Title : Because I Miss….

Cast : Kyuhyun and all SJ member, etc.

Gendre : Brothership, Friendship, Hurt/Comfort, Angst

Length : Chaptered

Summary : Namja yang duduk di atas tempat tidur itu hanya bisa menatap langit, bingung. / "Aish appo. Hyungie, jalan cerita hidupku begitu menyebalkan." / "Ini langkah satu-satunya yang bisa diambil." / "Kau tahu kesalahan apa yang telah kau lakukan bocah?" / "Tak sudikah kau berbicara dengan kami?"/ "Aku begitu bodoh bukan? Harusnya aku menyadari alasan mengapa pada saat itu anak kecil yang sudah bertumbuh dewasa tersebut menghubungiku dengan nada paling menyebalkannya." / "Kau adalah wali resminya sekarang ini, jadi segerakanlah untuk menyetujui operasi ini." / "Ada apa dengan kalian eoh, jangan pernah mengecewakan fans dengan bertingkah kekanakan begini. Aish jinjja sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran hyungdeul." / "Omo, entah mengapa berada berdua denganmu membuatku merasa nervous appa." / "Kau mau jujur padaku anak nakal? Apa yang kau takutkan sebenarnya?" / "Aku….aku tidak ingin melupakannya." / "Nan bogoshipoda…. jeongmal bogoshiposeyo hyung." / Yeoja yang mempunyai bola mata yang senada dengan dongsaeng mereka tersebut membungkuk 180 derajat. "Butakhamnida jebal, hanya kalian yang bisa membuatnya mau untuk melakukan operasi. Aku… aku berjanji, akan menjadi seorang kakak yang lebih baik lagi setelah ini." / "Aku baru sadar, walinya bukan hanya diriku saja. Ada kalian keluarga keduanya yang selama ini telah bersamanya. Keputusan apapun dari kalian aku akan menyetujuinya." / "Alasan mengapa aku menyuruh kalian berkumpul disini adalah berharap kalian semua mau menyetujui keputusan penting ini." / "Pada akhirnya setiap pilihan yang ada memberikan sesuatu yang menyakitkan. Baik itu dilakukan ataupun tidak. Tapi yang aku tidak mengerti kenapa dua pilihan tersebut mempunyai resiko besar yang sama? Atau semua yang dilakukan hanya sia-sia?" / "Nde. Pasti aku akan bangun dengan selamat." / Hal yang mudah, hal yang biasa, hal yang bisa cepat diatasi mengapa menjadi begitu rumit?

Finally, author akhirnya udah sembuh. Makasih buat semua do'a dari kalian semuanya. Hufft comeback lagi sekarang. Sepertinya FF ini bakal author jadikan long chapter, cuma gak akan tahu bakal berhenti di chapter berapa. Dan selalu berharap bahwa kalian selalu setia dengan FF ini. Oh iya untuk silent reader, makasih juga karena udah mau nyempetin baca FF ini, tapi kalau bisa kalian tinggalin reviewnya dong pake anonym juga gapapa yang penting ada jejaknya.

WARNING : This story originally buatan saya. Alur waktu yang saya buat adalah waktu mulai dari tanggal sekarang. Jadi saat waktu wamil untuk donghae, eunhyuk, dan siwon akan berbeda dengan aslinya. Mohon kritik dan sarannya juga agar fanfic ini menjadi fic yang bisa diterima seperti Thank's God^^

DON'T BE SILENT READER

DON'T BASH

DON'T COPY TANPA IZIN

DON'T LIKE DON'T READ

KEEP REVIEW

ENJOYED

Kyuhyun sudah sadar, dirinya juga sudah dipindahkan ke dalam kamar rawat biasa. Dirinya masih terbaring, karena memang keadaannya masih lemah. Disana juga ada hyungdeul-nya dari Super Junior. Bukankah sekarang mereka berkumpul bersama kembali tanpa ada yang menghiraukan jadwal terlambat atau tidak? Ya meskipun harus di dalam satu kamar rawat rumah sakit. Tapi kenapa namja yang terbaring itu sama sekali tidak menyukainya?

Heechul mengedarkan pandangannya ke seluruh isi ruangan kamar rawat tersebut. Cukup besar, benar juga ini kan kamar rawat VIP yang memang sengaja dipilih oleh entertainment mereka. Hanya kebosanan yang melingkupi mereka semua disana. Tidak ada hal yang menarik sama sekali. Menyebalkan juga memang jika berada di rumah sakit.

Leeteuk menangkap pergerakan bola mata Kyuhyun yang terbuka. Magnae-nya mungkin sudah sadar sedari tadi. Semua hyungdeul-nya langsung mendekati ranjang Kyuhyun. Untuk memastikan apakah sang dongsaeng sudah benar-benar tersadar atau belum. Leeteuk tersenyum, dia yang paling sadar langsung bergerak meninggalkan ruangan untuk memanggil Junwon uisanim. Namun kalimat Kyuhyun berhasil membuat dirinya menghentikan langkahnya.

"Mengasihaniku, eoh?" Kalimat dingin itu keluar begitu saja dari mulut Kyuhyun dan sukses membuat Leeteuk mematung.

Yesung mencoba mencairkan suasana. "Kyuhyun-ah gwenchana? Teukie hyung mau memanggilkan uisa dulu."

Kangin menambahkan. "Benar Kyuhyun-ah, semakin cepat kau ditangani maka kau akan semakin cepat untuk sembuh."

"Wuaaah aku tidak bisa membayangkan, kau juga begitu membenci rumah sakit kan tapi kenapa kau berakhir disini? Ck bandel! Sudah hyung bilang untuk selalu minum vitaminmu dengan rutin." Ryeowook memberikan nasihatnya yang cukup panjang mungkin.

Kyuhyun membangunkan dirinya untuk duduk dan menatap mereka semua dengan pandangan tajamnya. "Kenapa aku merasa tidak nyaman dengan perhatian kalian itu. Bahkan muak. Vitamin? Meminum? Hai Ryeowookie kemana saja kau kemarin-kemarin? Jeongmal jinjja. Kau bahkan tidak pernah memperingatiku. Ah Yesung hyung album solomu pasti akan mengalahkan album soloku, karena kau begitu berjuang keras dan bangga sendiri!"

Ryeowook dan Yesung tertohok.

"A…..ah… Kyu wae gerae? Mungkin kepalamu masih sakit." Kangin bicara dengan kaku, jujur saja dia sedikit takut.

Kyuhyun mengepalkan tangannya. "Tak usah mengkhawatirkanku! Urusi urusan kalian sendiri! Maka aku akan mengurus urusanku sendiri!"

Heechul yang sedari tadi diam, merasa muak dengan perdebatan ini. "Kau seolah-olah terus memojokan kami Cho Kyuhyun! Bukankah kau juga ikut andil dan memperkeruh semua ini? Kenapa kau tidak jujur sejak awal pada kami? Bukankah kau juga sama saja pada saat itu sudah tidak menganggap kami lagi?!"

"Jadi itu kesimpulanmu Kim Heechul? Aku selalu dan selalu berusaha untuk mengatakan semua keadaanku pada kalian! Tapi apa yang kudapat? Hanya penolakan, penolakan, dan penolakan. Aku akan merugikan kalian jika merusak jadwal kalian! Aku memaklumi jika kalian tidak bisa datang ke konserku kemarin-kemarin. Tapi aku sungguh tidak bisa memaklumi kalian yang 'plin plan'!" Kyuhyun membalas semua kalimat Heechul juga dengan penuh emosi.

Heechul menggelengkan kepalanya, "Bukankah kau juga sama 'plin plan'-nya?! Kita semua sama-sama berbuat kesalahan!"

"KELUAR! AKU BILANG KELUAR!" Jujur saja kepala Kyuhyun kembali sakit lagi sekarang, dia hanya tidak mau memperlihatkan penderitaannya kepada mereka.

"Kami akan…." Heechul hampir saja akan membalas lagi, jika saja Leeteuk tidak tiba-tiba berbicara.

Leeteuk memegang bahu Heechul dan memberikan kalimat tegasnya. "Kita memang sebaiknya keluar, Yesungie, Ryeowookie, Kangin-ah kalian juga ikut."

Punggung semua hyungdeul-nya benar-benar menghilang dari pandangan Kyuhyun. Hatinya sakit, karena semua kalimatnya tadi pasti sudah membuat semua perasaan hyungdeul-nya terluka. Hyung tertuanya, Kyuhyun melihatnya dia tidak bisa bohong. Ada air mata yang mengalir lepas dari ujung mata hyung yang selalu menjadi panutannya tersebut. Jika saja dirinya bisa, Kyuhyun ingin sekali memanggil mereka semua untuk mencegahnya pergi dan mengucapkan maaf. Tapi keadaannya sama sekali tidak membantu untuk mengungkapkan semua itu.

