Sisyphus berlari dengan secepat yang dia bisa napasnya terengah, dadanya terasa seperti akan meledak, tapi dia tidak bisa berhenti, tidak untuk sekarang. Sesaat dia melihat buntalan putih yang dia genggam dan tersenyum. Dia tidak bisa melihat dengan baik benda apa itu tapi apapun itu dia akan melindunginya dengan taruhan nyawanya.

Sisyphus tertegun tiba-tiba saja benda itu hilang dari tangannya dan sekelilingnya menjadi gelap, dia melihat sebuah kilatan memotong dadanya dan rasa nyeri yang teramat sangat menyerang dadanya, Sisyphus terjatuh dan menjerit tertahan, dia melihat seseorang mendekatinya, pemuda itu mencoba melihat orang tersebut tapi wajah orang tersebut tertutup oleh bayangan hitam. Orang itu mengangkat tangannya dan kembali menyerang Sisyphus, Sisyphus memutup matanya bersiap menerima serangan tersebut namun serangan itu tak pernah datang, perlahan Sisyphus membuka matanya dan orang itu telah hilang dari pandangannya, dia kembali sendirian.

Sisyphus menatap sekelilingnya dan kembali merasakan rasa nyeri di dadanya, pemudaitu menyentuh dadanya, saat dia melihat tangannya dia melihat tangannya berlumuran darah. Tiba – tiba tubuh Sisyphus limbung dan terjatuh, dalam sekejap dia melihat ribuan gambar bertebaran dihadapannya, Sisyphus kembali merasakan sakit dikepalanya dia mendengar ratusan suara bergema didalam kepalanya secara bersamaan, rasanya kepalanya seperti akan meledak dan membuatnya kesulitan bernapas, dia merasa seperti dijejalkan kedalam sebuah pipa yang amat sangat sempit secara paksa. Sisyphus ingin menjerit tapi dia tidak bisa membuka mulutnya sama sekali.

'Se, seseorang, tolong... siapapun, tolong... ' panggil Sisyphus tanpa suara, tangan pemuda itu mencoba menggapai sesuatu tapi dia tidak dapat menyentuh apapun.

Takut, untuk pertama kalinya setelah sekian lama Sisyphus merasa takut, dia merasa sakit, bingung, juga kehilangan arah, dia tenggelam dalam ribuan gambar dan suara yang tidak dia kenali dan dia tidak tahu bagaimana cara menghentikan hal tersebut, suara-suara itu semakin terdengar keras dan gambar – gambar itu semakin gencar memasuki pikirannya, membuat rasa sakit dikepalanya semakin menjadi – jadi dan telinganya terasa sakit.

Tidak, dia ingin ditempat ini lebih lama lagi, dia tidak ingin mengingat masa lalunya dengan cara seperti ini, walau Sisyphus telah menutup mata dan telinganya dia masih bisa melihat gambar-gambar dan mendengar suara-suara itu, tanpa sadar air mata Sisyphus mengalir dipipinya, dia bisa gila jika seperti ini terus.

'seseorang...tolong... seseorang...' Sisyphus kembali mencoba memanggil, ingatannya sekarang mulai kacau, dia mulai kesulitan mengingat akibat ribuan suara dan gambar-gambar itu. Ditengah kekacauan pikirannya, dia teringat akan seorang anak perempuan berambut ivory.

'Astrea...' panggil Sisyphus lemah, dia mencoba menggapai gambar anak itu.

Tiba – tiba ribuan suara dan gambar disekeliling dan pikirannya terhenti, sebuah cahaya terang menghapus semua suara dan gambar itu, dan Sisyphus merasa sebuah tangan menggenggam tangannya.


"Phus, Sisyphus, apa kau bisa mendengar suaraku?" panggil seseorang kepadanya.

Perlahan Sisyphus membuka matanya dan melihat sepasang mata emerald menatapnya dengan mata khawatir.

"Astrea..." panggil Sisyphus parau, gadis itu mengangguk pelan, dan mengusap kepala Sisyphus secara perlahan.

"Aku mendengar kau memanggilku makanya aku segera kemari, apa kau bermimpi buruk?" ucap Astrea pelan, sangat pelan.

Sisyphus hanya mengangguk lemah, tanpa sadar dia memegang tangan Astrea dan menempelkannya tangan gadis itu dipipinya.

"Apa kau ingin menceritakannya, Sisyphus." Tanya Astrea dengan lembut, tapi pemuda itu hanya menggeleng lemah.

