Disclaimer : Saint Seiya by Masami Kurumada

Warning : Typo, OOC, OC, alur yang kacau.


Sisyphus terbangun saat matahari mulai bersinar cukup terang, dia mandi dan berganti baju lalu turun ke ruang makan, pemuda itu melihat ruang makan tampak sepi dan hanya ada Reina seorang disana.

"Selamat pagi Sisyphus." Ucap Reina dengan wajah tersenyum saat melihat Sisyphus yang menatapnya dari tangga.

"Selamat pagi, Reina" jawab Sisyphus pemuda itu membalas sapaan Reina.

Sisyphus kemudian membantu anak itu memasak sarapan mereka, namun hingga masakan tersusun diatas meja, baik Astrea maupun Helena belum juga berada dimeja makan. Hal itu membuat Sisyphus merasa khawatir.

"Reina, kenapa nenek Helena dan Astrea belum datang? Mereka kemana?" Tanya Sisyphus, pemuda itu tampak gusar karena ketidakhadiran kedua orang itu terutama Astrea

"Nenek sudah ke perternakan sejak pagi sekali, kalau kak Astrea, dia pergi ke kota, katanya ada barang yang perlu dia beli, dia akan pulang saat jam makan siang nanti." Jawab Reina, dia sudah duduk dikursi dan memulai memakan sarapannya. Mendengar jawaban Reina, Sisyphus mengangguk dan ikut memakan sarapannya.

Selama makan Reina memperhatikan Sisyphus, pemuda itu hanya memakan sedikit sarapannya dan tampak memikirkan sesuatu, tak lama Sisyphus sama sekali tidak menyentuh makanannya membuat Reina menatap kearah pemuda itu.

"Sisyphus? Ada apa? Apa ada yang salah dengan makannya?" Tanya Reina, namun Sisyphus hanya menggeleng.

Reaksi Sisyphus membuat Reina merasa khawatir, anak itu kemudian ikut berhenti makan dan menatap Sisyphus dengan wajah khawatir.

"Ada apa Sisyphus? Apa kau merasa tidak sehat? Apa perutmu sakit? Atau kepalamu pusing?" Tanya Reina dengan khawatir, namun Sisyphus hanya menggeleng pelan, membuat Reina semakin khawatir.

Anak itu turun dari kursinya dan berlutut sambil memegang tangan Sisyphus dia menatap wajah pemuda itu dengan wajah khawatir.

"Sisyphus, kumohon tolong beritahu aku, aku hanya ingin membantumu…" ucap Reina dengan pelan dan memohon kepada Sisyphus. Pemuda itu menatap sedih kepada Reina dan menundukkan kepalanya.

"Reina… Saya minta maaf, kehadiran saya pasti sangat merepotkan dan mengesalkan kalian." Ucap Sisyphus lirih.

Mendengar kata-kata Sisyphus wajah Reina berubah serius.

"Kenapa kau berpikiran seperti itu Sisyphus?" Tanya Reina, namun Sisyphus tetap menunduk tak menjawab pertanyaan Reina.

"Apa ini karena kak Astrea?" Tanya Reina lagi, bahu pemuda itu sedikit menegang saat mendengar nama kakak Reina itu, menjawab pertanyaan anak itu.

Meihat reaksi Sisyphus, Reina dapat menebak bahwa masalah Sisyphus memang karena kakaknya itu

"Jadi memang karena kakakku, bisakah kau ceritakan apa masalahnya Sisyphus" ucap Reina sambil menatap Sisyphus, pemuda itu menatap kearah mata toska anak itu, melihat ketulusan dan keseriusan yang terpancar dari mata Reina akhirnya Sisyphus mengangguk pelan dan mulai bicara.

"Saya merasa Astrea tidak menyukai saya, setiap saya menatap kearahnya dia memalingkan wajahnya bahkan pergi, saat saya mencoba berbicara kepadanya dia hanya menjawab seperlunya bahkan dia tidak menatap saya. Melihat sikapnya yang seperti itu saya takut jika kehadiran saya disini hanya menganggu dia." Jawab Sisyphus pelan .