Suara pintu kembali terbuka, rupanya itu adalah Junwon uisanim yang datang dengan ditemani satu orang ganhonsa. Junwon tersenyum sekilas kepada pasiennya ini. Pasien keras kepala yang sangat sulit sekali dirinya bujuk untuk melakukan pengobatan. Padahal itu demi keselamatannya sendiri. Ck. Baru pertama kali bagi Junwon mendapatkan pasien yang begitu istimewa seperti Kyuhyun.

Ketika Junwon uisanim melakukan pemeriksaan terhadapnya, Kyuhyun hanya diam saja. Menuruti semua perintah Junwon uisanim jika memang perlu sedikit pemeriksaan dengan mengecek tubuh Kyuhyun. Setelah selesai dengan pemeriksaannya, Junwon uisanim pamit pada Kyuhyun. Tapi sebelumnya Junwon memandang Kyuhyun dengan amat serius. Kyuhyun amat mengerti arti pandangan itu meskipun Junwon tidak berucap lantang 'Cepat-segera-lakukan-operasi-apa-kau-mau-mati?'

Sepeninggal Junwon, Kyuhyun hanya terduduk diam. Jendela kamar rumah sakitnya terbuka, waktu sekarang sudah menunjukkan malam. Terbukti dengan langit yang tidak lagi biru dan dihiasi beberapa bintang. Namja yang duduk di atas tempat tidur itu hanya bisa menatap langit, bingung. Melakukan dia mungkin bisa hidup tidak melakukan dia pasti akan mati. Yang satu mungkin dan yang satu lagi pasti. Tak adakah pilihan lain yang setidaknya membuat semua ini terasa sedikit mudah? Sebut saja dirinya konyol, dengan terus menunda dan menunda. Sepenting apakah ingatan itu? Tapi hanya dirinya saja yang tahu bahwa memori-memorinya tersebut benar-benar berharga.

Lagi-lagi seseorang membuka pintu kamar rawatnya. Aish Kyuhyun benar-benar tidak suka, bagaimana jika dirinya sedang berganti pakaian dan pintu kamar rawatnya terbuka begitu saja? Tidak etis. Seandainya saja setiap kamar rawat di rumah sakit memiliki key card seperti di apartemen atau di hotel-hotel.

Di sekitar pandangan Kyuhyun terlihat seseorang dengan penuh senyum menata bunga-bunga dan menyimpan beberapa persediaan makanan. Orang tersebut belum mau menyapa Kyuhyun. Baru setelah merasa semuanya tersusun rapi orang tersebut langsung mengambil posisi duduk di samping ranjang Kyuhyun. Orang itu atau yang dikenal sebagai Manajer hyung tersenyum seakan puas akan sesuatu. Kyuhyun sendiri hanya memutar bola matanya malas dengan tingkah konyol manajernya tapi sedetik kemudian ekspresi Kyuhyun berubah menjadi serius dan menatap Manajer hyung dengan pandangan penuh curiga.

Kyuhyun memandang Manajer hyung dengan tatapan yang benar-benar curiga. "Apa yang sudah kau lakukan sebenarnya Manajer hyung?"

"Tidak ada. Aku hanya sudah memberitahukan orang tuamun perihal keadaanmu. Sehingga tidak ada alasan lagi kau untuk menunda operasi itu." Manajer hyung menjawab dan menyenderkan punggungnya ke kursi dengan acuh.

Kyuhyun berdecak kesal. "Aish hyung kau, aku bisa mengatakannya sendiri nanti."

"Kapan? Kau akan mengatakannya jika sudah dalam keadaan benar-benar sekarat mungkin. Apakah kau tidak menyayangi nyawamu sendiri aish?" Manajer hyung mendudukan diri kembali dengan posisi yang tegap.

Kyuhyun hanya menanggapi malas omelan Manajer hyung. "Kau tahu betapa menyebalkannya keluargaku aish? Besok pasti akan panjang."

Manajer hyung menarik hidung Kyuhyun. "Mereka menyebalkan pasti karena mereka menyayangimu dan mengkhawatirkanmu."

"Aish appo. Hyungie, jalan cerita hidupku begitu menyebalkan." Tiba-tiba saja Kyuhyun mejadi serius.

Manajer hyung mengernyitkan dahinya, jujur saja sedikit bingung. "Lalu kenapa kau tidak mengubahnya saja menjadi menyengangkan salah satunya dengan melakukan operasi dengan cepat mungkin."

"Aih kau masih saja memaksa. Orangtuaku saja masih belum membicarakannya. Ah hyung aku bertengkar dengan mereka. Haha aku munafik, padahal aku berharap kami berkumpul seperti tadi tapi aku sendiri yang menolaknya. Aku hanya tidak ingin mereka berkumpul di keadaan menyebalkan begini aku hanya ingin di keadaan berbeda. Aku tidak ingin menorehkan luka." Ada air mata yang sangat ingin sekali lolos dari obsidian milik Kyuhyun.

Manajer hyung hanya bisa menghela nafasnya. "Kalian memang daebak, menorehkan luka satu sama lain. Tapi setelahnya kalian pasti akan saling mengobati kembali luka itu satu sama lain juga."

Kyuhyun hanya terdiam mendengarnya.

Manajer hyung bangkit dari duduknya kemudian membaringkan Kyuhyun dan menyelimuti tubuh magnae manja tersebut. "Tidurlah Kyuhyun-ah ini sudah malam kau masih harus banyak istirahat. Jaljayo."

Kyuhyun yang memang sudah lelah karena mengobrol akhirnya memejamkan matanya dan tertidur.

Setelah memastikan Kyuhyun benar-benar tertidur Manajer hyung memilih untuk keluar sebentar dari kamar rawat Kyuhyun. Menghirup udara segar setidaknya begitu. Sebenarnya Leeteuk menyuruhnya untuk datang dan menginap di rumah sakit untuk menemani Kyuhyun. Benar bukan? Setelah membuat luka mereka pasti akan mengobatinya satu sama lain. Mengobrol sedikit tadi dengan anak-anak asuhnya sebelum ke rumah sakit membuat Manajer hyung terkikik geli. Pasalnya mereka selalu menekankan bahwa mereka sudah dewasa, tapi pada kenyataannya mereka hanyalah anak-anak asuh yang masih perlu bimbingan. Semoga semua ini bisa berakhir dan kembali dengan normal, setidaknya begitulah harapan sederhana Manajer hyung.

.

.

.

.

.

New York, USA

Namja paruh baya tersebut hanya bisa menghela nafasnya beberapa kali. Sebenarnya namja paruh baya tersebut tidak nampak terlalu tua di umurnya yang sekarang, karena wajahnya masih sangat segar dengan garis ketampanannya yang tidak luntur. Pagi ini entalah rasanya begitu melelahkan baginya, padahal belum banyak pekerjaan yang dirinya kerjakan. Apakah ini karena faktor umur? Mungkin saja.

Di atas meja kerjanya terdapat satu bingkai foto yang memang sengaja dirinya letakkan. Setidaknya dengan melihat foto keluarga tersebut sedikit mengobati rasa rindunya kepada istri dan juga anak-anaknya. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya saat memandangi si anak bungsu yang begitu tersenyum ceria. Foto tersebut juga diambil tidak terlalu lama, hanya sekitar satu tahun yang lalu.

Dua orang anak dan satu orang istri. Cukup lengkap keluarganya. Mungkin sebentar lagi dirinya juga akan mendapatkan cucu dari anak perempuannya. Dulu mereka hampir kehilangan si bungsu karena kecelakaan tragis bahkan semua dokter yang disebut memiliki kepintaran pada saat itu bahwa sang bungsu sudah tidak akan bisa diselamatkan lagi, tapi Tuhan selalu memberikan jalannya bukan? Dering ponselnya menyadarkan Jaehwan dari lamunan indahnya.

Istrinya rupanya yang menelepon. "Younghwan-ah eohtokkae?"

"Yeobo wae geraeyo. Kenapa kau berbicara seperti tadi?" Tidak biasanya sang istri menyebut namanya saja seperti tadi.

Hanna hanya bisa menahan tangisannya disana. "Aku tidak mau kehilangannya. Sudah sekali kita pernah akan kehilangannya."

