas pemuda masih terengah-engah membuatnya sulit berbicara, Reina menatap wajah Sisyphus dengan mata toskanya yang memancarkan kekhawatiran.
"Sisyphus, Sisyphus, tariklah napas dalam-dalam , lalu hembuskan pelan-pelan." Ucap Reina, berusaha menenangkan Sisyphus.
Sisyphus mengangguk dan mengikuti perintah anak itu, perlahan napas pemuda itu kembali normal. Melihat kondisi Sisyphus yang mulai stabil Reina mengehela napas lega.
"Syukurlah, kau membuat kami sangat khawatir." Ucap Reina, gadis itu masih menahan tubuh Sisyphus yang lemas.
"Maaf…" ucap Sisyphus lemah, perlahan mata pemuda itu tertutup dan pemuda itu jatuh tertidur.
Reina tersenyum pelan melihat Sisyphus yang tertidur, kemudian dia menatap kakanya yang berdiri tak jauh dari dia dan Sisyphus, ekspresi kakaknya seolah tak melihat kejadian apa-apa disana. Astrea menatap Reina dengan wajah datar.
"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Astrea.
"Kurasa Sisyphus mengalami PTSD, mungkin dia tadi mengingat masa lalunya." Jawab Reina
" Begitu, kalau begitu kita bisa membiarkannya saja?, bukannya nanti akan berhenti sendiri?" Tanya Astrea.
Kata-kata Astrea membuat ekspresi Reina berubah, mata toska anak itu menatap tajam kakaknya.
"Kenapa kakak berkata seperti itu? Kakak tahu bukan bahaya PTSD? Bukan keinginan Sisyphus untuk kehilangan ingatannya seperti ini, harusnya kakak yang paling mengerti bagaimana perasaan Sisyphus!." Ucap Reina, kata-katanya terdengar dingin.
"Selain itu, kalau kakak memang tidak peduli dengan Sisyphus kenapa tadi kakak berusaha menolongnya bahkan sampai menjerit panik seperti itu? Lanjut Reina dengan suara pelan. Dan kembali mengecek keadaan Sisyphus.
Reina menaruh tangannya ke dahi Sisyphus serta mengecek denyut nadi pemuda itu, wajah anak itu berubah cemas.
"Aku harus membawanya kerumah, denyut jantungnya cukup cepat." Ucap Reina, Reina menaruh tangan Sisyphus kebahunya mencoba menganggka tpemuda itu namun tubuh pemuda itu tidak bergeming.
Astrea yang melihat itu kembali menghela napas, perlahan dia mendekati Reina dan mengambil tubuh Sisyphus dari bahu adiknya itu. Gadis itu menggendong Sisphus dengan gaya fireman carry dengan mudahnya, seolah pemuda digendongannya itu tak memiliki beban.
"Kau bisa berkata seperti itu jika kau bisa mengangkat Sisyphus seperti aku" ucap Astrea datar membuat Reina merengut kesal karena sifat keras kepala kakaknya itu, namun kata-kata Astrea setelanhya membuat dia tertegun.
"Namun kata-katamu tadi benar, aku harusnya orang yang paling mengerti kondisi Sisyphus. Karena itu, aku minta maaf atas perkataanku tadi." Ucap Astrea sambil melangkah menuruni gunung.
Reina yakin, sesaat tadi dia melihat rona kemerahan di pipi kakaknya itu. Dai tertawa pelan sambil berlari mengejar kakaknya yang telah berjalan cukup jauh darinya, dia menggenggam tangan kakaknya yang kosong dan berjalan disampingnya.
"Ya, aku memaafkan kakak" ucap gadis kecil itu pelan, walau wajah Astrea tampak tidak berubah tapi Reina dapat melihat sebuah senyuman yang samar terbentuk diwajah kakaknya itu.
Helena tersenyum lembut melihat tingkah kedua cucunya itu, perlahan dia berjalan mengikuti kedua cucunya menuruni gunung.
Akhirnya, akhirnya,akhirnya! TT0TT, saya berhasil update juga…., mohon maaf atas ketelatan yang sangat, sangat,sangat parah ini…*sembahsujud
Saya tidak bisa buka FF dikarenakan kartu saya memblok situs ini, setelah cari tahu sana-sini, ternyata tinggal ganti kartu saja*pundung #kokmalahjadicurhatgini.
Juga karena banyaknya halangan lainnya akhirnya saya berhasil update, yay!*narigaje
Umm, review?saran? Arigatou
