Para gold saint berkumpul diruang tengah setelah jam makan siang.

"Hei, kapan Dohko sampai di Jepang?" tanya Kanonn sambil memainkan remote tv, mengganti-ganti chanelnya karena bosan membuat Saga marah karena terganggu oleh tingkah adik kembarnya.

"Kanon, bisakah kau berhenti mengganti-ganti chanel tvnya?" ucap Saga kesal

"Tapi aku bosan, dan tidak ada acara yang bagus di tv." Jawab Kanon

"Kalau begitu berhenti melihat tv dan pergi keluar." Jawab Saga.

Kanon menatap Saga begitu juga sebaliknya sepercik kilat muncul diantara mereka, dan dimulailah kembali debat sengit yang berujung dengan keributan yang membuat para gold saint tidak mendengar bel di pintu depan yang berbunyi entah untuk keberapa kalinya.

Sisyphus yang berada dilantai atas turun karena suara bel itu, dia menoleh kearah ruangan para golda saint dan merasa bingung antara menghentikan pertengkaran itu atau tertawa melihat tingkah para gold saint. Dia terdiam di depan pintu masuk ruangan itu, sesaat dia merasakan perasaan nostalgia saat melihat para saint itu. Sesaat dia seolah melihat mereka dalam wujud anak-anak mereka.

Suara bel pintu kembali menyadarkan Sisyphus dari lamunannya. Pemuda itu bergegas menuju pintu dan membukanya.

"Selamat siang, maaf telah membuat anda lama menunggu." Ucap Sisyphus saat membuka pintu itu.

Didepan pintu dia melihat seorang pemuda berkulit coklat mengomel.

"Astaga kalian lama seklai membuka pintunya, kau tahu usiaku ini sudah tidak muda lagi perjalanan dari Cina ke Jepang saja bagiku sudah lama... sekali." Pemuda itu melotot saat melihat Sisyphus di depannya.

"Aio, Aiolos?!" jerit pemuda itu, dia memeluk Sisyphus erat-erat.

"Kemana saja kau menghilang selama ini?! Kenapa tiadk memberi kabar hah?" ucap Dohko sambil tertawa riang dan melepas pelukannya.

"Oh, tentu kau tidak mengenalku dalam wujud ini, tapi ini aku, Libra Dohko, pria tua penunggu air terjun yang sering kau kunjungi saat kau masih kecil." Ucap Dohko sambil tersenyum lebar.

Dohko menatap Sisyphus dan menatap Aiolos dengan bingung, saat Sisyphus masih tidak bereaksi.

"Hei, Aiolos mengapa kau masih tidak menajwab?" tanya Dohko.

Sisyphus menatap Dohko dengan sedih, sesaat Sisyphus merasa melihat sesosok kakek tua pendek namun dia menepis bayangan itu.

"maaf, sayaa bukan Ailos, nama saya adalah Sisyphus" ucap Sisyphus perlahan dan berbalik meninggalkan Dohko yang ternganga di pintu depan.

"Sisyphus..." ucap Dohko pelan.


Shion melangkah keluar dari ruang tengah setelah berhasil melerai pertengkaran Saga dan Kanon dengan Crystal wall.

Dia melihat pintu depan terbuka dan Dohko yang berdiri mematung diluar.

"Ah, Dohko? Kau sudah sampai? Kenapa tidak memberi tahu?" panggil Shion sambil berjalan mendekati Dohko, namun Dohko hanya diam.

"Dohko?" panggil Shion seklai lagi dengan nada khawatir.

Dohko menoleh kearah Shion dan menatapnya dengan serius.

"Shion, beritahu aku, apa yang terjadi disini? Terutama, apa yang terjadi dengan Aiolos, mengapa dia menyebut dirinya Sisyphus?." Tanya Dohko.

Shion menghela napas pelan.

"Jadi kau sudah bertemu dengan Sisyphus?" tanya Shion yang dibalas dengan anggukan oleh Dohko.

"Siapa dia sebenarnya?" tanya Dohko dengan sedikit memaksa. Namun Shion hanya menggeleng.

"Aku juga baru sampai dan Aiolos sudah seperti itu." Jawab Shion sambil melangkah masuk.

"Daripada itu, ayo masuk dan tanyakan kepada mereka, mereka pasti memiliki jawaban yang kau inginkan Dohko." Ucap Shion.

Dohko mengagguk dan memasuki mansion itu diikuti oleh Shion setelah dia menutup pintu depan.


Dohko dan Shion duduk ditengah-tengah ruangan dan dikelilingi oleh para gold saint dan mendengarkan cerita mereka.

Mereka berdua merasa ingin tertawa saat melihat para gold saint bercerita, entah sadar atau tidak tapi para gold saint bercerita sesuai urutan kuil mereka, dimulai dari Mu dan diakhiri oleh Aphrodite.