"Kehilangan siapa yang kau maksudkan Hanna-ya?" Younghwan belum mau membayangkannya. Meski sebenarnya otak cerdasnya bisa menebak siapa itu.

"Uri Kyuhyunnie, uri magnae. Dia sakit Jaehwan-ah. Dia terkena radang selaput otak. Mengapa harus anak kita hiks... eohthokkaeyo.. hiks…" Hanna benar-benar menangis keras sekarang.

Tubuhnya melemas walau sebenarnya dirinya amat siap mendengar keterangan yang amat buruk tersebut. "Tenangkan dirimu Hanna-ya, besok aku akan kembali ke Seoul dan mari bersama-sama mencari solusi yang terbaik untuk Kyuhyunnie."

"Hiks… nde. Datang saja langsung ke Samsung Hospital, aku dan Ahra akan berada langsung disana." Setelahnya Hanna menutup sambungan telepon tersebut.

Baru saja dirinya membayangkan betapa beruntungnya dirinya yang memiliki keluarga kecil utuh tapi nyatanya keretakan itu sekarang mendatangi. Hidup tidak semudah yang dipikirkan. Akan ada ujian-ujian yang datang tentunya. Dan hujan tiba-tiba saja mengguyur kota New York pada waktu yang masih terbilang cukup pagi ini. Mungkin air matanya tidak akan terlihat jika dia menangis di bawah derasnya hujan.

.

.

.

.

.

Super Junior Dorm

Namja dengan julukan art of voice tersebut menatap sendu peralatan yang selama ini dia gunakan untuk membuat lagu. Salah satu lagu yang nanti akan ada di dalam album terbarunya. Sudah berapa lama ya dirinya selalu hanya berurusan dengan peralatan itu? Berjuang keras untuk membuat musil yang sempurna, agar debut solonya ini berakhir dengan sukses dan mendapatkan respon yang positif.

'Ah Yesung hyung album solomu pasti akan mengalahkan album soloku, karena kau begitu berjuang keras dan bangga sendiri!'

Yang dikatakan sang dongsaeng memang benar. Dirinya benar-benar berjuang keras hanya untuk membuat album solonya. Sampai lupa untuk berinteraksi dengan orang-orang yang selama ini adalah keluarga keduanya. Melupakan hal terkecil yang sebenarnya amat dibutuhkan oleh semua manusia. Ingat? Manusia itu adalah makhluk sosial? Tapi sepertinya dirinyalah yang mulai mencoba untuk hidup sendiri.

Mereka tinggal bersama namun tidak saling memperhatikan satu sama lain. Tidak bertegur sapa, seakan-akan hanyalah orang asing berbeda yang tinggal di dalam satu atap. Dan akhirnya mereka memilih untuk meninggalkan rumah kedua dan membangun rumah mandiri. Itu salah? Tidak juga sebenarnya. Hanya saja kesalahannya adalah ketika kau benar-benar melupakan seseorang yang selama ini selalu ada bersamamu.

Tidak berbeda jauh dengan Yesung, Ryeowook dan Kangin juga hanya bisa menundukan kepalanya. Terlebih Ryeowook. Kejadian tadi masih menyisakan perasaan luka yang membekas. Berhak kah dirinya terluka? Setelah apa yang dirinya lakukan selama ini. Ryeowook berpikir bahwa dirinya sudah melakukan yang terbaik dan bersikap sudah cukup baik.

'Kenapa aku merasa tidak nyaman dengan perhatian kalian itu. Bahkan muak. Vitamin? Meminum? Hai Ryeowookie kemana saja kau kemarin-kemarin? Jeongmaljinjja. Kau bahkan tidak pernah memperingatiku.'

Salah. Tidak ada satu pun sikap baik yang harus dipuji dari dalam dirinya. Ryeowook menangis, setelah sekian lama waktu yang berlalu pada akhirnya malam itu Ryeowook kembali menangis. Kangin sendiri yang berada di samping Ryeowook tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya mengelus punggung sang eternal magnae.

Namja cantik itu menghentikan langkahnya ketika melihat salah satu dongsaeng-nya tengah menangis begitu dalam. Memilih untuk meninggalkan mereka berdua, Kangin dan Ryeowook. Saat ini dirinya juga memerlukan waktu untuk menenangkan dirinya senidiri. Mungkin di balkon sembari menikmati sejuknya angina malam akan sedikit bisa menenangkan pikirannya.

Tapi sepertinya dirinya salah. Heechul sudah didahului oleh seorang namja yang memiliki lesung pipi di wajahnya. Heechul ikut berdiri di samping namja yang hanya berbeda beberapa hari dengannya tersebut. Tidak ada yang mereka berdua bicarakan selama hampir sepuluh menit. Hanya merasakan hembusan angina malam setiap kali menerpa tubuhnya.

Namja berlesung pipi itu akhirnya membalikan tubuhnya dan menyandar pada pagar balkon. "Heechul-ah aku mempunyai sebuah pertanyaan konyol sekarang ini?"

"Kau berniat untuk melawak? Aku yakin aku tidak akan tertawa pada keadaan saat ini." Jawab Heechul dengan sakartis.

Leeteuk terkekeh mendapat jawaban seperti itu dari dongsaeng yang hanya berbeda beberapa hari dengannya itu. "Untuk apa mengeluarkan lawakan disaat akupun dalam keadaan yang sama seperti kalian."

"Lantas apa pertanyaan itu?" Heechul juga ikut memposisikan tubuhnya sama dengan Leeteuk.

Leeteuk memejamkan matanya sejenak ketika angina kembali berhembus. "Sebenarnya dengan mendapatkan semua ini sudah bisa menjamin?"

"Menjamin? Jika maksudmu materi itu pasti sudah. Dasar pelit." Heechul mencibir.

Leeteuk menggelengkan kepalanya kemudian memandang lurus Heechul. "Apakah dengan semua yang didapat kita ini sudahkah kita bahagia? Jika belum berapa banyak lagi yang harus kita raih? Sebenarnya tidak seperti itu. Setelah aku berpikir bahwa yang membuat diri kita bahagia sebenarnya adalah sikap kita sendiri. Jika melihat, sebenarnya banyak hal yang bisa membuat kita bahagia hanya saja aku malah selalu melewatkannya dan akhirnya membuat salah satu kebahagiaan itu perlahan menjauh. Dengan kata lain saat ini aku sedang memarahi diriku sendiri Heechul-ah."

Heechul tersenyum dan sedikit mengejek walau sebenarnya keadaannya dan sang leader tidak jauh berbeda. "Pantas saja kau masuk ke dalam salah satu gelar leader terunik untuk idol group."

"Hahahaha sudah lama sekali kita tidak seakrab ini bukan? Uri Kyuhyunnie sebenarnya menginginkan hal yang baik, membuat kita tetap memperhatikan satu sama lain. Sekarang saatnya kita untuk memberikannya juga, Kyuhyunnie sudah memperhatikan kita dengan baik. Kita tidak boleh menyerah. Ah cheotta~" Walau tetap saja ada satu titik air mata lolos dari kedua mata milik Leeteuk.

Heechul merasakan dingin angina malam yang menusuk sebenarnya. "Benar. Cheotta~"

Tiga orang namja lain yang sebenarnya dari tadi ikut berdiri disana tersenyum. Mereka tidak boleh menyerah dengan secepat itu. Urusan magnae-nya tetaplah urusan mereka, karena Kyuhyun adalah dongsaeng mereka. Dan untuk saat ini mereka tidak akan membiarkan lagi sang dongsaeng untuk menderita sendirian.

.

.

.

.

.

06 Juli 2016

Samsung Hospital

Namja berbalut jas berwarna putih itu akhirnya tersenyum. Setelah mendengarkan orang-orang yang kini tengah berkumpul di ruangannya. Sudah lama sekali Junwon uisanim menantikan pertemuan dengan mereka. Karena dari sini peluangnya untuk membujuk sang pasien yang luar biasa keras kepalanya pasti akan menjadi lebih mudah.

Dua orang yang sudah berumur paruh baya itu dirinya yakini adalah orang tua Kyuhyun. Apalagi melihat sosok yeoja dewasa tersebut, wajah mereka benar-benar mirip. Lalu seorang yeoja lagi yang diyakini masih berumur cukup muda menjelaskan bahwa dirinya adalah noona dari sang pasien.

Kemudian setelah memastikan bahwa orang-orang tersebut memang adalah keluarga dari pasiennya, Junwon uisanim kemudian menjelaskan perihal keadaan Kyuhyun yang sebenarnya. Tidak dirinya tidak akan berbohong semu dengan mengatakan sesuatu hal yang manis meskipun sesedikit mungkin. Menceritakan kenyataan pahit yang lebih menyakitkan itu lebih baik daripada memberikan sebuah harapan palsu yang tidak mungkin bisa terwujud.