Reina menatap Sisyphus dengan lembut, anak itu merasa bersalah karena telah membuat Sisyphus merasa seperti itu.

"Sisyphus tolong maafkan kak Astrea ya, dia sebenarnya tidak bermaksud seperti itu. Dia hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa dengan anda. Kami selama ini tinggal hanya bertiga dipulau yang cukup terisolir ini, orang yang kakakku kenal hanya aku dan nenek, hal itu membuat dia cukup protektif dengan kami dan membuat kakak menjadi tertutup dan tidak mudah untuk percaya dengan orang lain terutama laki-laki. Tapi tenang saja kakak sebentar lagi pasti mau berbicara denganmu" ucap Reina dengan senyuman menyakinkan, Sisyphus hanya mengangguk pelan melihat senyuman Reina, namun dalam hatinya dia masih merasa ragu, sangat ragu.

Reina menatap Sisyphus, anak itu tahu bahwa Sisyphus masih merasa ragu walau dia telah menyakinkan pemuda itu tentang sikap dingin kakaknya kepada Sisyphus. Dia harap rencana kakakya nanti dapat meyakinkan Sisyphus bahwa kakaknya tidak membenci pemuda itu.

Reina kemudian berdiri dan membereskan sarapan mereka, dia kemudian menuangkan teh untuk mereka berdua.

"Kau mau teh Sisyphus, baik untuk menenangkan pikiranmu." Ucap Reina sambil menyodorkan teh kepada Sisyphus, yang diterima pemuda itu diikuti ucapan terima kasih dari pemuda itu.

Sisyphus kembali tenggelam dalam pikirannya saat meminum teh itu, sebuah pertanyaan kembali muncul dikepalanya, dia berhenti meminum tehnya dan menatap Reina.

Reina yang melihat Sisyphus berhenti minum dan menatap dirinya hanya membalas tatapan Sisyphus dengan ekspresi bingung.

"Reina, apa mungkin aku juga sakit ya?" Tanya Sisyphus kepada anak itu.

Reina menatap Sisyphus masih dengan ekspresi bingung namun dia tetap mendengarkan ucapan Sisyphus dengan seksama sambil meminum tehnya. Entah kenapa dia merasa masalah Sisyphus kali akan berbeda dengan yang tadi.

"Setiap melihat Astrea entah kenapa jantungku berdetak cepat dan saat melihatnya menjauh dariku, dadaku terasa sesak." Jawab Sisyphus pelan sambil menyentuh tempat dimana jantungnya berada. Pemuda itu tidak menyadari saat dia berkata seperti itu wajahnya bersemu merah.

Reina tersedak oleh tehnya sendiri saat mendengar kata-kata Sisyphus. Reaksi Reina membuat Sisyphus merasa khawatir.

"Reina, kau tak apa-apa?." Tanya Sisyphus sambil berdiri dari kursinya dan mendekati Reina.

Reina hanya mengangguk pelan memberi tanda bahwa dia baik-baik saja. Anak itu mengatur napasnya kembali

Reina menatap Sisyphus yang berdiri dihadapannya dengan ekspresi lugu seperti anak kecil yang menunggu permen darinya, membuat anak itu tersenyum gugup.

"Jadi Reina, apa aku sakit? Jika iya, apa nama penyakitnya?" Tanya Sisyphus, membuat gadis itu menjadi panik. Dia menatap sekelilingnya mencari cara untuk menghindari pertanyaan Sisyphus. Saat melihat keranjang buah sebuah ide muncul dikepala anak itu.

"Sisyphus bagaimana kalau kita ke kebun, sambil menunggu kakak pulang?" Tanya Reina mencoba mengalihkan Sisyphus dari pertanyaan itu.

Reina tampak tegang saat melihat Sisyphus diam namun anak itu menghela napas lega saat melihat pemuda itu mengangguk setuju.