Namun mereka mendengarkan dengan cermat setiap cerita para gold saint itu dan mengambil suatu kesimpulan.

"Jadi, pemuda tadi adalah seorang pemuda yang mirip dengan Aiolos dan bernama Sisyphus?" ucap Dohko.

Shion berjengit saat mendengar kesimpulan Dohko, ada sesuatu yang mengganjal dari kesimpulan itu, seolah-olah ada kepingan yang tak tepat namun menempel dengan tepat disana.

Tiba-tiba dia teringat dengan seorang wanita lemurian dengan rambut berwarna putih.

"Mu, katamu pemuda itu adalah seorang Geolog, dan adalah asisten seorang wanita tua..." tanya Shion. Mu mengangguk.

"Kalau aku boleh tahu bagaimana ciri-ciri wanita tersebut?" tanya Shion, membuat Mu bingung.

"Um... wanita tersebut berambut putih dan bermata biru cerah dia juga selalu memakai topi dikepalanya." Jawab Mu, Shion menangguk puas.

'Jika dugaanku benar, maka tidak salah lagi, dia yang memberi nama itu kepada pemuda ini.' Pikir Shion.

"Darimana mereka berasal Mu?" tanya Shion kepada Mu.

Mu tampak mengingat sesuatu.

"Aku tidak begitu tahu master, tapi jika aku tidak salah ingat mereka berasal dari pulau Celeste." Jawab Mu.

Sebuah senyuman samar terbentuk diwajah Shion. Teka-teki yang membingungkan itu terjawab sudah namun dia tak bisa membiarkan para gold saint yang lain tahu. Biar waktu yang menjawab semua.

"Ada apa memangnya master Shion?" tanya Mu dengan wajah penasaran. Shion hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Tidak apa-apa, aku hanya penasaran bagaimana wanita setua itu masih bisa bekerja dengan aktif." Jawab Shion.

Semua gold saint menatap Shion dengan wajah datar.

'bukannya kau juga sudah sangat tua..' pikir mereka bersamaan.

Shion dapat mendengar kata-kata mereka dengan jelas dari ekspresi mereka, dia tertawa kecil.

"Jadi, kembali ketopik sebelumnya. Apakah pemuda bernama Sisyphus ini adalah orang lain atau Aiolos?" tanya Shion kepada para gold saint.

"Tidak, dia adalah Aiolos yang kehilangan ingatannya." Jawab Shaka.

Semua mata gold saint menatap kearah Shaka dengan wajah bingung.

"Jadi dia benar-benar kehilangan ingatannya?" tanya mengangguk dengan mantap.

"Aku sempat membaca pikiran Astrea untuk mencari tahu..." Ucap Shaka.

"Apa yang kau temukan Shaka?" tanya Dohko kepada Shaka.

"memang hanya sekilas, tapi aku mendengar dia berkata bahwa dia tidak akan membiarkan ingatan Aiolos kembali." Ucap Shaka

Mendengar kata – kata Shaka, Aiolia berdiri dan menatap Shaka.

"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, apapun yang erjadi aku akan mengembalikan ingatan Nii-san, pasti." Ucap Aiolia dengan penuh keyakinan.

Kanon menatap Aiolia dengan wajah bingung.

"Boleh saja kau bersemangat seperti itu Aiolia, tapi bagaimana cara kita mengembalikan ingatan Aiolos?" tanya Kanon.

Para gold saint terdiam dan berpikir, mereka menoleh saat mendengar suara langkah kaki memasuki ruang tengah.

"Ada apa ini? Kenapa semua berkumpul diruang tengah, tidak biasanya." Ucap Shura.

Pemuda itu berjalan dan duduk dikursi yang berada disebelah kiri Camus.

"Apa ada hal yang terlewatkan selama aku berada di Sanctuary?" tanya Shura.

Semua mata mengarah kearah Shura, membuat Shura merasakan pertanda buruk.

"Aku pernah membaca sebuah buku, orang yang mengalami hilang ingatan bisa sembuh dengan cara dipukul keras atau melihat sesuatu yang sangat mengenang di orang itu, misalkan keluarga..." ucapan Camus terpotong.

"Sayangnya keluarga untuk Aiolos kurang mengenang." Ucap Milo yang mendapat lirikan tajam dari Aiolia.

"Tapi bagaimana kalau orang itu adalah seseorang yang dianggap sebagai keluaraga tapi..." ucapan Kanon dipotong oleh Saga.

"Orang itu yang juga 'membunuh'nya?" lanjut Saga.

Shura menatap horror saat para gold saint berdiri dan mendekatinya.

"Oi,oi, ada apa ini? Hei, mau kalian apakan rantai itu? Aphrodite kenapa kau mengelurakan mawarmu?gyaaaaa!" jeritnya panik.