Cho Younghwan menghela nafasnya sekarang setelah mendengar semua penjelasan Junwon yang rasanya membuat telinganya sakit. "Jadi apakah ada cara lain untuk menyembuhkannya selain operasi?"

"Ini langkah satu-satunya yang bisa diambil." Junwon menggelengkan kepalanya, karena memang hanya itu yang bisa dilakukan.

Hanna memandang suaminya itu dengan aneh. "Yeobo, sebaiknya memang segera kita melakukan operasi itu untuk Kyuhyunnie. Keadaan pasti akan menjadi lebih baik nantinya."

"Benar appa, Kyuhyun juga bisa sembuh total dan dia tidak akan sakit lagi." Ahra mencoba merayu ayahnya itu untuk segera menyetujui proses operasi sang dongsaeng.

Younghwan tidak bereaksi. Sebaliknya dirinya kembali melontarkan sebuah pertanyaan kepada dokter yang selama ini sudah menangani anaknya. "Bisakah kau mengatakan padaku dengan jujur kenapa anakku sama sekali tidak mau sekali melakukan operasi itu?"

Junwon menghembuskan nafasnya kasar, ternyata semua tidak semudah yang dirinya bayangkan. "Sejujurnya ketika aku mengatakan bahwa setelah operasi kemungkinan besar dirinya akan kehilangan semua ingatannya Kyuhyun-ssi sama sekali tidak memberikan reaksi. Dirinya hanya akan menghindari percakapan ketika kami menyebutkan mengenai operasi tersebut."

"Hi….hilang ingatan…?" Ahra yang juga ikut mendengarnya juga sedikit terkejut.

Junwon uisanim menganggukkan kepalanya. "Ingatannya berapa lama bisa kembali, itu tergantung dari kondisi tubuhnya sendiri."

"Dengan kata lain kau menjelaskan mungkin saja ingatan anakku tidak akan pernah kembali lagi?" Younghwan benar-benar pintar dalam menarik suatu kesimpulan.

Hanna merasa benar-benar lemas saat ini, air matanya kembali jatuh. Untunglah Ahra ada disana dan menenangkan sang ibu. "Hidupnya mengapa harus seberat ini... hiks..."

"Satu hal, Kyuhyun-ssi harus segera melakukan operasi kurang dari 3 hari ini sebelum semua terlambat." Junwon uisanim benar blak-blakan dan tidak menutupi apapun.

Younghwan hanya terdiam dan memilih pergi meninggalkan ruangan dokter tersebut. Sementara Ahra dan Kim Hanna masih berada disana. Ahra larut dalam pikirannya saat ini, sang ayah mengapa bertingkah begitu aneh. Ayahnya seolah mempertimbangkan keputusan apa yang sebaiknya diambil untuk yang terbaik bagi sang dongsaeng. Jujur saja Ahra ingin sekali bertanya dan marah pada sang ayah yang seakan menunda-nunda waktu, namun Ahra masih tidak mampu melawan kebijaksanaan yang dimiliki oleh Cho Younghwan.

Namja yang masih dengan balutan pakaian rumah sakit itu kini tengah menikmati hidangan makan siang rumah sakitnya. Walau pada kenyataannya mulutnya terasa pahit sekali dan rasa makanan rumah sakit yang benar-benar hambar itu membuat semuanya menjadi lebih kacau. Lengkap sudah sekarang.

Saat akan mengambil air minumnya, seseorang sudah terlebih dahulu menyuapkan minuman padanya. Air putih sebanyak satu gelas akhirnya habis dirinya minum. Setidaknya air putih masih mempunyai rasa yang cukup enak baginya. Namun matanya sedikit membulat ketika melihat seseorang yang kini sudah duduk di samping ranjang rumah sakit.

Kyuhyun memandang tidak percaya kepada seorang namja yang kini duduk di sampingnya. Sosok yang begitu dikaguminya. "Kau benar-benar langsung terbang dari New York appa. Padahal keadaanku sudah lebih baik kok sekarang."

Younghwan tidak menanggapinya dan hanya memakan apel yang memang sengaja dirinya bawa tadi dengan diam.

"Jo…joseonghamnida appa….. Pasti aku sudah membuatmu kecewa." Dihadapan ayahnya Kyuhyun benar-benar ingin menangis sekarang.

Cho Younghwan menatap Kyuhyun dengan pandangan matanya yang tajam. "Kau tahu kesalahan apa yang telah kau lakukan bocah?"

"Aku sudah membuat appa kecewa dan….." Kalimat menyedihkan yang dikeluarkan oleh Kyuhyun itu terpotong oleh sang ayah.

"Kesalahanmu adalah karena kau melarang kami untuk mengkhawatirkanmu. Bahkan tadi kau melarangku untuk tidak datang eoh? Kami juga ingin merasakan kesakitan yang kau rasakan saat ini nae adeul." Kalimat dengan penekanan begitu lembut itu memasuki kedua gendang telinga Kyuhyun.

Jatuh sudah air mata seorang Cho Kyuhyun sekarang, Younghwan mengerti sekali-kali seorang namja juga boleh menangis. "Appa mianhaeyo….jeongmal mianhaeyo. Aku egois appa. Padahal kau benar aku ingin sekali membagi semua rasa sakit ini aku tidak tahan appa."

"Sekarang kau bisa membaginya membagi rasa sakit itu padaku, eomma-mu, noona-mu yang cantik itu, juga semua hyungdeul-mu." Younghwan memang sengaja mengucapkannya, karena rupanya di dalam ruangan kamar rawat Kyuhyun ada beberapa hyung Kyuhyun dari Super Junior.

Mereka langsung memberikan salam hormatnya ketika menatap Younghwan, ayah Kyuhyun. Entah mengapa Jaehwan memilih untuk tersenyum dan menepuk pundak mereka satu per satu dan kemudian meninggalkan kamar rawat Kyuhyun. Ekor mata milik Younghwan tadi menangkap perubahan suasana dan ekspresi yang ada pada wajah anaknya. Mengerti bahwa sebenarnya ada satu permasalahan yang harus mereka selesaikan.

Ryeowook tersenyum ceria dan terus berceloteh, mengajak magnae-nya untuk mengobrol meskipun tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut Kyuhyun. Yesung juga berusaha bertingkah konyol dan member lain yang melihat hanya bisa tertawa. Hanya Kyuhyun saja yang menanggapi semuanya tanpa ekspresi.

Tidak sebenarnya satu orang lain juga sama, Heechul akhirnya memberanikan diri untuk berbicara. "Tak sudikah kau berbicara dengan kami?"

Kyuhyun hanya diam dan kini mulai membaringkan dirinya menyamping.

Heechul hanya bisa tersenyum getir. "Seberapa banyak kah dosa yang telah kami perbuat padamu Kyuhyun-ah? Mungkinkah aku yang paling berdosa padamu diantara yang lainnya? Benar bahkan aku lebih buruk diantara yang lain bukan? Pada saat itu aku membiarkanmu sakit sendirian di dorm, aku lebih banyak menghabiskan waktuku denggan teman-temanku dibandingkan bersamamu, padahal waktu jadwalku lebih sedikit dari yang lain. Aku juga bahkan berusaha untuk tidak mempercayai keadaanmu aku tidak menerima kenyataan. Aku juga jahat karena hanya membiarkan diriku saja yan mengetahui semua keadaanmu yang sebenarnya. Aku… aku …. Aku bahkan dengan seenaknya menamparmu… Tapi aku masih saja bersikeras agar kau mau berbicara. Haha apakah dosaku memang tidak bisa diampuni?"

Heechul menangis begitu banyak. Seorang Kim Heechul terisak dengan keras. Semua yang ada disana melihatnya. Kyuhyun merasakan sakit yang sama ketika melihat hyung endhorpin-nya itu menangis begitu banyak hanya untuk dirinya.

Leeteuk hanya bisa menahan air matanya agar tidak ikut terjatuh juga. "Kyuhyun-ah kau lebih baik membentak kami seperti kemarin, daripada mendiamkan kami begini. Sungguh kami minta maaf."

"A…aniya…" Kyuhyun akhirnya mengeluarkan suaranya.

Leeteuk tahu tidak akan semudah itu membuat keadaan kembali seperti semula. "Kami mengerti Kyuhyun-ah jika…."

"Mianhae…jeongmal mian…." Kalimat pelan Kyuhyun membuat semua hyungdeul-nya menatap sang dongsaen.