"Tunggu apa lagi, cepat ganti bajumu dan kita akan berangkat!" ucap Reina sambil mendorong tubuh Sisyphus menuju tangga, saat pemuda itu hilang dari pandangannya dia menghela napas lega. Reina tahu apa nama penyakit dan hal yang dirasakan Sisyphus tidak bisa disebut penyakit namun dia sama sekali bukan orang yang tepat untuk menjelaskannya kepada pemuda itu , dia sendiri belum pernah mengalami hal seperti itu.

"Syukurlah aku bisa mengalihkan pertanyaan tadi, kuharap Sisyphus bisa menyadarinya sendiri" ucap Reina pelan.


Sisyphus membantu Reina memanen buah-buahan yang sedang panen dimusim itu, sembari membantu anak itu memanen buah pemuda itu memandang ke sekeliling kebun itu . Saat menuju perkebuna nitu Reina menjelaskan bahwa perkebunanini sangat luas dan terdiri dari beberapa jenis pohon buah, selain kebun itu ada beberapa kebun lain yang terpisah berdasarkan fungsi dan jenis tanaman yang ditanam, kebun tempatnya sekarang berada adalah kebun yang buahnya untuk dijual, pemuda itu penasaran bagaimana hanya dengan tenaga seorang wanita tua dan dua anak kecil dapat mengurus seluruh pulau itu.

"Yak, selesai, kita istirahat sebentar lalu pulang, kau mau delima Sisyphus?" tawar Reina membuat Sisyphus tersadar dari lamunannya. Pemuda itu kemudian mengambil buah yang ditawarkan oleh Reina dan berterima kasih.

Mereka memakan buah delima itu sambil menikmati angin yang berhembus dengan lembut, Sisyphus menatap kearah lautan yang dapat terlihat dari kebun itu, dari pulau tempat dia berada dia dapat melihat kota walau tampak sangat kecil karena jarak pulau dengan tempat itu cukup jauh.

"Hei Sisyphus, apa ada yang kau ingin tanyakan lagi tentang pulau ini? Jika ada tanyakan saja." Ucap Reina sambil memakan buah delima miliknya.

Sesaat Sisyphus tampak ragu, namun akhirnya dia menanyakannya juga.

"Bagaimana kalian bisa mengurus seluruh pulau ini hanya dengan bertiga saja?" Tanya Sisyphus

Mendengar pertanyaan itu Reina tertawa kecil. Dia menaruh delimanya dan menatap kearah kota diseberang sana.

"Kami tidak sendirian, kadang penduduk kota datang kesini untuk membeli buah sekaligus memanennya sendiri dari tempatnya, selain itu dulu 'orang itu' juga sering datang kemari untuk membantu kami saat panen" jawab Reina, mata anak itu menerawang jauh .

Mendengar kata 'orang itu' disebutkan entah kenapa Sisyphus merasakan sesuatu yang aneh.

"Siapa nama orang yang kalian maksud" Tanya Sisyphus dengan wajah penasaran, Reina tertawa kecil.

"Ah, Sisyphus belum kami beritahu ya? Nama orang itu…" ucap Reina

Saat Reina menyebut nama orang itu seketika itu juga kepala Sisyphus terasa akan meledak, Sisyphus mendengar seseorang memanggil namanya sebelum pandangan pemuda itu berubah gelap.


Sisyphus membuka matanya, sakit dikepalanya sudah sedikit berkurang. Matanya menatap keluar dan melihat langit telah berwarna gelap membuat pemuda itu menghela napas.

"Kau sudah bangun?" Tanya seseorang kepada Sisyphus. Pemuda itu hampir melompat dari tempat tidurnya.

Sisyphus melihat Astrea sedang duduk sambil memegang buku ditangannya, tampaknya Astrea menunggu dia tersadar sambil membaca buku.

Melihat Astrea membuat Sisyphus kembali teringat dengan kejadian tadi pagi dan kembali terdiam, pemuda itu menundukkan kepalanya dan tidak menyadari tatapan khawatir yang muncul diwajah Astrea.

"Maaf, saya ini pasti selalu merepotkan anda…" ucap Sisyphus lirih.

