Astrea melangkah masuk keruang makan setelah berhasil mengatur emosi yang berkecamuk didalam dirinya. Namuns saat dia sampai, dia melihat seorang gadis berambut platina sedang duduk diujung meja makan.

"Aaaa, selamat pagi, kakak." Ucap Reina, gadis itu tersenyum gugup kearah Astrea, gadis itu menaruh cangkir teh yang sedang dia minum dimeja.

Astrea tertegun namun dia tersenyum kearah Reina dari tempatnya berdiri, kemudian dia telah berada didepan Reina dengan tangan terkepal dan menjitak gadis itu.

"Sakit!, kenapa kau menjitak kepalaku, kakak jahat." jerit Reina, dengan mata berair gadis itu menatap kakaknya, namun gadis itu terdiam saat dia melihat senyum gelap diwajah kakaknya.

"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Astrea masih dengan senyum gelap terpasang diwajahnya, Reina hanya menggeleng cepat, berusaha menghindari bahaya yang bisa datang kapanpun.


Astrea menghela napas, dia sama sekali tidak memiliki selera untuk memakan makanan yang ada dihadapannya. Sesaat sebelum dia memulai ceramahnya, Sisyphus datang dan Reinadengan segera mencari perlindungan ke Sisyphus. Dengan sangat terpaksa atas bujukan Sisyphus, Astrea membatalkan ceramahnya.

"Kak, kenapa kau tidak memakan makananmu?" tanya Reina, namun Astrea hanya menggeleng.

"Apa kau tidak enak badan Astrea?" tanya Sisyphus dengan wajah khawatir, tangan pemuda itu menyentuh dahi Astrea, mencoba mengukur suhu tubuh gadis itu.

Astrea menarik tangan Sisyphus, dan menatap pemuda itu dengan tajam.

"Aku baik-baik saja Sisyphus, kalian tidak perlu khawatir. Aku hanya sedang tidak berselera untuk makan" Jawab Astrea, namun Sisyphus menatap Astrea dengan ekspresi tidak setuju.

"Kau tau bukan, sarapan itu penting. Ah, bagaimana kalau aku buatkan puding?" tanya Sisyphus tapi Astrea hanya menggelengkan kepalanya dan pergi keluar.

Sisyphus menatap kepergian Astrea, tak lama dia bangun dan mengikuti Astrea.

"Terima kasih atas makanannya, aku duluan ya Reina" ucap Sisyphus. Reina hanya mengangguk dan melihat Sisyphus pergi.

Reina menghela napas pelan lalu menatap cangkir tehnya, dia bisa menebak sekarang Sisyphus akan kedapur dan membuat makanan untuk kakaknya.

"Aku mengerti perasaanmu kak, Dan aku tahu diantara kita bertiga kau yang akan sangat terluka disaat Sisyphus pergi." Bisik Reina, gadis itu tersenyum sedih.


Sisyphus kembali mengamati keadaan tanah di Kido Mansion pada sore harinya, setelah mendapatkan apa yang dia cari pemuda itu berencana kembali kekamarnya dan beristirahat sampai waktunya makan malam.

Sisyphus bersenandung pelan sambil mengeringkan rambutnya kemudian berganti baju. Pemuda itu kemudian mengambil sebuah buku dan membacanya, tak tak lama Sisyphus tenggelam dalam buku itu.

Sebuah ketukan dari pintu kamarnya membuyarkan konsentrasinya, Sisyphus menaruh bukunya dan membuka pintu kamarnya dan melihat Aldebaran dan Dohko berdiri disana.

"Aaa, Sisyphus maaf mengganggu, bolehkah kami meminta waktumu sebentar?" tanya Dohko dengan sebuah senyum lebar, Sisyphus mengangguk.

"Ya, tentu saja boleh." Jawab Sisyphus, dia merasa jika kedua orang dihadapannya menyembunyikan sesuatu, tapi dia merasa sangat tidak sopan jika dia berpransangka buruk dengan orang yang baru saja dia kenal.