Ryeowook yang paling pertama menyadari bahwa magnae mereka kini sudah luluh. Dielusnya rambut si bungsu. "Anniya gwenchana. Kami lah yang memang terlalu banyak bersalah padamu."

Yesung mengiyakan perkataan sang eternal magnae. "Kau sudah mengajari kami sesuatu yang berharga Kyuhyunnie."

"Jadi kau benar-benar memaafkan kami Kyu?" Entahlah pertanyaan polos itu keluar begitu saja dari Kangin.

Kyuhyun menganggukan kepalanya dengan pasti. "Hyung, kau ini bagaimana Tuhan saja maha pemaaf masa aku manusia yang penuh kekurangan tidak bisa memaafkan kalian. Aish kalian pikir hatiku terbuat dari apa eoh?"

Heechul sepertinya menyadari sesuatu. "Jangan-jangan kau dari awal sebenarnya memang sudah memaafkan kami?"

"B-I-N-G-O." Kyuhyun menekankan jawabannya seolah mengejek Heechul.

Heechul menatap garang sang magnae. "Aish evil Cho… kau benar-benar telah kembali." Dan senyuman mengakhiri kalimatnya.

"Uri magnae. Kyuhyunnie, seperti yang appa-mu katakana tadi sekarang kau bisa membagi semua rasa sakitmu pada kami sekarang. Kau tidak perlu menanggung semuanya sendiri, kita akan selalu ada bersamamu." Leeteuk mengusap-ngusap tangan Kyuhyun yang masih terbalut infus tersebut, pasti rasanya pegal.

Dan Kyuhyun mengangguk.

Kyuhyun tertawa berkali-kali karena tingkah konyol semua hyungdeul-nya saat ini. Ayolah mereka itu sudah berada di umur 30 tahunan. Kyuhyun tertawa geli sendiri ketika kemarin-kemarin semua hyungdeul-nya selalu mengatakan bahwa mereka semua sudah dewasa dan keadaan sebenarnya pasti akan berubah. Tapi tidak akan berubah sepenuhnya, ada beberapa bagian yang masih bisa dipertahankan. Dan namja itu juga mengetahui apa yang sedang ada di dalam pikiran Kyuhyun.

.

.

.

.

.

Ahra baru saja kembali lagi ke rumah sakit setelah mengantar Hanna pulang ke rumah karena mengeluh kepalanya sakit. Hari juga sudah menjelang sore. Saat ini dirinya harus menggantikan sang ayah yang pasti sudah kelelahan karena harus menunggui dongsaeng-nya yang manja begitu.

Kebetulan sekali Ahra bertemu dengan Jaehwan di depan pintu kamar rawat Kyuhyun. Sepertinya sang ayah baru saja keluar. Ahra mengintip kali-kali saja Kyuhyun sudah tertidur. Ternyata dongsaeng-nya masih dengan semangat memainkan sebuah benda berbentuk kotak, Ahra sudah yakin bahwa itu pasti sang 'kekasih'-nya, apalagi kalau bukan PSP.

Younghwan tersenyum melihat anak pertamanya sudah datang ke rumah sakit. Jaehwan bersyukur meskipun Ahra adalah seorang yeoja tapi putrinya itu benar-benar memerankan tokoh sebagai anak sulung yang begitu sempurna. Ahra yang selalu marah setiap kali sang dongsaeng diganggu oleh teman-temannya, Ahra yang selalu melindungi dongsaeng-nya, Ahra yang selalu menangis karena kekhawatiran berlebihannya, Ahra yang sampai kapanpun akan menjaga sang dongsaeng.

Malam ini Ahra yang akan menginap di rumah sakit untuk menemani Kyuhyun. Younghwan tadi sudah undur diri kepada putri sulungnya ini. Dirinya memang agak lelah, perjalanan dari New York ke Seoul tidaklah dekat dan juga sebentar.

Ahra menatap kesal Kyuhyun yang masih saja sibuk menekan-nekan dengan semangat 'kekasih'-nya. "Kalau kau sampai tidur larut malam karena 'kekasih'-mu itu noona tidak akan segan-segan membuangnya ke sungai han."

"Noona-ku ya memang selalu seperti ini bisanya hanya mengancam." Dengan tidak rela Kyuhyun menyimpan 'kekasih'-nya dengan rapih.

Ahra sekarang mengambil posisi duduk di samping Kyuhyun. "Bagaimana keadaanmu sekarang?"

"Keadaanku? Tentu saja bosan noona, hanya diam disini. Aish jeongmal shireo." Kyuhyun tanpa sadar mengeluarkan ekspresi cemberutnya.

Ahra memutar bola matanya malas. "Ah semoga saja rumah sakit ini benar-benar memberikanmu pelajaran yang baik."

Pandangan Kyuhyun berputar. Kepalanya kembali merasakan sakit. Sakit sekali. "Noo..na bisa kau menggenggam tanganku?" Keringatnya juga mulai mengalir.

"Nde Kyu. Noona akan selalu menggenggamnya." Ahra tahu amat tahu. Dengan satu kali langsung dirinya raih tangan sang dongsaeng.

Kyuhyun menggenggamnya dengan amat erat. Sakit ini sangat sekali, dia seakan ingin mati saja. "Noo…na… jeongmal appa…"

Lengannya dicengkeram erat. Ahra ikut merasakan sakit. Pasti sang dongsaeng lebih sakit. "Gwenchana… semuanya akan baik-baik saja."

Hingga karena lelah melawan sakitnya Kyuhyun pun tertidur.

07 Juli 2016

Pagi ini Ahra sudah dalam keadaan yang amat siap. Dirinya sudah berpakaian rapih dan lengkap. Hari ini mereka akan kembali bertemu secara empat mata dengan Junwon uisanim untuk membahas langkap terhadap operasi Kyuhyun. Sebenarnya bukan hanya Ahra saja, tentu saja kedua orang tuanya juga akan berada disana untuk membahas semua itu.

Ahra tersenyum melihat salah satu hyung Kyuhyun di Super Junior pagi ini sudah datang. Padahal mereka sibuk tapi masih mau untuk mengganti bergiliran untuk menjaga sang dongsaeng. Salah satu hyung favorit Kyuhyun sekaligus hyung yang dulu pernah membuatnya menangis berkali-kali karena penolakan yang dia berikan terhadap Kyuhyun.

Leeteuk tersenyum dan menyapa Ahra dengan cerianya. "Ahra-ya kau menunggui Kyuhyunnie semalaman? Hari ini kami yang akan menjaganya kau bisa beristirahat."

"Ah iya oppa. Tidur di rumah sakit memang tidak menyenangkan. Tapi sebelum pulang aku serta eomma dan appa akan bertemu dulu dengan Junwon uisanim." Ahra membalas dengan begitu ramah kepada Leeteuk.

Leeteuk mengangguk, pasti mereka akan membicarakan mengenai operasi itu. "Semoga saja memang sesuatu hal yang baik nantinya."

"Aish jinjja dia itu namja tapi kenapa selemah ini. Mengagumkan." Ahra hanya menutupi kesedihannya saja sungguh.

"Dia memang mengagumkan dan begitu kuat bukan?" Leeteuk memberikan pertanyaan retorisnya kepada Ahra.

Pandangan Ahra meredup, merasakan sesak yang mulai menyakiti ruang dadanya. "Aku begitu bodoh bukan? Harusnya aku menyadari alasan mengapa pada saat itu anak kecil yang sudah bertumbuh dewasa tersebut menghubungiku dengan nada paling menyebalkannya."

Nada menyebalkan Kyuhyun bagi Ahra adalah nada menyedihkan, Leeteuk tahu. Dirinya juga pada saat itu juga jahat. "Setidaknya kau lebih baik dariku Ahra-ya."

"Ah mian oppa, kau tadi bicara apa? Aku tadi focus membalas pesan suamiku." Ahra memang tadi tidak terlalu mendengar kalimat Leeteuk.

Leeteuk menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum. "Anniyo eobseo."

"Jja oppa, aku pamit dulu sekarang. Jaga uri Kyuhyunnie." Ahra akhirnya pergi meninggalkan Leeteuk.

Kyuhyun tersenyum ketika melihat kedatangan Leeteuk. Hari ini dirinya tidak akan bosan. Setidaknya akan ada salah seorang hyung-nya yang menemani Kyuhyun di suasana rumah sakit yang tidak begitu menyenangkan. Leeteuk sendiri hanya bisa tersenyum geli dengan tingkah sang magnae.

.

.

.

.