Astrea hanya mengangguk dan menatap Sisyphus yang masih sedikit gemetar dan mengalirkan air mata. Hanya dengan sekali lihat saja gadis itu tahu apa yang terjadi dan itu membuatnya semakin khawatir.

Astrea mengusap air mata yang mengalir dan menatap Sisyphus tepat dimata pemuda itu.

"Sisyphus, lihat aku, itu hanya mimpi, sebuah mimpi buruk, kau aman dan baik-baik saja, apapun yang kau lihat itu hanya sebuah mimpi dan tidak nyata, kau dengar aku?" ucap Astrea pelan.

Sisyphus menatap Astrea sejenak dan mengangguk pelan, namun baik Astrea dan Sisyphus tahu bahwa mimpi yang dialami oleh Sisyphus bukan hanya sekedar mimpi.

"Kau berkeringat, aku akan mengambil handuk dan baju ganti untukmu" ucap Astrea, gadis itu melepaskan tangannya dari Sisyphus dan beranjak pergi, namun tangan Sisyphus kembali mengenggam lengan Astrea, membuat gadis itu menoleh kearahnya lagi.

"Jangan pergi, tetaplah disini, kumohon..." ucap Sisyphus pelan, sesaat Astrea tampak ragu namun gadis itu mengangguk dan menarik kursi didekatnya, gadis itu duduk disamping tempat tidur Sisyphus.

Sisyphus tidak melepaskan genggaman tangannya dari Astrea dan gadis itu tidak merasa terganggu juga. Dengan sebelah tangannya yang bebas Astrea mengelus rambut Sisyphus dengan lembut, perlahan dia menyanyikan sebuah lagu.

Quiet journey be, from mountains to sea
colourless world around me
Time standing still, unchanging until
this languid dream unbinds me

Astrea menghentikan nyanyiannya saat melihat Sisyphus kembali tertidur, napasnya kembali teratur dan tubuhnya nampak rileks. Perlahan Astrea melepas genggaman pemuda itu, gadis itu menutupi tubuh pemuda itu dengan selimut dan perlahan meninggalkan kamar Sisyphus. Namun langkah gadis itu terhenti, dia berbalik kearah Sisyphus telapak tangan gadis itu bersinar keemasan, gadis itu menaruh tangannya didahi Sisyphus, tak lama melepas tangannya dan keluar.

Astrea berbaring didalam kamarnya, dia sama sekali tidak merasa mengantuk sekarang. Tidak setelah kejadian tadi.

"Aku tahu cepat atau lambat ini akan terjadi, terutama jika dia bertemu dengan mereka, tapi..." Astrea menghela napas berat, dia menatap tangannya dan hal yang telah dia lakukan kepada Sisyphus.

"Sebentar lagi, kumohon, berikan aku waktu sebentar lagi..." ucap gadis itu sambil menutup wajahnya dengan kedua lengannya.

Untuk bersama Sisyphus


Sisyphus terbangun saat sinar matahari menyinari wajahnya, dia melihat kearah jendela, gorden dikamarnya telah terbuka dan dia melihat Astrea menatap keluar jendela.

Gadis itu menoleh kearahnya dengan tatapan datarnya.

"Kau sudah bangun Sisyphus?" tanya gadis itu, yang dibalas dengan anggukan gugup.

"Ummm, kenapa kau ada dikamarku Astrea?" tanya Sisyphus, Astrea menaikkan alisnya.

"Semalam kau bermimpi buruk dan kau sendiri yang memintaku untuk menungguimu, dan kau bertanya kenapa aku ada disini." jawab gadis itu, membuat Sisyphus terkejut.

"Aaa, begitu ya, aku tidak ingat, maaf..." ucap Sisyphus dengan panik, Astrea hanya menghela napas dan melangkah keluar.

"Astrea..." panggil Sisyphus membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh.

"Walau aku tidak ingat apa yang terjadi tapi, terima kasih karena telah menemaniku" ucap Sisyphus sambil tersenyum lembut kepada gadis hanya mengangguk dan keluar dari kamar itu.

Astrea melangkah menjauhi kamar Sisyphus, mata gadis itu dipenuhi kesedihan juga penyesalan, tak lama dia berhenti dan menggenggam erat kalung dilehernya.

"Kau tidak perlu berterima kasih, karena seharunya aku yang berterima kasih dan meminta maaf keapadamu Sisyphus" ucap Astrea pelan.