"kalau begitu boleh kita berbicara diruang tengah saja?" tanya Aldebaran, Sisyohus kembali mengangguk dan mengikuti kedua orang itu.

Sisyphus sedikit terkejut saat melihat para gold saint yang lain telah berkumpul dan menunggunya disana, semuanya memasang wajah serius termasuk Dohko dan Aldebaran, dalam sekejap suasana didalam ruangan berubah menjadi hening dan berat.

"Um, maaf, sebenarnya apa yang ingin anda bicarakan?" ucap Sisyphus mencoba memeah keheningan yang menekan tersebut.

Mu dan Saga saling menatap sebelum mengangguk, Saga memberikan kode kepada Deathmask, sambil mengerutu pemuda itu melempar sesuatu atau tepatnya seseorang kedepan Sisyphus. Sisyphus melompat mundur saat melihat orang itu menggeliat didepannya karena terlilit rantai yang lumayan banyak dan berteriak-teriak tak jelas.

"Sisyphus, apa anda mengenal orang ini?" tanya Mu dengan nada datar.

Sisyphus dengan ragu mencoba melihat orang berambut hitam yang masih berteriak – teriak akan memotong dan merusak barang berharga gold saint. Yang membuat Sisyphus sedikit merinding.

"Milo, aku bersumpah akan menjadikan kalanjengkingmu abon!" teriak Shura sebelum menghela napas dan menoleh kearah orang yang mendekatinya. Dalam sekejap Shura terdiam sebelum membuka mulutnya dengan terbata – bata.

"Aio...los..." panggil Shura, dia melihat pupil Sisyphus mengecil.

Sisyphus merasa terkejut saat melihat pemuda berambut hitam tersebut, napasnya terasa terhenti, dalam sekejap ribuan gambar dan suara itu kembali, namun kali ini semua lebih jelas, kini wajah pemuda yang selama ini tertutup oleh bayangan hitam menjadi jelas, dan pemuda itu adalah orang yang ada dihadapannya itu.

Sisyphus limbung, perlahan dia melangkah mundur, tubuh pemuda itu gemetar dan napasnya mulai tidak teratur, Sisyphus tampak panik. Dohko mencoba mendekati Sisyphus namun pemuda itu menepis tangannya dan menatap pemuda itu dengan tajam walau Dohko dapat melihat rasa takut dimata pemuda itu.

Sisyphus menahan rasa sakit dikepalanya walau dia tahu dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi, dia merasa tubuhnya semakin berat dan bintik hitam mulai menutupi pandangannya. Dia melihat Dohko mencoba menyentuhnya namun dia menepis tangan pemuda itu, dia tidak ingin orang asing menyentuh dirinya, kini dia mengerti perasaan Astrea dulu saat mereka pertama bertemu, perasaan takut saat berada ditempat asing dan dikelilingi oleh orang asing. Dia ingin beristirahat, tapi dia tidak ingin ada ditempat itu sekarang, dia ingin berada dikamarnya, dia ingin pulang.

Tanpa sadar Sisyphus mengeluarakan cosmonya dan menciptakan bola listrik disekelilingnya, para gold saint reflek mengambil posisi siaga.

Namun ketika Sisyphus mendengar suara pintu dibelakangnya terbuka dia menoleh dan melihat Astrea disana, wajah gadis itu tampak terkejut dan berlari kearahnya. Melihat gadis itu Sisyphus merasa tenang dan dia membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan.

Astrea merasa dirinya bagaikan disiram oleh air dingin saat melihat wajah pucat Sisyphus, dia melihat cosmo disekeliling Sisyphus mengilang dan secara refleks gadis itu berlari menangkap tubuh Sisyphus saat pemuda itu roboh, dia menatap para gold saint dengan tatapan dingin, cukup untuk membuat beberapa dari mereka merinding dan udara diruangan itu seakan hilang.

"Apa yang kalian lakukan kepada Sisyphus?" tanya Astrea walau gadis itu sudah tahu jawabannya saat melihat Shura yang terlilit rantai dan masih terdiam disana.