Astrea menatap Sisyphus, sejenak dia menutup matanya dan kembali menatap Sisyphus.

"Tidak apa-apa, itu normal bagi orang yang mengalami amnesia tiba-tiba pingsan…saat ingatannya mencoba untuk kembali" ucap Astrea, namun Sisyphus hanya diam.

Astrea menatap Sisyphus yang masih menundukkan kepalanya, anak itu menatap Sisyphus dengan wajah khawatir dan juga kesal. Kesal karena berada dalam situasi yang disebabkan oleh dirinya sendiri dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia bukan tipe orang yang pandai dalam berkata-kata dan menyemangati orang lain. Astrea menghela napas dan menatap Sisyphus.

"Sisyphus dengar, aku hanya mengatakannya satu kali saja, jangan meminta maaf dan merasa bersalah hanya karena hal-hal kecil seperti ini, kau adalah bagian dari keluarga ini, bukan tamu mengerti?" ucap Astrea dia menatap kearah Sisyphus yang kini melihatnya dengan wajah terkejut.

Tak lama wajah pemuda itu berubah cerah.

"Ya, saya mengerti" ucap Sisyphus, membuat Astrea tersenyum simpul.

"Bagus, kalau kau sudah merasa baikan cepatlah turun, sebentar lagi waktunya makan malam" ucap Astrea sambil berdiri dan melangkah keluar. Namun langkah anak itu terhenti didepan pintu dan menoleh kearah Sisyphus.

"Sisyphus sebelum turun ganti bajumu dengan baju yang ada didalam lemari, pilih sesukamu karena semuanya milikmu." Ucap Astrea, sebelum menutup pintu kamar Sisyphus.

Sisyphus hanya menatap pintu yang ditutup Astrea dengan wajah bingugn namun menuruti ucapan anak itu, dia membuka pintu lemari dan menatapnya dengan wajah terkejut.

Lemari yang awalnya hanya berisi beberapa pakaian telah penuh dengan beragam jenis baju yang sebagian besar dia tidak tahu jenisnya. Sisyphus hanya memilih memakai kemeja merah dan celana hitam sebelum turun kebawah.

Sisyphus tampak terkejut saat melihat suasana di dalam ruang makan, ruangan itu penuh dengan hiasan.

"Sisyphus, akhirnya kau turun juga, ayo masuk" ucap Reina sambil menarik tangan Sisyphus dan mengantarnya ke kursi di sebelah Helena.

"Umm, sebenarnya, ada acara apa hari ini?" Tanya Sisyphus saat dia sudah duduk dikursinya.

"Ini pesta penyambutanmu dirumah ini, kak Astrea sendiri yang mempersiapkannya, kakak mencurahkan seluruh kemampuan memasaknya sekalian untuk minta maaf ke Sisyphus" Ucap Reina, Astre tampak panik dan mencubit bahu Reina membuat adiknya itu terdiam dan meringis.

"Minta maaf…" ucap Sisyphus pelan dan menoleh kearah Astrea.

Sisyphus menatap Astrea yang duduk disebelah Reina, anak itu menoleh kearah lain namun dia dapat melihat rona kemerahan dipipi anak itu.

"Kau sudah banyak membantu kami, tapi sikapku selama ini malah seperti itu, ini permintaan maafku dan ucapan selamat datang untukmu dirumah ini" ucap Astrea pelan, anak itu tidak menyadari perubahan ekspresi Sisyphus saat mendengar kata-kata darinya.

"Nah, karena Sisyphus sudah disini, berarti semuanya sudah lengkap ya, mari kita mulai pestanya…" Ucap Helena sambil tersenyum.


To Be Continue

Akhirnya bisa kembali mengupdate cerita ini, saya minta maaf karena kembali terlambat mengupdate cerita ini*seolahadayangmenunggu

Saya harap para senpai sekalian masih bersedia membaca dan mereview cerita aneh bin gaje ini...

Komentar, kritik ,dan saran sangat berarti buat saya : )

Thanks for reading.