.

"Kau adalah wali resminya sekarang ini, jadi segerakanlah untuk menyetujui operasi ini." Junwon menghembuskan nafasnya kasar, karena orang di depannya ini ternyata benar-benar keras kepala juga.

Younghwan tersenyum tipis. "Aku akan melakukannya jika anak-anak itu juga setuju."

Ahra benar-benar geram sekarang. Lagi-lagi sang ayah hanya terus menunda operasi untuk dongsaeng-nya. Sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran ayahnya itu sekarang? Ibunya juga tidak bisa berkata apa-apa untuk membujuk Younghwan untuk menyegerakan proses operasi untuk sang dongsaeng. Ahra ingin sekali marah, tapi pandangan mata yang kini mengintimidasinya membuat Ahra hanya bisa terdiam pasrah.

.

.

.

.

.

Kyuhyun semakin ceria ketika menyaksikan satu per satu hyung-nya datang secara berurutan. Dengan kata lain semua hyungdeul Kyuhyun tentunya mereka yang tidak menjalankan wajib militer kini berada di kamar rawatnya. Bahkan semua hyung-nya membelikan banyak hadiah untuk dirinya. Leeteuk yang notabane-nya mempunyai gelar pelit juga membelikannya hadiah yang cukup mahal.

Mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Banyak perbincangan yang mereka bicarakan. Dari mulai hal yang serius hingga hal yang sama sekali tidak penting mereka juga ikut membicarakannya. Dan sesekali mereka meledek satu sama lain. Tapi ternyata mereka telah bersekongkol untuk mengerjai leader mereka lebih dari siapapun.

Kyuhyun langsung menatap ponselnya yang baru saja berbunyi tadi. Ada tiga kali panggilan tidak terjawab. Ah dari Manajer hyung. Karena keasyikan, suara dering teleponnya juga sampai tidak terdengar sama sekali. Rupanya Manajer hyung memberikan sebuah pesan. Dengan malas Kyuhyun membuka pesannya.

'Cho Kyuhyun katakan kepada para bocah pengacau itu untuk segera kembali. Aish jeongmal jinjja aku sampai kalang kabut karena harus meminta maaf kesana-sini karena jadwal yang mereka kacaukan. Seenaknya saja mereka kabur. Ayolah bagaimana aku bisa bertanggungjawab hal sulit begini.' –Omelan Manajer hyung.

Kyuhyun menatap sangar semua hyungdeul-nya yang masih tampak asyik bermain-main dengan wajah tanpa dosanya. "Ada apa dengan kalian eoh, jangan pernah mengecewakan fans dengan bertingkah kekanakan begini. Aish jinjja sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran hyungdeul."

"Apa yang kau maksudkan Kyuhyunnie?" Ryeowook memiringkan kepalanya memasang pose bingung yang lucu.

Kyuhyun menacak rambutnya frustasi. "Aish Manajer hyung mengirimiku pesan kalau kalian sudah mengacaukan jadwal."

"Kami hanya libur mengambil libur sebentar." Kangin menjawab dengan nada entengnya.

Heechul juga ikut mendukung pendapat Kangin. "Sekali-kali memang tidak apa-apa mengambil istirahat."

"Istirahat apanya hyungdeul ini? Bagaimana dengan fans yang sudah mengharapkan kalian malah kecewa?" Kyuhyun benar-benar mengomeli mereka semua sekarang, sepertinya jiwa mengomeli Manajer hyung merasukinya.

Leeteuk akhirnya berbicara. "Kami hanya ingin menemanimu. Kami tahu nanti pasti kau akan mati bosan."

Kyuhyun tersenyum dengan alasan hyungdeul-nya itu. "Hyungie, aku baik-baik saja. Disini juga ada Junwon uisanim yang setiap saat akan mengecek keadaanku. Bukankah kita berjanji tidak akan pernah mengecewakan fans? Lagipula aku tidak ingin sampai kalian mengorbankan fans yang sudah berharap banyak pada kalian."

"Aigoo uri magnae sudah dewasa sekarang." Yesung sungguh terkejut dengan kalimat Kyuhyun.

"Yakin kau tidak akan merajuk nantinya?" Heechul mengeluarkan smirk sekarang.

Kyuhyun memutar kedua bola matanya malas. "Aish kalian ini memang hobi untuk membully-ku. Sana pergi, kalian membuat kepalaku sakit ah jeongmal." Tentu saja ucapannya tidak serius.

Setelah semua pergi Kyuhyun langsung meminum obatnya dengan cepat. Ternyata ucapannya memang benar-benar serius untuk bagian kepalanya yang sakit. Rasa sakitnya kini lebih sering terjadi. Kepalanya seakan dicengkeram erat hingga mau remuk. Sakitnya menjalar hingga ke seluruh bagian tubuhnya. Kyuhyun akhirnya menyadari bahwa keadaannya sekarang memang sudah jauh lebih buruk.

Kyuhyun memejamkan matanya sejenak berusaha menetralkan rasa sakit yang masih menderanya. Seseorang mengelus punggungnya dengan lembut. Kyuhyun langsung membuka kedua matanya dan mendapati seseorang tersebut. Ternyata Younghwan memang sengaja untuk mampir ke kamar sang putra dulu rupanya.

Kyuhyun menatap terkejut keberadaan sang ayah. "Omo, entah mengapa berada berdua denganmu membuatku merasa nervous appa."

"Kau mau jujur padaku anak nakal? Apa yang kau takutkan sebenarnya?" Hanya itulah tanggapan yang diberikan oleh Jaehwan untuk Kyuhyun.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya. "Banyak yang kutakutkan….."

"Bahkan dulu kau pernah menjalani operasi yang lebih dari ini…." Kalimat Younghwan berhenti ketika mendapati anaknya kini menangis dengan banyak.

Kyuhyun benar-benar menangis lagi sekarang. "Aku….aku tidak ingin melupakannya."

Younghwan akhirnya tahu betapa menakutkannya itu sekarang.

.

.

.

.

.

Manajer hyung menggerutu sebal karena tingkah bocah-bocah Super Junior itu. Dirinya alhasil harus mendapatkan teguran dari sana-sini karena jadwal yang sudah terlanjur kacau karena mereka. Dan akhirnya semua bisa teratasi, karena mereka mau datang dan meneruskan jadwal kembali.

Karena sibuk untuk mengecek ponselnya, Manajer hyung tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang namja. Pandangan mereka bertemu. Meski telah banyak yang berubah, namun Manajer hyung mengetahui dengan pasti siapa yang ada di hadapannya saat ini.

"Kibum-ah…."

.

.

.

.

.

Samsung Hospital

Kyuhyun berjalan-jalan di sekitar lorong rumah sakit sambil mendorong-dorong selang infusnya. Setidaknya dengan berjalan-jalan begini bisa menghilangkan rasa bosannya. Appa-nya tadi pamit dulu untuk mengatur urusan kantor. Dan inilah hasilnya, kini Kyuhyun berada sendirian lagi di rumah sakit, walau kadang-kadang Junwon akan menyempatkan diri untuk mengunjunginya.

Namja itu menatap Kyuhyun dengan lekat. Selang infus itu mengapa harus melingkari atau menusuk lengan milik Kyuhyun? Pakaian rumah sakit itu mengapa harus dikenakan oleh Kyuhyun? Padahal lebih baik jika blazer panjang yang dirinya gunakan. Dan kenapa harus Kyuhyun yang menanggung semua ini?

Mood Kyuhyun untuk berjalan-jalan kini berubah. Rasanya malah seperti ada suasana mencekam yang tengah ada di sekitar saja. Buru-buru saja Kyuhyun menarik infusannya kembali dan menuju kamar rawatnya. Kyuhyun mengunci pintu dengan rapat. Akhirnya dia bisa bernafas lega setelah duduk kembali di tempat tidurnya.

Namun perasaan leganya hanya berlangsung sebentar, pasalnya pintu kamar rawatnya terbuka. Semua lengkap sudah karena yang datang kali ini memang bukanlah Junwon uisanim dan juga ayahnya yang belum juga kembali. Tapi seorang namja yang kini mulai perlahan-lahan melangkah mendekatinya.

Tunggu dulu meski tubuh namja itu kini memang sudah agak berisi Kyuhyun amat mengenal wajahnya. Wajah dingin yang dahulu pernah berjanji akan kembali lagi bersama mereka. Wajah dingin yang akan mengeluarkan killer smile andalannya bila dirinya dalam keadaan senang. Ini sudah begitu lama.