"Kami hanya ingin mengembalikan ingatan Aiolos." Jawab Camus dengan tenang.

"Kau tidak bisa menyembunyikan dan membuat alasan apapun lagi nona, cosmo dan jurus yang dia keluarkan tadi hanya dimiliki oleh Aiolos" ucap Deathmask, pemuda itu menatap Astrea dengan wajah dingin.

Astrea hanya diam, dia menatap para Gold Saint dengan wajah datar.

"Ya, kalian benar, dia adalah Aiolos, Gold Saint Sagitarius Aiolos" jawab Astrea.

"Aku menemukannya terdampar dipantai pulau kami dalam kondisi sekarat" lanjutnya lagi, sebelum para Gold Saint lainnya membuka mulut.

Mendengar jawaban dari Astrea, Aiolia tak bisa membendung emosinya lagi.

"Jadi kau sudah tahu dari awal!, kenapa kau tidak memberitahukannya kepada kami?!". Teriak Aiolia, Astrea menatap pemuda itu dengan tatapan tajam dan Aiolia dapat melihat amarah yang terpendam dimata gadis itu.

"Memberi tahu kalian? Bukankah anda sekalian yang paling tahu kondisi Sanctuary saat itu bagaimana?, Posisinya saat itu bagaimana?, juga kekacauan lainnya yang terjadi setelah itu?." Ucap Astrea, mata gadis itu menatap tajam pada Saga, lalu Kanon, Shion, Camus dan terakhir pada Shura.

"Harusnya kalian tahu..." ucap Astrea membuat para Gold Saint terdiam.

"Lagipula jika kalian memaksa membuat Sisyphus ingat akan masa lalunya dengan cara ini, kalian akan melukainya. Karena ingatan Sisyphus sangat rapuh." Jawab Astrea, gadis itu menggendong Sisyphus dan meninggalkan para Gold Saint yang masih terdiam karena kata-katanya.

Setelah gadis itu keluar, Milo menghela napas lega dan jatuh terduduk.

"Haaa, apa-apaan tekanan tadi..." ucap Milo

"Dan, untuk ukuran tubuhnya yang mungil, gadis itu lumayan kuat juga bisa menahan Aiolos dengan satu tangan bahkan menggendongnya." Lanjut Milo, dia hanya meringis saat Camus memberinya sebuah tatapan tajam.

Shaka mengerutkan dahinya saat teringat kata-kata Astrea.

"Memberi tahu kalian? Bukankah anda sekalian yang paling tahu kondisi Sanctuary saat itu bagaimana?, Posisi Sisyphus saat itu bagaimana?, juga kekacauan lainnya yang terjadi setelah itu?."

Bagaimana seorang gadis yang selama ini tinggal di sebuah pulau yang cukup terisolir tahu kondisi Sanctuary.

Shaka menatap kearah Mu dan pemuda berambut violet itu mengangguk.

"Siapa sebenarnya gadis itu?" ucap Shaka pelan.


Shion melangkah ketaman setelah semua orang tertidur dan menatap kearah langit, dia menghela napas lega. Tak lama dia mendengar suara langkah kaki mendekatinya.

"Yo, kau tahu udara malam tidak baik untuk orang yang berumur sepertimu" panggil Dohko, membuat Shion tertawa.

"Aku tidak mau mendengar perkataan itu dari seorang kakek tua yang duduk didekat air terjun selama hampir dua ratus tahun lebih" jawab Shion dengan tenang, Dohko hanya meringis mendengar kata-kata itu.

"Aku tidak menyangka akan bertemu dan melihat anak itu, tidak kusangka dia bisa marah seperti itu." Ucap Dohko pelan, Shion hanya tersenyum.

"Kurasa sekarang peran mereka dua terbalik ya?" ucap Shion, namun Dohko hanya menggeleng.

"Tidak, peran mereka tetap sama namun setidaknya kali ini peran anak itu sedikit lebih aktif." Ucap Dohko sambil tersenyum.