Kibum ikut duduk di sisi tempat tidur Kyuhyun. "Sudah lama sekali Kyuhyun-ah, bagaimana keadaanmu?"

"Nan bogoshipoda…. jeongmal bogoshiposeyo hyung." Air mata itu menumpuk memenuhi ujung mata milik Kyuhyun.

Kibum membawa Kyuhyun ke dalam pelukan hangatnya. "Nado Kyuhyun-ah, bagaimana keadaanmu?"

"Wangimu mengapa selalu sama dengan wangi appa hyung? Dan kau selalu menanyakan pertanyaan yang sama." Kyuhyun menghapus air matanya yang tadi terjatuh.

Kibum hanya tersenyum tipis. "Keadaanmu tidak baik. Kau sakit. Tapi kau tidak mau operasi, padahal kau bisa sembuh. Kau takut kehilangan ingatanmu dan melupakan semuanya."

Kyuhyun terkejut dengan pernyataan Kibum yang sepertinya sudah mengetahui semuanya. "Aish pasti Manajer hyung."

"Kau pabbo. Hanya ada satu hal yang akan hyung jelaskan padamu. Bahwa kami tidak akan pernah senang jika harus kehilanganmu." Kibum menatap bola mata Kyuhyun, seolah menelaah untuk masuk sepenuhnya ke dalam pandangan Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum sendu. Kata-kata tajam Kibum memang sukses menyindir keadaannya. "Aku egois."

"Benar kau lebih egois jika tidak mau membantu kami untuk mempertahankanmu." Kibum mencubit kedua pipi Kyuhyun.

Kyuhyun mengelus pipinya yang menjadi korban Kibum. "Aish hyung pipimu bahkan sekarang lebih chubby dariku."

Jika sudah tahu sebenarnya dipastikan ke-evil-an Kibum lebih menakutkan daripada Kyuhyun.

Younghwan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu kamar rawat Kyuhyun. Disana Kyuhyun tengah menunjukan wajah bahagianya. Kim Kibum, memang salah satu hyung yang Younghwan sukai. Namja itu bahkan memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh siapapun juga.

.

.

.

.

Super Junior Dorm

Leeteuk, Heechul, Yesung, Kangin, dan Ryeowook mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah pada malam hari ini. Satu informasi Leeteuk dan Yesung kini memutuskan untuk kembali tinggal di dorm. Tapi apartemen mereka juga masih ada. Hanya saja mereka hanya akan mengunjungi apartemen dan rumah mereka sekali-kali.

Ryeoowok dan Kangin juga sengaja untuk memutuskan menunda kepindahan mereka dari dorm. Mereka akan terus disini sampai semua keadaan menjadi lebih baik lagi. Ryeowook yang memang paling bisa memasak permisi dan langsung melesat ke dapur untuk memasak hidangan makan malam untuk mereka bertiga.

Bel pintu dorm terus berbunyi berkali-kali. Karena Yesung, Leeteuk, dan Kangin masih sibuk untuk membersihkan diri serta Ryeowook yang masih harus menyiapkan makan malam, akhirnya Heechul yang membukakan pintu dorm mereka semua. Cukup terkejut karena yang datang adalah seorang yeoja yang berstatus sebagai kakak dari magnae mereka.

Entah apa yang akan dibicirakan oleh yeoja itu sekarang. Karena dirinya meminta semua orang untuk berkumpul terlebih dahulu barulah dirinya akan berbicara hal penting itu. Setelah semuanya berkumpul seperti apa yang dirinya inginkan, tiba-tiba saja yeoja tersebut bangkit berdiri dari posisi duduknya.

Yeoja yang mempunyai bola mata yang senada dengan dongsaeng mereka tersebut membungkuk 180 derajat. "Butakhamnida jebal, hanya kalian yang bisa membuatnya mau untuk melakukan operasi. Aku… aku berjanji, akan menjadi seorang kakak yang lebih baik lagi setelah ini."

"A…Ahra-ya apa yang kau lakukan?" Jujur saja mereka terkejut. Leeteuk berusaha membangunkan Ahra.

Namun Ahra menggelengkan kepalanya dengan menahan isakannya. "Keadaannya semakin memburuk setiap harinya. Appa tidak akan pernah setuju bila Kyuhyunnie tidak mau melakukan operasinya juga."

"Maksudmu…?" Heechul juga merasa ingin jauh lebih tahu lagi.

"Bangkitlah dan berdirilah dengan tegak Ahra-ya." Yesung akhirnya bisa membangunkan Ahra dari posisi membungkuknya.

Ahra menatap mereka semua dengan mata yang berkaca-kaca. "Uri Kyuhyunnie tidak akan mungkin bisa bertahan lebih dari ini jika operasi itu tidak dilakukan. Kita akan…."

"Jebal jangan lanjutkan selanjutnya…" Ryewook benar-benar tidak mau mendengarnya.

Leeteuk amat paham dengan keadaan ini, pada dasarnya mereka dalam keadaan genting sekarang meskipun berpura-pura untuk acuh. "Kami hyungdeul-nya. Kau bisa mempercayai kami."

Kangin agak sedikit heran. "Hyung…."

Setelah memberikan jawaban yang menenangkan dari Leeteuk barulah Ahra bisa menghentikan tangisannya. Kini harapan itu terbuka bagi namdongsaeng satu-satunya yang dirinya miliki. Bersyukur karena sebenarnya Kyuhyun mempunyai hyungdeul yang tidak begitu egois. Setelahnya Ahra kemudian beranjak pulang.

Kepulangan Ahra sudah terlewati. Kini hanya menyisakan kelima member Super Junior kembali. Malam ini begitu mengejutkan. Hidangan makan malam mereka saja bahkan tidak disentuh. Tapi sebenarnya apa yang mereka ragukan? Hanya tinggal menjawab ya untuk melakukannya, namun tadi seolah begitu sulit untuk dilakukan.

Dering ponsel milik Leeteuk membuyarkan lamunan mereka. Nomor telepon yang tidak dikenali. Untuk saat ini oh haruskah ada orang iseng yang sengaja meneleponnya atau sasaeng fans yang mengejar hingga saat ini? Leeteuk memilih mencari tempat sepi untuk mengangkat teleponnya agar tidak mengganggu dongsaeng-nya yang lain.

"Annyeong Jungsoo-ah. Nan Kyuhyun appa." Rupanya nomor telepon iseng itu milik ayah Kyuhyun.

Leeteuk langsung membalasnya dengan sopan. "Nde. Tuan Cho, apa ada yang bisa aku bantu?"

"Kau tahu Jungsoo-ah tadi hampir saja Kyuhyun collapse." Younghwan mengucapkannya dengan begitu ringan.

'DEG' Leeteuk merasakan sesak setelah mendengarnya. Itu berarti. "Tapi keadaannya bagaimana sekarang?"

"Tidak baik Jungsoo-ah. Junwon terus memaksaku untuk menyetujui melakukan operasinya sekarang." Younghwan tidak mengerti harus apa sekarang.

"Tuan Cho mengapa anda…." Kalimat Leeteuk terpotong oleh kalimat Younghwan.

Younghwan tersenyum dan menatap sang putra yang masih berjuang diantara hidup dan matinya. Meskipun Leeteuk tidak melihat secara langsung. "Aku baru sadar, walinya bukan hanya diriku saja. Ada kalian keluarga keduanya yang selama ini telah bersamanya. Keputusan apapun dari kalian aku akan menyetujuinya."

"Kami pasti menyetujuinya. Operasi Kyuhyun." Leeteuk hanya mengucapkan kalimat itu begitu saja.

'Keadaannya semakin memburuk setiap harinya. Appa tidak akan pernah setuju bila Kyuhyunnie tidak mau melakukan operasinya juga.'

Dia tidak bersikap egois bukan kali ini? Meskipun tadi hanya keputusan yang diberikan dari dirinya saja?

Mereka semua berkumpul dengan pandangan yang penuh dengan pengharapan dan penantian. Mereka sudah sangat ingin pergi ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan sang dongsaeng. Tapi Leeteuk menyuruh mereka untuk berkumpul dulu sejenak. Benar dirinya akan memberitahukan mengenai apa yang baru saja terjadi tadi.

Leeteuk menatap semua dongsaeng-nya satu per satu. "Alasan mengapa aku menyuruh kalian berkumpul disini adalah berharap kalian semua mau menyetujui keputusan penting ini."

"Ck. Cepat Jungsoo-ah, kita harus segera menemui Kyuhyunnie dan menyemangatinya." Heechul berdecak kesal karena penundaan Leeteuk ini.

Leeteuk kembali menatap mereka semua, kali ini dengan pandangan yang berbeda. "Ini memang berkaitan dengan Kyuhyunnie. Keputusan kita adalah untuk menyetujui operasi Kyuhyun."

"H…hyung…. Entahlah kenapa aku agak merasa tidak tahu harus bereaksi apa." Ryeowook bingung, haruskah mereka senang karena Kyuhyun akan dioperasi?

Ketiga orang lainnya hanya terdiam.

"Pada akhirnya setiap pilihan yang ada memberikan sesuatu yang menyakitkan. Baik itu dilakukan ataupun tidak. Tapi yang aku tidak mengerti kenapa dua pilihan tersebut mempunyai resiko besar yang sama? Atau semua yang dilakukan hanya sia-sia?" Leeteuk menjeda kalimatnya sejenak. "Tapi kita tidak akan pernah tahu jika tidak dicoba bukan?"

.

.

.

.

.

Samsung Hospital

Selang oksigen itu sudah terpasang dengan baik di wajahnya. Ada setumpuk kabel-kabel kedokteran yang juga melekat pada tubuhnya. Sungguh dia tidak mengerti nama-nama mesin berkabel yang menghiasi tubuhnya itu. Disana ada orang-orang yang dikenalinya tengah berkumpul tanpa terpisah satu sama lain.

Ketika akan memasuki suatu ruangan yang amat besar itu pandangannya menatap semua orang yang ada disana. Dirinya berucap dalam hati maupun pikirannya. "Nde. Pasti aku akan bangun dengan selamat."

Semua pandangan mereka berakhir setelah ganhonsa menutup rapat-rapat pintu yang bertuliskan sebagai ruangan operasi tersebut. Keluarga hanya bisa membantu menyemangati sang pasien yang akan dioperasi hanya dari luar ruangan operasi. Alasannya tentu selain karena peraturan, dokter memang membutuhkan konsentrasi yang luar biasa dalam suatu operasi besar.

Sudah berjam-jam berlalu dan mereka masih menunggu kepastian mengenai keadaan seseorang yang ada di dalam sana. Akhirnya sang dokter keluar dari ruangan operasinya. Tapi yang ada hanyalah kepanikan, karena dokter-dokter lain memberondong masuk ke dalam ruangan operasi. Mereka tidak mau menyebutkan bahwa disana sedang terjadi sesuatu hal yang buruk.

Setelah jam yang begitu lama terlewati, Junwon keluar dari ruangan operasi. "Ini benar-benar buruk. Pembengkakannya terjadi begitu cepat tapi akhirnya operasi berhasil. Namun karena hal tersebut saat ini Kyuhyun-ssi dinyatakan dalam kondisi koma."

"Apakah dia akan sadar?" Younghwan ingin sekali menangis.

Junwon menggeleng. "Tipis…."

Jadi ini masih belum berakhir? Hal yang mudah, hal yang biasa, hal yang bisa cepat diatasi mengapa menjadi begitu rumit?

.

.

.

.

.

08 Juli 2016

'Saat ini kondisi Cho Kyuhyun, magnae dari grup idola Super Junior mengalami koma pasca melakukan operasi untuk penyembuhan radang selaput otak yang dimilikinya.'

Namja itu meremas gelas kopi yang baru saja dirinya beli. Itu pasti amat panas. Karena belum sedikit pun kopi itu dirinya minum. Namun itu sama sekali tidak menyakitkan baginya, melainkan hal yang baru saja mengusik gendang telinganya tadi yang membuatnya merasakan sakit yang amat begitu dalam.

.

.

To Be Continue…

Ternyata butuh waktu dua hari untuk menyelesaikan chapter 5 ini. Seperti yang author bilang di sebelumnya, bahwa ff ini akan menjadi salah satu ff author dengan long chapter tapi entah kapan akan diakhirnya. Semoga kalian suka dengan kelanjutan ff ini. Silahkan tinggalkan jejak review kalian juseyo. Silahkan kritik dan sarannya akan membangun author. Review kalian adalah penghargaan tersendiri bagi author.

Review reply :

Yongdojin316 : wuahh makasih chingu udah selalu meninggalkan jejak di setiap chapter dari ff ini. Reader yang baik hehehe~

Gamekyuoppa : sekarang author udah sembuh kok hehehe. Kyu menggagap semua kenangan yang pernah dilewatinya itu amat berharga, apalagi kenangan sama hyungdeulnya, keluarga, dan sahabat.

Liliwati : gapapa kok yang penting ada satu jejak review yang tinggal. Kibum emang harus ikut dong semua member malah.

Nae axselia : keputusannya udah diambil tapi ternyata setiap keputusan memang gak selalu 100 persen berhasil baik ini yang sekarang sedang mereka rasakan.

Michhazz : nah kan ini sekarang kyunnie udah dioperasi? Gimana nih sekarang? Jahat banget yah author *plak. Haha emang kenapa? Itu author Cuma masukin star show 360 yang waktu perdana emang bintangnya mereka wkwkwk. Ah kan siwon ceritanya disini dia wamil jadi gak terlalu banyak ambil bagian kalau yang wamil.

auliaMRQ : mungkinkah keadaan malah akan menjadi lebih buruk daripada itu?

Tyas1412 : bener nih Cuma mau nungguin endingnya? Ini akan jadi long chapter loh.

Annisah563 : kalau sebenarnya sih mending gak dua-duanya, gak ada hasil yang mengenakkan wkwkkw.

Kuroi ilna : waduhhhh mian-mian abis gimana gituh, udah menjadi kebiasaan author untuk melakukan itu. Biar gimana ya biar feelnya emang kerasa lebih nyata aja.

Lennychan : gak lama karena author udah sembuh hehehe sekarang.

Uixalmt : wuahhh kamu tahu banget. Bener aku emang lagi kangen-kangennya sama mereka. Mereka kan udah janji bakal menjadi haraboeji bersama-sama wkwkwk.

Cho sabil : karena kyu kan emang keadaan sebenarnya udah semakin parah. Dan keputusan mereka adalah menyetujui operasinya kyuhyun.

Songkyurina : heechul disini menjadi lebih penyayang wkwkwk. Karena long chapter harapan jahat kamu mungkin bisa terwujud wkwkwk.

Gyuhaecho : eoonni gak bandel Cuma sedikit nggak nurut. Tapi sekarang tenang karena eonni udah bener-bener sembuh. Tadi kibum muncul kan dengan biasa wajah dingin dan nada dataarnya wkwkkw.

Angel sparkyu : sikap mereka udah berubah kok, dan voila menjadi seperti yang dulu. Tapi sayangnya hidup emang gak ada yang semulus dikira.

Aya : jangan nangis? Sayang tisunya entar habis.

Lovelyrose98 : kabarnya sih dia Cuma mengeksprsikan dengan datar seperti tadi. Tapi kenyataannya operasi juga kurang memuaskan wkwkkw kaburrrr.

Farmawatiyustika : yang marah-marah sama leeteuk? Yang di capslock kwwkwkwk

Dewidossantosleite : sebelum tahu hilang ingatan aja,mereka harus ngedapetin keadaan Kyu yang tidak pernah dibayangkan.

Ladyelff11 : kyu udah ngerasain bahagia sesaat kok wkwkwk. Tadi meskipun mereka sempet berantem dan diem-dieman.

Nnanissa : tidurnya Cuma 4 hari kok wkwkwk iya iya ini udah cepet bangun.

Desviana407 : daripada kehilangan untuk selamanya bukan? Memang itulah yang harus dipilih sejak dari awal.

Restiana : sudah juseyo~

Ahsanriri22: nde semangat! Makasih ya udah mau selalu setia.

Hyunnie02 : eonni masih belum mau ngebocorin mengenai bagian bakal jadi apa entar jadinya wkwkkw mianhae.

Nabilamaharani9319 : kurang cepatkah?

Thank's To :

09327115630;anna505;axerieoulusxenonxelvarixion;captainpotatao;chosuneun;desviana407;fitrimy;flowerkyuu;kimraf;kirakim19;kotonohamari-chan;kyu4ever;bintang15; ;fanatwik;febbycho;gyuyomi88; .7;ladyelf11;mmzzaa;naylahadi20;nnanissa;okaocha;readlight;riritary9;seventeencarat;widiantini9;xoloxovy;yuliekf123;ahsanriri22;lilisssry;nurafaini;missbabykyu;hulanchan;hyunnie02;yongdojin316

You can meet me at :

FB : Dewi Andriani

BBM : d1057d69

Blog : dewisparkyu(titik)wordpress(titik)com

Id line : driani96